비물 (Rain) Chapter 6

비물 (Rain) Chapter 6

image

Title: 비물 (Rain)
Cast: Min Yoon Gi, Clarynne Son
Genre: Romance, Drama, AU
Cover by: Rosilah Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Adiinda Chan

“Apa kau tahu nama aroma tanah basah kala hujan menampakkan diri? Ia adalah petrichor, si pembawa rasa tenang dalam jiwa.”

Chapter 6
Is It Love?

Mengayuh sepeda sampai ke sekolah menjadi lebih menarik bagi Claire dan Yoon Gi yang mulai beranjak dewasa. Mereka membuat permainan konyol dengan taruhan kecil; siapa yang lebih dulu sampai di parkiran sekolah adalah pemenang, dan yang kalah harus rela membagi jatah makan siang.

Yoon Gi tiba lebih dulu dan bersorak gembira. Kedua tangannya menggapai udara bersamaan dengan senyuman lebar yang mengembang. Claire nampak kesal dari kejauhan. Bibirnya mengerucut dan ia memilih mendorong sepedanya ke parkiran. “Jangan menunjukan ekspresi seperti itu, kau sendiri yang memulai taruhannya,” ejek Yoon Gi sambil menanti temannya itu menghampiri.

“Baiklah, baiklah.” Claire menginjak besi penahan sepeda agar tetap berdiri. Memasangkan rantai pengunci ban agar aman. Kemudian melenggang tanpa permisi mendahului Yoon Gi. Sesungging senyum terulas di bibir Yoon Gi yang segera menyusul usai memarkirkan sepeda.

“Bi, tunggu aku!”

“Yoon Gi!” Tiba-tiba saja seseorang menyeru pada Yoon Gi. Kontan langkah Yoon Gi berhenti, begitu juga dengan Claire yang langsung menoleh.

Seorang gadis berparas manis dengan kuncir berhias pita biru berjalan mendekati Yoon Gi. Menyembunyikan kedua tangan di belakang pinggang sebelum akhirnya menunjukkan sesuatu yang ia pegang pada Yoon Gi. Pemuda yang berubah lebih tampan itu hanya diam melihat uluran box cokelat yang disuguhkan untuknya. “Tolong, terima ini. Aku tidak benar-benar membuatnya sendiri… tapi ini kuberikan dengan sepenuh hati.” Semu merah merona di pipi gadis bernama Kwon Ji Yeong tersebut. Namun Yoon Gi tetap diam tanpa mencoba meraihnya.

“Apa yang kau lakukan, Sean? Hargai usahanya,” Claire tiba-tiba saja menyahut. Akan tetapi ketika Yoon Gi menoleh Claire justru sudah pergi.

Mencoba menunjukan keramahan, Yoon Gi menarik senyum simpul. Menerima box coklat berlapis pita perak sambil mengucap, “Terima kasih.” Gadis itu lantas pergi dengan rona malu. Merasa bangga karena cokelat pertamanya diterima oleh sang pujaan hati. Namun sepertinya Yoon Gi tak mengerti maksud penyerahan coklat tersebut padanya. Ia bergegas menyusul Claire.

***

Menginjak bangku SMA, kini Claire sudah berada di tingkat dua, sementara Yoon Gi di tingkat tiga. Walau mereka tak berada di satu tingkat, namun tak ada alasan bagi Yoon Gi untuk tidak menengok ke dalam kelas Claire lebih dulu. Ia mengintip melalui jendela. Kemudian melihat dari ambang pintu yang terbuka lebar.

Claire terlihat duduk di bangkunya, memandang hampa pada jendela. Yoon Gi merasa heran kenapa tiba-tiba Claire jadi sangat pendiam? Tak ingin menaruh penasaran lebih lama, Yoon Gi memutuskan untuk menghampiri gadis bersurai cokelat yang kini tergerai panjang tersebut.

“Bi!” seru Yoon Gi sambil menggebrak meja. Namun Claire hanya melirik acuh. “Kita makan setelah makan siang, bagaimana?” Yoon Gi menunjukkan box cokelat yang barusan ia terima.

Claire mendecih kecil. Kemudian memalingkan wajah kembali pada jendela.

