Valley’s Chrysalis Chapter 1

Valley’s Chrysalis Chapter 1

image

Title: Valley’s Chrysalis
Cast: Min Yoon Gi, Kim Nam Joon, Kwon Fawn, Park Jimin, Ryu Ye Rin
Genre: School Life, Drama, AU
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian kami tidak tanggung jawab/? *loh

©2017 Lonely Whale feat Nadhea Rain

Chapter 1

~~~

Story begin..

Ruangan itu terlihat sepi seperti biasanya. Pemandangan mainstream yang selalu terlihat di Pluvio High School. SMA sekarat yang bahkan hanya mempunyai siswa tak lebih dari dua puluh orang. Pada dasarnya, tak ada yang bisa diharapkan dari sekolah yang bahkan gedung sekolahnya selalu lengang. Kurikulum tak jelas, tak ada dana dari pemerintah, minimnya minat para lulusan SMP, dan banyak lagi alasan yang membuat SMA itu terlihat seperti rumah hantu.

“Ini dibaca butterfly. Ayo… terjemahkan semuanya.”

“Ugh? Mentega terbang?” Guru yang tengah berdiri di depan kelas itu hanya bisa menepuk dahi frustrasi setelah mendengar jawaban dari salah satu muridnya. Sedikit merasa jengah pada siswa yang bisa dihitung dengan jari itu. Hanya ada lima murid di kelas dua, itu pun dua di antaranya tidak berangkat. Jika boleh jujur, sekolah ini hanya pelarian terakhir untuk lulusan IQ rendah dan murid kurang beruntung, yang harus bekerja part time dan kadang membolos.

“Yoon Gi, kau bisa menjawab?” Guru itu melirik siswa yang duduk di pojok kanan belakang, yang sepertinya sedang menikmati tidur indahnya sambil menopang dagu.

“YOON GI!” Dan voila, murid itu terkejut hingga terbangun. Hampir saja dagunya terjerembab ke meja. Nyawanya seperti menyebar dan membelah diri layaknya amoeba saat suara nyaring itu menyapa telinga. “Kau bisa menjawab?” Tanya guru itu lagi.

“Eh?” Dua temannya terkikik melihat ekspresi bengong Yoon Gi yang terlihat masih susah payah mengumpulkan nyawa itu.

Wajar, kegiatan Yoon Gi hampir mirip hewan nocturnal saat malam hari. Membuatnya mengantuk setiap pagi. Guru itu hanya bisa menghela napas berat, menumpukan tangan pada papan tulis hitam yang usang itu. “Dengar anak-anak! Minggu depan sekolah ini akan diambil alih oleh Valley High School, dan tentunya kalian akan pindah ke gedung mereka. Jadi setidaknya, jangan mempermalukan gurumu ini nanti! Itu artinya kupu-kupu, KUPU-KUPU!”

Hening, ketiga muridnya itu tak merespon amukan sang guru yang sudah tampak “Hopeless” dengan pekerjaannya itu. “She caught a butterfly! Ini namanya past tense! Oh, Dewa! Ini pelajaran minggu lalu! Haruskah kuberikan kalian kamus satu per satu?” Semua masih terdiam menunduk, kecuali Yoon Gi yang terlihat menatap gurunya tajam.

“Maaf, Bu. Apa maksudnya sekolah ini akan diakuisisi? Oleh Valley?” Yoon Gi mengangkat tangan, sedangkan gurunya mendengus karna si murid lebih tertarik pada masalah memprihatinkan sekolah daripada pelajaran.

“Ya, diambil alih. Dan aku yakin dengan IQ kalian ini kalian akan terlempar di kelas C,” ketus gurunya. Yoon Gi hanya terdiam, pada dasarnya dia tak peduli pada pluvio yang sekarat. Dia hanya tertarik saat mendengar nama itu.

“Sial…,” desisnya.

***

Orang-orang bilang tempat ini adalah bumi kedua. Entahlah, mungkin karna pada kenyataannya kota Macity memang sangat terkenal dan keren. Terlebih kota ini memiliki kompleks sekolah di mana TK, SD, SMP, SMA bahkan Universitas berjajar layaknya toserba dan mall. Dan dari semua sekolah itu, Valley High School adalah icon untuk kompleks semua sekolah yang berdiri kokoh.

Jika berada di ujung komplek sekolah Macity, kita akan menemukan gedung Pluvio High School yang selalu lengang. Dan di sebelahnya adalah Valley High School, gedung dengan tiga tingkat dan halaman yang sungguh luas. Sekolah yang menjadi dambaan para anak-anak remaja yang sudah lulus dari sekolah pertengahan. Tapi pada dasarnya, sekolah ini tak ada bedanya dengan hutan rimba. Hutan… di mana kau harus melawan kenyataan untuk tetap bertahan.

Pagi di kota Macity memang selalu tampak indah, dengan keramaian kota yang bising namun sangat bersih dan memanjakan mata. Dan pagi yang sama selalu menyapa gedung Valley, yaitu hiruk pikuk siswa-siswi yang memasuki gerbang sekolah sambil berinteraksi dan… ya, kebanyakan dari mereka hanya menghabiskan tiap detiknya untuk membicarakan hal di luar pelajaran. Di antara banyaknya orang berlalu lalang, gadis itu tampak menonjol dengan keranjang kue yang dia bawa. Dia, si pahlawan super untuk para siswa yang melewatkan sarapan mereka.

“Fawn! Aku mau yang keju.”

“Aku yang cokelat!”

“Aku pesan dua. Aku lapar setengah mati!” Belum sempat gadis itu memasuki area gedung, dia sudah terhenti karena kerumunan siswa kelaparan yang berharap roti kesayangan mereka ada di keranjang, keranjang yang mereka lihat sebagai kantung Doraemon. Fawn hanya tersenyum, menyodorkan keranjang kuenya agar mereka bisa memilih sendiri apa yang mereka mau. Valley jelas memiliki kantin, tapi sensasi sarapan di kantin yang harga makanannya sama dengan harga restaurant Macity membuat beberapa siswa dengan uang jajan pas-pasan berpikir ulang. Tak semua siswa berasal dari anak konglomerat yang selalu makan cafiar, jika boleh jujur.

