비물 (Rain) Chapter 7

비물 (Rain) Chapter 7

image

Title: 비물 (Rain)
Cast: Min Yoon Gi, Clarynne Son
Genre: Romance, Drama, AU
Cover by: Rosilah Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Adiinda Chan

“Apa kau tahu nama aroma tanah basah kala hujan menampakkan diri? Ia adalah petrichor, si pembawa rasa tenang dalam jiwa.”

Chapter 7
Deja Vu

Min Yoon Gi benar-benar jadi anak penurut untuk tidak mengikuti Claire. Sebenarnya tidak juga, Yoon Gi hanya mengekor dengan radius cukup jauh supaya Claire merasa tidak dibuntuti. Gadis itu terlalu sensitif hanya karena satu hal yang tidak ia tahu. Yoon Gi justru merasa khawatir karena tidak biasanya Claire seperti buku yang tak mampu dibaca.

Apa Yoon Gi memiliki kesalahan fatal? Apakah Yoon Gi melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan? Namun ketika semua pertanyaan muncul di otak seketika Yoon Gi mengelak. Rasanya ia tidak pernah berbuat kesalahan kecuali ketika bahunya cidera beberapa tahun lalu. Ini gila. Benar-benar gila.

Mengembuskan napas, Yoon Gi segera berbalik menuju kelas setelah memastikan Claire benar-benar sampai tujuan. Namun belum sempat ia menjajakan langkah lebih jauh, seorang gadis bersurai cokelat kemarin sudah menghentikannya. Gadis itu menunduk dengan wajah merah nyaris seperti Hyuuga Hinata ketika bertemu Naruto. Yoon Gi menaikkan sebelah alis. Ingin hati segera kembali namun di satu sisi juga tidak tega dengan si gadis di hadapan.

“Se-selamat pagi, Yoon Gi,” ujar si gadis makin bersemu merah. Wajahnya masih menunduk, kian merunduk manakala Yoon Gi menjawab sapaan. Secepat kilat gadis itu memberikan kotak bekal yang sedari tadi ia dekap. Mengacungkan ke depan dengan harap-harap cemas. “M-makanlah. I-ibuku membawakan bekal lebih hari ini.”

Meski Yoon Gi masih bingung setengah mati namun ia tetap meraih kotak berwarna pink pudar itu. Gadis ber-nametag Jung Han Na pamit begitu saja tanpa sempat memperhatikan ekspresi Yoon Gi. Hari ini Yoon Gi merasa beberapa gadis terlihat lebih aneh dari biasanya. Mulai dari Claire hingga Han Na. Belum lagi gadis-gadis di koridor, adik kelas, yang berbisik sembari menengok arah Yoon Gi. Ah, para gadis memang terlalu sulit dipahami, pikirnya.

***

“Mau dengar berita hangat?” Im Na Young, si penceloteh sejati sekaligus teman Claire, mulai berbicara. Ia duduk di bangku tengah, diapit Claire, Ye Rin serta Naomi yang berada di sisi kanan kiri serta belakang. Dua gadis mengangguk serempak sementara Claire menanggapi seadanya. Ia tahu Na Young terkenal sebagai ratu gosip di sekolah, jadi tidak perlu respon berlebih karena gadis itu akan dengan senang hati membeberkan.

“Ingat Jung Han Na murid kelas sebelah? Aku melihatnya memberikan bekal pada Yoon Gi pagi ini.”

Benar, ‘kan? Claire mendengus memberikan respon. Namun sedetik kemudian Claire mengubah ekspresi manakala mendengar nama sahabatnya disebut-sebut. “Memberikan… bekal?”

Na Young mengangguk. “Wajah Han Na bahkan lebih merah dari tomat. Aku sendiri terkejut karena Yoon Gi menerimanya begitu saja. Padahal aku benar-benar mendukung jika kau dan Yoon Gi memiliki hubungan spesial.”

Naomi serta Ye Rin mengangguk setuju. Bagi mereka Claire dan Yoon Gi adalah pasangan sejati. Semua orang mengatakan demikian meski baru satu kali melihat interaksi keduanya. Namun mereka juga tidak habis pikir mengapa Claire dan Yoon Gi tidak juga menunjukkan adanya hubungan lebih serius?

