비물 (Rain) Chapter 5

비물 (Rain) Chapter 5

image

Title: 비물 (Rain)
Cast: Min Yoon Gi, Clarynne Son
Genre: Romance, Drama, AU
Cover by: Rosilah Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Adiinda Chan

“Apa kau tahu nama aroma tanah basah kala hujan menampakkan diri? Ia adalah petrichor, si pembawa rasa tenang dalam jiwa.”

Chapter 5
Sweeter Than Sweet

Suasana hening untuk sesaat. Seluruh anggota keluarga Min yang semula berjejer mencemaskan kondisi Yoon Gi tak lagi di sana. Mereka memilih untuk keluar bersama Nyonya Son. Niat hati ingin memberi keleluasaan bagi Claire dan Yoon Gi.

Sepasang manusia yang menginjak usia remaja itu saling menatap satu sama lain. Hanya memandang dengan hati mencoba mengumpulkan nyali. Canggung membumbung tinggi di udara namun Claire mencoba menjadi pembuka. “Aku minta maaf. Seharusnya dibandingkan marah, aku lebih cermat lagi memperhatikan sikapmu yang berbeda.” Ia melempar pandangan ke sembarang arah. Membuat Yoon Gi menyungging senyum kecil di bibir. Kemudian menaruh salah satu telapak tangannya yang masih sehat di atas kepala Claire.

Gadis itu sedikit menaikkan bahu. Merunduk sekaligus terkejut. Ia melirik wajah Yoon Gi yang lebih tinggi dari pucuk kepalanya. “Seharusnya aku yang meminta maaf, karena aku memilih menuruti emosi dan menjadikanmu sebagai pelampiasan. Tidak seharusnya aku marah.”

“Tentu. Kau harusnya menangis dibandingkan berteriak padaku dengan wajah mengerikan,” balas Claire kembali meluruskan punggung juga lehernya.

Namun sunggingan senyum di bibir Yoon Gi secara perlahan pudar. Ia menunduk dan wajahnya seakan menunjukan kepedihan luar biasa yang bahkan bisa menandingi rasa sakit pada sendi bahu. Claire membungkuk dengan wajah menengadah. Ia mencoba menangkap ekspresi Yoon Gi yang sedang disembunyikan.

“Ada apa?” Claire menaruh cemas.

Yoon Gi menatap sepasang manik indah Claire yang begitu tulus memedulikannya. Berniat membuka mulut untuk mengatakan sesuatu namun urung karena Nyonya Son muncul dari balik pintu.

“Claire, ibu diminta untuk ke tempat kerja. Kita harus pulang,” wanita itu berbisik.

“Bahkan di hari minggu Ibu harus ke sana?” nyinyir Claire. Ia mendengus kasar kemudian menatap risau pada kondisi Yoon Gi. Namun Yoon Gi membalas tatapannya dengan senyuman dan kedipan manis. Menyatakan bahwa ia akan sepenuhnya baik-baik saja.

“Sean, aku akan kembali jika hujan tidak muncul besok pagi. Jangan pernah menyembunyikan rasa sakitmu lagi. Kau harusnya lebih terbuka padaku,” kata Claire. Ucapan yang begitu emosional sampai-sampai likuid kembali menggenang di kelopak mata.

“Bodoh. Hanya seperti ini, sore nanti aku juga sudah bisa pulang ke rumah. Jangan berharap akan menemukanku di sini besok,” balas Yoon Gi sembari tertawa ringan.

Claire mendecih kecil. Mengusap air mata dan menyunging senyuman. “Aku akan memukulmu jika kau tidak sembuh dalam waktu singkat, paham?”

“Kalau begitu, ajak aku menemui Harry Potter dan minta dia agar membacakan aku mantra dengan tongkat sihirnya,” Yoon Gi membalas dengan candaan. Membuat Claire merasa kesal dan spontan mendaratkan pukulan kecil di bahu Yoon Gi hingga ia meringis.

“Hei!”

“Claire, jangan lakukan itu. Kau bisa membuatnya semakin sakit,” ucap Nyonya Son. Namun Claire terlihat tak menyesali perbuatannya. Ia justru menjulurkan lidah sebelum melangkahkan kaki meninggalkan ruangan bergradasi putih dan krem itu.

