비물 (Rain) Chapter 2

비물 (Rain) Chapter 2

image

Title: 비물 (Rain)
Cast: Min Yoon Gi, Clarynne Son
Genre: Romance, Drama, AU
Cover by: Rosilah Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Adiinda Chan

“Apa kau tahu nama aroma tanah basah kala hujan menampakkan diri? Ia adalah petrichor, si pembawa rasa tenang dalam jiwa.”

Chapter 2
It Takes Two Hands To Warm You

~~~

Story begin..

“Claire, sudah memastikan semua kopermu ada di bagasi?”

“Sudah, Bu. Aku hanya punya satu koper dan sisanya koper Ibu, ‘kan?” tanya Claire dengan guratan senyum mengukir indah di bibir. Ia tak henti menoleh pada kaca mobil untuk memperhatikan langit hitam yang siap menumpahkan butiran hujan. Ekspresinya terlihat antusias bagai menanti kado di hari spesial.

“Aku menciumnya, baunya sudah tercium,” gumamnya sambil menghirup lebih dalam udara luar melalui kaca yang sedikit menyisakan rongga.

“Tutup jendelanya, Sayang.” Claire merengut kecewa atas tindakan ibunya yang tanpa aba-aba menutup kaca rapat-rapat.

“Oh, Tuhan. Sebentar lagi hujan.” Sang ibu lantas mendengus gelisah. Wanita itu memilih menutup bagasi yang belum penuh. Memasukan sisa tas dan koper di kursi penumpang bersamaan dengan Claire di sampingnya karena tergesa. “Sayang, tidak apa ‘kan ibu membiarkanmu duduk bersama koper-koper ini?” tanya sang ibu. Claire membalas dengan tatapan sendu. Ia tahu apa alasan sang ibu memilih menaruh koper di sampingnya daripada menyusunnya di bagasi. Semua karena sang langit yang tak lagi sanggup menampung debit air. Dan sang ibu tak mau mengambil resiko tertimpa olehnya. Jika hujan sampai membasahi tubuh dan pakaiannya sudah pasti sisa tetesan hujan akan ikut masuk ke dalam mobil. Bukan dirinya yang akan dibahayakan, melainkan si malaikat kecil yang sedang menyungging senyum pilu di wajah.

“Ayahmu, baru akan berangkat dari Amerika besok sore. Dia harus mengurus beberapa dokumen terlebih dahulu, jangan menunggunya malam ini. Hm?”

Claire mengangguk pelan. Ia mengerti apa yang dimaksudkan sang ibu, meski sang ibu tak mengharapkan hal tersebut. Tak ada yang bisa menyangkal bahwa alasan kepindahan mereka ke negeri orang adalah karena guncangan rumah tangga. Hal yang sulit dipahami bagi Claire si gadis berusia delapan tahun, tapi apa yang tak ia pahami sudah cukup menguras emosi dan air mata. Claire hanya mengikuti arus yang bisa ia perbuat kini.

***

Seoul, ibu kota Negeri Ginseng. Tempat yang paling dikenal sebagai gudangnya idol group dan drama. Negara yang kian ramai diperbincangkan karena industri hiburan juga kebudayaannya. Claire yang saat itu baru menginjak bangku sekolah dasar, harus memulai adaptasi di negeri tersebut. Di mana kebudayaan maupun bahasanya sangat jauh berbeda dari apa yang bisa ia temui di Amerika. Apa mau dikata, sang ibu memilih negara tersebut karena di sanalah ia akan memulai kembali kehidupan barunya sebagai seorang bussiness woman. Meninggalkan hiruk-pikuk yang memeras otak dan emosi di Amerika.

Ini adalah pilihan Claire untuk ikut bersama sang ibu. Ia tahu meski sibuk, sang ibu tak pernah sedikit pun mengabaikannya yang sangat membutuhkan pengawasan lebih. Berbeda dengan ayahnya yang hanya sibuk mendulang emas demi keegoisan. Walau mungkin butuh banyak penyesuaian kembali, tapi ia yakin selama itu hanya berkutat dengan kehidupan sehari-hari maka tidak akan ada hal yang sulit bagi Claire.

