Wide Awake Chapter 1

Wide Awake Chapter 1

Original Story by AngstGoddess

Jeon Jung Kook x Im Na Young

1. Gingerbread Zombies

 

Im Na Young POV

Aku sangat amat membenci kamar ini. Rasanya seperti berada di neraka. Aku sama sekali tidak mendramatisir keadaan. Itu fakta. Di siang hari yang cerah, aku masih bisa bertahan di sini. Tapi saat ini, tengah malam, aku sama sekali tidak tahan. Suasana menjadi sangat gelap, sunyi, mencekik, dan pojok ruangan seperti tersembunyi. Ketakutan yang terasa akrab sudah berada di sekelilingku dan panik merambat naik ke dada saat membuka pintu. Bahkan aku tidak bisa merasakan sedikit saja kenyamanan dari cahaya bulan purnama malam ini, karena terhalang awan tebal yang selalu menyelimuti kota ini, dan juga karena rumah Keluarga Jeon yang menjulang tinggi di luar jendelaku. Bibi Fawn dan Ye Rin telah berusaha keras menata kamar ini untukku. Aku merasa bersalah saat menjangkau tas yang berada di lantai dengan hati-hati, di samping pintu, lalu berlari ke dapur.

Di dapur inilah aku biasanya menghabiskan malam sejak pindah ke Busan, seminggu yang lalu. Suasana dapur terasa hangat dan terbuka. Selalu cerah, dan penuh kenangan yang menyenangkan. Tidak pernah ada hal mengerikan yang terjadi padaku di dapur. Semenjak aku tiba di sini, aku selalu memasak. Pada awalnya Bibi Fawn agak kesal, karena harus menyerahkan tugas dapurnya pada seorang gadis berumur tujuh belas tahun, tapi Bibi Fawn akhirnya menyerah setelah melihat betapa aku sangat menikmati tugas ini. Dan Bibi Fawn sangat jarang melihatku bisa menikmati apa pun.

Jadi, aku sudah membuat rutinitas untuk menghabiskan malam di sini: memanggang kue, memasak, dan mengerjakan PR… aku melakukan apa pun yang bisa kulakukan, kecuali tidur di kamar gelap itu. Semua orang di Seoul menyebut kebiasaanku ini insomnia. Aku sudah mendapat ceramah dari dokter dan tenaga profesional lainnya, mereka semua khusus dilatih dan dididik secara formal untuk memastikan “kesejahteraan”-ku menjadi “prioritas utama” mereka. Aku sudah mencoba obat tidur dan terapi agar bisa tidur delapan jam setiap malam. Tentu saja mereka tidak akan pernah benar-benar mengerti. Ini bukan tentang aku yang tidak bisa

tidur, tapi ini tentang aku yang tidak mau tidur. Aku selalu tertidur selama sepuluh menit di siang hari, walaupun aku sudah berusaha keras mencegahnya. Mencegah agar tidak tidur itu cukup sulit, dan aku lebih memilih berjalan lesu di bawah awan tebal, daripada harus bermimpi. Mimpiku selalu penuh dengan pukulan dan suara cabikan, jeritan dan persembunyian, memar dan air mata, dan monster yang bersembunyi di dalam lemariku, yang mengulur-ulur waktunya. Dan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mimpi terburukku yang selalu datang setelahnya. Aku selalu bermimpi tentang ibuku, Da Yoon. Tubuhnya yang dingin dan lemah telentang di sofa dalam genangan darahnya sendiri. Dan matanya…

Aku tersentak dari lamunan dan mulai menyibukkan diri dengan mengerjakan PR Bahasa Inggris sambil menunggu kue selesai dipanggang. Aku menggunakan resep baru. Aku selalu memanggang kue baru setiap malam selama seminggu terakhir ini. Kuanggap ini sebagai kebiasaan baru. Saat aku masih tinggal di panti asuhan, di Seoul, aku bisa memasak banyak di malam hari dan anak-anak laki-laki lain selalu memakannya sebelum makananku dingin. Tapi, Ye Rin dan Bibi Fawn tidak bisa mengakomodasi kebiasaanku untuk memasak makanan lain di malam hari. Jadi, aku memutuskan untuk membuat kue. Mereka selalu menikmati resep kreatifku dan namanya.

Untungnya, mereka tidak pernah mempertanyakan kebiasaan anehku di tengah malam. Mereka benar-benar senang saat aku akhirnya menyerah dan pindah ke sini. Mereka tidak pernah memaksaku menjawab rasa penasaran mereka. Bibi Fawn memohon padaku untuk datang ke sini tahun lalu, setelah ibuku meninggal, tapi aku bilang “tidak”. Aku tidak ingin mereka ikut merasakan aura gelap ini dan harus berhadapan dengan perilakuku yang tertutup, aku benci harus membebani mereka. Namun, di sinilah aku sekarang, pikirku pahit.

