Ribbon Chapter 6

Ribbon Chapter 6

image

Untuk kali ini, Jung Kook benar-benar merasakan beban di kepala terangkat. Rasa ini bahkan lebih dari pertama kali Anastasya mencumbu, membawanya dalam surga dunia. Maka dengan kesadaran yang belum pulih seratus persen, Jung Kook kembali melingkarkan pelukan pada tubuh kecil yang masih berada di atasnya.

Pusat tubuhnya seketika membesar mengingat apa yang ia lakukan sebelum ambruk dan tertidur. Mereka masih menempel satu sama lain dan intim dan terlalu membuat bagian keras itu semakin mengeras. Jung Kook kembali membuat pergerakan. Menggeram kecil sembari perlahan membuka mata. Ia yakin Anastasya menikmati setiap pergerakan kecilnya. Menikmati setiap gerakan demi gerakan yang ia sajikan. Namun ketika mata bulat itu telah membuka sempurna, yang ia dapati justru isakan.

Juga wanita lain yang bukan Anastasya-nya.

Title: Ribbon
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

“Ikatan pita mengendur lalu semua tidak sama seperti dulu lagi. Hatimu pecah, hatiku lebur. Jiwamu retak, jiwaku mengabur.”

Chapter 7
Dangerous Feeling

~~~

Story begin..

“Kau sudah membuat perubahan besar.” Seorang wanita berkacamata yang duduk di hadapan Na Young tersenyum. Ia menatap sungguh-sungguh ke arah Na Young yang masih termenung tidak mengerti. “Terapimu berhasil. Kau sudah mampu melawan rasa takut itu bahkan pada si pelaku.”

Na Young menggeleng. Sejujurnya ia masih tidak mengerti bercerita selama setengah jam dengan terapis barunya di Seoul justru mendapat jawaban demikian. Ia jelas mengingat bagaimana rasa takut menjalar ketika berada di keramaian. “Tolong katakan sesuatu yang lain. Aku masih merasakan phobia saat bertemu dengan laki-laki namun tidak dengan Jung Kook. Aku bahkan bisa menyentuhnya dan… dan kami berciuman.”

Na Young menjeda kalimat dengan menghela napas. Bercerita mengenai pengalaman baru yang ia tuai mampu membuat emosinya naik. “Beberapa waktu lalu aku meminta kekasih temanku mencoba hal ini namun sama sekali tidak berhasil. Aku masih menunjukkan gejala androphobia bahkan dalam skala lebih besar.”

Na Young mengusap wajah. Kepalanya benar-benar pening sekadar memikirkan betapa konyol phobia yang ia alami. Mengapa harus Jung Kook? Seorang yang bahkan tidak ingin diingat lagi seumur hidupnya. Satu tetes air mata jatuh. Hari ini Na Young tidak bisa berkhianat lebih jauh.

“Bukankah berarti itu sebuah kondisi spesial? Setelah aku memikirkan berulang-ulang, seorang yang dapat menyembuhkanmu mungkin adalah Jung Kook. Aku yakin rasa yang sedari dulu kaupendam mampu menahan rasa benci yang terpupuk. Bibir bisa mengelak namun mata dan hatimu tidak.” Sang therapis menyentuh tangan Na Young. “Kau bisa mencoba hubungan simbiosis mutualisme dengannya. Aku yakin semua akan berbeda setelah kau mencoba. Dia bisa melindungimu dari dunia luar namun jangan sampai kau merasa ketergantungan.”

Netra Na Young kembali membulat. Berhubungan kembali dengan Jung Kook adalah hal terakhir yang benar-benar tidak ingin ia lakukan. Namun mengapa sebagian dari dirinya justru mengiyakan pernyataan sang terapis? Benarkah sudah saatnya ia membuka diri dengan orang lain? Atau dalam konteks ini adalah Jung Kook?

“Aku akan memikirkannya kembali,” ujar Na Young menghela napas panjang. Hampir satu jam berlalu yang berarti sesi ketiganya untuk hari ini akan segera berakhir.

Sang terapis mengangguk. Melepas kacamata lalu menaruh di pangkuan. “Bawa dia ke sini jika kau menyetujui pilihanku. Kita tidak akan tahu jika tidak berusaha mencoba.”

***

Empat orang yang mengitari meja sama-sama mengernyitkan dahi. Seolah beban berat yang kini dipikul tidak mampu menemukan titik terang. Pria dengan jaket kulit hitam menghela napas, menghempas tubuh ke bantalan kursi sembari mengerang. Konflik yang seharusnya telah tertutup kini menganga kembali. Bagai luka lama yang hampir mengering namun harus kembali tersayat belati.

