비물 (Rain) Chapter 9

비물 (Rain) Chapter 9

image

Title: 비물 (Rain)
Cast: Min Yoon Gi, Clarynne Son
Genre: Romance, Drama, AU
Cover by: Rosilah Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Adiinda Chan

“Apa kau tahu nama aroma tanah basah kala hujan menampakkan diri? Ia adalah petrichor, si pembawa rasa tenang dalam jiwa.”

Chapter 9
A Suddenly Goodbye

~~~

Story begin..

“Aku benar-benar bodoh.” Claire mendengus, menatap nanar piano di hadapan. Sejujurnya ia akan menunjukkan bakat bermain piano jika saja mulut sialan tidak ikut campur dalam hal ini. Bahkan sudah terlewat dua hari semenjak pernyataan Claire namun sama sekali tidak ada tanda-tanda Yoon Gi ingin mengajaknya berdamai. Atau paling tidak mengabaikan apa yang pernah ia katakan.

Claire nyaris menyerah ketika sang ibu bertanya alasan mengapa ia selalu berangkat menggunakan taksi dua hari ini dan tidak mendapati Yoon Gi bersamanya ketika pulang. Ia terlalu malu untuk mengadu pada sang ibu. Malu atas tindakan ceroboh yang justru berdampak jauh lebih buruk dibanding harus menatap Yoon Gi tersenyum pada gadis lain.

Claire menghela napas, menekan-nekan tuts piano melantunkan salah satu lagu kenamaan yang sering ia dengarkan dari ponsel. Apa gunanya menyesali perbuatan yang sudah terjadi? Toh ia juga tidak bisa memutar waktu. Terlebih lagi, Min Yoon Gi benar-benar terlihat seperti seorang yang menyukainya.

Claire masuk dalam chorus lagu ketika satu pesan notifikasi muncul di ponsel. Gadis itu tidak menyiakan kesempatan, menghentikan permainan piano di tengah jalan demi melihat si pengirim pesan. Nama Jung Kook tertera di sana dan Claire segera menyurutkan senyum.

“Kenapa harus dia yang muncul?” sunggut Claire meletakkan kembali ponsel tanpa berniat membaca maupun membalas. Pikirannya hanya tertuju pada Yoon Gi, Yoon Gi, dan Yoon Gi lagi. Hal ini benar-benar membuatnya frustrasi.

***

Esok harinya Jeon Jung Kook sudah berdiri di depan pintu kelas Claire ketika gadis itu hendak melangkah masuk. Dahi Claire mengernyit tidak mengerti. Ini masih pagi dan untuk apa Jung Kook yang biasanya lebih memilih tidur di atap justru berada di kelasnya sepagi ini?

“Kau tidak menjawab pesanku semalam,” ujar Jung Kook berbasa-basi. Claire yang ingat peristiwa semalam kontan tersenyum menggaruk tengkuk.

“Maaf. Aku sedang berlatih piano dan melupakan ponselku.”

Jung Kook mengangguk pelan. Ia memberanikan diri mengacak surai gadis keturunan Amerika di hadapan sesuai apa yang biasa Yoon Gi lakukan. “Istirahat nanti aku akan menjemputmu. Aku punya sesuatu menarik untuk dibicarakan.”

Setelah mengucap kalimat Jung Kook segera pergi. Meninggalkan segudang tanya di benak Claire yang tidak dapat ia temukan jawabannya. Mengapa lelaki itu jadi mirip Sean, gumam Claire mengendikkan bahu. Memilih masuk ke dalam kelas tanpa ingin menambah beban lagi.

***

Kolam dan air adalah pasangan yang tidak mampu terganti bagi Yoon Gi. Ia merasa begitu hidup jika menyentuh air, merasa seolah kedua orangtuanya memeluk hangat tubuh Yoon Gi. Namun beberapa hal telah berubah semenjak eksistensi Claire tidak juga dapat terganti. Gadis itu bagaikan matahari sekaligus kaca di saat yang bersamaan.

Yoon Gi tidak tahu sejak kapan seorang atlet bisa menjadi puitis namun sisi lain dalam dirinya terus memproduksi kalimat-kalimat manis yang ditujukan untuk sang sahabat tercinta. Sayang… ketika ia meyakinkan diri tentang apa yang ia rasakan pada Claire, ia belum menemukan jawaban. Semua terasa abu-abu. Terasa begitu ambigu bagi Yoon Gi yang buta akan cinta.