Aku membiarkan mereka merasa menang karena keputusanku untuk pindah ke sini dari panti asuhan di Seoul, tapi sebenarnya, aku sudah tidak bisa tinggal di sana lagi. Ada terlalu banyak orang. Terlalu banyak anak laki-laki berdesakkan denganku di sebuah ruangan kecil. Aku sering panik, dan itu sangat melelahkan. Lelah membuatku kesulitan untuk tetap terjaga. Aku tidak suka anak laki-laki, dan aku benci pria. Mereka membuatku takut, itu karena ulah Jae Hwan. Ini tidak rasional, aku tahu itu. Tidak semua laki-laki yang berada di luar sana mencoba membunuhku. Bahkan sekali pun aku berusaha bersikap biasa pada laki-laki, tapi pikiran dan tubuhku otomatis bereaksi, dan aku tidak bisa menghentikan reaksi ini. Psikolog lamaku bilang ini ada kaitannya dengan mekanismeku dalam mempertahankan diri dan kecemasan yang berlebihan atau apa pun itu. Aku tidak peduli mereka menyebutnya apa, aku benci perasaan itu. Tidak pernah bisa mendekati lawan jenis tanpa merasa nyaman dan panik adalah hal yang paling merugikan saat berada di panti asuhan. Dan tiba-tiba saja, prospek untuk hidup bersama dua orang wanita terdengar sangat menarik. Mungkin Bibi Fawn dan Ye Rin memang menang.

Dan ternyata, Busan jauh lebih baik dari yang kupikiranku. Ini sebuah kota kecil dan kuno. Aku tidak bisa bilang aku akan bahagia berada di sini, karena aku tidak akan pernah merasa bahagia di mana pun berada. Sudah terlalu banyak hal yang kulihat dan lewati. Tapi, Busan bisa membuatku berjalan beberapa langkah lebih dekat menuju kebahagiaan daripada Seoul, jadi aku tidak bisa menyesali keputusan ini.

DING!

Aku melompat kaget dan menjatuhkan pensil. Itu suara dari timer oven yang menandakan kueku sudah matang.

Kendalikan dirimu, Na Young. Astaga.

Aku menunggu kue yang berbentuk orang-orangan kecil ini sampai dingin sebelum menghiasnya.

Setelah semua kostum orang-orangan kecil ini selesai, aku mengambil tiga bungkus plastik, Ziplock, dan menggunakan spidol untuk menulis nama kue di tiap label persegi panjang berwarna putih. Gingerbread Zombies—Kue Jahe Zombie. Sepertinya nama ini benar-benar pas dengan keadaanku yang seperti zombie hari ini, dan mungkin juga besok hari, seperti keadaanku dari berbulan-bulan yang lalu.

Lima jam, empat cangkir kopi, dan dua makalah Bahasa Inggris kemudian, aku sudah selesai membuat sarapan dan berpakaian untuk sekolah, aku mengenakkan jaket hoodie hitam biasa dan celana jeans, dan rambut panjangku yang berwarna cokelat kemerahan aneh ini tergerai di bawahnya. Bibi Fawn sudah bergegas keluar untuk berangkat kerja, Gingerbread Zombie sudah berada di tangannya, dan Bibi tersenyum kecut saat melihat nama kreasi terbaruku. Ye Rin tiba di dapur untuk sarapan dalam keadaan segar seperti biasa, dan rambut sebahunya yang berkilauan dikepang rapi. Dia memancarkan aura positif. Itu membuatku ingin muntah.

Sikapnya selalu ceria dan bersemangat. Sepupuku, Ye Rin, sedikit lebih pendek daripada aku. Usia kami hanya terpaut satu bulan, dan ibu kami bersaudara. Namun, selain berbagi gen, sifat kami sangat bertolak belakang. Dia populer di sekolah dan bisa berteman dengan siapa saja. Aku secara alami menjauh dari semua orang. Dia up-to-date dengan tren fashion. Aku selalu pergi keluar memakai pakaian yang sama sekali tidak menarik perhatian. Dia penggembira dan anggun. Aku introvert dan canggung.

Mengerti, kan, maksudku?

“Selamat pagi! Mmm, daging asap dan telur! Apa itu waffle? Dengan blueberry?” dia berceloteh dan meluncur ke salah satu kursi di meja makan. Kakinya berayun-ayun di kursi seperti balita yang berusia tujuh belas tahun. “Oh, Tuhan, Na Young-ah, berat badanku akan terus naik saat kau berada di sini. Apa ada sirup? Mungkin aku harus diet besok….”

Aku hanya memutar mata melihatnya dan menyendok telur rebus ke dalam mulut. Aku menyayangi Ye Rin, tapi tidak ada yang bisa menyela ucapannya di pagi hari. Saat dia mendongak dari piringnya, dia tiba-tiba berhenti bicara. Kemudian dia menatapku menggunakan “Wajah Prihatin Ye Rin”.

