Sweet Dreams Chapter 6

Sweet Dreams Chapter 6

image

“Terima kasih.” Ye Rin memberikan senyuman manis. Syarat akan pengakuan bahwa ia menyukai bagaimana cara Ho Seok mendukung segala keputusannya. “Sampaikan salamku pada Bibi Il Rin. Aku ingin mengunjunginya tapi belum sempat.”

Ho Seok mengangguk. Segala yang terucap dari bibirnya merupakan keputusan tepat. Ia tidak ingin membebani Ryu Ye Rin. Terlebih ketika sang sepupu sudah berusaha mati-matian untuk mendapat sebuah jackpot kebahagiaan. Dan yang Ho Seok bisa lakukan hanya mengamati dari jauh. Menegur jika diperlukan dan menjadi penyokong jika diminta.

Ya. Itu adalah cara terbaik.

Title: Sweet Dreams
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Romance, Drama, AU
Cover by: Augustddrugs
WARNING; Inspired by The Proposition © Katie Ashley & Sweet Dreams’ song by Patsy Cline, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

© 2017 Nadhea Rain

Sweet dreams of you
Every night I go through
Why can’t I forget you and start my life anew
Instead of having sweet dreams about you

Chapter 6

~~~

Story begin..

Langkah kaki Ye Rin terasa lebih ringan setelah pembicaraan bersama Ho Seok barusan. Entitas itu bahkan terlihat lebih cerah, seakan kembali sebagai gadis lazuardi yang tidak peduli pada luka menganga dalam dada. Ye Rin menapaki lantai gedung agensi dengan sangat nyaman. Dengan perasaan membuncah, melimpah ruah di setiap tarikan napas.

Ia tersenyum pada tiap-tiap sosok yang berpapasan dengannya. Ia mengukir lengkung manis tiada henti. Menebar madu pada setiap tarikan bibir lagi dan lagi. Lalu saat ia mendapati Min Yoon Gi menunggu di depan lift, tanpa sadar Ye Rin melaju lebih kencang. Mencium sosok putih itu tanpa tahu tempat.

Ye Rin mencium tepat di bibir. Tersenyum tiada kendali setelah pagutan itu selesai. Sementara Yoon Gi memamerkan seringai nakal. Bergumam kata ‘menakjubkan’ keras-keras sebelum keduanya menghilang di balik pintu besi.

“Kuakui aku menyukai caramu menyambutku seperti tadi.” Yoon Gi masih bertahan dengan seringai lebih lebar. Berusaha kembali menggapai bibir Ye Rin namun gadis itu seakan menggodanya; menjauhkan wajah seraya berseringai jua. “Dan kau sekarang justru ingin menjauh?”

Ye Rin terkekeh. Meletakkan jari telunjuk pada bibir Yoon Gi. “Simpan ciumanmu untuk nanti malam, Produser-nim. Kau akan mendapatkan kesenangan penuh nanti.” Ye Rin mengerling tepat ketika lift berdenting pada lantai dua. Tiga orang staff masuk ke dalam lift, bergabung bersama Yoon Gi dan Ye Rin.

Yoon Gi bersumpah jika saja tidak ingat bahwa ada staff—dan jika harga dirinya mengizinkan—ia mungkin akan berteriak sekencang mungkin. Penantian besar ini seakan sudah ia prediksi jauh-jauh hari. Dan Yoon Gi tidak tahu jika efek perkataan Ye Rin menambah intensitas letupan di dada kian menyala.

Dan saat lift kembali berdenting pada lantai tujuan, Yoon Gi segera menarik Ye Rin keluar. Mencium tepat di hadapan para staff wanita yang memerah padam.

***

“Berhenti, Tae!” Naomi berseru keras. Berusaha menghentikan Tae Hyung yang berjalan cukup jauh di depan. Tae Hyung berhenti, menoleh singkat namun segera kembali menghadap lurus ke depan.

