비물 (Rain) Chapter 8

비물 (Rain) Chapter 8

image

Title: 비물 (Rain)
Cast: Min Yoon Gi, Clarynne Son
Genre: Romance, Drama, AU
Cover by: Rosilah Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Adiinda Chan

“Apa kau tahu nama aroma tanah basah kala hujan menampakkan diri? Ia adalah petrichor, si pembawa rasa tenang dalam jiwa.”

Chapter 8
Butterfly Effect

“Berikan ponselmu!” Yoon Gi menadahkan tangan pada Claire yang duduk memeluk lutut di samping kanannya.

Gadis itu menoleh namun tak lantas melakukan apa yang diminta. “Untuk apa?” Claire bertanya.

“Ibumu harus tahu soal ini. Aku tidak mau ada sesuatu terjadi padamu, kau harus segera menjalani pemeriksaan medis,” kata Yoon Gi. Namun Claire justru memalingkan wajah. Ia memilih menyaksikan genangan air dibandingkan menatap wajah Yoon Gi lagi.

“Aku tidak mau ibuku tahu. Dia pasti akan bertanya sedetail mungkin alasan kenapa aku ada di sini.” Claire mempererat cengkraman pada kedua lengan.

“Kenapa? Kau takut ibumu akan menyalahkanku?” tanya Yoon Gi. Tanpa menoleh Claire mengangguk pelan.

Yoon Gi menghempas napas kasar kemudian berdiri untuk melucuti almamater dari tubuh. Ia menyerahkan satu-satunya kain hangat miliknya untuk melapisi punggung Claire, membuat Claire memandang kaget sebelum menolak. “Kau bisa mati kedinginan,” kata Claire.

Yoon Gi lantas tersenyum angkuh. “Aku ini seorang atlet. Tubuhku masih cukup panas setelah bergerak tadi, aku tidak akan mati hanya karena dingin seperti ini.”

“Lagipula, jika aku mati… masih lebih baik dibandingkan kau yang terluka.”

Semu merah kontan merona di pipi Claire. Mendengar dan melihat sikap Yoon Gi yang begitu memperhatikannya. Jantung Claire kembali berdegup kencang. Ingin rasanya ia menarik tubuh Yoon Gi dan kembali mengeratkan pelukan. Namun tidak mungkin ia bertindak sekonyol itu hanya karena hasrat yang bergejolak. Ia memilih merungkut sambil memeluk almamater Yoon Gi. Mencoba mengontrol diri agar tak terlihat memalukan di depan Yoon Gi.

“Bi, sebaiknya aku menggendongmu. Kau tidak bisa menyentuh genangan air hujan,” kata Yoon Gi. Claire terkaget dan menatap Yoon Gi dengan wajah yang polos. “Kenapa ekspresimu begitu?” Yoon Gi tersenyum geli. Claire hanya menggeleng.

“Naik ke punggungku. Kita cari taksi.” Yoon Gi menawarkan punggungnya yang lebar. Berjongkok membelakangi Claire dengan kedua tangan condong ke belakang.

“Tidak!” enggan Claire.

Yoon Gi berbalik. “Kenapa? Kau sudah sering naik di punggungku. Apa kau takut aku menjatuhkanmu? Aku tidak selemah itu.” Yoon Gi tertawa hambar. Sekali lagi Claire menggeleng. Memilih mengambil ponsel dari saku berniat untuk menghubungkan pada nomor sang ibu.

Yoon Gi masih memperhatikan. Ia sedikit menaruh curiga. “Katanya tidak mau memberitahu ibumu?”

Sejenak Claire berhenti memilah nomor di daftar kontak. Detik selanjutnya ia kembali mengotak-atik tombol pada ponsel. “Aku tidak mau membebanimu,” kata Claire tanpa memandang wajah Yoon Gi.

Melihat tingkah laku Claire, untuk kesekian kali Yoon Gi mencoba menepis segala kemungkinan yang berkeliaran di otak. Ia memilih menuruti Claire demi menghindari perdebatan kecil. Yoon Gi kembali duduk di samping Claire. Memandang hamparan jalan basah dengan sedikit menyimpan gelisah. Ia menggigiti bagian bawah bibir sambil menggosok-gosok kedua telapak tangan.