“Kurasa dia benar-benar tidak peka,” timpal Ye Rin mengetuk-ngetuk ujung bolpoin ke bangku. “Jika dia mengerti seharusnya tidak perlu menerima bekal dari gadis lain. Bukankah kalian selalu berbagi bekal tiap hari?”

Claire tidak menanggapi. Hati dan perasaannya terasa dicabik-cabik. Ia tidak mengerti efek yang ditimbulkan karena pernyataan teman-temannya justru sedahsyat ini. Darah seakan mendidih, jantung seakan ditekan kuat-kuat. Mungkin dalam kurun waktu berapa menit ia bisa meledak.

“Ingat kejadian valentine kemarin. Yoon Gi juga tidak menolak mengambil cokelat langsung dari mereka,” Naomi menambahkan. Lagi-lagi hanya Na Young dan Ye Rin yang bereaksi. Claire tetap diam meski di tangan kiri, kertas jawaban yang baru saja ia keluarkan dari tas sudah menjadi lipatan sampah siap buang.

Menghela napas, Claire segera bangkit. Tidak tahu apa yang tengah menggerogoti tubuhnya saat ini yang jelas Claire harus pergi dari sini segera. Ia bahkan tidak peduli bunyi bel masuk yang terdengar nyaring. Hati dan perasaannya menulikan pendengaran saat ini.

“Aku akan pergi ke UKS. Sepertinya udara dingin membuat kulitku memerah.” Tanpa repot menanti jawaban Claire segera berjalan ke luar kelas. Tidak, sebenarnya ia memiliki toleransi yang cukup terhadap musim dingin. Hanya saja Claire merasa sudah benar-benar di ambang batas kesabaran. Ia tidak tahu lagi bagaimana menyikapi semua hal yang terjadi belakangan.

Claire ingin menangis sepuasnya. Menangis karena tidak mampu menahan himpitan sesak muncul di dalam dada. Namun di sisi lain Claire juga ingin marah. Marah karena sikap Yoon Gi selalu membuat semua orang jadi salah paham. Claire menghela napas. Apakah ia juga termasuk orang yang salah paham dalam mengartikan semua perhatian Yoon Gi selama ini?

Belum sempat kaki-kakinya menjamah ruang kesehatan dirinya sudah dikejutkan oleh Yoon Gi yang tengah membantu teman sekelas membawa tumpukan buku tugas. Mungkin tidak akan jadi masalah jika saja mereka tidak mengangkatnya berdua dengan tangan saling berpegangan dan wajah gadis itu memerah. Claire menghentak sepatunya keras, berlari tanpa peduli lelah agar segera jauh dari pemandangan yang menyesakkan.

Claire berlari tak tentu arah. Bukan lagi ruang kesehatan yang jadi tempat tujuan awal. Ia mengendap-endap di lapangan sekolah yang hampir sepi, memastikan tidak ada penjaga sekolah yang membuntuti langkahnya. Beruntung beberapa kakak kelas yang hendak ke luar sekolah ada tepat di hadapan Claire. Segera saja ia memanfaatkan momen itu untuk kabur, keluar dari gerbang dan menyeret kakinya berlari lebih jauh.

***

Yoon Gi memandang tak minat pada buku pelajaran bersampul biru di hadapan. Ia berpikir keras mengenai Claire namun memasang telinga dalam mode siaga jikalau guru di hadapan tiba-tiba menyuruh dirinya menjawab soal. Yoon Gi masih tidak mengerti bagaimana cara pikir seorang gadis yang bahkan terlampau rumit melebihi rumus fisika. Padahal jika dipikir-pikir mereka sudah mengenal satu sama lain selama hampir sepuluh tahun, ah… Yoon Gi sama sekali tidak mengerti.

“The most common concessive conjuctions are although, even though, while, whereas, in spite of (the fact that), and despite (the fact that),” sang guru menjelaskan lantang. “Bisakah seseorang memberikan contoh?”

Guru Ahn mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Tersenyum manakala murid dengan IQ tertinggi mengangkat tangan. “Ya, Kim Nam Joon.”

“Even though I was really tired, I couldn’t sleep.”

Guru Ahn mengangguk dengan sesungging senyum. “Lalu, bisa jelaskan pada kami kegunaan Concessive Conjunction? In english, please.”

