My Answer

My Answer

image

Title: My Answer
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Romance, AU
Length: Oneshoot
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain & Irma Yuliana

~~~

Story begin..

“Bisakah untuk kali ini saja kau berhenti bernyanyi?”

“Apa suaraku mengganggumu?”

Yoon Gi berbalik, menatap lelah ke arahku. Oh, dari tatapannya saja membuatku bersalah sudah mengganggu waktu istirahatnya. “Maaf aku hanya berusaha untuk menghiburmu. Aku….”

“Kau sungguh membuatku lelah.”

Aku semakin menundukkan kepala. Enggan menatapnya yang kini benar-benar memandangku dengan tatapan lelah. Haruskah aku pulang saja? Aku ingin berbalik, meninggalkan ia dengan kesendirian di sela waktu berharga miliknya. Namun belum sempat aku berbalik ia menggapai pergelangan tanganku, sedikit meremas yang menandakan ia memintaku untuk jangan pergi.

“Bisakah kau pergi setelah menyelesaikan permasalahan di antara kita? Ck! Kau seperti gadis yang tak bertanggung jawab setelah.…”

Aku mencebikkan bibir, menunggunya menyelesaikan kalimatnya hanya akan semakin membuat amarahku memuncak. “
“Bukankah aku sudah meminta maaf?”

“Meminta maaf dan lantas pergi begitu saja?”

Apa maunya pria ini? Jika ia lelah bersamaku seharusnya biarkan saja aku pergi sedari tadi, bukan malah menahan dengan memupuk amarahku seperti ini.

Yoon Gi adalah pria keras kepala, aku tahu itu. Tentu saja persahabatan yang kami jalin selama belasan tahun membuatku hapal dengan segala perangainya yang menyebalkan. Jika sudah seperti ini lebih baik aku diam, melontarkan segala bentuk kemarahan tentu saja akan berakhir sia-sia.

“Setelah membuat hatiku lelah mengejarmu, kau hanya bilang maaf tanpa berniat untuk memperbaiki hatiku yang patah, huh?”

Aku bergeming. Mataku membulat dengan refleks yang bahkan lebih cepat dari tarikan napasku sendiri. “Apa maksudmu, Min?”

“Lihatlah, bahkan kau pura-pura tak mengerti setelah bermain-main dengan hatiku.”

“Sungguh! aku tak mengerti apa yang kaumaksud. Aku….”

“Aku sudah sangat lama mencintaimu. Bukan hanya berlandaskan kata persahabatan, tapi lebih dari pada itu. Apa sekarang kau sudah mengerti?”

Terserah saat ini ia ingin mengataiku bodoh atau apa pun sesaat setelah gelengan itu kembali kuhadirkan. Aku bisa melihat dengan jelas raut wajah lelahnya. Entah lelah akan segala pekerjaan menumpuknya hari ini, atau lelah dalam artian lain.

“Aku juga, oh maksudku sejak kapan? Aku sungguh tidak tau, kau dan hatimu… aku….”

Kebodohanku yang lain untuk tergagap di hadapannya. Ah biarkan saja, asalkan semua bisa lebih jelas di antara aku dan Yoon Gi.

Tak ada konversasi apa pun setelahnya. Raut wajah pria di hadapanku ini kembali menghangat di sela senyumannya yang perlahan mulai terbit kembali. Aku bisa menjamin; senyumnya tak kalah indah dari panorama lembayung mentari terbenam yang tengah menjadi latar belakang kami saat ini.

“Aku harap cincin ini bisa menjelaskan semuanya.”

Yah… aku tahu… sahabat lelakiku ini bukan pembicara yang baik. Pun dengan segala raut wajahnya tak bisa terprediksi olehku, tentang perasaan seperti apa yang bersembunyi di hatinya. Tapi ia telah melakukan yang terbaik melalui segala sikapnya.

