Sweet Dreams Chapter 2

Sweet Dreams Chapter 2

image

Ryu Ye Rin memasuki cafe yang berada di seberang kantor agensi. Berniat mendinginkan pikiran setelah kembali dari panti asuhan dan mendapat persetujuan sang bunda. Ia bergegas mengatakan pesanan, membayar bill kemudian menunggu hingga secangkir capucinno serta kue tiramisu terhidang di hadapan. Membawa nampan tersebut ke meja dekat jendela yang menampilkan lalu lalang manusia.

Netranya mengedar ke arah kantor agensi. Menilik pada seorang berjaket kulit hitam dengan surai hijau mint keluar dari sana. Menunggu lampu pejalan kaki berganti warna hijau, hendak menyeberang. Ia adalah Produser Min. Pencipta lagu paling jenius di High K Entertainment.

Ye Rin menghela napas. Setelah membuntuti langkah pria itu hingga sampai di depan cafe, ia memilih kembali memusatkan atensi pada pejalan kaki lain. Lamunannya semakin lama semakin terjelang, hingga tidak menyadari seseorang sudah duduk di depan kursinya dengan seringai angkuh.

Produser Min Yoon Gi. Yang sialnya begitu membuat Ye Rin ingin meninggalkan tempat saat itu juga.

Teringat akan beberapa minggu lalu saat pesta haloween di mana harga dirinya dihempas dalam sekejap. Pria di hadapannya menawari kamar hotel lengkap dengan gemerincing kunci di tangan. Menawarkan kenikmatan sesaat yang membuat Ye Rin benar-benar mual.

Title: Sweet Dreams
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Romance, Drama, AU
Cover by: Augustddrugs
WARNING; Inspired by The Proposition © Katie Ashley & Sweet Dreams’ song by Patsy Cline, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

© 2017 Nadhea Rain

Sweet dreams of you
Every night I go through
Why can’t I forget you and start my life anew
Instead of having sweet dreams about you