Ini dia…

“Astaga, Na Young-ah! Kau terlihat mengerikan! Apa kau tidak tidur sama sekali tadi malam?”

Aku meringis. Aku terlihat mengerikan… astaga. Terima kasih, Ye Rin-ah, atas usahamu meningkatkan kepercayaan diriku. Aku sedikit mengangkat bahu, dan terus makan.

Sambil menghela napas dalam-dalam, dan sedikit menggeleng, dia tidak lagi bertanya padaku.

Ye Rin selalu seperti ini padaku —khawatir tapi hati-hati. Dia selalu berusaha agar aku mau terbuka padanya. Dia ingin memahamiku. Aku sadar dia ingin ikut campur seperti ini karena dia peduli, tapi aku tetap diam tentang masalahku. Aku tidak bisa menjelaskan padanya dengan benar, dan dia akan semakin khawatir kalau aku mencoba untuk menjelaskannya.

***

Jeon Jung Kook POV

Dimana korek apiku? Sudah tiga kali aku berputar di tengah-tengah kamar, frustrasi menarik rambutku. Aku baru saja terbangun setelah kalah dari tidur selama dua puluh menit—kalah dari mimpi burukku—dan aku benar-benar harus merokok.

Dan sekarang aku hanya punya sebungkus rokok tanpa korek api. Aku harus membersihkan kamar ini dan merapikannya. Berpikirlah, Jung Kook! Sial! Terakhir kali aku memegang korek apinya… Oh, benar! Aku membuka pintu balkon dan langsung melihat korek api tergeletak di atas pagar. Di sini kau rupanya, aku menyeringai.

Aku menyalakan rokok dan menghisapnya. Ah… jauh lebih baik. Aku tidak pernah merokok di dalam kamar. Karena asapnya akan menempel dan bau. Paman Nam Joon benar-benar cerdas karena memberiku kamar yang dilengkapi dengan balkon. Papi N. tahu benar bagaimana cara merawat anak angkatnya. Dia mengadopsiku empat tahun yang lalu. Dr. Jeon Nam Joon adalah seorang pria yang memiliki fundamental baik dan warga negara terhormat dari komunitas terbesar Busan. Kami jarang bertemu, tapi dia seorang dokter, dan dokter yang baik jarang di rumah. Aku tidak keberatan. Dia menyediakan pakaian dan makanan untukku dan jarang mengajukan pertanyaan.

Aku rasa bagi remaja berusia tujuh belas tahun, aku ini hidup di situasi yang ideal. Tae Hyung juga tinggal bersama kami. Dia juga salah seorang dari akuisisi Paman Nam Joon. Tae Hyung setahun lebih tua dariku dan dia lebih dulu tinggal di keluarga ini. Dia senang mengungkit-ungkit kenyataan itu padaku. Apa peduliku! Dia adalah anak emas Busan, dan semua orang ingin mencium bokongnya. Saat Paman Nam Joon tidak ada di rumah, dia sangat kasar. Kami tidak pernah akur. Tidak sama sekali. Setelah setahun penuh pertempuran dan keluhan dari Paman Nam Joon, kami membuat kesepakatan tidak tertulis untuk saling menjauh. Lagi pula, dia juga akan pergi kuliah setahun lagi dan angkat kaki dari sini.

Aku melihat ke dalam kegelapan malam dari balkon rumah kami yang kelewat besar sambil menghisap rokok. Mimpi buruk sialan. Aku benci malam hari. Malam bagaikan sebuah karya sastra Rusia yang jelek, panjang dan sangat membosankan. Aku punya hobi dan aku bisa menghabiskan waktu sembilan jam untuk membuat sketsa dan mendengarkan musik. Tapi, kalau aku jujur dengan diri sendiri—dan itu sangat jarang kulakukan—ada satu hal yang paling kuinginkan di dunia ini lebih dari apa pun juga.

Tidur.

Terakhir kali aku tidur dengan baik, tidur sepanjang malam, adalah bertahun-tahun yang lalu—aku bahkan tidak ingat bagaimana rasanya. Pada awalnya Paman Nam Joon khawatir, mungkin masih, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Aku selalu seperti ini setiap malam. Hampir tidak bisa tidur sama sekali, sekali pun aku berusaha melakukannya. Aku selalu bermimpi… mimpi yang sama. Dan aku rasa tidak ada gunanya lagi mencoba tidur.

