Under These Skies Chapter 16

Under These Skies Chapter 16

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

Chapter 16

~~~

Story begin..

Min Yoon Gi POV

Kamis

“Kim Joon Myeon?” tanya Ye Rin. “Apa kau kenal pria itu?”

Aku mengangguk. Tidak sulit menebak teman kencan Vivian karena sejak dulu mereka sudah dekat. Oh, Tuhan. Bahkan aku melupakan sebuah fakta penting di balik pernikahan kami bertahun-tahun lalu. “Dia seangkatan dengan Vivian. Mereka berkencan sejak aku menginjakkan kaki di kampus.”

Aku terdiam sebentar. Mendadak terbawa pada lubang masa lalu yang sudah kukubur jauh-jauh. Melintas waktu, menengok pada masa di mana aku dan Vivian berdiri bersisian. Di depan altar, disaksikan ratusan orang.

“Kami menikah karena sebuah kecelakaan dan kupikir ia sudah mulai bisa menerimaku. Sampai saat Sang Hyun berumur empat tahun sikap Vivian begitu berbeda.” Ini benar. Kenyataan bahwa aku melabuhkan hati pada Vivian sudah bukan rahasia lagi. Dan kenyataan bahwa ternyata Vivian hanya menganggap aku perlu bertanggungjawab karena menebar benih padanya membuatku merasa tidak berguna.

“Oh, Tuhan.” Ye Rin membelalak tidak percaya. Semua orang akan sangat terkejut mendapati fakta ini dan aku tidak begitu kaget ketika Ye Rin bereaksi demikian. “Jadi… kalian tidak menikah berdasarkan cinta?”

Aku menggeleng. Sulit menemukan cinta saat kami berdua sama-sama tersesat dalam kubangan duka waktu itu. Vivian dicampakkan Joon Myeon sementara aku baru saja ditolak oleh seorang yang kutaksir. Kami sama-sama sadar saat melewati batasan namun kami juga tidak ingin menyudahi. Sampai dua bulan kemudian Vivian datang padaku dengan testpack bergaris dua di tangan.

“Kalau dia mencintaiku, dia tidak akan repot-repot menceraikanku dan memilih kembali pada Joon Myeon.” Aku sudah menelan kekecewaan ini dalam-dalam. Aku sudah menerima jika Vivian tidak mungkin mempertahankan pernikahan ini jadi aku bisa berekspresi normal. Sekarang aku bahkan tersenyum di hadapan Ye Rin.

“Kau benar.” Ye Rin menepuk pundakku tiga kali. Tersenyum memandangku lamat. “Kita tidak bisa memaksakan kehendak seseorang. Terlebih soal hati. Benar begitu, ‘kan?”

“Kau tidak sedang mengatakan pengalaman pribadimu sendiri, ‘kan?” Aku tertawa mengejek. Membuat Ye Rin memutar mata jengah. Wanita itu memukulku keras-keras. Aku bersumpah tenaga Ye Rin benar-benar seperti banteng marah.

Jum’at

Ryu Ye Rin dan Sung Jin tidak menginap malam tadi. Dan aku berusaha memaklumi hal itu karena, ya, mereka bukan siapa-siapa. Setidaknya aku masih berpikir rasional mengenai keposesifanku pada Ye Rin. Untuk apa? Aku sendiri belum mendeklarasikan diri akan mengklaimnya lebih jauh. Benarkah? Ya, aku sendiri tidak tahu dan mengapa aku harus repot memikirkan sesuatu yang belum seharusnya?

Aku berdecak. Memilih fokus mengemudi daripada mendapat teguran dua pria kecil yang duduk di kursi belakang. Sayup-sayup aku mendengar mereka berbisik tentang pertandingan sepak bola Sung Jin. Aku tersenyum kecil. Ketika mobilku berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah, aku menoleh ke belakang. Tersenyum pada keduanya yang memilih kembali duduk tegak.

“Kapan pertandingannya berlangsung?” tanyaku langsung pada inti. Kembali menghadap depan, memerhatikan keduanya lewat spion tengah. Ketika lampu berubah hijau, aku menunggu hingga mobil di depanku bergerak dan aku kembali menekan pedal gas.