Sejujurnya ia ingin bertanya pada sang kakak yang notabene lebih tua darinya. Namun inisiatif diri membentengi niat itu terealisasi. Ia takut seorang Min Seok Jin, kakak paling narsis yang kini menempuh pendidikan dokter itu mengadu pada semua orang. Terlebih pada orangtuanya yang sangat sensitif.

Maka yang bisa Yoon Gi lakukan hanya menyentuh air. Berlama-lama berada di kolam renang dan tidak melakukan kegiatan apa pun setelah pulang sekolah. Ia sudah absen mengantar jemput Claire, sudah absen pula membawa gadis itu pulang untuk mengacaukan dapur kakaknya. Mungkin sebagian perasaan rindu tertanam di palung hati, namun apa daya segala sistem tubuh menghianati.

Yoon Gi tidak melakukan pergerakan apa-apa. Tidak menunjukkan progress signifikan untuk hubungan keduanya. Tidak maju tidak pula mundur. Ia hanya berjalan di tempat, menunggu kepastian hati yang tidak kunjung mendapat titik terang.

***

Sepoi bayu berembus pelan, dingin tapi tidak sedingin pertengahan musim beberapa bulan lalu. Salju masih menumpuk di beberapa jalan namun tidak terlalu banyak. Claire menumpu pandang pada halaman sekolah yang terlihat manis jika dipandang melalui atap seperti ini. Gadis pemilik surai cokelat menampakkan senyum manakala manik mata tidak sengaja menemukan sosok Yoon Gi.

“Sudah lama menunggu?” Satu suara mengalun membuat Claire menoleh. Gadis itu menemukan Jung Kook baru saja muncul dengan dua tangan penuh cup latte. “Aku ke kantin membeli latte. Kuharap kau tidak kecewa karena aku datang terlambat.”

Claire tertawa kecil. Mengibas tangan menyirat ini-bukan-masalah-besar lalu Jung Kook mengulurkan salah satu cup ke arahnya. Claire dengan sigap menerima cup tersebut. Mengucap terima kasih dengan nada manis.

“Jadi… ada hal apa yang membuatmu ingin menemuiku?” Claire tidak bisa berbasa-basi. Entahlah. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia harus bersikap membentengi diri terhadap salah satu teman Yoon Gi.

“Aku ingin menawarkan kerja sama,” ucap Jung Kook menyeruput latte menunggu reaksi Claire. “jika kau tertarik.”

“Kerja sama?”

Jung Kook mengangguk. “Kita harus buktikan apakah Yoon Gi juga menyukaimu atau tidak.”

Netra Claire membulat sempurna. Ia tidak mengerti jalur pemikiran lelaki di hadapan. Bagaimana bisa ia tahu tentang hal itu?

“Jangan menyangkal. Aku berada tidak jauh dari kalian saat kau mengungkapkan perasaanmu keras-keras.” Jung Kook ikut berjalan hingga pembatas atap. Lelaki itu menumpu pandang pada halaman di hadapan, sedikit tersenyum saat menoleh kembali ke Claire.

“Aku terkejut Yoon Gi tidak menjawab apa pun padamu saat itu dan lebih terkejut ketika kalian tidak lagi bersama. Bagai nila setitik dalam susu di belanga.”

Claire mengeratkan cengkeraman pada almamater. Jung Kook benar, setelah insiden terlalu berani itu Yoon Gi benar-benar menghindar. Tidak mengucapkan reaksi dan lantas pergi begitu saja seolah mereka tidak saling kenal satu sama lain.

Claire juga tidak mengerti mengapa sekarang ia sangat sulit menemukan Yoon Gi. Tidak di perpustakaan, tidak di kantin, tidak juga di atap. Ia seolah benar-benar sengaja menghilangkan jejak dari Claire.

“Aku tidak ingin jawaban apa-apa.” Claire menatap Jung Kook garang. Ia berusaha menekan perasaannya sejauh mungkin. Tidak membiarkan rasa suka mendominasi di netra.

Jung Kook justru terkekeh geli alih-alih mendengus. Itu membuat Claire makin kuat mencengkeram almamater. “Kau adalah seorang pembohong yang buruk.”