Nam Joon mengangguk. Yoon Gi yang berada di seberang meja melirik pria berlesung pipi itu. “Concessive Conjunction are usually used in academic writing to give clear information or evidence to the readers. It makes readers see that information is: carrying more weight, being more relevant to argument or topics, and being worth further development.”

Guru Ahn bertepuk tangan diikuti murid-murid lain. Yoon Gi tersenyum, mencatat ucapan Nam Joon dalam buku lalu kembali mengalihkan atensi pada guru Ahn. Namun dalam otaknya masih tersusun rapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi karena tingkah aneh Claire beberapa hari belakangan.

“Ini pelajaran tahun lalu. Aku senang kalian masih mengingat.” Guru Ahn kembali duduk. “Buka halaman selanjutnya.”

Yoon Gi membalik halaman masih tanpa minat. Entah mengapa jiwanya justru terbang mengingat percakapan bersama atlet-atlet lain beberapa hari lalu. Saat itu Claire baru saja mengantarkan bekal sekaligus memberi semangat pada Yoon Gi yang akan melakukan latihan sore. Tiba-tiba saja saat ia kembali ke kolam, semua teman telah bersorak-sorai.

“Kalian berdua sangat serasi, mengapa tidak berkencan saja?” celoteh Joon Hyung yang tengah melakukan pemanasan. Hal itu disetujui beberapa teman dekat yang Yoon Gi kenal.

“Ya. Sudah banyak beredar gosip bahwa kalian berkencan.”

Yoon Gi hanya tersenyum, ikut pemanasan tanpa peduli gelak tawa di sekitar. “Kami hanya berteman.”

“Hei, aku bahkan bisa melihat api cinta dari mata kalian. Api itu sangat besar dan bisa membakar apa saja,” kali ini Tae Kwon menyahut dari sisi kiri barisan. Yang lalu mendapat pukulan keras dari Joon Hyung karena berteriak di dekat telinga pria tinggi itu.

“Cinta ya?” Yoon Gi bergumam menggelengkan kepala. Benarkah ia mencintai Claire? Benarkah rasa ingin melindungi ini dianggap sebagai cinta?

“Kau selalu tersenyum untuknya, tertawa untuknya, dan membuka diri sepenuhnya hanya untuknya. Kau masih berpikir hal itu tidak disebut sebagai cinta?”

“Ah, satu lagi. Kalian bahkan memiliki nama panggilan sayang yang benar-benar manis.” Tae Kwon membuat simbol cinta dengan merapatkan ibu jari juga jari telunjuk. “Bi dan Sean, Hujan dan Samudera. Ah, sangat romantis.”

Yoon Gi membulat kaget. “Bagaimana bisa kau tahu hal itu?”

“Jung Kook adalah teman sekelasku jika kau lupa. Dia sering berada di atap untuk tidur sekaligus mendengar percakapan kalian. Ah, aku beruntung mendapat informan sebaik dia.”

Joon Hyung tergelak di samping Tae Kwon. “Jadi benar jika Sean artinya Samudera? Wah. Aku tidak berpikir sejauh itu. Kali ini Tae Kwon benar, kalian sangat romantis.”

Lalu kolam yang seharusnya jadi tempat pemanasan justru jadi ajang olok-olokan Yoon Gi.

Yoon Gi mendengus cukup keras. Namun tidak terlalu keras untuk didengar Guru Ahn. Ia menampar dirinya berkali-kali, berusaha kembali fokus dan tidak menghiraukan pikiran-pikiran yang menjalari otak.

“There are several ways to express preferences.” Ah, Yoon Gi baru ingat ia melewatkan penjelasan kegunaan used to. “Number one, S + prefer + noun + to + noun.”

***

Pelajaran keempat selesai ditandai dengan bunyi bel keras. Seluruh murid serempak meninggalkan kelas setelah guru berpamitan. Tidak terkecuali Yoon Gi. Lelaki berusia hampir delapan belas tahun itu menyusuri koridor demi sampai di kelas Claire. Beberapa sapaan familiar kembali ia dapat. Bahkan Yoon Gi juga melihat gadis yang memberikan bekal tadi pagi ikut menyapa. Yoon Gi hanya meladeni dengan seulas senyum yang anehnya justru ditanggapi dengan jeritan dari beberapa siswi.

