비물 (Rain) Chapter 3

비물 (Rain) Chapter 3

image

Title: 비물 (Rain)
Cast: Min Yoon Gi, Clarynne Son
Genre: Romance, Drama, AU
Cover by: Rosilah Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Adiinda Chan

“Apa kau tahu nama aroma tanah basah kala hujan menampakkan diri? Ia adalah petrichor, si pembawa rasa tenang dalam jiwa.”

Chapter 3
The Cure is Your Smile

Entah sudah berapa menit dua anak kecil membisu dengan tangan saling menggenggam. Hujan tinggal tetes-tetes kecil, beberapa saat lagi mungkin akan berhenti. Semburat merah di pipi masih jua hadir, namun hingga titik-titik itu berhenti turun mereka belum hendak memisahkan diri.

“Terima kasih.” Menyadari gelagat lelaki di hadapan agak berbeda, Claire segera melepas genggaman. Senyum gadis itu mengembang, rona di pipi belum juga hilang.

Yoon Gi mengangguk. Tidak tahu harus memberikan respon selain bahasa tubuh. Ia menjulurkan tangan, memastikan hujan benar-benar sirna. Tidak lupa kepala ia tengadah menatap awan cumulus yang perlahan menghilang.

“Kau bisa berjalan?” tanya Yoon Gi. Gadis kecil itu menggeleng lalu menunduk. Pipinya kembali bersemu merah. Tanpa ragu Yoon Gi merendahkan tubuh, meminta Claire menaiki punggungnya.

“Tapi….”

Yoon Gi menghela napas. “Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu. Kita tidak tahu ibumu akan segera pulang atau tidak dan kita juga tidak tahu kapan hujan datang lagi.”

Claire yang bimbang hanya menurut. Naik ke punggung Yoon Gi, melingkarkan tangan kecilnya ke leher. Akan sangat tidak mungkin jika ia tetap berdiri konyol di sini menunggu sang ibu. Belum lagi bayangan hujan mengalir deras membuatnya menggeleng-geleng kuat.

Kaki-kaki Claire sudah kehilangan kekuatan sejak memutuskan berlari tanpa tentu arah. Ditambah perasaan takut hujan akan merenggut nyawa turut membawa gelenyar yang membuat persentase kekuatan kakinya kembali menipis. Ia menghela napas, canggung membumbung di udara, bergabung dengan karbon dioksida yang lepas.

“Apa kau sudah menghafal alamat rumahmu?” tanya Yoon Gi memecah keheningan. Gelengan singkat di belakang membuatnya menghela napas. Berarti ia harus menggendong gadis ini sampai rumahnya, lalu meminta tolong pada orang rumah untuk menelepon kontak ibu Claire.

Tiada yang berbicara setelah itu. Hanya tapak-tapak langkah terdengar. Satu menggigit bibir, mencoba mencari pertanyaan kecil guna memancing pembicaraan. Satu lagi memilih menatap jalan dengan sebersit senyum tipis.

“Kau tinggal dengan siapa?” Claire telah memantapkan diri bertanya. Kepalanya menengok sebentar, memerhatikan wajah Yoon Gi yang sama sekali tidak mengeluarkan keluhan. Seolah bobot tubuh Claire seringan bulu.

Yoon Gi menghela napas, membenarkan letak Claire dalam gendongan sebelum menjawab. “Ayah, ibu dan kakak laki-lakiku. Mereka adalah paman dan bibi, juga saudara sepupuku, sebenarnya.”

Claire mengangguk lagi. Setelah pertanyaan dibalas umpan, ia bahkan masih belum bisa menciptakan suasana hangat seperti obrolan teman pada umumnya. Netranya mengedar, merasa tidak asing dengan jalan yang kini mereka lalui. Lalu tanpa sengaja ia menemukan rumah tradisional tepat di depan petak rumah yang kini mereka lewati. Rumah barunya. Ia menyunggingkan senyum sumringah.