“Kita tidak bisa membiarkan Jung Kook mematuhi tindakan agensi itu. Bagaimanapun caranya kita harus menemukan titik terang.” Min Yoon Gi, seorang yang biasanya tenang mengucap kalimat itu dengan penekanan ekstra. Ia tidak bisa begitu saja menutup mata pada skandal mantan artis yang ia produseri.

Nam Joon mengangguk. “Kita harus melakukan penyelidikan. Aku yakin ada pihak yang terlibat di balik skandal konyol ini.”

Ho Seok ikut mengangguk. Ia menepuk-nepuk pundak Jung Kook berusaha menguatkan. Sedari tadi Jung Kook hanya diam, sesekali mengerang frustrasi mengingat kasus apa yang kini ia alami. Tepatnya tidak menyangka masalah lalu harus terungkit kembali. Ditambah bumbu drama yang akan membawa kasus ini ke kancah hukum.

Baru saja Jung Kook merasa bangun dari mimpi buruk namun rupanya ia harus berhadapan dengan masalah yang lebih besar. Baru saja Jung Kook merasa mampu sedikit bersenang-senang namun ternyata Tuhan masih belum menginginkan dirinya menyecap kebahagiaan.

“Bagaimana jika kita memulai penyelidikan diam-diam dengan mendatangi bar? Kita harus mendapat rekaman CCTV bagaimanapun caranya.” Nam Joon mencetus sebuah ide. Peruntungan dari ide yang ia pikirkan memperoleh suara lima puluh banding lima puluh. Ia berani bertaruh jika benar ada seorang yang ingin memberi kartu mati pada Jung Kook, maka penyelidikan ini tidak akan membuahkan hasil. Tiga orang lain mengangguk menyetujui.

Nam Joon meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja, mencoba menelepon sang istri untuk menggantikannya sementara. Pria lesung pipi itu bahkan tidak tanggung-tanggung untuk mengajak ketiganya bergerak sekarang juga.

***

Di dalam mobil yang melaju konstan, Jung Kook hanya mampu memasang raut sebal. Kerutan pada dahi bertambah setelah masalah yang ia yakini akan cepat mereda beberapa hari justru berkobar seperti tersulut bara lain. Hanya karena dirinya tidak ingin bertanggungjawab, Naomi bahkan membeberkan cerita fiktif pada semua media massa. Hanya karena dirinya memilih menjadi pengecut dengan mengundurkan diri dari agensi, semua jadi lebih runyam dari yang ia pikirkan.

Ia tahu masalah ini tidak semudah tujuh tahun lalu. Di mana Jung Kook bahkan tidak sempat mengucapkan maaf karena gadis yang ia tiduri lenyap tak berbekas. Seolah raganya tersembunyi dari dunia luar dan tidak akan pernah kembali.

Jung Kook ingat ekspresi Im Na Young. Mengabaikan tubuh polos yang tidak tertutup selembar kain, gadis itu benar-benar kacau. Matanya sembab karena terus-terusan menangis. Bahkan ketika Jung Kook membantu memakaikan kembali pakaian yang berserakan, hanya pandangan kosonglah yang terpancar pada manik cokelat itu.

Jung Kook seolah tidak mengenali siapa Im Na Young di hadapan. Yang berjalan lurus tanpa menoleh maupun mengeluarkan kata. Jung Kook hanya membuntutinya dari belakang. Sembari memukul kepala berusaha mengingat kejadian yang membuat keduanya terdampar di gudang tua tanpa busana.

Setelah memastikan Na Young sampai di rumah dengan aman, ia segera berbalik untuk berjalan pulang. Masih terus menggali potongan ingatan yang terlupa dari memori otak.

Kemudian hari demi hari berlalu begitu saja. Jung Kook masih bersekolah seperti biasa. Namun Na Young tidak pernah terlihat kembali semenjak hari itu. Ye Rin bahkan telah mengganjari pukulan bertubi-tubi pada Jung Kook. Menyalahkan dirinya karena membuat Na Young menghilang tanpa memberikan kabar.

Ingatan Jung Kook berterbangan begitu saja pada suatu waktu. Kembali tersusun bagai puzzle lengkap. Tentang seorang pria berbadan besar yang ia kira merebut Anastasya darinya. Tentang ia yang mendapatkan pukulan telak di rahang lalu jatuh tersungkur menabrak meja. Pekik keras orang-orang yang terkesan dengan aksi nekat Jung Kook bahkan terekam jelas di telinga.

Ia masih bisa berdiri, berusaha kembali melayangkan tinjuan tapi ia hanya memukul udara. Sebuah hantaman besar hadir di kepala belakang. Membuatnya tidak sadarkan diri. Atau setidaknya itulah yang ia pikirkan karena semua berubah gelap.

