Under These Skies Chapter 11

Under These Skies Chapter 11

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

Chapter 11

~~~

Story begin..

Ryu Ye Rin POV

Sabtu

Aku membalas pelukan hangat Yoon Gi dan membenamkan kepala di dadanya, meneruskan isak tangis di sana. Aku tahu aku sudah keterlaluan dengan menghancurkan pesta seseorang. Namun semua hal yang kami lakukan di sini… termasuk menceritakan masalah pribadiku dan saling memeluk terasa benar. Ini tidak terasa seperti besok akan terjadi badai Kaola.

Entah berapa lama kami saling memeluk satu sama lain. Kami berdua merasa nyaman dan benar-benar lupa waktu. Ibu Yoon Gi mendatangi kami sembari tersenyum. Mengatakan bahwa anak-anak sudah mengantuk dan saatnya menyudahi pesta. Kami memisahkan diri dengan canggung namun Yoon Gi tidak mengeluarkan ekspresi selain wajah datar.

Saat aku hendak bangkit mencari anak-anak, Yoon Gi menggenggam erat tanganku. “Tidur di sini malam ini,” ujarnya memerintah. Aku mengangguk. Akan sangat sulit membujuk Sung Jin yang mengantuk untuk kembali ke rumah kecuali jika aku bersedia menggendongnya.

Ibu Yoon Gi juga tidak mengatakan apa-apa saat kami kembali. Jadi aku membawa Sung Jin dan Sang Hyun ke kamar, memastikan mereka sudah melakukan rutinitas sebelum tidur dan mencium kening mereka. Aku mengucapkan selamat tidur dan mematikan lampu dan tersenyum ke arah keduanya.

Saat aku kembali ke halaman belakang, Nyonya dan Tuan Min sudah tidak ada. Hanya menyisakan Tae Hyung dan Yoon Gi yang sedang membereskan kekacauan. Aku berdeham. “Butuh bantuan, Boys?”

Mereka mengangkat kepala hampir bersamaan. Sejujurnya aku terkejut mendengar nada suaraku telah kembali seperti biasa. Dan Yoon Gi sepertinya menyadari hal ini lebih cepat karena mata sipit itu sedikit membulat.

“Kami sudah hampir selesai, Ye Rin-ah. Yoon Gi menawarkan vodka setelah ini jadi kau hanya perlu duduk dan biarkan Knight in Shining Armor beraksi,” ujar Tae Hyung tersenyum selebar mungkin. Aku memutar mata. Segera duduk di kursi sesuai perintah.

Mereka selesai sekitar sepuluh menit kemudian. Yoon Gi berpamit mengambil sesuatu di dapur dan Tae Hyung seperti ekornya. Sahabatku punya kebiasaan mencuci tangan setiap waktu jadi kurasa ia benar-benar kalut jika tidak segera membersihkan kuman-kuman.

Tae Hyung kembali terlebih dahulu, membawa dua kotak jus; cranberry dan jeruk, meletakkannya di atas meja. Kemudian Yoon Gi datang dengan satu botol vodka, mangkuk berisi es batu, dan tiga gelas berkaki tinggi. Aku mengerutkan alis. “Kukira seorang dokter sepertimu tidak pernah memiliki persediaan semacam ini,” ujarku menghakimi. Hei, siapa tahu dokter benar-benar membosankan, ‘kan?

Yoon Gi mengangkat satu sudut bibir. “Percayalah padaku bahwa tidak ada dokter yang tidak menyembunyikan minuman beralkohol di balik scrub-nya.”

Tae Hyung mengangguk mengiyakan. “Bahkan aparat kepolisian sekali pun butuh ini untuk meredakan beban di kepala.” Ia meraih salah satu gelas, menuang vodka, jus cranberry, dan jus jeruk bergantian. Menambahkan satu balok kecil es batu sebagai pelengkap.

Ponsel Tae Hyung meraung meminta perhatian. Ia menatap kami lalu cengiran lebar terlukis begitu saja di wajahnya. “Ah, sepertinya aku punya sesuatu yang harus kujelaskan pada seseorang yang meneleponku.”

Dan aku memutar mata. Ia berjalan menjauh setelah menjawab telepon. Aku bersumpah mendengar suara seorang wanita sebelum Tae Hyung benar-benar pergi.

Sex on The Beach?” tanyaku mengerutkan kening, lagi. Atensiku sudah kembali pada Yoon Gi. Membiarkan sahabat kesepianku bersama wanitanya yang lain sementara aku terjebak bersama dokter sombong di hadapan.

Yoon Gi mengangguk. Ia membuat minuman itu ke dalam dua gelas sekaligus. Satu untukku dan satu untuknya, kurasa. “Ya. Sayang sekali tidak ada buah persik.”

