Sweet Dreams Chapter 1

Sweet Dreams Chapter 1

image

Title: Sweet Dreams
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Romance, Drama, AU
Cover by: Augustddrugs
WARNING; Inspired by The Proposition © Katie Ashley & Sweet Dreams’ song by Patsy Cline, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

© 2017 Nadhea Rain

Sweet dreams of you
Every night I go through
Why can’t I forget you and start my life anew
Instead of having sweet dreams about you

Chapter 1

~~~

Story begin..

Saat musik dimainkan, lima gadis berpakaian sama menatap dengan ekspresi mengundang napsu. Kelimanya mengangkat kaki kanan, memperlihatkan paha putih tanpa cela, berbalik sembari mengerling nakal, kemudian berangsur duduk di tepi lima kursi panjang yang telah disediakan. Mereka mengayunkan dua kaki ke depan bergantian, berdiri, memutar menunjukkan pantat berisi.

Gadis yang duduk di tengah mulai bernyanyi, menggerakkan tubuh sesuai koreografi yang dipelajari. Disusul gadis nomor dua dari kiri melanjutkan tembang. Kemudian kelimanya berdiri saat gadis yang berada di ujung kanan melagukan bagian reff.

Fanchant keras terdengar dari kalangan fans. Meneriakkan satu per satu nama mereka, membawa lightstick berwarna turqoise. Dari awal hingga lagu selesai, seolah tidak pernah lelah mendukung lima dewi yang sedang beraksi di panggung besar.

Tepuk tangan serta sorak gembira membumbung di udara kala kelimanya berhasil menuntaskan lagu. Mereka membungkuk hormat sebelum beranjak keluar dari panggung. Berterima kasih pada semua staff yang mereka jumpai saat kembali ke backstage.

Sebuah penutupan comeback luar biasa disuguhkan oleh lima gadis yang bernaung di bawah nama Goddess. Ryu Ye Rin, Fawnlody Min, Kim Mi Yeon, Naomi Ninomuya, dan Park Hwa Young. Sesuai ekspektasi para pecinta musik yang mengagumi karya-karya mereka.

***

Ryu Ye Rin mengangsur senyum tipis. Senyum kecil yang tidak menjamah pipi. Menatap satu per satu rekan grup yang kini membelalakkan mata tidak percaya.

“Katakan padaku semua ini hanya lelucon!” Fawn paling berapi-api. Ia hampir saja menggebrak meja makan jika tidak ingat banyaknya makanan yang tersusun di sana. Fawn mendapati Ye Rin menggeleng mantap. Meruntuhkan segala keyakinan yang tertanam dalam benaknya sejak enam menit lalu.

“Aku bosan mencari kebahagiaan dengan melibatkan campur tangan orang lain. Kuharap kalian mengerti,” ujar Ye Rin tidak gentar menatap empat ekspresi sama yang ditunjukkan mereka. Ekspresi terkejut.

Naomi yang berada di sisi kanan Ye Rin menghela napas. Ia tidak bisa berkomentar meski mereka cukup dekat satu sama lain. Tidak ada yang bisa memahami si pemimpin Goddess. Tidak pula dengan Naomi. Ye Rin adalah seorang yang amat sangat tertutup. Hanya karena saling berinteraksi belum tentu bisa menyimpulkan isi pikiran gadis keras kepala itu.

Kemudian Hwa Young, yang paling muda di antara mereka, berlalu begitu saja. “Aku hanya berpikir kau terlalu egois, Eonni. Goddess bukan hanya tentang kau saja. Ini tentang kita berlima dan kau dengan seenaknya mengambil keputusan tanpa berusaha meminta persetujuan kami.”

Empat pasang mata membelalak. Tepatnya tidak percaya bahwa seorang yang baru saja berbicara panjang lebar adalah Hwa Young, gadis yang bahkan baru mendapat usia legal beberapa bulan lalu. Namun Ye Rin tidak lantas gentar begitu saja. Ia menghela napas, berdiri menjulang dengan raut wajah datar.

“Aku tahu aku egois. Tapi pernahkah kalian mencoba berada dalam posisiku? Kalian memiliki keluarga yang utuh. Keluarga yang bisa menyaksikan kalian dengan tatapan bangga. Sementara aku? Yang kupunya hanya diriku sendiri! Tidakkah kalian menyadari hal itu?”

Pecah. Tangis Ye Rin pecah manakala memori berlarian masuk di dalam kepala. Kematian sang ibu di hari ulang tahunnya yang ke empat belas. Hari yang sama di mana ia mendapat trofi juara umum sekolah. Kemudian berita kaburnya sang ayah karena terlilit hutang besar hingga ia harus hidup di panti asuhan.