Jung Kook sendiri tidak tahu berapa jam sudah terlewat. Yang ia tahu seorang tengah berusaha memapahnya. Tubuh kecil yang Jung Kook perkirakan seorang gadis menempel erat, lalu ia mulai kembali berhalusinasi. Menyebut gadis itu sebagai Anastasya-nya dan kemudian mencumbu membabi buta.

Jung Kook mengembuskan napas lelah. Kasus yang sama namun beda cerita kembali harus ia ulangi sendirian. Kasus yang lebih rumit, yang tidak akan mungkin bisa cepat mereda. Semua karena situasi dan kondisi yang berbeda. Sekarang semua orang memandang jijik alih-alih memuja seperti hari lalu.

Prodigy Jeon menggulirkan pandangan pada sosok Jung Ho Seok yang duduk di samping. Kemudian menatap Min Yoon Gi sang pengemudi pula Kim Nam Joon yang duduk di samping Yoon Gi. Mereka semua sama, menampilkan ekspresi keras seolah tidak terima. Mereka merasa seolah terikat dan merasakan hina karena masalah ini.

Mobil melaju tenang hingga berhenti di sebuah bar yang Jung Kook datangi dua minggu lalu. Mereka bergegas turun setelah mengisyarat anggukan. Tidak ada yang berbicara sampai keempatnya memasuki bar yang sudah dikunjungi beberapa tamu. Bahkan ketika matahari baru saja hendak pulang ke peraduan, bar ini sudah memiliki pelanggan tetap.

Tanpa harus berbasa-basi, Nam Joon memimpin jalan. Berhenti di depan bartender yang tengah mengelap gelas berkaki tinggi. “Saya Kim Nam Joon pemilik agensi High K Entertainment. Saya ingin bertemu dengan pemilik bar. Apakah beliau ada?” ujar Nam Joon tegas ketika mendapati raut bingung sang bartender.

Bartender berwajah dingin itu mengangguk, menuntun jalan memasuki pintu tidak jauh dari meja tinggi tempat mereka berhenti tadi. Menelusuri ruangan cukup besar itu kemudian berhenti di depan pintu berwarna cokelat dengan ukiran rumit. Sang bartender mengetuk beberapa kali. “Madam Grace, pemilik agensi High K Entertainment ingin bertemu Anda.”

***

“Saya tidak yakin apakah rekaman ini cukup memberikan bukti. Saya turut menyesal harus menyeret nama baik Tuan Jung Kook karena kurangnya CCTV di bar kami.” Seorang wanita bergincu semerah darah memutar ulang rekaman CCTV sesuai perintah Nam Joon. Mereka berempat memerhatikan saksama enam belas petak yang ditampilkan pada televisi dua puluh satu inch. Tidak berusaha berbicara sebelum menemukan kejanggalan.

CCTV itu hanya menampilkan rekaman orang-orang yang keluar masuk bar, kegiatan bartender, pula lorong-lorong yang menghubungkan langsung pada gudang penyimpanan. Lalu kamera pada channel tiga memperlihatkan gadis yang tengah dicumbu panas. Gadis itu berontak namun tangannya segera diikat dengan dasi.

“Bukankah itu Naomi?” Ho Seok yang pertama kali membuka suara. Ia menunjuk arah channel tiga. Membuat empat kepala yang berada di ruangan itu memfokuskan pandangan. “Dia bilang dia dicumbu dan diikat dengan dasi.”

Semua orang mengangguk setuju. Sebuah bukti cukup kuat yang membuat mereka harus kembali berpikir. Jika benar Naomi ikut dalam andil, mengapa gadis itu seolah benar-benar tak berdaya?

“Di sana mobilku terparkir.” Jung Kook menunjuk arah channel satu. Mobilnya memang masih ada di sana, berkumpul bersama mobil-mobil lain.

Madam Grace menekan mouse pada channel satu, membiarkan satu channel itu terlihat memenuhi layar kaca. Namun dua menit kemudian, layar kaca menghitam dengan sendirinya. Seolah ada yang sengaja merusak rekaman tersebut. Rekaman baru pulih sekitar sepuluh menit kemudian. Dengan mobil Jung Kook yang sudah tidak ada di tempat. Semua membeku sesaat.

***

Macbook menyala di tengah meja memperlihatkan rekaman CCTV berdurasi lima belas menit. Rekaman sama dengan rekaman yang dilihat dari ruang kontrol bar. Min Yoon Gi, Jung Ho Seok, Kim Nam Joon serta Jeon Jung Kook duduk di sofa memerhatikan saksama. Sesekali Jung Kook ditugaskan menekan spasi demi mencatat detail apa saja yang ditemukan.

“Coba perhatikan mobil putih di depan mobil Jung Kook.” Nam Joon menunjuk titik merah berkedip-kedip di jendela depan. “Apa kalian memikirkan apa yang kupikirkan?”