“Terima kasih. Aku akan bawa lagi besok.” Fawn tersenyum senang memandangi roti-roti yang tergigit karna nafsu lapar yang menjadi dari beberapa siswa. Mengantongi beberapa lembar dollar penghasilannya dan berjalan melewati lorong untuk pergi ke kelas. Dia memang terkenal di antara kelas lain karena kue, penyelamat bagi para siswa yang absen dari sarapan dan malas ke untuk kantin.

Selain julukan super hero siswa kelaparan yang tersemat di dadanya, dia adalah siswa kelas II A. Kelas A yang menjadi idaman banyak siswa di sana, kelas dengan fasilitas lengkap dan mewah yang hanya didapat oleh pelajar dengan IQ tinggi dan berprestasi atau pelajar yang punya uang lebih. Jadi, membayangkan sistem Valley dalam pembagian kelas sudah seperti membayangkan bentuk piramida dalam berbagai konteks. Yang bisa memanjat akan naik, dan yang tidak akan tetap di bawah.

Langkah Fawn terhenti di depan pintu yang terbuka, mengembuskan napas pelan menatap papan kecil di atasnya yang bertuliskan 2-A… kelasnya. Hari-harinya terkadang menjadi sangat sulit di ruangan ini, bahkan jika bukan karna mimpinya yang menggebu-gebu… dia akan memilih tinggal di kelas B yang aman damai dan tentram. Lagi, dia mengembuskan napas dan berdoa agar hari ini lebih baik walau dia rasa harinya selalu sama. Satu langkah dia awali dengan senyuman kikuk, karena tak akan mengerti apa saja yang mungkin terjadi padanya yang hanyalah golongan beasiswa di kelas bonafit itu.

“Fawn, kuemu masih?” seseorang dari meja paling depan menyeletuk dengan raut hampir mati. Satu lagi golongan absen sarapan yang mewarnai hari senin yang menyebalkan.

“Tinggal dua rasa cokelat. Kau mau, Haru?” Fawn menghampiri meja Haru yang terletak di baris kedua dari pintu, berdiri disela-sela meja pojok kanan depan dan meja Haru. Wajah Haru berbinar dan berniat menyerbu bungkusan makanan itu sampai kemudian seseorang menyerobot jalan dan menjatuhkan kue mereka. Terdengar suara plastik terinjak walau pemilik kaki itu masih enggan berpaling dari ponsel yang sedari tadi menemani jalannya. Ya, pria yang berjalan sambil memandangi ponsel tanpa menghiraukan yang dia tabrak dan injak.

“Maaf,” gumamnya singkat yang akhirnya menoleh pada dua gadis setelah memberikan beberapa lembar dollar ke meja Fawn yang berada di baris ketiga dari meja Haru, melenggang pergi seperti tak terjadi apa-apa. Haru hendak memungutnya sebelum Taehyung, teman yang duduk di bangku belakang mengambilkan bungkusan itu untuknya.

“Orang kaya dan ponsel mereka, sudah abaikan saja,” Taehyung tersenyum dan berbisik, memberikan kue itu pada Fawn yang pada akhirnya hanya melempar ke tempat sampah di dekat pintu. Helaan napas berat meluncur dari mulutnya.

“Namjoon memang menyebalkan,” bisik Haru yang langsung mendapat kekehan dari Fawn.

“Yeah, ini sudah ketiga kalinya kueku dibayar untuk diinjak… oleh orang yang sama,” sahut Fawn dengan cengiran jengah dan memilih untuk duduk di bangkunya. Setidaknya Namjoon selalu mengganti rugi, walau terkadang rasa kecewa muncul karna Namjoon selalu mengulangi dan menatapnya tanpa rasa bersalah.

PLUK

Sebuah tangan besar menyapa kepalanya. Dia melirik ke samping kiri di mana gerombolan siswa berseragam olahraga berkerumun di sana. Hatinya meruntuk, dia tidak ingat jika dia duduk di depan bangku setan paling nakal di kelas. Harusnya dia datang saja tepat saat bel agar manusia-manusia itu tidak menggangu. Seketika dia merunltuk karena saat masuk kelas A, dia benar-benar tak bisa belajar dari pengalaman.

“Belikan aku makanan di kantin, cepat!” Fawn ingin sekali mendengus, tapi akan jadi masalah besar jika dia menunjukan raut kesal sedikit saja. Bahkan kadang bernapas pun akan dikritik oleh pria yang saat ini menepuk-nepuk kepalanya kasar.

“Sebentar lagi bel berbunyi Jimin, Ja—”

“Belikan atau tidak?” Jimin mendekatkan wajah dengan tatapan mengancam, membual Fawn menelan ludah. Sial, terakhir dia menolak perintah Jimin dia harus rela tasnya penuh dengan sobekan gunting. Ah iya, kenalkan… Jimin, King of A class. Namun Fawn menganggapnya sebagai urban legend yang mungkin lebih menyeramkan dari sosok hantu Slenderman.

“Suruh dia beli spring roll juga untukku, kelas dimulai setengah jam lagi, ‘kan? Ada pembagian ulang tata kelas untuk kelas C dan para guru pasti berpura-pura sibuk hari ini.”

“Jungkook, kau sudah makan tiga porsi ramen tadi, yang benar saja!” Dua orang di belakang Jimin terlihat berdebat. Fawn melirik salah satunya dengan raut kesedihan sebelum yang dilirik tersadar.