Rumah bergaya klasik dipilih sang ibu sebagai rumah tinggal yang akan mereka huni. Beralasan bahwa akan lebih baik bagi Claire memulai pengadaptasiannya dengan rumah. Atau juga karena rumah tersebut mudah untuk direnovasi.

“Claire, tunggu sebentar. Kau harus pastikan tubuhmu terhalang dari udara lembab karena hujan,” kata sang ibu. Kedua tangannya yang semula menguasai kemudi kini beralih memasangkan sebuah pakaian anti air ke seluruh tubuh Claire. Gadis kecil itu hanya diam membiarkan tangan sang ibu mengunci tiap-tiap kancing di pakaian tersebut.

“Sudah. Sekarang tunggu ibu di dalam, karena ibu harus mengurus koper-koper ini.”

“Aku mengerti.”

Setelah pintu terbuka, Claire lantas bergegas menapaki jalan berkerikil yang menuntunnya sampai di depan rumah. Masuk setelah seseorang membukakan pintu dan menunggu sang ibu.

“Selamat datang, Nona,” seorang wanita paruh baya berbicara sembari membungkuk di hadapannya. Hingga membuat Claire mendongak untuk melihat wajah orang itu. Bertanya-tanya, Claire merasa dibingungkan oleh kalimat yang terdengar dengan bahasa asing di telinga. Bahasa Korea.

“Nyonya Jeon. Tolong bawakan sisa koper di mobil. Aku harus membukakan mantel Claire sebelum dia kepanasan.”

Claire berbalik ketika suara sang ibu terdengar di belakang. Namun ia merasa bingung karena tak mengerti tentang apa yang baru saja dikatakan oleh ibunya.

Si wanita paruh baya yang disebut sebagai ‘Nyonya Jeon’ itu lantas berjalan ke luar dengan mengembangkan payung di atas kepala. Sementara sang ibu berjalan ke dalam menuju kamar mandi. Lalu kembali setelah terdengar bunyi shower. Tangan dan kakinya basah oleh air, lebih basah dari saat ia datang memasuki rumah.

“Sebentar, Nak. Ibu harus ganti baju dulu.” Wanita itu bergegas membuka sebuah tas besar yang lebih dulu ia bawa. Mengeluarkan sepasang pakaian lalu menukar pakaian yang ia kenakan dengan pakaian tersebut. Pemandangan yang sudah tak lagi mengejutkan bagi Claire.

Selesai dengan pakaiannya, barulah ia mendekat pada Claire. Melepas tiap kancing hingga akhirnya gadis itu dapat terlepas dari kain yang panas tanpa pori-pori.

“Naik ke lantai atas, Nak. Ibu rasa Nyonya Jeon sudah selesai merapikan kamarmu.”

“Ibu, Nyonya Jeon siapa?” tanya Claire.

“Dia pembantu rumah tangga di sini. Ibu sudah menjelaskan tentang penyakitmu padanya, jadi jangan cemas. Dia orang baik,” jawab sang ibu. Namun Claire malah merengut kesal. Hanya saja ia tak berani mengungkapkan alasan kemarahannya dan memilih menghentak menaiki belasan anak tangga menuju lantai atas.

Sang ibu mendengus atas sikap sang putri. Walau anak itu tak mengatakannya, tapi dia bisa tahu apa yang membuat Claire tiba-tiba saja marah.

“Maaf, Nak. Ibu tidak bisa membiarkan orang-orang di sekitar memandangmu seperti gadis normal.”

***

Claire duduk bersila di atas ranjang empuk berseprai teddy bear. Melamun sambil memandang jendela mati yang menampakan pemandangan hujan di luar. Amarahnya sudah redup tapi rasa sedih tak juga lenyap dari hati. Semakin deras hujan semakin sakit yang dirasakan olehnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan ketika hujan. Hanya memandang dari balik ruang isolasi dengan harapan keajaiban akan datang padanya. Tanpa lagi mencemaskan tentang hujan.

Beruntung aroma sang hujan yang menyentuh tanah tak serta menjadi penghalang aktivitas sehingga ia masih bisa menikmati udara tanpa khawatir.

