Ribbon Chapter 7

Ribbon Chapter 7

image

Pagi tidak seindah hari ini menurut Jung Kook. Ia bergegas turun dari tempat tidur, membersihkan diri kemudian segera bersiap menyambar hoodie biru favoritnya. Bergerak cepat setelah mendapat informasi bahwa alamat sang pemilik mobil sudah berada di tangan. Bahkan Jung Kook mengabaikan fakta bahwa Na Young berada di sudut lift membentengi diri dengan hoodie hitam serta menundukkan kepala.

Lift terbuka setelah mencapai lantai pertama. Tidak tanggung-tanggung Prodigy Jeon segera berlari menuju mobilnya yang terparkir rapi. Tidak jadi berpikir bahwa menjual mobil adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Jung Kook menghela napas. Berkendara cepat demi sampai di kantor agensi.

Title: Ribbon
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

“Ikatan pita mengendur lalu semua tidak sama seperti dulu lagi. Hatimu pecah, hatiku lebur. Jiwamu retak, jiwaku mengabur.”

Chapter 7
Uncensored Mystery

~~~

Story begin..

[BREAKING NEWS] BUKTIKAN HANYA TUDUHAN BELAKA, HIGH K ENTERTAINMENT BEBERKAN FAKTA JEON JUNG KOOK TIDAK BERSALAH.

Baru-baru ini diketahui bahwa Jeon Jung Kook mendapat tudingan tidak sedap perkara foto panas bersama seorang artis. Foto tersebut menjadi viral setelah artis pendatang baru tersebut mengonfirmasi bahwa benar telah terjadi tindak asusila dirinya oleh Jung Kook. Kemudian semakin panas akibat berita hengkangnya penyanyi muda berbakat dari dunia yang membesarkan namanya di sebuah reality show.

Dua minggu penuh dunia selebriti seolah tidak pernah padam dengan berita simpang siur terkait Jung Kook. Hingga kemudian sang pemilik agensi diam-diam melakukan penyelidikan dan membuahkan hasil yang benar-benar mengejutkan.

Kim Nam Joon, dalam wawancaranya menyebutkan bahwa terjadi rekayasa yang benar-benar diatur rapi sehingga publik mempercayai Jung Kook bersalah. Pemilik agensi High K Entertainment ini juga memperlihatkan kepada kami rekaman CCTV berdurasi lima belas menit di mana kebenaran disembunyikan.

Berikut rekaman CCTV yang kini menjadi viral.

Rekaman dimulai dengan menampilkan Jung Kook membuka pintu mobil merah metalik dengan susah payah. Ia tampak berusaha menjaga keseimbangan antara efek alkohol yang mulai merasuk dalam tubuh. Jung Kook duduk di kursi kemudi, menyandarkan kepala di atas steer mobil tanpa kuasa menutup kembali pintu. Tertidur. Atau hanya memejamkan mata mengumpulkan kesadaran sebelum mengemudi.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian seorang berpakaian sama dengan Jung Kook membuka pintu belakang. Merebahkan seorang bergaun minim di sana. Pria itu bergantian menutup mobil dan mengambil sapu tangan. Ia berjalan tenang, membuka pintu depan, kemudian segera membekap Jung Kook. Mengambil alih kemudi setelah memastikan Jung Kook sudah tidak bisa berontak. Rekaman diakhiri ketika mobil merah metalik tersebut melaju cepat.

***

Halaman gedung High K Entertainment tidak pernah lekang oleh wartawan setelah berita hangat itu diturunkan. Mereka sama-sama menanti Kim Nam Joon, atau jika beruntung dapat mewawancarai langsung Jung Kook. Semua hampir mengajukan pertanyaan yang sama; terkait keputusan Jung Kook untuk hengkang dari dunia hiburan.

Dalam sekejap nama Jung Kook menjadi top search di berbagai situs. Pula netizen yang sibuk mengomentari betapa tidak relevannya cara yang digunakan untuk menjatuhkan seseorang. Namun tidak sedikit yang justru masih mencari-cari kesalahan Jung Kook. Seolah bukti yang sudah jelas terlihat tidak mempan.

Alih-alih merasa terganggu, Jung Kook justru tersenyum senang di kantor agensi. Setidaknya ia terbukti tidak melakukan kesalahan yang sama seperti tahun-tahun lalu. Setidaknya ia benar-benar berkata jujur dan bukan pemanis belaka.

Ia hanya tinggal berpikir bagaimana cara menjalani hidup selanjutnya. Bagaimana cara ia kembali melanjutkan karir atau justru menekuni bidang lain. Banyak yang harus dipertimbangkan. Banyak yang harus diperhatikan. Namun yang jelas untuk saat ini Jung Kook hanya mampu memikirkan bagaimana cara bisa kembali berhubungan dengan Im Na Young tanpa memberi luka.

