비물 (Rain) Chapter 1

비물 (Rain) Chapter 1

image

Title: 비물 (Rain)
Cast: Min Yoon Gi, Clarynne Son
Genre: Romance, Drama, AU
Cover by: Rosilah Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Adiinda Chan

“Apa kau tahu nama aroma tanah basah kala hujan menampakkan diri? Ia adalah petrichor, si pembawa rasa tenang dalam jiwa.”

Chapter 1
When We Meet Again

~~~

Story begin..

Langit terselimut mega hitam kentara hendak memuntah tangis. Angin musim panas menderu pelan, membuai hati dan perasaan yang tumpah kala mendung dirundung duka. Pukul sepuluh lewat dua puluh menit. Masih cukup pagi untuk sang hujan menunjukkan eksistensi.

Seorang gadis di belakang kemudi menengok awan sebentar lalu kembali berkonsentrasi pada jalanan lengang di hadapan. Jarinya menyentuh bagian audio menekan tombol next beberapa kali. Setelah dirasa lagu yang mendendang cocok ia menekan pedal gas sedikit lebih kuat.

Bunyi denting piano mengalun dari ponsel pintar yang tergeletak di kursi samping. Sebuah panggilan masuk terlihat di layar. Segera ia menempelkan headset, mengusap tanda hijau tanpa repot-repot melihat ID pemanggil.

“Halo?” si gadis mengucap sapa. Satu detik kemudian suara baritone rendah mengisi pendengaran. Menjawab salam dengan gaya khas yang benar-benar gadis itu hafal.

“Dua tahun tidak berjumpa apa kau tidak merindukanku?” pria di ujung lain telepon mengucap tanya. Sesekali tertawa kecil memancing si gadis agar melakukan hal sama.

Si gadis menggeleng lalu terkekeh. Membayangkan raut datar pria di seberang tengah tersenyum membuat kekehannya makin jelas terdengar. “Tidak. Setiap hari kita bertukar pesan, Sean. Mana mungkin aku merindukanmu.”

Si pria yang dipanggil Sean balas tertawa lalu mendecih satu detik kemudian. “Baiklah.”

Mereka terdiam beberapa saat. Sebenarnya si gadis ingin sekali tertawa. Ia tahu benar jika pria di seberang telepon hanya tengah menguji. Maka dengan sedikit kekehan terlontar, gadis itu berujar, “Kau membuatku merasa buruk. Aku sedang berjalan-jalan, jika kau ingin tahu.”

“Aku tidak menanyakan kau sedang berada di mana,” dusta Yoon Gi berpura tidak peduli. Namun di telinga si gadis justru terdengar seperti ungkapan rasa suka.

“Benarkah? Aku justru bisa melihat binar ceria di matamu dari sini, Sean.”

Mereka tertawa bersama. Tidak menyadari bahwa waktu yang terlewat sudah lebih dari sepuluh menit sejak mereka melakukan panggilan. Waktu yang teramat singkat bagi dua sahabat untuk bertemu kangen.

“Aku ketahuan, ya?” tanya Yoon Gi tanpa hendak menyudahi topik. Rasanya sudah lama tidak saling melempar godaan seperti ini.

“Sangat. Kau itu orang yang tidak ekspresif. Aku jelas tahu perubahan emosimu.”

Yoon Gi mendendang tawa kecil kembali. “Aku tahu kau mudah menebak diriku, Bi.”

Yoon Gi menghela napas, memberitahukan apa yang hendak disampaikan sejak tadi. “Kita bertemu di cafe biasa setengah jam lagi?”

Sekali lagi si gadis mengangguk antusias. Ia tahu lambat laun Yoon Gi akan mengatakan hal itu. Mengingat perjanjian dua tahun lalu, jika salah satu dari mereka menelepon dahulu artinya ia mengajak kembali bersitatap. Tanpa banyak kata ia menyetujui, mengatakan bahwa akan segera menyusul secepat mungkin. Bahkan karena terlalu antusias si gadis melupakan fakta bahwa lagu yang sekarang memutar adalah salah satu lagu favoritnya. Gadis surai cokelat itu tengah bergembira. Tentu saja.

Setelah menemukan tanda putar balik, ia segera menghidupkan lampu sen, memutar balik dengan sesungging senyum manis.

Titik-titik air beradu cepat jatuh ke bumi. Makin lama makin banyak, makin lama makin deras. Namun gadis di balik kemudi tidak lantas mendesah kecewa. Senyum justru makin melebar. Rasa cinta terhadap hujan membumbung memenuhi hati. Sudah lama sejak terakhir kali ia menatap guyuran langit dari kaca mobil seperti ini.

***

Dinding berwarna putih dengan etalase mengelilingi seperempat ruangan terlihat jelas dari kaca bening yang menjadi sekat. Kue-kue manis berjejer rapi, berbagai ukuran, macam-macam rasa nampak membangkitkan selera. Meja-meja penuh sesak, semua larut dalam obrolan ringan. Di luar hujan masih mengguyur deras, membuat intensitas pengunjung makin lama makin bertambah.

Speaker di beberapa titik ruangan mendendang lagu lembut. Menambah kesan hangat makin tercipta bersama kepulan asap dari cangkir-cangkir di meja pelanggan. Namun salah seorang pria yang duduk dekat kaca jendela justru terlihat gelisah. Pandangannya tertumbuk pada kaca, tepatnya menilik orang-orang yang keluar dari mobil menuju cafe. Beberapa kali bahkan ia menghela napas. Seharusnya ia menjemput si teman kecil, bukan duduk bodoh menunggu dua puluh menit cepat berlalu. Pelayan memberikan pesanan dan ia hanya mengangguk sebagai balasan.