Chapter 2

~~~

Story begin..

“Sialan beruntung. Benar-benar beruntung.”

Ye Rin mengurut pangkal hidung. Menengok ke segala arah memastikan bahwa meja makan adalah area aman untuk menceritakan rahasia pada Na Young. Ia tidak mungkin kembali ke kamar sementara Fawn sedang tidur siang di ranjang. “Beruntung katamu? Dia pernah ingin meniduriku di pesta haloween. Jika kau lupa, aku pernah menceritakan hal itu padamu.”

Tawa terdengar dari seberang sambungan. Ye Rin berjuang untuk tidak kembali ke panti asuhan dan melempari sahabatnya dengan bola basket Jung Kook. “Oh tentu saja karena dia tahu siapa dewi yang menarik untuk digagahi. Sialan kau, Ryu Ye Rin. Jika aku jadi kau, aku akan dengan senang hati mengambil kesempatan itu.”

Ye Rin mendengus. Na Young dan kecerewetannya membuat ia harus menggelengkan kepala. Gadis itu bahkan berlagak seperti seorang yang sudah sering dijamah alih-alih pemalu seperti perawan kebanyakan. “Masalahnya hanya satu, Na Young-ah. Min Yoon Gi menginginkan kami untuk berhubungan secara langsung. Bukan bayi tabung seperti apa yang sudah kurencanakan.”

“Dengar, Perencana Ulung.” Na Young terdengar menghela napas. Ada jeda beberapa detik sebelum gadis itu kembali berbicara. “Rencana seseorang tidak selalu berhasil. Dan kesempatan ini tidak datang dua kali. Pikirkanlah, kau ingin menjadi Si Beruntung Ye Rin atau Si Bodoh Yang Menyia-nyiakan Kesempatan Emas Di Depan Mata?”

Ye Rin menghela napas. Ia tidak percaya dengan sisi lain yang tumbuh dalam dirinya, bahwa ia harus menyetujui usulan Yoon Gi. “Akan kupikirkan.”

“Dan cepat berikan jawabannya pada Produser Tampan itu, oke?” Na Young menyahut cepat. Terdengar berapi-api.

“Ya. Ya. Aku akan mengatakan secepatnya pada Min Yoon Gi. Apa kau puas?” Ye Rin mendelik pada ponsel. Kemudian menutup panggilan dalam sekejap. Ia kembali mengedarkan pandang, bernapas lega tidak mendapati siapa pun memasuki ruangan.

Sungguh pilihan yang benar-benar sulit. Na Young bahkan hanya memperkeruh keadaan dengan segera memintanya untuk menyetujui. Ye Rin kembali menghela napas, meletakkan kepala di atas meja makan. Ia harus fokus dan berpikir jernih.

***

Park Hwa Young mendekap tumbler dengan kedua tangan. Berusaha menenangkan degup jantung yang kian bertalu setelah ia berlari secepat mungkin menuju kamar. Ia tidak salah mendengar nama Yoon Gi disebut-sebut dalam panggilan Ye Rin berulang kali. Bahkan menajamkan pendengaran sekeras apa pun ia tetap yakin bahwa topik pembicaraan Ye Rin adalah Yoon Gi. Dan itu membuat Hwa Young mencengkeram botol berwarna merah muda itu kuat-kuat.

“Hwa Young-ah?” Hwa Young terperanjat mendapati Naomi muncul dari kamar mandi dengan memakai handuk di kepala. Gadis berdarah Jepang itu tak kalah mengernyit, aneh mendapati ekspresi terkejut Hwa Young. “Ada apa? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu.”

Hwa Young berusaha menenangkan napas. Ia meraup oksigen banyak-banyak, membuangnya dalam sekali hentakan. “Tidak, Eonni. Aku hanya ingin mengambil air minum dan… astaga, aku harus ke kamar mandi.”

Hwa Young segera berlari ke kamar mandi. Menutup pintu tergesa dan mendudukkan diri di atas kloset. Menyalakan kran air sebentar guna memberikan fakta pada Naomi di luar bahwa ia benar-benar ingin buang air. Ia kembali menghela napas. Nyeri tiba-tiba saja menyerang ulu hati saat percakapan Ye Rin tadi terulang dalam ingatan.

Ye Rin dengan mudahnya mendapat tawaran Yoon Gi untuk bersenang-senang. Dengan mudahnya mendapat atensi Yoon Gi saat pesta haloween dan hampir tidur bersama. Tentu saja hal itu mengganggu pikiran Hwa Young yang selalu menginginkan perhatian semua orang.

Terlebih perhatian seorang Min Yoon Gi.

***

Ruangan bercat putih dengan kaca tertempel menyeluruh di sisi kanan tampak begitu lengang. Hanya ada tiga orang pria yang sedang meliuk-liukkan badan. Satu di antaranya menari di depan sementara dua lainnya menirukan di belakang. Musik berhenti beberapa detik kemudian. Mereka saling pandang sebelum pria di tengah kembali memencet tombol play.

“Kita mulai lagi. Five, six, seven, eight.” Si pria yang berada di depan menyeru. Mengangkat tangan setelah intro lagu Kyle – Don’t Wanna Fall in Love terdengar dari speaker.