Yoon Gi hanya tertawa meski sedikit sakit menguras tenaga. “Kau baik-baik saja, Yoon?” cemas Nyonya Son. Yoon Gi menggeleng sambil mengibas-ngibas tangan di udara. Tawa membuatnya tak sanggup menjawab. “Claire, sangat mencemaskanmu. Bibi harap kau segera sembuh. Sebentar lagi pertandingannya, ‘kan?” Yoon Gi kontan tertegun. Berhenti tertawa saat menyadari bahwa ia masih harus menghadapi satu kesulitan lagi.

“Bibi harus pergi dan membawa Claire pulang, sampai nanti.” Nyonya Son mengusap surai Yoon Gi sebelum ia pergi menyusul Claire yang sudah tak lagi terlihat.

Yoon Gi mendengus. Memilih menyandarkan punggung pada tumpukan bantal dan menatap langit-langit. “Bagaimana jika aku tidak bisa membawakan medali apa pun padamu, Bi?”

***

Pukul enam tiga puluh pagi waktu Seoul. Claire yang baru saja selesai menata rambut, bergegas memasuki dapur untuk duduk menyantap sarapan ditemani sang ibu yang juga hendak memulai aktivitas di hari Senin.

Semangkuk sereal dengan potongan buah menjadi menu kesukaan Claire. Namun tiba-tiba saja semangatnya musnah ketika ia mengingat kondisi Yoon Gi saat ini. Ia menyendok potongan pisang, hanya menatap tanpa berniat menyantap.

“Jangan memainkan makanan, Nak,” kata Nyonya Son. Claire lantas menghela napas kemudian meninggalkan serealnya dan hanya meneguk air mineral.

“Aku berangkat sendirian saja, Ibu bisa terlambat kerja jika harus mengantarku.” Claire beranjak dari kursi. Berjalan tanpa semangat menuju halaman.

“Claire, ibu akan mengantarmu. Bahaya jika pergi sendiri.” Nyonya Son segera menyusul dengan langkah gancang. Menjinjing blaser di tangan dengan tas kecil menggantung di pundaknya. Ia menarik tangan Claire.

“Kita pergi bersama, hm?”

Claire tak mengiyakan, tak juga menolak. Ia hanya diam sambil melanjutkan langkahnya.

Akan tetapi, senyuman seketika merebak setelah ia membuka pintu gerbang. Bagaimana tidak, jika ia melihat sosok yang ia khawatirkan tengah berdiri melambaikan tangan di hadapannya saat itu juga.

“Sean?”

“Bibi, lebih baik bibi pergi bekerja. Claire aman bersamaku,” kata Yoon Gi penuh percaya diri.

Nyonya Son mampu bernapas lega. “Kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Son.

“Sudah kukatakan, aku akan ke sekolah hari ini. Lagi pula tangan kananku bisa berfungsi dengan baik, tidak ada alasan bagiku untuk membolos,” jawabnya.

Claire tersenyum lepas. Walau belum sembuh total, namun melihat Yoon Gi yang kembali menunjukan sifat percaya diri membuat Claire tenang. “Ayo, kita pergi!” Ajak Claire.

“Bibi, kami berangkat sekolah dulu. Sampai jumpa!”

***

Denting bel berbunyi. Pelajaran ketiga berakhir, berganti dengan waktu istirahat. Claire bergegas mengemas buku juga alat tulis ke dalam ransel. Mengeluarkan sebuah kotak bekal untuk ia bawa meninggalkan ruang kelas. Mengabaikan Naomi maupun Ye Rin yang hendak mengajaknya makan bersama.

“Aku rasa mereka sudah berbaikan,” kata Ye Rin.

Naomi mengangguk sebelum menyungging senyuman. “Pasti karena Yoon Gi sakit. Tidak mungkin Claire mengedepankan ego dan mengabaikan kondisinya.”

“Tapi aku mencemaskan Yoon Gi juga. Padahal olimpiadenya akan dimulai tiga hari lagi. Aku rasa Yoon Gi tidak mungkin bisa ikut,” sambung Ye Rin.