“Sudahlah Jim, bukannya kau penasaran dengan murid Pluvio yang akan dipindahkan ke mari? Kau tak ingin keluar melihat daftar kelas mereka yang dimulai besok di mading?” siswa yang dilirik Fawn tadi menginterupsi. Terlihat name tag Hoseok tertempel di seragamnya. Jimin mendengus, kehilangan moment menyiksa siswa beasiswa dan memilih melepaskan tangan yang sedari tadi mencengkram kepala Fawn.

“Pokoknya belikan untukku!” Jimin mengeluarkan kartu kredit dan menaruhnya di kepala Fawn dengan iseng, membuat beberapa siswa yang ada di kelas terkikik. Haru dan Taehyung hanya menatapnya dengan raut tak tega. Tapi tak ingin membuat masalah, karna jika mereka membela Fawn… semuanya akan jadi lebih rumit karena Jimin memang sudah suka mencari masalah dengan Fawn sejak masuk sekolah, walaupun tak sesering saat Fawn masuk kelas A. Tanpa Fawn sadari, Hoseok melemparkan jaket pada Haru seenaknya. Dan beranjak mengikuti Jimin dan Jungkook.

“Cucikan ini! Kau menjatuhkannya kemarin, ‘kan?” Haru hanya terdiam tak menjawab. Dia mengambil jaket itu, ini lebih baik daripada harus mengganti rugi. Padahal dia hanya menjatuhkannya di lantai kelas, apa kau pikir kuman dan bakteri lantai yang sudah di pel akan membunuh Hoseok? Dasar orang kaya! Lagi, dia melirik sang teman yang malang itu setelah Hoseok melempar singkat jaketnya dan berlalu pergi.

Fawn adalah yatim piatu, Ayahnya yang notabene saingan Ayah Jimin sudah bangkrut sejak dia SMP. Dan alangkah sial dia bertemu dengan Jimin yang memang sudah tak menyukainya sejak mereka satu sekolah sejak SD. Dan bukankah pemandangan yang indah melihat orang yang tak kau sukai terpuruk? Tapi kadang Haru merasa ini terlalu berlebihan, gadis itu bahkan tak pernah berbuat salah pada siapa pun. Namun dia mengerti, mereka hanyalah murid yang bertahan di kelas mewah karna uang donatur.

“Apa aku dilahirkan untuk dibenci orang? Ck, saus tartar!” Fawn mendengus, beranjak dari kursinya dengan malas. Haru hanya bisa tertawa garing melihat temannya itu mengumpat sambil keluar dari kelas. Fawn menghilang di balik pintu, dan Haru langsung menoleh pada bangku Taehyung yang terlihat melamunkan sesuatu.

“Sepertinya dia tidak bisa ditinggalkan sendirian dengan keadaan seperti itu, Taehyung.” Haru mencolek tangan  Taehyung  yang langsung  terkaget dan mengangguk mengerti. Akhirnya Taehyung menyusul langkah Fawn yang sudah mulai menjauh.

***

Fawn berjalan dengan raut pasrah, tangannya penuh dengan makanan pesanan Fucoo, gang yang diketuai oleh Jimin. Baiklah, sebenarnya ini sudah menjadi keseharian semenjak dia masuk kelas A, itulah kenapa kadang dia bersembunyi sampai bel masuk berbunyi untuk menghindari Jimin. Walau terkadang… Jimin menemukannya.

“Dia bahkan tak bilang ingin pesan apa, dasar bedebah!” gerutunya pelan. Dia terjebak di antara dua pilihan; membelikan Jimin sesuatu atau mengembalikan kartu kredit itu dengan tangan yang kosong. Yang pastinya pilihan kedua akan jadi masalah untuknya. “Harusnya aku beli makanan juga dengan kartu kreditnya, aku yakin dia tak akan mengecek berapa besar uang yang habis kugesek. Haha.”

Fawn berjalan sambil tertawa getir, membayangkan hal-hal tak masuk akal yang mungkin saja dia lakukan dengan kartu serba guna di tangannya itu. Tapi sudahlah, dia hanya ingin hidup tenang… walaupun dia mungkin tak akan ketahuan jika membeli sebotol minuman dengan kartu itu. atau bahkan membeli sepaket makanan mewah dan memakannya bersama dua sahabat.

Dia terus berjalan sampai matanya tertarik pada kertas yang tertempel di mading sekolah. Langkahnya terhenti kala dia membaca kata ‘pluvio’ terpatri di sana. Dia terdiam sesaat, kemudian senyuman mengembang sempurna. Dia membaca satu persatu huruf yang ada disana untuk memastikan penglihatan.

“Kakak…,” lirih Fawn memandang daftar nama yang tertera di sana.

“Apa yang kaupandangi?” Senyum Fawn memudar seketika saat mendengar suara tak asing mengintrupsi. Ah yang benar saja, kenapa dia selalu bertemu dengan orang-orang ini di mana-mana? Genk Fucoo ibarat hantu bagi Fawn, bentuk dari mahkluk horror yang tak ingin dia temui sepanjang hidupnya. Dan jika dia ingin, dia berharap mereka semua hanyalah mitos.

“Siapa yang menyuruhmu membelikanku salad buah?!” Untuk kesekian kali, Fawn berusaha menahan amarah agar tak menonjok manusia di depannya ini. Dia berada dalam kenyataan bahwa dia terlahir hanya untuk menjadi dayang di sekolah ini. Jadi, mengabdi pada King yang kejam sebagai hamba tidaklah buruk, selama dia bisa hidup tenang dan tak di keluarkan dari istana… begitu cara Fawn menganalogikannya. Tapi ini sungguh jadi teramat menyebalkan jika rajanya sangatlah otoriter!

Fawn berusaha menetralkan emosi. Dia sangat tahu siapa orang di depannya ini sejak kecil. Dia benci berdebat dan dia tidak peduli apa yang sebenarnya ada di otak laki-laki bernama Park Jimin itu. Kadang dia berpikir harinya sudah terlalu melar dan lebar untuk memaklumi, tapi kenyataan tetaplah kenyataan bukan?

