Forgetten

Forgetten

image

Title: Forgotten
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: Fantasy, Romance, AU
Cover by: ElineArt
Length: Oneshoot
WARNING; mengambil sedikit informasi dari Novel Kynigos © Yoana Dianika bagian Selene & Endymion, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Inspired by
Haru no Yume © CherryMintAzzule
Selene & Endymion (Mitologi Yunani)

©2017 Nadhea Rain

~~~

Story begin..

Wajah itu ada di atas piring bersih. Tengah tersenyum manis memancar sinar perak merekah di sekeliling tubuh.

Wajah itu terbayang pada dinding. Pada pilar-pilar kokoh. Pada setiap sudut rumah bahkan yang tidak pernah Jung Kook jamah.

Namun perlahan tapi pasti, wajah itu mengabur. Sedikit demi sedikit kehilangan eksistensi.

Wajah itu… kini hanya tinggal kenangan usang termakan usia.

***

“Kau tahu Selene dan Endymion?” Sebuah tanya muncul dari bibir gadis di samping. Tubuh kecil itu terlihat semakin kecil dengan mantel musim dingin menutup seragam sekolah. Syal abu-abu menggantung di leher, dibiarkan tidak tertata rapi karena berbagai alasan.

Jeon Jung Kook menoleh, memerhatikan gadis yang duduk tidak jauh darinya sebelum mengangguk singkat. “Mitologi Yunani.”

Gadis itu ikut mengangguk. Menyisir rambut dengan tangan manakala Tuan Angin tidak sengaja mempermainkan helai-helainya. “Apa kau tahu bagaimana akhir dari kisah itu?”

Jung Kook menengadah menatap langit-langit halte. Mencoba menggali informasi mengenai makhluk mitologi yang dulu kerap diceritakan kakeknya. Setelah mengingat, ia lantas berbalik kembali memandang si gadis. “Endymion diberi pilihan menjebak oleh Zeus agar bisa menjadi abadi dan awet muda seperti para dewa. Namun yang terjadi dia justru tertidur dan hanya bangun empat tahun sekali selama fase bulan penuh untuk menemani Selene mengelilingi langit. Kisah menyedihkan yang mengundang para penyair mengabadikannya dalam karya.”

Tiba-tiba saja tawa telah menguar dari bibir si gadis. Netra hitamnya menyipit akibat terlalu antusias. Sementara Jung Kook, ia hanya mengernyit tidak mengerti. Bingung mengira tidak ada yang salah dengan penjelasan yang ia jabarkan. Bahkan jika melihat dari situs-situs internet, semua yang ia katakan benar.

Beberapa menit kemudian bus yang mereka tunggu berhenti. Si gadis masih belum bisa menetralkan tawa, justru memegangi perut karena terlalu banyak mendapat lelucon. Ia berjalan mengekori Jung Kook, menyeka air mata yang keluar bersama ledakan tawa barusan. Mereka memilih duduk di bangku paling belakang; sang gadis di dekat jendela sementara Jung Kook berada jarak satu bangku darinya.

“Bagaimana jika sebenarnya Selene yang dihukum karena jatuh cinta pada Endymion?” Setelah beberapa keheningan si gadis kembali bersuara. Menatap sungguh-sungguh ke arah Jeon Jung Kook yang justru kian mengernyit karena pernyataannya barusan. “Karena Selene terlalu mencintai Endymion, Zeus menjatuhkan hukuman untuk Selene agar jatuh cinta pada Endymion selamanya.”

“Sebuah cinta sendirian yang menyakitkan. Di mana Selene harus membuat Endymion jatuh cinta padanya agar sesuatu berharga milik Selene kembali.”

Jung Kook masih mengernyit tidak mengerti. Apa yang sedang Im Na Young coba katakan sekarang? Sebuah penemuan baru dari mitologi yang beredar di kalangan masyarakat? Atau hanya dongeng masa kecil dalam versi berbeda yang diceritakan ayah ibunya dulu?

“To nychterinó ouranó… skoteinó ouranó. Deíxe mou ópou i theá tou fengarioú.” Na Young tiba-tiba saja bersenandung. Membuat netra Jung Kook membulat sempurna. “To nychterinó ouranó… skoteinó ouranó. Deíxe mou poú agapiméno eídolo. To nychterinó ouranó… zoferó ouranó. Mou leípei pára polý vathiá.”