Aku melempar puntung rokok di tepi balkon saat tetesan hujan mulai jatuh dari langit. Setelah kembali ke dalam kamarku yang hangat, luas, dan berantakan, aku langsung menjatuhkan tubuhku di tempat tidur dan kembali melanjutkan sketsa. Menggambar dapat membuatku terjaga, hampir sama efeknya dengan simpanan rahasia amfetamin Papi N., dan boleh kubilang obat itu dosisnya cukup tinggi. Aku tidak mau minum obat itu sering-sering. Terkadang, aku akan mabuk bersama temanku, Yoon Gi, tapi tidak sering.

Aku sudah berteman dengan Min Yoon Gi sejak hari pertamaku di sini, saat aku bilang pada Guru Park—guru Sejarah kami yang sepertinya tidak berpendidikan—untuk “urus urusanmu sendiri”.

Yoon Gi senang pelajaran Sejarah. Dia satu-satunya teman yang pernah kumiliki atau kubutuhkan di sini, di Busan. Saat kami bersama, kami lebih banyak diam. Kami bisa membaca gerak-gerik satu sama lain lewat penampilan dan bahasa tubuh. Ini bukan bromance atau apa pun itu istilahnya, tapi memang begitulah kami. Walaupun Yoon Gi selalu mendukungku, dan selalu ada untuk mendengarkan semua permasalahanku, tapi aku tetap merasa kesepian. Dia mencoba memahaminya, tapi bagaimana caranya dia bisa paham? Saat dia bertanya kenapa aku selalu lelah, aku menjawabnya dengan jujur. Aku lebih suka berjalan-jalan seperti zombie daripada harus mengalami mimpi yang selalu menghantuiku.

Tentu saja dia pikir aku gila.

Jadi, aku tidak pernah membicarakannya lagi.

Aku sudah menyelesaikan sketsa dan menandainya dengan namaku dan tanggal di sudut kanan bawah, lalu menutup buku sambil mendesah. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Aku mengetuk-ngetuk jari di sampul kulit buku sketsa. Oh, PR .

Aku menahan erangan.

Sudah seminggu ini aku tidak boleh masuk sekolah karena pelanggaran disiplin ringan. Aku tidak boleh masuk sekolah selama lima hari, karena merokok di halaman belakang sekolah.

Wow, benar-benar hukuman yang menyenangkan, lima hari penuh kebebasan—atau kebosanan lebih tepatnya. Aku selalu mendapat nilai bagus di sekolah. Terutama di sini, di mana aku mungkin bisa mengajar di sebagian besar kelas tambahan, bahkan saat setengah terjaga. Maksudku, aku punya sembilan jam kosong di malam hari untuk belajar dan bekerja.

Aku mulai mengerjakan PR Trigonometri. Kurang tidur membuat setiap tugas terasa lebih sulit. Kebanyakan orang tidak akan menyadari betapa pentingnya tidur untuk kesehatan, baik itu untuk mental maupun fisik. Tidak ada yang tahu lebih baik daripada aku. Sebelum kejadian delapan tahun yang lalu, aku tidak pernah menyadari betapa pentingnya tidur malam untuk menjaga kewarasan. Ibu selalu bersenandung untukku setelah menyelimutiku. Tentu saja itu terjadi sebelum dia membenciku. Sebelum dia mengirimku pergi dan meninggalkanku di tangan pekerja sosial yang bergaji rendah, di lembaga kesejahteraan anak terburuk yang pernah ada.

Dia bahkan tidak mau menatapku lagi setelah kejadian itu—tidak mau berada di ruangan yang sama denganku. Dia bahkan tidak pernah mengucapkan selamat tinggal. Aku harap aku bisa menyalahkannya, tapi aku benar-benar tidak bisa melakukan itu.

Aku mengambil satu-satunya orang yang paling dicintainya.

Lebih daripada aku.

Bahkan sekarang, delapan tahun kemudian, aku masih bisa melihat api itu dengan jelas dalam pikiran. Aku bisa merasakan panasnya dan mencium bau asap. Dan kalau aku tidur cukup lama, aku bisa menonton adegan sempurna saat ayahku terbaring dan terbakar di lantai, berteriak meminta pertolongan yang tidak akan pernah datang. Aku mulai menggeleng, tidak ingin memikirkannya lebih jauh.

Setelah matahari mulai menunjukkan tanda-tanda akan naik, aku menutup buku dan bersiap untuk pergi ke Sekolah Menengah Atas Busan.

Aku tidak pernah memikirkan pakaian apa yang harus kukenakan ke sekolah, biasanya aku hanya mengenakkan baju kaos dan celana jeans sederhana, jaket kulit hitam favoritku, dan sepatu bot usang. Aku benar-benar tidak peduli. Satu-satunya alasan kenapa aku pergi ke sekolah adalah untuk nongkrong dengan Yoon Gi dan mengisi waktu. Dan juga kalau nilai rata-rataku di bawah 8.5, Papi N. akan mengambil mobilku. Semuanya sudah dipertimbangkan dan dokter yang baik tahu benar bagaimana cara menjalankan akal bulusnya dengan efisien.