Satu-satunya yang ingin dia lindungi adalah mimpinya untuk bisa masuk olimpiade, mendapat fasilitas kelas A dan masuk universitas secara gratis dan dibayarkan penuh oleh Valley jika berhasil mempertahankan prestasinya di kelas A baik akademik maupun non akademik. Itulah kenapa tidak mencari masalah adalah jawaban yang tepat untuk kelangsungan hidupnya. Karena anak pendonatur paling tinggi itu bisa melakukan semuanya jika sang ayah berkehendak.

“Kau ada jadwal pertandingan pagi ini. Kau suka steak tapi itu terlalu berat… kupikir kau hanya ingin makan karna bosan, sungguh aneh orang sepertimu tidak disediakan sarapan di rumah. Jadi kupikir salad buah sedikit ringan untuk cemilan.” Jimin terdiam, Jungkook dan Hoseok yang ada dibelakangnya pun saling melirik. Okay, Fawn benar-benar hampir mirip dengan dayang kerajaan yang harus menghapal selera bangsawan yang dilayaninya.

“Jangan sok tahu!” Jimin melotot kesal dan merebut salad buah serta jus guava favoritnya. Sebenarnya wajar saja, bukan hal yang sulit menebak makanan favorit Jimin karna dia sudah jadi ‘kacung’ yang selalu membelikan tuan muda itu makanan untuk waktu yang cukup lama. Jungkook hanya menatap aneh pada Jimin yang langsung kabur membawa makanannya.

“Hah, anak itu selalu saja. Mana pesananku?” Jungkook ikut menagih makanan, mengulurkan tangan pada Fawn yang terlihat membawa spring roll kesukaannya. Bocah tengil ini memang selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan agar bisa makan gratis dengan kartu kredit Jimin, apalagi kantin memang gudangnya makanan buatan para chef yang handal. Dasar licik!
Jungkook menyusul Jimin tanpa ucapan terima kasih sama sekali, membuat Fawn menunduk canggung saat hanya tersisa Hoseok di sana.

“Ini.” Fawn merogoh saku baju, memberikan kartu kredit Jimin pada Hoseok dan melenggang pergi begitu saja tanpa mau menatap pria di hadapan. Hoseok hanya bisa menatap Fawn menjauh walau kakinya masih terpaku di depan mading, menatap sendu pada Fawn.

***

Taehyung tak menemukan Fawn sama sekali, dia bahkan heran kenapa gadis itu selalu menghilang layaknya pemain bayangan Kuroko no Basuke. Bahkan kantin sangat penuh saat pagi, membuatnya sulit mencari sosok kecil itu di kerumunan para siswa yang kelaparan. Apa orang-orang kaya itu tidak pernah sarapan? Seketika Taehyung bersyukur pada Tuhan karna punya ibu yang selalu memperhatikan makanannya secara teratur.

BRUKK

Kesialan menimpa saat dia berbelok di persimpangan lorong. Taehyung menubruk gadis yang sepertinya sangat dia kenal. Dan untuk sepersekian detik dalam hidupnya, dia menginginkan mata sharingan milik Uchiha karna sudah jengah dengan kecerobohannya. Dan kenapa juga harus gadis ini?

“Ugh! Taedoo! Kau mengotori bajuku!” Gadis yang baru saja Taehyung tabrak mendengus kesal sambil menunjuk-nunjuk Taehyung dengan jemarinya. Taehyung hanya menatap datar, tak ada tatapan yang terlalu berarti saat gadis ini mengumpat. Telinga Taehyung sudah terlalu kebal, rasa-rasanya dia ingin langsung pergi tanpa peduli padanya… tapi Taehyung masih punya sopan santun yang selalu ibunya ajarkan.

“Sudahlah Yerin, lebih baik kita masuk kelas.” Gadis dengan nametag Rose menenangkan temannya. Rose sudah terlalu keberatan membawa dua tas sekaligus; salah satunya adalah milik Yerin. Dia bahkan penasaran Yerin membawa apa saja ke sekolah, kenapa seberat ini?

Yerin melirik tajam pada Taehyung yang hanya terdiam setelah meminta maaf dengan singkat. Raut tak ingin memperpanjang masalah terpatri jelas di wajah Taehyung.

“Ingat ya Taedoo! Jangan membuat masalah denganku lagi!” ancam Yerin kesal yang hanya direspon dengan tatapan datar oleh Taehyung. Namun semua rasa kesal Yerin makin membludak saat dia melihat sudut kanan bibir pria itu tersungging ke atas samar.

“Bukankah kau yang selalu cari masalah denganku, Noa?” Taehyung menusuk telinga Yerin dengan pertanyaan retoris. Membuat Yerin terdiam dan Rose hanya menatap keduanya jengah. Oh, jangan mulai lagi… pikir Rose.

“Dan juga, Aku sudah mandi dan aku bukan bakteri coli atau semacamnya. Lihat sisa saus di bajumu itu? Kau lebih kotor dariku.” Telinga Yerin semakin perih. Tusukan tajam yang tersiram oleh air garam mengibaratkan sakit. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa, Taehyung bisa saja jadi racun jika dia terlalu macam-macam walaupun Taehyung murid beasiswa.

“Kau tahu, aku bisa saja menendang ibumu jika aku mau.” Gigi Yerin bergemelatuk, menatap bengis pada wajah datar Taehyung yang seakan mengejek dengan siratan sarkastis.

“Kenapa tidak kaulakukan saja?” Skak mat. Yerin sudah tak dapat berkata-kata lagi, bahkan untuk Rose yang merupakan satu-satunya orang yang tahu ikatan mereka. Keheningan melanda mereka beberapa saat karna tatapan Taehyung yang seakan tak mau lepas untuk mempermainkan emosi Yerin.

