Ribbon Chapter 8

Ribbon Chapter 8

image

Dalam temaram lampu tidur yang tidak dimatikan, Ye Rin melayangkan pandangan gelisah. Netranya terpaku pada jam digital yang menunjukkan pukul empat tiga puluh empat menit sementara ia sendiri tidak bisa leluasa bergerak karena tangan Yoon Gi melingkar posesif di pinggang. Ia menghela napas, berusaha terlihat seperti tertidur meski Ye Rin tidak bisa memejamkan mata sejak semalam.

Yoon Gi di belakangnya ikut mengerjapkan mata. Ia tidaklah bodoh untuk dikelabuhi. Gestur dan sikap Ye Rin sudah menjelaskan bahwa kekasihnya tersebut tidak tidur sama sekali. Dan Yoon Gi berusaha untuk terjaga sesekali meski ia mengantuk setengah mati.

“Ye Rin-ah….” Yoon Gi mengecup leher terekspos Ye Rin dari belakang. Berusaha terlihat seperti orang bangun tidur kebanyakan. “Jam berapa ini?”

Ye Rin berbalik. mengecup singkat bibir Yoon Gi kemudian menenggelamkan kepala pada dada tanpa busana Yoon Gi. “Empat tiga puluh lima, Sayang. Aku minta maaf telah membangunkanmu.”

Yoon Gi membelai lembut rambut Ye Rin. “Aku mengerti. Kita pergi ke apartment Jung Kook sekarang?”

Title: Ribbon
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

“Ikatan pita mengendur lalu semua tidak sama seperti dulu lagi. Hatimu pecah, hatiku lebur. Jiwamu retak, jiwaku mengabur.”

