Under These Skies Chapter 10

Under These Skies Chapter 10

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

Chapter 10

~~~

Story Begin..

Min Yoon Gi POV

Minggu

Aku hampir saja berpikir bahwa aku memiliki dua orang putra. Sang Hyun dan Sung Jin benar-benar terlihat seperti saudara kandung. Mereka bernyanyi mengikuti lagu sepanjang jalan dan memilih anak anjing dengan selera yang sama. Dan aku menamainya Min Holly, adik tidak biologis Min Jiangyou yang sama-sama berbulu cokelat.

Kami membeli bahan makanan di supermarket dan kembali ke rumah Ye Rin pada pukul enam belas lebih tiga belas menit. Min Holly sudah aman di kandang; kami membawanya pulang terlebih dahulu dan Ye Rin terkejut melihatku membawa kantung kertas.

“Apa kau berusaha mengejekku dengan semua bahan makanan ini?” Ye Rin menyalak. Aku bisa melihat kilat kemarahan di mata cokelat itu. Tanpa sadar aku justru tersenyum.

“Aku yang memasak,” jawabku. Melenggang meninggalkan Ye Rin di pintu depan bersama anak-anak. Namun baru empat langkah aku sudah berbalik. “Bisakah kau menunjukkan padaku di mana dapurmu berada?”

Dan tentu saja Ye Rin memutar mata. Aku tahu ia mencoba menaikkan jari tengah atau mengumpat seperti biasa. Namun ia tidak bisa melakukannya selama ada Sang Hyun dan Sung Jin. Lebih baik menjaga uang tetap aman di dompet daripada memberi kekayaan lebih pada anak-anak karena mengumpat.

Ye Rin berjalan mendahuluiku. Menunjukkan pantry minimalis yang tampak terawat kemudian berbalik menatapku. “Biar aku yang menjadi asistenmu.” Ia tersenyum lebar. Seolah asisten koki sungguhan.

Aku terkekeh, sedikit, lalu mengangguk mengiyakan. Sang Hyun dan Sung Jin sudah sibuk dengan jumper. Mereka baru saja meneriaki Ye Rin untuk meminta izin. Anak pintar.

Ye Rin mengeluarkan bahan makanan dari dalam kantung selagi aku menginvasi dapurnya. Dan aku terkejut melihat koleksi alat memasak Ye Rin. Benar-benar lengkap. Kupikir hanya ada penggorengan dan spatula dan panci. Ternyata wanita ini juga terlihat seperti wanita pada umumnya.

Aku berbalik, menatap Ye Rin yang sibuk dengan daging ayam. “Kita akan memasak Ayam Doritang dan Gratin.”

Ye Rin mendongak, memberi tatapan tidak mengerti selagi aku memisahkan bahan-bahan. Namun beberapa detik kemudian ia segera membantu. Setidaknya ia masih bisa belajar meski telat.

Saat aku mencuci ayam di wastafel, Ye Rin berujar, “Bagaimana caraku memotong ini?” sembari mengangkat bawang bombay di tangan kiri. Aku tertawa. Wanita ini benar-benar tahu cara menyenangkan orang lain.

Aku mulai mempraktekkan keahlianku. Sebenarnya ini adalah bakat terpendam di antara bakat-bakatku yang lain. Min Yoon Gi adalah jenius. Jenius adalah Min Yoon Gi. Dan tidak ada yang tidak mengakui hal ini.

“Selesai. Kau bisa melakukannya?” tanyaku mengamati ekspresi Ye Rin. Ia terlihat serius sebelum mengangguk mengiyakan. Aku masih menatapnya saat merebut pisau dari tanganku. Berusaha tidak terlihat gugup meski sejujurnya ia benar-benar lucu.

Ye Rin memegang pisau dengan tangan kaku. Dan hasil potongan bawang bombaynya benar-benar asimetris. Aku menggeleng. Kemudian begitu saja memeluknya dari belakang. Tanganku memegang tangannya. Mengajarkan bagaimana gerakan tangan untuk memotong yang benar.

Seolah benar-benar menikmati, aku bahkan hampir tidak sadar jika tubuh Ye Rin menegang. Dan kemudian saat harga diri kembali menguasai tubuhku, kami memisahkan diri dengan canggung. Bahkan dehaman kami begitu terasa dipaksakan.

Kurasa aku benar-benar dalam masalah serius.