“Taehyung! Apa kau sudah menemukan Fawn?” Haru berlari ke arah mereka, membuat ketiga orang yang bersiteru itu menoleh ke arah suara. Untuk sepersekian detik, Rose tertegun menatap jaket yang Haru pakai. Jaket Hoseok, pikirnya.

“Belum, dia pasti pergi menyendiri lagi. Sudahlah,” jawab Taehyung. Dia menarik Haru untuk menjauh sebelum Yerin dan temannya mengumpat kata kasar–sangat membuang waktu mereka. Rose menatap gadis dengan jaket mahal itu dengan tatapan cemburu, sedangkan Yerin sudah mengeluarkan amarah dengan mengumpat kata ‘bedebah’ berkali-kali.

“Aku benci parasit seperti mereka, sial!”

***

“Jangan menatapku seperti itu! aku hanya ingin merasakan rasanya memakai jaket mahal!” Haru mendelik saat Taehyung memandangnya sinis. Ingin rasanya menyalahkan sikap norak Haru yang malah memakai jaket itu ke mana-mana. Dia sudah tahu tabiat Hoseok sejak lama dan sangat tahu hal itu malah membuat Fawn semakin sedih.

“Benda apa lagi yang kautemukan di sakunya?” tanya Taehyung datar. Menebak-nebak hadiah yang akan Hoseok berikan pada Fawn melalui mereka. Mereka memilih berjalan kembali ke kelas karna tidak menemukan Fawn yang mereka cari. Haru merogoh saku jaket itu sambil terkikik, terkadang dia berharap bisa memiliki pangeran seperti Hoseok. Ya, Hoseok adalah pria yang rumit. Kadang dia menyuruh Haru mencuci, menyemir sepatu ataupun menyuruhnya pindah meja sebentar karna Hoseok bosan duduk di belakang. Alibi beragam hanya untuk menyelipkan voucher ataupun hadiah kecil untuk temannya, Fawn.

“Ini voucher untuk menebus pentab. Woah demi kolor hulk yang tak pernah dicuci! Kemarin Hoseok membelikan laptop keluaran terbaru dan berpura-pura menyuruhku menyemirkan sepatunya dan menyelipkan voucher di dalam! Orang macam apa dia itu? Ha?” Haru berdecit dengan geram melihat harga yang tertera di sana. “Bukan Cintiq memang, tapi jika aku yang beli… pasti butuh waktu seratus tahun untuk membayar.”

Aminkan saja jika Haru sangat iri, tapi sebenarnya dia turut senang. Taehyung hanya terdiam, Hoseok masih terlalu pengecut untuk berteman dengan Fawn secara blak-blakan. Dan tentunya ini menyangkut ketua A class Park Jimin yang kekayaan orang tuanya tak sebanding dengan keidiotan otak. Kadang hal seperti itu membuat Taehyung tak habis pikir.

“Kita harus bersabar sekitar satu tahun lebih, teman-teman yang mendapat beasiswa yang lainnya memilih pindah ke kelas B karna tertekan dengan mereka. Tapi aku tak bisa meninggalkan ini semua, mimpiku lebih besar. Aku tidak akan bisa belajar bahasa asing dengan baik tanpa fasilitas komputer individu di setiap meja murid dan CD tutorial mahal yang bebas dipinjam oleh para siswa kelas A,” Haru mengeluh pelan. Walau kemudian berusaha menghibur dirinya yang penat dengan mencium jaket wangi Hoseok. Ah, walau dia bertindak pengecut seperti itu, Hoseok tetaplah keren untuknya.

“Kau tahu? Jika kalian tidak keras kepala dengan impian kalian, aku akan dengan senang hati akan menikahkan diriku sendiri dengan kelas B yang nyaman, daripada mengawasi kalian yang selalu membuat khawatir.” Haru merespon ucapan Taehyung dengan kikikan geli. Merasa sedikit terharu dengan perjuangan Taehyung untuk menemani mereka. Namun dia tak cukup bodoh untuk tahu bahwa Taehyung juga punya mimpi. Taehyung menatap langit-langit lorong dan tersenyum tipis. “Walau aku tahu Fawn akan sedih menerima, tapi kurasa ini langkah yang bagus. Fawn selalu bermimpi menjadi desainer dan illustrator kan? Sepertinya Hoseok tahu sangat banyak, walau Fawn tak pernah mau menceritakan apa pun.”

***

Fawn berjalan memasuki kelas tepat saat bel berbunyi, membuat Taehyung dan Haru yang menunggunya bernapas lega. Dia duduk di bangku tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan hanya menepuk kedua pundak temannya sambil tersenyum tipis.

“Bahkan pagi ini terasa seperti seratus tahun,” gumamnya dalam hati. Dia penat, bahkan hanya menganggap obrolan teman-teman kelasnya yang suka bergosip sebagai angin lalu. Di kelas mana pun itu, biang gossip dan orang cerewet memang selalu ada untuk meramaikan suasana.

“Sudah kubilang, ‘kan? Mereka hanya akan masuk kelas C. Pluvio tempat pecundang, ‘kan?”

“Kudengar wali kelas baru akan memperkenalkan diri hari ini? Aku juga dengar dia masih sangat muda.”

“Yak Jimin! Kudengar Ayahmu menjadi donatur paling tinggi untuk pembangunan gedung baru di area Pluvio.” Fawn hanya memandang jengah langit-langit. Bisakan orang-orang ini berhenti mengoceh? Apalagi mengocehkan Jimin, tak tahukan itu hanya akan membuat pria itu jadi besar kepala?

“Wah Namjoon… produk ayahmu benar-benar sangat nyaman. Joa Fashion akan menggelar pameran busana, ‘kan? Apa ada undangan resmi? Aku ingin ke sana?” Celotehan terakhir salah satu siswa berhasil mengalihkan perhatian Fawn. Gadis itu menatap ke arah Namjoon yang duduk bersebelahan dengan bangku Yerin. Kim Namjoon, siswa jenius dan juga sangat beruntung. Walaupun dia anak orang kaya, dia terlihat belajar dengan giat, hal yang membuat Fawn sangat kagum.