“Claire?” Suara kecil itu terdengar dari balik pintu kamar sebelum pintu terbuka dan menghadirkan sosok sang ibu yang datang membawakan koper miliknya.

Claire rupanya masih merajuk. Ia memalingkan wajah ketika sang ibu mendekat dan duduk di sampingnya. Tapi sang ibu justru menyungging senyuman manis. Membelai lembut surai Claire kemudian berkata, “Maafkan ibu. Ibu tidak bermaksud untuk menceritakan lukamu pada seluruh dunia. Tapi kau harus mengerti, kau bukan gadis yang bisa hidup aman berdampingan dengan hujan. Dan jika setetes saja mereka menyentuhmu, kau tahu apa yang akan terjadi?” Claire mendelik sinis. Lalu berdiri tegap menghadap sang ibu dengan tatapan lancang.

“Aku tahu. Aku pasti mati, ‘kan? Aku mengerti. Tapi… tapi… tapi…,” Claire tak lagi melanjutkan kalimat. Rahangnya menegang dan tubuhnya menggigil. Air mata pun ikut mengalir di pipi.

“Claire?”

“Aku mau tidur. Aku lelah.”

“Baiklah, ibu akan pergi. Besok kita bangun pagi lalu mencari sekolah yang baik bagimu,” ujar sang ibu sebelum beranjak dan menghilang di balik pintu yang tertutup.

Claire terlihat sedikit menyesal. Harusnya ia tak bersikap demikian semarah apa pun terhadap ibunya sendiri.

***

Surya baru menunjukan eksistensi. Setelah cukup lama awan membekuk atmosfer. Saat yang dirasa aman bagi Nyonya Son, ibu Claire, membawa putrinya meninggalkan sarang. Mereka berdua berangkat dengan mengendarai mobil sewa yang masih tersisa beberapa jam lagi waktu pemaikaiannya. Mengandalkan selembar peta wilayah sebagai pemandu jalan agar tak sampai tersesat di lingkungan baru. Mereka memulai dengan menjelajahi satu komplek yang mereka tinggali sembari membaca keterangan pada peta.

“Claire, mulai hari ini kau harus mengakrabkan diri dengan jalanan ini. Ibu tidak mau kau sampai tersesat apalagi ketika cuaca seperti ini,” kata nyonya Son. Tapi Claire terlihat tak mendengarkan karena sibuk memainkan sebuah game konsol. Wajahnya pun terlihat acuh. Dan Nyonya Son hanya mendengus melihat sikap putrinya yang masih merajuk.

“Sebelum pulang, kita makan di rumah makan tradisional. Kau mau?” bujuk Nyonya Son. Tapi Claire justru menjawab dengan ketus, “Aku mau makan burger.”

“Burger? Baiklah.” Nada bicara sang ibu mulai menekan. Menunjukan kesabaran yang mulai menipis atas sikap Claire yang justru menjadi-jadi. Claire menyadari hal tersebut namun ia hanya bisa diam sambil menahan genangan likuid agar tak jatuh.

Tak banyak yang tahu sulitnya menghadapi situasi ketika tidak bisa bebas mengutarakan emosi. Di satu sisi ingin menjadi malaikat manis yang selalu mendengarkan, namun di lain sisi ia ingin memberontak seperti iblis.

Keduanya memilih diam satu sama lain. Tak saling berbicara untuk waktu yang lama sampai akhirnya mereka tiba di sebuah sekolah internasional. Nyonya Son menatap lebih dulu pada langit yang masih menyisakan awan hitam di beberapa titik, sebelum membuka pintu dan keluar sambil menggendong ransel cukup besar di pundaknya. Sementara Claire hanya menunggu sampai sang ibu membukakan pintu. Hal itu udah menjadi agenda wajib bagi Claire.

“Ayo, Nak. Kita masuk,” kata Nyonya Son menarik lengan Claire.

Mereka bergegas lari ke luar mobil. Memasuki bangunan tinggi bertingkat tempat para penduduk asing dan konglomerat mengenyam pendidikan sekolah dasar sampai menengah atas.

Hari ini mereka datang bukan untuk mendaftar. Melainkan hanya melihat-lihat fasilitas terlebih dahulu. Dengan kondisi Claire yang tak biasa, tentu menjadi PR ekstra bagi Nyonya Son untuk memastikan sekolah yang akan ditempati Claire aman dan nyaman. Walau biaya sekolah yang dikeluarkan pastinya tak sedikit.

