Anemone Chapter 1

Anemone Chapter 1

image

Title: Anemone
Cast: Kim Tae Hyung, Park Hwa Young, Park Sun Young
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Ravenclaw
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & JLynne’s

Chapter 1

~~~

Story begin..

Putih. Semua putih. Segala sisi putih. Seluruhnya… yang mampu tertangkap retina Hwa Young hanya putih. Bahkan gaun Hwa Young pun berwarna putih. Sejenak Hwa Young memejamkan mata, berharap saat ia membuka kelopak, segala hal akan berubah seperti sedia kala. Namun nihil. Keseluruhan tetap putih dan terasa menyakitkan bagi netra Hwa Young.

Ia sungguh tidak mengerti bagaimana bisa terdampar di tempat ini. Sungguh tidak mengerti mengapa hanya ada dirinya seorang tanpa manusia maupun mahluk hidup lain. Sungguh tidak mengerti mengapa tidak ada warna lain selain putih. Hwa Young menghela napas. Memilih pasrah alih-alih mempertanyakan perihal keganjilan tersebut lebih lanjut.

Lalu otaknya seakan mendapat asupan vitamin ketika sebuah asumsi mampir begitu saja. Gegas-gegas mengingat detik demi detik di mana truk ekspedisi melaju kencang, menubruk badan kiri mobil yang Hwa Young tumpangi. Ia terperanjat. Terkejut menatap sekeliling dengan pandangan nanar.

Benarkah ia mengalami kecelakaan? Lantas mengapa tidak ada sedikit pun sakit mendera tiap-tiap jengkal tubuhnya? Bahkan tidak ada bekas luka; tiada parut hadir pada kulit putih pualam Hwa Young. Hwa Young semakin bingung. Premis-premis seolah mengoyak hati Hwa Young hingga dalam. Kecelakaan, ruangan putih, semua putih… Hwa Young tidak ingin memikirkannya lebih lanjut.

Dan di saat ia tidak mampu lagi membendung segala kemungkinan, sebuah suara familiar terdengar memenuh sesaki indera pendengaran Hwa Young. Suara Tae Hyung. Suara bass penuh penekanan. Syarat akan kerinduan teramat dalam.

“Selamat pagi, Sleeping Princess. Apa kau tidak lelah hanya tertidur? Mengapa kau tidak ingin membuka matamu?”

Hwa Young tergugu. Ia tatap sekeliling namun sama sekali tidak menemukan entitas Tae Hyung. Ia buka mulut berusaha memanggil nama sang suami namun tiada suara terdengar dari sana. Iris cokelat Hwa Young membulat. Merasa benar-benar tidak mengerti dengan keadaan yang kini mendera.

Suara itu tidak terdengar lagi. Suara Tae Hyung teredam putih lagi. Hwa Young meringis. Menangis dalam diam, mengaduh dalam ketidakmampuan.

Terkadang Hwa Young tidak bisa membuka mata, tidak bisa melihat ruangan penuh putih dan hanya bisa tergolek tak berdaya.

Entah sudah berapa lama waktu terlewati. Sudah berapa lama hari dilalui. Semakin lama semakin Hwa Young ingin menjerit. Semakin lama semakin Hwa Young ingin meminta pertolongan.

“Hwa Young-ah… kau tahu berapa usia putrimu sekarang? Dia sudah berusia satu bulan. Dia cantik, sama sepertimu. Mengapa kau tidak ingin bangun sekadar melihatnya bertumbuh besar?”

Suara lain muncul saat Hwa Young lelah menangis dalam diam. Suara ini adalah suara sang kakak, Park Sun Young. Suara yang tidak kalah ia rindukan. Suara yang tidak kalah ia idamkan. Namun Hwa Young sudah tidak terkejut lagi. Tidak seperti ucapan Tae Hyung saat-saat lalu.

Ia hanya mampu meringis. Ia hanya mampu menangis. Tidak tahu sampai kapan harus terjebak dalam putih. Tidak tahu sampai kapan harus termenung sendiri seperti ini.

***

Suara tapak langkah Tae Hyung terdengar menggema di lorong rumah sakit. Membias pedih yang kian hari kian menganga dalam jiwa setengah nyawa pria itu. Penampilannya kucal; rambut terlalu panjang, kemeja tidak pernah diganti, celana kain penuh noda. Seakan bukan seorang wakil direktur pada perusahaan keluarga. Akan tetapi Tae Hyung tidak peduli.

Entitas itu berjalan menelusuri lorong-lorong rumah sakit. Menaiki lift demi sampai pada ruangan Double VIP Room yang hanya mampu diakses keluarga sang mertua. Di mana Hwa Young, istrinya, terbaring tak berdaya di sana.

