비물 (Rain) Chapter 10 [End]

비물 (Rain) Chapter 10 [End]

image

Title: 비물 (Rain)
Cast: Min Yoon Gi, Clarynne Son
Genre: Romance, Drama, AU
Cover by: Rosilah Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Adiinda Chan

“Apa kau tahu nama aroma tanah basah kala hujan menampakkan diri? Ia adalah petrichor, si pembawa rasa tenang dalam jiwa.”

Chapter 10
Final: Its Too Late

~~~

Story begin..

Yoon Gi duduk memandang Claire yang sibuk memainkan sendok di dalam gelas. Sesungging senyum terukir manis di bibir. Namun senyuman itu tak jua mempermudah nyali untuk melanjutkan perbincangan. Untaian kisah masa lalu telah usai mereka ceritakan. Sudah saatnya mereka melanjutkan pada perbincangan yang menjurus pada masa depan. Yoon Gi menghela napas ringan. “Bi, kau masih berhubungan dengan Jung Kook?” Sembari memandang kesembarang arah, Yoon Gi mencoba melanjutkan obrolan.

Claire mengangkat pandang melihat wajah Yoon Gi yang tak mengarah padanya. “Kenapa bertanya soal Jung Kook? Kedekatanku dengannya tak sebanding dengan kedekatan kalian berdua,” kata Claire. Yoon Gi terkikik lantas menyuap potongan kecil muffin. “Lalu… bagaimana dengan Han Na?” Claire memberi pembalasan.

Lelaki itu langsung mendelik sambil menarik ujung bibir. Menaruh lagi muffin ke atas piring lanjut menyesap sisa minuman di dalam cangkir miliknya. “Aku dan Jung Han Na, sama sekali tidak dekat. Bagaimana bisa kau menyinggung soal dia?” nyinyir Yoon Gi.

Kali ini Claire yang terkikik. Ia lanjut memainkan sendok di dalam gelas.

“Dibandingkan aku, hubunganmu dengan Jeon Jung Kook yang lebih pantas dipertanyakan. Apa kalian sedang melakukan kudeta di belakangku saat itu?”

Claire mendadak diam begitu Yoon Gi selesai dengan kalimatnya. Ia tertegun sambil memandang Yoon Gi. “Kenapa kau menganggap itu sebagai kudeta?” Claire mengerucutkan bibir.

“Bersekongkol untuk membuatku cemburu, sama saja, ‘kan?” jelas Yoon Gi. Claire sontak mengernyit. Jadi selama ini Yoon Gi sudah tahu niat kedekatannya dengan Jung Kook? Lantas kenapa ia diam saja? Tidak. Apa karena ia memang sudah tahu oleh sebab itu ia bersikap acuh? Claire mulai mengisi otak dengan segudang pertanyaan.

“Jadi, kau sudah tahu?” tanya Claire. Namun Yoon Gi menggeleng.

“Awalnya aku mengira kalian benar-benar dekat sebagai pasangan. Tapi, lama tidak bertemu denganmu membuatku leluasa memikirkan banyak hal.” Yoon Gi kembali menyuap potongan muffin. “Jeon Jung Kook bukan tipe orang yang mau menikung teman sendiri. Ya… walau kita tidak benar-benar menjalin hubungan seperti itu. Dan aku yakin, kalau bukan itu lantas apa lagi alasan kalian?”

Claire berkedip cepat. Mendadak gugup saat hendak menyesap sisa melya hingga cairan itu terciprat ke luar gelas mengenai wajah. Claire mendengus lantas menaruh lagi gelas ke atas meja. Terburu-buru mencabut lembaran tissue dari wadah untuk menyeka noda di dagu hingga lehernya.

Yoon Gi tertawa kecil menyaksikan tingkah kikuk Claire. Ia beranjak dari kursi lalu mencondongkan tubuh demi menjangkau Claire. “Kau bukan anak-anak lagi, Bi. Ini memalukan.” Yoon Gi mengusap wajah Claire dengan sapu tangan. Hingga wajah manis gadis itu harus merona lagi dibuatnya. Entah kapan terakhir kali ia merasakan sentuhan Min Yoon Gi.

“A-aku bisa membereskannya sendiri,” kata Claire sembari menepis tangan Yoon Gi.

Hening.

Sementara Claire sibuk membersihkan diri, Yoon Gi hanya duduk dan menonton.  Ia tidak mencoba membuka topik lain. Bukan karena tidak mau, hanya saja otaknya mendadak hampa hingga sulit memikirkan bahan obrolan.

“Ehem.”

Yoon Gi mendelik saat terdengar Claire berdeham.

“Bagaimana dengan olimpiade? Kudengar beberapa bulan lagi olimpiade renang tingkat nasional akan diselenggarakan?” sambung Claire mencecar. Yoon Gi tersenyum sambil mengantongi sapu tangan bekas menyeka wajah Claire.