Dua pria yang ada di belakang bepencar ke kiri dan ke kanan. Kemudian si pria yang di tengah sedikit berlari, menjabat tangan mereka bergantian. Pria itu kembali ke tengah, melakukan gerakan naik turun cepat. Menghentak ruang latihan dance dengan gerakan indah ketiganya.

Mi Yeon tidak bisa menghentikan pandang. Menatap ketiga pria yang sedang latihan dengan senyum terukir. Ia duduk di sudut ruangan. Membawa tas kertas berisi empat kopi dingin. Menunggu hingga lagu selesai dan mendapat atensi mereka.

Setelah lagu berhenti, mereka saling pandang lalu berhigh five. Menghampiri Mi Yeon yang tengah bertepuk tangan.

“Noona selalu datang pada waktu yang tepat.” Si pria yang memakai hoodie putih tersenyum. Memperlihatkan gigi kelincinya. Mi Yeon sedikit menunduk. Rona kemerahan samar terlihat di kedua pipi gembil itu.

“Terima kasih, Mi Yeon-ah.” Kali ini pria yang paling pendek menyeru. Mengambil satu cup gelas dari tangan Mi Yeon lalu memandang si gigi kelinci. “Nah, Jung Kook. Sekarang kita harus mandi. Biarkan Mi Yeon dan Ho Seok hyung berbicara.”

Mi Yeon semakin menunduk. Menyembunyikan pipi yang semakin merona merah. Ia tidak sempat memperhatikan duo tampan itu berlalu. Meninggalkan dirinya sendirian bersama Ho Seok.

Selang beberapa keheningan, Mi Yeonenghela napas. Berusaha tidak gugup di hadapan Ho Seok. “Kenapa tidak merekam latihanmu barusan? Hope on The Street mungkin?”

Mengangsur handuk basah ke samping tubuh, Ho Seok terkekeh, “Tidak. Hari ini hanya latihan biasa. Aku sudah punya kejutan untuk Hope on The Street, tapi bukan sekarang.”

Mi Yeon mengangguk cepat. Berbeda dengan guru dance lain, Ho Seok memang lebih bersinar. Mi Yeon bahkan sering terkagum saat Ho Seok mendapat project untuk melatih artis-artis terkenal namun sikap dan sifatnya masih sama seperti ketika Mi Yeon mengenalnya saat trainee dulu.

Ho Seok merebahkan tubuh ke lantai. Membiarkan kaos hitamnya terkena debu. Ia menengadah, menikmati air conditioner mendinginkan tubuh. “Apa Ye Rin mengganggumu lagi?” tanya Ho Seok. Ia menatap Mi Yeon yang menggeleng-gelengkan kepala.

“Dia tidak mengganggu selama Goddess mendapat libur satu minggu. Hanya saja, dia sepertinya akan berulah lagi.”

***

“Ya! Siapa yang mengizinkanmu menginvasi dapurku?” Dengan setengah mengantuk, Fawn terkejut mendapati lelaki berbahu lebar sedang mengaduk-aduk sesuatu di depan kompor. Ia bersungut-sungut, menepuk keras punggung pria itu agar memedulikan eksistensinya. “Ya! Kakak! Kau tidak mendengarku?”

Si pria berbahu lebar meringis, menggapai punggung yang terasa terbakar setelah tepukan keras barusan. “Pukulanmu mengerikan, Yoon Geun-ah.”

Fawn memutar mata. Tidak peduli dengan kesakitan yang diderita pria di hadapan. “Ya! Katakan padaku siapa yang mengizinkanmu datang!” Ia mengguncang-guncang tubuh si bahu lebar, membuat pria itu mematikan kompor.

“Memangnya tidak boleh mampir ke dorm adikku dan membuatkan makan malam?” Pria itu tersenyum lebar. Menatap Fawn yang masih berkilat amarah di hadapan. “Lagipula aku juga aktor High K yang kebetulan baru saja kembali dari kantor agensi.”

Fawn mendecih. Lantas mendudukkan diri saat sang pria kembali berkutat dengan kompor. “Bilang saja kau ingin ditangkap wartawan sedang mengunjungi Ye Rin, Kak Seok Jin. Agar hubungan gaymu dengan Nam Joon tidak diketahui publik.”

Seok Jin mendengus keras. Menggeleng-gelengkan kepala mendengar pemikiran dangkal adiknya. “Dengar, Yoon Geun-ah. Dengan menggosipkan aku dan Nam Joon gay tidak akan membuatmu terlihat di mata Nam Joon. Kecuali jika kau berlenggak-lenggok mengenakan sepatu Converse High berwarna merah!”

“Ya!” Fawn bersemu merah. Memukul kembali Seok Jin yang justru terkekeh karena ucapannya barusan. Tidak butuh menebak dua kali bahwa Fawn menaruh hati pada si produser dengan julukan Rap Monster itu. “Katakan itu sekali lagi dan akan kubuat kau tidak bisa menghasilkan keturunan!”

Mendadak Seok Jin segera menaruh tangan ke selangkangan. Mengantisipasi tendangan mematikan Fawn yang sudah ia akui mampu membuatnya terkapar kesakitan. Fawn tertawa terbahak-bahak. Tidak memedulikan penghuni dorm lain akan menganggapnya gila.