Ia genggam erat bunga mawar putih di tangan kanan. Tidak tersenyum barang sekilas karena jiwa dan raga seolah tercerai berai sejak kecelakaan menimpa Hwa Young dua bulan lalu. Tercecer-cecer sejak dokter mengumumkan pada dunia bahwa sang istri harus terbaring koma di ranjang pesakitan untuk beberapa saat.

Beberapa saat?

Tae Hyung ingin mengumpat dalam hati. Nyatanya sudah lebih dari lima puluh hari namun sang istri masih enggan membuka mata. Masih saja tetap terbaring lemah dengan alat-alat bantu kehidupan menancap, membuat Tae Hyung ingin sekali menggantikan posisi wanita nomor satu dalam hidupnya tersebut.

Gegas Tae Hyung melangkah. Menguar kerinduan dalam tiap-tiap tatap yang ia tuaikan. Membisik cinta dalam tiap-tiap diam yang ia agungkan. Tae Hyung membuka gagang pintu. Sedikit tersenyum seolah Hwa Young sudah mampu melihat entitasnya meski sekejap.

“Bungamu sudah layu, Sayang.” Tae Hyung berjalan mendekati nakas. Menjinjing vas berisi bunga layu lalu membuang tangkai-tangkai itu dalam tempat sampah. Membuka buket mawar putih yang sedari tadi ia genggam, menaruh kembali bunga segar ke dalam vas. Tae Hyung mengembalikan benda kaca itu ke atas nakas. Lantas tersenyum mengecup puncak kepala Hwa Young.

Tae Hyung mengambil kursi. Duduk di samping bangsal Hwa Young, membawa tangan pucat itu dalam genggaman. Ia kecup punggung tangan Hwa Young lamat-lamat. Ia usap punggung tangan Hwa Young sayang.

“Aku tidak ke kantor lagi hari ini, Hwa Young-ah,” adu Tae Hyung. Ada senyum getir tercetak pada bibir tipis Tae Hyung. “Aku takut jika aku pergi ke kantor dan meninggalkanmu, kau akan bangun tanpa sepengetahuanku. Dan kau akan menyalahkanku karena tidak menjadi suami yang baik.”

Tae Hyung menghela napas. Membiarkan sayup-sayup suara kardiograf memenuhi indera pendengarannya. Ia sedikit menjinjing sudut bibir. Menatap wajah cantik sang istri dengan perasaan rindu. Perasaan membuncah, tumpah ruah dalam leleh tangis di sudut-sudut mata.

“Hye Ra mengompoliku semalam. Ia terbangun pukul tiga pagi dan tidak mau tidur lagi. Dia merindukanmu, Sayang. Dia ingin ibunya bangun.”

Tae Hyung masih senantiasa menggenggam erat jemari ringkih sang istri. Menyelipkan anak rambut milik Hwa Young yang menganggunya menikmati ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.

Wanitanya…

Wanita yang menempati posisi tertinggi di hatinya. Wanita pemilik jiwa, raga dan wanita yang mampu membuat Tae Hyung jatuh cinta lagi dan lagi. Bahkan saat mata indah itu terpejam seperti sekarang. Sama sekali tak mengurangi kecantikan sempurna Hwa Young.

“Hei… cepatlah bangun. Apa kau tak lelah berbaring seperti ini? Menutup mata indahmu hanya untuk keegoisanmu sendiri.” Tae Hyung meremat pelan tangan Hwa Young. “Jika kau ingin menghukumku karena pertengkaran kecil kita dulu, aku sungguh minta maaf.”

Hening. Suara Tae Hyung hanya dibalas dengan bunyi konstan kardiograf. Namun seolah tidak lelah berbicara sendirian, Tae Hyung kembali berkata, “Kau benar. Nama Hye Ra sangat cocok untuk putri kita. Dia tumbuh menjadi bayi yang sangat cantik. Dia seperti duplikat dirimu.”

Tae Hyung membayangkan wajah sang buah hati yang begitu cantik. Sungguh menyayangkan betapa konyol ia tidak menyetujui nama usulan Hwa Young sesaat sebelum kecelakaan berlangsung. Dan kini ia merasa menyesal. Menyesal karena Hwa Young seolah tengah mempermainkan dirinya dengan tidak kunjung membuka mata.

“Sayang, bukalah matamu. Apa kau tak ingin melihatnya? Dia sangat membutuhkanmu. Ah, tidak. Tidak hanya Hye Ra. Aku juga membutuhkanmu, kami membutuhkanmu,” ucap Tae Hyung bersamaan dengan setetes likuid bening yang menuruni pipi.  Sungguh ia sangat merindukan Hwa Young. Merindukan bagaimana cara wanita itu tersenyum, merindukan seperti apa wanita itu tertawa. Bahkan ia merindukan saat-saat Hwa Young menjahilinya. Ia juga rindu cara sang wanita memandang Tae Hyung dengan binar penuh cinta.