“Kenapa?” tanya Yoon Gi.

“Sudah melihat isi lokermu? Laci mejamu?” tanya Claire dengan nada sindiran.

Yoon Gi mengernyit. “Memangnya kenapa?”

Claire mendelik dan menatap wajah Yoon Gi. Menjitak pelan dahi pemuda itu lalu kembali memandang ke luar jendela. Yoon Gi meringis sambil mengusap dahinya. “Hei, apa yang kaulakukan?”

Claire berdiri dari kursinya. “Jangan menerima cokelat secara langsung dari seorang gadis di hari valentine. Kecuali jika kau menyukai gadis itu.” Claire mendorong kursinya ke belakang, membuka jalan agar ia bisa melewati Yoon Gi. Sementara Yoon Gi terlihat seperti orang linglung. Ia hanya melamun dengan kedua mata berkedip cepat.

***

“Bi!” Lagi-lagi Yoon Gi mendatangi Claire. Kali ini gadis itu sedang berjalan menyusuri koridor menuju kelas, selepas membersihkan tangan di toilet. Yoon Gi masih dengan box cokelat di tangan, yang dilirik Claire dengan tatapan sinis. Yoon Gi memang belum sempat menaruh benda tersebut atau bahkan ransel yang masih bertengger di bahu karena ia memang belum sempat memasuki kelasnya.

“Kenapa kau bertingkah aneh, Bi?” tanya Yoon Gi curiga.

“Apanya yang aneh? Aku biasa saja,” jawab Claire.

“Tidak, kau aneh. Sikapmu aneh.” Yoon Gi menarik sedikit lembaran rambut Claire sambil menatapnya. Namun segera ditepis oleh Claire sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Yoon Gi.

“Ada apa dengannya?” bingung Yoon Gi.

“Yoon Gi!”

“Min Yoon Gi!”

Kembali terdengar seruan atas dirinya. Bersumber dari dua orang siswi manis yang datang membawakan masing-masing bungkusan berisi cokelat. Claire yang ternyata belum jauh melangkah terlihat memperhatikan ke arah dua gadis itu juga Yoon Gi. Tatapannya seakan menyimpan bola api saat ia melihat Yoon Gi yang sambil terkekeh, menerima cokelat dari para gadis. Entah ada apa dengannya. Enggan berlama-lama melihat pemandangan yang menguras emosi, Claire memilih berbalik dan melanjutkan langkah. Kedua tangannya mengepal kuat dan bibirnya meruncing sambil mengumpat, “Sean menyebalkan!”

***

“Mohon diperhatikan, anak-anak! Rumus yang sudah ibu tulis di papan tulis akan muncul dalam ulangan harian tiga hari lagi. Jika ada yang tidak juga mengerti, lebih baik segera tanyakan sekarang. Dan—”

“Seo Woo, menurutmu valentine kali ini… siapa di antara pria populer di sekolah kita yang paling banyak mendapat hadiah cokelat?”

Tiba-tiba saja telinga Claire tersumbat oleh celotehan seorang siswi yang duduk tepat di sampingnya. Membuat fokus Claire yang semula memerhatikan pelajaran jadi terganggu. Berpura-pura mengabaikan, Claire terus menulis catatan. Meski telinganya terus memasang siaga pada obrolan mereka.

“Emm… aku rasa Jeon Jung Kook,” sahut siswi lain yang duduk di depan siswi pertama — Im Seo Woo.

“Jeon Jung Kook? Bagaimana dengan Min Yoon Gi?”

Claire mengendikkan bahu dan meluruskan punggungnya seketika begitu terdengar nama sobat karibnya ikut terseret dalam obrolan.

“Murid blasteran yang tubuhnya atletis itu?” tukas Seo Woo.

“Benar. Kudengar dia akhir-akhir ini populer di kalangan murid perempuan. Wajahnya tampan… perutnya six pack, dia juga memiliki darah Amerika meski hanya separuh. Aaaaa! Dia membuatku gila.” Gadis-gadis itu terlihat semakin antusias. Sementara Claire justru sibuk meremas-remas hasil catatannya dengan bibir tak bosan meruncing dan alis yang meliuk-liuk.