Belum berhenti otak memikirkan jalan keluar sang gadis yang sedari tadi dalam pikiran sudah muncul. Berlari-lari kecil mengenakan mantel musim dingin membungkus seluruh tubuh. Pria itu tersenyum tipis, masih ingat kebiasaan si gadis untuk tidak menanggalkan mantel musim dingin demi terjaga dari rinai hujan. Ia berpura meminum cokelat hangat yang sialnya lebih panas dari perkiraan. Lidahnya terasa terbakar. Ia mengumpat lantas segera meminta pelayan memberi air mineral.

Tanpa diminta jantungnya memompa keras manakala mata sengaja menatap sang gadis yang kebingungan mencari tempat. Kotak tisu berada di samping tangan terjatuh setelah tanpa sengaja tersenggol. Pria itu mendesis, berusaha menggapai kotak tisu di kolong meja susah payah. Ia terlihat jauh lebih konyol ketika kepala tanpa sengaja terantuk pinggiran meja. Umpatan terdengar keras, beberapa pelanggan terdekat bahkan ikut menatapnya aneh.

Oh, baiklah. Sekarang semuanya jadi kacau.

Lalu si gadis menatap tepat di matanya. Melambaikan tangan, berjalan ke arah sang pria dengan senyum menghias. Pria itu tiada henti mengucap doa dalam hati. Berharap tidak terjadi hal konyol selanjutnya atau pertemuan ini akan jadi sangat canggung.

“Aku sangat terkejut seorang Min Yoon Gi bisa mengumpat sedemikian keras hanya karena kotak tisu,” sang gadis duduk di hadapan. Menyangga dagu dengan tangan kanan lalu menggurat senyum manis. Senyum itu… bahkan sudah terlalu lama ia tidak melihat.

Yoon Gi mengendikkan bahu. Berusaha terlihat keren meski sejujurnya kinerja jantung tidak singkron dengan otak.

“Bukankah kaubilang kita bertemu tiga puluh menit lagi? Ini baru lima belas menit sejak kau menutup panggilan, ‘kan? Tidak biasanya.”

Yoon Gi mengibaskan tangan di depan wajah. Gugup tiba-tiba saja menjalari relung hati. Membuatnya tidak bisa fokus dengan alasan menarik yang akan terlontar. “Kebetulan aku sudah berada di daerah ini ketika menelepon. Dan hujan. Dan kupikir tidak masalah lebih awal menunggu.”

Sang gadis mengangguk-angguk. Tangan putihnya mengacung di udara, berusaha memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.

“Satu cangkir melya dan muffin cokelat,” setelah si pelayan berada di depan keduanya Yoon Gi terlebih dahulu mengucap kata. Pelayan memberi hormat, mengatakan pesanan akan segera datang lalu berlalu begitu saja.

“Aku bahkan belum membuka buku menu,” si gadis memajukan bibir. Berpura tidak setuju dengan deklarasi Yoon Gi barusan. Namun Yoon Gi tidak ambil pusing, kembali mengangkat bahu menyeruput cokelat hangat yang kini sudah lebih dingin.

Keduanya saling diam beberapa menit. Banyak yang ingin mereka ungkap sampai-sampai tidak tahu mulai dari mana. Semua hal berlalu begitu cepat, bahkan tidak terasa sembilan tahun berlalu semenjak perkenalan mereka sore itu.

“Omong-omong, kau terlihat berbeda, Sean.” Lagi-lagi si gadis memecah keheningan. Situasi canggung seperti ini susah dihadapi jika keduanya tidak ada yang mengalah.

Yoon Gi memerhatikan gadis di hadapan. Dahinya mengerut, meminta penjelasan atas kalimat yang terlontar.

“Entahlah. Mungkin tidak bertemu dua tahun membuat tubuhmu semakin kurus.”

Yoon Gi kembali mengendik. “Kau saja yang bertambah gemuk, Clarynne.”

Ingin hati memukul tangan pria di hadapan sekeras mungkin. Namun apa daya sang pelayan sudah kembali dengan pesanan di tangan. Membuat keduanya saling diam lalu mengumbar tawa beberapa detik kemudian.

Rasanya benar-benar asing. Entah karena tidak bertemu cukup lama atau karena debaran jantung menggila. Mungkin sekilas keduanya terlihat seperti pasangan kencan buta yang malu-malu karena pertama kali bertemu. Lalu jika diperhatikan lagi, seorang akan menyimpulkan bahwa mereka adalah sepasang mantan kekasih yang saling berhubungan kembali karena sebuah insiden.

Lagu yang diputar terasa menusuk-nusuk hati. Mereka tahu lagu ini, lagu yang sama-sama jadi favorit meski beberapa tahun telah berlalu. Diam-diam mereka saling pandang, tersenyum lalu mengalihkan tatapan dengan rona tipis menjalari pipi.

“Kau tahu, aku masih ingat kekhawatiranmu saat kita pertama kali bertemu dulu,” si gadis membuka pembicaraan. Memancing keduanya terlibat obrolan panjang. Sebuah dokumentasi masa lalu yang sama-sama membekas kuat di otak. Kini akan segera dikenang, dibicarakan kembali agar jadi pengobat rindu.

To Be Continued..

A/N: Cuma sepuluh chapter yg udah selesai dr Februari lalu. Karena ini pakai alur campuran jd mungkin agak aneh dgn chapter 1-nya. Tp mohon reviewnya please ^^ dan tolong koreksi kalo aku lupa ngedit Sebastian jadi Yoon Gi >< wkwk

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s