Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 8

Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 8

image

Title: Mafia’s Complex
Cast: Min Yoon Gi, Jeon Jung Kook, Ryu Ye Rin
Genre: Crime, Drama, Romance AU
Rate: M (for safe)
Author: Dian Hanamizuki feat Nadhea Rain
CR Pict: DHMZ Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Chapter 8

~~~

Story begin..

Seoul, 1997

Ryu Se Joon menegak soju cepat-cepat. Membasahi kerongkongan dengan cairan memabukkan entah sudah ke berapa kalinya. Ia menghela napas. Memutar-mutar gelas sloki lalu tersenyum timpang.

Dua detik kemudian ia menangis, tersedu, senyuman yang baru saja ia angsur lenyap begitu saja. “Si Bodoh Se Joon baru saja menghancurkan perusahaan keluarga,” ujarnya masih dalam tangis. Memukul kepala ke atas meja tidak memedulikan Jeon Jin Yoo di hadapan.

“JH-Ryu sebentar lagi akan kolaps. JH-Ryu sebentar lagi hanya tinggal nama.” Se Joon terus saja meracau. Kepalanya seakan ingin pecah menghadapi masalah perusahaan yang baru saja diwariskan sang ayah. Kolaps. Satu kata itu terus terngiang bagai mimpi buruk.

“Bagaimana bisa Si Bodoh Se Joon mengelola perusahaan sebesar itu? Bahkan Si Bodoh Se Joon ini juga tidak tahu cara membedakan perusahaan bonafit dan perusahaan sekarat.”

Jeon Jin Yoo hanya menggeleng. Sesekali tersenyum mencoba menjadi seorang pendengar yang baik. Membiarkan Se Joon meracau lalu menuang sojunya kembali.

Alkohol adalah kejujuran. Yang dikatakan Ryu Se Joon, sang teman, adalah kejujuran. Ia sudah tahu selentingan kabar kurang mengenakkan ini jauh sebelum Se Joon menelepon untuk menemaninya minum soju. Berita yang menggemparkan dunia bisnis pasalnya JH-Ryu adalah salah satu perusahaan yang berpengaruh dalam perekonomian negara.

Dan Jin Yoo sudah bertekad bulat bahwa ia harus membantu sang teman yang membutuhkan uluran tangan. Tidak terkecuali pada Se Joon, teman semasa sekolahnya dulu.

***

“Kekasihku, apa kau sudah memberi makan Jiangyou?” Gadis berusia tujuh tahun memeluk Jung Kook kecil dari belakang. Membuat pria bergigi kelinci yang tidak lebih tinggi dari si gadis memajukan bibir.

“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak memanggilku kekasih, Ji Il! Kita ini saudara!” Jung Kook kecil merajuk. Melonggarkan pelukan yang diberikan Ji Il kemudian menatap wajah sendu gadis berusia sama dengannya.

“Kau berkata bahwa aku adalah kekasihmu. Huh. Dasar Gigi Besar Pembohong!” Ji Il juga ikut merajuk. Namun hal itu tentu saja tidak ditanggapi oleh Jung Kook. Pria muda itu memilih menatap ayah serta pamannya yang sedang berdiskusi di ruang tengah. Meninggalkan keduanya di depan pintu bersama anjing cokelat bernama Jiangyou, kecap.

“Ya! Jung Kook! Apa kau tidak mendengarku?” Ji Il makin merajuk. Menghalangi pandangan Jung Kook yang menelisik seolah ingin mencari tahu obrolan orang dewasa.

Jung Kook memajukan bibir. Memberi ekspresi sebal terhadap Ji Il yang menurutnya sangat mengganggu. “Apa? Jiangyou sudah kenyang,” ucapnya. Lantas menyisir bulu cokelat Jiangyou dengan tangan.

Ji Il makin geram. Ia menghentak-hentak sepatu membuat Jiangyou yang memerhatikan interaksi keduanya memperlihatkan tatapan bingung. “Dasar Gigi Besar Pembohong!”