“Bagaimana menurutmu? Kau suka?” Nyonya Son berbisik sambil terus menuntun Claire kecil ke sebuah koridor. Claire memperhatikan sekitar dengan tatapan datar. Baginya di mana pun ia bersekolah tetap akan sama. Tidak ada kebebasan.

Tiba di area kepengurusan sekolah, Claire diminta untuk menunggu. Sedangkan Nyonya Son melanjutkan menuju sebuah ruangan. Ruangan kepala sekolah yang seperti sudah biasa dikunjungi oleh Nyonya Son.

Claire duduk di sebuah bangku kayu. Menatap hampa pada sebuah pot bunga yang basah di sampingnya. Lalu berbisik lirih, “Bahagianya jika aku adalah setangkai bunga.” Ia menghela napas berat.

Namun dari balik sebuah dinding di ujung koridor yang bercabang, terlihat seorang anak laki-laki yang memperhatikan Claire. Dan Claire menyadarinya hingga ia balas memperhatikan anak laki-laki itu. Sedikit memiringkan kepala, Claire mengernyitkan dahi. Kelopak matanya menyipit demi memperjelas pandangannya akan sosok anak laki-laki itu.

“Siapa dia?” Claire beranjak dari bangku. Berniat mendekati anak itu dengan hasrat ingin tahu.

“Claire?” Nyonya Son tiba-tiba saja muncul dan menyentuh pundak Claire. Membuatnya menoleh dan urung melanjutkan langkah.

“Ibu?”

“Ayo, ibu sudah mendapat izin untuk berkeliling melihat-lihat sekolah ini. Kalau suka, ibu akan langsung mengurus surat kepindahan dan besok kau akan bersekolah di sini. Bagaimana?”

Claire mengangguk.
Ia menggenggam tangan sang ibu dan mengikutinya memasuki ruang kepala sekolah terlebih dahulu untuk mengucapkan salam. Sang kepala sekolah ternyata seorang laki-laki dengan wajah yang sedikit tak asing bagi Claire.

Mereka mulai menjelajahi lantai dasar. Kemudian fasilitas dan juga kelas-kelasnya. Tapi Claire masih menaruh penasaran pada sosok anak laki-laki yang memperhatikannya tadi. Dan ia pun memperhatikan ke sekitar untuk mencari. Namun sosok itu tak lagi ia temukan.

“Bagaimana, Claire? Mau bersekolah di sini? Pembelajaran di sini tidak jauh berbeda dengan di Amerika. Tapi mereka juga mengajarkan kebudayaan Korea,” kata Nyonya Son.

“Baiklah. Aku sekolah di sini saja,” jawab Claire.

***

Selepas mencari sekolah bagi Claire, sesuai janji. Nyonya Son membawa Claire untuk makan burger di sebuah restoran fast food. Namun wajah Claire terlihat tak berselera. Ia hanya memainkan burger dan memakannya sedikit demi sedikit. Nyonya Son kembali mendengus.

“Makan makananmu, Claire!” perintah sang ibu. Claire justru menjatuhkannya ke atas nampan. “Claire!”

“Aku tidak lapar,” ujar Claire.

Hilang sudah rasa sabar dalam benak Nyonya Son. Ia beranjak dari tempat duduknya untuk mencuci tangan. Kemudian kembali dan menyeret Claire ke luar untuk memasuki mobil. Keduanya sama-sama tertekan ego. Menjadikan suasana begitu canggung dan dingin.

Nyonya Son menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Ia mencoba tetap menahan luapan kekesalan dalam relung hati akibat sikap Claire. Jantungnya berdenyut kencang, otak seperti mendidih. Sekali lagi ia menarik napas panjang lalu mengembuskan. Barulah memandang Claire yang duduk di belakang.

“Ibu tahu kau lapar, Claire. Sejak pagi kita belum makan apa pun,” kata Nyonya Son. Claire hanya menggelintirkan pandangan pada jendela. Enggan berbicara. Nyonya Son kembali dipusingkan atas sikapnya.