Senin

Seharusnya aku meminta maaf dengan cara yang benar seperti yang kulakukan minggu lalu. Namun hal ini terasa begitu berbeda karena aku tidak melakukannya. Aku hanya mengundang Ye Rin untuk datang ke pesta kepindahan rumah sabtu nanti tanpa adanya undangan sarapan.

Kurasa ia sudah melupakan kejadian kemarin. Atau hanya menganggapnya angin lalu karena aku benar-benar pria yang menjemukan. Dan karena pikiranku sering melantur… entah kenapa ada sedikit rasa kecewa terpupuk di hati.

Selasa

“Ayah? Bagaimana aku akan menghabiskan waktu di rumah saat Ayah bekerja shift malam?” Sang Hyun menyusulku di ruang tengah. Duduk diikuti Holly yang entah sejak kapan mengekori Sang Hyun.

Aku berhenti membaca buku, melepas kacamata lalu meletakkan di atas meja. “Menginap di rumah nenek?”

Sang Hyun menghela napas berat sembari menggeleng. Gestur yang cukup kuat untuk menandakan bahwa ia bosan. Aku tidak memiliki rencana. Dan kurasa seharusnya aku meminta kebijakan rumah sakit agar tidak ada shift malam untukku.

“Ada rencana lebih hebat di kepalamu?” Aku sudah sepenuhnya menatap Sang Hyun. Dan pria kecil itu mengangguk pasti.

“Sung Jin bilang pamannya menginap. Pamannya jago menggambar, Ayah. Dia salah satu animator perusahaan Jepang.”

Sang Hyun mudah terpesona dengan hal-hal kecil. Dan aku memiliki keahlian untuk tidak bisa menolak permintaannya. Jadi aku mengangguk mengiyakan sambil berharap dalam hati agar Ye Rin tidak keberatan menjaga anak-anak.

Rabu

Wajah Naomi terlihat begitu merah setelah seorang pria bersurai cokelat menanyakan akun sosial media yang ia punya. Dan ketika ia tidak menyadari keberadaanku di koridor, gadis itu melompat-lompat gembira. Kurasa pubertas memang tidak mengenal usia.

Kamis

Ye Rin terlihat luar biasa manis jika memakai gaun pendek bermotif bunga. Ia juga menguncir rambutnya seperti biasa dan membiarkan poni menutup seluruh kening. Aku penasaran apakah aku terlalu berlebihan mendeskripsikan Ye Rin. Namun saat ia berdiri di samping Ford F-150, truknya, aku tahu itu adalah hal lumrah. Karena dia benar-benar manis.

Dua sudut bibirku bergerak ke atas, membentuk sebuah kurva senyum beberapa detik. Ia menyapaku seperti biasa. Dan kedua putra kami sudah akrab seperti biasa.

Jum’at

Ayahku adalah tipe orang yang tidak pernah memanjakan anak-anaknya. Kakakku, aku dan Fawn hidup disiplin sepanjang waktu. Ada kalanya aku membenci beliau karena sifatnya yang terlalu tegas dan kaku. Dan karena itu aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak memperlakukan hal yang sama pada keturunanku.

Seperti saat ini, aku tidak bisa mengabaikan permintaan Sang Hyun begitu saja. Pria kecilku selalu punya cara untuk membuat sisi lembekku bangkit. Dan aku hanya bisa menyetujui tanpa berusaha menolak.

Ia memintaku mempekerjakan Ye Rin sebagai pengasuhnya. Sang Hyun pikir dengan begitu ia bisa bermain bersama Sung Jin dan Ye Rin juga mendapat kehormatan untuk tidak kehilangan cap ibu yang baik. Ide yang bagus. Dan sebenarnya ada satu alasan lagi yang bisa dipertimbangkan jika Ye Rin kupekerjakan; aku bisa melihatnya setiap saat.

Oh, sial. Mengapa aku jadi terlalu jujur?

Sabtu

Pengalaman sering mengadakan pesta membuatku cekatan menyiapkan segala sesuatu. Dan sebagai tetangga yang baik, Ye Rin sudah datang sejak pagi tadi. Sepertinya ia tidak terlalu akrab dengan tetangga depan rumahku Jung Kook. Namun aku terlanjur mengundang pria itu dan terlambat untuk membatalkan.

Anak-anak sibuk dengan krayon dan pensil warna bersama Tae Hyung, pria yang menemui Naomi rabu lalu, dan orang dewasa sibuk menyiapkan dekorasi pesta.