“Sabtu depan, Paman.” Sung Jin berkata riang. Namun secepat kilat ia mampu mengubah ekspresi tenang itu dengan sebuah kekecewaan mendalam. “Tapi aku tidak tahu apakah kakek bisa menemaniku saat pertandingan nanti.”

Aku menimbang. Sejujurnya tidak mengerti dengan pola pertandingan anak-anak yang memerlukan orang dewasa sebagai sokongan. Lalu aku mengerti bahwa mungkin saja Ye Rin tidak tahu menahu mengenai bola dan tentu saja tidak ada lelaki dewasa yang bisa menemani Sung Jin selain sang kakek. Aku menepikan mobil ketika mendekati gerbang sekolah. Menghentikan tepat sepuluh langkah dari gerbang itu sendiri.

“Bagaimana jika orang lain yang akan menemanimu dalam pertandingan nanti?” Aku mengusap pucuk kepala Sang Hyun dan Sung Jin bergantian. Sang Hyun mengerling padaku, tahu bahwa ucapanku barusan mengandung kode keras.

“Paman Tae Hyung?” Sung Jin bertanya. Ia menggeleng singkat sebagai reaksi penolakan. “Paman tidak tahu tentang bagaimana cara mensupport keponakannya sendiri.”

Aku menjinjing sebelah alis. Tidak mengerti tentang tindakan Tae Hyung yang menyebabkan sedikit trauma pada Sung Jin.

“Kata ibu, jika Paman Tae Hyung datang, dia akan memakai kostum peri yang menjijikan dan aku tidak boleh memberitahukan pertandingan ini padanya.”

Sang Hyun dan aku tertawa. Membayangkan bagaimana Kim Tae Hyung memakai baju peri dan berkeliling lapangan pasti sukses membuat Sung Jin malu setengah mati. Dan tentu saja Ryu Ye Rin tidak akan mengizinkan anaknya dipermalukan begitu saja.

“Aku bisa menonton bersama ayah. Umm… dan aku akan meminjamkan ayahku untuk menemanimu memasuki lapangan nanti.” Sang Hyun merangkul Sung Jin dengan senyuman manis. Sesuai dugaanku Sung Jin berpijar-pijar. Bagai pejalan kaki mendapat tumpangan gratis.

“Benarkah?” tanya Sung Jin. Kami berdua mengangguk. Aku mengusap pucuk kepala pria kecil itu sekali lagi dan mereka berlalu meninggalkanku setelah mengucapkan kalimat mantra.

“Kami berangkat!”

Dan yang harus kulakukan selanjutnya adalah mengatakan rencana ini pada Ye Rin.

Sabtu

Hari ini aku mendapat shift tambahan selama enam jam; mulai pukul sembilan pagi hingga tiga sore nanti. Tidak tahu mengapa pasien anak-anak sedikit membludak menjelang akhir pekan seperti ini. Namun aku tidak terlalu mempermasalahkan karena ada Ye Rin yang akan menjaga Sang Hyun. Saat ini aku duduk di stasiun perawat, mengecek beberapa clipboard, memastikan tulisanku tidak ada yang janggal.

Setelah clipboard yang ketiga selesai, sebuah cup amerikano mendarat tepat di depanku. Aku mengangkat wajah, melihat Naomi dengan senyum terkembang mempersilakanku meminum cairan hitam pekat tersebut. Tidak lantas menuruti perintah, dahiku justru berkerut bingung. Sebuah hal aneh sepertinya telah terjadi di sini.

“Ucapan terima kasih, Dok.” Naomi lantas mendudukkan diri tidak jauh dariku. Tidak berhenti menebar senyum seakan benar-benar tengah dilanda badai kebahagiaan.

Dahiku mengernyit kembali. “Terima kasih?”

“Ya.” Naomi mengangguk. Memainkan jemari lentiknya, seolah bingung memulai percakapan. “Terima kasih karena berkat pager Anda tertinggal, aku bisa mendapat seorang pria tampan.”

Aku terkekeh. Serta merta mengingat pertemuan pertama Tae Hyung dan Naomi berkat pagerku yang tertinggal dan, oh. Apakah aku ketinggalan berita? “Kalian sudah berkencan?”