“Nak. Tolong jangan buat beban ibu bertambah!” sentaknya. Claire merasa tersentak dan memandang wajah sang ibu. Namun di sana genangan likuid siap untuk tumpah. Nyonya Son tertegun. Ia merasa mungkin sikapnya sudah salah, “Maafkan ibu. Ibu minta maaf jika masalah itu membuatmu benar-benar marah, tapi ibu harus berbuat apa lagi? Saat ini yang ada di hadapanmu hanya ibu. Tapi ibu tidak akan selamanya ada di sampingmu. Ibu harus bekerja, dan ada kalanya ibu meninggalkanmu. Jika hanya ibu yang tahu penderitaanmu, bagaimana cara orang lain melindungimu?” jelasnya. Wajah Claire semakin memerah. Cairan hangat itu tak sanggup lagi terbendung. Ia menangis keras sambil menundukan kepala.

“Lebih baik kita pulang, Nak.” Nyonya Son mengabaikan tangisan putrinya yang semakin tak tertahan. Ia memilih menyalakan mesin dan membanting kemudi. Walau air mata juga menetes di wajah.

Begitu sampai di rumah Claire langsung berlari masuk. Meninggalkan Nyonya Son yang bahkan belum keluar dari mobil. Ia mengunci diri di dalam kamar untuk melanjutkan luapan tangis yang tak tertahan. Ia terus memaki dan memaki, “Aku benci ibu. Aku benci ayah. Aku benci semua orang!”

***

“Claire, bangun. Ibu sudah menyiapkan keperluan sekolah untukmu. Kita akan mulai sekolah hari ini, ‘kan?” Nyonya Son mengetuk lembut pintu kamar Claire yang masih terkunci. Membuat Claire terbangun dari mimpi indahnya dan bergegas membukakan pintu. Walau ia masih merajuk tapi kesempatan bersekolah adalah saat yang ia nantikan, karena di sanalah ia bisa lebih leluasa hidup tanpa pengawasan.

“Bersihkan tubuhmu, lalu turun dan sarapan. Mengerti?” ujar Nyonya Son ketika pintu terbuka. Claire masih tak mau menatapnya, namun gadis itu mengangguk tanda bahwa ia mendengarkan perkataan sang ibu.

Beberapa menit berlalu. Claire mendatangi ruang makan dengan tubuh bersih dan harum sembari mengais handuk basah di pundak. Gadis itu tersenyum saat melihat semangkuk sereal kesukaan lengkap dengan taburan berry tersaji di atas meja bertemankan segelas susu hangat. Ia langsung duduk dan menikmati menu sarapan. Hanya saja sedikit kenangan tentang kebersamaan kedua orangtuanya tiba-tiba saja muncul. Membuat nafsu Claire menurun dan wajahnya kembali murung. Nyonya Son mempertanyakan perubahan sikap putrinya, “Claire? Kau baik-baik saja?”

Claire hanya mengangguk kecil. Ia kembali menyendok sereal dan melahapnya perlahan kemudian berkata, “Aku rindu rumah.”

Nyonya Son tertegun dibuatnya. Siapa sangka sang putri akan menyatakan hal yang sangat sulit untuk ia sikapi.

“Rumah di Amerika sudah dijual ayahmu. Mulai saat ini… rumah ini adalah rumahmu,” kata Nyonya Son.

Claire mengerti hal itu. Tapi bukan sang rumah yang ia maksud. “Aku merindukan Ayah dan Ibu. Aku merindukan kalian,” gumam Claire. Ia melanjutkan aktivitas barulah ia meneguk segelas susu hingga menu sarapannya habis.

Nyonya Son menunjukkan sebuah seragam pada Claire. Seragam sekolah yang baru kali ini ia lihat.
“Ta-da. Ini adalah seragam di sekolahmu yang baru,” kata Nyonya Son. Claire nampak terpukau. Ia meraih seragam tersebut dan membelainya dengan senyuman terpancar di bibir.

“Seragam? Di Seoul aku akan pakai seragam?” tanya Claire antusias. Nyonya Son mengangguk.