Yoon Gi memasukkan tangan dalam saku celana, hendak berbelok ke arah koridor kelas Claire sebelum sebuah lengkingan mampir di pendengaran.

“Min Yoon Gi! Tunggu!”

Yoon Gi segera membalikkan badan, mengernyit mendapati teman dekat Claire di kelas berlarian ke arahnya. “Ada apa?” tanya Yoon Gi masih mengernyitkan dahi.

“Kau lihat Claire? Ah. Maksudku apa Claire bersamamu?” Naomi mengucap tanya segera setelah menormalkan pernapasan. Berlari dengan kondisi jarang olahraga membuatnya lebih capek. Dan desiran darahnya pun terasa tidak normal mendapati fakta baru hari ini; Yoon Gi menggeleng cepat membuat tiga gadis di hadapan menghela napas frustrasi.

“Astaga. Di mana bocah labil itu jika tidak bersama Yoon Gi?” sahut Ye Rin menghela napas. Ia sendiri tidak tahu dan menyayangkan ketidakpekaannya terhadap situasi krusial seperti tadi pagi. Seharusnya ia kejar saja Claire, memastikan gadis labil itu benar-benar masuk ke ruang kesehatan dengan selamat.

Yoon Gi yang mulai sedikit mengerti kondisi lantas menyahut, “Tunggu. Apa maksudnya Claire tidak ada di kelas?”

Baik Na Young, Ye Rin maupun Naomi mengangguk serempak. Mengerti Yoon Gi butuh penjelasan lebih lanjut Na Young berkata, “Tadi pagi dia izin pergi ke UKS. Sebenarnya kami akan mengantar namun Guru Song sudah masuk ke kelas. Dan sekarang, kami baru saja pergi ke ruang kesehatan tapi Claire tidak ada di sana.”

Yoon Gi ikut mendesah frustrasi. “Memangnya apa yang membuat Claire memutuskan pergi ke UKS?”

“Dia mengatakan ada bintik merah di kulitnya karena cuaca terlalu dingin.” Ye Rin berhasil mengingat ucapan Claire sebelum beranjak. Harap-harap cemas melihat ekspresi Yoon Gi yang beralih terkejut. Ia cukup tahu bahwa sang kakak kelas tentu mengkhawatirkan Claire.

“Sebenarnya… aku juga mengatakan padanya bahwa kau menerima bekal dari Han Na,” jujur Na Young. Ekspresi Yoon Gi benar-benar kembali terkejut. Yoon Gi memijat pelipis yang terasa berdenyut menyakitkan.

“Ah. Sial!” Yoon Gi mengumpat lantas pergi begitu saja. Perasaannya benar-benar tidak tenang terlebih gadis itu bisa saja jauh lebih nekat dibanding saat pertama kali mereka bertemu.

Yoon Gi berlari-lari kecil menaiki tangga yang menghubungkan langsung dengan atap sekolah. Di sana adalah salah satu spot favorit Claire dan jika tebakannya tidak meleset, gadis itu tentu saja berada di sana, tersenyum memandangi gundukan salju di lapangan.

Namun bukannya menemukan keberadaan gadis yang tengah mendiami pikiran, Yoon Gi justru dikejutkan dengan Jeon Jung Kook, teman sesama atlet, yang tidur mengubur diri dengan mantel tebal hingga batas dagu. Yoon Gi kembali mengumpat, menuruni tangga tergesa lalu menelusuri tempat-tempat apa saja yang biasa didatangi Clarynne Son.

***

Entah sudah berapa lama Claire menangis sesenggukan di keramaian seperti ini. Masih dengan seragam sekolah, masih dengan almamater lengkap yang memungkinkan polisi mengembalikannya ke sekolah. Namun Claire tidak peduli dengan itu semua sekarang. Rasa sakit yang menjalari ulu hati lebih penting dan Claire bahkan tidak malu menjadi tontonan publik. Luka membekas justru bertambah lebar mengingat fakta yang ia saksikan sendiri di depan mata.