“Aku sekarang ingat. Rumahku di sana,” cicit Claire. Jari telunjuknya menunjuk arah rumah tradisional sekitar tiga meter di depan. Yoon Gi mengangguk, berjalan lebih cepat agar gadis dalam gendongan segera aman dari dunia luar.

“Kita bertetangga,” Yoon Gi berujar setelah menurunkan Claire dari gendongan. “Rumahku ada di ujung gang, di samping apotek paman dan bibi.”

Claire menggenggam erat almamater, berusaha mengeluarkan kata-kata lain selain ucapan terima kasih. Namun kerongkongannya terasa kering, lidahnya tidak bergerak bahkan fungsi otak mendadak macet. Sungguh ingin sekali ia berbicara lebih banyak seperti gadis kecil normal lain. Menghadirkan topik-topik hangat tanpa perlu bersusah payah memutar otak.

Pikiran Claire masih saja melalang buana sebelum suara Yoon Gi menyeru. “Masuklah.” Ia hanya menatap bingung, bukankah seharusnya ia yang menantikan ucapan selamat tinggal dari Yoon Gi?

“Aku akan menunggumu di sini sampai kau masuk.” Yoon Gi merapatkan kedua tangan di depan dada. Menunjuk Claire dengan dagu yang langsung ditanggapi dengan anggukan.

Gadis kecil itu berjalan ke dalam, sesekali menengok ke belakang memastikan Yoon Gi masih ada di sana. Nyonya Jeon yang tergopoh segera merangkul sang nona muda, mengajak Claire segera masuk sebelum udara makin dingin. Sementara Yoon Gi tersenyum tipis, berjalan pulang dengan buncahan bahagia bercokol di hati.

***

Claire menaiki tangga diikuti Nyonya Jeon. Wanita asli Korea itu terus saja berbicara dengan bahasa yang tidak Claire mengerti, namun dari raut wajah Claire amat tahu jika Nyonya Jeon tengah mengkhawatirkannya. Batuk kecil kembali ia loloskan. Tubuhnya masih cukup menggigil meski Yoon Gi sudah menyalurkan kehangatan.

Tiba di kamar, Nyonya Jeon mendudukkan Claire di atas ranjang. Memberikan satu set pakaian bersih meminta Claire mengganti pakaian. Setelah selesai, Nyonya Jeon kembali meminta Claire duduk di ranjang, menyelimuti nona muda dengan selimut tebal.

“Tidurlah, Nona. Nyonya sangat mengkhawatirkan Anda.” Nyonya Jeon beringsut menutup tirai jendela. “Saya akan memberitahu bahwa Nona sudah pulang.”

Bersamaan pintu ditutup Claire menghela napas. Mencoba menyamankan diri dengan memeluk boneka teddy bear warna putih kado ulang tahun dari ayahnya dulu. Beberapa saat kemudian ia sudah terbuai di alam mimpi, bertemu kangen dengan sang ayah di kota tempatnya tinggal dulu.

***

“Aku pulang.” Ucapan Yoon Gi menggema, membuat seorang wanita paruh baya dengan appron melilit tubuh segera mendekat. Memberi rengkuhan hangat lalu menangkup wajah Yoon Gi.

“Tidak biasanya putra ibu pulang terlambat. Apa kau berenang lagi hari ini?”

Yoon Gi menggeleng, membuat ibu angkatnya mengeryitkan dahi. “Aku baru saja bertemu dengan anak pindahan di sekolah. Dia melarikan diri karena tidak mau berkenalan di kelas.”

Sang ibu melepas tas punggung Yoon Gi, mengajak pria kecil itu beranjak menuju pantry lalu duduk di meja makan. “Ibu masih tidak mengerti. Mengapa dia kabur hanya karena enggan memperkenalkan diri?”

Yoon Gi menghela napas. “Ibu pernah dengar alergi aneh? Seperti alergi laut dan bisa mati karena berada di laut?”