***

Claire berjalan penuh semangat menuju ruang kelas Yoon Gi. Menggandeng bekal yang niatnya hendak dimakan bersama Yoon Gi. Akan tetapi niat hati pupus sudah saat sosok itu tak ia temukan di dalam kelas. Hanya ada teman-teman dekat bangku Yoon Gi yang sedang bersenda-gurau di sana. Claire menoleh ke sekitar, berharap mungkin sosok Yoon Gi masih bisa ia temukan. Namun tetap saja tidak ada.

“Ho Seok!” Claire melambaikan tangan pada seorang pemuda yang sibuk membaca buku di dekat meja Yoon Gi. Pemuda itu menoleh.

“Kau melihat, Sean?” sambung Claire mengucap tanya.

“Sean?”

“Iya. Maksudku Yoon Gi,” jelas Claire.

“Oh, dia pergi ke ruangan pelatih.” Pemuda itu menunjuk lurus ke luar. Tanpa menunggu lama, Claire segera menyusul bermodalkan petunjuk yang cukup. Berlari dengan perasaan risau memikirkan kemungkinan besar tetang apa yang hendak dilakukan Yoon Gi.

Tiba di depan pintu ruangan pelatih, Claire menahan langkah. Ia memilih mengintip melalui celah pintu untuk mengetahui apakah benar Yoon Gi ada di dalam sana. Siluet pria kecil dengan salah satu lengan dilipat terlihat di dalam sana. Claire sangat yakin bahwa dia adalah Yoon Gi yang ia cari.

“Biceps Tendinitis, tertulis dalam laporan medismu.” Yoon Gi mengangguk atas ucapan sang pelatih. Ia tak henti menggigit bibir bagian bawah saat harus melihat sang pelatih menggeledah isi hasil pemeriksaan kesehatannya. Cemas tetang apa yang akan dikatakan oleh sang pelatih.

Pria dengan kumis tipis itu menghela napas panjang. Melempar kertas dari tangannya ke atas meja sebelum berdiri tegap membelakangi Yoon Gi.

“Maafkan aku, Pelatih. Jika dalam waktu dua hari ini aku pulih… aku bisa ikut serta da—”

“Dua hari? Ini bukan cidera ringan, Min Yoon Gi!” tegas sang pelatih memotong kalimat Yoon Gi. Membuat pemuda itu sedikit merungkutkan bahu.

“Kenapa baru sekarang kau memberitahuku? Seharusnya kau memberitahukan kondisimu sejak dua hari lalu! Bagaimana caraku mengatasi kekacauan ini? Aku sudah terlanjur mendaftarkan namamu,” omel sang pelatih.

Yoon Gi sekali lagi harus membungkuk dan memohon maaf. Menyesal karena memang semua adalah kesalahannya yang berlagak tangguh.

“Tempo hari sudah kuberi pengarahan, jika ada keluhan segera beritahukan padaku. Tapi kau malah mengabaikan arahan pelatihmu? Cideramu bukan cidera biasa. Ada peradangan di dalamnya.”

“Aku sama sekali tidak mengira kalau akan jadi separah ini,” jawab Yoon Gi.

“Sudahlah. Sebaiknya istirahatkan dirimu di rumah. Aku akan mencari penggantimu.” Sang pelatih melambaikan tangan sebagai bahasa tubuh untuk meminta Yoon Gi ke luar.

“Maafkan aku, Pelatih.” Lagi, Yoon Gi harus membungkuk dan memohon maaf. Ia melenggang perlahan meninggalkan ruangan tersebut. Dengan berat hati juga harapan yang lebur akibat gagal ikut serta dalam olimpiade.

Sementara di sisi pintu, Claire sudah menunggu. Wajahnya tertunduk sambil menjinjing bekal di tangan. Ia berdiri menyambut Yoon Gi. Tidak ada kalimat yang teruntai saat ia menemukan Claire di sana. Alih-alih terkejut atau bertanya, Yoon Gi memilih melanjutkan langkahnya dengan wajah lesu.

“Sean?”

***

Hembusan angin menyeka keringat akibat terik sang surya. Menggoyangkan helaian rambut yang sedikit lepek di beberapa sisi. Baik Yoon Gi maupun Claire, keduanya sama-sama berdiri menantang udara. Menyaksikan hamparan kota dari tingginya atap gedung sekolah.

“Aaaaaaaissh!” Tiba-tiba saja Yoon Gi mengerang hebat sebagai luapan emosi. Menghardik diri dengan salah satu tangan yang masih bisa bergerak bebas. Ia kembali menjerit bahkan meringis.

