Under These Skies Chapter 5

Under These Skies Chapter 5

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

Chapter 5

~~~

Story begin..

Ryu Ye Rin POV

Rabu

Aku tersenyum menerima buket bunga mawar putih dari tangan sang kurir. Memberikan tanda tangan, menutup kembali pintu setelah pria itu mengucap terima kasih. Ada sebuah kartu ucapan terselip di antara rimbun bunga. Aku mengambilnya, membuka, membaca tulisan lalu memutar bola mata jengah. Buket mawar putih berakhir di tempat sampah setelah aku melemparnya beberapa detik lalu.

Playboy gila di ujung gang yang mengirimnya. Jeon Jung Kook, kekasih Im Na Young rekan kerjaku. Mungkin seharusnya aku memberikan pelajaran dengan mengatakan hal ini pada Na Young esok hari. Setidaknya agar semata gadis itu tahu bahwa kekasihnya juga memiliki selera terhadap seorang wanita yang memiliki putra berusia tujuh tahun.

Aku berjalan kembali ke ruang tengah di mana ayah dan Sung Jin berada namun nihil. Mereka sudah tidak berada di sana. Dahiku mengernyit namun beberapa detik kemudian ayahku datang mengatakan bahwa Sung Jin tertidur dan beliau baru saja membawanya ke kamar. Bocah kecil itu terlalu lelah. Aku tahu itu.

“Kurasa sudah saatnya membuka hati, Nak. Ini sudah tahun ke tujuh.” Ayah mendudukkan diri di sofa seberang. Menatapku dalam berusaha menyelam ke dalam manik mataku. Aku tidak mengangguk, tidak jua menggeleng. Memilih merebahkan kepala yang terasa memberat setelah ayah mengungkit topik paling sensitif itu.

Entahlah. Memiliki kenangan buruk dengan seorang pria nyatanya mampu membentuk sebuah karakter baru dalam diriku. Namun ketika seorang kembali mengungkit masalah itu, nyaliku belum cukup kuat untuk menerima. Hatiku masih terlalu lembek dengan urusan masa lalu. Aku mendesah lelah.

“Sung Jin butuh sosok ayah sungguhan. Bukan ayah yang hanya didengar kehebatannya karena dia adalah seorang pilot. Kau pasti mengerti hal itu, ‘kan?”

Aku mengangguk setuju namun tidak berusaha menimpali perkataan ayah. Kilas-kilas masa lalu memenuhi otak. Terasa aneh mengingat seharusnya aku sudah melupakan segala hal yang membuat hatiku menjadi serentan ini. Sungguh sulit rasanya membuang semua kenangan meski tujuh tahun telah berlalu. Bahkan sudah hampir delapan tahun.

“Coba berpikir ulang. Temukan pria lain yang membanjirimu dengan kasih sayang. Dan memperlakukan Sung Jin seperti darah dagingnya sendiri.” Ayah menepuk pundakku sesaat sebelum beliau berpamit istirahat. Air bening meluncur bebas dari sudut mata. Konyol. Aku bahkan tidak bisa membendung tangis yang telah menganak pinak.

Seorang yang mampu memperlakukan Sung Jin seperti darah dagingnya sendiri? Apa masih ada pria seperti itu di muka bumi?

Kamis

Saat pulang kerja aku terkejut bukan main menatap pemandangan yang tertera di halaman belakang rumah. Jumper terkembang dengan Sung Jin melompat-lompat di sana sementara ayahku duduk di gazebo membaca koran pagi yang aku yakin beritanya sudah kedaluarsa. Namun di antara semua hal normal yang biasa kujumpai, ada satu anak lelaki duduk manis di ujung lain gazebo tengah memangku tangan menatap Sung Jin. Ekspresinya tidak terbaca dan terlebih lagi… ia mengenakan pakaian baru Sung Jin yang kubelikan beberapa minggu lalu.

Mencoba bertingkah normal, aku berjalan meletakkan bungkusan makanan di atas meja. Sang Hyun menatapku takut-takut begitu pula Sung Jin yang langsung menghambur tidak lagi antusias pada jumper kesayangannya.

“Aku bisa menjelaskan ini semua, Ibu.” Sung Jin membawa tanganku, ia mencoba membujukku menatap matanya. Oh, sial. Aku akan luluh jika menatap mata bocah kecil ini.

“Baiklah. Silakan jelaskan keadaan mengejutkan ini.”

Aku tidak menatap mata Sung Jin, melainkan menatap Sang Hyun yang terus menunduk semenjak aku menginjakkan kaki. Lalu mataku bergulir menatap ayah. Ayahku ikut mendongak. Beliau mengendikkan bahu saat aku mencoba berkomunikasi lewat tatapan mata. Kedua bocah ini masih diam dan dahiku semakin mengerut curiga.

