비물 (Rain) Chapter 4

비물 (Rain) Chapter 4

image

Title: 비물 (Rain)
Cast: Min Yoon Gi, Clarynne Son
Genre: Romance, Drama, AU
Cover by: Rosilah Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Adiinda Chan

“Apa kau tahu nama aroma tanah basah kala hujan menampakkan diri? Ia adalah petrichor, si pembawa rasa tenang dalam jiwa.”

Chapter 4
Are You Okay?

~~~

Story begin..

Kolam renang indoor tidak sepenuhnya sepi meski waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Masih ada satu lelaki usia empat belas tahun tengah berlatih di sana. Napas telah memburu namun ia masih tetap lanjut berenang hingga tepi. Ia berhenti, melepas kacamata renang lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Tekad lelaki itu kuat, terbukti dari dirinya yang kembali menceburkan diri lalu berenang dan berenang lagi. Meski ia tahu terlambat pulang. Meski ia tahu terlambat makan malam namun rekor yang harus ia ciptakan lebih penting dari semua itu.

Ia menengok kembali stopwatch yang sedari tadi ditaruh di pinggir kolam, menyetop lalu tersenyum bangga mendapati hasil maksimal atas latihannya hari ini. Bersorak-sorai mengambil handuk masih dengan lengkung manis. Yoon Gi yakin perlombaan yang sebentar lagi digelar akan mampu ditaklukkan.

***

“Minggu depan kau harus melihat pertandinganku,” putus Yoon Gi memasukkan potongan apel ke dalam mulut.

Claire mendecih, memukul pelan tangan Yoon Gi yang kembali mencoba meraih potongan apel. “Aku belum selesai mengupas dan kau bahkan sudah hampir memakan semuanya.”

Kedua sahabat yang mulai memasuki usia remaja saling pukul. Melempar candaan menebar kupasan kulit apel. Mereka tengah berada di rumah Yoon Gi, di ruang tengah menghadap tepat jendela besar. Hujan masih menampakkan eksistensi disertai gemuruh petir juga deru angin.

Mereka masih bergelung ria, memainkan permainan batu kertas gunting memutuskan siapa yang membereskan kekacauan; kulit apel berserak serta bantal sofa berjatuhan. Claire mengembuskan napas lelah. Ia benar-benar payah dalam permainan ini. Maka dengan berat hati gadis berusia dua belas tahun memunguti kulit apel.

“Karena aku harus datang, kau juga harus memenangkan medali.” Claire harus bekerja ekstra karena Yoon Gi melemparkan kulit lebih jauh dari tempat mereka duduk. Ia melihat Yoon Gi mengangguk masih memasukkan apel-apel ke dalam mulut.

Setelah ucapan Claire tidak ada yang berbicara. Yoon Gi sibuk memakan apel sementara Claire jadi anak penurut memunguti sampah.

“Hujan hari ini terlihat menyeramkan.” Claire kembali membuka konversasi.

Yoon Gi kembali memasukkan potongan apel. “Kau benar. Aku merasa ngilu mendengar petir sekencang itu.”

Claire menghela napas membuang kulit-kulit apel yang sudah terkumpul ke kantung sampah. Ia ikut duduk di samping Yoon Gi, menangkup dua tangan di wajah. “Bahkan ketika aku berusia dua belas tahun seperti ini aku masih ingin merasakan berada di bawah guyuran hujan.”

Yoon Gi mencebikkan bibir, menyodorkan potongan apel di depan mulut Claire. “Aku berbaik hati memberikan potongan lezat ini padamu. Kau seharusnya bersyukur.”

Sejenak Claire mendecih namun tetap melahap potongan apel. Mungkin Yoon Gi memang benar. Seharusnya ia lebih bersyukur atas hidupnya sekarang. Bukan menyalahkan takdir karena terlahir tidak sempurna seperti ini. Astaga. Kenapa Claire jadi melankolis seperti dulu lagi?