Pria itu menyodorkan salah satu gelas tinggi padaku. Ah, pria yang manis. Aku berterima kasih pada Yoon Gi dengan suara pelan. Tae Hyung tidak terlihat di sekitar kami jadi kuasumsikan ia membutuhkan privasi dengan gadis yang menghubunginya tadi.

“Sebenarnya aku sudah lama tidak menyentuh alkohol.” Aku menatap Yoon Gi yang menyesap minuman sementara minumanku masih utuh. Aku benar-benar ragu untuk kembali merasakan alkohol. Terakhir kali aku mabuk ketika pesta bujanganku bersama Tae Hyung, Ho Seok dan Ji Min. Menyedihkan memang saat semua gadis di dunia memiliki teman perempuan, aku justru memiliki tiga orang teman lelaki dan dua lainnya sekarang sudah bahagia bersama pasangan masing-masing.

Yoon Gi meletakkan gelasnya di samping gelasku. “Oh, aku minta maaf. Apa kau ingin minuman lain?”

Aku menggeleng tegas. Mengambil gelasku lalu meneguk minuman campuran warna merah dan kuning sesegera mungkin. “Tidak. Tidak. Beberapa gelas vodka tidak akan menyakiti siapa pun.”

Minggu

Kepalaku seperti tertimpa batu berukuran satu ton. Denyut nyerinya begitu mengerikan. Mengalir dari ubun-ubun hingga kepala belakang. Perutku bergejolak dan aku bangkit begitu saja mencari kamar mandi. Memuntahkan seluruh isi perut. Menjijikan.

Kepalaku bersandar di wastafel. Perutku masih bergejolak namun muntahanku yang kelima sudah tidak menyisakan apa-apa. Vodka sialan. Aku tertawa. Tidak peduli bahwa sekarang aku berada di kamar Min Yoon Gi.

Ingatanku melayang, merefleksikan kegiatan mabuk semalam yang benar-benar terasa memalukan. Tae Hyung bergabung saat aku sudah hampir kehilangan kesadaran. Dan jujur saja aku baru meneguk satu gelas. Payah.

Kami bermain uno dengan peraturan yang menjemukan; seorang pecundang harus melakukan perintah si pemenang pertama. Dan karena aku payah serta kesadaranku tidak mendukung, aku selalu mendapat kekalahan. Puncaknya adalah saat aku harus menjalankan hukuman dari Tae Hyung untuk mencuri ciuman Yoon Gi. Aku bersumpah akan memukul kepala Tae Hyung nanti.

Aku berjalan gontai. Kembali ke ranjang untuk sekadar melirik jam digital yang berada di atas nakas. Lalu tiba-tiba saja pikiranku kembali memutar saat bibirku menyentuh bibir Yoon Gi. Sangat lembut… seolah ia adalah pria yang selalu menyulam bibir. Sangat lembut hingga Tae Hyung menjadi pemandu sorak dadakan bagi kami. Aku menggeleng kuat-kuat. Membelalakkan mata saat pukul sembilan pagi terang-terangan mengejekku di layar.

Sembilan pagi.

Sialan!

Aku melompat turun dari ranjang sekali lagi. Membuka pintu kamar tergesa dan benar-benar hampir melompat mendapati dua monster cokelat menatapku aneh. Dua anjing berbeda jenis yang sama-sama berbulu cokelat. Brengsek. Aku memundurkan langkah perlahan.

Aku benci anjing. Tidak. Aku takut dengan buntalan berbulu yang terlalu sering menjulurkan lidah. Namun hari ini Tuhan benar-benar mengutuk pagiku yang indah dengan membiarkan kedua monster itu bergerak ke arahku.

“Pergi! Jangan berusaha mendekatiku!” Aku membentengi diri. Mengusir anjing-anjing sialan ini dengan tangan kosong. Dan tentu saja monster itu tidak menurut. Mereka terus mendekat dan aku mundur teratur hingga menabrak lemari.

“Brengsek! Jangan dekati aku! Sialan kalian!”

Panik. Tentu saja aku benar-benar panik. Si monster besar mengendus-endus seluruh inci kamar, tidak lagi tertarik padaku. Namun si pudel tetap saja berusaha menyentuh kakiku. Aku berteriak, berharap Yoon Gi atau setidaknya Sung Jin bisa membantuku keluar dari situasi mengerikan ini. Dan sebelum suaraku memancing pertolongan, anjing sialan itu berhasil menyentuh kakiku.

Pandanganku menghitam.

***

“Ibuku akan baik-baik saja, ‘kan, Paman?”