Na Young tersenyum menyudahi senandung. Menatap ke arah netra Jung Kook yang mengisyarat ketidakpercayaan. Seakan tidak terkejut dengan respon yang diberikan sang lawan bicara. “Kakekmu pernah bersenandung lagu itu, ‘kan?”

Entah sudah ke berapa kali tepatnya Jung Kook mendapatkan kejut jantung seperti ini. Ia jelas mengingat senandung yang sering kakeknya lantunkan sebagai obat tidur. Senandung yang sampai sekarang tidak Jung Kook mengerti perihal eksistensinya. Tidak ada satu orang pun yang mengenal lagu itu, bahkan mesin pencarian yang katanya mampu mencari segala hal juga tidak menemukan.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Jung Kook baru membuka suara. Ia terlalu penasaran. Penasaran dengan sosok gadis yang sejak dahulu mencoba mencuri perhatian maupun segala hal yang mungkin saja berkaitan dengan lagu yang barusan disenandung. Hingga melupakan fakta bahwa di halte depan ia harus turun jika tidak ingin memutar balik.

Na Young masih tersenyum. “Kita bicarakan setelah turun dari sini.” Tangan kecilnya menekan tombol di dekat jendela lalu bus mulai memelankan laju. Berhenti tepat di halte tujuan membiarkan keduanya turun sebelum kembali melaju.

Tanpa basa-basi Jung Kook menggenggam tangan kecil Na Young, mengajak duduk di bangku yang tersedia sebelum kembali mencecar tanya. “Sekarang jelaskan padaku bagaimana kau bisa tahu lagu itu.”

Na Young menghela napas. Menjalankan tangan di sekitar area pipi Jung Kook. Menyentuhnya perlahan dengan ekspresi berubah sendu. “Bagaimana aku bisa melupakan syair indah yang kauciptakan untukku?”

Sesaat waktu seakan berhenti berputar. Atmosfer canggung yang semula membumbung menguap entah ke mana. Manik Jung Kook tiada henti menatap iris kelam gadis di hadapan, seolah terhipnotis dengan apa yang terucap.

“Langit hitam… langit kelam. Tunjukkan padaku di mana sang Dewi Bulan. Langit hitam… langit kelam. Tunjukkan padaku di mana kekasih pujaan. Langit hitam… langit muram. Aku rindu terlalu dalam.” Satu tetes air mata mengalir di pipi Na Young. Tangan kecilnya masih berada di pipi kanan Jung Kook, seolah enggan meninggalkan bagian kecil dari semua hal yang ia rindukan dari pria di hadapan. “Apa kau benar-benar tidak mengingatku? Sama sekali tidak mengingatku?”

Jung Kook tidak menyahut. Tidak pula berusaha melepas tangan yang kini bersarang di pipi. Membiarkan keheningan mengisi rongga udara. Membiarkan netra leluasa membaca ekspresi gadis di hadapan sebelum bertindak. Namun semakin lama ia memandang, semakin lama pula ia terjerat. Ia tahu sekaligus tidak tahu. Mengapa… mengapa sebagian dari dirinya juga merasakan kerinduan yang mendalam?

Keheningan merebak hingga sekian menit lamanya. Jung Kook berusaha menemukan jawaban yang tepat namun tidak kunjung berhasil. Justru ada ribuan tanya tersiar, terngiang di kepala siap untuk tumpah kapan saja.

“Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataanmu.” Seolah menghianati isi hati, Jung Kook berujar demikian. Menurunkan tangan Na Young hati-hati lalu bangkit dari bangku. Berjalan meninggalkan Im Na Young tanpa menoleh sedikit pun.

Jung Kook bahkan tidak pernah tahu bahwa setiap langkah yang ia jalin membuat air mata yang mengaliri pipi Na Young semakin deras.

***

Sore berikutnya setelah pertemuan itu Jung Kook tidak bisa memendam rasa penasaran. Ia meniti langkah menuju loteng di mana ibunya menyimpan semua perkakas lama. Hari ini ia bertekat menemukan petunjuk yang ia yakini ada pada buku yang sering kakeknya pegang setiap hari sebelum meninggal.