“Kalau begitu aku akan menemanimu latihan keras mulai hari ini.” Seolah melupakan keinginan terbesar yang merebak, Claire bersuara lantang. Bibirnya yang cemberut terganti dengan senyuman manis.

Yoon Gi menarik tudung hoodie Claire, memasangkan di kepala lalu mencubit keras dua pipi gadis itu. “Hari sedang hujan, kau ingat?”

***

Semburat rona jingga menggantung di langit. Matahari condong ke barat belum sepenuhnya hendak menenggelamkan diri. Tuan Angin bertiup lembut, cukup menerbangkan anak rambut gadis yang tengah mengayuh sepeda. Membuntuti lelaki dua tahun lebih tua darinya berlari mengelilingi rute sekitar Sungai Han. Mereka adalah Claire dan Yoon Gi.

Wajah Claire terlihat gembira meski peluh turut jua hadir memenuhi pelipis. Ia sudah mengikrarkan janji menemani Yoon Gi berlatih. Tidak adil rasanya jika ia hanya duduk berdiam diri menunggu Yoon Gi selesai berlari. Kayuhan sepeda Claire memelan seiring tapak-tapak kaki Yoon Gi. Ketika Yoon Gi berhenti maka gadis itu juga akan berhenti.

Dua putaran Yoon Gi sudah melambaikan tangan. Kaki-kakinya kebas, ia butuh sejumput istirahat. Mereka berhenti di salah satu bangku taman kosong. Yoon Gi menyelonjorkan kaki sementara Claire membongkar isi tas yang ia taruh di keranjang sepeda. Mengeluarkan dua botol minuman isotonik dan memberi satu botol pada Yoon Gi. Claire ikut menyelonjorkan kaki, meminum isotonik lalu menyeka keringat dengan sapu tangan.

Napas Yoon Gi mulai kembali teratur. Ia membiarkan Claire mengusap keringat di wajah namun ekspresi datarnya terlihat berbeda. Ada sebuah gelenyar aneh timbul ketika tangan lembut Claire membenarkan poni. Benar-benar aneh hingga ia berinisiatif menyingkirkan tangan Claire, mengacak kembali rambutnya yang sudah tertata rapi. Mengabaikan protes Claire dengan lidah menjulur.

Matahari telah sepenuhnya pulang ke peraduan. Lampu-lampu taman menyala serentak. Sudah cukup lama mereka berhenti sekadar mengistirahatkan diri. Yoon Gi mengambil sepeda, menaikinya, meminta Claire duduk di boncengan. Udara senja menerpa kulit mereka. Yoon Gi mempercepat kayuhan, membuat Claire berteriak memeluk punggungnya.

***

Pada aba-aba peluit panjang, Yoon Gi melangkah naik di bagian belakang balok start dan tetap diam sembari memakai kacamata renang. Saat pelatih berteriak awas, Yoon Gi segera mengambil sikap start di bagian depan tempat start dengan sikap sedikit membungkuk; kaki rapat dengan tangan menyentuh ujung tempat start. Lalu bunyi peluit tanda ya berkumandang Yoon Gi segera meluncur di air.

Yoon Gi berenang dengan posisi dada menghadap ke permukaan air. Kedua belah lengan secara bergantian digerakkan jauh ke depan dengan gerakan mengayuh, sementara kedua belah kaki secara bergantian dicambukkan naik turun ke atas dan ke bawah. Saat tiba di ujung lain kolam Yoon Gi melakukan tolakan keras dengan kedua kaki, kembali melakukan gerakan mengayuh. Namun pada perempat terakhir kolam bahu kiri Yoon Gi merasakan nyeri luar biasa, ia mengurangi tempo kayuhan lengan, menahan perih yang menjalar.

Yoon Gi menyentuh ujung kolam tempat start pada urutan ketiga. Bibirnya mencebik, menandakan kekecewaan mendalam terhadap hasil latihannya sore ini. Sangat jauh dibanding rekor yang seharusnya ia ciptakan untuk pertandingan lima hari lagi. Ia memukul keras air kolam, merasa kesal dengan diri sendiri harus mengalami rasa perih di saat tidak tepat.