***

Claire menjinjing bekal menuju kantin sekolah. Niat hati ingin menyantapnya sendirian sambil membuang rasa gusar yang sejak pagi mengganggu. Sayang seribu sayang, Yoon Gi sudah lebih dulu menjegal. “Bi… makan di belakang sekolah?” ajak Yoon Gi sembari menunjukkan bekal yang ia bawa. Claire memalingkan wajah kecut. Meminta Yoon Gi menyingkir sembari menghempas napas kasar. Berjalan melewati Yoon Gi begitu saja tanpa permisi.

“Bi!” Lagi-lagi Yoon Gi hanya menatap bingung. Apa yang menimpa gadis itu sebenarnya?

“Yoon!” Yoon Gi menoleh nyaris memutar tubuh, saat terdengar seseorang memanggil namanya.

Seorang pemuda jangkung berparas tampan yang sudah cukup lama ia kenal, berjalan gagah sambil merengkuh setumpuk bungkusan yang dominan merah. Tersenyum lepas menunjukan rasa bangga, berniat memamerkan benda yang ia bawa.

“Lihat?” Alis pemuda itu turun-naik dengan cepat.

Sesungging senyum mengulas bibir Yoon Gi. “Berapa banyak yang kaudapat?” tanya Yoon Gi.

“Ada sebelas,” jawab pemuda itu. “Berapa banyak yang kau dapat di lokermu? Hanya tiga?” Pemuda tersebut lantas menyinggung tiga bingkisan cokelat yang mengintip dari celah kantong bekal Yoon Gi. Sedikit bingung, Yoon Gi memandang cokelat yang ia bawa.

“Aku tidak mendapatkannya dari loker. Aku menerima langsung dari siswi-siswi di sini,” kata Yoon Gi. Pemuda Han yang tadi bertanya kontan mengernyit. Memandang Yoon Gi seolah mengatakan ‘Kau bodoh’ padanya.

“Kenapa memandangku seperti itu?” tanya Yoon Gi.

“Bukankah… kau dan Claire berpacaran?”

“Apa?”

“Bodoh!” Sebuah tamparan kecil menghardik punggungnya. Hingga Yoon Gi melotot pada teman sesama atletnya tersebut. “Apa selama kau tinggal di Amerika tidak diajari tentang istilah ‘Take It, Love It?'” sambung si pemuda.

“Take It, Love It? Apa maksudnya? Aku hanya tinggal di sana sebelum masuk taman kanak-kanak, jika kau melupakan ceritaku.”

“Artinya, jika kau menerima cokelat dari seorang gadis secara langsung di hari valentine… maka sama saja dengan kau menerima perasaan gadis itu.”

Yoon Gi terdiam usai mendengar penjabaran atas istilah aneh yang baru ia dengar. Sekaligus memikirkan keterkaitan antara cokelat yang ia terima juga perubahan sikap Claire. Sambil menggeleng-geleng, Yoon Gi terus menyangkal pikiran dangkalnya tentang kemungkinan terbesar mengapa Claire berubah ketus. “Tidak. Pasti bukan itu,” gumamnya.

***

Telur gulung, potongan salmon goreng, rebusan sayur-mayur, nasi dan udang tempura tersaji di dalam kotak bekalnya. Namun sejak lima menit setelah kotak di buka, ia sama sekali tidak menyentuhnya. Hanya menatap sambil merengut. Berkali-kali Claire menghela napas. Kemudian melirik sebuah kotak lain yang berada di dasar kantong bekalnya.

“Tidak. Aku tidak akan memberikan ini pada Sean. Sudah jelas dia menerima semua cokelat dari para gadis… artinya dia tidak mengerti maksud pemberian cokelat di hari valentine. Tapi kenapa aku merasa marah karena Sean menerima cokelat-cokelat itu?” ia bergumam, memberanikan diri menyumpit sepotong telur dadar gulung namun gagal ia santap. Tangannya yang belum fasih mengendalikan tongkat sumpit membuatnya kesulitan untuk menyantap hidangan tradisional. Padahal sang ibu sengaja melatihnya.

Claire menaruh sumpit frustrasi. Menyingkirkan bekal dari hadapan kemudian melipat lengan untuk membenamkan wajah di sana. “Claire, kau sangat bodoh!”

