Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 7

Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 7

image

Title: Mafia’s Complex
Cast: Min Yoon Gi, Jeon Jung Kook, Ryu Ye Rin
Genre: Action, Crime, Thriller, AU
Rate: M (for safe)
Author: Dian Hanamizuki feat Nadhea Rain
CR Pict: DHMZ Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Chapter 7

~~~

Story begin..

Pagi itu JH-Ryu Corporation digemparkan dengan kabar penyerangan salah satu karyawannya yang bernama Jung Ho Seok. Bermula dari kedatangan seorang bartender di gedung tersebut untuk menyerahkan kartu identitas karyawan milik Jung Ho Seok pada resepsionis, kemudian memberi kabar bahwa dirinya menemukan tubuh tak berdaya si pemilik kartu tersebut di dalam barnya.

Karyawan serta para petinggi JH-Ryu Corporation seketika dilanda kepanikan, tak terkecuali Ryu Ye Rin. Di meja kebesarannya, wanita muda itu nampak terkejut saat mendapat kabar penyerangan salah satu pekerjanya.

“Masalah apa lagi ini, Ya Tuhan,” desahnya lelah sembari memijat dahi. Kekacauan perusahaan belum dapat ia bereskan, kini timbul masalah lainnya.

Namun alih-alih mengeluh pada Tuhan dan mengasihani diri sendiri, Ye Rin justru beranjak dari kursinya dan bergegas keluar ruangan. Wanita itu memanggil beberapa bawahannya untuk segera mendatangi tempat Jung Ho Seok diserang, lalu menghubungi paramedis agar langsung melakukan visum untuk mengungkap penyebab penyerangan yang membuat karyawannya itu kini dalam kondisi luka parah.

Setibanya di lokasi, bar tersebut telah dihiasi garis kuning oleh polisi. Masih di dalam mobilnya, Ye Rin melihat Jung Ho Seok sedang dimasukkan ke dalam ambulans. Kondisi pria itu jauh lebih parah dari bayangannya beberapa saat lalu. Wanita itu belum berniat untuk keluar dari mobil lantaran keadaan bar sedang kacau.

“Jujur saja, Nona dalangnya, ‘kan?”

Telinga Ye Rin memanas saat mendengar tuduhan bernada tanya yang dilontarkan pria di sisi kirinya. Ia mendengus, mencoba menahan diri untuk tidak memberikan respon dan mengikat atensinya untuk tetap fokus menonton kesibukan polisi yang tengah memindai bar. Baginya, membungkus masalah penyerangan Jung Ho Seok dengan secepat mungkin jauh lebih penting daripada membalas cuitan tidak jelas.

“Nona repot-repot memanggil tim forensik dan mengirim Jung Ho Seok ke rumah sakit dengan pelayanan terbaik di atas alasan dedikasi perusahaan padahal sebenarnya Nona melakukan itu semua sebagai alibi. Kau pasti dalangnya!”

Namun tetap saja, sejatinya gonggongan anjing itu sangatlah mengganggu. Telinga Ye Rin rasanya tidak sanggup lagi untuk menerima kalimat-kalimat mengerikan itu. ia menarik napas pelan, lalu berujar dengan tenang. “Aku tidak segila itu, Jeon Jung Kook-ssi. Membuang uang dan tenaga demi alibiku disaat kondisi perusahaan sedang terpuruk? Haha. Aku akui kau pengarang yang hebat, kenapa tidak jadi jurnalis saja? Kenapa harus jadi wakil Presdir yang memiliki niat keji untuk menyingkirkanku?”

Kebanggaan yang sebelumnya menyelimuti Jeon Jung Kook manakala merasa berhasil memojokkan Ye Rin seketika lenyap saat wanita muda itu ternyata dapat mematahkan ucapannya. Ia menoleh dan menatap dengan jengkel pada Ye Rin yang duduk berdampingan dengannya di kursi belakang.

“Begitu ya? Tapi bagi seseorang yang sedang terpojok, membuang uang sebanyak itu demi menutupi busuknya adalah hal yang dapat diterima logika.” Senyum timpang segera menghiasi paras tampan Jung Kook. “Apa Jung Ho Seok menemukan kartu matimu?”