Sementara Claire hanya mampu menatap pilu pada Yoon Gi yang tak henti berteriak menentang angin. Ia tahu membuka mulut pun percuma. Tidak ada yang bisa ia katakan untuk menolong Yoon Gi.

“Sean?”

“Bi.”

Claire mengendikkan bahu ketika terdengar Yoon Gi memanggil. Ia merasa terkejut sekaligus segan. Melihat bagaimana sikap Yoon Gi sebelumnya membuat Claire sedikit takut jika amarah Yoon Gi akan kembali menamparnya.

“Bi, apa sebaiknya aku menangis?” Claire tertegun mendengar kalimat tersebut teruntai dari mulut Yoon Gi yang masih membelakanginya.

“Su-sudah kubilang, ‘kan… lebih baik menangis,” gugup Claire menjawab.

“Kalau begitu… kau bisa berjanji?”

“Janji?”

Yoon Gi membalik dan menatap wajah Claire. Sedih merajai hati namun tetap saja raut itu mencoba untuk menahan agar tak ada tangis yang keluar. Ekspresi yang membuat Claire meradang. “Kenapa bersikap tegar jika hatimu rapuh?” Gadis itu sedikit menyentak. “Jika ingin menangis, menangis saja. Kenapa menahannya? Apa gunanya? Katakan, apa yang harus aku lakukan?”

Tiba-tiba saja Yoon Gi menarik lengan Claire. Menjatuhkannya ke dalam dekapan hangat sebelum akhirnya pria kecil itu menangis sejadi-jadinya. Perlakuan yang kontan membuat Claire diam. “Se-sean?”

“Aku ingin menangis. Aku sangat ingin menangis, sejak bahuku tak mampu lagi mengayuh, sejak aku merasakan sesal karena harus menyentakmu, sejak aku harus mendapatkan penyangga bahu di lenganku. Aku selalu ingin menangis… tapi aku sudah berjanji agar tidak lagi menangis di depan mendiang ibuku. Bagaimana? Bagaimana ini? Aku sudah tidak sanggup lagi menahannya,” Yoon Gi merintih dan semakin erat mendekap tubuh Claire dengan satu tangan yang masih berfungsi normal. Gadis itu termenung. Bingung tentang apa yang harus ia lakukan untuk membuat sahabatnya tenang.

Claire mengangkat kedua tangannya lebih tinggi. Menautkan jemari tangannya dan membalas pelukan Yoon Gi. “Menangislah… jika sudah tidak bisa tertahankan lagi, maka menangislah. Jika yang kau pinta adalah janjiku untuk tidak mengatakan ini pada Bibi Min atau orang lain, maka aku akan berjanji sampai aku mati. Aku tidak akan mengatakan pada siapa pun bahwa kau menangis,” bisik Claire yang juga menitikkan tangis di pipi.

“Ke mana pun kau pergi, saat kau ingin menangis… carilah aku, hubungi aku, katakan padaku. Aku akan selalu menjadi sekat yang menyembunyikanmu agar kau bisa menangis sampai puas. Bahkan mendiang ibumu tidak akan tahu.” Claire mengusap punggung Yoon Gi. Tangis Yoon Gi kian memuncak. Beruntung keduanya berada di atas gedung sekolah, di mana tidak ada orang lain selain mereka yang akan mendengar.

***

Denting bel kembali berbunyi. Kali ini pertanda kelas akan kembali dimulai. Namun Claire maupun Yoon Gi terlihat masih tenang duduk bersandar pada dinding pembatas tepian atap. Bekal yang dibawa belum juga disantap. Masih terbungkus rapi dan hanya menjadi pendamping keduanya dalam menikmati hiasan langit.

Yoon Gi sudah lebih tenang. Terlihat dari senyum yang mengembang di bibirnya saat menatap Claire. Membuat Claire berbalik curiga melihat senyumannya. “Kenapa tersenyum?” tanya Claire. Yoon Gi menggeleng lantas tertawa kecil.

Claire mengernyit. “Sean, apa yang lucu?”

“Tidak ada,” jawab Yoon Gi kembali memandang hamparan biru di atas kepala.

“Bohong.”

Yoon Gi melirik singkat.