“Siapa yang bodoh?”

Kontan Claire kembali duduk tegap. Suara itu tiba-tiba saja menyahut disusul oleh kehadiran Yoon Gi yang duduk di sampingnya. “Se-sean?”

“Kau justru asyik mengumpat daripada melahap makanan. Jangan sia-siakan waktu makan siangmu, atau perutmu akan terganggu,” kata Yoon Gi sambil mengeluarkan kotak bekal dari dalam kantong. Claire memerhatikan dengan wajah masih menaruh kesal. “Bagaimana kau bisa tahu aku ada di kantin?”

“Aku Min Yoon Gi, Bi. Jangan lupakan itu,” jawab Yoon Gi dengan tampang percaya diri —terkesan sombong.

“Kenapa kau terlihat menghindar dariku? Ada yang salah?” Yoon Gi mulai membuka penutup kotak bekalnya.

Claire menggeleng. “Siapa yang menghindar darimu? Itu hanya perasaanmu saja,” ketus Claire.

“Oh… aku tahu. Kau pasti iri?”

“Apa?” Claire mengendikkan bahu menatap Yoon Gi. “Iri? Kenapa aku harus iri?”

“Karena aku dapat banyak cokelat. Sementara kau tidak. Benar begitu, ‘kan?” Yoon Gi tertawa mengejek. Kemudian menyuap sesumpit nasi.

“Aku bukan orang seperti itu. Untuk apa aku iri hanya karena cokelat? Kekanakan,” sanggah Claire. “Lagipula kau tidak tahu makna angka empat belas di Korea? Empat belas februari hanya laki-laki saja yang mendapat cokelat. Ah, berapa lama kau tinggal di sini? Aku saja mengingatnya.”

Yoon Gi mengendikkan bahu. Persetan dengan tanggal empat belas. Lagi pula mengapa ia harus tahu? Kecuali jika ia sudah dewasa, mungkin Yoon Gi akan memikirkan untuk mengingat tanggal empat belas.

“Tapi… kenapa kau tidak memberiku apa-apa?” Yoon Gi kembali menyumpit nasi dan melahapnya. Sebenarnya ia tak benar-benar menikmati karena hanya nasi yang ia santap, namun ia tetap melakukannya berulang demi menghilangkan efek gemetar yang timbul entah dari mana.

Claire berkedip cepat kemudian melirik kantong bekalnya. “Aku bukan orang yang mau memberi cokelat hanya karena ini hari valentine.” Claire bergegas menutup kantong bekal.

“Benarkah? Kalau begitu lupakan, lagi pula aku sudah punya lebih dari cukup,” kata Yoon Gi. Walau ditutupi, namun rasa kecewa itu tercetak jelas di wajahnya. Suasana mendadak hening. Yoon Gi sibuk dengan makan siangnya sementara Claire sibuk berpikir. Apa yang sebaiknya ia lakukan? Pikirnya.

“Jam pelajaran olahraga, aku diminta ikut dalam tim basket. Jika kau memiliki jam kosong, datanglah ke lapangan, hm?”

Claire hanya mendongak menyaksikan Yoon Gi yang berdiri setelah membungkus kembali bekal. Ia kemudian beranjak meninggalkan Claire bersama tiga bingkisan cokelat yang ia terima dari gadis lain. Sekali lagi Claire menghempas napas kasar. Menunduk dan kembali mengumpat diri.

***

Peluit tanda pertandingan dimulai berbunyi nyaring. Sedetik setelah bola melambung di udara, masing-masing kapten melakukan loncatan maksimal demi lebih dulu meraih bola. Yoon Gi berdiri menjadi salah satu pemain dengan nomor punggung sembilan puluh tiga. Memasang kuda-kuda siap menerima operan bola.

Ini adalah kali pertama Yoon Gi masuk ke dalam tim basket walau hanya pertandingan kecil di jam olahraga. Namun siapa sangka, ternyata ada banyak siswi yang menyorakkan namanya. Berteriak keras ketika ia menoleh atau menjerit histeris saat Yoon Gi menunjukkan ukiran perut saat melakukan loncatan. Membuat Yoon Gi merasa sedikit heran dengan hal itu.

