My Heavy Childish

My Heavy Childish

image

Ia terombang-ambing dalam dunia semu, sesuatu yang membuat kesadarannya semakin menipis. Gelap menyesakkan dada, napas yang hampir terkikis habis. Entah makhluk menyeramkan dari mana datang mengganggu setengah jiwanya, membiarkan bermain sejenak bersama sang raga tanpa nyawa.

Helaian rambut serupa terangnya mentari bergerak mengikuti udara. Terbangun mendadak dengan keringat mengucur membasahi keningnya. 

Mimpi buruk, lagi?

Biasanya ia  panik, tetapi pengecualian hari ini. Gadis berdarah campuran itu merasa tenang tanpa ada perasaan gelisah. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, sempat berpikir. Sebelum mata tajamnya mendelik pada seutas gantungan berornamen bulu merak yang terletak di atas tirai kamar. Jika cahaya membiasnya, akan bersinar memancarkan warna biru laut.

Si penangkal mimpi buruk, Dream Catcher.

Bukan. Sama sekali bukan benda itu yang membuat ia bisa sedamai ini di pagi hari. Tetapi suara ketukan jendela beserta sosok di luar sana adalah alasannya.

Jemari lentiknya terangkat membuka kaca transparan tersebut, membiarkan lelaki di sebrang sana langsung bergegas menghampiri, dan masuk begitu saja.

Raut wajahnya tersirat guratan lelah ditambah lingkaran hitam dan sepasang netranya memerah namun tetap tampan kelewat brengsek. Suara bariton milik sang kekasih merupakan alunan nada yang terbaik, betapa ia sangat merindukan sosok di hadapannya kini.

Lama tak jumpa; lama tak saling menjamah, membuatnya merasa terhujam dinginnya sepi.

“Hei, aku merindukanmu….”

Caramel Almonade & Nadhea Rain ©2017

Title : My Heavy Childish
Cast : Kim Namjoon, Park Hwayoung (OC)
Genre : Romansa
Length : Ficlet
Rate : T/M

*****

Hwayoung berjalan menepi, sengaja melangkahkan kakinya lebih lambat supaya segerombolan tukang gosip berlalu pergi. Menjadi bahan pembicaraan di sekolahnya selama berbulan-bulan tentu membuat telinganya memanas. Well, apakah berkencan dengan seorang pria jenius adalah dosa besar? Bukankah cinta tidak memandang perbedaan usia?

Pemilik sifat ambivert ini terkadang acuh terhadap lingkungan sekitar. Namun kalau terlalu lama dibiarkan juga, kesabarannya mengikis habis. Belum pernah melihat seekor singa mengamuk?

Namjoon pernah. Singa dalam artian disini merajuk pada kekasihnya sendiri. Setelah hampir setahun lebih menjalin hubungan simpang siur, sering bertengkar secara halus atau bermain kasar karena menuruti ego masing-masing. Hanya Namjoon yang lebih tahu tentang dunia percintaannya ketimbang mereka.

Jujur, ia akui bahwa Namjoon lebih memprioritaskan masalah nafsu ketimbang hati. Maksudnya, ia melihat seorang wanita dari segi penampilan beserta kemolekan tubuh bak model-model majalah dewasa. Semua hanyalah masa lalu ketika belum bertemu dengan Hwayoung.

Ya, gadis tersebut berhasil mengubah segalanya.

Lihatlah sekarang! Banyak puluhan mata yang mengamati dirinya lewat tatapan sinis. Hwayoung tetap tenang seperti memiliki kekuatan kala melihat separuh jiwanya tersenyum penuh suka cita di seberang jalan. Hari ini Namjoon datang untuk menjemputnya setelah sekian lama berpisah akibat untaian kesibukan yang dialami lelaki bermarga Kim itu.

“Mereka nampak terlihat seperti kakak beradik ketimbang sepasang kekasih….”

“Dia sangat pendek, dadanya juga kecil.…”

“Dasar pedofil.…”

Namjoon mengembuskan napas gusar, ia memilih merangkul mesra sang kekasih lalu membawanya masuk ke dalam mobil ketimbang menanggapi omongan sampah dari orang-orang bermulut usil. Toh, tidak ada untungnya sama sekali.

Keadaan terasa semakin hening padahal di luar sana sangatlah ramai. Hingar bingar sudut perkotaan terendap oleh alunan musik lembut. Sontak membuat jenuh salah satu pihak.

“Nanti malam temanku mengadakan pesta, bagaimana menurutmu?” tukas Hwayoung sengaja mencairkan suasana canggung diantara mereka. Namjoon lagi-lagi memamerkan senyum rupawannya yang membuat jantung gadis itu berpacu lebih cepat.