“Bi, bukankah aku menggelikan?” tanya Yoon Gi masih melekukkan senyum.

Claire hanya diam dan menatap Yoon Gi. Ia tak mengerti apa yang dimaksudkan Yoon Gi.

“Bi, pinjami aku pundakmu.”

Yoon Gi mendorong tubuh ke sisi, menjatuhkan kepalanya agar bersandar pada pundak Claire. Memejamkan mata kemudian menghirup napas dalam-dalam.

Semu merah secara cepat merona di pipi Claire. “Se-sean, kau tidur?” gagap Claire sembari menekan sikap kikuknya.

“Bodoh. Mana mungkin aku tidur di sini. Aku hanya memejamkan mata saja, menangis membuat mataku seperti terbakar.”

“Oh.”

“Bi, kau bilang padaku agar lebih terbuka padamu. Lalu bagaimana denganmu? Akankah kau lebih terbuka padaku?” tanya Yoon Gi.

Claire mengangguk sambil menggumam. “Jika kau ingin menanyakan sesuatu tentangku, aku juga akan menjawabnya,” jawab Claire.

“Emm, kalau begitu… boleh aku bertanya tentang ayahmu?”

“Ayahku?”

“Aku tidak pernah melihatnya sejak pertama kali kita bertemu. Apa… ayahmu seperti ayahku?” lanjut Yoon Gi.

Claire menghela napas kasar. “Tidak. Ayahku masih hidup, hanya saja… dia sudah tidak peduli pada kami. Terakhir kali kami bertemu saat aku terbaring di rumah sakit, di Amerika,” jawab Claire. Bibir gadis itu mendadak gemetar begitu juga dengan kedua tangannya.

Yoon Gi kembali meluruskan punggung. Duduk menghadap Claire dan memerhatikan perubahan sikapnya. “Sehari sebelumnya, ibu mengatakan tidak bisa menjemputku pulang dan aku harus menunggu sampai ayahku datang ke sekolah. Saat itu hujan baru saja berhenti, dan ayahku datang dengan hanya membawakan payung,” Claire membuka cerita.

“Ayahku tahu apa yang seharusnya ia lakukan, seperti apa yang biasanya ibuku lakukan. Tapi dia mengabaikannya karena berpikir hujan sudah sepenuhnya berhenti. Sayangnya ketika kami tiba di parkiran… hujan kembali berjatuhan. Aku nyaris mati. Pada malam berikutnya di rumah sakit ibu dan ayahku bertengkar hebat,” sambung Claire. Pipi putih yang lembut itu kembali terbilas likuid.

“Jadi ibu dan ayahmu berpisah?” terka Yoon Gi sembari menyeka tangis dari wajah Claire. Gadis itu mengangguk.

“Kalau begitu, lebih baik begini. Ayah yang tidak peduli terhadap puterinya sangat tidak pantas untuk disebut ‘ayah’,” kata Yoon Gi.

“Tapi terkadang aku merindukan sosok ayah dalam hidupku.” Claire menyeka tangis.

Sementara Yoon Gi justru menyungging senyum. Tertawa ringan kemudian berdiri tegap di hadapan Claire. Merentangkan tangan kanan lalu berucap lantang, “Mulai saat ini, aku yang akan menjadi sosok ayah bagimu, Bi. Kau tidak perlu merasa kehilangan. Karena selama ada aku, aku akan menjadi apa saja untukmu. Setuju?”

Claire memandang haru pada Yoon Gi. Senyum mengembang di bibir seraya mengangguk. Mereka tertawa bersama menyingkirkan beban yang menyiksa batin.

***

Nyaris satu jam sudah mereka mengabaikan alarm pergantian waktu. Yoon Gi terlihat enggan beranjak dari atap padahal Claire sudah dilanda keresahan. “Sean, bukankah kita harusnya kembali ke kelas?”

Yoon Gi mengangguk santai. Justru menyandarkan punggung pada dinding sekat atap. Ibu jari kanannya berdiri tegak sementara jari lain menutup kuat. Ia lantas tersenyum. “Aku diminta untuk istirahat oleh pelatih juga guru-guru yang lain, jadi aku aman.” Wajahnya begitu percaya diri.

“Lalu, bagaimana denganku? Apa alasan yang harus aku berikan?” Claire menaruh cemas.