Sementara di kursi penonton, Claire nampak semakin murung. Wajahnya bersemu merah dan bibirnya kian menekuk ke bawah. Setiap kali Yoon Gi tersenyum dan dibalas oleh teriakan manja para gadis, Claire seakan terbakar. Hatinya mendadak panas dan jiwanya bergejolak. Beberapa kali mengumpat pada para gadis dengan penilaian nyinyir.

Claire memilih berdiri. Berjalan meninggalkan kursinya dan kembali ke kelas meski jam pelajaran kosong masih berlaku.

Yoon Gi memerhatikan dari lapangan. Ia bisa melihat jelas langkah Claire yang menghentak meninggalkan kerumunan siswa lain yang menonton. “Tidak, pasti bukan itu penyebabnya.” Yoon Gi menggelengkan kepala lalu mengulur napas. Bersikukuh menolak isi kepalanya yang terus menyudutkan pada satu kemungkinan.

***

Senja mengubah atmosfer. Menciptakan keindahan dengan gradasi jingga, ungu dan putih. Titik-titik kecil salju berjatuhan, menandakan bahwa tak lama lagi suhu akan turun beberapa derajat.

Claire dengan kedua tangan memegang kemudi sepeda, berjalan menapaki trotoar tanpa memedulikan Yoon Gi yang mengekor di belakang. Wajahnya terpaku pada kerikil jalan sambil sesekali menendangnya. Tak ada obrolan tercipta di antara keduanya. Tak ada yang mau memulai dan tak ada yang siap mendengarkan. Keduanya masih sibuk menata pikiran dan memilah-milah apa yang sebaiknya dibicarakan.

“Kenapa aku begitu marah pada Sean? Sebenarnya apa salahnya? Dan kenapa aku mendadak merasa bingung untuk berbicara dengannya?” Claire menggumam. Ia melirik ke belakang, Yoon Gi terlihat sedang memandang langit sore sambil memikul ransel di atas bahu. Pria itu juga sama tidak menaiki sepeda, memilih berjalan menyeret serta sang kendaraan roda dua. Namun tiba-tiba saja tubuh Claire bagai tersengat aliran listrik. Dadanya berdegup tak normal dan telapak tangan mendadak dingin. Matanya membulat. “Ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba wajah Sean terlihat lebih tampan?” Claire meragu.

“Bi, sepertinya salju akan turun lebat Lebih baik kita bersepeda agar tiba di rumah lebih cepat,” kata Yoon Gi. Claire menggendikkan bahu sambil menutup matanya rapat-rapat. Buaian apa yang baru saja menelusup ke telinganya? Padahal tidak ada rayuan yang ia dengar.

Tanpa menjawab, Claire mempercepat langkah. Setengah berlari meninggalkan Yoon Gi yang mulai mengayuh sepeda. “Bi?”

***

Di depan rumah bernomor seratus tiga, Yoon Gi menghentikan laju sepeda. Itu bukan gerbang rumahnya. Bahkan pintu itu sudah tertutup lagi tanpa menunggunya masuk. Itu adalah rumah Claire dan Claire pun sudah ada di dalam sana beberapa detik sebelum Yoon Gi tiba di depan gerbang.

“Ada sebenarnya ini?” Yoon Gi menggaruk tengkuk yang tak gatal. Kemudian memutar haluan untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Sementara Claire, ia sedang bersembunyi di balik pintu dengan napas tersengal. Keringat memenuhi raganya. Wajahnya terlihat pucat meski semu merah membulat di pipi.

“Nona?” Nyonya Jeon muncul dari dapur. Mendekati Claire dengan celemek dan sarung tangan untuk mengangkat pinggan panas masih menempel di tubuhnya. “Nona, Anda baik-baik saja?” cemas Nyonya Jeon. Claire mengangguk lantas berjalan menuju kamarnya.

“Mau kubuatkan teh?” Nyonya Jeon menawarkan. Namun lambaian tangan menjadi jawaban.

***

Waktu menunjuk pukul delapan malam. Claire yang baru selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, duduk menyaksikan rintik salju melalui jendela. Intensitasnya tidak tinggi, hanya titik-titik kecil yang berkepanjangan.

Sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk, Claire memandang lagi kotak berwarna biru dengan hiasan pita emas di atas meja. “Pasti sudah meleleh,” katanya.

Ia membanting tubuh di atas kasur. Kedua tangannya merentang dan handuk menutupi sebagian wajah. Baru saja ia memejamkan mata, jeritan ponsel tiba-tiba saja terdengar. Membuat Claire langsung membuka mata dan bangun. Ia meraih ponsel yang terteletak di atas meja.

“Sean?” Claire mendeham. Mengatur suara sebelum menekan tombol hijau. “Halo?”

“Bi? Kau sudah makan malam?” suara Yoon Gi terdengar nyaring membuat gugup kembali merajai jiwa Claire.

“Sudah, k-kau sendiri ba-gaimana?”

“Hm, baru saja. Apa aku mengganggu?”

“Ti-tidak, sama sekali tidak. Kenapa?” Claire merutuk dalam hati. Mengapa ia jadi segugup ini hanya karena berbicara dengan Min Yoon Gi?

“Bi, apa kau baik-baik saja? Suaramu terdengar aneh.”

“H-hah? Benarkah? Mungkin karena dingin, hehe.” Claire meneguk saliva penuh paksaan. Tangan dinginnya terlihat gemetar dan jantungnya tak henti berdegup cepat. Posisi duduknya terlihat tak bisa tenang. Terus bergeser ke kanan dan ke kiri, bagai tidak ada busa empuk yang bisa membuat dirinya nyaman.

“Kau sakit? Apa ibumu tahu? Tidak, apa ibumu sudah pulang?” suara Yoon Gi mendadak cemas.

“Tidak! Aku tidak apa-apa, ibuku memang belum kembali tapi aku baik-baik saja….”

“Benarkah? Kalau begitu, aku ke rumahmu ya?”

“Jangan!” Claire menyentak keras begitu Yoon Gi menawarkan diri untuk menengoknya. Membuat Yoon Gi langsung diam tak lagi bersuara.

“Jangan datang ke rumahku! Jika kau datang aku akan membunuhmu!”

Sambungan diputus secara sepihak. Claire melempar ponsel ke atas kasur disusul dengan tubuhnya. Ia menarik selimut kemudian membungkus diri. “Aaaaa! Ada apa denganku?” Kedua kakinya mengayuh angin.

***

“Claire?” Pintu terbuka. Nyonya Son melangkah masuk menghampiri Claire yang masih menggulung diri di dalam selimut. Kedua matanya terbuka menatap hampa pada jendela.

“Nak, kau sakit?” Nyonya Son bertanya dengan cemas sembari duduk di samping Claire. Ia menyentuh dahi sang putri dan memeriksa suhu tubuhnya. Namun Claire segera menepis.

“Aku baik-baik saja, Bu.”

“Nyonya Jeon, bilang kau tidak turun untuk makan malam… benar kau tidak sakit?” tanya nyonya Son. Claire mengangguk. “Lalu, apa ada masalah di sekolah?”

Claire segera bangkit. Duduk menghadap sang ibu setelah sang ibu menyinggung perihal sekolah. Walau bukan sekolah inti permasalahannya, namun ia merasa mungkin ini moment terbaik untuk mulai berkonsultasi.

“Ibu, bagaimana perasaan Ibu saat bertemu ayah?” Claire mencoba bertanya.

“Ayahmu? Maksudnya perasaan seperti apa?” Nyonya Son menaruh curiga. Dahinya mengernyit bingung.

“Perasaan… yang ibu rasakan saat sedang jatuh cinta,” Claire ingin memperjelas.

“Kenapa tiba-tiba menanyakan itu? Apa… jangan-jangan putri ibu sedang jatuh cinta, ya?” Sang ibu justru berbalik mengejek.

Semu merah merona lagi di pipi Claire. Sambil cemberut ia menunduk. “Ibu….”