Saat sore tiba aku bertugas memanggang daging bersama Ye Rin sebagai asisten. Ia menanyakan perihal absennya Vivian dalam undangan pesta kepindahan ini dan aku menjawab jujur. Sang Hyun tidak mengizinkan ibunya berada di sini. Kurasa putraku masih marah.

Kemudian kami membicarakan Fawn. Aku mengatakan bahwa Ye Rin memiliki usia yang sama dengan adikku. Dan kurasa mereka akan cepat akrab jadi aku akan mengizinkan Ye Rin untuk ikut berbicara saat Sang Hyun melakukan video call. Namun Ye Rin menolak secara halus. Kurasa aku terlalu cerewet.

Saat Ye Rin mengantarkan hasil panganggan daging di meja dekat anak-anak, ia tidak juga kembali meski delapan menit telah berlalu. Kepalaku menoleh, menatap wanita cerewet itu mematung memperhatikan ponsel Sang Hyun. Aku menghela napas lelah. Kemudian menyalak dengan sarkasme. “Ryu Ye Rin, kau berniat membantu atau memuji kecantikan adikku?”

Ye Rin menoleh, menghapus sesuatu di pipi dan berlari ke arahku. “Maaf. Ternyata adikmu jauh lebih cantik dari bayanganku.”

Mata Ye Rin memerah namun ia lekas menunduk tanpa mengatakan apa pun. Terus seperti itu sepanjang pesta berlangsung. Tidak banyak yang memperhatikannya karena semua orang sibuk menikmati barbeque. Dan saat ia berjalan pergi dari halaman, diam-diam aku mengikutinya.

Ye Rin duduk di teras rumah. Di atas undakan tangga yang ke tiga. Ia menyembunyikan wajah di antara kedua lutut dan bahunya bergerak naik turun. Wanita itu menangis.

Aku menghela napas sebelum ikut duduk. Ye Rin tidak terlihat terkejut karena setelah ia justru mengusap air mata. “Aku terlihat konyol, ‘kan?” tanya Ye Rin berusaha terlihat baik-baik saja. Namun apa yang kulihat justru sebaliknya. Wanita itu tidak baik-baik saja.

“Dulu Vivian juga sering menyembunyikan tangisannya. Ia selalu berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Namun aku tahu itu tidak benar. Selalu ada alasan di balik tangis seseorang dan sekarang aku berusaha untuk menanyakan alasan itu padamu.”

Ye Rin melebarkan mata. Namun kemudian menghela napas panjang entah karena apa. “Aku merasa buruk hanya karena mendengar nama bajingan itu disebut-sebut.”

“Bajingan?” tanyaku. Aku sudah mendengar hal ini sejak ia mendapat telepon iseng namun aku tidak mengerti.

“Ayah Sung Jin. Dia meninggalkanku saat aku mengandung. Dan sampai sekarang ia bahkan tidak tahu jika Sung Jin adalah darah dagingnya sendiri.” Ye Rin tidak menatapku. Ia menerawang langit gelap Seoul dengan netra cokelatnya. “Kami menikah hampir satu tahun dan belum berniat untuk mendaftarkan pernikahan itu. Setiap hari ia pulang dengan senyum manis dan kupikir ia bahagia, sama sepertiku. Namun tepat saat hari ulang tahunnya dan aku akan mengatakan bahwa aku mengandung, ia tidak pulang ke rumah. Ayahku mendapat surat permintaan maaf darinya. Ternyata ia menikah lagi dengan seorang pilot junior di maskapai penerbangan yang sama.”

Mulutku menganga. “Aku minta maaf. Tapi itu adalah tindakan yang benar-benar keterlaluan. Apa kau sudah bertemu lagi dengannya?”

Ye Rin menggeleng tegas. Menatapku dengan mata merah yang masih terus dibanjiri air mata. “Kuharap aku bisa bertemu dan menendang selangkangannya. Ia sudah membiarkan putraku tidak bisa memakai marganya dan mendapat ejekan sepanjang waktu. Bahkan saat mengandung, aku pernah mencoba menggugurkan Sung Jin karena merasa begitu hancur.”

Aku menghela napas. Segera memeluk Ye Rin sebelum tangis kembali meledak. Wanita ini dan segala kerapuhannya membuatku berpikir bahwa nasib seseorang tidak selalu mujur itu benar. Bahkan di sekelilingku ada orang yang benar-benar mengalaminya.

To Be Continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s