“Katakan saja kau sakit perut setelah makan siang, beres ‘kan?”

Claire menghentakkan kaki. Menekuk bibir dan menautkan alis. “Kau tidak lihat bekalku masih utuh?” Claire menunjuk ke arah bungkusan kecil bekal di sampingnya.

Yoon Gi terkikik dan mengendikkan bahu. “Pintar-pintar kau saja, Bi.”

“Tidak bisa. Kita harus kembali bersama-sama.”

Tak ingin mendapat masalah sendirian, Claire memilih menyeret Yoon Gi agar menemani ia ke dalam kelas walau sebenarnya kelas mereka berbeda. Ia menarik lengan kanan Yoon Gi, mengabaikan teriakan Yoon Gi yang mengajukan penolakan.

Belum sempat ia menyelesaikan perjalanan, seorang guru berseragam BP terlihat berdiri menghadang. Membuat Claire maupun Yoon Gi kontan berhenti melangkah. “Gu-guru Song?” Gagap Claire menyapa.

Sang guru terlihat mengerucutkan bibir sembari bertolak pinggang. Kemudian meminta Claire agar melihat waktu pada jam di pergelangan tangannya. Gadis itu terkekeh hambar sambil menaikkan satu lengan. Membaca angka yang tertulis pada jam digital lalu menyebutkannya.

“Kenapa belum masuk kelas? Kalian sedang berpacaran di lingkungan sekolah?” sindir sang guru.

Claire maupun Yoon Gi langsung menyanggah. Mengatakan tidak dan bukan dengan lantang sambil menggeleng, meski merah semu menghiasi pipi. “Kami tidak mendengar bel berbunyi,” kata Claire. Yoon Gi melirik dengan tatapan was-was. Baginya, alasan yang diucapkan Claire sangatlah tidak masuk akal. Bagaimana bisa suara sekeras itu tidak terdengar? Kecuali jika ia sudah tuli tingkat dewa.

Sang guru mendecak sambil menggelengkan kepala. “Jujur untuk membersihkan halaman belakang, atau tetap berbohong untuk berlari keliling lapangan lima puluh putaran?” Claire mendengus sambil menggaruk-garuk tengkuk leher.

“Maafkan kami, Guru. Biarkan aku membersihkan lapangan… kami memang sengaja mengabaikan bel masuk,” sesal Claire.

“Kalau begitu, selesaikan sebelum jam pulang sekolah. Yoon Gi, karena kondisimu sedang tidak baik… aku akan berbaik hati dengan membagi tugas membakar sampah padamu. Selamat bekerja.” Sang guru melenggang begitu saja meninggalkan Yoon Gi juga Claire. Namun Yoon Gi nampak tak menerima hukuman yang baru saja dijatuhkan.

“Guru, aku tidak bersalah!” Ia berteriak membela diri, sayangnya sang guru enggan perduli.

“Bi!”

Claire tertawa puas menyaksikan ekspresi Yoon Gi yang menggemaskan. Antara sebal, kecewa namun juga ingin tertawa tergambar sekaligus di wajahnya.

“Ayo, cepat kerjakan!” Claire melangkah yakin sambil terus tertawa memegangi perutnya. Meninggalkan Yoon Gi yang tak mampu berkata apa-apa lagi.

***

“Sean, ada yang ingin aku tanyakan.” Claire membubuhkan sampah kering ke dalam drum besar di hadapan Yoon Gi.

“Tentang apa?” Yoon Gi terlihat merogoh pematik dari dalam saku.

“Tapi berjanjilah, jika kau tidak bisa menjawabnya katakan saja… jangan marah,” pinta Claire. Yoon Gi menyanggupi melalui anggukan kecil. Ia menyalakan pematik untuk membakar sampah kering di dalam drum.

“Ini tentang orangtuamu. Sejak kapan mereka meninggal?” Claire berbicara sambil kembali menyapu dedaunan. Namun dalam beberapa detik respon Yoon Gi tak terdengar. Membuat Claire berhenti menyapu dan memandang pada Yoon Gi.

“Kau marah?” tanya gadis itu.

Yoon Gi tertawa kecil. “Kenapa aku harus marah? Itu hanya pertanyaan umum yang sering kudengar dari banyak orang.”