“Emm. Saat ibu jatuh cinta… perasaan ibu tidak karuan. Kadang ibu marah, tapi beberapa saat kemudian ibu tersenyum. Ketika melihat gadis lain mendekati laki-laki yang ibu suka, rasanya darah ibu seperti mendidih. Tapi jika mendengar suara laki-laki itu berbicara pada ibu, tubuh ibu mendadak dingin dan gemetar, kira-kira seperti itu,” jawab sang ibu. Claire tertegun sepanjang ia mendengarkan penjabaran sang ibu. Sembari mengingat-ingat lagi gejala apa saja yang telah disebutkan dan sudah ia rasakan.

“Tapi, pada siapa Clarynne Son ini menaruh hati?” Sang ibu menggoda sambil tersenyum manis menatap wajah Claire yang semakin masak. Claire hanya diam enggan menjawab. “Tunggu, boleh ibu menebak?”

“Ibu… sudah ah!” Claire semakin merona malu.

“Emm, apa dia Min Yoon Gi?”

Claire menarik napas singkat. Sedikit cegukan mendadak setelah nama pemuda itu akhirnya menjadi tebakan paten. Gadis itu mematung tanpa berkedip. “Jadi benar kau menyukai Yoon Gi?”

Claire menarik selimut menutupi sebagian wajah, memalingkan pandangan pada kotak biru di atas meja dengan wajah bimbang. “Aku tidak tahu, Ibu… apakah itu cinta?”

“Jika kau merasa yakin pada perasaanmu, maka itu bisa disebut cinta, Nak.” Nyonya Son tersenyum kecil sambil membelai lembut surai Claire.

“Tapi, hari ini aku justru merasa tidak tenang. Aku bahkan tidak bisa menatap wajah Yoon Gi sama sekali. Aku terlalu malu,” kata Claire.

“Malu adalah hal paling manusiawi, Nak. Hal yang paling pertama muncul ketika kau baru menyadari soal ‘cinta’. Lalu, apa Yoon Gi sudah tahu?”

“Kenapa aku harus memberitahu Sean?” Claire mengernyit.

“Tidak. Aku tidak akan memberitahu Yoon Gi, tidak akan!” Claire kembali tenggelam di dalam rengkuhan selimut hangat. Membungkus diri sambil menenangkan hati. Sementara Nyonya Son hanya mengulas senyum. Sedikitnya ia merasa bangga, karena kini sang putri sudah menginjak usia remaja yang mulai mengenal cinta. Sebuah kecupan hangat ia daratkan di pucuk kepala Claire, sebelum beranjak meninggalkan kamarnya.

***

“Aku terlambat, aku tidak sempat sarapan….” Claire bergegas mengenakan sepasang sepatunya, mengais ransel ke pundak kemudian berlari melupakan sepedanya setelah berpamitan.

“Oh Tuhan, jam berapa aku tidur semalam? Jam dua atau jam tiga? Kenapa otakku terus memikirkan tetang Sean?” Claire terus menggerutu sambil memukul-mukul kepala.

“Selamat pagi, Bi!”

“Oh Tuhan!”

Claire begitu terkejut ketika tiba-tiba saja Yoon Gi muncul setelah bersembunyi di balik dinding pagar dengan posisi berjongkok. Namun lebih dari itu, hadirnya Yoon Gi sudah cukup membuat Claire nyaris kehilangan detak jantung. Sambil mengusap dada, Claire berusaha mengatur napas. Sementara Yoon Gi tertawa puas karena berhasil membuat Claire terkejut bukan main.

“Bi, kau baik-baik saja?” Yoon Gi masih saja tertawa.

Alih-alih memedulikan perhatian Yoon Gi, Claire justru memalingkan wajah lantas bergegas pergi.

“Bi? Kau marah?”

“Tidak!” Claire menjawab ketus.

“Kau marah, benar ‘kan?”

“Tidak! Menjauh dariku!” Claire tetap enggan menatap wajah Yoon Gi. “Aaaaa… menyebalkan!” Ia berteriak lalu berlari. Meninggalkan Yoon Gi bersama kebingungan yang menggulung otaknya. Pemuda itu hanya mampu menautkan alis sambil memerhatikan Claire yang semakin menjauh.

To Be Continued..

A/N: Sahabat jadi cinta >< yg nebak mereka udah jatuh cinta, nih dapet pencerahan *plak wkwk

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s