Ribbon Chapter 4

Ribbon Chapter 4

image

Title: Ribbon
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

©2017 Nadhea Rain

“Ikatan pita mengendur lalu semua tidak sama seperti dulu lagi. Hatimu pecah, hatiku lebur. Jiwamu retak, jiwaku mengabur.”

Chapter 4
Found You

~~~

Story begin..

Lembayung menyapa langit, menebar jingga keemasan di seluruh cakrawala. Surya tinggal seperempat bagian. Bayu bergerak pelan, membelai kincir-kincir kecil yang tertanam di sekitar bibir pantai.

Pria bermarga Jeon masih menutup mata, menikmati berbaring di atas pasir dengan jaket kulit lengkap. Pikirannya tengah berlarian, merasa sangat familiar dengan suara gadis yang memberi tempat persembunyian beberapa jam lalu. Namun otak tidak bisa berpikir jernih mengenai siapa dan kapan tepatnya ia pernah mengenal si pemilik suara. Ia gelengkan kepala kuat-kuat, bangkit lalu menatap kepergian matahari dengan sebuah senyum kecut.

“Sebaiknya aku lekas pindah ke apartment baru,” gumam Jung Kook membersihkan noda pasir di pakaiannya. Berjalan menjauhi bibir pantai menuju mobil putih yang terparkir di pinggir jalan.

***

Mengendarai mobil dalam jarak jauh bukan jadi masalah untuk Jung Kook. Sebelumnya ia pernah membantu sang ibu berbelanja di pasar berbeda lalu mengantar semua barang sendirian. Namun ketika dalam pikiran terajut semua kenangan pahit dijatuhkan secara tidak wajar cukup membuat konsentrasinya goyah. Ia menggeleng kuat, menyalakan audio mobil berharap musik bisa meredam nyeri dalam otak.

Jung Kook berpikir, mencari-cari lagu yang tepat lalu kembali fokus pada jalan. Sebuah lagu lembut mengalun, membuatnya mampu tersenyum manis. Lagu lama yang menerbangkan ingatannya ke masa sekolah menengah atas. Masa di mana pertama kali ia bertemu gadis itu.

Masih segar dalam ingatan bagaimana kepopuleran Jung Kook saat itu. Ia memiliki semacam fans tidak official yang tersipu-sipu jika melihat senyum kelincinya. Belum lagi segudang hadiah yang ia terima di loker setiap hari pula pernyataan cinta banyak terungkap dari bibir gadis seangkatan maupun kakak tingkat. Namun Jung Kook tidak lantas menanggapi, sikapnya cenderung dingin dan tidak tersentuh. Kata orang justru dengan sikap itulah banyak yang tertarik. Jung Kook hanya tersenyum kala seorang teman baik mengutarakan demikian.

Dan di antara semua gadis yang mengejar, ada salah satu yang tidak Jung Kook kenal. Gadis itu sering menyalinkan tugas-tugas miliknya jika Jung Kook tidak mengerjakan. Entah karena apa Jung Kook merasa gadis itu selalu tepat. Memang ia tidak memberikannya secara langsung, tapi selalu saja di kolong meja Jung Kook selalu tertata kertas-kertas itu.

Pada awalnya Jung Kook mengernyit bingung, sempat menanyakan teman yang duduk di bangku terdekat namun tidak ada jawaban. Namun lama kelamaan menunggu jawaban-jawaban jadi kebiasaan favoritnya. Pria itu bisa bebas melakukan apa saja tanpa harus repot memusingkan tugas. Bukankah hal itu sangat luar biasa bagi murid badung seperti Jung Kook?

Jangan pikir Jung Kook adalah pria baik-baik meski banyak yang mengidolakan. Seluruh sekolah mungkin memberikan suara untuk Jung Kook ketika pemilihan the most wanted boy on the year, tapi seluruh sekolah juga tidak tahu dunia Jeon Jung Kook sesungguhnya. Ia adalah pria yang sering keluar masuk bar dengan izin cuma-cuma yang didapat dari kekasih tercinta.

Adalah Anastasya, wanita yang lebih tua lima tahun darinya. Wanita asal Amerika yang telah menularkan segala macam kebudayaan barat pada Jung Kook. Wanita itu pula yang merenggut keperjakaan Jung Kook di usianya yang menginjak enam belas tahun.

Seseorang mungkin frustrasi karena ditinggal sang ayah bunuh diri tidak terkecuali Jung Kook. Ia merasa terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri setelah insiden yang terjadi di depan mata. Ayahnya melompat dari gedung apartment ketika Jung Kook hendak menjemur pakaian.