“Kenapa? Kau ingin aku menjanjikan medali emas lagi?” balas Yoon Gi.

“Jika kau tidak keberatan, aku bersedia menerima.” Claire mengalihkan pandangan dari Yoon Gi.

Yoon Gi kembali menjulurkan lengan panjangnya. Mengacak pucuk kepala Claire seperti yang biasa ia lakukan. “Pernyataan macam apa itu? Sifat angkuhmu belum juga hilang ternyata.”

Claire merengut sambil mengembungkan pipi. “Baiklah. Berikan aku medali emas untuk olimpiade kali ini! Jika kau tidak memberiku medali apa pun, aku akan menghajarmu.” Claire mengepalkan tangan pada Yoon Gi. Kemudian tersenyum sambil membuka kepalan tangan dan menaikkannya lebih tinggi. Gadis itu malah memanggil seorang pelayan untuk membawakan segelas air putih.

Yoon Gi tak henti mengulas senyum. Sungguh, ini adalah momen yang sangat ia rindukan sejak dua tahun terakhir. “Tapi, Bi. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk olimpiade itu.”

Claire sontak terkejut. “Kenapa?”

“Aku tidak diikutsertakan.” Yoon Gi tetap tersenyum. Namun tidak dengan Claire. Ingatannya pada masa lalu membuatnya dilanda rasa khawatir. Ia bergegas meninggalkan kursi dan mendekati Yoon Gi. Menyentuh bahu kiri Yoon Gi dengan wajah cemas. “Apa… bahumu cidera lagi?”

Yoon Gi menggenggam tangan Claire. Menjauhkan dari bahunya kemudian menggeleng. “Aku baik-baik saja. Pelatih ingin aku menjadi perwakilan Seoul untuk olimpiade di Kanada yang hanya berselang satu hari dari olimpiade nasional. Sebagai atlet naturalisasi,” jelas Yoon Gi.

Claire menghela napas lega. Spontan memeluk tubuh Yoon Gi penuh rasa syukur. Beruntung baginya karena Yoon Gi tak pernah terluka ketika mereka tak bisa saling melindungi.

Namun pelukan hangat itu tak berlangsung lama. Claire segera melepas Yoon Gi dan kembali duduk di kursinya. Menyeka tangis di sudut mata yang nyaris menetes dan mencoba menyembunyikannya dari Yoon Gi. Tidak mungkin bagi Yoon Gi tidak menyadari hal tersebut, hanya saja ia berpura-pura tak melihat.

“Aku bisa menjanjikan medali emas bahkan dua jika kau mau,” sambung Yoon Gi.

“Bodoh. Jika kau memang bisa, maka janjikan aku lebih dari yang aku mau.” Claire berhenti memalingkan wajah dari Yoon Gi. Ia menatap Yoon Gi penuh rasa bangga juga haru.

“Emm… bagaimana jika kita pergi ke Kanada bersama?” Yoon Gi berpura-pura memainkan hiasan meja.

“Kenapa mengajakku? Mana mungkin kita bisa pergi bersama, kau ‘kan pergi untuk membanggakan Korea,” kata Claire.

“Bukan untuk menemaniku, Bi.” Claire tertegun. Yoon Gi beralih mengeluarkan ponsel dari poketnya. Mengusap layar untuk memilah-milah menu dan membukanya. Barisan pesan singkat itu ia tunjukkan pada Claire.

“Apa ini?” ragu Claire.

“Pesan singkat antara aku dan ayahmu,” kata Yoon Gi. Claire kontan tercengang. “Ayahku?” Ia sigap merebut ponsel dari tangan Yoon Gi dan membacanya lebih teliti.

“Aku mendapat kontak ayahmu dari Bibi Son. Sebenarnya… Bibi Son ingin membujukmu agar menemui ayahmu di Kanada. Beliau sedang sakit, karena bisnisnya mengalami penurunan signifikan dan dia dililit banyak hutang.” Yoon Gi menyesap lagi isi cangkir miliknya.

“Ayahku di Kanada?” tanya Claire meski dwi maniknya masih sibuk membaca tiap pesan.

Yoon Gi mengangguk. “Aku sudah mendapat alamat tempat tinggalnya. Sebelum ke hotel, aku akan mengantarmu dulu.” Namun Claire terlihat ragu. Sudah terlalu lama ia tidak lagi berjumpa dengan sang ayah. Bisakah ia mencairkan suasana saat bertemu nanti?

“Aku akan pergi dengan ibuku. Kau harus fokus dengan olimpiade, jangan memecah belah pikiranmu.” Claire menggenggam erat ponsel milik Yoon Gi.

“Bibi tidak bisa mengantarmu, Bi. Oleh sebab itu, dia meminta bantuanku,” balas Yoon Gi.