“Kau baik-baik saja, Yoon Gi? Kau kehilangan kecepatan di seperempat akhir.” Sang pelatih menghampiri Yoon Gi yang masih menormalkan pernapasan. Yoon Gi hanya mengangguk tanpa mengucapkan kata-kata.

“Perhatian semuanya, lomba akan segera dimulai. Lima hari lagi kalian harus berlatih keras demi hasil yang maksimal. Jika ada keluhan sebaiknya kalian utarakan sekarang. Aku tidak mau menanggung komplain atlet cidera karena tidak mendapat perhatian dari pelatih. Kalian mengerti?” si pelatih menyeru keras. Empat belas atlet cilik ikut menjawab dengan suara lantang, kecuali Yoon Gi yang tidak berniat membuka suara. “Baiklah latihan hari ini cukup.”

Semua atlet membubarkan diri. Menyisakan Yoon Gi yang masih menekuk wajah tidak terima. Bagaimana bisa rekor yang ia sendiri yakini mampu tercapai bahkan tidak dapat diraih sama sekali? Lebih dari itu bagaimana bisa ia merasakan sakit pada bahu padahal sebelumnya ia selalu melakukan pemanasan dengan benar.

Yoon Gi duduk di pinggir kolam, mencelupkan dua kaki di air masih dalam keadaan kacau. Ucapan pelatih tadi menohok ulu hati. Bagaimana jika ia benar-benar cidera? Bagaimana jika ia tidak bisa mengikuti pertandingan dengan maksimal? Semua pertanyaan yang muncul bahkan tidak mampu ia jawab.

Jika boleh jujur sebenarnya Yoon Gi sudah merasakan denyutan nyeri sejak beberapa hari lalu. Awalnya hanya sebatas nyeri biasa, beberapa menit kemudian hilang tak berbekas. Namun lambat laun rasa nyeri itu bertambah frekuensi. Membuat Yoon Gi terkadang harus menahan hingga bibirnya terlihat pucat.

Yoon Gi menghela napas. Ia tidak boleh memberitahukan nyeri ini pada siapa pun. Terutama pada Claire yang menantikan medalinya lagi pada pertandingan ini.

“Astaga, Sean. Aku sudah mencarimu ke mana-mana dan ternyata kau justru melamun di pinggir kolam seperti ini.” Suara Claire menggema di kolam sepi, menyentak Yoon Gi yang baru teringat jika ia harus mengantar Claire pulang.

Yoon Gi menaikkan kaki, mengambil handuk bersih melilitkan ke tubuh. “Aku mencintai kolam renang jika kau lupa, Bi.”

Claire mendecih mendengar alasan klise Yoon Gi. Memilih keluar kolam renang indoor menunggu Yoon Gi di sana.

***

“Aku benar-benar frustrasi dengan pelajaran sejarah. Bisakah aku tidak ikut pelajaran itu?” Claire mengeluh disertai helaan napas panjang. Yoon Gi yang ada di samping hanya diam, larut dengan pikirannya sendiri dan tidak berusaha menyahut. Mereka telah turun dari bus, berjalan di gang yang menghubungkan langsung rumah keduanya.

“Aku tidak mengerti mengapa empat tahun tinggal di sini tidak membuatku bisa menghapal pelajaran menyebalkan itu,” Claire masih saja mengoceh. Ia bahkan tidak peduli dengan Yoon Gi yang tidak menyahut atau memberi wejangan seperti biasa.

Helaan napas panjang keluar dari bibir Claire. “Aku tidak yakin akan mendapat nilai enam. Ingatanku payah sekali. Astaga.” Claire mulai menjambak rambut frustrasi. Ia tidak ingin mengecewakan sang ibu dengan nilai mata pelajaran akademik, tapi dengan tingkat kesulitan sejarah yang luar biasa Claire juga tidak akan sanggup mendapat nilai bagus. “Goguryeo, Silla, Baekje, apa itu. Astaga otakku rasanya ingin meledak.”