Chapter 8
A Bestfriend’s Mad

~~~

Story begin..

Ketukan keras di pintu membuat Jung Kook kembali membuka mata. Kepalanya terasa pening mengingat baru saja ia kembali ke alam mimpi dan sudah direcoki oleh tamu tidak bertanggungjawab. Jung Kook bersumpah jika yang datang adalah seorang tidak penting, ia akan mengumpat keras-keras.

Memutar kunci yang sengaja tidak Jung Kook lepas, ia memberikan tatapan garang. Namun segera sirna ketika tamu yang berdiri di hadapan adalah Ryu Ye Rin dan Min Yoon Gi. “Mengapa kalian menemuiku sepagi ini?”

Namun bukannya menjawab, Ye Rin justru langsung masuk meski belum mendapat izin. Ia menggeledah segala isi ruangan dengan berapi-api, semakin berang ketika tidak mendapati Im Na Young. Kepala Ye Rin terasa begitu pusing. Memproduksi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi.

Jung Kook berteriak, “Jika kau datang untuk mencari Na Young, dia sudah pulang setengah jam lalu.” Kemudian duduk di sofa diikuti Yoon Gi.

Ye Rin berteriak frustrasi dari kamar Jung Kook. Kemarahan benar-benar tercetak jelas di mata. Membuat ia segera mendekati Jung Kook, melayangkan tatapan membunuh sebelum duduk bersimpuh di hadapan Yoon Gi. Menangis di sana.

“Y-Ye Rin-ah…,” seru Yoon Gi terbata. Tidak tahu mengapa Ye Rin jadi begitu sensitif. “Na Young baik-baik saja.”

“Tinggalkan aku, Yoon.” Ye Rin menengadah, mengusap air mata berusaha tetap tegar di hadapan Yoon Gi. “Aku ingin berbicara empat mata dengan Jung Kook. Bisakah kau turun memastikan Na Young baik-baik saja? Aku akan datang pukul enam.”

***

Jung Kook tidak henti terkejut dalam waktu beberapa menit. Yoon Gi benar-benar mengalah untuk turun ke apartment Na Young, meninggalkannya dengan sang singa betina yang siap mengamuk kapan saja. Jung Kook tahu Ye Rin sedang marah. Dan ia jelas tahu duduk perkara apa yang membuat gadis berperawakan tinggi ini rela menemuinya subuh-subuh.

Jung Kook tidak bernisiatif membuka percakapan. Ia takut kalimat yang akan ia ucapkan akan jadi bumerang bagi dirinya sendiri. Dalam keadaan ini lebih baik Jung Kook menjadi pendengar yang baik dan menyahut jika perlu. Ia menghela napas. Masih memperhatikan Ye Rin yang berusaha meredakan tangis.

“Kalian bersama semalaman.” Ye Rin mengajukan pernyataan. Gadis itu sudah duduk di single sofa. Menengadah langit-langit, tidak berusaha menatap Jung Kook. Linangan tangis masih jelas tercetak di sana. Bersama getar suara yang tidak mampu disembunyikan begitu saja.

Helaan napas Jung Kook terdengar keras. Ia tahu benar arti perkataan Ye Rin. “Ya. Jika kau ingin menyalahartikan kebersamaan sesuai penafsiran otakmu, itu salah besar. Kami hanya berbicara. Kau tahu banyak hal yang harus kami luruskan.”

Kali ini giliran Ye Rin yang menghela napas. Namun masih enggan menatap Jung Kook. Ingatan Ye Rin kembali berarak pada hari di mana ia bertemu Na Young untuk terakhir kali. Wajah sahabatnya begitu kacau, bahkan tangis tidak berhenti berlinang meski Ye Rin sudah membantu mengusap berkali-kali.

Ye Rin diminta menemani hingga halte bus. Tanpa banyak bicara, tanpa banyak berkata-kata. Sungguh tidak seperti biasa saat mereka selalu bercanda sepanjang jalan. Na Young mengatakan ia akan pergi namun tidak menyebutkan secara spesifik tujuan dan alasan kepergiannya. Ia memeluk Ye Rin posesif, membisikkan nama Jung Kook sebelum menaiki bus. Meninggalkan Ye Rin dengan segudang pertanyaan tak terjawab selama tujuh tahun penuh.

“Dia hanyalah gadis bodoh yang jatuh cinta padamu.” Ye Rin memandang Jung Kook. Satu titik air mata jatuh menuruni pipi. Membuat ia benar-benar terlihat rapuh saat ini. “Aku hanya takut ia kembali terluka karenamu.”

“Dia menyebut namamu sebelum menghilang tanpa jejak. Karena itu aku memarahimu esok harinya. Dia tidak pernah muncul di hadapan paman dan bibi sampai sekarang. Padahal paman dan bibi selalu menghubungiku, selalu bertanya padaku bagaimana keadaan Na Young setiap saat.”

Leleh tangis kembali membanjiri pipi-pipi Ye Rin. Ia bisa begitu emosional jika dihadapkan dengan masalah Na Young. Seolah sisi kuat yang sering ia tunjukkan di hadapan semua orang hanya segelintir topeng. Ye Rin menghela napas. “Dia selalu bercerita padaku tentang hari-harinya. Termasuk fakta bahwa ia mengunjungi gereja dua jam sehari untuk meminta maaf pada Tuhan atas kesalahan yang kalian buat. Dia adalah gadis yang baik. Bahkan ia mendoakanmu agar terbukti tidak bersalah.”

