Under These Skies Chapter 9

Under These Skies Chapter 9

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

Chapter 9

~~~

Story begin..

Ryu Ye Rin POV

Selasa

Telepon iseng itu benar-benar mengganggu. Mulai hari senin hingga sekarang, selasa siang, nomor itu terus muncul mengganggu kesehatan baterai ponselku. Aku harus mengumpat namun aku benar-benar tidak bisa melakukannya sekarang. Aku tengah berada di pusat perbelanjaan dengan banyak orang memburu diskon besar-besaran. Lingerie Victoria’s Secret yang agung.

Aku tetap berjalan. Tidak memedulikan area sekitar yang bergerombol menunggu masuk ke toko pakaian dalam itu. Memilih turun melalui eskalator lalu berjejal di antrean tester. Daging sapi yang luar biasa. Sesekali aku datang untuk menguji masakan dan tidak berniat untuk membeli. Aku sangat payah dalam memasak dan semua orang tahu itu.

Ketika aku selesai menyuapkan daging, seseorang di belakang berbisik, “Mengapa kau tidak mengangkat teleponku?” sembari meletakkan tangan di atas bahu. Kurasa refleksku masih bagus karena aku segera memelintir tangan dan menjatuhkan tubuh orang asing itu. Bunyi bedebum keras serta teriakan orang-orang yang memilih menjauh menjadi backsound kebanggaanku.

Namun belum sempat aku lebih membanggakan diri, netraku menelusuri wajah pria yang kujatuhkan. Sontak aku membelalak begitu saja. “Kim Tae Hyung?”

***

“Kau seharusnya memberikan pelukan hangat, bukan membanting tubuhku,” protes Tae Hyung. Pria di hadapanku ini benar-benar luar biasa. Lihatlah, bahkan sudah tiga puluh tiga menit berlalu semenjak insiden tadi dan ia masih saja mengusap kepala.

Aku memutar mata jengah. “Setidaknya aku bertanggungjawab dengan mentraktir makan.”

Tae Hyung mendecih. Namun beberapa detik terlewat ia bisa dengan mudah mengubah ekspresi. Kini menangkup kedua tangan di bawah dagu sembari tersenyum lebar. Oh, siapa yang merajuk sekarang.

“Berhenti bertingkah menjijikan, Kim Tae Hyung.” Aku tidak peduli suaraku mengganggu pelanggan di sekitar. Membuat pria di hadapanku bertingkah normal sedetik saja aku sudah kewalahan. Bahkan Sung Jin tidak pernah sebandel ini.

Lagi-lagi Tae Hyung mendecih. “Untuk ukuran seorang sahabat yang tidak bertemu selama tiga tahun kau benar-benar menyebalkan.” Lalu merebahkan kepala sembari memajukan bibir.

Aku tertawa kecil. Tidak ada yang berubah dari sosok Kim Tae Hyung yang kukenal semenjak kami sama-sama masih memakai popok. Konyol dan menggemaskan. Orang-orang mungkin menganggapnya aneh namun pengecualian untukku. Tae Hyung adalah sosok yang harus kaucari saat masalah membelenggu. Ia akan berubah menjadi sosok serius dan sering mengucap kata-kata mutiara.

“Bagaimana kabarmu? Apakah Jepang sudah kehabisan stok wanita cantik sehingga kau memutuskan untuk kembali?” Aku ingat alasan yang ia utarakan padaku tiga tahun lalu. Hanya candaan, sejujurnya aku tahu ia tidak terima dengan perceraian kedua orangtuanya.

Alih-alih menjawab, Tae Hyung justru merentangkan tangan. Dahiku mengerut. Jangan katakan ia memiliki rencana konyol. “Peluk aku dan kau akan mendapatkan jawaban.”

Tae Hyung benar-benar gila. Karena aku juga gila, aku bangkit dari kursi dan memeluknya. Bohong jika mengatakan aku tidak merindukan Tae Hyung. Pria ini sudah kuanggap keluarga. Pria terpenting ketiga setelah ayahku dan Sung Jin.

“Aku merindukanmu, Ye Rin-ah.” Ia menaruh kepala di bahuku. Seperti anak kucing yang manis. Aku tersenyum tanpa sadar. “Aku hanya merasa bosan. Lagipula aku benar-benar merindukan Seoul.”

Senyumku masih mengembang bahkan setelah pelukan terlepas. Aku kembali duduk di kursi, menyeruput capucinno yang hampir dingin. “Dan bagaimana pekerjaanmu?”

“Aku hanya mengambil kontrak lepas dengan perusahaan animasi di sana. Jadi mereka akan mengirim detail pekerjaan yang harus kukerjakan lewat email dan mengirim hasilnya lewat email. Itu saja.” Tae Hyung ikut meminum latte-nya.