Jung Kook meniti tangga memutar, berharap dalam hati semoga buku yang ia maksud masih ada di tempat terakhir kali ibunya meletakkan. Setelah sampai, ia memindahkan kardus-kardus yang tertata tidak rapi. Menyusunnya kembali di sudut lain loteng agar satu kardus usang paling besar bisa terjamah. Ia membuka kardus tersebut, terbatuk kecil manakala debu ikut terhirup.

Semua kenangan masa kecil tertata rapi di sini. Termasuk robot Iron Man bertangan satu akibat menjadi rebutan dengan sang kakak. Jung Kook ingat hari itu ia menangis mengadu pada kakeknya yang tengah sibuk membaca buku. Ia terkekeh kecil, menaruh beberapa barang ke lantai hingga menemukan buku yang ia cari. Buku kakeknya.

“Jeon Chang Mo dan Eun Hee Im,” gumam Jung Kook membaca tulisan berbahasa Yunani di sampul buku cokelat itu. Membuka lembar demi lembar, membaca cepat kalimat-kalimat yang ditulis tangan.

Sebuah fakta yang tidak pernah ia tampik sejak kecil bahwa dirinya mampu melafalkan maupun membaca tulisan berbahasa Yunani meski tidak pernah mempelajari. Dan Jung Kook sama sekali tidak mengerti alasan sang kakek menulis dengan huruf Yunani bukan dengan hangeul. Ketika sampai pada halaman ke dua puluh dua, netranya membulat mendapati satu kalimat tertulis di sana.

“Cinta itu seperti menelan empedu. Kenyataan bahwa aku terus kehilangan ingatan tentangmu benar-benar sangat pahit.”

***

Mungkin benar jika sebuah kebenaran telah terungkap jarak sejauh apa pun tidak akan jadi masalah. Sama seperti hari ini ketika Jung Kook berdiri di ambang pintu kelas. Kepalanya bergulir guna menatap sosok dengan senyum sehangat matahari tengah bersenda gurau bersama gadis-gadis lain. Jung Kook ikut tertular senyum, lantas menjalin langkah menghadiahi rengkuhan panjang pada sosok itu.

“Jung Kook?” ujarnya terkejut. Tidak hanya dirinya, semua penghuni kelas juga ikut terhenyak. Pasalnya semua orang tahu jika mereka hanya sebatas teman satu kelas. Meski fakta menyebutkan beberapa kali Na Young menyatakan cinta semenjak pertama kali pindah.

Jung Kook tidak bereaksi. Ia tetap memeluk tubuh kecil di hadapan tanpa memedulikan pendapat publik. Baru setelah perasaan membuncah dalam diri sedikit tenang, ia melepas rengkuhan seraya tersenyum manis. “Bantu aku mengingat semua hal yang kulupakan tentangmu, Selene.”

Netra Na Young terbelalak. Ada ribuan kupu-kupu terbang mengitari area perut. Membuat buncah bahagia terukir jelas hingga setitik air mata jatuh menuruni pipi. Tangan kanannya digenggam erat, seolah sedetik saja terlepas keduanya akan sama-sama kehilangan. Mereka melangkah meninggalkan kelas, menuruni tangga demi sampai di tepi lapangan. Suasana hangat segera menyambut ketika tangan kiri jua ikut digenggam erat.

“Kau akan menyesal jika kembali jatuh cinta padaku.” Na Young menatap sungguh-sungguh ke arah Jung Kook. Menelisik ke dalam mata sekelam malam yang kini nampak begitu serius.

Jung Kook menggeleng, justru makin mempererat genggaman tangan. “Cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi, ‘kan? Kita tidak bisa menghindari hukum langit yang telah tergaris.

Angin musim dingin kembali berhembus membawa beku menusuk tulang namun tidak berlaku pada Na Young. Air mata lain berkhianat, kembali turun melewati pipi lalu berakhir di dagu. Ia mendekap Jung Kook erat. Menuntaskan tangis pada bahu lebar yang ia rindukan.

“Aku benar-benar merindukanmu sampai rasanya ingin menangis. Zeus yang kejam membuatmu tertidur tanpa mengucapkan apa-apa padaku. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi karena aku mencintaimu, karena kita saling mencintai. Aku mencintaimu hingga nekat berlutut di hadapan Zeus.” Cerita mengalir begitu saja, seolah bibirnya enggan mengatup membiarkan lawan bicaranya tahu bagaimana rasa cinta tersulit bak memakan empedu.