***

“Berulah bagaimana?” Ho Seok segera duduk. Memperhatikan wajah Mi Yeon yang terlihat penuh beban. Namun kemudian Ho Seok berjalan mendekati pintu, mengunci kemudian menaruh kuncinya di dalam saku.

“Apa dia mencoba bunuh diri?” Ho Seok kembali bertanya karena Mi Yeon belum juga memberi jawaban.

Mi Yeon menggeleng. Mendengus lalu menengadah langit-langit. “Dia masih berusaha mencari kebahagiaan. Dan aku sendiri bahkan tidak mengerti mengapa ia masih tidak bahagia meski sudah memiliki harta dan popularitas.”

***

Seharian menunggu dengan pekerjaan menumpuk bukan hal menyenangkan bagi Yoon Gi. Ia tidak biasa menunggu untuk mendapat keinginan. Namun kali ini ia berusaha menunggu demi hal lebih indah yang akan didapat. Dan sampai malam ini juga Yoon Gi tidak percaya Ye Rin belum juga mencarinya.

Apakah tawarannya bukan hal menarik? Atau mungkin gadis itu sudah mendapatkan donor sendiri? Namun sepertinya sangat tidak mungkin mengingat Ye Rin adalah gadis yang benar-benar tertutup.

Yoon Gi mengembuskan napas. Bangkit dari kursi kebanggan berniat mengisi tenggorokan dengan secangkir amerikano. Namun baru saja ia mencapai pintu, Ryu Ye Rin, entah dari mana sudah muncul di sana. Membelakangi Yoon Gi, tengah berbicara dengan salah satu staff.

Dengan seringai muncul di bibir, kaki-kaki Yoon Gi sudah terlebih dahulu mengambil keputusan; bergerak mendekati Ye Rin yang belum jua mengetahui eksistensinya. Yoon Gi menepuk pundak gadis itu, membuat Ye Rin melebarkan pandangan tidak percaya. “Kupikir kau tersesat ketika mencari Genius Lab?” Yoon Gi masih menyeringai. Pertanyaannya tidak lebih dari basa-basi belaka.

“Sebenarnya tidak. Aku hanya sedang ada urusan di kantor.” Ye Rin menunjukkan map berwarna merah di tangan. Membalas seringaian Yoon Gi dengan hal serupa.

Yoon Gi tidak lantas menyerah. Dorongan kuat dalam tubuhnya mengalahkan kinerja otak. Membuat pria itu dengan lancang menautkan jemari, meminta pergi staff yang bingung melihat tingkah keduanya. Segera menarik Ye Rin kembali ke studio.

Setelah pintu tertutup, dorongan itu muncul semakin kuat dalam diri Yoon Gi. Membuatnya kalang kabut dan segera menekan tubuh Ye Rin ke pintu. “Sialan,” umpat Yoon Gi sebelum menautkan bibir mereka. Melumat bergantian, melibatkan gigitan-gigitan kecil di bibir bawah Ye Rin.

Dorongan kuat itu membuncah, menyebar cepat bagai narkotika. Yoon Gi merasa hidup dengan ciuman fantastis ini. Terlebih ketika tidak ada perlawanan, justru terlihat menikmati dan berusaha mengimbangi kecupan.

Ciuman panjang itu berakhir saat keduanya benar-benar kehabisan napas. Dengan bibir bengkak, mereka meraup oksigen rakus-rakus. Yoon Gi merasa menang atas dirinya sendiri. Merasa menang telah menciptakan sensasi luar biasa yang selama ini ia cari.

“Aku yakin kau bisa mempertimbangkan penawaranku dengan cepat berkat ciuman tadi.” Yoon Gi kembali menyeringai. Mata hitamnya syarat akan gelap. Napsu berkabut, terlihat sangat jelas di sana.

Dengan tatapan itu Ye Rin merasa lemas. Kaki-kakinya bertransformasi menjadi jelly. Ia terduduk. Map di tangannya terjatuh begitu saja. Lemas sekaligus malu bercampur menjadi satu.

“Sialan Ryu Ye Rin. Kau akan membuatku keras sepanjang malam.”

Dan Ye Rin juga membenarkan hal itu dalam hati. Sebuah sisi lain tumbuh dalam diri Ye Rin. Sisi liar yang sudah lama tidak muncul semenjak lima tahun lalu. Bahkan sisi ini terlihat jauh lebih liar. Dan Ye Rin tidak yakin bisa menjinakkan hal ini dalam waktu cepat.

“Apakah mulutmu memang terbiasa mengeluarkan ucapan-ucapan kotor bahkan di hadapan seorang yang kautawari proposisi?” Ye Rin menetralkan napas. Berusaha tidak benar-benar menyerang Yoon Gi dan memberikan service gratis pada kejantanan pria itu.

Yoon Gi terkekeh. Ia membantu Ye Rin duduk di sofa sebelum menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab. “Ya. Semua orang tahu mulutku memang busuk.”

Yoon Gi membungkuk, mensejajarkan wajah dengan wajah merah padam Ye Rin. “Tapi tidak ada wanita yang menolak ciuman dari mulut busuk ini.” Lalu kembali menautkan bibir keduanya begitu saja.

To Be Continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s