“Tidak!” Senyuman itu luntur tergantikan tatapan tajam sontak membiarkan Hwayoung heran lalu mendelik kesal.

“Ibu mengizinkanku untuk pergi. Memangnya kau siapa berhak melarangku?” balasnya penuh sindiran. Tadi Hwayoung sendiri yang meminta pendapat, mengapa sekarang jadi ia yang dimarahi?

“Aku benci kalau melihat kekasih kecilku ini mengumbar kecantikannya dan tebar pesona di pesta nanti….”

Hwayoung menunduk berusaha menyembunyikan rona samar di kedua pipinya. Gadis itu tak menyangka tentang jawaban Namjoon di luar ekspetasi. Sebenarnya ia terlalu malas untuk pergi dan hanya mencoba menguji lelaki di sampingnya.

“Aku jalang cuma untuk Kim Namjoon seorang. Jadi, jangan khawatir….” Ia sengaja mengguit bagian lesung pipi Namjoon demi memperkuat argumen. Membuat Namjoon sekilas menatap gadis mini di sampingnya kemudian memberikan lesung pipi terbaik.

“Jadi… kau akan pergi atau tidak?” Namjoon kembali mengajukan pertanyaan. Sepertinya jawaban sang terkasih belum jua menuntaskan rasa penasaran.

Hwayoung mengangkat bahu, “Entahlah. Aku tidak memiliki kegiatan hari ini dan kurasa pesta adalah pilihan terbaik.”

Diam-diam Hwayoung tersenyum penuh arti. Menyamarkannya dengan mengambil ponsel dari dalam tas tangan. Menggoda Kim Namjoon sangat menyenangkan. Tunggu sampai pria itu benar-benar akan mendidih.

“Lagipula… orang jenius biasanya tidak pernah ikut berpesta, ‘kan?” Hwayoung makin memberikan gencatan senjata. Sekilas menoleh pada Namjoon yang mencengkeram erat steer mobil. “Kau tidak akan melarangku, ‘kan, Tuan Jenius?”

Cukup. Cukup sudah kepala Namjoon dipenuhi skenario-skenario mengerikan. Hwayoung akan pergi ke pesta, berdandan cantik, dilihat banyak orang, wine… brandy, dan sentuhan dan remasan… dan… Namjoon menekan rem kuat-kuat. Menimbulkan decit panjang yang sontak saja membekas di aspal.

“Kau gila?” Baru kali ini Hwayoung merasa sikap Namjoon sangat aneh. Bukankah ia hanya ingin menggoda? Kenapa Namjoon harus bersikap sedemikian rupa?

Hembusan napas kasar terdengar dari bibir Namjoon. Ia menepikan mobil sebelum mendapat layangan protes lalu menatap Hwayoung lurus-lurus.

“Dengar, Hwayoung-ah, aku tidak ingin berbagi milikku pada orang lain. Kau sendiri tahu pesta dan pemabuk adalah jodoh yang sangat tepat.” Namjoon masih menatap lurus. Membiarkan sang kekasih mencerna ucapannya barusan. Namun setelah beberapa menit berlalu yang ada justru Hwayoung memperdengar tawa merdu.

Gadis itu tertawa… membuat Namjoon mengerutkan kening.

“Astaga. Kau benar-benar menanggapi ucapanku dengan serius?” Hwayoung berujar di sela tawa yang belum juga hilang. “Ahh… Kim Namjoon-ku yang manis….” Sekali lagi, gadis itu mengguit area lesung pipi favoritnya.

“Aku tidak akan pergi ke pesta, Sayang. Tidak akan pernah pergi jika kau tidak ada bersamaku. Lagipula, siapa teman yang benar-benar dekat denganku? Kau pernah melihatnya?”

Hwayoung menatap serius manik mata penuh kharisma pria di hadapan. Melekukkan senyum sesaat setelah Namjoon memamerkan lengkung. Kekasih jenius yang sangat menggemaskan. “Sudah mengerti?”

Namjoon mengangguk. Kemudian membungkuk ke arah Hwayoung yang masih tidak mengerti arah tindakan Namjoon. “Jadi… bisakah kita berpesta di tubuhmu nanti malam?”

Dan hal itu sukses membuat rona merah menjalar cepat di telinga maupun pipi Hwayoung.

***

Jadi… untuk apa memedulikan ucapan orang mengenai siapa dan pantasnya kita bersanding dengan orang lain jika dia yang kita cintai memiliki rasa yang bahkan jauh lebih besar daripada kita?

-Fin-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s