Wanita itu mengangguk. Menghidangkan daging asap serta semangkuk nasi ke hadapan Yoon Gi, ikut duduk di seberang. Dari sekian banyak pengalaman yang ia terima semasa sekolah maupun menangani pasien, ia pernah mendengar cerita tentang seorang profesor yang memiliki putra berkelainan demikian. Putra profesor itu alergi dengan salju, tapi karena kurang pengawasan ia ditemukan meninggal dengan keadaan jendela terbuka di kamar pribadi beberapa jam kemudian.

“Gadis pindahan itu juga. Dia alergi dengan hujan dan bisa mati jika terkena hujan.” Yoon Gi menyumpit nasi, memasukkan dalam mulut selagi hangat.

Sang ibu kembali mengangguk. “Lalu? Apa kau mengejarnya dan menjadi superhero?”

Yoon Gi menggeleng. “Tidak. Aku menemukannya di emperan toko keluarga Jung yang lama. Dia duduk di sana, wajahnya terlihat senang sekaligus takut. Aku tidak mengerti mengapa aku berhenti dan menemaninya hingga hujan reda.”

Ibu Yoon Gi tersenyum mengusap rambut hitam sang putra. “Kau sudah melakukan tindakan yang benar, Sayang.”

Yoon Gi ikut tertular senyum. Menyumpit kembali daging asap hangat favoritnya saat hujan seperti ini. Besok ia harus membantu Claire, membuat kepercayaan dirinya tumbuh dan tidak jadi bahan bully-an murid lain.

***

Nyonya Son segera berlari ke rumah setelah membayar cargo taksi. Napasnya memburu, namun keinginan melihat putri semata wayang begitu membengkak. Mengganti sepatu kerja dengan sandal rumah, ia segera menaiki tangga tergesa. Saat menemukan kamar Claire dengan gantungan kunci biru pemberiannya, ia segera membuka pintu. Menghela napas lega melihat Claire tertidur pulas dengan memeluk boneka.

Wanita berumur tiga puluh satu tahun itu masuk, duduk bersimpuh di depan ranjang sang putri dengan air mata tidak terbendung. Semua pesakitan serta rasa khawatir tumpah ruah menjadi satu. Likuid bening mengalir deras hingga bahunya naik turun akibat sesenggukan. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu. Gagal dengan sumpah yang terucap kala sidang cerai berlangsung.

Pekerjaan di butik menyita waktu. Ia tidak ingin kesan pertama berkerja dicap sebagai pegawai tidak kompeten. Namun berkat laporan sekolah, ia sendiri yang akhirnya kesusahan. Bahkan hampir saja membuat kesalahan fatal jika sedetik konsentrasinya buyar. Maka ketika shift-nya telah selesai, ia bergegas pulang demi menebus kesalahan.

“Ibu…,” suara Claire mampir di telinga Nyonya Son. Masih dengan tangis wanita itu mendongak, mendapati Claire terbangun dengan mata mengantuk. Sontak ia langsung menghadiahi Claire sebuah rengkuhan hangat, sentuhan di dahi serta kecupan di rambut.

Tubuh Claire sangat panas, bahkan sang ibu bisa merasakan terpaan hawa panas kala Claire mengembuskan napas. Namun ia berusaha tidak panik dan mengulang kesalahan fatal saat mereka pindah beberapa hari lalu.

“Kita ke dokter?” sang ibu berbicara hati-hati. Anggukan yang diberikan Claire membuatnya mampu menghela napas lega.

“Ibu. Maafkan aku. Aku… aku hanya tidak ingin dipandang sebelah mata. Tapi aku juga takut ketika hujan datang meski dalam hati sangat senang.”

Sang ibu mengangguk. Kembali membawa putrinya dalam rengkuhan. “Ibu mengerti. Sekarang kita harus ke dokter. Napasmu sudah seperti napas naga.”