“Sang Hyun bercerita padaku jika ia ingin mencari ketenangan. Rumahnya terlalu berisik tidak dalam artian sesungguhnya. Ia sedang dalam masalah dan aku tidak bisa menceritakan detailnya padamu, Bu.”

Aku mengembuskan napas. Sang Hyun memang terlihat berbeda hari ini, menurutku. Ia terus saja menundukkan wajah saat aku mencoba mencari manik matanya. “Baiklah. Jadi jika seorang melaporkan berita kehilangan ini pada polisi, ibu tidak ikut campur dalam tindakan penculikan yang kalian lakukan.”

Aku memutuskan untuk tidak berurusan dengan anggota keluarganya lagi. Dokter sekaligus ayah Sang Hyun terlalu mengerikan. Aku tidak bisa membayangkan mendapat ceramah gratis saat tubuhku benar-benar butuh istirahat.

“Aku akan pulang, Bibi. Tapi… nanti. Suasana hatiku masih sangat buruk.” Sang Hyun kembali menunduk. Aku mengangguk, berpamit mengganti pakaian lalu meminta Sung Jin membuka bungkusan makanan. Aku mendengar celotehan Sang Hyun yang mengatakan bahwa dirinya tidak lapar. Otakku berpikir cepat saat menarik setelan pakaian bersih dari lemari. Masalah seperti apa yang menghantui pria kecil berusia tujuh tahun seperti Sang Hyun?

Ayah masuk rumah saat aku selesai mengganti baju. Aku berjalan mendekat sembari berkata, “Dia adalah anak dokter yang memberikan gajinya untuk memperbaiki gazebo, Ayah.”

“Ya. Sung Jin tidak berhenti bercerita sejak tadi.” Ayahku mengangguk. “Dia terus menyebut ibunya yang bernama Vivian. Namun ketika aku menanyakan lebih jauh, dia hanya diam tidak menanggapi.”

Aku mencoba mencerna informasi yang ayahku berikan sembari berjalan kembali ke halaman belakang. Sung Jin sedang menikmati makanannya namun Sang Hyun sama sekali tidak menyentuh satu kotak yang masih tersisa. Aku berjalan mendekat, membisikkan sesuatu pada Sung Jin lalu bocah kecil itu mengangkat jempolnya.

“Sang Hyun, kakek mengajakku berbelanja di mini market tidak jauh dari sini. Aku akan segera kembali dan membelikanmu susu kotak. Tidak apa-apa jika kutinggal bersama ibuku, ‘kan?” Sung Jin bertanya. Sang Hyun hanya mengangguk sebagai respon. Aku mencintai putraku.

Kami masih duduk dalam keheningan meski suara teriakan Sung Jin sudah menghilang sejak beberapa menit lalu. Bocah kecil ini masih menunduk, memainkan jari-jari tangan dan sesekali menghela napas. Aku menggeser duduk tepat di sampingnya. Tersenyum menggenggam tangan kecil itu.

“Kau bisa menceritakan masalahmu pada orang lain jika itu bisa membuatmu lebih baik,” ujarku tersenyum manis. Sang Hyun mendongak, pipi-pipi gembilnya sudah dihiasi air mata. Aku bahkan tidak berkedip menyaksikan betapa bocah kecil ini bisa mengubah ekspresi tenangnya secepat itu.

“Bibi… apa aku bersalah jika mengharapkan kedua orangtuaku kembali bersama?” Sang Hyun menatapku masih dengan linangan air mata. Aku menggeleng tegas. Mengatakan bahwa tidak ada salahnya berharap demikian.

“Ayah dan ibu berpisah dua tahun lalu. Saat itu aku masih berada di taman kanak-kanak. Mereka terus bertengkar setiap hari dan membuatku harus mengungsi di rumah nenek.” Sang Hyun menjeda ucapannya dengan menghela napas panjang. “Aku tidak mengerti masalah orang dewasa saat aku dibawa ke ruangan penuh orang. Ayah dan ibu berada di kursi yang berbeda dan tidak saling tatap. Pak hakim mengetukkan palu tiga kali lalu ayah memintaku dari gendongan nenek. Ibu menciumku berulang-ulang dan mengatakan beliau tidak bisa menemaniku tidur setiap hari. Aku baru tahu mereka berpisah saat kami kembali ke rumah dan ibu tidak pernah datang.”

Pria kecil yang malang. Ia pasti kesepian karena tidak memiliki seorang ibu. Terkadang menjadi seorang anak korban broken home tidaklah semudah kelihatannya.