Setelah aku berhasil menghindari setiap kontak dengan Tae Hyung, aku berjalan keluar menuju kendaraan idamanku dan jemariku menyusuri kap mobil dengan ringan. Oh, cantik sekali. Aku lihat Ryu Ye Rin, tetanggaku, sudah berangkat ke sekolah, karena mobilnya sudah absen dari jalan masuk rumahnya. Tentu saja dia sudah pergi. Dia selalu bangun lebih awal. Aku masuk ke dalam mobil dan mulai berkendara menuju rumah Yoon Gi untuk menjemputnya.

Dia sudah menunggu di pinggir jalan, di depan rumahnya yang sederhana dan langsung melompat ke dalam mobilku sebelum aku berhenti.

“Akhirnya kau datang juga! Naomi sudah menggangguku sepanjang pagi ini, dia terus-terusan bertanya tentang pesta yang kau adakan malam ini,” ucapnya sambil memakai sabuk pengaman. Naomi adalah kakaknya.

Aku mendengus, “Pesta yang kuadakan? Aku tidak pernah ingin ada pesta di rumahku. Aku rela berkelahi dengan Tae Hyung untuk membatalkan pesta itu kalau dia tidak mengancam akan melapor pada Paman Nam Joon tentang hukumanku dari sekolah.” Aku bermalas-malasan menyandarkan kepala di kursi pengemudi dan mulai berkendara menuju sekolah. “Kau datang?” tanyaku.

Dia mendengus sambil menggeleng. “Tidak. Aku tidak akan mau datang ke pesta senior yang penuh dengan orang-orang mabuk menjengkelkan dan ber-IQ jongkok.”

Aku tertawa. “Yoon Gi, kau baru saja menghina calon istrimu. Kau tidak akan mendapat kesempatan kalau kau terus menghina IQ orang-orang seperti Ryu Ye Rin.”

“Ye Rin akan datang ke tempatmu?” tanya Yoon Gi, suaranya terdengar penasaran dan kecewa.

Aku mengangguk dan mengangkat sebelah alis.

“Brengsek! Aku sudah bilang pada ibuku aku akan tinggal di rumah akhir pekan ini dan membantunya membersihkan rumah.”

Dia mengerutkan kening dan merosot di kursi. Aku memutar mata.

Yoon Gi diam-diam naksir dengan tetanggaku semenjak aku mengenalnya. Aku mulai bertanya-tanya kapan dia punya keberanian untuk bicara dengan Ryu Ye Rin. Menurutku itu tidak akan terlalu sulit. Setiap kali aku melihat Yoon Gi menatapnya di kantin atau di lorong sekolah, aku harus menahan diri untuk memanggil Ryu Ye Rin dan menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Hei, Ryu, ini temanku, Yoon Gi. Maukah kau membantuku untuk bercinta dengannya, agar dia bisa berhenti menatapmu seperti anak anjing yang hilang arah? Aku menahan tawa.

Saat kami sampai di sekolah, aku sengaja parkir di sebelah mobil Ryu Ye Rin. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk bajingan menyedihkan ini. Ryu Ye Rin masih berada di mobilnya, lengannya bergerak-gerak lincah sambil bicara penuh semangat pada seseorang yang berada di kursi penumpang.

“Oh, sial!” seru Yoon Gi di tempat duduknya dan berbalik melihatku sambil menyeringai. “Kau melewatkan semua kejadian menarik yang dilakukan gadis baru!”

“Gadis baru?” tanyaku dengan nada bosan dan memejamkan mata. Orang-orang di sini selalu bersemangat dengan hal-hal yang tidak penting. Aku tidak peduli.

Yoon Gi memutar matanya saat melihat ketidakpedulianku. “Ha! Kau akan tertarik dengan yang satu ini. Gadis baru ini adalah sepupu dari Ye Rin dan dia gila. Dia pindah ke rumah mereka seminggu yang lalu.”

Aku mengerutkan kening. Aku punya seorang tetangga baru dan aku tidak menyadarinya. Bukan, aku punya seorang tetangga gila baru, dan aku bahkan tidak menyadarinya. Tiba-tiba, aku merasa tertarik. Tidak bisa kupungkiri lagi, aku merasa kurang nyaman harus bertetangga dengan orang gila. Aku melambaikan tangan, menyuruh Yoon Gi melanjutkan ucapannya. Yoon Gi senang melihat reaksiku dan duduk kembali sebelum bicara.

“Rabu kemarin, Ji Min mencoba ‘tebar pesona’ dengan gadis itu di kelas Biologi, dan gadis itu benar-benar panik. Paniknya aneh, dia seperti mengalami gangguan emosional atau apalah itu. Dia mulai menangis dan gemetaran, lalu berlari keluar kelas. Aku kira itu reaksi normalnya, karena mungkin Ji Min mencoba memegang bokongnya. Tapi, saat Jung Ho Seok mencoba untuk membantunya kemarin waktu dia tersandung, dia kembali melakukan hal yang sama.” Yoon Gi menyelesaikan ceritanya sambil mengangkat bahu.