Ia yang memberiku perhatian berlebih saat aku tak bisa mendapatkannya dari kedua orang tuaku. Ia yang bahkan rela memberikanku mantel kesayangannya, saat ia sendiri pun tengah kedinginan di tengah musim bersalju. Ia bahkan rela meminjamkan bahunya semalam suntuk, memberikan kehangatan dari pelukan akan segala rasa sakit yang pernah orang lain hadirkan. Bahkan ia rela meminjamkan jemarinya yang baru saja terluka oleh pisau dapur untuk sekadar menghapus air mataku, air mata konyolku setelah mengiris bawang.

“Kau mau aku mengatakan apa?”

Sedikit mengusir keheningan dengan kalimat retorisku membuatnya semakin terlihat gugup. Aku menyukai saat-saat di mana aku bisa menggodanya, mengubah raut wajah datar itu menjadi lebih hidup.

“Kau bisa mengatakan apa pun, selama kau tidak membohongi perasaanmu sendiri.”

“Ayo kita main tebak-tebakan. Menurutmu jenis perasaan apa yang hatiku milikku untukmu?”

“Apa kau menggolongkan perasaanmu seperti spesies yang memiliki beragam jenis?” satu jentikan ringan jemarinya di dahiku sukses membuatku meringis. Aish, pria ini tak bisa diajak bercanda untuk saat ini ternyata.

“Berhenti mengulur waktu, Ye Rin. Jawab pernyataanku atau kau.…”

Jalan pikiran pria ini sungguh tak terduga. Sebelum sempat ia berbuat hal yang macam-macam padaku, sebaiknya aku harus segera menjawab pernyataan itu. Oh ayolah, aku benci mengatakannya secara gamblang, seharusnya ia bisa membaca perasaanku jika memang dia mencintaiku selama ini.

“Jadi?”

Aku menjinjitkan kaki, bahkan di saat seperti ini aku masih saja merutuki tinggi badannya yang menjulang seperti itu, membuatku harus menjinjit untuk menghadapkan bibirku ke telinganya.

Satu hembusan napas dariku di daun telinga membuatnya kegelian, sontak membuatku dihadiahi satu cubitan di perutku. Baiklah… baiklah… aku harus segera mengatakannya.

“Aku juga… kurasa aku juga menyukaimu,” entah dapat dorongan dari mana bibirku berucap demikian. Kutundukkan wajah berharap ia tidak menangkap rona merah menjalar di pipi, namun terlambat. Ia sudah terlebih dahulu menangkupnya, mempersempit jarak hingga aku bisa mendengar deru napas hangat itu menerpa.

“Apa aku tidak salah dengar?” cicit Yoon Gi mempertanyakan keabsahan jawabanku. Aku mengangguk mantap, namun masih berusaha menghindari manik yang kini menatap tajam.

“Aku pernah dengar seorang mengatakan jika pria dan wanita bersahabat, akan sangat besar kemungkinan mereka bisa jatuh cinta.”

Kulepas kungkungan tangan di wajahku, tersenyum manis membenarkan letak anak surainya yang terbang dimainkan Tuan Angin. “Dan kurasa aku juga mengalaminya. Aku tidak bisa berhenti menatapmu sebagai seorang pria, bukan teman pada umumnya.”

Perlahan ia ikut menggurat senyum, lalu detik berikutnya sudah menawanku dalam rengkuhan panjang. Aku tidak tahu perasaan jenis apa yang menguasai diri saat ini. Seperti ribuan kupu-kupu berterbangan, melebur menjadi satu dengan debaran menggila kami yang saling menyahut.

“Kalau begitu, maukah kau menjadi ibu dari anak-anak kita kelak?”

Satu anggukan kugerakkan mantap. Rengkuhan ini makin lama makin erat. Dalam indah pergantian siang dan malam, bibir kami menyatu, membentuk simpul cinta berlandas rajutan tali-tali bahagia.

-FIN-

A/N: Oneshoot dadakan tantangan dari kak Irma. Review plis >< hihi 😉

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s