Ryu Ye Rin menggeram kesal. Ia enggan membalas lagi hipotesis menyebalkan dari pria itu. Seringaian di wajah Jung Kook tak kunjung surut, rasanya sangat menyenangkan tidak lagi harus memakai topeng untuk berinteraksi dengan sang atasan yang merangkap sebagai rivalnya.

***

Kim Nam Joon tertawa manakala menemukan reaksi terkejut di wajah Jung Kook saat membuka pintu dan melihat kehadirannya yang sedang duduk di sofa di dalam ruang kerja pria itu. Namun sekian detik kemudian Jung Kook telah mengembalikan ekspresinya. Ia berdeham pelan sembari mengunci pintu ruangan.

“Kenapa tiba-tiba datang ke sini?” tanya Jung Kook.

“Aku ke sini untuk memberimu hadiah,” Nam Joon mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil dari saku jaket denimnya, lalu mengangkat tinggi benda itu di udara. “Di dalam amplop ini ada sebuah memory card yang akan memberitahumu pemeran utama sekaligus pelaku penyerangan pada salah satu karyawanmu. Penasaran? Saksikan sendiri,” ia melempar amplop tersebut di atas meja.

Pria yang menyandang gelar Wakil Presdir itu segera menghampiri Nam Joon lalu memungut amplop di atas meja. Ia mengeluarkan isi dari benda persegi panjang tersebut dan sebuah kotak kecil yang berisikan kartu memori kini terjatuh di telapak tangannya. Iris kelam Jung Kook memerhatikan benda pipih di genggamannya dengan terheran-heran. “Bagaimana bisa? Yang aku tahu bar itu sangat eksekutif dan sangat sulit untuk dimasuki, tapi kau bisa mendapatkan rekaman ini. Bagaimana bisa?”

Nam Joon tertawa lagi. “Shin Seul Bi. Dia patner yang sangat bisa kuandalkan. Kau harus berterima kasih jika bertemu dengannya nanti. Dia juga yang telah mendapatkan video pribadi milik Min Yoon Gi.”

Garis halus di dahi Jeon Jung Kook bertambah, tapi ia enggan mengeluarkan tanya lagi. Ditatapnya sekali lagi kotak kecil dalam genggaman, sebelum kemudian mengantonginya di saku jas.

Kim Nam Joon beranjak dari duduk manisnya di sofa, lalu menepuk pundak pria itu sebanyak tiga kali. “Aku hanya ingin memberimu itu. Aku pergi,” pamitnya.

***

Memutar ulang percakapan bersama Jung Kook beberapa menit lalu dalam perjalan pulangnya membuat Nam Joon terpikirkan akan satu hal. Ia memikirkan tentang permainannya yang semakin jauh bahkan hampir kehilangan muara. Membuat Nam Joon rentan terperangkap jika lalai barang sedikit saja dan juga semakin banyak menyeret orang yang telah memiliki nama di tanah airnya. Catatan tambahan, pagi ini karena ulah permainannya hampir saja memakan korban.

Kim Nam Joon tidak pernah menyangka akan serumit ini berhadapan dengan mafia di negaranya. Keadaan bertambah rumit saat ternyata mafia itu juga termasuk pemimpin perusahaan yang hampir menguasai pasar ekonomi Korea. Harusnya sejak awal kepala pria itu telah menggaris bawahi bahwa menangkap tikus licik jauh lebih sulit daripada menembak seekor singa liar. Meskipun dirinya telah menggenggam kartu mati dan dapat menebak isi pikiran yang bagai buku terbuka pada masing-masing rivalnya, tapi percayalah menjatuhkan mereka dengan kelemahan tidak semudah itu. Jika salah, ia bisa berakhir seperti Jung Ho Seok atau lebih parah dari itu, misalnya kematian.

Permainan Nam Joon sebenarnya berawal dari perasaan curiga pada beberapa perusahaan beberapa tahun lalu. Saat itu, kantor pemerintahan tempatnya bekerja sedang kacau balau lantaran pemasukan pajak yang tidak sesuai target. Kim Nam Joon ditugaskan untuk memindai pemberian pajak pada perusahaan besar, ditemani oleh satu rekan kerjanya yang bernama Shin Seul Bi.

“Hey, Kim Nam Joon!” Shin Seul Bi mengetuk sekat pembatas antara dirinya dengan Nam Joon. Karena mereka satu ruangan, maka kubikel milik Seul Bi dan Nam Joon bersisian.