Jung Kook tercengang. Begitu banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Na Young. Begitu banyak rahasia yang tidak mampu ia tembus, termasuk tangisan semalam yang tidak mampu ia pahami. “Ceritakan padaku… semua yang kauketahui. Aku tidak akan menyakitinya. Tidak untuk kedua kali.”

Ye Rin tersenyum remeh. Ia merebahkan kepala di sandaran sofa, menyeka tangis yang masih tercipta. “Tanyakan pada pskiaternya. Dia membutuhkanmu untuk menyembuhkan Na Young.”

Dan seolah tangis tadi hanya bualan belaka, Ye Rin sudah tertawa keras. “Lihat, bahkan gadis bodoh itu tidak membutuhkanku untuk sembuh.”

***

Min Yoon Gi tidak mengerti harus bersikap seperti apa pada Na Young. Ingatan tentang hari di mana ia menjadi sebuah kelinci percobaan membuat pipinya bersemu merah. Malu meluber, merambat cepat hingga ia memutuskan untuk melepaskan cangkir kopi yang ia genggam kuat-kuat. Membuat Na Young yang duduk kaku di hadapan menatapnya heran.

Sebelum mereka membuka suara, pintu sudah lebih dahulu terbuka. Menampilkan Ye Rin dengan senyum manis. Ia segera menubruk Yoon Gi dalam rengkuhan. “Keterlaluan. Mengapa kau tidak membuatkan kopi untukku?” Ye Rin memajukan bibir. Berusaha terlihat manis, tidak ingin membuat Na Young khawatir dengan tangis yang barusan ia kumandangkan.

“Aku tidak tahu kalau kau ikut bertamu,” nyinyir Na Young. Ia melenggang kembali ke pantry, meninggalkan pasangan lengket itu duduk di sofa.

Setelah kepergian Na Young, Yoon Gi menangkup wajah Ye Rin. Mengecup singkat bibir ranum sang terkasih sebelum mengajukan pertanyaan. “Ke mana tangismu pergi?”

Alih-alih menjawab, Ye Rin justru kembali mengecup Yoon Gi dua kali. “Kita bicarakan nanti.”

***

Dunia seperti berhenti berputar menurut Jung Kook. Ia stagnan di tempat meski Ye Rin sudah pergi sejak dua jam lalu. Terlalu betah untuk menggali ingatan lama yang justru membuat luka dalam hati terkoyak lebih jauh. Sadar atau tidak Jung Kook sudah merusak hidup orang lain. Bahkan orang itu masih baik dengan mengikutsertakan namanya dalam setiap doa.

Gadis yang dulu periang telah ia buat menjadi gadis tegar namun rapuh di dalam. Jung Kook tidak habis pikir mengapa ia justru bersinar sementara Na Young harus hidup dalam penyesalan. Ia bahkan tidak sedikit pun meminta maaf pada Tuhan. Justru hanya terfokus mencari, mencari dan mencari. Hingga lupa kuasa Sang Esa-lah yang sejujurnya ia butukan.

Hati serta jantungnya terasa diremas kuat. Tidak dibiarkan lolos oleh perasaan bersalah yang kini merebak bagai virus. Pelan-pelan menggerogoti puing-puing tegar yang masih bersemayam. Jung Kook menangis. Membiarkan air mata mengalahkan segala benteng miliknya.

Ia bodoh. Terlalu bodoh untuk tidak menyadari seorang tulus berada di sampingnya sejak dulu. Ia keterlaluan. Terlalu keterlaluan untuk meninggalkan luka sedemikian dalam hingga membekas kuat meski tahun-tahun telah berlalu.

Menyakitkan. Menyedihkan. Kepala Jung Kook dilanda pusing teramat sangat. Anastasya, penghianatan, Im Na Young, ketulusan, kehancuran, karir, semua berdatangan silih berganti. Semua memenuhi kepala lagi dan lagi.

Ia terjatuh. Terantuk dosa masa lalu yang kian membayang setelah fakta baru ia temukan barusan. Ia rapuh. Tergagap kesalahan masa lalu yang kian meresap setelah puzzle-puzzle memori berdatangan satu per satu.

Jung Kook menghirup udara rakus. Memenuhi rongga dada dengan oksigen pemberian Tuhan. Ia merasa tercekik. Merasa hina bahkan sekadar menyebut nama Tuhan dalam hati.

Siapa yang sepantasnya disalahkan dalam situasi ini? Dirinya sendiri? Toleransi alkohol? Atau mungkin Anastasya?

Sibuk memikirkan Anastasya membuat Jung Kook lupa menjadi anak baik. Seolah kebaikan hanya topeng yang ia pakai di lingkungannya. Seolah kebaikan hanya satu dari sekian halusinasi mengendap dalam otak. Malam itu Jung Kook tidak sadar telah meminum terlalu banyak. Merelakan uang dalam celengan kelinci lenyap dalam sekejap.

Jung Kook juga tidak sadar saat ia meracau menyebut nama Anastasya. Seakan wanita yang disebutkan seperti ekstasi. Akan membunuh Jung Kook jika tidak segera ditemukan. Namun kenyataannya Jung Kook harus menampar diri berulang kali. Mengingat Anastasya memang pantas mati setelah diselidiki.

Seorang mantan wanita ketua gangster yang kabur membawa uang hasil membunuh. Datang ke Korea Selatan, memalsukan identitas sebagai Anastasya dan leluasa bergerak selama dua setengah tahun. Jung Kook bahkan harus membenturkan kepala berulang kali setelah Park Ji Min, orang kepercayaannya, mengatakan hal itu.

