Under These Skies Chapter 6

Under These Skies Chapter 6

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

Chapter 6

~~~

Story begin..

Min Yoon Gi POV

Kamis

Min Sang Hyun tidak juga berhenti cemberut sepanjang sarapan. Pria kecilku hanya menunduk menyembunyikan wajah saat melahap roti isi selai kacang favoritnya. Kurasa ia masih tidak terima dengan pernyataan Vivian. Dan jujur aku juga belum bisa menerima. Siapa yang berhak mengatur kehidupanku? Ia sudah lama kutendang jauh-jauh jadi mengapa harus repot mengurusi hidupku?

Aku menyudahi sarapan saat Sang Hyun meminum susu sampai tandas. Memilih menyesap kopi hitam lalu menyusul darah dagingku berangkat. Aku berteriak pada ibu yang tengah menyiram tanaman, mengatakan bahwa hari ini aku tidak bisa menjemput Sang Hyun karena dipastikan kunjungan pasien di lantai tiga tidak akan selesai dalam waktu singkat.

Kami berangkat dalam diam. Sang Hyun tidak berusaha berceloteh atau menyalakan musik seperti biasa. Aku berinisiatif untuk memulai, menyalakan musik memilih lagu hiphop yang tengah santer dibicarakan orang. “Apa menurutmu Bangtan Boys keren?” tanyaku memecah keheningan.

Sang Hyun menoleh padaku dua detik lalu beralih pada dashboard membaca hangeul yang tertera di layar. Ia mengangguk tanpa merespon apa-apa lagi. Lagu mengalun di sepanjang perjalanan. Ini sama sekali tidak akan berhasil.

Saat kami tiba di sekolah Sang Hyun berkata, “Aku berangkat, Ayah.” Lalu berjalan lesu memasuki gerbang. Sung Jin mengejutkannya dari belakang namun ekspresi pria kecilku tetap sama. Aku menghempas kepala ke kursi pengemudi. Tidak mudah mengembalikan mood Sang Hyun yang berantakan. Ia bukanlah anak kecil biasa.

***

Dugaanku tidak pernah meleset. Pasien hari ini membludak karena insiden kecelakaan beruntun di Sungwun kemarin. Tidak semuanya luka parah namun mereka harus mendapat perawatan setidaknya untuk beberapa hari ke depan. Aku menyusuri lantai tiga ditemani Naomi. Terkadang memiliki profesi ganda di rumah sakit tidak membuatmu bisa bersombong ria. Aku menghela napas sebelum membuka pintu.

Ponselku meraung meminta perhatian saat aku sudah setengah jalan. Aku mengabaikannya, mengecek arloji lalu kembali masuk dalam ruangan pasien. Saatnya Sang Hyun pulang. Aku harus membelikan makanan favoritnya saat shiftku berakhir atau ia akan merajuk lebih dari tadi pagi. Ponselku kembali meraung dan akhirnya aku menyerah. Aku meminta Naomi memberiku waktu lima menit beristirahat dan ia mengangguk setuju.

Nama ibuku tertera dalam layar saat ponsel sudah ada dalam genggaman. Aku segera menggeser tombol hijau. Menempelkan pada telinga menunggu laporan mengenai jagoan kecilku yang kupastikan tengah menyantap makan siang.

“Akhirnya kau menjawab telepon.” Suara ibu terdengar gusar. Dahiku mengerut tidak mengerti. Tidak biasanya ibu membuka percakapan dengan kalimat seperti ini.

“Ibu, ada apa?” tanyaku memastikan kejanggalan yang terjadi. Ibu dan ayahku adalah orang-orang yang tenang. Jadi akan sangat aneh jika mereka tiba-tiba bersikap gusar seperti ini.

“Kumohon tenang.” Kudengar ibu mengambil napas. “Sang Hyun tidak ada di sekolah. Supir pribadi yang menjemputnya. Satpam sekolah mengatakan sudah tidak ada anak tersisa karena hari ini tidak ada kegiatan ekstrakurikuler.”

Aku yakin mata kecilku membulat tidak percaya. “Ibu sudah memastikannya sendiri?”