“Ya. Ibumu akan baik-baik saja.”

Saat kesadaranku mulai kembali, aku mendengar suara Sung Jin dan Yoon Gi menyeruak di telinga. Aku mengerjap, membiarkan wajah-wajah familiar tertangkap retina. Tubuhku dibungkus selimut tebal. Sung Jin duduk di tepi ranjang sementara Sang Hyun duduk di sampingnya, lalu Yoon Gi duduk paling dekat denganku. Aku menghela napas.

“Jangan bergerak, Ye Rin. Kau demam.” Yoon Gi mendengar helaan napasku. Ia berbalik menatapku dengan wajah khawatir. Sebelum aku menajawab, Sung Jin sudah terlebih dahulu melompat ke arahku, memeluk tubuhku posesif.

“Maafkan kami, Bu.” Sung Jin menenggelamkan wajah di dadaku. Sesenggukan. “Kami sedang bermain bola dan lupa dengan Jiangyou dan Holly.”

Aku menepuk-nepuk punggung putraku. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Sayang. Anjing itulah yang menyerang ibu.”

Sung Jin mendongak. Menghapus air mata yang menggenangi pipi lalu mengangguk. Ia adalah putra penurut dan tidak akan membiarkan dirinya rapuh di hadapan ibunya sendiri. Kemudian aku menatap Sang Hyun yang tidak kalah menampilkan raut penyesalan.

“Hei, jika kalian bertiga merasa bersalah, seharusnya kalian membiarkanku mencium pipi kalian sampai puas. Aku baik-baik saja. Ini tidak seperti yang kalian khawatirkan.”

Senin

Luar biasa menakjubkan. Aku tinggal di rumah Min Yoon Gi selama dua hari penuh. Tidak. Tiga hari. Hari ini aku masih demam dan pria dingin itu tidak mengizinkanku pulang. Tae Hyung menjenguk dan puas menertawaiku karena masih phobia anjing. Dia benar-benar menyebalkan.

Sang Hyun dan Sung Jin berangkat sekolah bersama Yoon Gi dan Tae Hyung yang bertugas menjemput mereka. Oh, aku sangat lega tidak membiarkan harga diriku sebagai ibu yang baik tercoreng.

Selasa

“Kau seharusnya mengatakan padaku bahwa kau takut pada anjing.” Yoon Gi bersikeras membantu membersihkan rumahku. Ia mengepel lantai, menggerutu tidak jelas saat aku memilih menyedot debu di sofa daripada menanggapi ocehannya. Yoon Gi sudah memperbolehkanku pulang pagi ini. Setelah mengecek suhu tubuhku tentu saja.

Aku mendesah. Mematikan alat penyedot debu, menatap Yoon Gi saksama. “Sebenarnya ini sedikit memalukan.”

Yoon Gi menghela napas panjang. Ada kemarahan terpancar di mata gelap itu. “Dan kau berusaha membuatku terkena serangan jantung karena tidak segera siuman? Kau pingsan selama enam jam, Ye Rin! Masih bisa berkata bahwa phobiamu adalah hal yang memalukan?”

Aku terkejut Yoon Gi benar-benar marah. Dwi manik hitamnya jauh lebih gelap. Aku tidak tahu mengapa. Namun semakin lama aku memperhatikan Yoon Gi, semakin dalam pula aku tersesat pada mata gelap tak berujung.

Dan saat aku semakin tenggelam, Yoon Gi berjalan mendekat. Melumat bibirku dan menekan tengkukku begitu saja. Kelembutan bibirnya menyiksaku untuk mengatupkan mata. Membiarkan ragaku terhanyut dalam ciuman luar biasa yang sudah lama tidak kudapat dari seorang pria.

Dan setelah pagutan itu selesai, kaki-kakiku bagai tak bertulang. Aku hampir saja jatuh jika Yoon Gi tidak lebih dahulu memerangkapku dalam kungkungan panjang. Ia mendesah keras di balik bahuku. Membuatku benar-benar lemas sekadar memikirkan bagaimana lembut bibirnya menempel padaku.

“Y-ya. Sudah kubilang aku tidak mencium seorang dokter.” Aku berusaha tidak terlihat mengerikan. Namun usahaku gagal karena suara yang kukeluarkan seakan menjawab segalanya. Aku menikmati ciuman barusan dan sialnya Yoon Gi bisa memberiku efek setajam ini.

Yoon Gi menghela napas. “Aku tidak bisa mengabaikan bibir mantan istri seorang pilot begitu saja.”

To Be Continued..

Sex on The Beach: Merupakan wisky koktail dengan komposisi vodka, buah persik, jus jeruk dan jus cranberry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s