Jung Kook membalas pelukan Na Young. Mengusap-usap punggung kecil yang kini tengah bergetar hebat. Ia masih tidak habis pikir betapa besar rasa cinta sang dewi sampai meminta permohonan untuk seorang manusia seperti dirinya.

“Karena cinta ini pula Zeus marah hingga menggariskan takdir menyakitkan bagi kita berdua. Semua keturunan laki-laki keluarga Jeon akan mengalaminya. Mengalami cinta pahit karena hukum langit sialan.”

Bel tanda masuk berbunyi nyaring namun keduanya belum jua hendak melepaskan diri. Jung Kook mampu melihat siswa-siswi lain bergegas akan tetapi dirinya masih tetap di sini. Enggan melepaskan enggan pula dilepaskan.

Getar di bahu Na Young sedikit demi sedikit menghilang. Tangis jua hanya tinggal isakan-isakan kecil. Jung Kook masih tetap membalas pelukan sama posesif. Seraya menyiapkan hati bertanya satu pertanyaan yang terus terngiang semenjak ia membaca buku sang kakek.

“Apa yang akan terjadi jika aku benar-benar sudah mencintaimu?”

Untuk beberapa detik Na Young hanya terdiam. Ia menghela napas sebelum menjawab pertanyaan yang mampu membuat dadanya kembali dihampiri rasa sesak. Sejujurnya Na Young tidak ingin menjawab sama seperti ketika pertanyaan itu dilontarkan Jeon Chang Mo. Namun bibirnya terus bergerak mengucapkan semua kalimat yang terlintas. “Aku akan menghilang dan kau yang akan menanggung beban itu sendirian.”

“Menghilang?” Jung Kook mengulang pertanyaan. Memastikan pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Na Young mengangguk di bahunya kemudian melepaskan rengkuhan untuk menatap Jung Kook.

“Pernyataan cinta darimu akan membuka segel di mana cahayaku terkunci. Jika kau mencintaiku, aku akan kembali menjadi seorang dewi dan semua yang pernah kulewati di dunia akan terhapuskan kecuali ingatanmu. Namun hal itu juga tidak berlangsung lama karena setiap kali kau bangun tidur, kau akan kehilangan satu keping ingatan tentangku. Begitu seterusnya hingga delapan tahun berlalu.”

Wajah Na Young berubah sendu. Ia kembali memegang pipi kanan Jung Kook lalu menghela napas. Belum sempat tangan diturunkan, Jung Kook sudah terlebih dahulu menawan bibir merah itu dengan bibirnya. Rasionalitas seolah menguap, mengabur pergi bersama rintik salju yang tiba-tiba hadir.

Sebagian dari dirinya, sebuah sosok baru muncul dengan perasaan cinta begitu mendalam pada gadis di hadapan. Ia tidak mampu memungkiri lagi sosok inilah yang melakukan segala hal di luar kehendak termasuk memeluk Na Young dalam kelas tadi. Jung Kook juga mengingat sosok ini pertama kali muncul saat kepindahan Na Young, lalu gadis kecil ini mengucap kata cinta terang-terangan di hadapan semua teman satu kelas.

Mungkin Jung Kook sudah menerima kenyataan bahwa dirinya adalah bagian dari Endymion, atau memang ia adalah Endymion itu sendiri. Maka ia tidak merasa bersalah karena ciuman ini. Tidak merasa bersalah karena yang ada justru detak jantung keduanya bergerak seirama. Berdetak cepat bagai usai melakukan lari lima kali putaran. Ciuman keduanya terhenti dengan senyuman mengembang.

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.” Seolah satu ungkapan belum cukup, Jung Kook mengulang-ulang pernyataannya. Membiarkan detak jantungnya bergerak pada level tertinggi lalu kembali menawan bibir Na Young dalam kecupan.

Mungkin terdengar aneh jika ia mempercayai mitologi pada zaman moderen seperti ini tapi toh Jung Kook tidak ambil pusing. Hukum langit sialan dan kenyataan bahwa ia menerima segala konsekuensinya adalah kewajiban yang harus ia penuhi. Setidaknya takdir mengharuskan Jung Kook berada pada situasi konyol seperti ini.