“Sean, pakai almamatermu. Aku baik-baik saja,” kata Claire. Gadis itu menyodorkan almamater milik Yoon Gi dengan wajah tertunduk.

Yoon Gi mendengus kecil. “Jangan membuatku mengulang kalimatku, Bi. Pakai saja.”

Claire menghela napas panjang. Jika Yoon Gi sudah berkata demikian maka tidak akan ada alasan lagi untuk membantah. Claire mengenakan almamater berlapis di tubuhnya.

***

Nyaris setengah jam berlalu dan sang senja berganti malam. Claire maupun Yoon Gi masih duduk di emperan toko sambil menunggu Nyonya Son datang. Keduanya tak saling bicara untuk beberapa saat. Ini adalah kali pertama ada rasa canggung di antara mereka.

Claire memainkan sebuah kerikil kecil di tangan. Lamunannya bukan lamunan kosong, ada sesuatu yang coba ia rangkai di dalam pikiran. Ia melirik ke arah Yoon Gi namun baru sedetik ia kembali berpaling. Begitu juga dengan Yoon Gi. “Kenapa setelah menyadarinya, hatiku menjadi begitu gelisah?” Claire bergumam sangat pelan. Sampai-sampai Yoon Gi menoleh.

“Apa kau bicara sesuatu, Bi?”

Claire mengendikkan bahu sambil menatap Yoon Gi. Ia lantas menggeleng. “Ti-tidak.”

“Benarkah? Jika kau merasakan sakit, beritahu aku,” kata Yoon Gi.

Claire mempertegas gelengan kepala. “Aku baik-baik saja, sungguh.”

“Kalau begitu, biar kupastikan.” Tiba-tiba saja Yoon Gi mendekat pada Claire. Kemudian meletakkan telapak tangannya di atas dahi Claire. Perlakuan yang sontak menambah rona di wajah Claire.

Claire segera menepis dan kembali berpaling. “Aku baik-baik saja.”

Yoon Gi hanya tertegun menyaksikan reaksi Claire yang ia anggap terlalu canggung. Sungguh, atmosfer di antara mereka tak lagi sama seperti sebelumnya. “Bersabarlah, ibumu pasti akan segera datang.”

Tak lama berselang, sebuah sedan biru telur asin berhenti di depan mata. Disusul kemunculan seorang wanita jangkung bertubuh langsing dengan blazer kuning yang lalu mendatangi mereka berdua. Claire mengangkat wajah. Ia tersenyum menerima pelukan erat dari Nyonya Son yang begitu mencemaskannya. Hujan kecupan dirasakan Claire. “Apa yang terjadi, kenapa kalian bisa ada di sini?” tanya Nyonya Son menatap Claire dan Yoon Gi secara bergantian.

“Maafkan aku, Bibi.” Yoon Gi menunduk penuh sesal.

“Kenapa minta maaf? Ini bukan salahmu,” kata Claire.

“Kalau begitu ayo kita pulang.” Nyonya Son berdiri sambil merangkul putrinya. Tak lupa mengajak Yoon Gi. Namun Yoon Gi menggeleng.

“Kalian pulang saja lebih dulu, aku bisa pulang naik bus,” kata Yoon Gi.

“Kenapa? Kita bisa pulang naik taksi sama-sama,” bujuk Nyonya Son.

Sesungging senyum terukir di bibir Yoon Gi. “Sepatuku basah. Jika naik taksi bersama Claire, aku bisa melukai Claire.”

Claire mengernyit heran. Bagaimana Yoon Gi bisa menjadikan itu sebagai alasan? Sementara sejak tadi mereka baik-baik saja walau duduk saling berdampingan. “Aku akan pergi ke halte, sampai jumpa.” Yoon Gi membungkuk hormat. Sepertinya tumbuh besar di Korea membuat jiwanya juga tumbuh seperti penduduk pribumi. Ia berlari meninggalkan Nyonya Son juga Claire yang bingung.

“Hati-hati, Yoon!” seru Nyonya Son.

“Ayo, Nak….” Nyonya Son melanjutkan dengan menuntun Claire memasuki taksi.