Ibuku menghela napas. “Ya, Nak. Sang Hyun benar-benar tidak ada di sekolah.”

Mengusap kasar wajah, aku kembali berujar, “Aku akan menelepon polisi. Maaf, Bu tapi aku harus kembali bekerja agar segera sampai di rumah.”

Dan seharusnya aku tahu gelagat aneh yang ditunjukkan Sang Hyun. Aku mengumpat keras dalam hati. Satu-satunya orang yang kupikirkan membawa kabur Sang Hyun hanya Vivian dan aku menghubunginya. Ia tidak terlalu sibuk, seharusnya, namun panggilanku berakhir dalam kotak voicemail. Brengsek! Jika benar Vivian yang membawa putraku, akan kupastikan ia tidak akan pernah menemui Sang Hyun seumur hidupnya.

***

Shiftku akhirnya berakhir. Mungkin besok aku harus meminta maaf pada Naomi karena telah mengumpat keras di hadapannya. Pipinya memerah dan tangis tidak mampu ia tutup dengan rapi. Namun aku tidak peduli. Hari ini sudah terlalu berat bagiku.

Aku mengemudikan mobil dengan tergesa. Vivian menghubungiku kembali saat aku berada di ruang istirahat dokter satu jam lalu. Ia bersumpah tidak mengerti dengan apa yang tengah kubicarakan dan aku memilih tidak memberitahukan keadaan yang sebenarnya. Vivian akan menceramahiku banyak hal jika tahu putranya tidak ada dalam jangkauan keluarga. Aku menghela napas mengisyarat belok ke kanan.

Mobil polisi berada di luar gerbang. Aku bisa melihat mereka berjejer mengerumuni ibuku. Pukul empat dua puluh dua menit. Sudah cukup sore untuk anak kecil seperti Sang Hyun belum berada di rumah. Aku berjalan keluar dari mobil menghampiri ibuku. Seorang polisi menanyaiku pertanyaan seputar Sang Hyun pagi ini dan aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri.

Gerbang kembali terbuka enam menit kemudian. Aku menoleh mendapati Sang Hyun tersenyum ceria menghambur ke pelukan neneknya. Sung Jin ikut masuk beberapa detik kemudian lalu gadis cerewet pengantar makanan ikut masuk takut-takut. Darah mendidih dalam tubuhku. Aku tahu seharusnya aku mencurigai keluarga tidak beres ini dari awal.

“Jadi kau tidak hanya pandai meracuni keluarga dengan masakanmu tapi juga pandai menculik seorang anak tak berdosa?” Aku membentaknya. Persetan dengan polisi yang berjejer rapi atau putraku yang mendengarkan semua umpatan. “Seharusnya aku tidak pernah membiarkan Sang Hyun bergaul dengan adikmu. Kami merasa kehilangan karena Sang Hyun tidak ditemukan di sekolah dan kau dengan bangga justru menculiknya?”

Gadis itu tidak berbicara sepatah kata pun. Dahinya berkerut namun ia tidak mampu menjawab segala pernyataan yang kuberikan. Lihatlah, ia bahkan terlihat seperti seekor kelinci dungu yang masuk ke kandang singa.

“Dia tidak bersalah, Yoon Gi. Sang Hyun sudah menceritakan semuanya,” Ibuku menjeda perkataan. Aku menoleh saat Sang Hyun merengkuhku dari belakang. Aku tidak bisa menghentikan aksi bocah kecil ini jadi aku membalik badan lantas memeluknya. Ia meminta maaf dan menjelaskan padaku bahwa ini adalah inisiatifnya sendiri. Sebuah inisiatif karena ia tidak tahu jika kembali ke rumah hatinya sudah tertata atau belum.

“Ayah, kumohon jangan memarahi Bibi Ye Rin. Dialah yang menasehatiku agar tidak memendam amarah pada ibu atau semua orang dewasa yang ada di rumah ini.” Sang Hyun melepaskan rengkuhan lalu menatapku intens. “Omong-omong, Bibi Ye Rin adalah ibu Sung Jin. Bukan kakak Sung Jin. Ya meskipun Bibi Ye Rin masih terlihat muda tapi ia dan Bibi Fawn seumuran.”