“Setidaknya kau sudah berusaha,” sahut Yoon Gi seadanya. Ia terus berjalan, tidak menengok arah Claire sama sekali.

Kata-kata Yoon Gi membuat Claire menoleh. Bibir gadis itu mengerucut. Ia memukul pelan bahu kiri Yoon Gi. “Kau seharusnya mengatakan ‘aku akan mengajarimu, Bi’ seperti biasa. Kenapa hari ini kau jadi dingin sekali?”

Yoon Gi menghela napas. Tidak penting mengurus Claire yang tengah mencak-mencak karena perih seketika menjalar setelah pukulan kecil bersarang di bahu. Ia mati-matian menahan ngilu hingga setelah itu tidak ada suara. Baik Claire maupun Yoon Gi tidak ada yang berusaha membuka mulut.

Yoon Gi sendiri masih merenung. Bayang-bayang tentang kegagalan dalam lomba terus berputar secara konstan di kepala. Yoon Gi juga berandai-andai bagaimana kalau nyeri ini semakin menjadi dan dirinya benar mengalami cidera? Haruskah Yoon Gi mundur dalam perlombaan kali ini?

“Kau punya masalah?” Kali ini Claire melunturkan ego. Memberi pertanyaan yang beberapa menit lalu mengganggu kinerja otak. Tidak biasanya Yoon Gi bersikap aneh kecuali lelaki itu tengah memendam sesuatu. Namun… apa yang dipendam lelaki seusianya? pikir Claire tidak jua mengerti.

“Huh?” Pertanyaan Claire membuat Yoon Gi sedikit terkejut.

“Kau baik-baik saja?” Claire mengulangi lagi pertanyaannya dengan sabar. Sejujurnya ia telah menaruh rasa curiga pada Yoon Gi saat mereka bertemu di kolam renang. Yoon Gi seperti orang yang sedang dirundung masalah, namun Claire tidak mengetahui masalah jenis apa yang tengah menghantui Yoon Gi.

Yoon Gi melirik Claire di sisi kiri sesaat, lalu menjinjing naik sudut bibirnya sembari mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja.”

“Sungguh?” Claire mencoba memastikannya sekali lagi. Dan lagi-lagi Yoon Gi hanya mengangguk. “Kau tidak mencoba membohongiku, ‘kan? Sean, itu jelas terlihat di wajahmu.”

Claire kembali menyentuh bahu kiri Yoon Gi. Namun refleks tak terduga dari pria itu justru membuat Claire mengeryit; Yoon Gi menepis tangan Claire lalu berjalan mendahului si gadis.

“Hei, kau tidak seharusnya melakukan itu.” Claire masih berusaha mensejajari langkah panjang Yoon Gi. Raut wajah Yoon Gi benar-benar kacau dan Claire merasa bersalah. “Sean, kau benar-benar marah padaku?”

Tidak ada sahutan. Langkah Yoon Gi semakin panjang, membuat Claire harus berlari-lari kecil. “Kau benar-benar seperti anak kecil. Aku hanya memegang bahumu dan responmu sangat menyebalkan.”

Yoon Gi berhenti, membuat Claire juga ikut berhenti. Gadis itu terengah-engah entah karena kesabaran sudah menguap atau karena baru saja menggandakan jam olahraga.

“Kaupikir kau siapa berhak menghakimiku seperti itu?” Yoon Gi justru balas berteriak. Claire kontan mundur, sangat terkejut dengan perubahan sikap tenang yang biasa Yoon Gi agungkan. Ia bisa melihat jelas amarah memuncak di mata hitam Yoon Gi.

“Kaupikir kau siapa, Claire?” Yoon Gi masih mengucap tanya. Emosi yang meluap tidak mampu ia kendalikan. Pria itu melihat air mata menuruni pipi Claire, namun amarah yang menguasai enggan juga mencair.