Mataku membulat tidak percaya. “Jadi kau benar-benar seorang animator?”

Tae Hyung mengangguk. “Aku bahkan sudah menjadi penulis webtoon terkenal sekarang.”

Rabu

Semenjak pertemuan kemarin Tae Hyung tentu tidak membiarkanku lolos begitu saja. Pria itu sekarang tinggal di rumahku untuk sementara. Hanya sampai ia menemukan rumah baru. Aku menghela napas. Bahkan pendapatannya sudah lebih dari cukup untuk menyewa sebuah apartemen tapi ia tidak melakukannya.

Pria itu sekarang bermain dengan Sung Jin. Mengajarkan bagaimana cara menggambar yang baik. Dan aku hanya berdiri melihat interaksi keduanya.

Kamis

Min Yoon Gi meminta tolong padaku untuk mencarikan rumah di sekitar kompleksku. Aku tidak yakin ingatanku cukup baik untuk merekam pembicaraan orang namun aku benar-benar yakin seseorang mengatakan ingin menjual rumah. Aku mengendarai sepedaku ke sana. Ke ujung gang tepat di depan rumah playboy gila yang memberikanku buket bunga.

Pria itu ada di depan rumah. Sedang mencuci sepeda motor. “Selamat siang, Ye Rin-ah.” Dan dia memanggilku amat sangat tidak sopan. Sialan. Apa dia tidak tahu berapa umurku?

“Ya. Selamat siang,” sahutku langsung memasuki pelataran setelah gerbang terbuka. Bibi Keiko menyambutku ramah. Dan kami berbincang mengenai rumahnya. Beliau mengatakan bahwa Min Yoon Gi harus segera melihat-lihat.

***

“Siapa yang kautelepon?” Tae Hyung mengejutkanku. Aku sedang mencoba menghubungi Min Yoon Gi dan dokter sombong itu menguji kesabaranku.

“Ayah Sang Hyun. Dokter yang sering kaudengar ceritanya dari Sung Jin.” Aku masih mencoba. Tae Hyung hanya mengangguk tanpa menimpali lebih jauh.

Jum’at

Sung Jin mengatakan padaku bahwa ia membuat janji dengan Sang Hyun di hari minggu. Sang Hyun memintanya menemani berbelanja sesuatu. Dan Sung Jin benar-benar menyebalkan dengan tidak menyebutkan detail mengenai ‘sesuatu’ itu.

Sabtu

Tae Hyung mengatakan ingin menjenguk kedua orangtuanya. Dan tidak akan kembali sampai hari senin. Aku menghela napas entah mengapa. Setidaknya ia masih peduli dengan paman dan bibi meski keduanya sudah berpisah.

Minggu

“Ibu, tolong siapkan baju untukku.” Sung Jin berteriak dari kamar mandi. Aku mencebik sebelum menggeledah lemari. Memilih satu set pakaian terbaik yang Sung Jin punya lalu meletakkannya di atas ranjang.

“Ibu akan tunggu di luar,” ujarku berjalan meninggalkan kamar Sung Jin. Pria kecilku dan antusiasnya. Ia bahkan merasa senang hanya diajak Sang Hyun berbelanja. Sesuatu yang terdengar biasa namun terlihat luar biasa bagi Sung Jin.

Aku menunggu di teras. Sung Jin mengatakan jika aku harus memastikan Sang Hyun belum datang sampai ia siap pergi. Dan aku menurutinya. Terkadang permintaan kecil seperti itu membuatku terlihat konyol.

Sepuluh menit kemudian Sung Jin berdiri di hadapanku. Tersenyum senang sembari berputar-putar. “Bagaimana penampilanku, Ibu?”

Aku mengangkat jempol. Dua menit kemudian mobil hitam berhenti di depan gerbang. Sang Hyun berlari mendekatiku. Segera Mencium pipi kananku cukup lama. Aku membalasnya. Ciuman bertubi-tubi di kedua pipinya.

“Kami berangkat, Ibu.”

“Kami berangkat, Bibi.”

Sung Jin dan Sang Hyun berujar bersamaan. Aku masih mempertahankan senyum. Dokter sombong itu masih setia berdiri di samping mobil bahkan setelah anak-anak masuk. Ia mengatakan ingin menculik Sung Jin dan aku segera menaikkan jari tengah.

Adu argumen berlangsung cukup sengit. Sampai kemudian ia berkata, “Kau tahu, Ryu Ye Rin. Mayoritas wanita menyukai lelaki berkepala besar.”

Guyonan seks. Brengsek. Aku segera mengumpat. Dokter sombong harus dihentikan sebelum kepalanya semakin besar. Sialan. Bahkan aku sedang memikirkan kepala yang lain.