***

Seoul, 1998

Cumulus sedang menjatuhkan bebannya pada tanah Seoul malam hari ini. Tak terlalu deras untuk ukuran hujan di tengah musim semi, namun hawa dinginnya tetap mencengkeram tulang. Sebuah skyline putih melintasi jalanan yang hanya bertemankan guyuran hujan beserta lampu jalan yang berpendar remang. Rasanya jalan menjadi tak berujung jika sepi seperti ini. Tak ada orang yang berlarian di sisi jalan bersama payungnya, rumah serta ruko ditutup rapat-
rapat.

Jin Yoo menyenandungkan nyanyian anak tiga beruang agar sepi tidak terlalu mencekam, lalu membelokkan arah pandangnya untuk melihat sang putera yang tengah tersenyum lebar di sisi kursi kemudi dan dengan antusias mengikuti nyanyiannya.

“Aigoo… putraku pandai sekali bernyanyi. Suaramu juga bagus, Kookie-ya,” pujinya.

“Aku memang bercita-cita menjadi penyanyi. Ayah harus melihatku sukses nanti.” Jung Kook kecil menyahut dengan semangat. Imajinasinya seketika melayang tinggi di mana ia berdiri di tengah panggung besar bersama orang-orang yang meneriaki namanya penuh dengan kekaguman.

Sang ayah mengekeh geli, tangan besarnya kemudian terjulur untuk mengusap puncak kepala Jung Kook dengan atensi yang tak dapat ia lepaskan dari jalanan. “Ayah akan mendoakanmu, Sayang.”

Jung Kook menoleh ke kursi belakang, menatap bimbang sebuah kotak putih berukuran besar yang teronggok di sana, atensinya lalu segera berpindah pada wajah ayahnya. “Ayah, apa Ibu nanti menyukai kue yang kita belikan? Kurasa selera kita buruk sekali.”

“Tidak, Kookie. Ibu pasti menyukainya. Tidak ada orang yang tidak menyukai kejutan,” jawab Jin Yoo menenangkan.

“Benarkah?”

Jin Yoo mengangguk meyakinkan, membuat Jung Kook menghela lega lantaran satu dari sekian kekhawatirannya sedikit menyurut. Dia melanjutkan senandungan tiga beruangnya dengan menatap jauh jalanan yang masih ditimpa hujan. Tidak lama kemudian, Jin Yoo mengikuti nyanyian Jung Kook yang riang.

Tiba-tiba Jin Yoo merasakan ada sebuah sinar lampu amat terang tepat di sebelahnya. Dia melirik sesaat, dan menemukan sebuah mobil berbadan berat sedang berusaha menyeimbangi laju kecepatannya. Pada awalnya Jin Yoo tak memedulikan, namun ia akhirnya menyadari mobil di sampingnya perlahan mengikis jarak, ia dapat mendengar suara nyaring gesekan antar logam. Jin Yoo menjadi gusar, ia lantas menatap Jung Kook yang sedang memerhatikan raut paniknya dengan bingung.

Jin Yoo melirik lagi mobil di sebelahnya, kaca mobil itu terbuka. Lantaran saat ini diguyur hujan, sehingga penampakan apapun di luar sana tidak terlihat dengan jelas. Namun Jin Yoo dapat menangkap samar-samar seseorang di dalam mobil besar itu sedang menatap ke arahnya.

DOR!

Semua terjadi hanya dalam sepersekian detik. Teramat cepat, hingga satu kali Jung Kook mengedipkan mata, dia telah menemukan ayahnya tak sadarkan diri diiringi dengan pelipis kirinya yang berlubang dan mengeluarkan cairan merah begitu banyak. Skyline itu tergelincir tak terkendali, membuat Jung Kook histeris dicekam rasa takut yang luar biasa. Hingga akhirnya berhenti setelah menubruk sebuah pohon. Bagian depan skyline memproduksi asap begitu banyak dan Jung Kook tak sadarkan diri saat dahi kecilnya membentur stir.