“Aku merindukanmu.” Entah sudah berapa kali kalimat itu ia ucapkan. Tapi bibir pucat itu masih tertutup rapat. Seolah enggan untuk membalas kerinduan. Seolah tidak memiliki perasaan sama seperti yang Tae Hyung rasakan.

Setiap helaan napas Tae Hyung, ia selalu menyebut nama Hwa Young. Ia tidak bisa hidup tanpa Hwa Young bahkan hanya sedetik saja. Hwa Young adalah segalanya. Hwa Young adalah harta paling berharga.

***

Dokter berjas putih ber-ID Card Jung Yun Ho memijit pelan pangkal hidung. Wajah tampan itu tak bisa menyembunyikan gurat kelelahan. Bahkan kini semakin jelas seolah usianya bertambah tua hanya dalam waktu singkat.

Sudah hampir tiga bulan ia bertugas dan kepala selalu dibuat pusing dengan satu pasien istimewa yang dirawat di sini. Bahkan netra kelam itu hampir-hampir tak bisa terpejam kala otak hanya tertuju pada sang pasien.

Apa yang membuat pasien ini tak kunjung bangun? Bahkan jika melihat catatan rekam medis yang ia teliti, seharusnya kondisi sang pasien cukup baik untuk membuka mata. Namun mengapa? Mengapa seolah ada variabel kosong yang membuat si istimewa ini enggan menunjukkan tanda-tanda membuka mata?

Suara ketukan pintu menarik sang Yun Ho dari lamunan singkat. Menghela napas, ia menoleh ke arah pintu masuk seraya berkata, “Masuk.”

Seseorang berjas putih lain—dengan nama Min Yoon Gi (tertera pada ID card yang tergantung di leher)—memasuki ruangan dokter itu. Gurat kelelahan juga nampak di wajah Min Yoon Gi. Namun tidak separah keadaan sang dokter pemilik ruangan. “Kau sedang sibuk, Sunbaenim?” Yoon Gi bertanya setelah netranya tidak sengaja melihat clipboard pasien di tangan kanan sang senior.

Namun alih-alih menjawab, pria itu justru berbalik melayangkan pertanyaan. “Apa UGD sedang lengang sampai kau bisa main-main ke ruanganku?” Pasalnya ia sangat tau bagaimana sang adik tingkat suka menghilang di kala jam jaga. Salah satunya seperti sekarang.

“Ya. UGD sedang lengang, lagipula ada Seok Jin dan pager, dan pusat informasi. Jika aku dibutuhkan, banyak cara cepat untuk memanggilku, ‘kan? Jadi aku bisa bersantai sebentar.” Yoon Gi beralasan dengan sesungging senyum singkat. Ia suka melihat sang senior merasa kewalahan. Dan benar saja, Jung Yun Ho hanya memutar mata jengah.

“Lantas hal penting apa yang membawamu jauh-jauh menaiki lift dan menelusuri lorong demi mencapai ruanganku?” tanya Yun Ho lagi. Pria itu merasa perlu menginterogasi Min Yoon Gi perihal perkara ajaib ini. Sebelumnya Yoon Gi tidak pernah mengunjungi Yun Ho kecuali shift jaga sudah selesai. Dan Yun Ho pun tahu bahwa hari ini shift Yoon Gi baru selesai pukul enam sore.

Yoon Gi memajukan bibir. Seolah tidak senang dengan pertanyaan Yun Ho barusan. “Tidak. Aku hanya ingin menanyakan kondisi Nyonya Kim. Apakah sudah ada kemajuan?”

Yun Ho hanya menghela napas sembari menggelengkan kepala. Lagi. Pertanyaan yang sama… yang jua tidak bisa ia jawab kembali ditanyakan. “Aku sendiri tidak mengerti apa yang membuat Nyonya Kim tak kunjung sadar. Keadaan tubuh dan pendarahan di otaknya sudah diatasi dengan baik. Aku hanya berpikir seolah alam bawah sadarnya mengambil alih dan menolak untuk bangun.”

Yoon Gi menopang dagu. Ia sendiri tidak mengerti mengapa Hwa Young belum juga siuman. Meski tidak mengambil spesialis seperti sang senior, namun ia cukup mengerti bahwa tidak ada yang salah pada tubuh Hwa Young. Dan tiap hari ia juga dibuat pusing akan hal ini. Bahkan enam bulan sudah terlewati. Sudah enam bulan Hwa Young tidak sadarkan diri.

“Apa mungkin Hwa Young hanya ingin melihat seberapa besar cinta suaminya?” celetuk Yoon Gi asal. Ia sudah cukup muak dengan segala teori yang sama sekali tidak terbukti benar. Membuat Yun Ho gemas hingga mengetuk kepala dokter berkulit putih itu dengan clipboard.