***

Tiba di rumah yang hangat dan nyaman, Claire duduk di atas sofa. Bersandar sambil menunggu sang ibu yang sibuk menelepon dokter untuk berkonsultasi. Otaknya masih berkeliaran pada Yoon Gi, Yoon Gi dan Yoon Gi. Entah sejak kapan pria itu mengisi penuh memorinya.

“Sean bodoh!” Claire memekik.

“Nona, silakan.” Tiba-tiba saja Nyonya Jeon datang membawakan baskom besar berisi air hangat. Kemudian meletakkan di samping kaki Claire, meminta agar gadis itu merendam kakinya. Claire mengulas senyum. “Terimakasih, Bibi.”

Claire melepas sepasang sandal. Mencelupkannya ke dalam air hangat sementara Nyonya Jeon kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

“Claire, apa kerongkonganmu sakit?” Nyonya Son datang untuk bertanya. Pertanyaan yang sepertinya juga datang dari sang dokter lewat telepon. Claire menggeleng. “Aku tidak merasakan apa-apa, Bu.”

Nyonya Son lantas melaporkan apa yang ia dengar pada sang dokter. Dan berselang beberapa menit kemudian, ia kembali mendatangi Claire untuk duduk di sampingnya.

“Bagaimana kalian bisa terjebak di sana? Tempat itu sangat jauh dari sekolah,” tanya Nyonya Son.

Claire menghela napas. “Aku tidak mau membahasnya sekarang, Bu.” Ia memejamkan mata.

“Apa mungkin… kalian bertengkar?” terka Nyonya Son. Claire kembali membuka mata dan melirik segan pada sang ibu.

“Ti-tidak,” jawab Claire.

“Lalu?”

“Kenapa ibu menyimpulkan kalau kami sedang bertengkar?” balas Claire.

“Karena ibu merasa akhir-akhir ini kalian begitu aneh. Tidak biasanya kau begitu kaku. Dan kenapa kau diam saja saat Yoon Gi pergi? Padahal dalam situasi itu, biasanya kau akan berteriak padanya dan memaksanya ikut. Apa ibu salah?” Nyonya Son menjelaskan kecurigaannya sementara Claire hanya diam.

Ia menghela napas panjang kemudian merenung lagi. “Ibu, bagaimana menurutmu jika seorang gadis sangat marah ketika melihat seorang pria didekati oleh gadis lain?” tanya Claire.

Nyonya Son menatap curiga lantas tersenyum. “Benar ‘kan dugaan ibu,” sang ibu mencolek manja dagu putrinya.

“Ibu… aku sedang bertanya, jawab aku.”

“Tentu saja karena gadis itu menyukai si pria,” jawab Nyonya Son.

Claire menganggukkan kepala sambil terus memandang langit-langit rumah. “Lalu, menurut ibu… apa si pria juga menyukainya?” sambung Claire.

“Tergantung dari bagaimana sikap pria itu pada si gadis.” Nyonya Son berbicara sambil melucuti kancing blazernya.

“Dia selalu penuh perhatian, selalu melakukan apa pun yang membuat si gadis merasa nyaman. Bahkan ketika si gadis mengatakan dia marah, dengan lembut pria itu mengatakan kalau dia tak menginginkan gadis-gadis itu,” kata Claire sambil tersenyum simpul.

“Apa lagi? Tentu saja si pria menyukai si gadis,” Nyonya Son menjawab. Claire tertegun sambil menatap sang ibu yang melenggang dengan membawa blazer di tangan menuju kamar.

“Dia… juga menyukaiku?”

***

Di depan jatah makan malam, Claire juga melamun. Ia hanya memainkan sumpit yang masih sulit ia kuasai dan menatap kosong pada mangkuk nasi.

“Claire, kenapa kau tidak makan?” tanya Nyonya Son. Namun Claire tak menjawab dan masih dalam lamunan.

Tiba-tiba saja ponsel yang sengaja dibawa dalam poket berdering nyaring. Hingga lamunan Claire terhenti dan sigap mengambil ponsel. ID atas nama Yoon Gi terpampang jelas di layar. Dan lagi-lagi jantungnya memacu cepat disertai rasa gugup.

