No More

No More

image

Title: No More
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Drama, Angst, Romance, AU
WARNING; curhat colongan, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

~~~

Story begin..

“Bicaralah, Sayang.” Suara Yoon Gi terdengar berdengung-dengung dari earphone. Mengundangku untuk meremas bantal kuat-kuat. Ia ada di seberang koneksi video call, dengan laptop serta note kecil di atas paha.

Aku menghela napas. Hanya menghela napas keras-keras tanpa berniat memulai pembicaraan. Hari ini aku tidak ingin berbicara padanya. Pada siapa pun yang sudah merusak hari indahku.

Yoon Gi berhenti menatap laptop. Menaruh atensinya ke kamera dan meniti raut wajahku dari seberang sana. Aku tidak ingin kalah begitu saja jadi aku ikut menatapnya. Terlalu serius. Terlalu ambisius.

“Ceritakan padaku. Apa yang mengganggumu hari ini?” Ia masih saja menaruh atensi lebih. Seolah raut wajah yang kupasang kini lebih penting dari pada pekerjaannya dalam laptop.

Aku menyunggingkan senyuman miring kemudian berujar, “Tidak ada. Hanya saja hariku berubah buruk karena sebuah artikel.”

Aku sangat yakin Yoon Gi tidak akan tertarik. Sebelumnya, entah satu tahun atau setengah tahun lalu, aku pernah mengatakan hal yang sama hanya karena aku tidak suka topik ketidakcocokan Haruno Sakura bersanding dengan Uchiha Sasuke muncul kembali. Memangnya apa salah pasangan paling romantis itu dengan mereka? pikirku. Dan sejak saat itu pula Yoon Gi tidak akan menanggapi ocehanku dengan serius.

“Apa kau mau berbagi padaku? Aku yakin kali ini kau tidak akan mengomentari gaya berpakaian Sarada.” Ia tahu aku sudah membicarakan gaya menggambar Ikemoto sensei beberapa pekan lalu. Para S-Savers sangat marah karena Sarada dibuat terlalu seksi. Itu cukup menggelitikku tentu saja. Dan aku benar-benar bertahan untuk tidak memutar mata.

Helaan napas kembali kuperdengarkan. Aku masih menatapnya tanpa suara. Wajah Yoon Gi menekuk bingung. Namun sekali lagi aku masih enggan sekadar mengucapkan kalimat.

“Lee Jong Suk menyebutku dalam sebuah artikel. Ia berkata, ‘Saat aku lelah melakukan pekerjaan make up sendirian, orang yang saat itu mengulurkan tangan kepadaku adalah Ye Rin’. ‘Aku pernah ke rumahnya dan ia memberikan kue yang sangat lezat.’ Aku tertawa, tapi, ya semua orang menganggap serius hal itu.”

Aku menunggu respon seperti apa yang ditunjukkan Yoon Gi. Namun karena ia adalah Min Yoon Gi, ia bisa menyembunyikan ekspresinya dengan sangat baik. Tangannya terkepal. Disembunyikan di samping tubuh supaya aku tidak memedulikannya. Aku tersenyum kecut.

“Apa kau merasa kecantikanmu melebihi Park Shin Hye sehingga Jong Suk menyebutmu dalam artikel? Bisa saja itu Ye Rin GFriend, ‘kan?” Yoon Gi berujar tenang. Meskipun diucap dengan wajah yang benar-benar datar, aku menangkap emosi tercampur dalam suaranya.

Mengendikkan bahu tidak tahu, aku berkata, “Kurasa make up artis yang bernama Ryu Ye Rin di sekeliling Jong Suk hanya aku saja. Dan dia memang pernah datang ke rumahku. Kami adalah teman, jika kau lupa.”

Fokusku kembali terpecah menatap tangannya semakin mengerat. Daun telinga Yoon Gi memerah dan diam-diam aku mulai merasa kagum pada diriku sendiri. “Kau tidak pernah menceritakan itu padaku,” ujarnya. Strategiku berjalan dengan sangat mulus.

“Memang tidak. Kau juga tidak pernah menceritakan seorang yang bertandang ke studiomu padaku.” Dadaku bergemuruh. Yoon Gi terlihat terkejut namun segera menguasai diri. Aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

“Banyak yang berkunjung ke sana, Sayang.” Yoon Gi membela diri dengan sangat baik. Aku mendecih tidak suka. Sesak yang sedari tadi berkumpul dalam rongga dada belum juga sirna.