“K-kupikir kita adalah teman.” Claire sudah sesenggukan. Dengan sekuat tenaga ia berlari. Berlari dengan air mata yang masih juga berjatuhan. Dadanya benar-benar sesak, seperti ribuan jarum menusuk tepat di ulu hati.

***

Claire bergegas menaiki tangga tidak memedulikan sapaan Nyonya Jeon yang tengah melipat baju. Air mata masih jua keluar padahal ia sudah lelah menghapus. Ia membuka pintu kamar, mengunci dari dalam. Tubuhnya merosot begitu saja. Tangis kembali berderai bahkan kini jauh lebih memilukan.

Deringan ponsel di atas nakas mampir di telinga Claire namun ia tidak berusaha bangkit mengecek. Tangisannya makin menganak-pinak seolah stok air mata masih saja utuh meski sudah berkurang sejak tadi. Sesak dalam hati bertambah, Claire bahkan memukul-mukul dada berharap mampu meredakan rasa yang muncul.

Sementara di kamar Yoon Gi tampak kacau. Ia kembali memencet tombol panggil namun lagi-lagi hanya suara operator yang menyahut. Yoon Gi sangat menyesal harus membentak Claire sekeras itu. Ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosi. Pria itu menghempas tubuh ke ranjang, mengubur diri dengan bantal berusaha memikirkan hukuman yang tepat bagi dirinya sendiri.

Dunia memang tidak adil, namun lebih tidak adil jika Yoon Gi memarahi Claire hanya karena gadis itu memegang bahunya. Dunia memang tidak adil, namun lebih tidak adil jika Yoon Gi mempertanyakan apa hubungan Claire dengan dirinya. Dunia memang tidak adil dan Yoon Gi juga tidak.

***

Esok hari berjalan tidak seperti biasa. Claire berangkat lebih awal, mengatakan pada sang ibu bahwa ia harus membantu teman dekatnya membuat prakarya untuk ekstrakurikuler. Tentu sang ibu tidak menaruh curiga dan membiarkan putri semata wayangnya berangkat sendiri tanpa ditemani Yoon Gi. Dan Claire entah harus berbangga diri atau justru meminta maaf karena telah membohongi ibunda tercinta.

Di kelas pun sama, Claire berusaha tidak menampakkan diri di depan Yoon Gi. Ia rela memilih jalan memutar menuju kantin daripada harus melewati kelas Yoon Gi. Hal ini juga yang mendasari Ryu Ye Rin serta Naomi, teman dekat di kelas, mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Claire memilih jalan memutar hanya dengan alasan bosan.

“Tidakkah kau merasa aneh dengan dirimu sendiri hari ini, Claire?” tanya Ye Rin meminum air. Memandang Claire yang lahap memakan jatah makan siang tanpa mengucap jawaban apa-apa.

Naomi ikut mengangguk setuju. Ia melahap potongan daging lalu menunjuk Claire dengan sumpit. “Ya. Aku juga merasa aneh. Kau juga tidak berangkat bersama Yoon Gi hari ini.”

Claire hanya mengendikkan bahu tak acuh. Memilih menyantap makanan daripada menjawab pertanyaan yang sudah sangat jelas jawabannya. Claire menghindari Yoon Gi. Mengapa teman-temannya ini tidak peka?

“Kalian bertengkar?” lagi-lagi Ye Rin mengucap tanya. Masih menaruh rasa penasaran dengan dua sahabat yang terkenal tidak dapat dipisahkan itu. Claire mengangguk, meletakkan sumpit lalu meminum air mineral.

“Dia marah tanpa alasan yang jelas.” Claire menyumpit nasi. “Aku tidak akan menemuinya sebelum dia meminta maaf.”

Naomi dan Ye Rin saling pandang lalu mengendikkan bahu. Mereka memilih tidak kembali melanjutkan topik daripada terkena ocehan lebih panjang lagi. Mungkin Claire masih sedikit kekanakan namun siapa tahu ia benar-benar butuh privasi karena hal ini.