“Ada apa?”

“Kemarilah sebentar.”

Nam Joon menarik kursinya untuk mendekati area kubikel Seul Bi. Wanita itu segera menepikan duduknya agar Nam Joon dapat leluasa memandangi layar monitor. Monitor milik Seul Bi menampilkan banyak sekali daftar nama perusahaan.

“Lihat ini,” Seul Bi menunjuk satu nama perusahaan yang berada di kolom nomor 56. “YG corporation adalah perusahaan besar, ‘kan? Lihat labanya tahun ini dan pajak yang mereka berikan. Sangat tidak masuk akal perusahaan besar mendapat laba sekecil itu. Coba bandingkan dengan perusahaan di bawahnya, mereka memberi pajak dua kali lebih banyak dari YG corporation.”

Bagai gayung bersambut, Kim Nam Joon sebenarnya memang sedang mencurigai beberapa perusahaan dan YG Corporation masuk dalam daftar yang ia curigai. Pria itu kembali ke meja kerjanya dan segera membuka jendela browser di monitor. Mengetikkan nama YG Corporation pada papan pencarian untuk melihat profil lengkap perusahaan tersebut.

Sebuah photo pria tampan terpampang besar dalam urutan teratas pencarian, bersamaan dengan di bawahnya terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa dia adalah Presiden Direktur YG Corporation. Nam Joon melakukan scroll down untuk melihat photo lainnya, salah satu yang menyita perhatian adalah photo pria itu bersama dengan seorang wanita.

Nam Joon mengarahkan kursornya pada bagian view agar dapat melihat dengan jelas photo tersebut. Saat tampilan photo itu telah besar, dahi Nam Joon seketika menciptakan garis halus. Ia nampak tak asing dengan wanita yang bersama si pemimpin YG Corporation itu.

***

Kim Nam Joon meraih kunci yang ia selipkan dalam pot bunga, membuka rumah minimalis bergaya tradisional di hadapan. Ia memasuki pintu, berjalan menyalakan lampu lalu kembali menelusuri ruangan. Pria itu menghela napas sebelum memasuki walk in closet minimalis yang ia tata sedemikian rupa. Tangannya menyentuh sebuah lukisan yang ada di sana kemudian sebuah pintu rahasia terbuka lebar. Nam Joon segera masuk, duduk di kursi yang menghadap langsung TV plasma serta beberapa laptop juga printer.

Ia meletakkan tangan di belakang kepala, berpikir keras mengenai fakta yang baru saja ditemukan hari ini. Alibinya semakin kuat untuk memberi ganjaran setimpal pada Min Yoon Gi. Sekarang bukan hanya masalah pribadi, ia yakin cepat atau lambat perintah penangkapan akan segera ia terima. Tinggal tunggu tanggal main dan Nam Joon tidak akan menyiakan kesempatan. Pria berlesung pipi tersenyum timpang.

Tidak butuh waktu lama hingga TV plasma di hadapan menyala dengan sendirinya. Lalu potret sang atasan segera memenuhi layar. Perkiraan Nam Joon tidak pernah meleset, setidaknya ia bersyukur memiliki IQ di atas rata-rata.

“Kau sudah menduga hal ini sebelumnya, Nam Joon.” Pria di seberang sambungan mengucap sapaan. Nam Joon mengangguk menanggapi. Atasannya sangat paham dengan tabiat Nam Joon bagai ayah dan anak.

“Seperti yang sudah kauketahui ada dua perusahaan bermasalah yang perlu kita selidiki lebih lanjut. Mereka memiliki sindikat perdagangan ilegal dan sudah menguasai beberapa wilayah di Korea. Aku tidak menyadari masalah sesepele ini hingga Ji Il menunjukkan beberapa fakta padaku.”

Nam Joon mengangguk tanda patuh. “Saya sudah menyusun rencana agar mereka tidak curiga. Bergerak secara perlahan seperti bergerilya. Kami akan masuk dalam perusahaan dan tidak akan diketahui.”

Nam Joon melihat pria paruh baya itu mengangguk setuju. “Aku mengandalkanmu, Nam Joon. Persiapkan strategi dengan baik. Kita bertemu dua hari lagi untuk membicarakan semua yang telah kaupersiapkan.”