***

Pada bangku depan gereja, hari ini Na Young tidak mengeluarkan air mata. Justru senyum manis yang terpampang. Seolah benar-benar menggambarkan hari bahagia telah terjalin. Na Young menyudahi doa, sekali lagi tersenyum pada patung Bunda Maria sebelum akhirnya berlalu pergi.

Kota ini sekali lagi menjadi gempar karena Jung Kook. Dan ia tidak tahu mengapa dirinya justru bersyukur. Dan ia tidak tahu mengapa dirinya justru membiarkan telinga dan hati penuh dengan nama pria itu. Jung Kook… benarkah Na Young sudah mengambil keputusan bulat?

Na Young menjajaki trotoar dengan senyum yang masih terkembang. Bahkan ketika Ye Rin membunyikan klakson dengan kencang, ia tidak menuai protes. Na Young segera naik dan menutup kembali pintu mobil.

“Apa yang membuatmu begitu ceria hari ini?” Ye Rin mengamati perubahan ekspresi Na Young saksama. Namun gadis itu hanya mengendikkan bahu. Mengindikasikan bahwa tidak ada yang spesial dari gambar wajahnya.

“Kau sudah tahu jawabannya.”

Ye Rin mengangkat sebelah alis, menatap Na Young beberapa detik. “Berita Jung Kook?”

Tidak berpikir panjang Na Young segera mengangguk. Ia adalah sebuah buku terbuka bagi Ye Rin, begitu pula sebaliknya. Jadi Na Young tidak perlu berbohong untuk hal sekecil ini. Bahkan ia tidak begitu mempedulikan reaksi Ye Rin terkait ucapannya barusan.

“Aku juga ikut bahagia. Konyol rasanya jika seseorang mau mengulangi kesalahan yang sama dua kali.”

Na Young mengangguk. Ye Rin benar. Semua orang tidak akan mungkin mau jatuh untuk kedua kalinya. Dan terlepas dari itu, ia juga masih mempercayai bahwa Jung Kook adalah seorang yang baik—mengesampingkan perbuatannya tujuh tahun silam.

Tidak ada konversasi lanjutan setelah ucapan Ye Rin barusan. Mereka berdua larut dengan pikiran masing-masing. Bahkan sampai Na Young turun dan mengucapkan terima kasih, yang Ye Rin lakukan hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Terlihat seperti hari-hari biasa.

Namun ketika Na Young sudah sampai di depan pintu apartment, ada hal yang tidak biasa terjadi. Jung Kook, dengan senyum lebar, berdiri di depan pintu sembari merentangkan tangan. Butuh dua detik untuk Na Young menyadari eksistensi Jung Kook sebelum rengkuhan panjang didapat. Rengkuhan Jung Kook.

***

Jika Na Young hanya bermimpi, ia tidak ingin bangun untuk waktu yang lama. Merasakan otot-otot kekar melingkar posesif di tubuh membuat hatinya menghangat. Bahkan ia tidak tahu mengapa pelukan Jung Kook jadi terasa sehangat ini.

Jika ini adalah angan, Na Young tidak ingin seseorang menepuk bahunya. Merasakan deru napas di balik punggung kecil yang terasa menggelitik membuat semua pikiran buruk sirna. Bahkan Na Young tidak tahu mengapa rengkuhan Jung Kook jadi senyaman ini.

Dan Na Young sendiri tahu bahwa rengkuhan ini bukanlah mimpi. Pelukan ini bukanlah angan. Dekapan ini nyata. Dekapan ini benar-benar ia rasakan. Dan Na Young justru terisak karena terlalu bahagia.

Sejujurnya Jung Kook sudah siap menerima penolakan karena sikapnya yang keterlaluan. Ia sendiri tidak tahu mengapa berhenti di lantai tempat apartment Na Young berada dan menunggu di depan pintu seperti orang bodoh. Memberikan rengkuhan posesif seakan Na Young adalah kekasihnya sendiri.

Jung Kook sudah siap menerima tamparan. Sebagaimana pemikirannya tentang reaksi Na Young terhadap seorang yang mengancam ketentraman. Namun yang Jung Kook dapat justru sebaliknya. Na Young membalas pelukan. Na Young menjawab rengkuhan.

Ia tersenyum di balik bahu Na Young. Seakan lupa bahwa tindakannya benar-benar legal untuk dilakukan terus-menerus. Ia tertawa di balik bahu Na Young. Seakan lupa bahwa masa lalu masih menjadi batas untuk keduanya bergerak lebih lanjut.

***

Mobil Jung Kook berhenti di kawasan Jamsil. Tepat di area Danau Seokcheon yang masih tampak cantik meski musim semi telah berlalu. Jung Kook dan Na Young keluar bersamaan. Menatap saksama panorama malam hari yang tersuguh.