Naomi mengembuskan napas lelah. Berjalan mendekat seraya bersungut-sungut. Tas di punggungnya terasa jauh lebih berat saat Tae Hyung berlagak tidak peduli. Bahkan mereka sudah sampai di kantor agensi, bukan di rumah sang bibi seperti tadi. “Tidak bisakah kau membiarkanku berjalan bersisian denganmu?” Naomi berujar lagi. Berharap permintaan sederhana itu bisa dituruti.

Tae Hyung menoleh selama lima detik. Menggeleng singkat lalu sudah kembali berjalan mendahului Naomi. Gadis itu mendecih. Gegas menyusul Tae Hyung dengan langkah super cepat. Berharap tidak terjatuh karena mengenakan heels berdiameter satu setengah senti.

“Kenapa?” Naomi bertanya lagi. Tidak bosan meminta jawaban. Tidak sabar menunggu ucapan. Ia tahu Tae Hyung sudah lama seperti ini namun tetap saja Naomi belum terbiasa. Terlebih jika seorang yang melakukannya adalah Kim Tae Hyung. Kekasih Naomi sendiri.

“Arah jam sembilan dan arah jam empat. Di sana ada wartawan yang akan sigap memberitakan keburukanmu kapan saja. Ingat, media tidak tahu kita berkencan.”

Lagi. Alasan serupa yang sering ia dengar kembali diulang. Membuat Naomi mengatup bibir rapat-rapat. Tahu jika Tae Hyung tidak ingin membahas hal ini lebih lanjut. Bahkan saat Tae Hyung melangkah lebih awal, meninggalkan Naomi dengan jarak selebar mungkin, Naomi hanya bisa menahan lengser air mata. Tidak ingin sekali lagi terluka karena sang kekasih sudah teramat berbeda.

Kekasih… bahkan Naomi lupa kapan terakhir kali Tae Hyung ingat mengucapkan kata cinta. Atau kapan tepatnya Tae Hyung bersikap manis, meski hubungan mereka baru tumbuh sebesar biji jagung. Satu tahun menjadi penggemar, dua tahun berada di agensi yang sama dan lima bulan menjadi sepasang kekasih tidak membuat Naomi mengenal Tae Hyung lebih jauh. Tidak membuat Naomi bisa menebak mana sifat Tae Hyung yang sesungguhnya.

Kata orang cinta itu butuh proses. Cinta butuh waktu; awal dari cinta dimulai dari terbiasa. Begitu katanya. Namun Naomi sangsi akan hal itu. Mengingat bahwa ternyata teori tidak seindah apa yang ia duga. Teori tidak semanis apa yang ia rasa.

***

Dalam sepersekian detik Ye Rin menemukan tatap ketakutan terjalin di mata besar Jung Kook. Namun ia tidak ingin melihat ketakutan itu lebih lanjut. Tidak ingin merasa bahwa sosoknya perlu ditakuti. Ye Rin menepuk tangan Jung Kook tiga kali, membuat sepasang netra bulat semakin membulat lebar. Semakin terperangah dengan apa yang Ye Rin lakukan.

Ruang latihan sejujurnya terlalu dingin karena air conditioner menyala tiada kenal lelah. Tapi bagi Jung Kook, ia merasa begitu kepanasan. Terlebih ketika sang calon partner duet sudah berada di depan mata. Dan kini justru menepuk tangannya menyalurkan kekuatan.

“Dalam tiga minggu ke depan kita akan jadi partner, ‘kan? Jadi jangan pedulikan apa yang terjadi pada kita di masa lalu.” Ye Rin memeluk Jung Kook. Membenamkan kepala di bahu lebar pria di hadapan. “Aku sudah terlalu dewasa untuk terus membencimu, Kookie.”

Jung Kook terperangah. Ia merasa tubuhnya mendadak sulit bergerak. Bukan hanya karena tiba-tiba saja mendapat perlakuan baik, namun panggilan akrab itu. Panggilan akrab… hanya Ye Rin yang mampu mengeja lebih baik… kini diucap ulang oleh suara favorit Jung Kook.