Claire mendengus. “Pasti karena pameran musim panas. Ibuku terlalu sibuk.”

“Kau tidak membenci ayahmu, ‘kan?” tanya Yoon Gi. Namun Claire tak lantas menjawab. Ia hanya diam sambil menaruh ponsel Yoon Gi di atas meja. “Aku rasa ibumu memang tidak bisa menyinggung soal ayahmu. Jadi dia sepenuhnya meminta bantuanku. Tidak apa, aku bisa menjadikan kesempatan ini sebagai acara perkenalan antara calon mempelai pria dengan mertuanya,” sambung Yoon Gi.

Claire tertegun. Dibanding pembicaraan soal ayahnya, kalimat terakhir Yoon Gi lebih menyedot perhatian. “A-apa yang barusan kau katakan, Sean?” tanya Claire.

Namun Yoon Gi berpura-pura tak mengingat. “Yang mana?” Ia justru memainkan bungkus muffin.

“Yang tadi… yang terakhir,” desak Claire.

Yoon Gi menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Menatap arloji di tangan kemudian membulatkan netra. “Oh Tuhan! Hampir jam dua!”

Claire terkejut. “Kau punya acara lain?”

Yoon Gi tak menjawab. Ia justru menarik lengan Claire dan memintanya merapihkan diri. “Ayo!” serunya.

“Ayo? Ke mana?” tanya Claire.

Yoon Gi menyungging senyum. Menaik-turunkan alis  lantas berucap, “Kita main hujan….”

***

Cahaya warna-warni menghias di sepanjang area. Semburat biru mendominasi dari balik lubang-lubang kecil di dasar jalan. Ini adalah area air mancur. Claire dan Yoon Gi tahu itu. Hanya saja belum terlihat semburan air memancar ke luar.

“Bi, letakan tasmu di mobil.” Yoon Gi sudah lebih dulu berdiri di tengah-tengah lingkaran cahaya. Claire bergegas menyimpan tas tangan ke dalam mobil. Kemudian menyusul Yoon Gi yang sudah merentangkan kedua tangan.

Claire menatap nanar. “Jangan bertingkah konyol. Hari ini hari kamis, tidak akan ada air yang keluar di hari kamis. Ayo kita kembali sebelum petugas menangkapmu.”

“Siapa yang akan menangkapku?” balas Yoon Gi.

Claire hanya melirik sambil tersenyum geli. Karena melihat Yoon Gi yang begitu nyaman merentangkan tangan sambil terpejam. “Aku lebih baik menunggu di mobil,” kata Claire. Ia berjalan perlahan menjauhi Yoon Gi untuk kembali ke mobil.

Namun…

“Bi!” Yoon Gi menyeru.

Claire menoleh. “Apa?”

“Aku mencintaimu!” Yoon Gi menegaskan. Claire tertegun dan hanya diam memperhatikan Yoon Gi. Tidak mungkin ‘kan telinganya berhalusinasi tanpa sebab?

“A-apa?” Claire mengulang.

“Bi, aku mencintaimu.”

Yoon Gi tersenyum seraya memandang wajah Claire. Dan di saat bersamaan, semburan air mancur muncul ke permukaan. Menciptakan taburan air berjatuhan di atas kepala keduanya. Yoon Gi berlari menghampiri Claire. Memandangnya lebih dekat dan tak henti tersenyum.

“Aku sekarang percaya, dan yakin. Perasaan ini… adalah cinta,” kata Yoon Gi.

Claire mendengus dan berbalik membelakangi Yoon Gi. Ternyata rasa itu harus membuat tangis meleleh lagi. “Bi?”

“Bodoh!” pekik Claire. Gadis itu membalik lagi menghadap Yoon Gi. “Kenapa kau begitu terlambat?” Claire tersenyum, tertawa dan menangis di saat bersamaan. Kemudian berlari berjingkrak-jingkrak di bawah guyuran hujan air mancur. Ia nampak begitu bahagia tak terkecuali Yoon Gi.

-FIN-

A/N: *uhuk* Yeay akhirnya end juga >< gimana2? Apa suka sama ceritanya? Kasih krisar dong 😉

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

2 thoughts on “비물 (Rain) Chapter 10 [End]

  1. Yaaaakkk ,, ending nya :v ,, sumpaaaah eonni ini ending cem apaaaaaa wkwkw xD lagi tinggi iniiii wkwkwk xD

    Aku baru komen di part terakhir, maaf yaa eonni :”3 ,, aku terlalu cinta sama bahasanya eonni sampe g nemuin ‘kerusakan’ di tiap kata yg eonni rangkai,,
    Dari chap 1 sampe akhir, MENDEBARKAN >,<
    Ditunggu karya" selanjutnya eonni, aku janji bakal komen di awal chap sampe akhir ,, makasih udah dibolehin baca :"3

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s