Claire menghela napas. Benarkah? Benarkah Claire sangat mudah dibaca seperti apa yang dikatakan Yoon Gi? Jadi… apakah mungkin sebelum ia mengatakan hal itu Yoon Gi sudah tahu bahwa ia mencintainya? Claire memukul telak kepalanya dalam hati.

“Aku bisa membantumu mencari jawaban sendiri tanpa perlu menunggu lelaki tidak peka itu mengucapkan.”

***

Claire mendengus melemparkan diri ke ranjang. Ia menatap kosong langit-langit kamar yang sudah bersih dari tempelan bintang glow in the dark kesukaannya dulu. Hanya menatap, mengembuskan napas lalu melamun. Terus begitu hingga tiga puluh menit terlewat semenjak ia pulang sekolah.

Claire belum menanggalkan seragam, masih setia menatap kosong langit-langit dengan sejuta pikiran berputar di otak. Gadis itu menghela napas lelah, ia tidak tahu keputusannya benar atau salah. Yang ia tahu ia harus mendapat jawaban itu sekarang. Mendapat jawaban bagaimana perasaan Yoon Gi terhadapnya.

Satu notifikasi pesan masuk muncul di ponsel, itu adalah Jung Kook lagi.

Besok aku akan menjemputmu. Ini adalah langkah awal apakah Yoon Gi cemburu terhadap kedekatan kita atau tidak. – Jung Kook

Claire mengangguk dalam diam. Ia membalas pesan lantas memejamkan mata. Ah… semoga ini adalah pilihan yang tepat.

***

“Aku sangat rindu pada calon adik iparku.” Min Seok Jin melahap sarapan sembari terus mendesak Yoon Gi. “Kau berangkat terlalu siang setiap hari. Apa kau tidak menjemput Claire?”

Yoon Gi tidak mengindahkan ucapan-ucapan sang kakak. Ia memilih menandaskan sarapan, diam dan tidak bersuara.

“Hei, aku berbicara padamu. Bukan berbicara pada sendok dan garpu.” Seok Jin tidak menyerah. Merasa ada yang mengganjal dalam diri Yoon Gi belakangan. Terlebih akan sangat mengganjal karena gadis bernama Claire yang sudah ia klaim sebagai calon adik iparnya tidak menampakkan batang hidung.

“Claire sudah dewasa dan lagipula ini bukan musim panas. Tidak akan ada hujan.” Yoon Gi meletakkan sendok dan garpu, meminum segelas air lantas meraih ransel. “Aku berangkat, Kak.”

Min Seok Jin menatap kepergian adiknya dengan dahi mengerut. Jika ia boleh menerka, sesuatu mungkin terjadi antara Claire dan Yoon Gi. Namun ia sendiri tidak mengerti sesuatu seperti apa yang mendasari perubahan sikap Yoon Gi sedrastis itu hanya karena mendengar nama Claire diucap. Seok Jin menggeleng kecil. Mungkin masalah menuju dewasa, pikirnya.

***

Sebuah simbiosis mutualisme yang selalu diagungkan Claire dan Yoon Gi perlahan mengikis. Sudah hampir satu bulan mereka tidak bersitatap atau sekadar berbicara hal-hal tidak penting. Yoon Gi hanya memandang Claire dari jauh, begitu pula Claire yang juga memandang lelaki itu dari jauh. Namun keduanya menatap dengan ekspresi yang berbeda; Yoon Gi dengan raut tenang nyaris tak terbaca sementara Claire menatap sendu seolah ingin menghampiri.

Rencana demi rencana sudah disusun sedemikian rapi. Hingga Nyonya Son beranggapan Yoon Gi absen dari tempat karena Claire sudah memiliki laki-laki lain yang terus bersamanya sepanjang waktu. Jung Kook mengira hal ini akan berhasil tapi nyatanya Yoon Gi tidak menunjukkan gelagat apa pun. Lelaki itu menaruh curiga bahwa benar kesimpulannya tentang Yoon Gi yang hanya mengganggap Claire sebagai teman.

Setiap hari Claire akan merengut dan menangis di pundak Jung Kook ketika mereka berdua berada di atap. Sangat tidak memungkinkan bagi Claire menembus hati lelaki dingin yang sejak dahulu jadi teman baiknya. Ia menghela napas dalam-dalam. Berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin demi bertahan akan situasi yang cukup memusingkan.