Lampu-lampu Seoul, gemerisik danau serta desau daun, segalanya menjadi indah setelah mereka berpegangan tangan. Menyusuri jalan setapak demi tiba di rest area. Saling melempar senyum, saling melepas rindu. Seolah kecanggungan yang membumbung sirna ditelan kebahagiaan.

Lama mereka termenung dalam diam. Terpekur dalam kesunyian yang menyenangkan. Hingga Jung Kook berinisiatif menyudahi kehampaan dengan ucapan, “Aku minta maaf.”

Kalimat pertama yang diucapkan Jung Kook menghipnotis Na Young. Ia berhenti menatap pohon sakura tanpa daun, memfokuskan pandang ke arah Jung Kook.

“Untuk segala hal yang kuperbuat, aku minta maaf. Untuk segala hal yang menjadi sulit, aku minta maaf.” Jung Kook mempererat genggaman tangan. Menyalurkan perasaan yang membumbung di dalam hati.

Namun Na Young membeku. Ia melepas tautan tangan sebelum kembali menatap pohon sakura. Menghela napas panjang. “Aku sudah memaafkanmu tanpa kau harus meminta,” ujarnya datar. Tidak ada senyum seperti beberapa menit lalu. Tidak ada rasa nyaman seperti beberapa menit lalu.

Netra Jung Kook membesar. Terperangah dengan ucapan pula tingkah polah wanita di hadapan. “Jangan berbohong. Jika kau sudah memaafkanku, mengapa kau menghindar selama tujuh tahun ini?”

Na Young kembali menghela napas panjang. Entah sejak kapan air bening sudah menggenangi sudut-sudut mata dan siap tumpah kapan jua. Entah mengapa dalam situasi seperti ini kilas-kilas masa lalu enggan hadir, justru terkunci rapat dalam ingatan. “Aku kotor.”

Hanya itu kata yang bisa ia ucap karena setelahnya Na Young sudah terisak. Bahu wanita itu naik turun dengan cepat. Membuat sekat yang semula mencair kini telah terpondasi ulang. Membuat Jung Kook terperangah lagi dan lagi.

Jung Kook tidak tahu seberapa besar akibat yang ia timbulkan karena keserakahannya. Ia juga tidak diberitahu tentang detail masalah yang dialami oleh Im Na Young karena perbuatannya. Namun melihat sendiri kondisi wanita di hadapan yang begitu rapuh, jiwa Jung Kook seakan stagnan. Kepahitan muncul mengalahkan segala hal indah yang tadi sempat berkubang.

Mengapa… mengapa Im Na Young memiliki dua sisi yang berbeda? Mengapa… ia tidak menemukan Im Na Young ceria yang dulu sering meminta diperhatikan?

“Maafkan aku, Na Young-ah.” Jung Kook berusaha mensugesti pikiran Na Young. Berharap hanya dengan kata maaf semua bisa selesai dan kepahitan akan segera hilang dari raga. Namun tentu saja masalah ini tidak sesederhana yang Jung Kook pikirkan. Na Young tetap menangis. Bahkan lebih kencang dibanding sebelumnya.

Na Young tidak tahu atas dasar apa air matanya bercucur turun. Apakah karena permintaan maaf Jung Kook? Atau mungkin karena bayangan dirinya yang terlunta-lunta muncul begitu saja? Ia sendiri tidak mengerti. Likuid bening itu terus saja turun meski ia mencoba untuk berhenti.

Dalam situasi seperti ini seharusnya Na Young lebih berani. Bahkan sedari kemarin ia sudah mengumpulkan niat untuk berbicara dengan Jung Kook. Hanya saja… semua sirna hanya karena ia tidak bisa membendung air mata. Semua sirna ketika ia belum sempat memulai.

“Aku baik-baik saja, Jung Kook. Aku tidak tahu mengapa air mataku keluar.” Ia berbicara di tengah sesenggukan. Membuat Jung Kook kembali membulatkan mata tidak mengerti bagaimana harus bersikap.

Perlahan Jung Kook mempersempit jarak. Melingkarkan tangan di pinggang Na Young, membiarkan tubuh wanita itu beristirahat di dada bidangnya.

***

Bibir tipis Ye Rin dibungkam Yoon Gi dengan ciuman memabukkan. Ditawan dengan tangan yang menekan tengkuk berulang-ulang. Mereka saling mengecup. Mereka saling melumat. Mereka saling menggigit seolah tidak pernah bercumbu selama berbulan-bulan.

Keduanya menyudahi kecupan setelah kehabisan napas. Saling melempar senyum dengan bibir bengkak. Ye Rin kembali menerima ciuman singkat dari Yoon Gi. Kemudian menelusupkan kepala di antara leher sang kekasih. Menawan wanitanya dalam rengkuhan.