***

Claire terbaring di atas bangsal kecil berseprai putih. Menantikan jatah pemeriksaan dari sang dokter yang masih sibuk berbicara dengan Nyonya Son di balik sekat tirai. Ia memandang hampa sebuah monitor kecil yang menjadi pengontrol denyut nadi. Bersyukur karena benda itu masih mau menarik garis zig-zag untuknya.

Sementara sang ibu, Nyonya Son, sibuk berkonsultasi.

“Ini adalah segala materi tentang kondisi Claire saat menjalani pengobatan di Amerika. Dari apa yang mereka katakan, tidak ada sesuatu yang harus kami tangani selain hujan,” kata Nyonya Son sambil menyerahkan selembar amplop medis pada dokter yang siap menangani kondisi Claire. Ia menerima dan segera membuka isi amplop. Mengeluarkan lembar demi lembar laporan kesehatan Claire dari rumah sakit yang berada di Negeri Paman Sam itu.

Lelaki paruh baya tersebut mengangguk paham sambil terus menganalisa hasil laporan. “Tidak ada air hujan yang menyentuhnya?” Nyonya Son menggeleng. Mengatakan tidak dengan tegas sambil menggoreskan kecemasan di wajah. “Aku sudah menanyakan pada Claire, dia mengatakan kalau dia tidak tersentuh hujan sama sekali,” kata Nyonya Son.

Lelaki itu lantas beranjak dari kursinya. Mengaitkan stetoskop pada daun telinga sambil berjalan membuka tirai hijau yang menjadi sekat. Menyapa hangat Claire yang lama menunggu di sana. Ia tersenyum lalu mulai mendengarkan detak jantung Claire melalui ujung stetoskop.

“Apa yang kaurasakan?” ia bertanya menggunakan bahasa kenegaraannya. Membuat Claire diam karena tak mengerti. Ia menatap wajah sang ibu, mengukir raut penuh tanya meminta agar Nyonya Son menjadi penerjemah. “Claire, dokter bertanya apa yang kau rasakan?”

“Aku hanya merasa pusing dan sakit pada pangkal tenggorokanku,” jawab Claire. Sang ibu segera menerjemahkannya pada si dokter. Kemudian dokter memintanya membuka rongga mulut dengan lebar. Memasukan cahaya ke dalamnmya dan memeriksa isi rongga. Terdapat bintik merah tak lazim di seluruh area kerongkongan.

Sang dokter berpindah pada lengan Claire yang mana terdapat bintik-bintik lebam di sana. Ia memeriksa dengan sangat teliti tentang reaksi tersebut. Kemudian mengakhirinya dengan satu tekanan kecil. “Sakit?” kali ini sang dokter mengucap bahasa universal. Claire langsung mengangguk.

“Ini adalah gejala langka pada manusia. Diakibatkan oleh alergi pada ion yang terkandung dalam tiap tetes air hujan. Tubuhnya tidak sanggup menerima kucuran ion melalui kulit. Jika terkena setetes saja, sel tubuhnya akan berhenti berkerja dan jantung tidak dapat memompa darah. Paru-paru akan terasa sesak dan kerongkongannya seperti tercekik, itu yang tertulis pada hasil laporan,” kata dokter itu. Ia mendesah kecil sambil menarik bahu. Menggeleng lalu melepas stetoskop dari telinga. “Tapi di sana tidak disebutkan bahwa udara dan kelembaban akibat hujan juga bisa berkontraski pada kesehatan Claire. Apakah Anda tidak diberitahu soal ini?” tanya sang dokter.

Nyonya Son menghela napas kasar. “Aku sudah menduganya. Mereka tidak mendiagnosa sampai ke sana, Dokter. Tapi aku selalu bersikap waspada. Aku selalu menjaga Claire agar tak terkena udara dingin saat hujan dengan memakaikannya baju mantel tanpa pori. Kami juga memasang jendela mati di kamar Claire agar tak bisa dibuka untuk memperkecil kemungkinan,” kata Nyonya Son.