Mereka melepaskan diri lalu perlahan tubuh Na Young dikelilingi sinar keperakan. Seragam sekolah yang melekat pada tubuh kecil itu terganti oleh gaun putih panjang. Rambutnya tergerai indah serta tersemat sebuah mahkota di sana. Na Young tersenyum manis melepaskan genggaman tangan Jung Kook.

“Aku juga mencintaimu, Jeon Jung Kook.”

Perlahan tapi pasti, tubuh Na Young menghilang menjadi butiran-butiran salju. Tergerus angin musim dingin lalu berakhir tanpa pernah terlihat kembali. Netra Jung Kook membulat sempurna. Pada ambang batas antara percaya maupun tidak.

Sekian menit berlalu namun tubuh Jung Kook terasa mematung di tempat. Benarkah… ungkapan cinta barusan membuat mereka berpisah? Benarkah… Na Young tidak dapat terlihat kembali? Seiring otak terus memikirkan, ia merogoh saku tempat ponselnya disimpan. Menilik foto candid Na Young yang tidak sengaja ikut diabadikan bersama dirinya yang tengah sibuk dengan gitar.

Jung Kook membulat. Kembali membulatkan mata melihat Na Young benar-benar lenyap pada foto itu. Teriakan kencang terdengar. Mengusik para satpam yang kemudian berlarian menghampiri Jung Kook.

***

Jung Kook terhenyak. Bangun dengan leleh tangis membanjiri pipi. Tubuhnya baru saja diguncangkan keras-keras, lalu netra yang belum sepenuhnya fokus menatap sekitar. Menemukan Kim Tae Hyung serta Min Yoon Gi tengah menatapnya heran.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yoon Gi memastikan. Jung Kook mengangguk, menyeka air mata yang turun dengan punggung tangan. Ia bertanya dalam hati, mengingat sekiranya mimpi apa yang tadi menyambangi tidur namun tidak ada satu pun yang mampu diingat.

“Apa yang kaumimpikan? Kau terus menangis tapi kami tidak mampu membangunkanmu.” Kini Tae Hyung ikut berujar. Menyodorkan gelas penuh air putih yang segera disambar Jung Kook. Menandaskan dalam sekali tegukan.

Jeon Jung Kook menggeleng. Sama sekali tidak dapat mengingat mimpi apa yang menyambangi tidurnya hingga mampu menangis. Tidak pernah lagi mampu mengingat bahwa itu adalah mimpi terakhir di mana dirinya mampu mengingat Im Na Young. Ia menoleh ke sekeliling, lupa bahwa ia baru saja tertidur di sela-sela latihan vokal untuk album barunya. Pria berusia dua puluh enam tahun itu menghela napas sebelum berpamit hendak mencuci muka.

Jung Kook memercikkan air di sekitar area wajah. Sedikit bingung mengapa kepalanya terasa kosong tanpa beban berat. Ia mencoba mengingat namun gagal. Apa yang sebenarnya ia lupakan? Apa pula mimpi yang baru saja hadir dalam tidurnya? Ia terus berpikir hingga langkah kaki terjalin namun tidak pergi ke tempat ia tertidur. Ia pergi ke luar gedung, tidak peduli jika Min Yoon Gi akan memberi petuah.

Jung Kook masih saja terus mengingat. Menengadah kepala menatap butir-butir salju yang terasa familiar. Namun semakin lama ia mencoba, semakin sakit ia rasa muncul dari kepala belakang. Jung Kook berlari-lari kecil, membiarkan tangis tidak tahu arah merebak membasahi pipi.

Ingatannya stagnan. Tidak mampu menggali lebih jauh informasi yang terlupa. Namun jauh di lubuk hati rasa ingin mengingat semakin membuncah. Hingga kaki-kakinya menjajaki halte lalu ia kembali berteriak kencang. Beruntung tidak ada orang menunggu bus di sana sehingga ia tidak perlu dicap sebagai orang gila.

Jung Kook mengambil duduk, mencengkeram rambut kuat-kuat manakala merasa kembali familiar dengan tempat yang baru saja ia pijak. Satu lagi teriakan kuat membumbung di udara. Membiarkan ranting pohon tertutup salju tahu pesakitan apa yang tengah hadir.