Menyadari bahwa sang ibu tengah mengintai, Claire memilih berlari membawa ponsel menjauhi ruang makan.

Ia memilih masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat. Sungguh hal yang tak pernah dilakukan Claire sebelumnya meski itu adalah Yoon Gi yang menelepon.

Claire mencoba mengatur napas. Menelan saliva secara paksa sebelum menekan tombol hijau.

“Ha-halo?”

“Kenapa lama sekali menjawabnya? Apa kau sedang makan malam?” Suara Yoon Gi terdengar lembut di telinga Claire. Hingga intensitas gugup gadis itu jadi bertambah.

“I-iya… aku baru selesai makan,” kata Claire.

“Oh… semoga aku tidak mengganggu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu, apa kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? Jam berapa kau sampai di rumah?” Claire berbicara sambil memainkan ujung bajunya.

“Baru saja. Aku tertinggal satu bus jadi aku harus menunggu bus selanjutnya,” jawab Yoon Gi.

“Hm… jadi kau belum makan malam?”

“Tentu saja. Aku baru selesai mandi, Bodoh,” pekik Yoon Gi sambil tertawa. Kata makian itu memang bukan kali pertama didengar Claire, bahkan ia juga tak jarang melempar kata tersebut pada Yoon Gi. Namun entah mengapa kali ini, kata tersebut terdengar menyakitkan.

Claire berhenti menjawab. Wajahnya cemberut dan tertunduk. Ia hanya memandangi ujung baju yang ia mainkan.

“Bi?”

“Aku mau tidur. Sampai jumpa di sekolah.” Claire tiba-tiba saja mengakhiri panggilan.

Gadis itu berlari ke arah kasur lalu membanting diri di atasnya dengan posisi menelungkup. “Min Yoon Gi, kau juga bodoh!” Ia berteriak.

***

Pagi itu Claire menunggang taksi untuk sampai ke sekolah tanpa Yoon Gi. Jalanan yang masih tergenang sisa hujan kemarin membuat Claire tidak bisa menginjakan kakinya di sana. Sudah biasa dilakukan, ketika jalan tergenang hujan maka Claire akan menaiki taksi. Namun tidak biasanya ia pergi tanpa didampingi oleh Yoon Gi.

Claire memandang hampa ke luar jendela sambil meniup-niup poni. “Maafkan aku, Sean. Entah kenapa hari ini aku sedang tidak mau bertemu denganmu,” Claire bergumam.

***

“Good morning, Miss Son….”

Secara serempak Na Young juga Ye Rin menyapa Claire yang baru saja memasuki kelas. Keduanya memasang senyum lebar namun terkesan mengharapkan sesuatu dari kedatangan Claire. Bahan gosip baru, sudah tentu.

Claire mencoba mengabaikan teman-temannya. Memilih duduk tenang di atas kursi dan memandang ke arah jendela.

“Claire, apa yang kalian bicarakan kemarin?” Na Young duduk di atas meja Claire. Claire sedikit terpancing pada obrolan, ia menoleh meski tak menjawab.

“Kemarin aku mengirim pesan singkat pada Yoon Gi untuk menanyakan keadaanmu, aku sudah dengar darinya kalau dia menemukanmu di sebuah area pertokoan dan kalian bersama untuk waktu yang lama,” Ye Rin ikut berceloteh.

Claire semakin terpancing dan ikut berbicara. “Yoon Gi mengatakan itu padamu?”

Ye Rin mengangguk.

“Apa saja yang kalian bicarakan?” Claire berubah penasaran. Ia memfokuskan perhatian pada Ye Rin dengan telinga siap menangkap tiap kata yang akan dilontarkan Ye Rin.

Namun baru saja mulut kecil Ryu Ye Rin akan terbuka, tiba-tiba sesosok jangkung pria blasteran itu muncul di antara para gadis. Hingga Claire mendongak meski segan. Raut dari wajah tampannya membuat suasana mendadak kaku dan canggung. Ekspresi itu bukanlah ekspresi yang akan membawa mereka pada situasi tenang dan menyenangkan. Justru tegang dan membuat penasaran.

