Under These Skies Chapter 7

Under These Skies Chapter 7

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

Chapter 7

~~~

Story begin..

Ryu Ye Rin POV

“Maafkan aku, Ibu.” Sung Jin menunduk tidak berani menatap langsung manik mataku. “Kukira aku tidak harus menceritakan ini karena Bibi Min Seo menerimaku setiap pulang sekolah.”

Aku mengusap wajah kasar. Sebelumnya ia memang tidak pernah mengatakan apa-apa dan kupikir semua berjalan baik saat aku bekerja. Sial. Ternyata  dugaan kuatku salah. Ini adalah kesalahan fatalku nomor ke sekian setelah dulu hampir saja membunuh Sung Jin dalam kandungan.

Aku mendesah sebelum mengucapkan permintaan maaf pada dokter sombong di hadapanku. Seringaiannya sangat menyebalkan dan aku bisa melihat itu meski hanya beberapa detik. Ia menyodorkan secarik kertas resep padaku lalu beralih menatap Sung Jin.

“Semoga lekas sembuh. Sang Hyun pasti sangat khawatir jika aku memberitahunya.” Tangan besar itu mengusap rambut hitam Sung Jin. Persis seperti apa yang ia lakukan terhadap Sang Hyun. Aku merotasikan mata melihat putraku juga ikut tersenyum.

“Baiklah. Terima kasih atas bantuannya, Dokter Min.” Aku membungkuk singkat. Mengajak Sung Jin keluar dengan perasaan masih berkecamuk.

Sabtu

Panas Sung Jin sudah turun. Ia berkeringat banyak semalam. Membuatku harus terbangun beberapa kali untuk memastikan ia kering atau tidurnya akan terganggu. Wajahnya sudah lebih sumringah dibanding kemarin namun aku masih tetap merasa khawatir.

Aku meminta izin pada ayah untuk datang ke tempat kerja. Mengajukan surat pengunduran diri. Beliau setuju dan memberikanku usapan di rambut. Ayah adalah orang yang paling menentangku bekerja sebagai tukang delivery dan kurasa beliau sangat senang ketika aku memutuskan mengakhiri kontrak kerja.

Minggu

Ada banyak hal yang bisa kulakukan di rumah dan aku memulai hari ini dengan bersih-bersih. Semua linen kotor, seprai kotor, tirai kotor serta semua kain kotor kuangkut dalam truk. Aku harus membawanya ke tempat laundry nanti.

Selesai dengan kain-kain kotor, aku mengeluarkan mesin penyedot debu dari gudang. Ayahku sedang memasak bersama Sung Jin yang tertawa di samping. Punggung mereka terlihat dari pintu pantry dan aku tidak bisa menahan senyum. Mereka benar-benar terlihat seperti kakek dan cucu pada umumnya. Perlu satu lagi pria agar hidupku lengkap. Seharusnya.

Mengabaikan pikiran yang mulai tidak menentu arah, aku segera menyedot debu di semua ruangan. Ruang tamu jadi bagian paling melelahkan. Tidak ada yang ingin bertamu ke rumahku. Itulah alasan mengapa aku dan Sung Jin tidak pernah membersihkan sofa-sofa ini.

“Sang Hyun akan datang hari ini.” Aku mendengar nada gembira dari ucapan Sung Jin barusan. Oh, dan sepertinya aku harus bersyukur karena tamuku tidak jadi menempati sofa kotor.

Senin

Ayahku kembali ke Ilsan subuh-subuh. Sung Jin mengantarkan kepergian kakeknya dengan kantuk yang masih bersarang. Ia kembali tertidur sesaat setelah mobil ayah tidak terlihat lagi. Aku tersenyum kecil, menggendong Sung Jin kembali ke kamar.

Sesaat aku berhenti menatap wajah polos Sung Jin. Kantukku sudah hilang akibat ucapan ayah barusan. Beliau meminta kami agar tinggal kembali di Ilsan dan aku bisa mengelola restoran kecil ayah di sana. Aku belum memberi jawaban. Ayah mengerti hal ini karena aku punya berbagai macam alasan untuk membandingkannya. Salah satunya adalah Sung Jin. Aku tidak mungkin kembali membiarkan bocah kecilku beradaptasi sementara ia sudah mendapat teman di sini.

Aku menghela napas. Berjalan pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Setidaknya aku bersyukur memiliki ayah seperti beliau. Mengerti keadaan putrinya setiap saat dan tidak memaksakan kehendak.