Claire selama ini menutup pandang dari kemungkinan terburuk akibat persahabatannya dengan lawan jenis dan ia baru menyadarinya sekarang. Senyum yang dahulu ia tawan hanya untuk dirinya seorang kini dibagi, tidak hanya satu melainkan banyak gadis. Hangat tautan tangan yang dulu ia tawan pula harus jua terbagi. Saat semua fakta terungkap ke permukaan, Claire benar-benar merasa seperti keledai dungu.

Tidak ada persahabatan antar lawan jenis yang tidak didasari dengan cinta di dalamnya. Dulu Claire mencebik, mencibir siapa saja yang menciptakan kata-kata sebodoh itu. Namun rupanya ia benar-benar salah. Kalimat itu benar. Pepatah itu benar. Claire benar-benar tertawa miris dalam hati.

Sebersit pertanyaan mampir dalam otak Claire. Apakah Yoon Gi memiliki perasaan yang sama dengannya? Memiliki perasaan cinta seperti kata orang-orang yang menilai kedekatan keduanya. Ia tidak bisa membedakan. Claire tidak bisa membedakan mana yang disebut perasaan cinta dan mana yang disebut kasih sayang antar teman.

Saat Claire sedih dan selalu mengeluh tentang keinginannya menyentuh hujan, Yoon Gi selalu ada dan mengajaknya lebih bersyukur. Saat Claire bahagia mendapat nilai tujuh dalam pelajaran sejarah, Yoon Gi juga ada membonceng dirinya sebagai tanda ikut bersuka cita. Lalu… saat mereka melakukan kekonyolan bersama, mencoba melakukan hal-hal lain di luar kegiatan sekolah, bermain di game center misalkan. Apakah itu bisa disebut kencan? Apakah itu bisa membuktikan bahwa Yoon Gi juga menaruh rasa pada Claire?

Titik-titik kecil air jatuh dari langit musim dingin. Claire membeku di tempat. Ini… bukan salju. Bukan gumpalan putih yang bisa ia sentuh. Tiba-tiba saja dada Claire terasa terhimpit. Pasokan oksigen seakan menipis terganti rasa takut menjadi-jadi. Claire segera berlari mencari tempat berteduh yang tepat. Ketika mendapati emperan toko tidak terpakai, gadis itu segera menghambur memeluk tubuh kecilnya sendiri.

Hujan.

Hujan.

Hujan.

Claire benar-benar dibuat terkejut karena setelahnya hujan benar-benar turun membasahi bumi. Seakan alam ikut merasakan kepedihan yang Claire rasa. Namun bukan itu yang mendasari ketakutan Claire jadi tak berujung. Ia hanya mengenakan almamater sekaligus stoking. Tidak ada pelindung lain yang mampu menghalau dari serangan hujan.

Claire terbatuk-batuk kecil. Tubuhnya membeku berharap hujan salah musim ini segera berhenti mengingat semua orang mengumpat mencari tempat teduh. Air bening luruh menuruni pipi-pipi Claire. Ia tidak tahu mengapa jadi terlalu cengeng hari ini.

***

“Sial! Mengapa harus turun hujan!” pekik Yoon Gi masih berlari-lari. Lelaki itu sudah meminta izin pada guru mencari Claire dan meminta agar tidak melaporkan berita kehilangan ini pada Nyonya Son. Sebisa mungkin Yoon Gi harus berpikir cepat mengingat nyawa Claire jadi taruhan karena hujan makin menampakkan eksistensi.

Mantel Yoon Gi sudah sepenuhnya basah. Ia terus berlari dan berlari namun tiada jua petunjuk yang Yoon Gi dapat. Claire tidak ada di sekitar lingkungan sekolah. Ini benar-benar menyulitkan. Sial!

Sementara di tempat Claire berteduh, tangis sudah tidak mampu dibendung lagi. Batuknya semakin menjadi-jadi, tubuhnya menggigil hebat entah karena takut atau karena dingin yang tercipta. Gadis itu benar-benar merasa hidupnya sudah ada di ambang batas. Haruskah… haruskah Claire meninggal dengan cara sekonyol ini?

Yoon Gi berlari cukup jauh, mengamati sekitar area pertokoan atau apa saja yang mampu digunakan berteduh meski netranya terhalang air hujan. Batin Yoon Gi terus mengucap nama Claire, bibirnya jua tiada henti melantun doa. Semoga Claire mampu bertahan. Semoga Claire mampu bertahan sampai ia menemukannya.

