Ribbon Chapter 5

Ribbon Chapter 5

image

Title: Ribbon
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; MENGANDUNG SEDIKIT ADEGAN DEWASA. I WARN YOU, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

“Ikatan pita mengendur lalu semua tidak sama seperti dulu lagi. Hatimu pecah, hatiku lebur. Jiwamu retak, jiwaku mengabur.”

Chapter 5
7 Years Ago: Memories

~~~

Story begin..

“Aku harus pergi, Jeon. Aku tidak bisa tetap tinggal di sini.” Wanita bergaun minim berusaha melepaskan cengkeraman tangan Jung Kook. Wanita itu nampak ketakutan, bahkan ia terus saja memproduksi keringat dingin tanpa diminta.

Jung Kook menggeleng kuat. Di malam sepi seperti ini, setelah mereka bercinta wanitanya hendak pergi begitu saja? Sangat aneh mengingat seharusnya ia yang pergi, bukan Anastasya. “Tidak. Apa kau menghindariku, Ana?”

Anastasya tidak menjawab. Wanita itu memilih berusaha keras agar tangan berotot yang ia puja setiap malam menyingkir darinya. Demi Tuhan, kenapa pria di hadapannya begitu keras kepala?

“Katakan padaku… katakan padaku apakah kau mengandung? Mengandung anakku?”

Tawa hambar seketika membumbung di udara. Anastasya yang tertawa. Suara tawanya kemudian memudar mengingat di mana kini mereka berhenti; kawasan industri radius sekitar lima ratus meter dari bar. Anastasya menatap Jung Kook, menatap lama pada kerutan di dahi pria yang diam-diam ia cinta.

“Rahimku sudah diangkat sejak dua tahun lalu. Jangan konyol!” bentak Anastasya berhasil melepas tangan Jung Kook. Ia berjalan cepat tidak memedulikan teriakan Jung Kook yang menggema. Baginya sangat sial hari ini jika pemuda tujuh belas tahun tetap mengikuti ke mana langkahnya pergi. Dan ia tidak menyangka bahwa Jung Kook benar-benar mengejar sejauh ini.

“Ana.” Jung Kook tidak henti mengekor. Ia tidak mengerti mengapa langkah wanita di hadapan semakin tidak terkontrol; kadang tergesa, kadang mengendap-endap.

Wanita itu sudah cukup sabar untuk tidak meninggikan suara. Namun seolah tidak paham dengan situasi Jung Kook masih terus saja membuntuti. Anastasya berhenti, memutar tubuh demi menatap Jung Kook. “Berhenti di sana!” ujarnya keras dan dingin.

Jung Kook yang tidak mengerti justru makin mengerutkan dahi. Mengapa… mengapa Anastasya terlihat berbeda malam ini? Sewaktu bercinta dengannya juga ia terlihat tergesa, benar-benar menolak didominasi. Wanita itu menunjukkan sisi terliarnya namun justru terlihat aneh bagi Jung Kook.

Belum sempat Jung Kook menanggapi Anastasya sudah kembali berjalan. Kali ini Jung Kook memberi jarak, tidak berusaha mengejar tapi tidak juga menyerah. Ketika tubuh Ana sudah tinggal separuh terlihat ia baru mulai menjajakan kaki.

Anastasya menghilang di belokan lalu sebuah teriakan membumbung di udara. Jung Kook segera berlari, cukup tahu bahwa teriakan tersebut berasal dari bibir sang wanita. Namun belum sempat ia melihat wujud Anastasya, teriakan kembali menggema disusul suara tawa berat laki-laki. Jung Kook memundurkan langkah, ia seperti berada di dalam drama-drama action di mana menyaksikan pembunuhan di depan mata.

Jung Kook menghela napas panjang. Ia berusaha mengumpulkan kekuatan namun nyatanya tidak mampu. Sang otak tengah berpikir keras menyelamatkan si pujaan hati namun tubuhnya justru menginginkan ia segera lari. Jika ada seseorang yang menemukan dirinya seperti ini maka tamatlah riwayat baik Jung Kook esok hari. Maka dengan berat hati ia meniti langkah, berusaha setenang mungkin agar tidak menimbulkan kekacauan.