“Tidur, Yoon Gi. Ini sudah malam.” Ye Rin berusaha memejamkan mata meski otak tidak berhenti bekerja memikirkan Na Young. Sahabatnya tidak ada di apartment dan Jung Kook juga tidak ada di tempat. Membuat pikirannya melalang buana. Tidak fokus pada kecupan yang Yoon Gi berikan di leher.

Yoon Gi mengecup puncak kepala Ye Rin. “Kau yang seharusnya mengucapkan itu untuk dirimu sendiri, Sayang. Mereka sudah dewasa dan bukan lagi remaja berusia tujuh belas tahun. Mereka bisa mengatasi omong kosong itu sendiri.”

“Yoon Gi benar,” ujar Ye Rin dalam hati. “Kurasa aku seperti orangtua kolot yang ketinggalan zaman di depan Na Young.”

***

Jung Kook membenarkan posisi Na Young dalam gendongan. Tidak membiarkan wanita yang sudah terlarut dalam mimpi bangun hanya karena tidak nyaman. Ia melangkah ketika pintu lift berdenting di lantai delapan. Berjalan menuju apartmentnya tanpa kesulitan.

Jung Kook menulis kode apartmentnya menggunakan tangan kiri. Membawa masuk Na Young dan membaringkan wanita itu di atas tempat tidur. Ia menatap paras ayu Na Young sekali lagi. Merasakan kepahitan menjalar naik ke tenggorokan sekali lagi.

Ia pernah menghabiskan satu malam bersama Na Young. Pernah merasa begitu hina saat mendapati wanita ini terbangun ketika ia kembali ereksi. Pernah merasa ingin bunuh diri ketika menyadari bahwa kepuasan yang malam itu membuatnya melayang bukan karena kekasih hati.

Jung Kook tahu ia sudah pernah meminta maaf dengan cara yang benar di hadapan keluarga Na Young. Bahkan mengerti betapa sakit tamparan yang dilayangkan kepala keluarga wanita yang sudah ia lecehkan. Namun semua itu tidak sebanding dengan lukanya yang masih menganga. Luka ketika ia masih dipandang hebat alih-alih dicaci orang kebanyakan.

Jung Kook menyadari betapa rendah ia karena perbuatan keji itu. Menyadari betapa tidak pantas namanya dielukan sementara orang lain tidak mengerti luka seperti apa yang tengah menggerogoti. Hingga memutuskan untuk mencari Na Young dan segera meminta maaf agar segalanya mampu berjalan seperti sedia kala. Namun Tuhan benar-benar membenci Jung Kook. Keberadaan wanita itu tidak terdeteksi. Seolah tengah mencari jarum di antara tumpukan jerami.

Jung Kook kalah.

Jung Kook bersalah.

Ia menghela napas. Masih menatap saksama Im Na Young yang tertidur pulas. Tanpa sadar Jung Kook telah menempelkan bibir sembari memejamkan mata.

***

Ketika Na Young bangun, ia sangat menyadari bahwa kamar yang ditempati bukanlah miliknya. Tidak ada potret pria kecil yang tersenyum manis di atas nakas, pula potret kebersamaannya bersama sang ibu angkat. Ia mengedarkan pandang, menatap saksama ruang berdominasi warna biru tua yang terlihat rapi. Na Young tahu ini adalah kamar Jung Kook. Ia ingat terlalu lelah menangis hingga akhirnya tertidur di pangkuan pria itu.

Na Young bangkit dari ranjang, membuka pintu kamar kemudian berjalan keluar. Ia menemukan Jung Kook terlelap di sofa. Meringkuk berusaha menyamankan diri. Na Young mendesah kecil lantas membangunkan Jung Kook. “Pindahlah ke kamar, Jung Kook. Lehermu bisa sakit.”

Alih-alih menjawab, Jung Kook justru bertanya, “Kau sudah bangun?” dengan suara serak.

Na Young mengangguk. “Terima kasih untuk semalam. Aku harus pulang.”

“Tunggu sebentar.” Jung Kook mendesah. Ia mengerjapkan mata berusaha agar tetap terjaga. Mengambil kunci apartment di saku, membuka pintu dalam keadaan setengah sadar. “Jika kau membutuhkanku, kau tahu di mana harus mencariku.”

Na Young mengangguk. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih sebelum melangkah menunggu lift. Perasaannya menghangat hanya dengan memikirkan betapa Jung Kook sangat perhatian.

***

Seorang pria bersurai hitam legam menjinjing satu sudut bibir membaca komentar-komentar pedas yang dilayangkan netizen. Ia membanting ponsel. Berteriak frustrasi di apartment sunyi setelah satu komentar sukses menawan atensinya dalam beberapa detik.

“Brengsek!”

To Be Continued..

A/N: Aku tahu ini ngaret banget >< hihi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s