Gadis itu seketika tertawa riang sampai menari-nari. Ia bahkan lupa bahwa beberapa saat yang lalu ia masih merajuk dan sempat bertengkar dengan sang ibu.

***

Mengenakan seragam baru, Claire nampak senang memasuki gerbang sekolah barunya walau hanya dengan berjalan kaki karena mobil sudah habis masa sewa. Terlebih dahulu Claire diajak untuk memasuki ruangan guru. Agar ia mengenal para guru terlebih dahulu barulah salah satu guru membimbingnya menuju kelas yang akan ia huni. Sang ibu masih menemani saat perjalanan menuju kelas, tapi ia berpamitan saat Claire akan masuk.

“Sayang, ibu harus bekerja. Ibu sudah mempercayakanmu pada semua guru di sini. Jangan cemas dan jadilah anak baik, mengerti?” nasehat sang ibu. Claire mengangguk penuh semangat.

Ia melambaikan tangan pada Nyonya Son yang berjalan meninggalkannya. Dan kini hanya ia dan lingkungan baru.

Claire sedikit melirik pada sekitar. Ternyata ia masih ingat kejadian kemarin saat seorang anak laki-laki memperhatikannya dari kejauhan. Ia merasa penasaran. Mungkinkah ia bisa bertemu anak itu lagi?

“Claire, ibu akan memperkenalkanmu pada teman-teman kelas. Kau harus menyebutkan nama dan asalmu, menggunakan Bahasa Inggris juga tidak apa-apa. Kemudian jelaskan pada mereka seperti apa penyakitmu, hm?”

Claire tersentak mendengar penuturan seorang guru yang berbisik di telinga menggunakan Bahasa Inggris. Batinnya bertanya-tanya, bagaimana beliau bisa tahu? Apakah sang ibu mengumumkan pada semua guru? Dan haruskah ia menjabarkannya pula pada seluruh siswa? Claire merasa ini tidak adil. Bahkan di sekolah lama ia harus mengalami penindasan akibat alergi aneh yang diderita. Kenapa di sini ia juga harus mengalami hal serupa?

Claire hanya diam.

“Claire?”

“Aku tidak mau!”

Gadis itu tiba-tiba saja berlari. Meninggalkan sang guru juga area gedung sekolah. Ia berlari pergi entah ke mana. Menyisakan rasa heran dalam diri sang guru yang tak mengerti apa-apa. Juga seorang anak laki-laki yang entah sejak kapan mengintip melalui jendela kelas.

Claire berlari sangat jauh dari area sekolah. Bahkan ketika ia melihat sang ibu yang masih berada tak jauh, ia memilih untuk menghindar. Ia berlari tanpa tujuan. Hanya ingin meninggalkan kenyataan pahit dalam hidupnya.

“Aku membenci ibu! Aku benar-benar membenci ibu!”

***

Di sebuah area pertokoan yang tak lagi beroperasi, Claire berhenti. Ia duduk memeluk lutut di emperan toko sambil menangis. Rasa malu, kecewa, sedih dan marah, semua bercampur menjadi satu. Menciptakan gejolak emosi yang berkecamuk. Bagi seorang gadis kecil hal itu sudah lebih dari cukup untuk membunuhnya secara perlahan.

Claire terus duduk di sana sampai tak terasa waktu berputar begitu cepat. Mungkin sudah sejak tadi sang ibu mencarinya. Tapi ia tak mau peduli. Menenangkan diri adalah satu-satunya cara yang bisa membuatnya nyaman.

Melirik pada langit, ternyata awan sudah kembali menggulung. Siap menjatuhkan debit air yang tak sedikit. Sebenarnya rasa cemas dirasakan oleh Claire. Mengingat bahwa tempatnya bernaung saat ini hanyalah emperan toko kecil dengan atap yang sempit. Namun bau wangi hujan yang menyentuh tanah seakan membuat Claire lupa akan alergi. Ia justru tersenyum puas sambil menghirup udara. Sampai akhirnya titik-titik air mulai membasahi bumi di hadapan.

Claire berdiri dan menyandarkan diri pada rolling dor toko. Dingin mulai menusuk pori-pori. Karena baru kali inilah ia merasakan sejuknya udara saat hujan tiba. Claire mulai merasa takut. Ia belum siap mati dengan cara konyol seperti ini.