Dan aku tidak percaya semua hal yang Sang Hyun katakan. Ini konyol, bukan? Ia terlihat jauh lebih muda tapi sudah memiliki putra sebaya denganku?

Saat aku kembali menengok ke belakang, ia dan Sung Jin sudah tidak ada di sana. Sebagian dari diriku merasa aku harus meminta maaf namun sebagian lain mengatakan semua akan baik-baik saja meski aku tidak meminta maaf. Aku menyerah dengan semua pikiran yang berseliweran. Memilih segera masuk bersama Sang Hyun membiarkan ibu berurusan dengan polisi.

Jum’at

Sepanjang memeriksa anak-anak aku tidak bisa menghentikan senyuman. Entahlah. Melihat mood Sang Hyun kembali normal membuat semua perasaan gembira membuncah dalam diriku. Ia adalah prioritas utama di atas segalanya, wajar jika aku mengatakan kalimat berlebihan seperti ini.

Hari ini aku masuk shift malam. Itu berarti aku tidak bisa mengucapkan selamat tidur dan memberikan usapan rambut pada Sang Hyun. Namun aku tahu aku bisa melakukan video call. Dan Sang Hyun setuju akan ide konyolku. Lalu beberapa detik setelah Sang Hyun membalas pesan aku bertanya dalam hati, sejak kapan Min Yoon Gi menjadi lembek di hadapan putranya sendiri?

Sibuk dengan pikiranku, seorang perawat masuk memberitahukan pasien selanjutnya. Aku mengangguk, menyuruh perawat memanggil pasien sementara aku kembali menggantungkan stetoskop di leher. Aku menyiapkan senyum saat pintu dibuka pelan dan apa yang kulihat mungkin adalah hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.

Sung Jin dan gadis cerewet itu. Ah, maksudku Sung Jin dan ibunya. Sial. Kurasa ia juga terkejut tapi tidak dengan Sung Jin.

“Selamat malam, Ryu Sung Jin. Duduklah.” Aku mengatakan hal ini sepanjang waktu namun entah mengapa sapaan kali ini terasa aneh di lidahku. Mereka duduk di kursi, di hadapanku, lalu aku memberikan pertanyaan yang sangat umum seperti biasa.

“Baiklah. Kita akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Silakan berbaring di sana.”

Sung Jin mengangguk lesu. Wajahnya pucat dan sangat terlihat jika ia tengah merasa kesakitan. Aku menatapnya prihatin sekaligus bersyukur gadis cerewet itu belum membuka suara sejak tadi. Kurasa ia adalah tipikal ibu yang terlalu khawatir.

Aku menyuruh Sung Jin kembali turun sesaat setelah aku mendiagnosa dalam hati. Menulis laporan sembari menatap gadis cerewet di hadapan. “Sung Jin mengalami tifus. Kusarankan untuk tidak memberikan mi instan jenis apa saja padanya. Ia terlalu banyak mengonsumsi mi instan.”

Gadis di hadapanku membeliak. Aku tahu ia memiliki mata yang besar jadi itu terlihat semakin besar ketika membulat. “Aku hanya memberinya makan mi dua minggu sekali, jika aku benar-benar menginginkan. Kurasa diagnosamu salah, Dokter Min.”

Ia benar-benar tidak terima. Aku tersenyum lalu bergantian menatap Sung Jin. “Coba tanyakan putramu apa yang dia makan selama berada di rumah Ha Ru.”

Gadis itu memutar arah pandang, menatap Sung Jin seolah mengisyarat tolong-katakan-ini-salah namun Sung Jin menunduk lesu. Bocah kecil itu terdengar meminta maaf selagi aku mencatat resep obat. Dan aku benar-benar yakin gadis cerewet itu terluka.

To Be Continued..

A/N: Bakal update seminggu sekali ^^ jadi ff lain gak terbengkalai lagi. Hihi. Aku lg berusaha memanajemen waktu ini >< *plak

Advertisements

2 thoughts on “Under These Skies Chapter 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s