***

Segelas americano perlahan berganti suhu dan mulai kehilangan kepulan asap di atasnya, kendati demikian, si wanita muda yang telah memesannya tak kunjung melakukan pergerakan mengangkat minuman tersebut untuk kemudian segera ditandaskan. Netranya hanya sesekali melirik, lalu lagi-lagi atensinya terebut oleh seorang pria yang sedang duduk bersamanya di sebuah kedai kopi.

“Segeralah kirim surat lamaranmu ke JH-Ryu Corporation, Jill.” Pria itu menyeret sebuah amplop besar di atas meja ke hadapan Jill.

“Nam-“ Jill menggantungkan ucapannya, kemudian menghela kasar. Ia sedikit tidak nyaman akan obrolan ini. Selain karena kedai sedang dalam keadaan ramai, Jill juga sebenarnya tidak suka melibatkan diri pada suatu rencana yang diduga akan menimbulkan masalah di masa depan.

“Kenapa?” Nam Joon memicingkan mata begitu menangkap reaksi tak senang di wajah Jill. “Kau tidak ingin bekerja sama denganku? Kau masih menaruh rasa pada Min Yoon Gi? Kurasa iya.”

“Bukan begitu,” Jill sekali lagi menghela napas kasar diiringi bola matanya yang bergerak tak tenang. “Haruskah aku melakukan itu? Ah tidak, maksudku… sebegitu besarkah dampak buruk dari kecurangan dua perusahaan ini?”

Nam Joon tak lantas menjawab, ia justru tersenyum lebar menahan tawa. “Kurasa kau cukup pintar untuk menjawab pertanyaanmu sendiri, Jill,” ia berdeham sebelum melanjutkan lagi ucapannya. “Kuharap untuk saat ini kau sungguh berpihak pada ayahmu. Beliau ingin menuntaskan tugas besar ini sebelum pensiun agar nanti dapat membanggakan pencapaian apa saja yang telah dilakukan selama emblem Kepala Departemen Pajak tertempel di dadanya. Bukankah kau merasa terharu?”

Wanita itu mengatupkan mulut. Menarik napas berat, lantas dengan berat hati mengambil amplop di hadapannya. Nam Joon tersenyum puas ketika amplop pemberiannya akhirnya diterima oleh Jill.

“Kau harus bergerak di bawah kendaliku, YG biarkan aku dan ayahmu yang melakukannya,” ucap Nam Joon. Ia mengeluarkan sebuah kartu tanda pengenal dari saku jaket denimnya, lalu disodorkan pada Jill. “ Namanya Jeon Jung Kook, dia wakil Presdir JH-Ryu Corporation. Pastikan surat lamaran kerjamu diserahkan padanya. Dia telah bekerja sama denganku.”

Jill mengamati lamat-lamat kartu pengenal milik Jeon Jung Kook di telapak tangannya. “Oke.”

***

Pria bertampang stoic mengamati pakaian yang dikenakan di depan sebuah cermin toilet. Ia bersiul sesekali sembari sudut matanya mengawasi pintu masuk. Menyisir rambut yang sudah dikatakan terlalu klimis untuk terus dirapikan, lalu mengambil kacamata bundar di sisi wastafel dan menggantungnya di mata.

“Office Boy JH-Ryu Corporation, Park Jae Shin,” ia mengeja tulisan yang terbordir di bagian dada kanannya. “Kim Nam Joon ini meminta maaf telah menyalahgunakan nama baikmu.”

Kim Nam Joon bergegas keluar dari toilet, sesaat ia mengamati lingkungan sekitar untuk memastikan tak ada orang yang telah mencuri dengar, sebelum kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang office boy.

“Hey, Office Boy!”

Seseorang berseru lantang, Nam Joon menjeda gerakannya untuk membuka pintu ruang OB dan segera memusatkan arah pandangnya ke ujung lorong, letak si pemanggil itu berdiri dan sekarang tengah berlari kecil menghampiri. Ternyata yang memanggil Nam Joon itu salah seorang staff di gedung perusahaan yang sedang ia kunjungi.

“Ya?”

“Buatkan aku kopi hitam tanpa gula ataupun susu dan bawa ke ruang HRD. Oke?” Staff itu menepuk bahu Nam Joon dua kali sebelum berlari lagi untuk pergi. Sepertinya sedang terburu-buru.