Saat itu juga Ryu Ye Rin dan penumpangnya keluar dari mobil, dan mulai berjalan menuju gedung sekolah. Aku tidak bisa melihat wajah penumpangnya, karena tersembunyi di balik rambut panjang cokelat kemerahan yang mengintip dari balik hoodie hitamnya. Sepertinya dia Sepupu Gila, atau Gadis Baru. Dia menyeret kakinya dengan malas saat berjalan menuju sekolah.

Aku hendak bertanya lebih lanjut tentang ketidakstabilan mental Gadis Baru ini, tapi perhatian Yoon Gi sekarang sudah terpaku pada Ryu Ye Rin. Aku mendesah dan keluar dari mobil, lalu berjalan ke kelas.

***

Im Na Young POV

Ye Rin tidak bisa berhenti membicarakan pesta yang akan diadakan malam ini. Kami berada di dalam mobilnya yang bercat kuning mencolok dan menunggu bel berbunyi sebelum masuk ke kelas.

“Pestanya akan sangat menyenangkan, Na Young-ah! Pesta Tae Hyung adalah peristiwa penting di sini! Kau harus datang—semua orang akan berada di sana!” ucapnya sambil menjerit.

Itulah alasan yang membuatku tidak ingin datang. Membayangkan berada di rumah yang penuh dengan orang mabuk membuatku bergidik.

“Ye Rin-ah,” aku memohon pelan. “Aku mohon, jangan mengajakku. Aku sungguh merasa tidak nyaman.” Aku tidak ingin mengatakan pada Ye Rin alasan sebenarnya kenapa aku tidak mau ikut, itu akan membuatnya curiga, dan rumor yang beterbangan di sekeliling sekolah sudah cukup menarik perhatiannya tentang perilakuku.

Dia terdiam sejenak, dan kupikir aku akhirnya memenangkan argumen ini, tapi saat aku menatap Ye Rin, aku tahu aku sudah kalah. Dia memberiku tatapan “Ye Rin Cemberut”. Tidak ada yang bisa menolak keinginannya kalau dia sudah memasang wajah seperti ini. Dan jujur saja, aku ingin menunjukkan pada Ye Rin kalau aku bisa bersikap normal selama satu atau dua jam, berharap ini dapat mengusir kekhawatirannya padaku untuk sejenak.

“Ugh! Baiklah! Aku akan ikut bersamamu dan bicara dengan Naomi selama beberapa menit, lalu aku akan pulang!” ucapku, kesal.

Dia menjerit dan mulai melonjak-lonjak di kursinya. “Kau akan lihat nanti, Na Young-ah—kau akan bersenang-senang!” Aku memutar mata dan membuka pintu mobil saat bel berbunyi. Aku punya mantra khusus untuk berjalan menuju kelas. Naikkan hoodie, tundukkan kepala. Bahkan aku sudah merasa lelah dan mengantuk.

Aku mendengar suara bisik-bisik saat melewati sekelompok orang. Aku tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, karena aku sebisa mungkin menghindar dari mereka. Aku berfokus untuk kembali ke keadaan mati rasa agar dapat melewati hari-hari sekolah. Sejauh ini, aku sudah mengalami tiga episode panik berlebihan saat orang-orang menyentuhku, dan sepertinya aku sudah menjadi bahan tertawaan sekolah sekarang.

Seolah membaca pikiranku, Ye Rin berbisik di telingaku. “Aku janji aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu,” bisiknya dan menepuk-nepuk lenganku.

Tapi, aku tidak mengucapkan apa-apa. Aku terus berjalan dengan kepala tertunduk, dan kakiku terseret-seret melawan gelombang kelelahan yang semakin meningkat di dalam diri ini.

Pada saat jam istirahat makan siang tiba, aku sadar semua orang menghindariku seperti wabah penyakit. Ini membuatku sangat lega, hampir membuatku tersenyum. Hampir. Dihindari membuat segalanya lebih baik. Mereka semua masih berbisik-bisik, tapi aku bisa menanganinya.

Aku tidak pernah makan makanan sekolah. Aku mengeluarkan Gingerbread Zombies dari tas dan duduk di ujung meja, di sebelah Ye Rin dan di seberang Naomi, sahabat Ye Rin dan pacar Tae Hyung. Tae Hyung dan Naomi adalah senior kami, tapi mereka berdua dan Ye Rin hampir tidak dapat dipisahkan. Aku sadar mereka bertiga adalah orang paling populer di sekolah, dan aku dengan mudah mengerti alasannya. Naomi, karena kecantikannya; Ye Rin, karena antusiasmenya yang tidak terkendali dan keramahannya; dan tentu saja, Tae Hyung, seorang atlet sekolah dan semua orang ingin membuatnya terkesan. Aku dan Tae Hyung tidak bicara banyak—terutama karena dia takut aku akan panik, tapi aku dan Naomi sudah berteman.