Yoon Gi menarik lengan Claire. “Kita harus bicara,” ucapnya dengan intonasi memaksa. Namun Claire menolak. Ia menarik lagi tangannya agar terlepas dari pegangan Yoon Gi.

Yoon Gi mendengus sambil bertolak pinggang. “Sejak kapan kau ada di sini? Naik apa kau ke sini? Dengan siapa kau ke sini?” Tanya beruntun diikuti nada yang meninggi membuat Claire mengernyit.

“Kenapa kau menanyakan hal seperti itu? Aku baru saja tiba. Aku datang naik taksi, sendiri. Ini sekolah, apa aneh bagimu?” Claire ikut meninggikan suara.

“Clarynne Son! Kau tau betapa aku mencemaskanmu begitu tahu kau sudah tak di rumah sementara ibumu mengira kita berangkat bersama?” Yoon Gi menyentak.

Claire tertegun. Sepasang maniknya nampak berkaca-kaca diikuti pipi yang memerah. “Aku hanya takut bertemu denganmu.” Claire bangkit dari kursinya. Kemudian berlari setelah menggeser kaki Na Young yang menghalangi.

Ryu Ye Rin maupun Im Na Young keduanya hanya bisa saling tatap menyaksikan Yoon Gi yang ikut berlari menyusul Claire.

***

“Bi, tunggu!” Yoon Gi menahan langkah Claire yang baru menginjak koridor. Namun gadis itu berusaha melanjutkan langkahnya. Hingga harus Yoon Gi mencengkram pergelangan tangannya. “Apa maksudmu? Apa yang kau takutkan dariku?”

Hening. Tidak ada suara yang terdengar dari Claire selain isakkan.

“Bi… apa maksudmu? Jika aku bersalah, beri aku penjelasan di mana letak kesalahanku?” Yoon Gi masih mencoba menggali kejelasan.

“Kesalahanmu adalah karena menjadi orang yang aku sukai!” Claire menegaskan.

Yoon Gi tentu tercengang mendengar pernyataan Claire. Meski sudah sangat jelas, kepalanya masih saja menyangkal. Bukan, bukan dan bukan. “A-apa maksudmu?” Yoon Gi mendadak melepas genggaman sambil memalingkan pandangan kesembarang arah.

“Setelah memikirkannya, hatiku jadi gelisah. Mendengar kalimat yang kaukatakan kemarin sore, membuatku berpikir kalau kau juga menyukaiku. Tapi entah mengapa, aku jadi takut untuk bertemu denganmu. Aku menyukaimu… bukan sebagai sahabat lagi, Sean.” Claire mendeklarasikan isi hati dengan hiasan tangis di pipi. Walau wajahnya tak mengarah pada Yoon Gi.

Sementara Yoon Gi hanya termenung. Merasa tak percaya bahwa apa yang selama ini ia sangkal justru sebaliknya. Yoon Gi menggeleng ragu kemudian beranjak meningalkan Claire begitu saja.

Claire merasa bingung melihat reaksi Yoon Gi. Ingin ia mengejar namun apa yang akan ia katakan selanjutnya? Ia sendiri tak tahu. Claire memilih kembali ke dalam kelas meski tangis masih merebak di pipi.

***

Yoon Gi memandang ke luar jendela. Atensi tertuju pada hamparan cumulus di langit sementara pikirannya melalang buana pada perkataan Claire yang terlalu mengejutkan. Mengabaikan bahwa kini pelajaran sedang berlangsung dan sang guru sedang berdiri memberi penjelasan di depan kelas.

Tangannya coba meraba jantung yang berdegup kencang. “Apa yang sebenarnya ingin kau sangkal, Min Yoon Gi?” ia berbisik untuk memaki diri. Kemudian mencengkeram rambut sambil membenamkan wajah pada meja. Ia terlihat frustrasi.

***

Denting bel tanda istirahat berbunyi. Beberapa menit kemudian Yoon Gi beranjak dari kelas dengan menjinjing bekal makan siang menuju kantin. Sama sekali tidak ada niat untuk pergi bersama Claire.

Namun ketika tiba di kantin, sosok Claire ternyata sudah duduk sambil menikmati bekal miliknya. Yoon Gi kontan berhenti melangkah dan hanya memerhatikan Claire dari kejauhan. Mengingat lagi apa yang ia dengar dari Claire membuatnya seketika ingin menghindar.