Sebenarnya Yoon Gi tidak menyangkal adanya rasa sesak timbul mendapati kedekatan Claire dan Jung Kook. Mereka terlihat begitu bahagia hingga membuat semua orang iri akan kedekatan yang baru terjalin singkat itu. Namun Yoon Gi mencoba menyingkirkan hal-hal yang sekiranya membebani pikiran. Memilih memberi alasan pada hati kecilnya bahwa Claire hanya butuh seorang yang selalu ada untuk menjaganya dan sekarang ia telah memiliki Jung Kook.

Ketiganya memiliki perasaan berbeda. Memiliki cara pandang berbeda dalam menyikapi perubahan besar yang terjadi. Jung Kook diam-diam membutuhkan eksistensi Claire bukan lagi sebagai rekan kerja sama. Claire sedikit lebih terbuka dengan Jung Kook namun masih tetap menginginkan Yoon Gi kembali. Sementara Yoon Gi seolah menyerah dengan membiarkan dirinya terombang-ambing dalam perasaannya sendiri.

Hingga hari Selasa di awal musim semi tiba, Claire yang sudah terbiasa dengan adanya Jung Kook harus mendengar ketiga teman baik di kelas memberikan umpan.

“Kurasa peribahasa mati satu tumbuh seribu benar-benar ada.” Naomi naik di atas meja Claire sembari mengguit dagu gadis itu. “dan kita menemukan contohnya sekarang.”

Ye Rin serta Na Young tertawa, membuat Claire mendengus memilih menamatkan novel yang kurang beberapa halaman.

“Hei, Claire. Katakan padaku mengapa kau bisa beruntung didekati lelaki populer di sekolah?” Na Young berbinar. Ia sama sekali tidak mengerti akan selera lelaki populer yang justru mengabaikan produk lokal seperti dirinya.

“Entahlah. Aku sendiri tidak tahu mereka berada di lingkungan populer sebelum bulan februari,” jawab Claire berhenti memfokuskan pandang pada novel. Ia tahu gadis-gadis di hadapan tidak suka diacuhkan begitu saja.

Ye Rin mengambil pose berpikir. “Kurasa karena Claire memiliki darah amerika asli. Kalian tahu, ‘kan?”

Claire mengangkat bahu. Entahlah. Tidak ada yang tahu alasan mengapa Jung Kook mendekatinya. Padahal jika mereka tahu Jung Kook hanya ingin membantu, mungkin saja rasa kagum yang tersemat akan pudar begitu saja. Ia jadi sedikit merasa bersalah pada Jung Kook. Claire seperti memanfaatkan kebaikan Jung Kook demi mendapat apa yang ia inginkan.

***

“Kau sudah mengundang Claire, ‘kan?” Nyonya Min bertanya pada Yoon Gi yang masih belajar. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun Yoon Gi enggan menutup buku. Lelaki itu menoleh, menatap sang ibu di pintu kamar dengan gelengan kecil.

Nyonya Min menghela napas. “Apa karena Claire sudah memiliki kekasih? Jadi kau tidak berniat mengundangnya datang ke pesta ulang tahun pernikahan ibu dan ayah?”

Netra sipit Yoon Gi membulat, ia dengan cepat mengibas-ngibaskan tangan di udara. “Tidak seperti itu, Bu.”

“Lalu?” Nyonya Min masih melempar tanya. Sudah sangat jelas Yoon Gi menghindari topik mengenai Claire sejak satu bulan lebih. Awalnya ia tidak menaruh curiga, namun lama kelamaan Nyonya Min mulai mempercayai tesis putra sulungnya. Ada sesuatu di antara mereka dan sudah sangat jelas karena ia melihat dengan mata kepala bahwa Claire berangkat bersama seorang lelaki berseragam sama.

“Kau tidak harus meninggalkan Claire jika ia sudah memiliki kekasih. Kalian adalah teman sejak kecil. Bahkan dulu kau yang terlebih dahulu mengajaknya berteman.”

Yoon Gi menunduk, tidak berani menatap sang ibu yang menagih penjelasan. Ia bisa saja mengatakan bahwa Claire mencintainya dan ia ragu dengan perasaan sendiri, namun apakah Claire masih mencintainya sementara hari-hari biasa sudah ada Jung Kook yang menemani? Yoon Gi menghela napas. Tidak menjawab omelan sang ibu, hanya mengangguk tanda setuju.