Nam Joon tersenyum timpang lantaran tujuannya memasuki gedung JH-Ryu Corp memang untuk menembus ruangan tersebut. Kebetulan yang sangat luar biasa atau Dewi Fortuna sedang jatuh hati padanya? Entahlah, yang jelas baru kali ini Nam Joon merasakan rencananya berjalan amat lancar.

Ia bergegas memasuki ruang office boy, menutup pintu dengan rapat lalu menguncinya.  Pria itu tidak segera meracik kopi, justru menghampiri sebuah ransel yang sejak tadi disembunyikan di balik tabung gas muatan 12 kg. Nam Joon membuka ransel tersebut dengan tidak sabaran, mengeluarkan setumpuk ratusan amplop besar berisikan data diri dan surat lamaran pekerjaan yang orang-orangnya sudah ia atur sedemikian rupa. Ia lantas mencari-cari alat yang dapat membawa surat tersebut agar sampai di meja HRD dan matanya menangkap sebuah trolley dining cart yang teronggok di dekat pintu.

Trolley itu Nam Joon seret mendekati tumpukan surat bawaannya. Ia menyibak kain putih yang menjadi alas, lalu menyusun dengan rapi surat itu di rak kedua. Setelah semua surat berhasil dipindahkan dan memastikan kain alas tersebut menutupi surat-suratnya secara sempurna, Nam Joon akhirnya membuatkan kopi pesanan staff yang tadi menghampirinya.

***

Nam Joon membuka pintu ruang HRD. Di sana sepi, hanya ada satu staff wanita yang masih bertahan di meja kerja, itupun nampaknya staff tersebut sedang terburu-buru untuk meninggalkan ruangan. Ia melihat Nam Joon yang berdiri di balik pintu lalu memerhatikan apa yang dibawa pria itu.

“Kau mengantarkan kopi itu untuk siapa?” tanya staff wanita itu dengan dahi mengernyit. Ia beranjak dari kursi dengan menenteng sebuah stopmap merah, lalu berjalan mendekati Nam Joon.

“Aku tidak tahu namanya, yang jelas dia mengaku sebagai staff HRD. Ah, dia pria berambut cokelat dan memakai kontak lensa berwarna biru,” jelas Nam Joon.

“Ah dia Park Myung Soo.” Si wanita mengangguk mengerti, kemudian menggerakkan telunjuk kanannya ke arah salah satu meja kerja. “Mejanya di baris kedua yang ada tumpukan surat lamaran itu. Taruh saja di sana, dia sedang rapat.”

“Terima kasih.”

Staff itu berpamit pergi, Nam Joon hanya mengiyakannya saja. Setelah memastikan pintu telah tertutup rapat, ia berjalan mendekati meja milik Park Myung Soo. Meletakkan cangkir kopi di atas meja dengan hati-hati.

Arah pandang Nam Joon memindai setiap sudut ruangan dengan awas, takut kalau dirinya lalai ternyata masih ada orang yang tertinggal atau bisa saja tiba-tiba ada seseorang yang tanpa ia sadari telah masuk dan berdiri di ambang pintu. Sedikit beruntung ruang HRD ini tidak difasilitasi CCTV entah apa alasannya, sehingga Nam Joon tidak perlu repot-repot memutus saluran kabel kamera mata-mata itu atau mengubah total penampilannya agar terlihat berbeda dan misterius.

Merasa cukup aman, Nam Joon mengangkat surat yang tertumpuk berantakan di meja Park Myung Soo dan memasukkannya ke dalam trolley rak kedua. Surat-surat bawaannya segera dikeluarkan, untuk kemudian diletakkan di posisi yang sama  seperti surat milik Park Myung Soo tadi berada.

Rencananya telah selesai dengan sukses. Nam Joon keluar dari ruang HRD dengan hati bersorak senang. Selanjutnya yang perlu ia lakukan hanyalah memindahkan surat-surat di dalam trolley ini pada ranselnya, kemudian membuangnya ke sungai, bila perlu dibakar.

***

Kim Nam Joon kembali mendatangi rumah minimalis tradisional yang kemarin ia kunjungi. Memasuki ruang rahasia yang terselip dalam walk in closet dan menyalakan TV Plasma, baru kemudian menyamankan diri dengan duduk di kursi yang tersedia di sana. Gambaran pria berusia hendak menyentuh setengah abad memenuhi layar datar yang terpampang di depannya, tersenyum ramah menyapa pria yang lebih muda.