Sebuah genesis hitam menghampiri mobil tak berdaya Jin Yoo tak lama kemudian, seorang pria di dalamnya beranjak keluar lalu membuka pintu skyline itu. Ia mengamati kondisi mengenaskan orang di dalam mobil tersebut, kemudian pandangannya terjeda pada Jung Kook. Pria itu menggigit bibir, perasaannya teraduk, dan sebuah gumaman ia loloskan dari mulutnya. “Jangan khawatir, aku jaminkan kehidupan yang layak untuk Jung Kook sebagai tebusan dosaku yang telah mencerai nyawa dari ragamu. Tenanglah di sana.”

Kemudian pria itu mengangkat keluar tubuh kecil Jung Kook dari dalam mobil, menggendongnya untuk menjauhi mobil Jin Yoo lalu dimasukkan ke dalam genesisnya.

***

Seoul, 2015

Rumah bergaya tradisional bercat hijau dan merah itu tampak lengang. Sesaat seperti rumah penduduk kebanyakan yang masih kental dengan adat istiadat. Lalu seorang berseragam biru muda dengan lambang KoIN masuk tergesa-gesa. Pintu geser itu membuka otomatis, kemudian menutup setelah si pria berseragam tadi menggumam sesuatu pada ponsel pintarnya.

Pria itu segera berjalan masuk, melewatkan pernak-pernik khas kerajaan yang tersusun rapi di ruang tamu. Membuka satu lagi pintu geser, kemudian berjalan cepat ke arah walk in closet. Menekan tangan di sebuah lukisan wanita berhanbok selama lima detik, menunggu identifikasi selesai. Pintu terbuka, menampilkan ruangan penuh sesak. Komputer, printer, alat penyadap, LCD proyektor, kertas-kertas, serta sebelas orang yang tengah berkutat pada pekerjaannya masing-masing.

Pria itu lantas melangkah mendekati ruang kerja pribadinya yang terletak paling ujung. Dengan sigap menepuk tangan satu kali untuk mendapat perhatian. Semua orang menoleh serempak, menghentikan pekerjaan yang baru mereka kerjakan.

“Tuan Han Seong Min memberikan tugas baru.” Ia menunjukkan kertas perintah dengan kop Korea Inteligence Network. “Beliau akan berbicara sebentar lagi.”

Delapan belas detik kemudian, wajah Han Seong Min sudah menghiasi layar LCD. Pria itu tengah berada di meja kerja dengan perangkat serba hitam di belakangnya. “Nam Joon sudah mendapat perintah langsung dariku untuk meringkus petinggi JH-Ryu dan YG Corp. Ia kuperintahkan bergerak terlebih dahulu agar tidak ada kecurigaan. NIS sedang sibuk dengan urusan luar negeri jadi kita dipilih untuk mengambil alih tugas. Dan kalian harus mengontrol pergerakan musuh dan menyerang jika menemukan titik lemah.”

“Shin Seul Bi akan mengirimkan data nama dan nomor telepon karyawan yang sudah dimanipulasi. Kalian bisa menghubungi mereka untuk membicarakan strategi pergerakan. Aku percayakan Nam Joon untuk membuat strategi jadi kuharap sebelum masa pensiunku sebagai Kepala Direktorat Pajak datang, mereka sudah meringkuk di penjara.” Setelah mengucapkan kalimat panjang itu, layar LCD kembali memperlihatkan peta digital wilayah Seoul. Sekali lagi Han Seong Min menyudahi perintah tanpa mengucapkan salam perpisahan. Membuat dua belas orang yang memperhatikan layar mengangguk paham.

“Sebenarnya apa yang sedang kita selidiki, Ketua?” Rekan pria bernametag Cha Eun Woo bertanya pada Nam Joon. Kesepuluh orang yang juga melayangkan tanya dalam diam ikut mengangguk.