“Kau harus mengundangnya ke pesta minggu depan. Dia selalu berada di pesta setiap tahun.”

Yoon Gi lagi-lagi hanya mengangguk. Menyaksikan ibunya mengucapkan selamat malam lalu menutup pintu kamar. Ia semakin tidak mengerti sekarang. Bisakah… bisakah ia memudarkan rasa canggung di depan Claire?

Ia meraih ponsel yang berada tepat di samping kiri, mengabaikan detakan jantung tidak beraturan demi mencari sebuah nama yang sering memenuhi log aktivitas ponsel setidaknya sampai pertengahan februari lalu. Yoon Gi menekan tombol panggil, menunggu dengan cemas manakala telepon tidak kunjung diangkat meski sudah berdering. Pada dering ke enam suara yang diam-diam ia rindukan sudah mengucap sapa di seberang.

“Maaf mengganggumu malam-malam,” ujar Yoon Gi membaringkan tubuh di ranjang.

“Tidak masalah. Kebetulan aku masih belajar.”

Yoon Gi mengangguk lalu menghela napas. “Aku hanya ingin menyampaikan undangan ibuku. Pesta ulang tahun pernikahan seperti biasa.”

“Benarkah?” Suara Claire terdengar lebih antusias. Yoon Gi menggumam menjawab pertanyaan retoris Claire. “Baiklah aku akan datang. Sampaikan salamku pada paman, bibi dan Kak Seok Jin.”

Setelah menjawab ya Yoon Gi segera memutus panggilan sepihak. Ritme jantungnya terasa makin menjadi-jadi. Ia takut menghadapi fakta bahwa satu minggu dari sekarang ia akan bertemu dengan Claire.

***

Waktu berjalan begitu lambat bagi Claire. Menunggu hingga hari esok tiba dan bertemu dengan Yoon Gi terasa jauh lebih lama dibanding hari-hari biasa. Ia sudah memberitahukan kabar baik ini pada Jung Kook dan Jung Kook ikut senang mendapati fakta bahwa Yoon Gi mau menghubungi Claire kembali meski dengan tujuan menyampaikan undangan. Mereka telah membeli kado bersama serta mengandai-andai apa yang akan Yoon Gi bicarakan pada Claire.

Ketika hari yang ditunggu benar-benar tiba, gugup melanda sekujur tubuh Claire. Ia tahu sang ibu juga diundang secara eksklusif dan mereka akan berangkat bersama setelah ibunya menyelesaikan urusan make up. Namun tetap saja Claire merasa seolah ia ada di dalam perjalanan bertemu seorang yang akan diperkenalkan sebagai calon suaminya. Demi Tuhan, bahkan Claire berpikir terlalu jauh.

“Sudah siap?” Nyonya Son menggandeng tangan Claire, memberikan kekuatan terbaik pada sang putri dengan sebuah senyuman. Claire mengangguk, berjalan berdampingan dengan ibunya.

***

Dekorasi sederhana menghias ruang tamu dengan sangat apik. Hanya berwarna merah serta putih di semua sisi. Tidak terlalu banyak pita, hanya warna merah dari bunga mawar menghias di setiap sudut. Tidak banyak yang diundang dalam pesta kecil setiap tahun ini. Hanya beberapa kolega dekat ditambah keluarga Son.

Claire berdiri canggung mendapati Yoon Gi menuruni tangga memakai setelan armani. Lelaki itu selalu tahu cara membuatnya menambah laju detak jantung.

Yoon Gi menuruni tangga hati-hati, bergabung bersama sang kakak yang tidak Claire sadari berada di sudut kanan ruangan. Claire menapak langkah, tersenyum manis mendapati ibu dan ayah Yoon Gi telah selesai berbincang dengan beberapa kolega. Gadis itu menyerahkan kado dengan anggun, menerima kecupan di pipi kanan dan kiri serta usapan pada rambut. Kedua orang yang tengah merayakan anniversary menunjuk arah Yoon Gi, meminta Claire bergabung bersama putra mereka.