***

Esok pagi menyambut Jung Kook dengan biasa. Matahari tidak muncul, sebaliknya udara dingin justru mengepung membuat dirinya tidak ingin beranjak dari selimut. Hari ini tepat tanggal dua puluh empat desember, malam natal kedua yang ia lalui tanpa sang ayah.

Jung Kook melirik jam wekker yang ada di sisi kiri ranjang, cukup terhenyak mendapati angka delapan muncul di sana. Segera ia menendang selimut, masuk dalam kamar mandi untuk menggosok gigi lalu tergesa turun untuk sarapan. Ia melihat sang kakak menonton televisi sementara ibunya sudah pergi ke restoran seperti biasa. Jung Kook mengambil roti panggang serta telur di piring lalu bergabung dengan kakaknya di ruang tengah.

“Kau tidak biasa menonton berita, Hyung.” Jung Kook ikut duduk di samping sang kakak, melahap roti isi selai kacang. Jeon Jung Hyun menengok, terkekeh kecil menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal. Sebenarnya sangat aneh bagi Jung Kook menyaksikan si kakak serius dengan berita seperti ini.

“Apa kau tidak menggunakan ponselmu untuk berselancar berita? Ada berita viral semalam.” Jung Hyun menunjuk televisi dengan dagu. Memperlihatkan kawasan industri yang Jung Kook datangi semalam dengan berita mengejutkan. Seorang warga negara asing pemalsu identitas ditemukan mati mengenaskan dengan beberapa pukulan di sekujur tubuh. Jung Kook tersedak dan terbatuk keras. Ia berlari ke dapur mengambil minum dengan kepala pening.

Anastasya… meninggal? Anastasya… pemalsu identitas?

“Tolong matikan televisi, Kook-ah. Aku akan membantu ibu.” Suara sang kakak menggema namun Jung Kook tidak peduli. Otaknya sedang memproses kejadian semalam yang hampir saja ia saksikan. Ia segera berlari ke kamar, mengambil ponsel mencoba menghubungi Anastasya.

“Jangan bercanda, Ana. Jangan bercanda!” Jung Kook menggeram keras manakala suara operator kembali terngiang bahkan setelah panggilan keenam. Lelaki itu merosot duduk di depan ranjang, beralaskan karpet beludru warna merah. Air mata terproduksi tanpa dicegah.

Ia sudah selesai sekarang. Tidak ada lagi yang menemaninya melepaskan malam panjang hari ini dan seterusnya.

“Mengapa orang yang kusayang harus berakhir mengenaskan seperti ini!”

***

Im Na Young tersenyum menatap kotak kado berwarna biru di tangan. Ia baru saja keluar dari pusat perbelanjaan, menenteng beberapa tas berisi hadiah-hadiah untuk keluarga. Namun ada satu hadiah yang begitu spesial yang kini ia pandang sepenuh hati. Jantungnya berdegup hanya memikirkan bagaimana cara memberikan pada sang pujaan.

Ia meniti langkah menelusuri jalan pejalan kaki. Seringkali tersenyum tak jelas membuat beberapa orang di sekitar yang menyadari eksistensinya ikut tertular senyum. Mungkin mereka pikir Na Young tengah mengajak mereka tersenyum. Ah biarkan saja.

Gadis itu berhenti di sebuah rumah tidak terlalu besar yang menjulang di hadapan. Ia menengok ke atas tepat pada jendela setengah terbuka. Di sanalah kamar pujaan hatinya berada. Ah… andai saja ia memiliki keberanian lebih untuk mengetuk pintu.

Sekian lama hanya memandang jendela, Na Young dikejutkan oleh panggilan ponsel yang berdering nyaring. Ia segera merogoh saku mantel. Menggeser tombol hijau setelah melihat ID pemanggil.

“Oh Tuhan, untung saja kau cepat menjawab.” Helaan napas lega terdengar dari seberang, membuat Na Young mengernyitkan dahi.

“Memangnya ada apa?” tanya Na Young penasaran. Tidak biasanya sang sahabat terdengar tergesa seperti ini.