Sang dokter tersenyum bangga sambil menganggukkan kepala. “Anda orangtua yang tanggap dan luar biasa. Itu adalah cara terbaik yang bisa kalian lakukan saat ini. Sebisa mungkin, kami pihak medis akan membantu mengurangi resiko.” Lelaki itu berpindah pada sebuah meja. Duduk kemudian menulis sesuatu pada selembar kertas. Lalu menyerahkannya pada Nyonya Son.

“Ini adalah resep obat. Hanya obat umum untuk radang, tapi saya telah menambahkan dosisnya. Jika ada keluhan lain segera hubungi saya,” kata dokter tersebut.

***

Angin bertiup pelan, sangat pelan bahkan dedaunan tidak mengeluarkan desau seperti biasa. Perempat cakrawala tertutup cumulus namun surya masih bersinar gagah. Siang hari cukup terik, menjadi latar cicit obrolan murid-murid di koridor sekolah.

Yoon Gi berjalan dengan kedua tangan masuk dalam saku celana. Mengabaikan obrolan ringan murid-murid di koridor, memilih berjalan lurus ke arah kolam renang tempatnya berlatih. Ia menghela napas, mendekati loker bertuliskan namanya lalu memasukkan tas. Berlama-lama mengganti pakaian, mengulur waktu agar saat ia tiba sang pelatih sudah hampir menuju kolam.

Namun situasi tenang yang selalu ia idamkan di loker harus terusik dengan obrolan ringan beberapa murid di deretan loker sebelah. Telinga Yoon Gi memasang mode siaga manakala nama gadis pindahan yang ia selamatkan kemarin terngiang.

“Kudengar gadis pindahan yang kabur kemarin belum masuk sekolah.”

“Ya, dia sakit. Ibuku dapat telepon dari ibu gadis pindahan itu. Aku bahkan tidak bisa melafalkan namanya dengan baik.”

Yoon Gi mencengkeram kuat baju yang barusan ia lepas. Gadis pindahan itu sakit. Gadis pindahan itu sakit. Ia mengulangi informasi sama berulang-ulang kali.

“Aku mendengar ibuku berbicara dengan guru lain tentang alergi aneh gadis pindahan itu.”

“Seperti apa?”

“Entahlah. Aku tidak mendengar sepenuhnya.”

Sekali lagi Yoon Gi mencengkeram erat baju entah mengapa. Ia sendiri tidak tahu mengapa merasa semarah ini pada dirinya sendiri. Tanpa terduga ia justru mengancingkan kembali baju seragam yang sebelumnya telah dilepas, mengambil tas punggung lalu berlari keluar area kolam renang.

***

Napas Yoon Gi memburu kala membuka pintu apotek tempat ayah dan ibu angkatnya bekerja. Ia menemukan sang ibu tengah melayani pelanggan lalu tersenyum saat si pelanggan berjalan keluar. Mata sang ibu bergulir menatap Yoon Gi yang terengah, menghampiri memberikan satu cangkir air mineral yang sebelumnya diambil dari dispenser.

Keduanya duduk di sofa ruang tunggu. Sang ibu mengernyitkan dahi tidak mengerti sementara Yoon Gi masih berusaha mengatur napas. Ia bukan atlet lari dan harus terpaksa berlari dari sekolah sampai rumah tanpa berhenti.

“Ibu, aku ingin menjenguk Claire,” pinta Yoon Gi.

Sang ibu masih mengerutkan dahi. “Claire?”

“Ya. Gadis pindahan yang kemarin kuceritakan. Aku mendengar anak Guru Lee membicarakan tentangnya.” Yoon Gi meneguk air yang diberikan sang ibu. “Tapi ibu juga harus ikut menjenguk.”

***

Yoon Gi berjalan bersisian dengan ibunya. Membawa kantung penuh buah-buahan juga satu kantung obat herbal racikan sang ibu. Bibirnya tersenyum penuh, entah sejak kapan ia berubah kembali ekspresif saat mendengar persetujuan ibunda tercinta.