Claire menurut meski dalam hati canggung membumbung di udara. Sang ibu sudah memisahkan diri sedari masuk, membiarkan Claire leluasa dengan apa yang akan ia lakukan. Tanpa diperintah kaki berbalut high heelsnya menuju arah Yoon Gi dan sang kakak. Tersenyum manis ketika Min Seok Jin menyadari keberadaannya.

“Lama tidak bertemu denganmu, Calon Adik Ipar.” Seok Jin menawan Claire dalam rengkuhan hangat. “Ah, aku lupa. Kau sudah memiliki kekasih dan Yoon Gi benar-benar payah karena membiarkanmu hilang.”

Yoon Gi yang tidak tahu harus bereaksi bagaimana kontan menendang kaki sang kakak. Membuat Seok Jin melepaskan pelukan lantas menghadiahi Yoon Gi dengan delikan tajam.

“Sepertinya aku benar-benar harus pergi sebelum Yoon Gi menendang bagian tubuhku yang lain. Selamat menikmati pesta, Claire.” Seok Jin melambai membiarkan kedua adik kesayangannya menyelesaikan urusan. Ia memang tidak tahu pasti tentang masalah yang sedang melingkupi keduanya, tapi ia tahu instingnya sebagai kakak muncul di saat-saat seperti ini. Membiarkan mereka berinteraksi berdua adalah jalan terbaik.

Setelah hanya tinggal mereka berdua yang ada di sana, suasana kembali hening. Merasa seolah seluruh ruangan ini kosong dan hanya terisi mereka berdua. Serta musik klasik yang mengalun lembut mendendang di telinga masing-masing. Tidak ada yang saling memecah keheningan, bahkan Claire tidak tahu harus berbicara atau menuruti kata hati untuk tetap diam.

“Sudah lama kita tidak… berbicara berdua seperti ini.” Yoon Gi yang mengawali pembicaraan. Claire mengangguk kaku. Ia benci dengan keadaan canggung seperti ini.

“Aku minta maaf telah mengabaikanmu selama lebih dari satu bulan. Ini terlalu konyol tapi aku tidak bisa bertemu denganmu.”

Claire mengangguk lagi. “Aku mengerti.”

“Mungkin tidak seharusnya aku mengacaukan persahabatan kita dengan ucapan itu,” Claire melanjutkan. Tidak. Ia tidak menyesal mengungkapkan rahasia besar pada Yoon Gi. Yang ia sesali adalah mengapa ia mengungkapkan sesuatu harus dengan emosi seperti itu. Claire benar-benar bodoh.

“Kau tidak bersalah.” Yoon Gi tersenyum. “Setelah hari itu aku terus menanyakan sesuatu pada diriku sendiri. Apa tujuanku mendekatimu? Apa tujuanku menjadikanmu sahabat? Apa tujuanku memberi perhatian padamu? Dan sampai saat ini aku belum bisa menemukan jawaban.”

Claire tersentak, ia memberanikan diri menatap Yoon Gi yang masih terlihat menahan sesuatu.

“Kita terlalu dekat dan terlalu ketergantungan satu sama lain sampai aku tidak bisa membedakan perasaanku sendiri.” Yoon Gi membalas tatapan Claire. “Bisakah kita memberikan jarak dalam beberapa waktu ke depan? Aku butuh meyakinkan diriku sendiri. Terlebih aku akan jauh lebih sibuk setelah diterima di Hanool nanti.”

Claire mengangguk paham meski dalam hati ingin berontak. Apa mau dikata. Yoon Gi benar akan semuanya, mereka terlalu dekat sehingga tidak mengetahui perasaan jenis apa yang menghinggapi hati. “Ya. Aku setuju.”

“Aku akan meneleponmu jika aku sudah yakin akan perasaanku. Selama itu kita bisa bertukar pesan dan kau bisa datang kapan saja ke sini asal tidak ada aku. Dan aku akan berkunjung ke rumahmu saat kau tidak ada. Anggap saja ini sebagai tes persahabatan.”

Claire mengangguk kembali. Gadis itu memeluk Yoon Gi erat, berusaha baik-baik saja meski air mata hampir menetes membasahi pipi. Perpisahan tiba-tiba… apakah ia bisa melewati ini?

To Be Continued..

A/N: Tinggal satu chapter lagii >< hayo loh udah bisa nebak endingnya belum? *plak
Btw Hanool itu nama universitas olahraga di drama Weightlifting Fairy Kim Bok Joo *plak

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s