“Yerin dan Namjoon akan jadi modelnya juga, ‘an? Ck, tipikal pasangan muda yang terikat bisnis dan hutang budi,” celoteh Jimin yang langsung dapat lirikan jengah dari Fawn. Ya ampun, manusia di belakangnya itu memang benar-benar tak tahu kapan dia harus berhenti berbicara. Tapi Namjoon yang disindir sepertinya tak begitu peduli, memilih mengalihkan perhatian dengan menawarkan beberapa baju ternama yang ada di majalah untuk Yerin. Jimin memang penceloteh sejati, tidak ada gunanya meladeninya.

Dan ya, mereka adalah sepasang kekasih. Bahkan masuk di situs popular internet karna orangtua mereka berpengaruh pada ekonomi negara. Delusi demi delusi mereka suguhkan pada banyak pasang mata yang melihat keserasian mereka. Termasuk Fawn, yang hanya bisa tersenyum menatap pria tinggi itu. Rasanya kehidupan Namjoon begitu sempurna di mata Fawn, sesempurna postur tinggi dan lekik manis di pipinya.

“Apa yang kau lihat? Berhenti menoleh!” Jimin menegakan kembali kepala Fawn dengan penggaris, Namjoon sempat melirik sekilas saat Jimin berteriak membentak gadis itu. Dia bisa secara jelas melihat ekspresi kesal Fawn walau gadis itu tak mengucapkan sepatah kata pun dan memilih menuruti Jimin untuk menghadap ke depan.

“Dasar Jimin, harusnya dia tendang saja gadis itu dari kelas A.” Yerin mencibir sikap Jimin yang menurutnya terlalu kekanakan. Murid beasiswa memang selalu menjadi bulan-bulanan di kelas, tapi tetap saja Yerin kepalang jengah dengan arogansi Jimin yang bahkan kadang membully murid lain yang jabatan keluarganya lebih rendah.

“Kau kasihan padanya?” tanya Namjoon, melirik Yerin yang hanya menunjukan cengiran remeh sambil menatap sang kekasih.

“Kasihan pada murid beasiswa yang menikmati fasilitas mewah menggunakan uang kita? Haha, Aku hanya benci dia karna aku tak bisa mengaturnya seperti murid lain karena Jimin.” Namjoon hanya tersenyum tipis, pada dasarnya sang kekasih sama saja tabiatnya dengan Park Jimin. Rose yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka menoleh sedikit pada gadis itu, seringaiannya melebar.

“Tidak ada satu pun yang boleh menyentuh milik Jimin, bahkan jika itu hanyalah budaknya,” desis Rose pelan. Matanya masih menatap bangku paling depan di mana Haru terlihat melipat jaket Hoseok dengan sangat rapi. Dia mendengus, “Aku bahkan tak bisa mengerti dengan selera dari anggota gengnya.”

Suara decitan pintu tebuka, pria tinggi yang membawa beberapa buku di tangan masuk sembari memberikan sapaan singkat. Untuk sesaat, kelas menjadi hening. Bahkan dia bisa melihat dengan jelas beberapa siswi terpaku saat melihatnya. Jungkook berdecak remeh, sepertinya saingannya dalam hal ketampanan bertambah berat. Jungkook berbisik pada Hoseok yang duduk di sebelah, “Jadi ini wali kelas yang baru?”

Guru itu maju ke tengah- tengah dan tersenyum manis. Memerhatikan satu per satu meja di mana semua yang siswa yang dia bimbing duduk dalam diam.

“Halo anak-anak. Namaku Kim Seokjin. Aku adalah wali kelas kalian sekaligus guru bahasa inggris yang baru. Aku tak bisa berbasa-basi jadi… mari kita mengabsen satu persatu untuk berkenalan.” Dia mengeluarkan buku absen yang wali kelas terdahulu berikan dan mulai menyebut nama-nama yang tertera di sana. Satu per satu siswa berdiri dan membungkuk ke arahnya dan memperkenalkan nama panggilan mereka.

“Kwon Fawn.”

Fawn berdiri dari kursi dan membungkuk saat namanya dipanggil, menyerukan nama panggilan serta tempat tinggal. Seokjin menatap Fawn saksama dan berusaha untuk menghafal wajah murid-muridnya. Tapi dia mulai tertarik pada pemandangan di belakang, Park Jimin yang dengan iseng menempelkan permen karet ke bangku Fawn saat Fawn berdiri.

Seokjin hanya menahan senyum remeh dan mengenterupsi gadis itu saat dia hendak duduk kembali setelah memperkenakan diri.

“Fawn, bisa kauambilkan berkasku yang ada di ruang guru? Ini penting.” Fawn terdiam sebentar dan mengangguk mengerti, sementara Jimin hampir mengumpat karna Fawn tidak jadi duduk dalam jebakannya.

Saat Fawn keluar Seokjin kembali mengabsen satu persatu sambil berjalan ke arah meja Fawn.

“No Minwoo.”

Jimin hanya diam dengan tatapan sebal melihat guru itu mengabsen sambil menyeret kursi Fawn ke depan dan menggantinya dengan miliknya. Guru itu terus mengabsen tanpa menghiraukan raut bingung dari beberapa murid. Sebagian dari mereka berbisik tentang kelakuan Seokjin yang terlihat menyelamatkan pantat Fawn dari permen karet.

“Park Jimin.”

“Guru itu menantangku ya,” desis Jimin sebal, dia bahkan tak mau berdiri dan hanya terus diam, walau Seokjin tak menggubris hal itu.

“Park Jimin?” tanya Seokjin lagi saat tak ada jawaban. Jimin berdiri dengan malas pada akhirnya, menatap jengah dengan gaya arogan. Membuat Seokjin tersenyum penuh arti.