“Noona sudah memaafkanku?” tanya Jung Kook memastikan kejelasan. Pasalnya ia benar-benar takut. Terlalu takut sehingga harus terus bersembunyi ketika hampir berpapasan dengan Ye Rin.

Ye Rin tertawa di balik punggung Jung Kook. Kembali menepuk tangan tiga kali seakan memperjelas keadaan. “Kau tidak pernah melakukan kesalahan. Aku hanya egois karena tidak melihat bahwa kau juga korban di sini.”

Tahun-tahun sulit Jung Kook alami, yang tiba-tiba saja menyeruak bagai kilas balik, perlahan sirna akibat ucapan Ye Rin. Tahun-tahun suram yang Jung Kook alami satu per satu pudar, memburam hingga tak berbekas. Jung Kook membalas pelukan. Mengangkat tubuh Ye Rin untuk ia putar-putar di atas lantai latihan dansa.

Ye Rin tertawa gembira. Tidak sadar hingga likuid air mata sudah menggenang di pelupuk. Tidak mengira beberapa di antaranya sudah mulai berjatuhan. Satu lagi titik kebahagiaan telah terbuka. Membuat ia tidak kuasa menahan segala buncahan rasa.

“Turunkan aku, Kookie.” Ye Rin berusaha membuat suara sedikit lebih keras. Membiarkan Jung Kook menurunkan tubuh hingga menapaki lantai dingin kembali. “Aku ada janji sekarang. Bisakah kita memulai latihan besok?”

Jung Kook mengangguk setuju. Kembali memeluk singkat Ye Rin seraya berkata, “Terima kasih, Noona.”

***

Ye Rin menghela napas kecil. Ia ketakutan, bukan, bukan rasa takut melainkan gugup yang berlebihan. Telapak tangannya mencengkeram erat kenop pintu kamar hotel seolah sebuah pegangan agar ia tidak terjatuh. Seperti yang resepsionis ucapkan bahwa Yoon Gi telah memesan kamar ini untuk Ye Rin, untuk malam panjang mereka berdua, dan bahkan kuncinya sudah ia pegang jauh-jauh hari.

Ia hanya… tidak tahu harus bagaimana.

Pria itu tidak bersamanya. Masih ada urusan dengan pemilik agensi dan akan datang beberapa waktu mendatang. Membiarkan Ye Rin membiasakan diri dengan kamar tidur. Membiarkan Ye Rin membiasakan diri dengan apa yang hendak pria itu lakukan padanya nanti. Ye Rin hanya perlu diam, menikmati sentuhan Yoon Gi dan impian terwujud. Sesederhana itu.

Dan seharusnya ini berjalan baik-baik saja.

Ia menempelkan kartu kamar hotel dan membuka pintu tersebut. Melihat keadaan ruangan yang gelap karena lampu tidak dinyalakan, tangan Ye Rin meraba dinding dan menemukan saklar lampu. Benda di atas langit-langit kamar menyala, membantu Ye Rin mengenali tata ruang kamar tersebut.

Ranjang berukuran king dengan seprei putih bersih menjadi tontonan pertama bagi dwimaniknya. Ranjang kokoh tersebut dihiasi taburan kelopak mawar merah, seolah mengerti bahwa di atas sana akan terjalin suatu hubungan yang merah, berani dan menyala-nyala. Dan Ye Rin sama sekali tidak mengira bahwa Yoon Gi memesan suite bulan madu untuk mereka. Terlalu berlebihan.

Kedua kaki Ye Rin melangkah lebih dalam, membiarkan tas selempangnya terjatuh di atas sofa sedangkan ia mendekati ranjang tersebut dalam keheningan. Ye Rin gugup. Terlihat jelas melalui kedua sorot matanya yang bergetar takjub. Tidak pernah mengira Yoon Gi ternyata tipe pria yang romantis.