Lalu sikap ceria Jung Kook luntur, perlahan terkikis karena bayangan sang ayah terus menghantui tidur maupun sadarnya. Ia mulai serampangan di luar sekolah dan bertemu dengan Anastasya yang mabuk di sebuah gang sepi. Wanita itu memakai mini dress ketat yang panjangnya hanya sanggup menutupi pantat. Jung Kook diseret ke sebuah gudang tua tidak terpakai lalu dicium secara ganas.

Awalnya Jung Kook memang menolak, tidak mengerti seorang asing yang melepas kancing-kancing baju seragam menyentuhnya seliar ini. Sesuatu dalam diri Jung Kook bangkit. Sesuatu berbahaya yang menghantarkan mereka melewati malam panas dengan gairah meluap. Lalu setelah itu Jung Kook jadi benar-benar kecanduan. Ia tidak bisa berhenti membayangkan kegiatan panas hingga membuat celananya sesak setiap malam. Maka dengan keberanian–napsu menggebu–ia menghubungi nomor ponsel Anastasya yang sempat ia minta setelah selesai bercinta.

Mereka melakukannya lagi dan lagi. Setiap malam, setiap kencan, bahkan jadi rutinitas ketika Jung Kook libur sekolah. Jung Kook mampu menjaga sikap dan jadi anak baik di depan ibu maupun teman-teman sekolahnya, namun tidak di depan Anastasya juga teman-teman kelab-nya. Jung Kook yang liar mampu membuat seorang wanita mendesahkan namanya tiap malam dan Jung Kook yang dingin mampu membuat seluruh sekolah mencuri pandang.

Hidup dalam dua sisi selama satu tahun lebih tidak membuat Jung Kook kewalahan. Bahkan bayangan mengenai ayahnya tidak pernah lagi muncul sehingga ia bebas dan merasa hidupnya sempurna. Namun di satu sisi, ia masih menaruh penasaran dengan gadis si penulis tugas itu. Mungkinkah ia adalah salah satu penggemarnya? Atau hanya merasa kasihan karena Jung Kook tidak mengerjakan? Jika dipikir tidak ada seorang pun yang mengetahui fakta demikian.

Rasa penasaran Jung Kook makin menjadi sehingga ia memutuskan berangkat lebih pagi. Ia tidak langsung masuk dalam kelas, melainkan menunggu di sudut tidak terlihat demi mencari tahu. Seorang gadis bersurai hitam memeluk buku di tangan masuk dengan senyum cerah. Jung Kook mengendap-endap, mengintip sebentar melihat gadis itu duduk di bangkunya sendiri. Ah, ia ingat gadis itu. Sang ketua kelas galak. Tapi gadis itu tidak terlihat tengah menghampiri bangku Jung Kook jadi bisa dikatakan bukan ia pelakunya.

“Kau sedang apa?”

Jung Kook terperanjat mendengar suara menyeru di belakang. Mengembalikan raut wajah ke mode datar, Jung Kook menjawab, “Tidak ada.” Lalu melenggang masuk seolah tidak terjadi apa-apa. Gadis yang tadi menegurnya mengernyitkan dahi, memilih ikut masuk daripada semakin tidak mengerti.

Jung Kook menghela napas. Semakin hari ia berpikir semakin bertambah pula pola baru yang membuat ikatan pita kusut dalam otak. Ia masih tidak mengerti mengapa dulu Na Young menyalin tugas-tugas itu. Jung Kook tahu fakta ini dari Ryu Ye Rin setelah segudang bujukan ia berikan.

Jung Kook menekan rem, berhenti di hadapan gedung apartment sederhana yang nampak sama dengan apartment-apartment lain. Ia mengambil koper di bagasi, segera masuk sebelum hujan tumpah membasahi pakaian. Langit malam benar-benar muram tanpa adanya bintang maupun bulan.

***

“Apa kau sudah mengatakan permintaan maafku pada kekasihmu?” Na Young mengapit telepon dengan dagu. Tangan kirinya memegang sejumlah sketsa sementara tangan kanan memencet tombol lift.

“Ya. Dia benar-benar menyesal membuatmu ketakutan setengah mati. Astaga, aku berjanji tidak akan meminjamkan Yoon Gi lagi.”

Dengusan terdengar dari bibir Na Young. Gadis itu masuk ke lift, memindahkan sketsa ke tangan kanan lalu memegang ponsel dengan tangan kiri. “Aku minta maaf.”

Dari seberang juga terdengar helaan napas. “Setidaknya kau sudah berusaha.”

Na Young mengangguk, belum sempat pintu lift tertutup seorang sudah menghalangi. Dan yang membuat Na Young terkejut adalah kenyataan bahwa yang saat ini masuk dalam lift adalah seorang yang ia benci. Jeon Jung Kook.