“Panggil saja saya Jimin,” ketusnya dan menghempaskan tubuh kembali ke kursi dengan kesal.

“Fawn dan Jimin.” Seokjin hanya memiringkan kepala sambil mendesis. Tapi sepertinya dia menemukan sesuatu yang menarik.

“Anak donatur terbesar ya,” gumamnya.

***

Pagi yang indah harus dirusak dengan kenyataan bahwa sekolah Min Yoon Gi diakusisi hari ini. Yang berarti dia harus masuk ke dalam sangkar emas di mana tidak akan ada hari-hari tenang seperti biasa. Min Yoon Gi menghela napas. Memilih untuk tetap berada di kamar tidur adalah pilihan yang bagus, namun jika semua guru serempak meneror alat komunikasi yang dia punya tentu saja hal itu menjadi sia-sia.

Dan di sinilah dia saat ini. Mematung menatap bangunan Valley High School yang megah, yang agung dan yang-yang lain. Astaga. Berapa kali dia mengucap kata sama di kalimat tadi?

Diam, berjalan, memilih tidak mencolok sama sekali. Mungkin sebaiknya Yoon Gi harus menghindari pertikaian demi hidup damai di tempat seperti ini. Selamat datang di Surga Pelajar. Atau mungkin dia harus menyebut, selamat datang di Kandang Singa.

“Min Yoon Gi,” ujarnya datar tanpa ekspresi. Dia benar-benar malas sekadar memperkenalkan diri. Yoon Gi membungkuk singkat, membuat guru di sampingnya membulatkan mata.

“Ah. Baiklah, silakan duduk di tempat yang tersisa. Selamat datang di Valley High School anak-anak.”

Kembali lima kepala mengangguk serempak. Yoon Gi duduk di bangku paling belakang. Bangku paling strategis untuk tidur karena berada di belakang pria bertubuh gempal yang menyunggingkan senyum aneh. Pria itu menghadap Yoon Gi, mengulurkan tangan seraya berkata, “Namaku Yong Joon Hwa, jika kau ingin tahu.”

Yoon Gi mengangguk membalas jabat tangan pria gempal itu. Matanya sudah cukup berat terlebih di depan sana pelajaran matematika tengah berlangsung. Astaga, bisakah dia mengisi tenaga sejenak?

***

Sejauh mata memandang Park Jimin menyunggingkan senyum. Dia tahu pasti ada yang menarik di antara beberapa manusia baru yang diakuisisi ke Valley. Dan dia menemukannya. Seorang dingin yang sepertinya menarik untuk dipermainkan. Seorang yang menggugah jiwa penindas Jimin bangkit.

Senyum pria itu tidak jua pudar bahkan hingga masuk kelas. Mainan barunya kali ini pasti lebih menarik. Ji Min mengambil bolpoin Fawn, menaruh di atas kepala sang gadis membuat sebagian teman yang menyaksikan polah keduanya terkikik geli. Sementara Fawn hanya bisa mendengus bosan.

“Fawn, bisa membantuku sebentar?” suara dari depan kelas menginterupsi Fawn. Dia yang dalam keadaan tidak siap langsung berdiri, membuat bolpoin yang bertengger manis di rambut terjatuh. Menggelinding tepat di depan kaki kiri Ji Min.

“Ya?” Fawn mengeluarkan suara menatap pria lesung pipi dengan tumpukan buku di tangan. Mengerti akan bantuan yang dimaksud, Fawn langsung beranjak meninggalkan kursi. Tidak membiarkan Nam Joon menunggu lebih lama.

Iris jelaga menatap pergerakan kecil Fawn berapi-api. Bagai anak kecil kehilangan mainan favorit, Jimin berteriak, “Kau akan mendapat masalah, Nona Kwon.”

Sementara Fawn membagi jumlah buku dengan Namjoon menelan ludah kasar. Dia tahu Jimin pasti tidak akan tinggal diam. Tapi toh dia tetap beranjak meski tahu tidak bisa selamat dari ancaman.

“Apa masalahmu, Jimin? Aku keberatan kau menghukum Fawn hanya karena dia membantuku mengumpulkan tugas.” Tanpa diduga Namjoon ikut meninggikan suara. Drama kecil seperti ini harus menjadi besar karena penghuni kelas kontan menghadap ketiganya.

“Semua orang tahu Fawn adalah milikku. Kau tidak bisa seenaknya memerintah kepemilikan Jimin begitu saja!”

Namjoon mendecih, memberi sesungging senyum timpang pada Jimin. “Dia bukan milikmu,” bahkan menekankan kata ‘milikmu’ lalu berjalan keluar diekori Fawn.

Ji Min menghentak sepatu kasar, memilih duduk di bangku dengan emosi meluap.

###

Seluas mata memandang Yoon Gi tiada henti berdecak kagum. Siapa menyangka sekolah yang mengisi angka satu dalam daftar hal-hal dibenci memiliki tatanan semewah ini. Yoon Gi bahkan melupakan fakta bahwa lima menit lalu dia ditendang keluar karena kedapatan tertidur saat pelajaran.

Sebenarnya Yoon Gi tidak ingin terlihat kagum menyaksikan pemandangan di hadapan. Namun dia juga tidak bisa berhenti menganga manakala melintasi ruang-ruang berbeda. Ada area hotspot dengan banyak pengguna juga laptop bermerek mereka. Bahkan Yoon Gi tidak bisa menemukan merek sama dengan laptopnya di rumah yang dia beli saat discount besar-besaran.

Lebih dari itu Yoon Gi justru makin tercengang ketika kaki-kakinya mengajak singgah di kantin. Benar-benar surga seperti kata orang kebanyakan. Yoon Gi bahkan berpikir jika stadion bola di Macity sama besar dengan kantin sekolah. Ah. Yoon Gi jadi terlalu banyak berpikir hanya karena mencari lapangan.