“Claire, itu Yoon Gi, ‘kan?” Naomi berbisik.

Claire memandang ke arah Yoon Gi sesuai petunjuk Naomi. Tapi ketika Claire melambai tangan, pria itu justru bertolak meninggalkan kantin. Claire maupun ketiga temannya sama-sama mengernyit. Bingung sekaligus heran.

“Ada apa dengan Yoon Gi?” tanya Na Young.

Ye Rin dan Naomi hanya mengendikkan bahu. Sementara Claire mencoba berpikir.

***

Yoon Gi duduk di bangku belakang sekolah sambil menikmati bekal makan siang. Sejujurnya semua yang ia santap saat itu begitu hambar di lidah, namun ia tetap menikmati. Mengingat bahwa sang ibu pasti akan khawatir jika ia sampai tidak menghabiskan bekalnya.

Ia memandang hampa pada sebuah pohon pinus. Yoon Gi menarik napas panjang sebelum meninggalkan nasi yang masih tersisa banyak untuk membuka sebotol air. Ia meneguk seperempat lalu kembali pada bekal.

“Hoho, siapa ini? Min Yoon Gi makan siang sendirian saja?”

Tiba-tiba saja ocehan terdengar dari samping Yoon Gi. Seorang pemuda bernama Jeon Jung Kook muncul dan duduk tepat di sisi kanannya. “Ke mana pacarmu?”

Yoon Gi langsung menoleh. “Pacar apa?”

“Nona Clarynne Son. Biasanya kau selalu menempel dengannya,” kata Jung Kook.

Yoon Gi mendengus lantas melahap lagi sisa bekal. Mencoba mengabaikan pertanyaan temannya yang semakin menambah kalut suasana hati.

“Jung Han Na, dia siswi kelas dua, ‘kan?” Jung Kook kembali menyeletuk.

“Kenapa?” ketus Yoon Gi.

“Kudengar dari temanku, Ji Min ditolak oleh Jung Han Na karena Han Na menyukaimu. Apa kau membalas perasaannya sampai-sampai gadis itu menaruh harapan tinggi?” sambung Jung Kook masih mencecar tanya.

“Tidak. Bahkan aku tidak pernah tahu dia menyukaiku.”

Jeon Jung Kook mengernyit lalu menepuk punggung Yoon Gi sambil berteriak, “Bodoh! Apa tindakannya kurang meyakinkan kalau dia menyukaimu?”

Yoon Gi menoleh singkat. “Aku tidak mengerti soal perempuan.”

Jeon Jung Kook tertawa hambar. “Lalu, bagaimana caramu mengetahui Claire menyukaimu?”

Yoon Gi sontak berhenti mengunyah. “Apa maksudmu?” Ia berpura-pura tidak mengerti.

“Kalian pacaran, ‘kan?”

“Tidak,” kata Yoon Gi.

Jeon Jung Kook mendecak sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Jadi selama ini kau hanya menganggapnya sebagai teman? Oh Tuhan… aku kasihan pada gadis itu. Kau sangat tidak peka.”

“Apa maksud perkataanmu?” Yoon Gi merasa tersinggung.

“Selama ini kau berbuat baik padanya, memperhatikannya, memperlakukannya dengan sangat lembut, tapi ternyata kalian tidak pacaran? Kau tidak menyukainya?”

Yoon Gi terdiam tanpa jawaban. Ia hanya meneguk dan meneguk lagi air dari dalam botol.

“Kau pemberi harapan palsu. Sebaiknya jauhi Claire ataupun Jung Han Na jika kau tidak berniat untuk memacari salah satu dari mereka. Kau hanya akan melukai mereka, terutama Claire.” Jeon Jung Kook menepuk pundak Yoon Gi sebelum ia beranjak dan pergi.

Yoon Gi kembali menarik napas panjang. Menyentuh dadanya yang terasa panas setiap kali mengingat tentang Claire. “Aku tidak mengerti, aku tidak mengerti!” Ia menggeram.

To Be Continued..

A/N: Maaf kemaren gak update >

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s