Nam Joon mengutak-atik Macbook di meja kerjanya. Memperlihatkan data dua perusahaan tersebut ke layar LCD. “Selain karena masalah pribadi, dua perusahaan ini juga memiliki mafia yang meresahkan. Mereka memperjualbelikan obat-obat terlarang hingga berlian bernilai puluhan milyar yang menimbulkan kerugian negara.”

Semua rekan mengangguk paham. Lantas kembali bekerja setelah Nam Joon mentransfer data pada setiap komputer yang ada.

Nam Joon tahu dalam tim inti yang ia pimpin semua rekan mampu bertugas dengan baik sejak enam tahun lalu. Sejak pertama kali organisasi intel ini didirikan. Sejak pertama kali mereka direkrut dan dilatih langsung oleh NIS.

“Dua tahun. Aku menargetkan dua tahun untuk menyelesaikan tugas ini. Karena kita bergerak secara gerilya, semua butuh proses agar benar-benar berhasil.”

***

Nam Joon kembali dari ruang inti strategi. Berjalan menaiki undakan tangga demi sampai ke lantai dua. Menuju satu ruangan khusus yang sekali lagi ia buka dengan membisikkan kata ‘open’ pada ponsel. Tiga rekannya yang lain sudah menunggu di sana. Lengkap dengan raut masam satu-satunya gadis di antara mereka.

“Kau membuatku mati bosan, Nam Joon!” Shin Seul Bi menyalak. Memukul bahu Nam Joon yang ikut duduk di sampingnya.

Namun alih-alih mengatakan maaf, Nam Joon justru memberikan senyuman manis. Membuat dua lesung pipi terlihat jelas. “Tim inti strategi mendapat telepon dari pusat. Jadi aku harus menjadi penceramah dadakan.”

Shin Seul Bi mendecih. Sementara Park Ji Min dan Kim Seok Jin justru terkekeh. Dua rekan yang sama-sama bergerak di bagian strategi ini memang kerap kali berdebat tentang hal-hal kecil. Dan mau tidak mau Ji Min dan Seok Jin paham tabiat keduanya.

“Jadi…,” Ji Min menggantungkan kalimat. “Apakah kami harus mulai melatih pasukan sekarang?”

Nam Joon menggeleng. “Latihan seperti biasa saja. Kita tidak akan bergerak terburu-buru dalam kasus ini. Aku sudah mentargetkan dua tahun setelah Tuan Han menghubungiku satu minggu lalu.”

“Dan apa strategimu untuk YG? Apa Jill setuju mantan kekasihnya diselidiki?” Seok Jin ikut menyahut. Begitu tahu mereka akan menyerang JH-Ryu dan YG Corporation, hal yang Seok Jin pikirkan hanya tentang Jill. Gadis itu mungkin saja seperti wanita kebanyakan yang masih terjebak gagal move on.

“Nona Muda setuju.” Nam Joon menatap Seul Bi. Menggerakkan kepala seolah menunjuk gadis berseragam terlalu ketat itu. “Dan soal YG, biarkan tubuh Seul Bi yang berbicara.”

Mata Seul Bi membulat terkejut. “Sialan! Kau ingin menyuruhku meniduri Yoon Gi?”

“Dalam konteks ini, kau seharusnya mengatakan bahwa kau yang akan ditiduri oleh Yoon Gi.” Nam Joon kembali tersenyum. Seolah kata meniduri barusan bukanlah hal tabu untuk dibawa ke meja rapat.

“Kudengar dia adalah seorang Dewa Seks,” Ji Min menimpali. “Bukankah kau sudah lama tidak mendapatkan tugas seperti ini?”

Seul Bi memerah. Malu. Sudah bukan rahasia umum jika ia adalah umpan terbaik untuk mendekati para musuh. Dengan kehebatan ranjang serta tubuh sintal menggoda, Seul Bi bisa menaklukkan musuh hanya dengan membuka lebar paha.

“Buat dia selalu bergantung padamu, Seul Bi-ya. Buat dia mabuk dengan pesonamu jadi kita bisa mengontrol semuanya dengan mudah tanpa harus meninggalkan alat penyadap.”