Sudah empat kali tersesat karena terlalu banyak jalan pintas menyulitkan baginya. Kali ini Yoon Gi menuruti kalimat pertama yang muncul di benak; belok kiri. Segera dia menjajaki langkah sembari berdoa agar ia tidak lagi menemukan hal menakjubkan yang membuat mulut sialan kembali menganga.

“Aku bahkan bisa tidur nyenyak di toilet ini karena terlalu mewah,” komentarnya. Takjub melihat bangunan megah bertuliskan toilet di hadapan. Tidak ingin berlama-lama di tempat yang kini dipenuhi beberapa gadis Yoon Gi meneruskan langkah. Berharap jika dia terus berjalan lurus akan mendapat keberuntungan menjumpai lapangan.

***

“Kakak…,” Fawn memekik ketika melihat Yoon Gi mendribble bola basket lalu memasukkan ke ring. Dia mematung di samping lapangan, sejenak, lalu bergerak mendekati pria kulit pucat yang masih setia dengan bola di tangan. Selepas membantu Nam Joon mengumpulkan buku tugas Fawn izin sejenak hendak ke toilet. Namun belum sempat terealisasi irisnya sudah terlebih dahulu menangkap sosok sang kakak.

“Kakak, bagaimana Valley? Apa kau suka? Kau sudah mendapat teman baru?” Rentetan pertanyaan timbul dari bibir Fawn. Membuat Yoon Gi yang hendak kembali melayangkan shoot menghentikan kegiatan. Pria itu menatap Fawn yang masih berbinar menanti jawaban. Dia hanya mendecih, kembali memasukkan bola dalam ring.

“Kurasa kau perlu tahu banyak tentang sekolah ini. Kau tidak pernah mendengarkan pembicaraanku dengan Paman Seungri, jadi mari bicara hal-hal yang perlu kauketahui.”

Yoon Gi mendecih kembali. Seharusnya dia tidak menghabiskan waktu istirahat dengan bermain bola basket. Atau harusnya dia tidak menampakkan diri sekalian. Atau harusnya dia tidak perlu repot-repot mencari lapangan jika seperti ini. Mengapa gadis di hadapan sangat cerewet?

“Kakak….” Fawn masih tetap menatap berbinar. Baginya, berbicara dengan Min Yoon Gi begitu menyenangkan. Meski tidak dapat respon, gadis itu yakin Yoon Gi mendengarkan semua tutur kata yang ia ucap. Namun hal itu justru berbeda dengan Yoon Gi. Dalam berbagai alasan, dia tidak mau berbicara dengan Fawn. Gadis cerewet, menyebalkan dan tidak tahu tempat di mana dia berpijak.

“Jangan panggil aku kakak! Aku bukan kakakmu!” suara Yoon Gi naik beberapa oktaf, membuat siswa-siswi yang berlalu di sekitar lapangan menengok sejenak.

Lalu tepuk tangan menggema dari sudut lain. Park Jimin, Jung Hoseok serta Jeon Jungkook berdiri angkuh di sana. Menatap dengan seringai andalan, berjalan mendekati dua siswa yang jadi bulan-bulanan mereka.

“Wah wah wah. Tidak kusangka ada seorang yang bahkan rela melemparkan diri padaku di sini,” ujar Jimin masih bertepuk tangan. “Anak Pindahan, siapa yang mengizinkanmu memakai lapangan ini dan bermain basket?”

Tanpa seorang pun tahu tangan Hoseok menarik pergelangan Fawn, membuat gadis itu mundur beberapa langkah. Sementara Jungkook hanya mengulum senyum, sadar jika di hadapannya adalah calon bulan-bulanan Jimin yang baru. Tambah satu koleksi berarti tambah pula satu orang yang bisa dia suruh-suruh.

Ryu Yerin yang melintas bersama Rose ikut berhenti. Menatap lima orang di pinggir kiri lapangan yang sangat kentara tengah berseteru. “Kita berhenti sebentar,” tukas Yerin menghentikan tatapan curiga Rose.

“Tidak ada peraturan tertulis anak pindahan tidak boleh memanfaatkan fasilitas sekolah,” Yoon Gi berujar tenang. Mungkin bagi sebagian orang dia tengah berada dalam kesulitan, tapi toh biarkan saja. Seorang kaya seperti pria di hadapan perlu mendapat pelajaran berharga. Min Yoon Gi tidak akan mempan dengan gertak sambal seperti ini.

Jimin mendecih. Kentara jika dia tengah kesal setengah mati. Bagaimana bisa anak pindahan berani melawannya? Bagaimana bisa dia dibuat tidak berkutik dengan ucapan dingin itu? “Kau membuat dirimu sendiri dalam masalah, Anak Pindahan.”

“Terserah kau saja.”

Yoon Gi memberikan bola basket pada Jimin. Berlalu begitu saja seolah tidak pernah berhadapan dengan siapa pun. Yerin tersenyum timpang, sangat puas mengetahui fakta ada anak yang tidak mempan terhadap pesona mematikan Park Jimin. Ada hal lain entah apa yang menelusup dalam hati, menjelma menjadi perasaan hangat menganak-pinak.

“Kita adakan pertandingan satu lawan satu. Kau dan aku,” seruan Jimin menghentikan langkah Yoon Gi. Pria putih nyaris pucat itu berbalik, memandang sengit seorang angkuh yang beberapa detik lalu memberikan tantangan.

“Aku tidak bermain basket untuk meladeni tantangan orang kaya.”

To Be Continued…

A/N: Semoga nggak membosankan ya. Maaf untuk tokoh utama yang terlalu abu-abu. Love, Lonely Whale.
First collab setelah gak jadi collab tempo hari *plak* semoga menikmati cerita yg panjangnya ngelebihi jarak Daegu ke Seoul *plak (2) intinya selamat membaca! ;). Love, Nadhea Rain (Autumn Leaves *plak)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s