“Aku lupa membeli kado. Oh Tuhan aku benar-benar panik sekarang. Bisa kau mengantarku?”

Na Young menghela napas. Ryu Ye Rin dan kecerobohannya. “Baiklah. Tunggu di tempat biasa.”

***

Tidak ada alasan bagi Jung Kook tetap berada di kamar seperti ini. Seharusnya ia sudah berangkat membantu di restoran yang pastinya akan sibuk di hari-hari seperti ini. Namun yang ia lakukan hanya berdiam diri di kamar, menatap potret Anastasya mencium bibirnya yang diabadikan beberapa waktu lalu.

Air mata sudah sepenuhnya tanggal dari pipi. Namun rasa sesak di hati membuncah, mengalahkan segala sifat baik yang biasanya mampu terkontrol apik dalam diri. Jung Kook sudah menghubungi sang ibu, mengatakan bahwa ia membantu teman sekelasnya membeli kado natal sehingga tidak datang ke restoran.

Jung Kook menghela napas kasar.  Menengok arah jam wekker yang menunjuk angka tiga lantas melesat menyambar mantel. Persetan dengan topeng manis. Persetan dengan wajah palsu yang selama ini menutupi dirinya. Jung Kook lelah, benar-benar lelah hingga ia tidak bisa melakukan apa-apa. Yang ada di pikirannya hanya minum, minum alkohol sampai mabuk dan tidak ingat bahwa ia telah kehilangan Anastasya.

***

“Di mana Anastasya ditemukan?” Jung Kook bertanya pada salah satu bartender yang tengah mengelap gelas berkaki tinggi. Suara Jung Kook teredam musik bising yang sudah mulai menyala meski di luar masih cukup sore.

Si bartender menggeleng, kembali melanjutkan kegiatan tanpa merasa terganggu sama sekali. “Aku tidak tahu. Di sini tidak ada yang peduli mengenai kematian misterius Ana. Mereka hanya teman di kelab dan tidak saling mengenal di luar.”

Jung Kook menggeram marah. Ia tahu peraturan itu dari Anastasya. Namun tetap saja rasanya tidak terima apalagi ini mengenai mendiang sang kekasih. Memilih meredam amarah, Jung Kook segera memesan satu botol brandy. Sang bartender hanya mampu menggeleng maklum. Merasa sangat aneh seorang pelajar seusia Jung Kook memiliki cukup banyak uang untuk membeli brandy.

Jung Kook menuang cairan bening itu dalam sloki, meminumnya dengan tidak sabaran. Terus diulang hingga tinggal separuh botol tersisa. Ia menangis dalam diam. Menangis karena tidak mampu melakukan apa pun untuk Anastasnya. Menangis karena memilih pergi dibanding ikut menyelamatkan Ana dari marabahaya. Jung Kook benar-benar terlihat bodoh sekaligus menyedihkan.

###

Lampu-lampu menyala serentak, berwarna-warni ditambah ornamen kombinasi warna merah, hijau, serta putih. Satu buah pohon natal raksasa sudah lebih indah ditambah dengan hiasan permen tongkat, permen tuan roti jahe serta santa klaus. Bintang berada di pucuk pohon bersinar, membuat siapa saja yang melihat menggumam takjub.

Lembut angin menggelitik coat saat Na Young membuka jendela. Suhu turun beberapa derajat setelah hari beranjak semakin menggelap. Na Young juga yakin sebentar lagi salju akan turun dan menambah eksistensi natal semakin kentara. Ia tersenyum, menutup kembali jendela lantas pergi ke kamar. Mengabaikan teriakan adik bungsunya yang meminta dibukakan kado di bawah pohon natal.

Hati yang terus merasa gelisah membuat Na Young tidak henti menatap layar ponsel. Bibirnya mengatup sempurna namun dalam otak terjalin jutaan pemikiran yang entah sejak kapan telah menaungi. Bagaimana caranya memberikan kado pada Jung Kook? Ini adalah kali pertama dirinya ingin menunjukkan eksistensi. Tidak hanya ingin dikenang sebagai si pembuat tugas misterius saja, sejujurnya. Namun ia benar-benar tidak mengerti. Tidak pernah memiliki pengalaman seperti ini sebelumnya.