***

Seoul, 2017

Ryu Ye Rin tersenyum manis dari balik meja kerja. Satu bulan krisis yang JH-Ryu alami sudah menunjukkan titik terang. Bahkan meski perusahaannya tidak lagi berada pada jajaran sepuluh besar, ia tetap bangga menduduki peringkat sebelas dalam tiga minggu terakhir. Semua berkat Yoon Gi yang mengucurkan dana bagi JH-Ryu. Dan Ye Rin tidak menyangka bahwa pria yang sudah merenggut harta paling berharga miliknya itu menepati janji.

Sementara Jung Kook sekarang sudah tidak bisa berkutik. Ia tidak bisa memiliki kursi kebanggaan Ryu untuk dirinya sendiri. Jung Kook tidak lagi mampu memanipulasi Ye Rin. Jung Kook tidak lagi mampu leluasa berada dalam ruangannya lebih dari tiga puluh menit. Dan Ye Rin benar-benar senang dengan hal ini.

Sang ayah kembali meluncurkan pujian pada Ye Rin. Pujian atas usaha keras yang tidak ia dapat secara cuma-cuma. Semua berjalan lancar seperti biasa. Tidak terkecuali hubungannya bersama Min Yoon Gi yang terasa jauh lebih menggairahkan.

Selang beberapa detik telepon di meja kerja Ye Rin berbunyi, membuat senyum Ye Rin surut meninggalkan bibir bergincu merah itu. Ia menekan tombol loadspeaker. Menunggu sang penelepon membuka suara.

“Nona, Min Yoon Gi dari YG Corporation ingin menemui Anda.”

Senyum Ye Rin kembali terbit. Ia tidak tahu bahwa mendengar nama Min Yoon Gi diucapkan saja sudah membawa efek berbeda. “Suruh dia masuk, Jill.”

***

Sore hari di musim panas terasa sejuk karena rintik-rintik hujan mulai membasahi tanah Seoul. Membiarkan cahaya matahari sejenak sirna, terganti selimut petrichor menguar di segala sisi. Rintik-rintik kecil berubah jadi titik lebih besar. Menghujam lebih dahsyat, membuat para pejalan kaki pergi berteduh seraya berdecak sebal.

Nam Joon menghentikan mobil di sisi kiri jalan gedung JH-Ryu Corporation. Menjinjing senyum timpang sejenak sebelum Jill datang membuka pintu dengan keadaan basah kuyup. Gadis bersurai cokelat itu berdesis, menyalakan penghangat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Min Yoon Gi mengunjungi Ye Rin sejak dua jam lalu. Kupikir mereka sedang bercinta di atas meja kerja Ye Rin.” Jill menatap Nam Joon dengan ekspresi jijik. “Apa benar Yoon Gi sehebat itu di ranjang?”

Nam Joon tertawa lepas. Melajukan mobil sebelum menjawab pertanyaan retoris gadis di sampingnya. “Seul Bi adalah bukti nyatanya. Ia hampir kehilangan kendali jika sudah bermain bersama Yoon Gi.”

Sekali lagi Jill bergidik. Membayangkan ciuman ganas yang diangsur Yoon Gi saat ia masih menjadi kekasih pria gila seks itu. Ditambah remasan kuat di kemeja belakang seolah menuntut lebih. Namun bukan merasa bergairah, Jill justru merasa harga dirinya diinjak-injak. Jill merasa jijik dengan sentuhan Yoon Gi jadi ia melepaskan pagutan begitu saja. Lalu melayangkan sebuah tamparan di pipi kanan pria itu.

“Kau tidak boleh membayangkan tengah menunggangi Yoon Gi seperti cowboy, Nona.” Nam Joon berusaha menggoda Jill yang sudah merah padam. Ia paham dengan prinsip sang nona muda yang hanya menginginkan sentuhan dengan suaminya kelak. Sebuah ideologi kuno yang dijunjung tinggi oleh keluarga Han.