Tiba di rumah tradisional berpagar besi sepinggang orang dewasa, Min Sung Yeon, ibu Yoon Gi memencet bel. Tak berselang lama suara wanita terdengar. Mereka mengutarakan maksud kedatangan lalu pintu rumah utama sudah bergeser, menampilkan wanita awal tiga puluhan berbalut dress selutut. Wajah oriental adalah hal pertama yang ditangkap ibu Yoon Gi. Setelah pagar terbuka keduanya langsung membungkuk hormat.

“Mari masuk. Claire sudah bercerita tentang putra Anda.”

Bersama izin sang pemilik rumah, Nyonya Min menggenggam tangan Yoon Gi, mengajaknya masuk. Pria kecil itu sedari tadi bersembunyi di balik tubuh sang ibu, takut jika orangtua Claire menyalahkan dirinya atau bahkan marah karena kejadian kemarin. Namun tampaknya Yoon Gi bisa bernapas lega karena wanita yang ia pikir mengerikan melebihi monster-monster di kartun Monster Inc ternyata jauh lebih ramah.

“Seharusnya saya berterima kasih lebih awal.” Kembali Nyonya Son memulai pembicaraan setelah berada di ruang tamu.

Min Sung Yeon tersenyum. Mengibaskan tangan di depan wajah. “Bukan masalah besar, Nyonya.”

“Omong-omong, Claire berada di kamar jika kau ingin menemuinya, Yoon Gi. Kurasa dia akan senang jika kau yang datang.”

Yoon Gi yang sedari tadi hanya duduk tanpa mengucapkan kalimat kontan mengangguk. Mengekor di belakang asisten rumah tangga yang kemarin ia temui, membiarkan dua ibu berbincang tentang masalah orang dewasa. Menaiki tangga memutar, Yoon Gi berjalan beberapa langkah hingga pintu putih dengan gantungan nama Claire tampak di depan mata. Wanita itu membukakan pintu, memberi akses penuh pada Yoon Gi lalu berpamit.

Ruang pribadi khas perempuan langsung menyambut iris Yoon Gi. Kamar perpaduan warna ungu muda dan biru laut terlihat sangat manis. Belum banyak ornamen di sana, hanya ada rak dengan beberapa buku, almari pakaian, boneka-boneka, nakas serta ranjang. Claire duduk cemberut di sana, memainkan psp seakan tidak terganggu dengan suara pintu terbuka.

“Claire?” panggil Yoon Gi pelan. Gadis itu langsung menengok masih menggembungkan pipi, namun detik berikutnya mata beriris hijau hutan itu berbinar. “Kau baik-baik saja?”

Claire mengangguk. Senyum mengembang membuat mata besarnya menyipit. Sama sekali tidak menyangka mendapat kunjungan kejutan seperti ini. Ia pikir seorang yang datang adalah ibunya atau asisten rumah tangga berbahasa asing itu. Claire meletakkan psp pada nakas, meminta Yoon Gi menaiki ranjang.

“Bagaimana kau bisa datang ke sini?” Claire mengucap tanya. Agaknya masih terbelalak mendapati kunjungan teman baru di negara orang.

Yoon Gi mengendikkan bahu. “Aku mendengar obrolan putra Guru Lee. Kupikir aku harus meminta maaf karena telah membuatmu sakit.”

Claire menggeleng. Senyum terpatri di wajah orientalnya. “Tidak. Aku memang sudah merasakan gejala itu sebelumnya. Ibuku justru ingin berterima kasih karena kau mau peduli padaku.”

Yoon Gi menggaruk tengkuk. Pipi-pipinya bersemu merah. Sudah lama sejak terakhir kali ia tersipu malu seperti ini. Senyum lelaki usia sepuluh tahun itu merekah. “Kalau begitu mulai hari ini aku akan melindungimu. Kita teman, ‘kan?”