“Hei, kau masih di sana, ‘kan?”

Na Young tergagap. Butuh beberapa detik hingga ia menguasai dirinya sendiri. “Aku akan menghubungimu lagi.” Lalu segera memutuskan sambungan telepon.

Jeon Jung Kook di hadapan juga merasa terkejut. Sebagian dari dirinya berterima kasih, namun sebagian lain nampak takut terlebih wanita itu tidak mengatakan apa-apa. Jung Kook menghela napas, melirik sebentar ke arah Na Young yang diam seribu bahasa. Sudut bibirnya terangkat ke atas, benar-benar momen yang pas.

“Aku sudah menemukanmu sekarang,” ujar Jung Kook menatap arah penunjuk lantai. “Jadi kumohon jangan menghindar.”

Na Young terperanjat. Ia menatap Jung Kook dengan pandangan tidak terbaca. Pria itu balas menatapnya, masih dengan senyum andalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Kontan perut Na Young bergejolak. Bukan, bukan gejolak penolakan seperti reaksi biasa ketika ia berdekatan dengan seorang pria. Reaksi ini lain… seperti ada yang menggelitik di dalam sistem kerja tubuhnya.

Wanita itu hanya mematung, sama sekali tak berusaha menyahut perkataan Jung Kook. Ia merutuki kerja impulsnya yang lambat memproses ketakutan bahkan dalam jarak sesempit ini. Jung Kook terlihat lebih manis, bukan, lebih baik dibanding masa sekolah dulu. Entah mengapa Na Young mampu mendeskripsikan seorang yang ia benci dengan hal sebagus ini.

Ketika pintu lift berdenting di lantai paling atas Na Young buru-buru keluar namun Jung Kook sesegera mungkin menarik tangan mungil itu kembali. Tubuh Na Young menabrak punggung Jung Kook. Detak jantung keduanya memburu jadi satu. Lift bergerak turun tapi mereka tidak berusaha memisahkan diri.

Jung Kook membalikkan tubuh Na Young, memerhatikan saksama paras ayu tanpa riasan macam-macam yang kini menatapnya tajam. Ia menunggu wanita itu memberontak namun hingga beberapa menit berlalu tidak pula ada tindakan berarti. Dengan senyum terpatri di wajah, Jung Kook memberanikan diri mengecup bibir tipis Na Young.

Na Young mematung namun tidak berusaha melepas tautan. Bibir Jung Kook menjamah terlalu dalam dan otaknya sama sekali tidak bekerja untuk mengendalikan serangan semacam ini. Seorang di lantai empat yang ingin masuk dalam lift berhenti, memilih berbalik, tidak jadi masuk.

***

“Mengapa dia terlihat aneh?” tanya Ye Rin pada dirinya sendiri. Ia mencomot keripik kentang, memfokuskan pandangan dengan film yang diputar.

“Na Young?” Yoon Gi di sampingnya menyahut. Gadis itu menjawab dengan anggukan.

“Dia menjawab telepon setelah memekik pelan. Menurutmu apakah dia melihat sepasang kekasih berciuman?”

Yoon Gi mengangkat bahu. Ikut mencomot keripik kentang di tengah keduanya.

“Di mana Jung Kook sekarang tinggal? Bukankah kau bilang rumahnya diberikan pada Ho Seok?” Ye Rin kembali mencecar tanya. Memerhatikan wajah sang kekasih yang serius menonton film.

“Di apartment yang sama dengan Na Young.”

Ye Rin membulatkan mata. Ia tidak lagi berusaha fokus dengan film di hadapan. Ada yang lebih penting sekarang. “Tunggu. Kau tidak sedang bercanda, ‘kan?”

Yoon Gi menghela napas. “Apa aku terlihat seperti seorang yang suka bercanda?”

Ye Rin menggigit bibir. Sekarang kejadian telepon tadi jadi benang lurus jika ditarik bersama Jung Kook yang tinggal di apartment yang sama dengan Na Young. Mungkinkah hal yang membuat Na Young memekik adalah Jung Kook? Tidak. Jika sepenting ini harusnya Na Young sudah menghubunginya. Namun ini tidak ada. Sama sekali tidak ada.

“Sekarang kau yang jadi aneh,” ujar Yoon Gi menangkup wajah sang kekasih. Menyelam ke dalam manik obsidian Ye Rin berusaha menerka hal yang mengganggu pikiran gadisnya.

“Apa kau berpikir Na Young bertemu dengan Jung Kook?”

Yoon Gi kembali mengangkat bahu. “Bisa saja. Mereka ada di apartment yang sama.”