Ye Rin mengusap air mata dengan punggung tangan. Ia berbalik, menatap Fawn, Naomi serta Mi Yeon dengan ekspresi yang kembali datar. Seolah tangis barusan bukanlah hal penting. Seolah tangis barusan hanya segelintir akting yang biasa ia lakukan di depan kamera.

“Apa pun yang kalian pikirkan, aku akan tetap melakukannya. Aku akan memiliki anak tanpa komitmen. Aku akan bahagia dengan caraku sendiri.”

***

Lima jam setelah kejadian di meja makan, dorm benar-benar sunyi. Biasanya Hwa Young masih menyalakan televisi keras-keras atau melakukan siaran langsung ditemani musik ballad dari speaker bluetoothnya. Biasanya pula Mi Yeon akan mengaduk-aduk isi kulkas demi mencari camilan yang sengaja ia sembunyikan di balik rak sayur dan buah. Atau Fawn dan Naomi yang mendadak histeris karena membaca fanfiction dengan mereka yang menjadi tokoh utama. Namun malam ini semua terasa berbeda. Begitu dingin hanya karena beberapa kalimat yang Ye Rin ucapkan.

Sementara Ye Rin masih betah duduk di ranjang menghadap langsung cermin, menatap wajah sendu yang terefleksi di sana. Ia menghela napas. Melirik pintu yang sengaja tidak dikunci agar mampu mendengar pembicaraan dari luar.

Ye Rin akui ia memang egois dengan mempertahankan argumen alih-alih luluh terhadap teman seperjuangan. Namun baginya, kebahagiaan dan kenyamananlah hal paling utama di atas segalanya. Yang bahkan ia sendiri lupa bagaimana dan seperti apa definisi bahagia itu sendiri.

Segelintir luka masa lalu masih menjebak jiwa Ye Rin untuk bertahan dan stagnan di tempat sama. Kala sang ibu meninggal dunia karena serangan jantung setelah mendengar kabar perselingkuhan sang ayah. Masa remaja yang seharusnya berlalu bahagia harus ia kubur jauh-jauh. Karena sang ayah juga ikut meninggalkannya seminggu setelah masa berkabung usai. Meninggalkan Ye Rin yang belum tahu-menahu akan kerasnya dunia.

Langkah kaki terdengar samar dalam kegelapan ruang tengah. Membuat Ye Rin mengernyit dan terus menatap ke cermin, pada pantulan celah pintu yang sedikit terbuka. Kemudian suara lembut mengisi indera pendengaran Ye Rin. Membuat jantungnya bagai diremas mendengar panggilan akrab yang diucapkan Mi Yeon di luar sana.

“Ya, Ibu. Aku belum tidur. Mengapa Ibu menguhubungiku selarut ini?”

Ye Rin tahu ia adalah seorang yang menyedihkan. Bahkan tidak butuh waktu lama baginya memproduksi air mata mendengar satu kata itu terucap berulang-ulang. Ibu. Kapan terakhir kali ia bisa mengucap kata itu tanpa campur tangan tangis?

Sejak kecil yang selalu terlihat di mata Ye Rin hanyalah sang ayah. Ayah yang hebat, ayah yang begitu memanjakannya, dan ayah yang selalu ia nantikan setiap pulang sekolah. Melupakan sang ibu yang selalu mendampingi dari pagi ketika membuka mata hingga malam saat tertidur di tengah cerita. Melupakan sang ibu yang begitu banyak memberikan cinta bahkan jauh lebih banyak dibanding seorang yang ia puja.

Dan ketika kabar buruk berembus bagai angin di telinga Ye Rin yang kala itu baru saja selesai menonton televisi, dunianya seakan runtuh begitu saja. Ia sudah memasuki usia remaja. Sudah mengerti akan definisi selingkuh yang memicu pertengkaran hebat kedua orangtua. Lalu esok hari berjalan tidak sesuai dengan prediksi. Hilang. Semua kebahagiaan hilang. Lenyap tak berbekas mendapati tubuh kaku ibunya di atas ranjang.

Ye Rin menghapus air mata dengan punggung tangan. Menghela napas panjang sebelum mematikan lampu di atas nakas. Ia tidak boleh bersedih. Tidak boleh terlihat rapuh oleh siapa pun.

Karena ia adalah Ryu Ye Rin, si hebat yang menaklukkan panggung di bawah kaki-kakinya.