“Ada satu yang paling spesial. Yang bahkan kau memberi izin untuk mendengar lagumu.”

Netra Yoon Gi kembali membelalak. Ia sudah mengerti ke arah mana percakapan kami bermuara. Dengan frustrasi ia mengusap wajah, lalu mendekati kamera. “Demi Tuhan, Ye Rin-ah. Dia hanya seorang artis yang kuproduseri. Kami adalah teman, jika kau lupa.”

Ia membalikkan kalimatku. Aku tidak suka hal itu. Lalu tanpa sengaja aku sudah berteriak. “Jika kau dan dia hanya sebatas teman, lantas mengapa aku dan Jong Suk selalu kauanggap salah jika kami berteman? Kau bahkan terang-terangan memintaku mencuci tangan tiga kali setelah aku memberi make-up pada Jong Suk. Padahal kau jelas-jelas tahu pekerjaanku adalah seorang make-up artist.”

Yoon Gi tersentak dengan suaraku yang meninggi. Aku tidak peduli. Pertahananku hampir saja runtuh karena genangan air mata sialan yang sudah menumpuk.

“Jadi kau ingin menyalahkanku karena memproduseri penyanyi wanita? Jangan bodoh, Ryu Ye Rin! Jika di masa depan aku bekerja sama dengan idol grup, kau mungkin akan bunuh diri karena tidak dapat mengontrol emosi!” Yoon Gi ikut berteriak. Membuatku harus menahan napas. Rasa sesak di hatiku makin menjadi-jadi. Tanpa sadar pipi-pipiku sudah dibanjiri air mata. Aku sesenggukan.

“Bisakah kalian hentikan pertengkaran bodoh itu? Ini sudah sangat larut dan aku benar-benar butuh tidur.” Suara Seok Jin jadi latar sesenggukanku. Dengan lancang aku mengetuk tombol merah pada ponsel. Memutus jaringan video call kami.

Kuhempas tubuhku ke ranjang. Meneruskan tangis yang terasa begitu menguliti setiap pori-pori kulitku. Min Yoon Gi benar-benar jahat. Min Yoon Gi benar-benar tidak bisa dimaafkan. Aku merasa buruk dengan diriku sendiri.

Ponselku kembali berdering. Tidak perlu repot melihat siapa yang menelepon karena notifikasi dari semua sosial media yang dipakai Yoon Gi hanya memiliki satu nada dering. Yang kini melengking-lengking minta diperhatikan. Aku menunggu hingga panggilannya otomatis tidak terjawab lalu melepas baterai ponsel.

Tangis masih berkuasa penuh atas tubuhku. Dalam keadaan seperti ini aku tidak bisa berpikir jernih. Dan Yoon Gi adalah seorang yang memiliki lidah terlalu tajam. Aku bisa saja mengambil keputusan bodoh karena ucapannya. Atau mungkin saja karena fakta lain yang tidak kuketahui tentang mereka.

***

Sinar matahari menyilaukan mataku yang baru saja terbuka. Tentu aku mengingat semalam aku menangis terlalu banyak dan langsung jatuh tertidur tanpa menutup tirai jendela. Aku menghela napas. Kebingungan mencari ponsel serta baterainya yang kulepas begitu saja. Setelah berhasil menemukannya, aku segera memasang sambil berharap tidak ada pesan yang terlalu serius.

Hari ini Jong Suk tidak ada jadwal jadi aku sedikit lega.

Nada dering yang sama dengan semalam kembali terdengar. Min Yoon Gi tidak menyerah menganggu pagiku. Aku menghela napas, lagi, sebelum menggeser tombol hijau.

Pria itu sudah rapi. Aku tahu jadwalnya tidak bisa menunggu. Yoon Gi sepertinya berada di balkon dengan pemandangan tower Tokyo di belakangnya.

“Kau tidur nyenyak.” Yoon Gi tidak mengajukan pertanyaan. Aku hanya mengangguk. Setidaknya menangis tidak membuat tidurku terganggu. “Aku mengkhawatirkanmu…,” ujarnya lemah, terdengar seperti berbisik.