Aku cepat-cepat mengucapkan “halo” lalu mengambil buku dari dalam tas yang baru saja kupinjam dari perpustakaan. Koleksi buku lamaku sudah tidak ada, jadi aku harus puas dengan keterbatasan yang kumiliki sekarang. Tapi, walaupun koleksi buku di perpustakaan sini jelek, setidaknya buku ini bisa mengalihkan pikiran.

Mereka tidak repot-repot mengajakku ikut dalam obrolan—lagi-lagi mereka membahas tentang pesta nanti malam—jadi, aku mengunyah kue dan mulai membaca sambil menundukkan kepala. Inilah yang kulakukan setiap hari: mencoba menjadi seseorang yang tidak kasat mata.

Suara bel membawa perhatianku kembali ke kantin. Aku cepat-cepat memasukkan buku ke dalam tas dan berjalan menuju kelas Biologi. Aku senang dengan kelas ini, karena aku punya meja laboratorium sendiri dan terkadang aku bisa tidur selama beberapa menit. Guru Han tidak pernah mengatakan apa-apa, karena dia tahu aku sudah pernah belajar materi pelajarannya saat aku masih sekolah di Seoul dulu.

Aku terus menunduk sampai ke kelas, berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya. Kelelahan dengan cepat melandaku, membuat kelopak mataku terasa berat dan langkah kakiku goyah. Satu-satunya hal yang membuatku tetap terjaga adalah saat merasakan tetesan hujan yang sangat dingin membasahi hoodie dan rambutku.

Bangun! Bangun! Bangun! Aku mencaci-maki diri sendiri dalam hati sambil mengusap mata dengan marah.

Setelah aku duduk di kursiku, di kelas Biologi yang hangat, aku sadar aku sebaiknya tidur selama sepuluh atau dua puluh menit. Aku terlalu memaksakan diri untuk tetap terjaga saat pelajaran Bahasa Inggris, karena aku punya makalah yang harus diserahkan. Lebih baik kalau aku tidur di kelas ini, di sekolah, di mana lonceng akan terus-terusan menggelegar pada interval waktu tertentu. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa tidur cukup lama sampai bermimpi di sini. Aku menyilangkan lengan di atas meja lab dan meletakkan keningku di atasnya. Aku mendengarkan suara langkah kaki orang-orang di sekitarku yang berjalan ke tempat duduk mereka, dan perlahan-lahan aku membiarkan mata terpejam dan menyambut tidur.

***

Jeon Jung Kook POV

Gadis Baru Sepupu Gila sepertinya pingsan di meja labku saat aku tiba di kelas Biologi. Jadi, sekarang aku duduk di sini sambil menatap jijik hoodie-nya yang berwarna hitam dan basah. Pasti senang sekali bisa tidur… pikirku pahit saat aku mulai mengerjakan tugasku—bukan, tugas kami . Aku seharusnya membangunkan gadis ini seperti seorang bajingan. Aku seharusnya menarik turun hoodie-nya dari kepala dan mulai mengguncang tubuhnya. Aku seharusnya bilang pada Guru Han kalau aku keberatan saat dia bertanya tidak apa-apa kalau pasanganku dalam mengerjakan tugas ini adalah gadis yang duduk di sampingku tapi, aku tidak melakukannya. Aku merasa tidak enak kalau harus membangunkan seseorang yang tertidur dengan damai.

Jadi, aku menahan kejengkelan dan iri dalam hati dan melakukan tugas sialan ini sendiri, sambil berharap gadis ini menikmati nilai A yang akan dia dapatkan nanti. Setelah aku selesai mengerjakan tugas, aku langsung menyesal karena mengerjakannya terlalu cepat. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk mengalihkan perhatianku agar bisa membuka mata. Aku mulai melakukan apa yang selalu kulakukan dalam situasi ini: mata terpejam, kepala ditundukkan, dan kemudian mengangkat kepalaku dengan cepat sambil kembali membuka mata. Aku melakukan ini sebanyak lima kali sebelum aku mengusap keras mukaku dan menatap masam sosok yang tidur di sebelah kiri. Sialan. Aku bisa mendengarnya menarik napas panjang dalam keheningan kelas, dan dia mengeluarkan suara dengkuran lembut, dan aku yakin hanya aku satu-satunya orang yang bisa mendengarnya.