Sibuk memikirkan Anastasya membuat Jung Kook lupa akan kehidupan normal. Meringis ketika sang ibunda memukulinya keras karena tidak pulang semalaman. Meringis karena luka sayat dalam hati justru semakin parah. Natal kelam. Natal yang tidak pernah ingin Jung Kook ulang.

Jung Kook menghela napas. Kepala masih berdenyut-denyut nyeri. Tangis masih setia jatuh di pipi. Ia menengok jam yang tergantung apik di dinding berwarna merah bata. Menatap sayu jarum-jarum penunjuk pukul delapan dua puluh empat pagi.

Meraih salah satu ujung kaos, Jung Kook menghapus air mata. Menilik ponsel yang ia acuhkan sejak kedatangan Ye Rin dan Yoon Gi. Satu notifikasi pesan tertera di sana. Tanpa nama pengirim, membuat dahi Jung Kook sukses mengerut bingung.

Terima kasih telah membuat namaku kembali pulih. Dan aku juga meminta maaf karena memberikan kesaksian salah. Ibuku benar, seharusnya seorang yang memiliki kesadaran kurang dari lima puluh persen saat kejadian berlangsung tidak boleh dimintai keterangan. Kkkk. Lain kali, mari bertemu dan minum bersama. Kekasihku ingin bertemu denganmu. Naomi.

Jung Kook menorehkan sedikit lengkung. Membalas pesan kemudian menaruh kembali ponsel ke atas meja. Ia lantas bangkit, membuka jendela apartment guna mendapat cerah matahari musim gugur yang cukup hangat. Mungkin setelah ini Jung Kook harus pergi ke gereja. Meminta pengampunan Tuhan atas segala dosa.

Namun belum lama niat itu dikukuhkan dalam hati, jeritan keras terdengar dari area parkir. Jeritan itu makin lama makin kuat seiring kerumunan orang berkumpul membentuk lingkaran. Netra Jung Kook menyipit. Merasa tidak asing dengan seorang berjaket levis yang kini membekap telinga.

***

Na Young memekik sekuat tenaga. Halusinasi mengenai luka di balik punggung menghantui pikirannya berulang-ulang. Ia menyerah. Duduk bersimpuh menutup telinga dengan kedua tangan. Masih setia berteriak membentengi diri.

Sebenarnya ia hanya berniat untuk jalan-jalan. Mengisi kembali kulkas kosong dengan berbagai macam bahan kebutuhan. Na Young pikir tidak perlu menggunakan hoodie hitam kebesaran yang ia punya. Karena itu ia memilih jaket levis yang membuat kulitnya terekspos sedikit lebih banyak.

Ketakutan Na Young sirna mendapati tidak ada satu pun pria dalam lift. Ia tersenyum sepanjang waktu. Bahkan masih tersenyum ketika meninggalkan lobi. Namun senyuman itu berubah menjadi ketakutan saat seorang pria berhoodie hitam serta berperawakan tinggi menggenggam tangan Na Young. Menaruh dompet yang entah sejak kapan terjatuh seraya tersenyum lebar.

Na Young melepaskan genggaman. Tidak fokus pada perkataan pria di hadapan. Berjuang untuk tidak berteriak keras selagi tubuhnya benar-benar kaku. Keringat dingin membasahi tangan serta dahi Na Young. Membuat dompet hitam tersebut jatuh kembali dan berusaha di pungut si pria.

“Jangan sentuh milikku!” seru Na Young meninggikan suara. Ia tidak peduli di mana berada. Tidak peduli bagaimana publik menilai kewarasannya. “Pergi! Pergi! Pergi!”

Na Young semakin terisak. Tubuhnya bergetar akibat takut masih terus menjalar. Ia menghela napas. Berusaha mengingat terapi yang ia lakukan di Daegu untuk bersikap tetap rileks. Namun semua usaha yang Na Young lakukan terasa sia-sia. Ia menangis sekuat tenaga. Berteriak sekuat tenaga. Hingga sebuah rengkuhan didapat dari lengan kekar yang begitu ia puja.

“Na Young-ah… kau bisa mendengarku?” Suara penuh kekhawatiran. Sama seperti suara yang ia dengar bertahun-tahun silam. Na Young mengangguk. Tidak kuasa mengeluarkan suara.

Ketika rengkuhan panjang ia dapat, ia tidak lagi berteriak. Tubuhnya perlahan rileks meski Jung Kook tidak melakukan apa-apa selain menepuk-nepuk lengan. Kesadaran Na Young ikut pulih. Membalas rengkuhan itu sama kuat. Membalas pelukan itu sama dahsyat.

Terapisnya benar. Terapisnya tidak salah mendiagnosa. Obat yang ia perlukan adalah Jung Kook. Seorang yang ia perlukan adalah Jung Kook.

Mengapa ia harus jauh-jauh pergi saat itu? Mengapa ia harus jauh-jauh terlunta saat itu?

Mengapa takdir menjungkirbalikkan hidupnya seperti ini? Mengapa Tuhan memberikan rasa sakit serta rasa nyaman pada satu orang yang sama?

Na Young menangis. Sekali lagi menangis dalam rengkuhan panjang Jung Kook. Sekali lagi menangis tak tentu arah. Entah harus marah, sedih atau justru gembira. Na Young benar-benar tidak tahu.

To Be Continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s