“Pemikiran macam apa itu? Dalam keadaan seserius ini mengapa kau jadi seribu kali lebih menjengkelkan?” sembur Yun Ho memberikan tatapan garang. Sementara yang disembur hanya meringis tanpa dosa. Seakan tidak pernah mengatakan hal sebodoh itu beberapa detik lalu.

“Maaf, Hyeong. Aku hanya mencoba menebak.”

Yun Ho memutar mata jengah. “Berbicara denganmu hanya membuat kepalaku bertambah pusing. Aku akan memeriksa Hwa Young. Kau mau ikut?”

Yoon Gi mengangguk. Sejujurnya ia memang ingin melihat kondisi pasien. Sekaligus menjadi bekal untuk melapor pada sang Presiden Rumah Sakit perihal sang anak bungsu. Melihat Yoon Gi mengangguk, Yun Ho segera mengambil stetoskop dan beranjak keluar dari ruangan. Sementara Yoon Gi betah mengekor di belakangnya.

Beberapa dokter dan perawat yang berpapasan menyapa kedua pria tampan itu. Membuat mereka tiada henti menyunggingkan senyum bahkan hingga kamar inap Hwa Young. Yun Ho membuka pintu bercat putih tersebut, masuk terlebih dahulu lalu tersenyum singkat ketika Tae Hyung, suami Hwa Young, mendongak menatap mereka.

“Selamat siang, Tuan Kim. Anda sudah lama berada di sini?” sapa Yun Ho tanpa mengurangi rasa hormat. Yoon Gi di belakangnya ikut menunduk tanpa mengucapkan kata. Seakan ikut menyuarakan pendapat bersamaan kalimat Yun Ho barusan.

Tae Hyung hanya tersenyum dan mengangguk. Tidak mencoba menjawab lebih lanjut. Pria itu kembali menatap sang istri lamat-lamat. Mengundang decak iri Yoon Gi yang mampu melihat begitu banyak binar cinta di sepasang iris Tae Hyung.

Yun Ho mendekati bangsal Hwa Young. Memeriksa refleks mata Hwa Young dengan senter kecil yang selalu ia taruh di dalam saku. Tersenyum manis, menyapa Hwa Young seolah wanita itu sudah membalas senyuman. “Selamat siang Nyonya Kim? Bagaimana kabarmu hari ini?”

Tidak hanya memeriksa refleks mata, Yun Ho juga senantiasa memeriksa detak jantung dan beberapa pemeriksaan lain yang biasa ia lakukan. Selesai dengan pemeriksaan, Yun Ho mengamati wajah cantik Hwa Young sedikit lebih lama. Menyalurkan seluruh perhatian yang mampu ia berikan.

“Apa kau sudah ingin membuka mata?” tanya Yunho lagi. Tidak bosan-bosan menanyakan pertanyaan yang sama setiap hari. “Kau lihat Tuan Kim begitu merindukanmu. Dan bayimu, dia juga ingin melihat ibunya. Jadi cepatlah bangun.”

Yun Ho beralih melihat ekspresi sendu Tae Hyung. Berjalan mengitari bangsal, menepuk pelan bahu pria itu. Memberikan kekuatan lebih agar Tae Hyung masih tetap setia menunggu sang istri tercinta. Sama seperti tugas yang Yun Ho emban; menunggu Hwa Young hingga siuman dan pulih seutuhnya. “Kuharap kau selalu sabar menunggu istrimu. Aku yakin dia tidak akan menyerah dengan segala keadaan ini.”

“Terima kasih.” Tae Hyung mencoba tersenyum namun hanya segaris lengkung tipis yang mampu ia berikan. “Tanpa diminta, aku akan selalu menunggunya. Sampai kapan pun.”

Yun Ho mengangguk. Sedikit pun ia tidak meragukan kesetiaan Tae Hyung. Terbukti semenjak kedatangannya di Asan Medical Center, tidak sekali pun pria itu absen menunggu Hwa Young dari pagi hingga pagi lagi. Sementara Yoon Gi yang sedari tadi diam hanya mampu melihat saja. Tidak tahu harus berbicara apa, tidak tahu harus berkomentar apa. Ini bukan kapasitas Yoon Gi. Ini bukan wewenang Yoon Gi.

Namun satu yang selalu Yoon Gi gumamkan dalam setiap deru napasnya, bahwa ia ingin Hwa Young segera sembuh. Ingin Hwa Young segera membuka mata agar keluarga kecil itu kembali seperti sedia kala. Ingin Hwa Young segera tersadar dari koma agar sang Presiden Rumah Sakit beserta sang nyonya bisa tersenyum bahagia.

To Be Continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s