Di seberang jalan, Na Young berdiri di sana dengan wajah sendu. Tangis ikut menganak-pinak melihat sang kekasih harus bersikap menyedihkan setelah menanggung ingatan selama delapan tahun penuh. Kini, pria itu tidak akan mengenali siapa dirinya. Tidak akan mengenal kisah Selene dan Endymion dalam versi yang sebenarnya.

Sejujurnya Na Young terus mengikuti pria itu semenjak delapan tahun terakhir. Namun Jung Kook tidak mampu melihat maupun merasakan kehadirannya. Ia acap kali menangis ketika Jung Kook juga menangis. Dan puncaknya adalah hari ini. Hari terakhir di mana Jung Kook telah melupakan segala memori tentang keberadaannya.

Jung Kook menunduk, merogoh dompet mengeluarkan secarik kertas yang ia sobek dari halaman dua puluh dua buku kakeknya. “Cinta itu seperti menelan empedu. Kenyataan bahwa aku terus kehilangan ingatan tentangmu benar-benar sangat pahit.”

Ia mengucapkan kalimat itu keras-keras. Mengulang setiap satu menit sekali lalu kembali berteriak. “Apa? Sebenarnya apa yang telah kulupakan?” Jung Kook kembali menangis. Membuat Na Young di seberang jalan menggeleng kuat-kuat.

“Tidak. Kau tidak akan bisa mengingatku. Kau tidak bisa. Kumohon berhenti. Berhenti memikirkan hal itu.” Na Young seperti berujar pada angin. Nyatanya Jung Kook tetap saja bersikeras. Tetap saja keras kepala mencoba mengingat hingga netra Na Young melebar sempurna.

“Young….”

“Young….”

Bagai anak kecil mendapat mainan baru Jung Kook terus mengucapkan kata itu berulang-ulang. Na Young telah banjir air mata. Sebenarnya seperti apa ingatan Jung Kook terhadap dirinya? Sebesar apa cinta Jung Kook terhadap dirinya?

“Na Young.” Jung Kook kembali bersemangat. Seiring ia melafalkan nama itu kuat-kuat ingatan demi ingatan perlahan kembali. Mulai dari pertemuan pertama saat gadis itu memperkenalkan diri sebagai murid baru lalu menyatakan cinta saat jam istirahat berlangsung. Mengingat percakapan dalam bus berujung kebimbangan hati kala mendapati fakta terungkap. Mengingat ketika hangat ciuman terjalin saat dua bibir menempel. Ingatan itu terus kembali. Semakin kuat dan ia tersenyum dalam tangis. “Im Na Young.”

“Jeon Jung Kook.” Jung Kook terkejut mendengar suara yang ia rindukan memanggil namanya.

“Jeon Jung Kook.” Seolah belum percaya satu suara kembali terdengar. Jung Kook mengedarkan pandang. Terbelalak mendapati sosok Im Na Young berada di seberang jalan dengan tangis merebak di pipi. “Apa kau bisa melihatku?”

Jung Kook mengangguk. Perlahan meninggalkan tempat duduk halte menghampiri sang terkasih. Linang air mata masih jua hadir, turut merasakan kerinduan mendalam terhadap sosok yang kini hanya dipisahkan oleh jalan raya. “Apa ini artinya hukum langit telah terpatahkan?”

Kini Na Young yang gantian mengangguk. Ikut berjalan mendekat tidak pernah memutus pandang. Keduanya masih menangis haru. Menangisi cinta yang pahit bagai empedu yang harus mereka jalani dari masa ke masa.

“Aku merindukanmu.” Mereka berujar bersamaan. Saling menghampiri tidak peduli kenyataan bahwa keduanya ada di tengah jalan.

-Fin-

“Hukum langit dapat dipatahkan jika ingatan itu bertahan sampai delapan tahun bahkan saat mimpi terakhir telah usai. Siapa yang mampu melakukan hal itu, kutukan Zeus akan sirna karena keduanya mampu membuktikan cinta kasih yang mengikat.”

Jung Kook menutup lembar ke enam belas dengan tekad kuat. Ialah yang harus menghentikan takdir konyol yang menjerat mereka berdua.

(Benar-benar Fin)

A/N: Sedih ffnya gak bisa diikutin di event tp gakpapa lah >

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s