Seharusnya Yoon Gi tidak perlu susah-susah menyiapkan hal mewah seperti ini. Seharusnya Yoon Gi tidak perlu repot melakukan hal yang membuat sisi wanita Ye Rin merangkak ke permukaan. Tersanjung dengan perbuatan pria yang akan jadi pendonatur baginya. Karena mereka tidak akan melakukan sesuatu lembut seperti bercinta. Dan ini terlalu berlebihan.

Ye Rin mendudukkan diri di atas ranjang. Membiarkan bokongnya menyentuh kain selembut sutra tempat di mana akan terjadi pertarungan sepanjang malam. Tiba-tiba ia menginginkan Yoon Gi datang lebih awal. Menginginkan pria itu menatapnya lapar dan memulai pergulatan lalu selesai. Namun belum sempat pikiran Ye Rin berkelana lebih jauh, ia menemukan sebuah kotak berwarna biru muda dengan hiasan pita berwarna merah duduk rapi di atas nakas. Tidak perlu bertanya untuk siapa karena di atas kotak itu sudah tertempel kertas bertuliskan namanya.

Dengan sedikit tarikan napas, Ye Rin membuka kotak perlahan. Terperangah mendapati lingerie model bra set berwarna biru muda cantik di sana. Ia sentuh dua potong kain itu lamat-lamat, membayangkan sebentar lagi sang kain akan membalut tubuhnya. Mata Ye Rin terpejam, sesaat kemudian suara pintu terbuka membuat Ye Rin sontak berdiri dengan wajah panik. Kotak biru terjatuh di atas ranjang, membuat Yoon Gi menilik lalu menerbitkan seringai tipis.

“Menyukainya?” tanya Yoon Gi menutup pintu dengan kaki kanan. Ia membuka dua kancing teratas kemeja selagi Ye Rin mengangguk senang. Kemudian melangkah mendekati ranjang, ikut duduk di samping Ye Rin, mencuri ciuman singkat di bibir wanita yang sebentar lagi ia klaim sebagai miliknya.

“Terima kasih. Aku sangat menyukainya.”

Perkataan Ye Rin barusan menambah seringai semakin tercetak luas di bibir Yoon Gi. “Persiapkan dirimu, Ye Rin-ah. Aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”

***

Sekali lagi Ryu Ye Rin menatap pantulan dirinya dalam cermin kamar mandi. Dua kain indah yang dihadiahkan Yoon Gi sudah terpasang apik di tubuh. Membuat Ye Rin terperangah dengan apa yang ia lihat sendiri. Lingerie itu benar-benar pas. Seakan Yoon Gi benar-benar mengerti ukuran tubuhnya lebih dari Ye Rin sendiri.

Ia mencengkeram kenop pintu kamar mandi, membuka dengan perasaan was-was ketika tatapan Yoon Gi langsung jatuh pada dirinya. Membuat Ye Rin menunduk, menyembunyikan wajah memerah padam agar tidak terlihat. Geraman dan langkah kaki Yoon Gi yang mendekat membuat suhu tubuh Ye Rin semakin panas. Dan saat Yoon Gi mengumpat, Ye Rin tidak kuasa untuk tidak mengangkat sedikit kepala.

“Sial kau Ryu Ye Rin.” Yoon Gi meraup pinggang Ye Rin. Menabrakkan bibir keduanya dalam ciuman manis namun hati-hati. Bergairah namun pelan-pelan. Mendominasi namun tetap berirama.

Ciuman Yoon Gi turun di sepanjang leher Ye Rin. Memberi satu tanda kepemilikan mutlak di sana. Lalu turun lagi hingga mencapai belahan dada Ye Rin yang tercetak jelas. Kain berbentuk bunga mawar di tengah Yoon Gi kecup lamat-lamat. Kemudian salah satu tangannya menangkup payudara Ye Rin. Membuat sang empu merintih-rintih.

“Bisakah kita singkirkan kain sialan ini?” Yoon Gi menggumam di tengah kegiatan memanjakan Ye Rin. Ketika mendengar persetujuan, ia segera melepas tali yang mengikat di belakang leher Ye Rin. Takjub melihat kulit putih wanita itu terekspos lebih banyak. Takjub melihat pemandangan yang disuguhkan di depan mata.