Na Young menarikan jemari di atas keyboard, mencari nomor ponsel si pemilik hati dengan harap-harap cemas. Ia sudah berkonsultasi dengan Ye Rin dan sahabatnya berkata ia harus mencoba menghubungi Jung Kook terlebih dahulu. Memastikan keberadaan si pria tampan lantas baru mengajaknya bertemu pandang. Namun mengapa semuanya jadi terasa sulit sekarang?

Pukul delapan lebih dua belas menit tercetak pada jam digital di atas nakas. Na Young merebahkan diri di ranjang, menyentuh kontak bernama Jung Kook dengan desir tidak beraturan dalam jantung. Ragu-ragu ia menyentuh tombol panggil hingga ketidaksiapan membuatnya menyentuh tombol itu. Sebelum benar-benar menyambung Na Young sudah terlebih dahulu memutuskan telepon. Dadanya bergemuruh. Sangat cepat, sangat membuat jantungnya ingin melompat dari tempat.

Helaan napas kasar Na Young terdengar memenuhi kamar. Ia memberanikan diri mencoba sekali lagi. Benar-benar tidak ingin terlihat seperti pecundang meski setiap hari ia terus-terusan jadi pecundang. Na Young menekan tombol panggil, menunggu bersama ritme jantung tak beraturan hingga dering terdengar memekik telinga. Jari jemarinya terasa bergetar takut namun urung membatalkan panggilan. Pada dering ke tujuh, tidak ada jua jawaban hingga suara operator menggema.

Na Young menggigit bibir gelisah. Haruskah ia menelepon pria ini lagi? Haruskah ia merasa seperti orang konyol yang terus saja memegang area jantungnya sendiri? Namun belum sempat semua pemikiran terealisasi ia sudah dikejutkan dengan panggilan telepon. Nama Jung Kook tertera di sana. Ia menggeser tombol hijau kebat-kebit. Oh, Tuhan. Aku akan mengubur diriku setelah ini.

“Oh, Jung Kook-ah.” Na Young memaksa agar suaranya terdengar normal di saat-saat seperti ini. Namun ia tidak bisa. Suaranya justru terdengar seperti orang sakit sekarang.

“Maaf, Nona. Tapi bisakah Anda datang menjemput Jung Kook? Dia sudah mabuk sejak tadi sore dan membuat keributan di bar. Sekarang dia pingsan setelah mendapat pukulan dari seorang pelanggan.”

Na Young mengerjap kaget. “Di mana tempatnya?”

***

Sungguh dalam siklus hidupnya hanya kali ini Na Young berlari seperti orang gila demi menyetop taksi. Hati dan pikiran tidak sinkron sama sekali. Ia tidak tahu fakta bahwa Jung Kook adalah seorang peminum. Ia juga tidak tahu fakta bahwa setiap malam saat ia menjumpai Jung Kook tengah mencium ganas seorang wanita ternyata mereka keluar dari bar dan bersenang-senang bersama. Semua fakta terdengar konyol sekaligus menyakitkan bagi Na Young. Namun ia tetap berlari, berlari menjadi sosok powerpuff girl yang menyelamatkan dunia.

Ia mendapat taksi delapan menit kemudian, menyebutkan ke mana tujuannya lalu menetralkan napas. Na Young bahkan meminta maaf dalam hati telah membohongi sang ibu pergi ke rumah Ye Rin. Ah… ia harus memastikan sahabatnya tidak berbicara macam-macam tentang hal ini.

“Terima kasih.” Na Young keluar dari taksi setelah membayar cargo.

Ia menelusuri gang yang telah diberitahukan sang pelayan bar dengan hati cemas. Jung Kook benar-benar membuat sebagian hatinya kecewa. Namun ia tetap tidak mampu mengutarakan kekecewaan. Hanya ada rasa takut jika pria itu dalam bahaya yang muncul beruntun di kepala.