Suara dengkuran lembutnya terdengar tenang, dalam, dan berulang, seperti lagu pengantar tidur. Dan itu membuatku semakin lelah dari biasanya. Masih ada waktu tiga puluh menit lagi sebelum kelas berakhir. Sambil menggeleng marah, aku memutuskan tidak ingin lagi mendengar godaan ini. Aku mengangkat tangan dan berdeham untuk menarik perhatian Guru Han yang sedang sibuk menulis di mejanya.

“Ya, Jeon-ssi?” tanya Guru Han. Aku sering meminta izin keluar terlebih dahulu saat kelas seperti ini. Guru Han adalah salah seorang guru yang mau memberiku izin.

“Permisi, Guru Han, apa aku boleh keluar dari kelas terlebih dahulu?” tanyaku sesopan yang kubisa. Aku harap dia tidak menyadari nada suaraku yang terdengar menyindir. Saat wajahnya terlihat tidak setuju, aku cepat-cepat menambahkan “Lagi pula, aku sudah mengerjakan tugas untuk dua orang siang ini.”

Aku menganggukkan kepala ke arah Gadis Baru Sepupu Gila yang tertidur dan menyeringai.

Guru Han mendesah panjang dan mengangguk. Dia membiarkan saja perilaku tidak sopan gadis ini, karena alasan yang tidak kuketahui, jadi dia tidak bisa berbuat banyak dengan permintaanku. Dengan senyum kemenangan, aku mengumpulkan barang-barang. Saat aku hendak berdiri dari tempat duduk, aku mendengar rengekan kecil dari gadis yang tertidur di kursi sebelahku. Aku menoleh dan melihatnya sedikit gemetaran, dia masih tidur. Aku menatapnya sebentar, sepertinya dia sedang bermimpi buruk dan aku seharusnya membangunkannya, tapi aku mengurungkan niat. Rasakan itu. Aku tersenyum dalam hati.

Aku bangkit dari tempat duduk dan dengan cepat keluar dari ruangan, menutup pintu di belakang. Aku tidak memedulikan teriakan keras seperti suara tercekik yang berasal dari bangunan di belakangku saat aku berjalan ke mobil.

“Aku akan pulang minggu malam. Aku yakin kalian berdua tidak akan saling membunuh saat aku tidak ada.” Paman Nam Joon bicara sambil berbalik kebingungan di sekitar ruang tamu untuk yang kedua kalinya, dia menepuk-nepuk sakunya, mencoba menemukan kunci mobil. Terkadang, aku bersumpah DNA kami sama.

“Aw, ayolah Ayah, aku dan teman baikku ini?” Tae Hyung melemparkan lengan besarnya yang berkeringat di bahuku, dan aku meringis dibuatnya.

“Oh, Tuhan, Tae Hyung. Kau bau sekali, Brengsek. Mandilah sebelum Paman Nam Joon menguliahimu tentang manfaat deodoran.” Aku menyentakkan lengannya dengan jijik. Dia selalu bau setelah pulang latihan, dan aku tidak sabar untuk menghindar darinya. Namun, Paman Nam Joon akan pergi beberapa hari untuk menghadiri konferensi medis di daerah timur, jadi aku harus mengantarnya keluar pintu rumah seperti anak baik.

Paman Nam Joon menggeleng tidak setuju dan mendesah jengkel. “Aku mohon, Jung Kook-ah. Jangan mengumpat,” ucapnya sambil terus mencari-cari kunci.

Aku menyeringai, “Baiklah, Papi N.”

Dia benci mendengar panggilan itu. Tapi, saat kata-kata itu keluar dari mulutku, dia juga melihat kuncinya tergeletak di sofa dan meraihnya dengan senyum penuh kemenangan. Setelah dia memegang kopernya dan berjalan melewati kami di pintu, dia berhenti melangkah dan berbalik ke arah Tae Hyung sambil mengerutkan hidung.

Aku mohon, kuliahi Tae Hyung tentang deodoran. Aku memohon dengan mataku saat Paman Nam Joon menatapku. Tapi, dia malah mengernyitkan alisnya dan mengerutkan keningnya padaku.

“Jung Kook-ah, kapan terakhir kali kau tidur?” tanyanya khawatir. Aku harus menahan erangan.

“Aku tidur semalam. Tapi, hari ini rasanya hariku sangat panjang.” Ini bukan kebohongan. Dia terlihat ragu sebentar, tapi akhirnya mengangguk.

“Cobalah tidur malam ini. Kau terlihat lelah,” ucapnya kemudian berbalik pergi menuju pintu, tapi tiba-tiba berhenti dan menambahkan, “Tae Hyung, deodoran . Hanya itu yang bisa kukatakan padamu.” Aku tertawa muram saat Paman Nam Joon keluar rumah, dan berjalan ke lantai atas, ke kamarku, untuk mempersiapkan malam panjang di depan.

————————————

Terima kasih AngstGoddess untuk Wide Awake-nya yang luar biasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s