Baik Yoon Gi, Ho Seok, maupun Jung Kook mengangguk serempak. “Aku sudah mencatat nomor kendaraannya. Semoga saja Seok Jin mau berbagi informasi.” Yoon Gi tersenyum. Sekarang satu titik terang muncul di saat-saat kritis. Mobil putih yang tadi dibicarakan dilengkapi CCTV. Akan sangat mudah mendapatkan dalang jika pemilik mobil mau membagi data black box.

“Tapi masih ada hal yang tidak kumengerti.” Jung Kook menekan tombol close. Memindahkan kursor pada satu lagi video dalam folder kemudian menekan touchpad dua kali. Rekaman di mana Naomi tengah dicumbu paksa terlihat di layar. “Apakah Naomi juga sama denganku? Maksudku… dia juga tidak terlibat?”

Ho Seok menerbitkan senyum. Lantas menepuk pundak Jung Kook cukup keras. “Masih ada dua kemungkinan jadi kita tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Semoga besok Yoon Gi hyung bisa membawa kabar baik dan penyelidikan bisa segera dilakukan.”

“Akan kupastikan namamu bersih kembali, Jung Kook. Jangan khawatir dan pulanglah. Kita sudah bekerja keras hari ini.” Nam Joon ikut tersenyum. Keempatnya membubarkan diri dari kantor agensi sepi. Pukul sebelas empat puluh lima malam. Mereka bahkan hampir melewati hari baru demi terlarut dalam masalah kelas teri.

***

“Aku terus memikirkan hal ini berulang-ulang, Ye Rin. Tapi tetap saja tidak ada yang bisa kuperbuat.” Na Young menyisir bulu kucing putih yang tertidur di pangkuan. Sebelah tangannya mendekatkan ponsel di depan telinga. “Menurutmu apakah aku harus menyetujui ucapan terapis itu?”

Ada jeda cukup panjang sebelum Ye Rin di seberang sambungan menghela napas. “Bukankah kau berjanji pada dirimu sendiri untuk menjauhi Jung Kook selamanya?”

“Kau tahu hal itu benar.” Na Young menggigit bibir. Seolah tahu jawaban Ye Rin akan membuatnya semakin mengkerut.

“Lalu mengapa kau masih bimbang hanya karena terapis yang bahkan salah mendiagnosa dalam tiga kali pertemuan?”

Na Young tahu. Ia memang seharusnya tidak perlu menanggapi semua perkataan sang terapis. Namun entah mengapa saran yang ia dengar tadi pagi justru terus-terusan terngiang bagai alarm dalam kepala. Pertahanan Na Young retak. Pendirian yang ia pupuk jauh-jauh hari seakan tergulung ombak.

“Harusnya aku mampu mengiyakan pernyataanmu barusan. Tapi hatiku tidak mengizinkannya, Ye Rin. Aku tidak tahu mengapa ada sosok baru dalam diriku yang menginginkan keberadaan Jung Kook.”

Ye Rin kembali menghela napas. Sepertinya kantuk tidak dapat dinetralkan terbukti dengan uapan yang terdengar jelas di telinga Na Young. “Pikirkan lagi jawabannya besok. Ini sudah malam, Na Young. Kau mau membuatku terlambat bangun pagi?”

Na Young tersenyum kecil. Mengatakan selamat tidur lalu menutup telepon. Tidak mau mengganggu Ryu Ye Rin lebih lanjut. Namun tidak juga berniat terlelap meski hari telah berganti.

Pikirannya masih berkelana hingga merecall memori-memori lama. Memori yang berusaha terlupa namun semakin lama semakin terlihat di pelupuk mata. Seoul memang tidak seluas yang ia kira. Takdir pun juga tidak semulus yang ia terka.

Terkadang ia berpikir mengapa hidupnya jadi serumit ini? Pergi dari rumah dan terlunta-lunta di kota orang. Menghilangkan jejak berharap segala kenangan yang ditinggalkan hanya jadi bunga tidur semata. Namun semua teori yang dulu mendiami otak terpecah belah ketika ia bahkan tidak bisa pergi dari kenangan itu barang sejengkal.

Dan Na Young tahu seharusnya ia memang tidak menyerah. Na Young tahu seharusnya ia mampu memutuskan segala sesuatu demi kebaikan hidupnya.

Obat dari luka adalah berdamai dengan pembuat luka itu sendiri. Obat dari kekalahan adalah memulai ulang kompetisi dan memenangkan pertandingan.

Dan segala pikiran berbahaya yang berputar-putar dalam otak bermuara pada satu jawaban. Bahwa Na Young harus mencoba simbiosis mutualisme dengan Jung Kook.

To Be Continued..

A/N: Niatnya mau nyelesaiin konflik Jungkook sama Naomi di chapter ini tp takut kecepetan jadi aku ganti deh >

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s