***

Jung Kook melepaskan tautan ketika lift kembali berdenting. Mereka sudah berada di lantai atas lagi, saling diam satu sama lain. Pria itu kemudian menarik Na Young keluar tanpa menunggu persetujuan. Na Young baru melepas tangan Jung Kook ketika gadis itu sampai di depan kamar apartmentnya.

“Aku tahu kita seharusnya berbicara lebih banyak. Lalu kau bisa memarahiku lebih banyak. Tapi sebelum itu terjadi aku ingin mengungkapkan semua perasaanku padamu terlebih dahulu lewat ciuman itu.”

Na Young yang tidak berusaha menjawab memilih memasukkan kode serta kunci apartment. Menutup rapat-rapat sebelum Jung Kook kembali berhasil menerobos. Kaki-kakinya yang melemas membuat Na Young memerosot. Ia tidak ingin menangis lagi namun air mata tak diundang justru membanjiri pipi.

Perasaan ini sama seperti perasaannya dulu ketika melihat Jung Kook mencium wanita bergaun minim di ujung gang. Perasaan takut kehilangan, perasaan kacau namun ia sama sekali tidak ingin menyesali perbuatannya. Na Young memang tidak membalas ciuman itu, sama sekali tidak. Namun ia dengan jelas menatap manik mata Jung Kook dengan segala ketulusan yang terpancar di sana.

“Aku tahu kita seharusnya berbicara lebih banyak. Lalu kau bisa memarahiku lebih banyak. Tapi sebelum itu terjadi aku ingin mengungkapkan semua perasaanku padamu terlebih dahulu lewat ciuman itu.”

Kata-kata Jung Kook terngiang di telinga bagai lagu penghantar tidur. Mengungkapkan perasaan seperti apa yang ia maksud? Perasaan apa yang dimiliki pria itu terhadapnya? Kasihan? Atau bentuk lain yang tidak bisa ia simpulkan?

Air mata masih menggenang. Na Young bahkan mengindahkan panggilan di ponselnya. Semua terasa begitu konyol sekarang. Ada apa dengan dirinya? Ada apa dengan impulsnya? Mengapa… mengapa masalah ini jadi serumit ikatan pita?

Na Young mendengar ketukan pintu namun ia tidak berusaha membuka. Jung Kook mungkin masih di sana, Jung Kook mungkin masih berdiri bodoh di luar. Dari sekian apartment yang ada di Seoul mengapa harus apartment ini yang ia pilih? Na Young menghela napas.

***

Jung Kook masih berusaha mengetuk pintu meski ia tahu tidak akan ada jawaban. Insting Jung Kook mengatakan ada yang tidak beres dengan Na Young. Gadis itu lebih pendiam dari terakhir kali mereka bertemu secara baik-baik saja. Ia mulai meragukan Ye Rin yang bercerita bahwa gadis itu phobia pada sentuhan pria.

Memilih tidak memikirkan perkataan Ye Rin, Jung Kook berkata, “Kita harus bertemu kembali. Aku sangat menunggu hal itu terjadi. Aku perlu meminta maaf padamu.”

Jung Kook kembali mengangsur senyum, berjalan menuju lift kembali turun ke lantai enam. Semoga hari ini jadi pertanda baik bagi hubungan keduanya. Semoga hari ini jadi awal yang baik bagi perubahannya selama ini.

###

Jam wekker berdering nyaring di atas nakas. Na Young mengabaikannya, memilih kembali menggulung diri dengan selimut mengindahkan lengkingan menyakitkan. Semalam insomnia menyerang; Na Young baru tertidur pukul dua dini hari. Dan ini baru pukul tujuh pagi, Demi Tuhan.

Lelah dengan lengkingan terus menerus Na Young membuka selimut, mencari-cari jam lalu mematikan alarm. Ia kembali menghempaskan tubuh ke ranjang. Kepalanya masih berdenyut menyakitkan karena terlalu keras berpikir.

Semakin ia berpikir semakin rumit pula pola yang tercipta. Mulai dari awal hingga sekarang ia tidak bisa berhenti membenci diri sendiri. Bahkan meminta maaf pada Tuhan selama tujuh tahun belakangan nyatanya tidak mampu membuatnya mampu memaafkan diri sendiri.

Pagi ini dengan amat sangat tertekan sebuah kilas balik muncul, memenuhi sebagian besar ingatan bagai kaleidoskop panjang. Na Young menghela napas, mulai merecall kembali memori pahit kala itu.

To Be Continued..

A/N: *tiupin debu* Haloo >< masih nunggu kan? Hihi. Semoga gak kecewa sama part ini ya ^^

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s