Jika boleh jujur sebenarnya hari ini juga terlihat berbeda bagi Claire. Ia tidak biasa tidak berkomunikasi dengan Yoon Gi, terlebih lelaki itu selalu mencari perhatian dengan hal-hal kecil. Bahkan Yoon Gi tidak lupa mengunjunginya meski sibuk sekali pun. Dan hari ini… mereka bersikap seperti dua orang tidak saling kenal.

Meletakkan sumpit di meja, Claire berpamit pergi terlebih dahulu. Entahlah. Ia tidak bisa menahan kakinya lebih lama utuk tidak mengunjungi kolam renang indoor yang disediakan sekolah.

***

“Kurasa Gadis Amerika sedang mencarimu, Yoon.” Salah seorang atlet yang baru saja kembali ke kolam renang menyeru. Yoon Gi menengok, menumpu pandang ke arah pintu masuk di mana Claire tengah berdiri. Senyum pria itu mengembang. Lantas naik ke pinggir kolam menghampiri Claire.

“Seharusnya aku yang menghampirimu lebih dulu,” ujar Yoon Gi. Senyumannya masih mengembang namun Claire justru terlihat acuh.

“Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya datang untuk memberi tahu kau harus pulang bersamaku nanti. Ibu akan cemas jika aku tidak masuk rumah tanpamu.” Setelah mengatakan kalimat itu Claire membalikkan badan, berlalu meninggalkan Yoon Gi yang masih mematung.

Yoon Gi menggeleng sekaligus tersenyum kecil. Sahabat baiknya bahkan terlihat menggemaskan dalam situasi ini. Sementara di jalan, Claire merasa sesak di dada menguap mendapati senyum cerah Yoon Gi. Meski ia benci mengakui karena harga diri setinggi langit, Claire sangat senang mendapati Yoon Gi baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik daripada kemarin.

***

Sinar perak bulan menelusup lewat celah jendela terbuka. Angin berembus, menerbangkan tirai putih tulang yang terpasang. Suhu Seoul turun beberapa derajat meski musim panas masih menunjukkan eksistensi. Pukul tiga lewat dua puluh empat menit waktu Seoul. Masih sangat pagi untuk membuka mata.

Namun malam sunyi seperti ini Yoon Gi justru terjaga. Nyeri di bahu sangat mengganggu. Membuat ia harus terbangun menahan rasa perih yang kian mengakar kuat. Meski telah merilekskan tubuh tetap saja sakit tidak mampu pergi begitu saja.

Dengan sisa tenaga Yoon Gi menyibak selimut, bangkit lalu membuka pintu kamar hati-hati. Ia berniat mencari obat pereda rasa sakit yang biasanya disimpan sang ibu di kotak P3K. Sandal rumah ia seret hati-hati, berusaha meminimalisir suara sekecil mungkin yang mampu membangunkan seisi rumah.

Yoon Gi menuruni tangga perlahan. Satu demi satu, lambat-lambat sembari memegang bahu kiri. Desisan sakit lolos dari bibir. Rasa perih ini bahkan sudah menuju puncak, setidaknya itulah pemikiran dangkal Yoon Gi yang tidak mengerti tentang dunia kesehatan.

Namun pada anak tangga ketiga bawah Yoon Gi kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke depan, jatuh langsung menyentuh lantai dengan posisi dua kaki menekuk ke belakang. Yoon Gi ambruk ke kiri, tak kuasa menahan rasa perih di bahu juga rasa sakit baru di kedua kaki. Teriakan kesakitan menggema. Sang kakak yang masih mengerjakan essay tergopoh mencari sumber suara.

Langit berubah muram. Dewi Bulan berhenti memancar sinar karena terhalang mega hitam. Titik-titik air berlomba menuju tanah. Deras. Pekat. Petrichor menguar, membumbung di udara menghantar Yoon Gi dilarikan ke rumah sakit terdekat.