Naomi sedikit menunduk. Menyembunyikan rona yang muncul di kedua pipinya. “Secara teknis belum resmi. Tapi kami sudah mengakrabkan diri.”

Aku tertawa lagi. Sore ini aku memiliki bahan obrolan manis dengan Ye Rin. Dan aku tidak terkejut mengetahui fakta bahwa gadis yang sering menghubungi maupun dihubungi Tae Hyung adalah Naomi. Astaga. Mereka bahkan baru saja berkenalan sebelas hari lalu. Lebih pendek dari jarak aku dan Ye Rin bertemu.

“Kalau begitu terima kasih untuk kopinya,” ujarku menyeruput amerikano. “Dan semoga kalian cepat resmi berkencan.”

***

Aku menemukan Ryu Ye Rin tengah mengambil puding fla vanila kesukaan Sang Hyun dan ia terkejut melihatku. Ada sebuah walkie talkie di tangan Ye Rin lalu dahiku mengernyit begitu saja. Ia mengacungkan walkie talkie, tersenyum ketika aku ikut mendengar suara Sang Hyun, Sung Jin serta gonggongan Jiangyou dan Holly.

“Mereka bermain bersama monster berbulu cokelat dan meninggalkan walkie talkie ini denganku,” ujar Ye Rin berjalan melintasiku. Aku mengekori langkah Ye Rin. Membuka pintu samping rumah dan menemukan bocah-bocah kecil itu tengah berinteraksi dengan dua anjing Sang Hyun.

“Pesanan puding fla vanila sudah datang, ganti.” Ye Rin berbicara melalui walkie talkie dan aku harus bertahan untuk tidak memutar mata. Permainan anak-anak, huh?

“Roger. Segera kami ambil, ganti.”

Aku menatap interaksi mereka dalam diam. Melihat Sang Hyun berlari ke arah Ye Rin membuat hatiku merasa tercubit. Sang Hyun tersenyum, mengucapkan terima kasih pada Ye Rin dan tidak lupa menyapaku. Ia kembali berlari ke arah Sung Jin dan Ye Rin lekas menutup pintu kembali.

“Mengapa mereka meninggalkanmu sendirian?” Aku bertanya saat kami berjalan kembali ke rumah.

Ye Rin menggeleng, membiarkanku menuntun jalan hingga kami sampai di ruang tengah. “Aku hanya membiarkan mereka bermain bersama Jiangyou dan Holly. Kasihan anjing-anjing itu harus tersingkir saat aku datang.”

Wanita ini memang memiliki sifat dasar baik, tidak mengada-ada dan sedikit cepat marah. Namun satu hal yang kutangkap dari ujaran Ye Rin barusan, bahwa setakut apa pun ia pada anjing, ia tetap berusaha agar orang lain tidak perlu mengkhawatirkan keadannya. Dan entah mengapa dalam situasi seperti ini yang ingin kulakukan adalah memeluk Ryu Ye Rin. Sadar atau tidak tanganku bahkan terkepal erat—berusaha untuk tidak merealisasikan ide gila yang terlintas.

“Omong-omong, aku tahu siapa calon kekasih Tae Hyung saat ini.” Aku patut berbangga diri karena tahu lebih awal dibanding Ye Rin namun wanita di sampingku justru tidak terkejut.

Ye Rin mengambil remote televisi, menggonta-ganti channel dengan amat sangat bosan. “Perawat Barbie?” tanyanya kembali beralih padaku setelah menemukan variety show yang tepat.

“Perawat Barbie?” ulangku.

Ye Rin mengangguk. Beralih kembali menatap televisi. “Tae Hyung beberapa kali mengatakan tentang Perawat Barbie yang dia temui di rumah sakit tempatmu bekerja. Apakah maksudmu perawat yang itu?”

“Naomi.” Aku tertawa kecil. “Namanya Naomi. Kurasa, ya, dia sedikit mirip dengan Barbie.”

“Sial.” Ye Rin mengalihkan pandangan padaku. “Gadis Jepang? Pantas saja Tae Hyung mengincar dia mati-matian.”

To Be Continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s