Senin

Min Yoon Gi mengundangku ke pesta kepindahannya hari sabtu nanti. Kami tidak berakhir sarapan bersama seperti minggu lalu. Hanya saja senyum yang terkembang di bibirnya menjelaskan bahwa aku harus datang.

Selasa

Sang Hyun akan menginap selama dua hari karena Min Yoon Gi bertugas shift malam. Dua bocah kecil itu bermain bersama Tae Hyung saat aku mencoba bereksperimen membuat kue karamel. Setidaknya percobaanku tidak buruk meski sedikit bantat.

Ketiganya meminta izin padaku untuk pergi ke rumah sakit. Sang Hyun mengatakan bahwa pager sang ayah ikut masuk di dalam ransel. Dan mereka kembali dengan mengatakan Tae Hyung menggoda perawat berwajah barbie.

Rabu

Aku kembali mencoba resep masakan yang kutonton pada jejaring sosial youtube. Dan tebak, Sung Jin serta Sang Hyun mengatakan kejujuran yang amat sangat menyakitkan. Masakanku hambar. Aku tahu itu akan terjadi.

Kamis

Tae Hyung kembali ke rumah sakit untuk menemui sang perawat barbie. Namanya Naomi. Aku tahu itu karena Tae Hyung terlalu sering mengucapkannya.

Jum’at

“Apa kau belum mendapat pekerjaan?” Min Yoon Gi menyidekap tangan di depan dada. Menatapku dengan mata tipis yang hanya tinggal segaris saat menantang sinar matahari seperti ini. Ia sedang berada di depan gerbangku.

Aku mengendikkan bahu. “Kau sudah tahu jawabannya.”

Yoon Gi mengangguk. Tangan kanannya membenarkan letak poni yang hampir menutupi kelopak mata. “Bisakah kau menjadi pengasuh Sung Jin?”

Netraku membulat senang. Tentu saja aku tidak akan menyiakan kesempatan. Daripada harus berakhir menjual truk kesayangan demi bertahan hidup, setidaknya pria di hadapanku memberikan pekerjaan yang layak.

Aku segera mengangguk. Menyetujui ucapannya dengan senyum mengembang.

Sabtu

Aku sudah berada di rumah Min Yoon Gi sejak pagi tadi. Membantu menyiapkan pesta pindah rumah yang akan berlangsung mulai sore nanti. Diperkirakan tidak akan banyak orang datang karena dokter sombong itu benar-benar pelit. Bahkan ia tidak mengundang mantan istrinya untuk membesarkan hati Sang Hyun.

Pesta dimulai tepat pukul tiga sore. Yoon Gi memanggang daging di sampingku sementara aku harus terjebak di sini menjadi asistennya. Anak-anak bermain bersama ayah Yoon Gi serta Tae Hyung. Setidaknya sahabatku berhasil mendapat undangan berkat kepiawaiannya mencuri hati anak-anak.

“Mengapa kau tidak mengundang Vivian?” tanyaku penasaran. Dokter sombong ini harus dipancing agar mau membuka suara.

Yoon Gi menggeleng. Bibirnya mengerucut namun ia tidak mengatakan apa-apa. Sejujurnya aku hendak mengomentari mimik wajah yang berbanding terbalik dengan karakter dingin dan arogannya. Hanya saja belum sempat aku membuka suara, ia sudah berujar, “Sang Hyun memintaku untuk tidak mengundangnya. Dia justru mengundang adikku. Hanya saja adikku tidak bisa datang.”

“Kau punya adik?” Aku terkejut. Kukira ia adalah anak bungsu karena tinggal dengan ayah dan ibunya. Namun dugaanku benar-benar salah.

Yoon Gi mengangguk. Membalik daging kemudian menunjuk arah Sang Hyun. “Dia akan menelepon bibinya jika kau ingin tahu. Fawn seumuran denganmu.”

Aku mengikuti arah telunjuk Yoon Gi. Menggeleng sekilas memilih membantu melihat daging-daging di panggangan. “Sudah matang.”

Dengan cekatan Yoon Gi memindahkan daging ke atas piring. Aku bertugas membawanya, meletakkan di atas meja tidak jauh dari lokasi Sang Hyun dan Sung Jin yang terlihat menelepon sang bibi. Sebelum aku kembali membantu Yoon Gi, telingaku yang sigap tidak sengaja mendengar ucapan Sang Hyun.

“Paman Nam Joon sedang bertugas? Ah. Kenapa maskapai penerbangan menyebalkan sekali?”

Dan aku membeku di tempat. Nam Joon? Maskapai penerbangan?

To Be Continued..

A/N: Tambahan karakter lagi nih >< *plak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s