***

Hal yang pertama kali Claire cermati saat bangun di hari minggu pagi adalah ponsel yang tergeletak di atas nakas. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum meraih ponsel, merutuki sikap ceroboh lupa mengisi daya baterai. Setelah memastikan ponsel terhubung pada soket dan menyalakannya, Claire segera bangkit membuka tirai jendela. Meski tahu hanya ada jendela mati namun Claire suka menikmati pemandangan yang tersuguh.

Hujan masih mengguyur deras dan Claire yakin bau tanah basah akan menenangkan jiwanya saat ini. Jika saja ia bisa membuka jendela. Lelah dengan monolog tak berujung Claire kembali beringsut ke ranjang, menengok arah ponsel yang terus bergetar. Claire langsung menyambar ponsel, mengernyit mendapati beberapa pesan suara juga pesan teks memenuhi kotak masuk.

Nama Yoon Gi mendominasi setengah dari jumlah pesan yang masuk. Pada pesan suara pertama Claire langsung menekan tombol play, berharap permintaan maaf Yoon Gi muncul kala suara familiar berkumandang.

“Claire, ini bibi. Yoon Gi mengalami kecelakaan dan bahunya terluka. Maaf memberitahumu sepagi ini.”

Bagai tersambar petir Claire langsung membelalak. Ia membuka pesan suara kedua yang isinya tidak jauh berbeda pula pesan-pesan suara selanjutnya. Bibir Claire bergetar, air mata telah merebak memenuhi pipi-pipi gadis itu.

“Bagaimana… bagaimana aku bisa datang jika hujan belum berhenti?” Claire mengisak menutup wajah dengan kedua tangan.

Gadis itu menangis sejadinya. Ia merasa tidak berguna sekarang. Andai saja Claire tidak pernah memiliki alergi konyol, ia sudah pasti menerobos hujan tanpa memedulikan efek samping. Andai saja Claire tidak terlalu mementingkan ego, mungkin ia tidak akan ketinggalan informasi sepenting ini.

Nyonya Son yang baru membuka pintu kamar Claire hanya bisa mematung. Niat awal ingin memberitahukan keadaan Yoon Gi pupus, gadisnya sudah tahu terbukti dengan air mata membasahi pipi. Wanita paruh baya itu melangkah masuk, ikut duduk menepuk pundak sang putri.

“Mandilah. Ibu akan mengantarmu.”

***

Claire bergegas keluar dari mobil tanpa menunggu sang ibu. Mantel anti air masih melekat di tubuh. Pikirannya benar-benar kalut hingga melewati bagian informasi begitu saja. Menuruti insting berjalan begitu saja. Nyonya Son menggeleng, berhenti di meja informasi menanyakan kamar inap Yoon Gi.

“Claire, sebelah sini,” Nyonya Son bersuara lantang. Menunjuk lift ketika Claire menengok. Gadis itu mengikuti sang ibu memasuki lift, menggenggam erat mantel masih dengan perasaan khawatir.

Ketika pintu lift terbuka, Nyonya Son mendahului langkah mencari kamar nomor 1106. Nyonya Son membukakan pintu yang segera dimanfaatkan Claire masuk.

Netra Claire menangkap sosok Yoon Gi duduk di ranjang dengan penyangga bahu. Ia menghambur, memeluk Yoon Gi hati-hati, menumpah tangis. Claire bahkan tidak memedulikan anggota keluarga Min lain yang berada di sana.

“Aku seharusnya tahu kalau kau selalu berkata sebaliknya. Kau tidak baik-baik saja. Mengapa aku jadi sangat bodoh.”

Yoon Gi tersenyum dan meringis bersamaan. “Ya. Kau memang bodoh. Bahkan kau jauh lebih bodoh karena memelukku sekencang ini sekarang.”

To Be Continued..

A/N: Kayaknya di chapter ini banyak adegan yg terlalu menye2 ya >

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s