***

Malam berlalu lebih cepat menurut Yoon Gi. Ia bergerak tidak nyaman di atas kursi kulit warna hitam yang menjadi tempat tidurnya. Melepas bantal leher kemudian meletakkan asal di dekat keyboard warna hitam. Ia mengusap-usap mata. Menguap lebar sebelum beranjak dari Genius Lab, sang studio tercinta.

Yoon Gi berjalan cepat ke kamar mandi. Membereskan urusan kandung kemih yang terasa penuh pagi ini. Sapaan hangat ia dapat dari seorang cleaning service yang kebetulan melewati Yoon Gi di koridor, membuat pria kulit putih pucat itu sedikit menundukkan kepala.

Selesai berkemih, Yoon Gi membasuh tangan di wastafel. Sengaja mengangkat kepala demi melihat pantulan diri pada cermin di hadapan. Kantung matanya terlihat menghitam. Ia meringis sebentar kemudian mencuci wajah asal. Mengambil tisu, menyeka wajah.

Tidur di atas pukul tiga pagi saat projek tengah menghantui merupakan hal lumrah. Ia bahkan tidak ingat untuk pulang ke rumah dan membiarkan dirinya sendiri tidak terawat selama pengerjaan lagu selesai. Salahkan deadline sialan yang Kim Nam Joon berikan untuknya. Membuat ia terlalu perfeksionis untuk segera menyelesaikan daripada menganggur mencari wanita.

Ah… wanita, ya. Sudah berapa lama Yoon Gi tidak mencari ikan segar untuk kebutuhan testosteronnya? Empat hari? Tujuh hari? Ia tidak bisa mengingat dengan baik setelah menderita kurang tidur akhir-akhir ini.

Yoon Gi kembali membuka pintu Genius Lab, tidak terlalu terkejut mendapat kunjungan seorang gadis yang hanya memakai celana pendek setengah paha serta tank top merah di balik blazer hijau itu. Ia justru menghela napas, menutup pintu sedikit lebih keras agar si gadis memperhatikan tingkah polahnya. “Kau tidak harus mengunjungiku sepagi ini, Fawn,” ujar Yoon Gi duduk di atas sofa putih tak jauh dari si gadis.

Gadis yang duduk di tempat tidur Yoon Gi tadi memutar kursi, tersenyum kecil pada sang kakak lalu menggeser kursi ke dekat Yoon Gi. “Aku tahu. Tapi beban di kepalaku sudah benar-benar penuh. Kau adalah orang yang tepat untuk hal ini.”

Yoon Gi mengerutkan dahi. “Apa teman satu grupmu tidak bisa membantu?”

“Tidak.” Fawn menaruh kaki kanan di atas kaki kirinya. “Justru teman satu grupkulah yang bermasalah. Kau tahu Leader? Ryu Ye Rin?”

Yoon Gi mengangguk. Membiarkan sang adik melanjutkan cerita. Sejujurnya terlalu sering bekerja di balik layar membuat Yoon Gi tidak begitu mengingat bagaimana wajah Ye Rin. Namun ia tahu adiknya tidak akan berhenti meski ia mengatakan tidak mengenal seorang yang dibicarakan.

“Dia tidak waras. Maksudku, semua orang tahu memiliki harta dan kepopuleran adalah wujud sebuah kebahagiaan. Tapi menurutnya, dia sekarang sama sekali tidak bahagia.” Fawn mengambil napas. Ia benar-benar tertekan semalaman. Sampai tidak bisa tidur dan memiliki kantung mata tidak jauh mengerikan dari Yoon Gi. “Dia bilang, dia ingin memiliki kebahagiaan sendiri tanpa harus melibatkan orang lain. Dan kau tahu hal gila apa yang ia katakan selanjutnya? Dia bilang dia ingin memiliki anak dengan membeli satu botol sperma di bank sperma! Demi Tuhan, orang seperti apa dia sebenarnya!”

Fawn tahu ibu dan ayahnya tidak pernah mengajarkan untuk membeberkan rahasia orang lain ke muka umum. Namun hal sangat mendesak tengah melingkupi kepala selama semalam. Jadi ia memutuskan untuk bercerita daripada berakhir sakit atau bahkan gila karena masalah serumit ini. Ia mengkhawatirkan persepsi masyarakat. Mengkhawatirkan pandangan masyarakat terhadap Goddess, grup yang membesarkan namanya.

Yoon Gi mengurut pangkal hidung. Diberi beban tambahan di pagi hari saat ia belum minum kopi membuat kepalanya pusing. “Lalu? Kalian sudah mencegahnya?”