***

“Ibu, aku berangkat.” Sung Jin mencuri ciuman di pipi kananku sebelum menuruni truk. Aku terkekeh kecil. Lekas mengikutinya turun untuk membalas ciuman barusan. Ia memberontak, berlari-lari kecil sebelum Sang Hyun menangkapnya.

Sekarang aku punya dua mangsa empuk. Segera saja aku menubruk mereka, menghujani ciuman di pipi kanan Sung Jin serta pipi kiri Sang Hyun. Membuat mereka berteriak histeris dan bersemu merah. Mereka berjalan cepat, menutupi wajah masing-masing nampak benar-benar malu. Aku terkekeh. Senyum sangat cepat merambat di bibirku.

“Kau sangat ganas untuk ukuran seorang wanita.” Sebuah suara familiar terdengar dari belakang. Aku berhenti tersenyum. Sial. Aku melupakan fakta dokter sombonglah yang mengantarkan Sang Hyun.

Menoleh, aku membentuk seringai kecil sebelum menjawab pernyataannya. “Ya. Aku memang ganas. Tapi maaf aku tidak memberikan ciuman pada seorang dokter.”

Dokter sombong tertawa. Mata sipitnya hilang ketika ia tidak mampu menghentikan kekehan. Oh sial. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol mulutku. “Aku tahu. Levelmu adalah seorang pilot,” ujarnya kembali masih dengan kekehan.

Aku tahu ini adalah penghinaan paling serius jika saja aku adalah salah satu dari wanita berkuku merah dengan dress tidak menutupi bokong. Namun itu sama sekali tidak masalah. Aku menaikkan tangan ke depan dada. “Sayangnya aku sudah berhenti mencium seorang pilot sejak delapan tahun lalu.” Dan aku mengutuk mulut sialanku yang selalu meladeni ocehannya.

Ia berhenti terkekeh, tentu saja. Tidak ada alasan logis yang mampu kujelaskan mengapa aku harus mengungkap fakta ini. Aku sudah cukup lelah untuk sekadar memiliki rasa frustrasi. Jadi ketika ia tidak bereaksi lebih, aku memutuskan kembali dalam truk sebelum petugas kebersihan menegur.

“Sarapan bersama?” Belum sempat berbalik dokter sombong itu berujar. Aku menaikkan sebelah alis. “Ya. Aku mengajakmu sarapan bersama. Daripada memakan telur dadar gosong lebih baik jika kita memakan sesuatu yang lebih manusiawi.”

Sialan. Aku harus mengumpat. Sebenarnya siapa pria di hadapanku dan berapa banyak fakta yang ia tahu dariku? Aku mendengus. Membuat catatan kecil di otak untuk memberikan Invasi Spanyol pada Sung Jin setelah ia pulang sekolah nanti.

Aku kembali mendengus. “Baiklah. Tapi aku harus membawa teman terbaikku. Kau tentu tahu bahwa trukku sangat menyusahkan, ‘kan?”

Ia terkekeh. Oh, aku mulai benci dokter ini dan kekehannya. “Baiklah tapi kau harus berada di depan. Aku tidak mau kau menghilang.”

Dan aku tidak bisa menghentikan aksi memutar mata. Apa sekarang ia menganggapku tukang ingkar janji?

***

Aku bertanya-tanya dalam hati sudah berapa lama tepatnya tidak berada di satu meja bersama seorang lelaki. Dokter sombong itu sibuk dengan pelayan yang mencatat pesanan dan aku tidak tahu harus mengatakan apa. Ini bukan keadaan canggung di mana aku sedang terlibat kencan buta, hanya saja memikirkan bahwa aku tengah berada satu meja dengan lelaki membuat batinku berteriak. Demi Tuhan. Min Yoon Gi adalah ayah dari teman putraku.

Selesai dengan pesanan, dokter sombong itu kembali menatapku. Meletakkan satu tangan di meja sementara tangan lainnya membenarkan poni yang hampir membuat mata kecil itu tenggelam. “Sebenarnya aku mengajakmu untuk meminta maaf dengan cara yang benar,” ujarnya meletakkan tangan lain ke atas meja.

Dahiku sukses mengerut. “Minta maaf?”

“Sejak awal kita bertemu kurasa aku terus membuatmu kesal. Dan aku benar-benar meminta maaf karena menganggapmu kakak Sung Jin.” Min Yoon Gi tersenyum. Jenis senyum tulus yang belum pernah kutemukan di wajah dingin pria itu. Kecuali sedang bersama Sang Hyun.