“Aku yang salah karena merasa terlalu menyedihkan. Kau tidak melakukan apa-apa.” Mulutku tidak bisa berhenti bicara sebelum masalah ini tuntas. Aku mengembangkan senyum. Memberikan gestur pada Yoon Gi untuk tidak berlebihan.

“Aku hanya iri dengan mereka yang bisa menyebut namamu seenaknya. Sementara aku, aku harus merahasiakan kedekatan kita. Aku harus merahasiakan rasa bahagia tiap kau diam-diam menyebut namaku pada daftar ‘terima kasih pada’mu. Bahkan saat kita berkencan, aku juga harus merahasiakan diri agar Dispatch tidak memburumu.” Satu air mata lolos begitu saja. Aku mendongak, berusaha agar air mata lain tidak ikut jatuh.

“Aku mendukungmu… apa pun yang kaulakukan. Aku bangga padamu. Aku… aku hanya iri. Dan aku hanya mencoba membiarkan kau saja yang tahu hal ini, Min Yoon Gi. Aku tidak bisa bercerita pada siapa pun dan merasa panik karena mereka akan membeberkan hal ini pada media.” Aku menghela napas. “Kau adalah prioritasku. Kau tahu hal itu.”

Sekali lagi, pipiku sudah banjir air mata. Bahkan hanya dalam hitungan detik. Dari buram pengelihatanku akibat tangis, aku melihat Yoon Gi menyunggingkan senyum. Sebuah senyum tulus disertai gelengan-gelengan kecil.

“Aku tahu aku payah dalam menghibur seseorang. Tapi kurasa kau melewatkan satu artikel yang terbit tiga belas jam lalu karena sibuk menangis.” Yoon Gi masih tersenyum tulus. “Bacalah dan berhenti menangis. Kau juga tahu bahwa kau adalah prioritasku.”

Pada awalnya aku mengernyit namun aku membuat janji dengan menganggukkan kepala. Yoon Gi berpamit menyudahi video call lalu aku segera menjelajah internet untuk menemukan artikel yang dimaksud.

Bukan Karena Popularitas BTS, Suran Ungkap Alasan Kerja Bareng Suga

Selama acara untuk mini album pertamanya “Walkin,” Suran berbicara tentang bekerja sama dengan BTS Suga, yang memproduksi lagu pre-release “Wine”.

Penyanyi tersebut menyatakan, “Aku pikir, dari sudut pandang komersial, memang benar bahwa kami dapat melihat hasil seperti itu karena aku berkolaborasi dengan BTS Suga; Namun, aku tidak memilih untuk bekerja dengannya untuk tujuan pemasaran. Sebaliknya, aku ingin bekerja dengannya berbagai seniman dan menjalanji proses kreatif untuk memproduksi berbagai jenis musik. ”

Dia melanjutkan, “Suga adalah anak didik rapper yang dekat denganku, begitulah Suga pertama kali memintaku tampil di mixtape-nya. Memang benar bahwa memilikinya sebagai produser memiliki bobot pemasaran di belakangnya; Namun, perusahaanku pun tidak tahu bahwa dia adalah produserku sebelum kami selesai membuat lagunya. Setelah perusahaanku tahu, aku menyadari betapa besarnya kesepakatan itu.”

….

Dan aku tidak bisa menghentikan senyuman begitu saja. Setidaknya… Yoon Gi tidak memberikan respon atas pernyataan wanita itu.

-FIN-

Advertisements

2 thoughts on “No More

  1. ah seharusnya hajar aja itu yoon nya yerin-ah.. wkkwkk.. *ngomporinYerin*
    lagian tau sndiri kan yoon paling males ngomong. siapa tau dia gak ngerespon pernyataan mbak suran tp hatinya meledak-ledak kesenengan. kan yoon paling nihil dlm mengekspresikan perasaan hatinya.. hhihhi *dihajarYoon*

    hayuk lah mbak yerin~ mending nyari cadangan lain aja supaya ntr gak makib syok.. wkkwkk *kabur*

    antara pengen ngehibur kamu sama pukpuk in kamu nih dek. lagian trlalu kentara kayak org dating mah mreka dek.. kesannya manis aja gitu.. hehhee *ampuniKakak*

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s