“Fantasia…,” gumam Na Young terus berjalan. Ia memekik tertahan menatap bar cukup besar di hadapan dan Jung Kook yang sudah tidak berdaya diseret begitu saja oleh seorang berbadan besar. Na Young berlari, menangkap tubuh Jung Kook sebelum pria itu benar-benar akan melemparnya ke luar. “Saya yang akan mengurusnya, Tuan. Maaf telah menimbulkan kekacauan.”

“Lain kali jangan biarkan pacarmu mabuk jika tidak mau mengganti rugi!” Suara pria itu meninggi sebelum masuk kembali ke bar.

Na Young menatap kembali ke arah Jung Kook. Menatap getir terhadap luka-luka sekaligus darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Jung Kook masih setengah sadar. Dengan inisiatif kuat ia menepuk-nepuk pipi kiri Jung Kook yang sehat, membiarkan pria di dekapan tetap terjaga.

“Ana….”

Rintihan Jung Kook terasa memilukan bagi Na Young. Gadis bertubuh kecil itu berusaha mengajak Jung Kook berdiri, melingkarkan lengan kekar Jung Kook di lehernya. Mereka berjalan tertatih, Na Young benar-benar harus menahan agar Jung Kook tidak ambruk maupun tidak sadarkan diri.

“Ana… aku tahu kau akan menjemputku. Aku tahu kau tidak mati.”

Na Young tersenyum miris. Jadi nama wanita yang terus bersama Jung Kook itu adalah Ana? “Jung Kook-ah.”

“Bahkan suaramu terdengar lebih manis. Dan aroma tubuhmu… apa kau mengganti parfum?” Jung Kook menggerakkan kepala mencium leher Na Young dalam-dalam. “Ini lavender dan aku menyukainya.”

Jung Kook menegakkan tubuh, tanpa permisi melumat bibir gadis yang ia kira Anastasya, memojokkan Na Young hingga membentur drum. Na Young meringis, menahan nyeri sembari berusaha melepaskan ciuman. Namun ia benar-benar gagal karena tangan Jung Kook mengunci pinggul Na Young.

Jung Kook menyeringai dalam ciuman, mengangkat tubuh kecil dalam dekapan, melingkarkan kedua kaki gadis itu di sekeliling tubuh. Dengan sengaja Jung Kook menggesek pusat tubuhnya ke pusat tubuh gadis itu. Ia menggeram tertahan, bergegas menemukan bangunan tidak terpakai dengan mata berkabut napsu.

***

Semua terjadi begitu saja. Na Young ingin berteriak keras, menangis sejadinya saat Jung Kook bergerak liar dalam dirinya. Bayangan bercinta dengan benar, dengan suami masa depannya pupus ketika seorang telah lebih dahulu menjamah tubuh Na Young. Bahkan ia tidak merasakan sesuatu yang menggelegar, sesuatu yang bahagia mendapati pergerakan mereka terasa begitu intim.

Meski beberapa kali Jung Kook menggeram nikmat, namun Na Young justru semakin terisak dalam hati. Ia sudah berusaha menangis namun Jung Kook langsung menampar pipinya keras. Jung Kook… bahkan ia sudah tidak tahu berapa kali keduanya sama-sama mencapai puncak.

Na Young dipepetkan di pinggir meja, tidak didudukkan seperti tadi. Hanya dibiarkan menggantung dengan Jung Kook yang terus bergerak liar dalam dirinya. Pinggul Na Young bergesekan dengan pinggiran meja tidak rata, membuat goresan panjang nan dalam seiring pergerakan Jung Kook. Pria itu masih tetap menikmati permainan, tidak memedulikan Na Young yang hampir sekarat.

Malam panjang itu ditutup dengan lenguhan keras dari bibir Jung Kook. Keduanya ambruk di lantai berdebu dengan keringat membanjir. Jung Kook memejamkan mata tanpa berniat membebaskan tubuh keduanya. Ia sudah puas… sudah puas hingga melupakan fakta bahwa malam telah berganti menjadi pagi.

To Be Continued..

A/N: DEMI APA SAYA NULIS BEGINIAN >< dr awal bikin emang idenya seperti ini jadi kalo emang gak tega dedek Juki dinistain gini amat gak usah baca gakpapa *plak

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

2 thoughts on “Ribbon Chapter 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s