Fawn menghela napas. “Sudah dan hasilnya nihil. Hwa Young yang biasanya pendiam dan tidak ikut campur dalam masalah Leader pun ikut berbicara. Tapi Leader benar-benar keras seperti batu. Ia mempertahankan argumen sampai kami merasa tidak bisa berkutik.” Ia menjatuhkan tubuh pada bantalan kursi. Menerawang langit-langit studio musik Yoon Gi.

“Kau tahu, Kak. Dia sangat tertutup pada siapa pun. Bahkan pada kami, dia tidak pernah begitu menunjukkan diri. Tidak ada yang tahu masa lalunya selain dirinya sendiri. Yang kami tahu adalah fakta bahwa ibunya sudah meninggal dan ayahnya pergi entah ke mana.”

“Jadi dia yatim piatu?” Yoon Gi membenarkan posisi duduk. Menatap Fawn serius, merasa tertarik dengan perbincangan mencengangkan ini.

Fawn mengangguk. “Bisa dikatakan seperti itu. Satu-satunya orang yang pernah mengunjungi Leader adalah ibu panti, itu juga ketika kami menggelar konser pertama di Gocheok Sky Dome. Aku bisa merasakan tatapan cemburu Leader saat kami dikunjungi orangtua. Dan dia merasa sendiri, aku tahu itu. Dia tersenyum saat ayah ibu kami menyapa namun tidak dari hati.”

***

Ryu Ye Rin melepas kacamata hitam, menaruh ke dalam tas tangan. High heelsnya menapaki jalan setapak panti asuhan. Menerbangkan kilas balik yang berputar bagai kaset film panjang. Hari-hari yang ia lewati di sini membawa kebahagiaan semu yang hanya bisa mengendap dalam hati.

Ia mengucapkan salam, tersenyum manis ketika anak-anak kisaran umur tiga sampai sebelas tahun memeluk bergantian. Mengucapkan selamat datang pada sang dewi yang selalu memancarkan aura positif. Kemudian ibu panti datang memeluk Ye Rin. Memeluk sang putri yang amat disayangi seluruh masyarakat.

“Bagaimana kabarmu, Nak?” Ibu panti menuntun Ye Rin ke dalam. Membuat nostalgia yang berkumandang di kepala semakin jelas terlihat. Di tempat ini Ye Rin pertama kali datang dengan leleh tangis tak kunjung hilang. Di tempat ini Ye Rin bertemu teman sebaya yang hingga kini menjadi sahabat baiknya.

“Tidak begitu baik, Bunda. Aku masih belum bisa menemukan kebahagiaan,” jujur Ye Rin. Ia mengedarkan pandang, berharap menemukan sosok teman yang begitu ia rindukan. “Di mana Na Young?”

Ibu panti mengangsur senyum manis. “Sebentar lagi dia akan kembali. Sementara itu bisakah kau bercerita pada Bunda mengenai keperluanmu datang ke mari, Nak?”

Ye Rin tidak pandai berekspresi. Ia hanya mengangguk, mengangsur senyum, kemudian menghela napas panjang. “Aku ingin meminta restu Bunda untuk menyetujuiku memiliki seorang anak. Kupikir aku bisa bahagia dengan cara itu.”

Cerita Ye Rin mengalir deras bagai air. Lambat laun ia memang tidak bisa tetap bersikap diam di hadapan sang ibu panti. Walinya tersebut wajib tahu. Setidaknya ia tidak membuat ibu panti kecewa terhadap keputusan yang ia pilih.

Na Young datang setelah Ye Rin menyelesaikan perkataan. Memeluk gadis itu posesif mengingat intensitas pertemuan mereka tidak sebanyak saat Ye Rin masih di panti asuhan. Lalu suara sang ibu panti menyeruak, membuat keduanya melepas rengkuhan demi memastikan pendengaran tidak salah.

“Aku mendukung keputusanmu, Nak. Apa pun yang kaulakukan, selama hal itu membuatmu bahagia, Bunda akan menyetujuinya.”

Lalu keduanya kembali berpelukan. Bercucuran air mata bahagia.

***

Yoon Gi memutar ingatan beberapa minggu lalu. Saat pesta haloween digelar oleh High K Entertainment dan dihadiri artis serta staff. Ia ingat ia tertarik dengan seorang gadis bersurai cokelat kemerahan yang mengenakan busana cat women. Memamerkan belahan dada indah serta pantat berisi yang sanggup membuat gairahnya memuncak. Gadis itu datang bersama member Goddess tidak terkecuali Fawn. Namun tatapan gadis itu kosong. Seolah tidak ada kehidupan meski kharismanya bersinar terlalu menyilaukan.