“Ya. Tentu saja.” Claire mengangguk antusias. Gadis itu menunjukkan kelingking, meminta Yoon Gi melakukan hal yang sama lalu menautkan keduanya. Sebuah janji pertemanan yang manis ditutup tawa bahagia dari bibir masing-masing.

Keduanya terlibat obrolan panjang, Claire bahkan lebih banyak berbicara terutama berbicara tentang keinginannya berada dalam guyuran hujan tanpa harus merasa takut. Namun harapan mungkin hanya tinggal angan, berkat alergi aneh yang ia derita tentu saja sangat sulit mewujudkan keinginan.

Yoon Gi meminta kertas, membantu Claire belajar bahasa Korea dengan menulis huruf-huruf hangeul. Pada kertas lain, ia menuliskan satu kata dengan ukuran huruf lebih besar. “Mulai sekarang aku akan memanggilmu Bi,” ujarnya menunjukkan kertas pada Claire.

Claire mengernyitkan dahi tidak mengerti. “Bi?”

“Dalam Bahasa Korea, bi artinya hujan. Setiap hujan aku mengingat bi, itu artinya setiap kali turun hujan aku mengingatmu.”

Kali ini pipi Claire yang dihiasi rona merah samar. Ia tiba-tiba saja membalas perkataan Yoon Gi dengan lancar. “Lalu aku juga akan memanggilmu Sean. Ocean, lautan. Bukankah hujan berasal dari air laut yang menguap?”

***

Pagi menyapa Claire dengan mentari hangat. Udara bersahabat, membuat senyum gadis itu kian mengembang. Ia berpamit pada sang ibu, meminta agar tidak terlalu khawatir karena ada Yoon Gi yang akan membantu. Seragam musim panas melekat pas di tubuhnya, membuat ia makin melebarkan senyuman.

Claire keluar dari gerbang, menunggu teman barunya datang menjemput lalu berangkat bersama. Tak berselang lama sosok Yoon Gi sudah terlihat, berlari-lari kecil tanpa membiarkan Claire menunggu. Mereka berjalan bersisian, saling melempar canda seperti telah berteman lama. Terus begitu hingga keduanya berpisah di kelas Claire.

“Naikkan dagumu dan tersenyumlah. Perkenalkan dirimu di depan sana, aku akan berdiri di sini, membantumu.” Yoon Gi menangkup pundak Claire, memberikan dukungan positif persis seperti ucapan ibunya di rumah tadi. Gadis itu mengangguk, berjalan ke depan kelas masih menengok arah jendela di mana Yoon Gi berdiri di sana.

“Namaku Clarynne, pindahan dari Amerika. Kalian bisa memanggilku Claire,” Claire menghela napas. Ia berbicara menggunakan bahasa universal, masih cukup sulit melafalkan kata-kata yang diajarkan Yoon Gi kemarin. Kedua tangannya mencengkeram erat ujung baju seragam. Wajar jika ia takut semua orang tidak mengerti perkataannya. Namun Claire terus mengulangi informasi dalam hati bahwa sekolah ini adalah sekolah internasional, tentu saja mereka mengerti dengan apa yang ia katakan.

“Kata ibu dan ayahku aku adalah gadis yang istimewa. Saat semua anak bisa leluasa bermain di bawah guyuran hujan, aku bahkan tidak bisa menyentuh tetesan langit meski hanya satu. Aku tidak bisa menyentuh hujan dan bermain hujan, tapi anehnya aku menyukai hujan.”

Murid-murid di kelas tertawa serempak. Bukan jenis tawa merendahkan tapi jenis tawa geli karena perkataan Claire. Claire bersyukur dalam hati ucapannya mampu ditangkap dengan baik. Sebagian lain tersenyum maklum.
Claire memasang senyum manis, menghela napas menatap acungan jempol Yoon Gi dari balik kaca.

To Be Continued..

A/N: Sean dan Bi >< jujur aku sendiri ngarang bebas soal arti nama Sean tp dipikir2 bagus juga ya nyambung *plak wkwk

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s