Ia membimbing Ye Rin ke ranjang. Merebahkan tubuh setengah telanjang wanita itu pelan-pelan. Yoon Gi memuja tubuh Ye Rin dalam diam. Mulai menjelajahi tiap-tiap inci, membiarkan Ye Rin terbiasa dengan gerakan tangannya. Melepas sendiri kancing-kancing kemeja, menunjukkan pada sang wanita di bawah kuasa betapa hasrat Yoon Gi sudah tidak tertahankan.

Hingga keduanya telah polos tanpa sehelai benang dan hasrat kian memuncak, Yoon Gi kemudian berkata, “Posisi seperti apa yang cocok untuk membuat bayi?”

Netra keduanya bertemu pandang. Saling taut dalam kobar gairah, saling hendak melahap satu sama lain. “Seperti ini kurasa lebih baik,” jawab Ye Rin diikuti sesungging senyum manis. Hatinya bertalu-talu. Semakin lama semakin kencang saat Yoon Gi sudah memposisikan diri.

Gerakan Yoon Gi pelan. Perlahan-lahan seolah tidak ingin membuat Ye Rin hancur. Menahan segala hasrat demi membuat kenyamanan pada sang wanita di bawah kungkungan. Akan tetapi Ye Rin justru tidak setuju. Ia mengangkat pinggul tinggi-tinggi, berusaha membantu dorongan Yoon Gi yang terasa terlalu menyiksa diri.

“Setubuhi aku sekeras mungkin, Min Yoon Gi. Gagahi aku seperti apa yang kauucapkan saat pesta haloween lalu.” Ye Rin mencengkeram pundak Yoon Gi. “Aku bukan perawan. Jangan perlakukan aku seperti kita sedang bercinta.”

Bersamaan kalimat yang keluar dari bibir Ye Rin, Yoon Gi menyeringai. Lantas membalikkan badan Ye Rin, kembali memasuki wanita itu dengan intensitas lebih keras. “Kau yang meminta.”

Bunyi pergumulan keduanya terdengar keras. Desahan, umpatan serta tamparan di bokong Ye Rin sudah tidak bisa dihitung. Yoon Gi menggertakkan gigi lebih sering. Menutup mata lebih sering. Menahan nikmat yang ia akui baru didapat satu kali ketika kulit bertemu kulit tanpa pelindung kondom.

Ketika hendak mencapai puncak gairah, Yoon Gi kembali membalikkan badan Ye Rin ke posisi awal. Membiarkan kedua kaki Ye Rin melingkari pinggangnya. Menghantarkan Yoon Gi menghujam lebih dalam, bergerak lebih liar, memuja lebih dahsyat. Yoon Gi berusaha memikirkan hal lain yang mampu menunda puncak namun tidak bisa. Ia memuntahkan benih-benih itu dalam beberapa kali. Lantas ambruk di atas tubuh Ye Rin dengan keringat sama banyak. Mereka mengatur napas. Tersenyum sebelum akhirnya memisahkan diri.

Yoon Gi mengambil salah satu bantal yang berada paling dekat dengannya. “Aku membaca di internet tentang cara untuk segera mendapatkan bayi dan salah satunya kau harus menaruh bantal di bawah pinggul.”

Ia membimbing Ye Rin untuk sedikit melengkungkan tubuh. Memosisikan bantal tepat di bawah pinggul dan membiarkan Ye Rin kembali merebahkan diri. Yoon Gi mendesis. Lautan gairah secepat kilat kembali pada diri Yoon Gi ketika melihat tubuh bagian bawah Ye Rin yang merekah setelah ia menambahkan bantal.

“Sial, Ryu Ye Rin. Kau semakin seksi dengan bantal itu.”

Ye Rin terkekeh. Melihat tonjolan di pusat Yoon Gi sudah kembali mengeras, ia lantas berujar, “Apakah akan ada ronde kedua?”

To Be Continued..

A/N: *tiupin debu* Haiiiii >< ada yang nungguin Wide Awake juga ya? Hihi. Insyaallah akan segera aku publish ya ^^ tinggal 10 chapter aja kok wkwk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s