“Clarynne Son! Jawab jika kau mendengar suaraku!” Yoon Gi menyeru dengan bahasa universal berharap Claire mendengar teriakannya. Namun usahanya nihil. Tidak ada satu pun yang menjawab, bahkan seolah tidak peduli dengan pekikan barusan.

Yoon Gi kembali berlari. Mencari, mencari dan mencari. Hingga sebuah almamater sekolah yang dipakai seorang tampak kecil dari jangkauan mata Yoon Gi tidak henti berlari. Semakin lama semakin dekat, semakin lama semakin jelas pula siapa orang yang berteduh dengan linangan air mata menuruni pipi.

Yoon Gibsegera berlari hingga ujung emperan toko yang lain. Melepas mantel, mengusap wajah dengan sapu tangan milik Claire yang diberikan khusus untuknya lalu bergerak mendekati gadis bodoh yang terus saja mengeluarkan air mata. Tanpa ragu ia rentangkan kedua tangan memeluk tubuh kecil yang tampak benar-benar rapuh.

Air mata menguasai mereka berdua. Berjatuhan, tumpah ruah di bahu masing-masing. Perasaan saling kehilangan, perasaan saling takut, semua lebur menjadi satu. Menganak-pinak bagai amoeba; menyebar cepat. Yoon Gi mengembuskan napas lega mendapati Claire selamat dari bahaya.

Claire masih sesenggukan. Air mata yang sedari tadi menuruni pipi tidak jua surut meski Yoon Gi sudah berbagi kehangatan padanya. Ia merasa… ia merasa perasaan yang muncul dalam dada jadi semakin besar. Jadi semakin bertambah manakala Yoon Gi memulai rengkuhan panjang hingga hujan tinggal tetes-tetes kecil.

“Kenapa kaulakukan ini padaku?” bisik Yoon Gi masih enggan melonggarkan pelukan. “Kenapa kau membuatku gila dan sekarang membuatku melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan?”

Claire yang sesenggukan tidak mampu menjawab. Gadis itu hanya diam menanti lanjutan kalimat yang akan Yoon Gi ucap.

“Kenapa… aku sangat ingin berteriak padamu, aku sangat ingin memberimu makian saat ini. Tapi kenapa kau justru membuatku… menangis?”

“Sean….” Susah payah Claire berucap di tengah sesenggukan yang belum jua berakhir. Ia merasakan bahu Yoon Gi bergerak naik turun, suaranya juga terdengar serak tidak seperti biasa. Claire ingin melonggarkan pelukan namun justru Yoon Gi merengkuhnya dengan erat. Gadis itu tersenyum dalam tangis. Mau tidak mau air mata kembali jatuh membasahi kedua belah pipinya.

Keduanya saling peluk dalam waktu yang cukup lama. Meski hujan telah berhenti, meski dunia telah kembali memulai aktivitas. Mereka masih tetap dalam dimensi yang sama. Saling berbagi kehangatan, berbagi rasa tercurah yang menjalari tubuh masing-masing. Claire tidak tahu lagi harus bahagia ataukah terluka saat ini.

“Aku takut jika kau memilih orang lain. Aku… aku takut jika kau meninggalkanku dan bersama gadis lain yang mengisi warna baru di kehidupanmu,” Claire berujar lirih. Ia mendekap Yoon Gi lebih erat. Tersenyum karena Yoon Gi juga balas mendekapnya sama erat.

“Banyak yang tergila-gila padamu sekarang. Terlebih kau adalah seorang atlet. Terlebih kau selalu memenangkan medali tidak peduli meski hanya tempat ketiga. Kau benar-benar seperti bintang bersinar dan aku hanya seonggok debu yang mencoba meraihmu.” Claire masih melanjutkan kalimat. Tidak peduli dengan kikikan Yoon Gi yang menggema menggelitik indera pendengaran.

“Jika aku memilih salah satu di antara mereka, aku tidak mungkin berakhir di sini, berlarian seperti orang gila yang terus memanggil namamu.”

To Be Continued..

A/N: Uhuk. Lampu kuning apa lampu hijau nih? 😀

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s