“Ibu mengunjungiku satu bulan sekali namun aku tidak pernah puas. Aku mencintai ayah tapi juga menginginkan ibu berada di tengah-tengah kami. Nenek mengajariku membuat origami burung pemberi harapan. Katanya aku harus membuat seribu origami agar harapanku bisa terkabul. Aku sangat bersemangat sampai setiap pulang sekolah selalu membuat origami. Tapi ibu justru mematahkan harapanku dengan memintaku mengenalkan ayah pada seorang wanita.” Sang Hyun mengakhiri ceritanya dengan lelehan tangis. Aku merebahkan kepalanya ke pangkuanku. Mengusap air mata serta surai hitam tebalnya. Bocah sekecil ini tidak seharusnya memikirkan hal yang tidak ia mengerti. Namun ia jadi dewasa sebelum waktunya karena perceraian orangtua.

Aku bersenandung sebuah lagu yang biasanya Sung Jin suka. Sang Hyun menatapku masih dengan sisa-sisa tangis. Aku tidak bisa menghentikan senyuman. “Tidak salah memiliki harapan seperti itu, Sayang. Tapi kau juga tidak tahu bagaimana orang dewasa menyikapi kehidupannya. Mungkin ibumu benar, kau perlu seorang ibu untuk mendampingimu tumbuh. Dan ayahmu butuh seorang istri untuk mengatur kehidupannya. Mereka sudah tidak cocok jika bersama jadi ibumu memutuskan berbicara demikian. Mungkin kau tidak akan mengerti tapi menjadi dewasa tidak semenyenangkan kelihatannya.”

Sang Hyun mengangguk. Aku tidak ragu jika ia mengatakan bahwa ia mengerti perkataanku. Kehancuran rumah tangga membuatnya harus memiliki pikiran yang seharusnya tidak ia pikirkan. Aku terkadang bersyukur Sung Jin tidak mengenal ayahnya sekalian daripada harus memiliki beban seperti Sang Hyun.

“Jadi… berjanjilah padaku kau tidak akan bersedih atau aku akan menciummu di muka umum tidak peduli seberapa banyak orang yang menyaksikan.”

Sang Hyun mengangguk antusias. Air mata telah terganti dengan senyuman manis. Aku menciumnya tepat di pipi dan ia membeku. Dua detik kemudian semburat merah terbit di pipinya. Namun itu tidak berlangsung lama karena Sung Jin sudah berlari ke arah kami membawa kantung kresek berlogo mini market. Ia mengeluarkan dua susu kotak, memberikan salah satunya pada Sang Hyun.

“Setelah menghabiskan susu kita harus segera mengembalikan Sang Hyun pulang. Aku tidak ingin mendapat masalah karena hal ini.”

***

Aku mengemudikan Bentley tua ayahku ke rumah keluarga Min. Trukku ada di rumah dan aku tidak berniat mendapat masalah kembali dengan membawa raksasa itu ke rumah orang kaya. Sang Hyun sudah menanggapi candaan Sung Jin dan itu artinya moodnya sudah membaik. Dan ketika aku memarkirkan mobilku di pinggir jalan, ada mobil polisi di depan rumah keluarga Min. Oh. Aku benar-benar akan mendapat masalah besar.

Kami keluar dari Bentley dengan tergesa. Sang Hyun memimpin jalan lalu memasuki gerbang yang telah terbuka. Sung Jin mengikutinya sementara aku berusaha bersikap normal tentang kejadian ini.

“Jadi kau tidak hanya pandai meracuni keluarga tapi juga pandai menculik seorang anak tak berdosa?” Dokter itu kembali berbicara omong kosong. Aku bisa melihat asap keluar dari kepalanya. Ia kembali berbicara, menceramahiku dengan segala petuah yang ia punya sebelum ibunya menghentikan ocehan.

“Dia tidak bersalah, Yoon Gi. Sang Hyun sudah menceritakan semuanya.”

Dokter itu memeluk Sang Hyun. Dalam kesempatan itu aku mengajak Sung Jin segera meninggalkan tempat sebelum polisi-polisi yang berjejer memerhatikan interaksi ayah anak itu menyadari kehadiranku. Seseorang pasti sudah gila menempatkanku di situasi sekonyol ini.

“Ibu, kapan-kapan bolehkah kita menculik Sang Hyun lagi?”

Aku tidak bisa berhenti memutar mata. Putraku dengan segala idenya adalah alasan kematianku.

To Be Continued..

A/N: Insyaallah update dua hari sekali ^^ doakan mood tidak hancur ya ><

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s