Gadis itu menyendiri setelah para member terjun ke lantai dansa. Membuat Yoon Gi penasaran hingga menawarkan sesuatu tidak terduga. Menawarkan kenikmatan semalam disertai gemerincing kunci kamar hotel. Namun gadis itu tersenyum manis, menolak halus dengan mengatakan tidak menerima hubungan satu malam.

Yoon Gi ingat. Gadis itu adalah gadis yang duduk menyendiri di dekat jendela, ditemani cangkir kopi serta sepotong roti tiramisu. Dengan modal amerikano di tangan, Yoon Gi menghampiri gadis itu. Duduk berhadapan, membuat sang gadis mengernyit tidak mengerti.

“Seingatku aku tidak pernah mengundang orang lain.” Gadis itu bergumam lirih. Merotasikan mata sebagai bentuk tidak suka.

“Aku hanya ingin ikut bergabung. Lagipula ini tidak seperti aku ingin mengajakmu menginap di Grand Hotel, ‘kan?” Yoon Gi tidak kalah memberikan umpan.

Gadis di hadapannya menganga tidak percaya. “Fakta bahwa Produser Min adalah seorang yang tidak pernah berbasa-basi rupanya bukan isap jempol semata.”

“Terima kasih.” Yoon Gi menyeruput amerikano lamat-lamat. “Omong-omong, mengapa waktu itu kau menolak tawaranku? Padahal jika kau menerima, kau pasti sudah bisa menghasilkan kebahagiaan seperti apa yang baru-baru ini kauharapkan, Ryu Ye Rin.”

Ye Rin tertawa kecil. Meneliti wajah Min Yoon Gi yang tidak mengguratkan ekspresi selain sunggingan senyum sombong. “Seseorang sudah memberitahukan niatku pada dunia rupanya.”

“Jangan menyalahkan Fawn. Ia bercerita pada orang yang tepat karena aku bisa menjaga rahasia.” Yoon Gi kembali menyeruput amerikano. Membiarkan rasa pahit membasahi kerongkongan. “Jadi bagaimana? Sekarang kau mau menerima tawaranku?”

“Terima kasih,” ujar Ye Rin seraya menggeleng-gelengkan kepala. “Aku akan melakukan hal ini melalui bayi tabung. Bukan seperti apa yang ada dalam otakmu, Produser Min.”

“Yoon Gi. Panggil saja Yoon Gi.” Pria itu menatap Ye Rin sungguh-sungguh. Sedikit terluka mendapati tawarannya ditolak untuk yang kedua kali. Namun ia tahu ia tidak akan melepaskan gadis ini begitu saja. Karena pembicaraannya bersama Fawn pagi tadi telah membuat Yoon Gi sadar. Bahwa tidak ada saran yang lebih baik selain membantu Ye Rin mewujudkan kebahagiaan itu sendiri.

“Pikirkan hal ini baik-baik. Jika kau memilihku, kau akan mendapat keturunan luar biasa. Aku jenius, sehat dan berkualitas. Kau tidak perlu mengkhawatirkan bayimu akan menjadi seorang setan kecil karena semua keturunan Min adalah orang-orang yang hebat. Tapi jika kau bersikeras dan memilih salah satu botol di bank sperma, kau mungkin akan mendapat keturunan seorang gangster atau bahkan psikopat.”

Ye Rin menghela napas. Perkataan Yoon Gi benar. Ia tidak bisa membiarkan keturunannya menjadi seorang jahat. Apalagi memiliki darah seorang psikopat. Dan memikirkan resiko terburuk itu membuat Ye Rin bergidik ngeri.

Tawaran besar dan hebat ada di depan mata, mengapa ia harus repot-repot datang ke bank sperma untuk memilah satu di antara kebanyakan? Belum lagi jika ia harus dikejar netizen. Atau dicekoki pertanyaan yang belum tentu mampu ia jawab.

Sekali lagi gadis itu menghela napas. Meminum capucinno yang hampir dingin dalam sekali teguk. “Akan kupikirkan.”

Yoon Gi tidak bisa tidak mengangsur senyuman. Ia meletakkan kunci yang sama saat malam pesta beberapa minggu lalu. Mengangsur ke depan tangan Ye Rin di atas meja. “Kalau kau setuju, kau tahu di mana harus mencariku.”

To Be Continued..

A/N: Nambah hutang lagi >< wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s