Namun seseorang tiba-tiba saja menghampiri. Seorang anak laki-laki yang datang dengan memakai sebuah mantel tebal. Ia melepas mantel yang belum basah itu lalu mendekati Claire. Gadis itu mengernyit dan memandang penuh tanya. Wajah itu bagai tidak asing baginya namun ia tidak juga mengenal anak laki-laki tersebut.

“Aku Yoon Gi.” Anak laki-laki itu menjulurkan tangan yang sudah bersih diseka oleh sapu tangan. Ia berbicara dengan Bahasa Inggris fasih membuat Claire mampu mencerna perkataannya. Claire membalas jabatan dengan sikap mengigil.

“C-claire,” jawabnya.

“Semua guru mencarimu tadi. Kenapa kau melarikan diri?”

Claire sedikit bingung atas pertanyaan itu. Namun ketika ia melihat seragam di tubuh si lelaki di hadapan kini ia ingat.

“K-kau?” Claire menunjuk wajah anak bernama Yoon Gi itu.

“Aku kenapa?” tanyanya.

“Apa kau datang untuk mencariku?” Claire penasaran. Namun Yoon Gi menggeleng. “Ini adalah jalan menuju rumahku,” jawabnya.

“Kenapa jalan kaki? Di mana orangtuamu?” lanjut Claire. Yoon Gi mengangkat sedikit bahunya. “Aku tidak punya.”

Claire terenyuh mendengarnya. Hingga ia kembali diam untuk merenung. Teringat pada sang ibu juga sang ayah yang beruntung masih ia miliki.

“Kau malu?” celetuk Yoon Gi.

Claire menoleh.

“Guru Lee tidak bermaksud mempermalukanmu. Dia hanya ingin melindungimu. Jika sampai ada anak kelas yang tidak tahu, lalu mereka mencipratkan air hujan padamu untuk bercanda, kau bisa celaka,” lanjutnya. Ia menatap Claire dengan wajah yang tenang . Terlihat sangat bijak bagi anak seusianya. “Apa guru itu mengatakannya padamu?” Tanya Claire.

“Tidak. Aku mendengarnya sendiri.”

Claire sangat malu mengetahui kalau ternyata ada orang lain lagi yang tahu soal penderitaannya. Terlebih ia adalah anak laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh dari Claire.

“Jangan malu. Walau sebagian orang akan memandangmu menyedihkan, tapi sebagian lain akan menganggap itu sesuatu yang luar biasa. Tidak jarang ada orang yang mengagungkan penyakit langkanya sebagai suatu keunikan,” kata Yoon Gi. Kalimat yang membuat Claire tercengang sekaligus kagum. Bagaimana bisa seorang anak kecil mengatakan hal semacam itu? Bahkan ibunya saja tak pernah bicara demikian.

“Uhuk. Uhuk.”

“Kau tidak apa-apa?” tanya Yoon Gi mendengar Claire yang mendadak terbatuk kecil dan tubuhnya semakin mengigil. Namun gadis itu mengangguk dan menyatakan dirinya baik-baik saja.

Yoon Gi enggan percaya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres pada diri Claire.

“Apa ini salah satu reaksi alergimu saat terkena udara lembab saat hujan?” cemas Yoon Gi.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Claire.

“Ayahku dulu memiliki paru-paru lemah. Dia akan sepertimu saat hujan datang dan sedang berada di luar ruangan,” jawab Yoon Gi.

Inisiatif kecil yang dilakukan Yoon Gi hanyalah menyeka kedua tangan dari tetesan hujan yang mengenainya. Lalu mendekati Claire. Ia menarik tangan Claire kemudian melingkupi dengan kedua tangannya. “Tubuhku cukup hangat karena aku baru saja bergerak. Bertahanlah sampai ibumu menemukanmu atau setidaknya sampai hujan ini berhenti,” kata Yoon Gi.

Claire mengangguk dan tersenyum. Rona merah membulat di pipi namun ia enggan menunjukan rasa malu atas perlakukan Yoon Gi.

To Be Continued..

A/N: Gimana udah cukup paham sama alurnya kah? 😀

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s