“Bagaimana, Nam Joon?” sepertinya pria tua yang merangkap sebagai atasannya untuk hari ini tak mau berbasa-basi menambahkan percakapan ringan dalam obrolan serius ini. Nam Joon bisa memahaminya, jadi ia berdeham pelan dan mengumpulkan oksigen sebelum berbagi kisah apa yang telah ia lakukan hari ini pada pria dalam layar tersebut.

“Saya minta maaf, Pak,” ujar Nam Joon mengawali, “Saya telah bergerak lebih dulu. Ryu Se Joon besok lusa akan turun dari kursi kebesarannya dan akan digantikan dengan putri tunggalnya yang bernama Ryu Ye Rin. Seiring dengan pergantian kekuasaan, JH-Ryu Corporation juga akan melakukan perbaruan karyawan. Memecat pegawai lama dan mencari calon pekerja yang baru. Dan tadi pagi saya berkunjung ke gedung JH-Ryu untuk memanipulasi surat lamaran yang datang ke perusahaan itu dan menggantinya dengan surat lamaran para pekerja yang telah kami pecat dari Han Corporation,” jelasnya.

Sang atasan di seberang sana terdiam, meresapi penjelasan Nam Joon barusan. Sekian detik kemudian ia tersenyum puas, diiringi tepukan tangan sesekali. Membuat Nam Joon bangga lantaran rencananya diapresiasi dengan baik oleh pemimpinnya.

“Bagus, Nam Joon. Kau bekerja dengan cepat dan sesuai dengan harapanku. Tak salah aku menaruh percaya padamu,” puji pria paruh baya itu. Nam Joon mengembangkan senyumnya dengan tersipu. “Dengan begitu kita dapat mengontrol dengan baik kegiatan apa saja yang perusahaan itu lakukan. Lalu bagaimana dengan YG?”

Senyum yang terpatri di paras Nam Joon perlahan meluruh, diganti dengan raut kebimbangan. “Perusahaan itu cukup sulit untuk kita mainkan. Tapi aku akan terus berupaya mencari solusinya.”

Pria dalam plasma itu mengangguk sekali lagi. “Baiklah baiklah, aku percaya padamu. Untuk saat ini jangan banyak bergerak, cukup amati saja kegiatan mereka.”

Nam Joon mengangguk patuh. Gambaran sang atasan dalam layar perlahan meredup, lalu akhirnya TV Plasma itu hanya menampilkan layar hitam.

Dan begitulah penggalan ingatan Kim Nam Joon beberapa tahun lalu tentang kisah awal mula ia membentuk sebuah aliansi untuk melakukan penyerangan pada musuh-musuhnya. Tanpa disadari mobil yang ia kemudikan telah tiba di tempat tujuan. Di sebuah klub malam bernama Fantasia, siapa lagi yang akan Nam Joon temui di tempat seperti ini selain Shin Seul Bi. Ia menemui Seul Bi untuk menagih kabar terbaru yang berhasil wanita itu korek dari Min Yoon Gi.

***

Macbook putih di hadapan Jeon Jung Kook kini sedang mempertontonkan sebuah video CCTV pemberian rekannya, Kim Nam Joon. Pria muda itu nampak serius memerhatikan dua orang saling berbincang yang berhasil tersorot oleh kamera pengintai, telinganya juga berusaha menyimak apa saja yang mereka bicara.

Hingga tiba-tiba salah seorang di dalam video itu beranjak, satu lainnya turut berdiri mengejar, lalu entah apa yang mereka ributkan—Jung Kook mengutuk kualitas suara yang dihasilkan video CCTV ini, membuatnya tidak begitu jelas menangkap apa yang dua orang di dalam video bicarakan—tiba-tiba orang yang tadi terlebih dulu berdiri memukul sang rekan yang mengejarnya. Menghajar habis-habisan sampai tak berdaya.

Jeon Jung Kook tentu saja mengenali dua orang dalam video yang sedang ditontonnya. Terlebih untuk si tersangka yang melakukan penyerangan. Pria itu menjinjing tinggi pasang sudut bibirnya untuk mengekspresikan atas kepuasannya.

“Kena kau, Min Yoon Gi,” desisnya pelan.

To Be Continued..

A/N: *tiupin debu* duh lama banget gak update MC nih >

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s