“Sialan kau, Nam Joon.” Jill mencoba tidak muntah saat Nam Joon berkata demikian. Ia justru sedang membayangkan seringai menyebalkan Yoon Gi setelah tamparannya memberi bekas merah di pipi. “Omong-omong, bukankah sudah hampir dua tahun berlalu?”

Nam Joon terkekeh. Ia mengangguk, membelokkan steer mengikuti arahan GPS mobil. “Tinggal hidangan penutup, Nona. Bukankah Nona sudah yakin Yoon Gi akan mengingkari persyaratan yang kita ajukan bulan lalu?”

“Ya.” Jill ikut mengangguk. “Dia pasti mengikuti arus karena telah merebut keperawanan seseorang. Yoon Gi bukanlah tipe orang yang jahat. Maksudku, menurut Seul Bi, ia tidak pernah meniduri perawan sebelumnya. Jadi kurasa membawa Ye Rin ke hotel dan menggagahinya adalah sebuah kesalahan besar. Ia tidak akan bisa tidur membayangkan betapa nikmat persenggamaan mereka atau tidak bisa tidur karena rasa bersalah.”

Kini Nam Joon paham mengapa dengan mudah Jill menawarkan kerja sama pada sang mantan kekasih. Sebelumnya ia tidak pernah menduga fakta yang baru saja Jill ungkap. Ia pikir Yoon Gi benar-benar seorang brengsek gila yang berani bertaruh apa saja demi memuaskan testosteronnya. Namun ternyata ada satu hal yang menjadi kelemahan pria angkuh itu dan mereka berhasil memanfaatkan keadaan.

“Katakan pada Seok Jin dan Ji Min untuk mempersiapkan pasukan. Malam ini kita akan meluncurkan bom.” Jill berkata tegas. Membuat Nam Joon sigap mengangguk seraya berdoa dalam hati. Ultimatum pertama akan segera meluncur. Bersiaplah untuk menerima kekalahan telak, Tikus Pengerat.

***

Pada kehidupan kelam Yoon Gi, ia tidak pernah menatap wanita yang baru saja ia taklukkan di atas ranjang dengan begitu intens. Wanita yang kini tertidur dengan selimut mencapai batas dada. Memperlihatkan bahu penuh bercak merah bekas tanda kepemilikan Yoon Gi. Ia menjalankan tangan di atas bibir wanita itu, membayangkan jika wanita itu bangun dan menghisap jari kurus Yoon Gi seolah tengah memainkan kejantanannya.

Bahkan Yoon Gi tidak membayangkan akan melakukan seks di dalam rumahnya sendiri. Di dinding-dinding kamar, di karpet, di tangga, dan terakhir di kamar mandi. Semua yang telah mereka lakukan malam ini akan membekas kuat di sana. Dan akan membunuh Yoon Gi kapan saja ketika ingatannya terbang esok hari atau seterusnya.

Namun hal itu terasa benar di kepala Yoon Gi. Ia tidak melakukan kesalahan karena wanita itu juga terpikat dengan Yoon Gi. Bahkan dengan suka hati melemparkan diri untuk dijadikan makanan bagi singa lapar seperti Yoon Gi.

Ia mengusap surai hitam wanita itu sayang. Berbaring memeluk posesif wanita di sampingnya. “Mimpi indah, Sleeping Ye Rin.”

***

Untuk ke sekian kalinya, Ji Min, Seok Jin, Seul Bi, Nam Joon dan Jill berkumpul dalam satu ruangan. Membentuk lingkaran menatap layar LCD yang menampilkan akun jejaring sosial pengunggah video. Mereka serempak tersenyum saat proses pengunggahan selesai.

“Besok kita akan melihat seberapa besar pengaruh semua video ini terhadap kekuasaan Yoon Gi,” ujar Ji Min tenang. Seringaiannya bertambah lebar setelah beberapa menit viewers video tersebut melonjak cepat. Berterima kasih pada akun dengan subscriber satu juta lebih yang berhasil mereka hack.

To Be Continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s