Aku mengangguk. Ucapanku terhenti di lidah ketika pelayan membawa pesanan kami. “Sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Banyak orang yang membuatku emosi dan tidak pernah meminta maaf seperti apa yang kaulakukan.”

Ia tertawa kembali. Menyeruput kopi hitam dengan asap mengepul menularkan aroma nikmat. “Entahlah. Aku punya firasat kita akan sering bertemu jadi aku harus melakukan hal ini. Lagipula kau adalah ibu dari teman anakku.”

Aku mengangguk. Semua yang dikatakan si sombong ini benar. Secara tidak sengaja kami memang kerap bertemu karena kedua putra kami saling bersahabat. Ini benar-benar di luar dugaan. “Ya. Kau benar.”

Ia mengulurkan tangan. Membuatku kembali menjinjing alis. “Kita belum resmi berkenalan, seingatku.” Lalu aku mendengus menahan tawa. Aku menjabat tangannya, mengucap nama dan tersenyum.

“Min Yoon Gi.” Singkat dan jelas. Sama seperti perkiraanku. Pria di hadapanku ini sama sekali tidak mirip dengan Sang Hyun. Aku harus bersyukur tidak bertemu dua orang bersikap dingin seperti Min Yoon Gi.

Aku melahap muffin lamat-lamat. Sial. Aku tidak terbiasa melakukan hal ini jadi mungkin akan terasa konyol. Min Yoon Gi tidak lagi berbicara dan aku tidak tahu harus memberikan pertanyaan seperti apa. Kami terdiam. Hanya memakan sarapan tanpa mengucap kata-kata.

Lelah dengan segala keheningan, aku bertanya, “Kau tidak bekerja?”

Min Yoon Gi menggeleng singkat. “Aku bertugas shift malam hari ini. Kudengar dari Sang Hyun kau mengundurkan diri.”

Menganggukkan kepala, aku merasa tatapan Yoon Gi menyiratkan antusiasme yang mendalam. Oh, sial. Aku tidak tahu mengapa situasi justru jadi semakin canggung. “Harga diriku sebagai seorang ibu yang baik telah tercoreng. Aku mencoba memperbaiki hal itu sekarang.”

Kurasa ia mengerti betapa aku sangat menyayangi Sung Jin. Karena itu ia mengangguk. Satu pertanyaan berputar-putar di kepalaku. Aku tidak mengerti mengapa batin terus mendesak hendak menanyakan. Lalu bibirku berkhianat begitu saja. “Tentang Sang Hyun yang sedang tidak dalam mood baik beberapa hari lalu….” Aku menghentikan ucapan. Yoon Gi menatapku intens. Lebih dalam dari tatapan-tatapan sebelumnya. “maksudku, aku juga meminta maaf tidak bisa mencegahnya mengikuti Sung Jin ke rumah.”

Yoon Gi tidak tersenyum. Ia justru menengadah entah untuk tujuan apa. “Sudah lama sejak perceraian berlangsung dan sampai sekarang Sang Hyun belum bisa merelakan Vivian. Aku tahu itu terjadi karena Vivian mengasuhnya sendiri sejak lahir. Namun aku juga tidak mengerti mengapa Vivian tidak mengambil hak asuh anak dan justru merelakan Sang Hyun hidup denganku.”

Aku menghela napas. Apa pun yang mantan istrinya katakan adalah kesalahan paling fatal. Bagaimana bisa seorang ibu melepas putra yang sudah diasuh sendiri sejak lahir? Jika aku jadi Vivian aku tentu tidak akan sanggup. Melihat Sung Jin pergi camping saja sudah membuatku menjadi lembek. “Pantas saja Sang Hyun begitu terpukul. Sekarang apakah ia masih menangisi ibunya?”

Yoon Gi mengendikkan bahu. Meminum tegukan terakhir kopi lalu menjawab. “Entahlah. Dia lebih terbuka dengan neneknya. Tapi setiap kali aku pulang kerja dia tidak menampilkan jejak-jejak air mata.”

Belum sempat aku menjawab ucapan terakhir Yoon Gi, ponsel dalam sakuku berdering memekakkan. Aku mengambilnya dari saku jaket. Mengerut menatap nomor tidak dikenal sebelum menggeser tombol hijau. Aku mengisyarat pada Yoon Gi untuk mengambil sikap diam.

“Lama tidak mendengar kabarmu, Ryu Ye Rin.”

Mata besarku membulat terkejut.

To Be Continued..

A/N: Sudah berapa kamis gak update nih? >< semoga terbayar rasa penasarannya sama chapter ini ya 😀

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s