“Lalu, kenapa kau diam?”

“Aku sedang berpikir. Kejadian itu sudah cukup lama kulupakan, aku sedang mengingatnya kembali sebelum kukatakan padamu.”

Claire tertegun mendengarnya namun juga sedikit merasa bersalah. Mungkin sebaiknya ia tak membuka luka lama yang telah susah-payah ditutup rapat-rapat. “Maaf,” sesal Claire.

“Kenapa meminta maaf?” Yoon Gi mendelik sambil tersenyum. Kemudian duduk di atas kayu dari pohon yang tumbang sambil memainkan selembar daun mapple kering.

“Sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Saat itu kami berencana menengok kakekku yang sedang sakit di Chicago. Tapi entah kenapa aku sangat tidak mau ikut…,”

“ibu dan ayahku pergi tanpa aku, mereka menaiki penerbangan pada malam hari. Sebenarnya perjalanan dari Korea bebas hambatan… sayangnya, saat akan landing pesawat terjebak badai besar. Mereka tewas setelah hulu dan sayap pesawat meledak karena menukik saat jatuh.” Yoon Gi merobek daun kering di tangannya layaknya pesawat tanpa hulu dan sayap. Sementara Claire terus menyimak dengan perasaan iba membendung.

“Beruntung kau tidak ikut,” kata Claire.

Yoon Gi tersenyum getir. Meremas daun di tangan hingga remuk. “Aku memang beruntung. Tapi keberuntungan itu menyiksaku.”

“aku terus dirundung rasa bersalah. Dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang bergejolak di hati tentang; kenapa aku tidak ikut? Seharusnya aku ikut mungkin aku bisa bahagia di dunia sana bersama kedua orangtuaku, atau kenapa aku tidak menahan mereka agar tidak pergi? Aku terpuruk selama satu tahun, Bi.”

“Seharusnya aku duduk di tingkat tiga saat ini. Tapi karena aku sering membolos dan mengabaikan pelajaran untuk menghabiskan waktu memeluk makam kedua orangtuaku, aku harus mengulang kelas. Aku sangat terpuruk, sampai akhirnya Bibi Min, ibuku saat ini… mengadopsi dan menjadikanku sebagai putera bungsunya.” Yoon Gi kembali berdiri. Menghampiri Claire yang termenung mendengarkan cerita lalu merebut skop sampah dari tangan Claire.

“Kenapa melamun? Apa ceritaku lebih mengharukan daripada drama TV?” tanya Yoon Gi terkekeh geli. “Lanjutkan pekerjaanmu. Aku tidak mau terlambat pulang hanya karena membakar sampah,” lanjut Yoon Gi.

Awalnya Claire hanya diam dan mematung. Membiarkan Yoon Gi merebut pekerjaannya dan membawa sampah itu ke dalam drum. Namun tiba-tiba saja Claire berjalan begitu cepat mengikuti Yoon Gi. Kemudian melingkarkan pelukan pada punggungnya yang hangat. Hingga Yoon Gi terkejut dan refleks memutar tubuh. Claire menunduk sambil terisak.

“Kenapa?” tanya Yoon Gi sambil membungkuk untuk melihat lebih jelas wajah Claire. Gadis itu segera menyeka tangisnya untuk mengangkat dagu.

“Sean, pasti kau sangat kesepian…,” ucap Claire.

“Sama seperti saat pertama kali kita bertemu, walau sudah memiliki Keluarga Min yang menyayangimu… tapi aku tahu, kau tetap kesepian tanpa kedua orangtuamu. Mulai saat ini, kau juga punya aku. Jangan pernah merasa kesepian lagi, janji?” Claire meninggikan salah satu jari kelingkingnya. Tersenyum manis dengan wajah dan hidung memerah. Akan tetapi, bukannya menautkan kelingking miliknya Yoon Gi justru menghimpit hidung Claire di antara celah telunjuk dan jari tengah.

“Anak manis… baiklah, aku mengerti.” Yoon Gi menggoyangkan cubitannya pada hidung Claire. Sementara Claire mengeluh sakit dan mencoba melepaskan tangan Yoon Gi dari wajahnya.

To Be Continued..

A/N: Bohong kalo aku gak baper pas baca ini setelah Dinda kirim ke aku >< *plak

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s