12:30

12:30

image

Title: 12:30
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Rate: M (for some scene but not NC)
Length: Oneshoot
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Copyright2017 Nadhea Rain – Wattpad: nadheaarain

~~~

Story begin..

“Eksistensi tergerus waktu, desibel-desibel termakan angin. Kita bagai angka dua belas dan enam penunjuk pukul setengah satu. Tercerai-berai, saling berjauhan, saling melupakan.”

Sejenak mata memandang reruntuh di hadapan. Botol-botol kaca pecah; berserak puing-puing serta likuid merah kental di beberapa sisi. Selimut terkelupas dari ranjang; bulu bantal teronggok, tercerai-berai dari sarung.

Desibel merebak lambat laun mengalun di telinga. Tangis menganak-pinak, mengaliri pipi-pipi wanita di sudut ruangan. Keadaannya benar-benar kacau; baju basah dengan darah, surai berantakan dalam genggam tangan.

***

Setengah jam lalu sang wanita masih baik-baik saja. Melekuk senyum, datang ke apartment kekasih hati dengan bahan makanan dalam dekapan. Niat ingin memasak sup ayam hangat berhubung suhu dingin menyelubung. Perlahan, ia membuka pintu masih dengan senyum cerah.

Hawa dingin menerpa si wanita kala kaki-kakinya melangkah masuk. Ia menghela napas, bahkan ruangan ini jauh lebih dingin daripada cuaca luar, pikirnya. Melepas sepatu dan mengganti dengan sandal rumah, sang wanita melangkah masuk ke pantry.

Kantung belanjaan ia taruh di meja, kemudian langkah kembali ia teruskan; menghidupkan pemanas ruangan. Satu suara ia seru keras; memanggil sang empunya rumah.

Perlahan, ia melangkahkan kaki menuju satu-satunya ruangan yang belum dijamah. Kamar Jung Kook, sang kekasih. Tangan mengetuk, daun telinga tertempel di pintu. Lalu suara lemparan benda kaca terdengar keras. Sangat jelas di telinga, sangat dekat dari pintu. Buru-buru ia memutar-mutar kenop. Berharap satu-satunya sekat tersisa tidak terkunci.

“Jeon Jung Kook,” pekiknya. Ia menemukan botol pecah di depan kaki kala pintu menjeblak, serta sosok sang kekasih duduk membelakangi. Bau alkohol membumbung, menusuk-nusuk indera penciuman. Tanpa pikir panjang si wanita menerobos, merebut botol kaca dalam genggaman Jung Kook. Pria itu menggeram marah. Lantas berusaha kembali meraih botol terakhir soju yang dirampas paksa.

“Kembalikan padaku!” ujarnya parau. Entah kesadaran sudah tertelan atau memang kadar toleransi alkohol rendah, Jung Kook mencengkeram erat pergelangan si wanita. Berusaha melepas botol hijau yang harus ia habiskan saat ini juga. “Lepas atau kutampar kau, Im Na Young!”

Tak lantas jera, Im Na Young mempertahankan botol soju sekuat tenaga. Likuid bening mengalir, tanpa sengaja membanjiri pipi. Ia menggeleng kuat. Masih dengan pendirian kukuh tidak mau melepas. “Tidak. Kau sudah mabuk berat, Jung Kook.”

Satu tamparan keras melayang. Pipi kanan Na Young terasa memanas. Hati pun ikut jua panas. Di hadapannya, seorang yang ia cinta. Seorang yang memperlakukannya lembut kini dengan ringan tangan memberi tamparan.

“Persetan!” Jung Kook masih berusaha merebut botol. Cengkeramannya makin kuat, pula usaha menjauhkan botol dari tangan Na Young.

Na Young meringis. Ia tahu tangan sudah terluka. Rasa perih menjalar mengenai dinding-dinding hati.

“Kau memang brengsek!” satu tamparan kembali mengenai pipi kanan Na Young. Rasanya jauh lebih perih, hingga ia menjatuhkan botol soju yang segera diambil Jung Kook.

Tangan putih memegang pipi kanan, berusaha meredam nyeri yang sejatinya justru menjadi-jadi. Hati bagai tertikam belati, raga bagai dihunus parang. Sakit. Benar-benar sakit.

Belum sempat Na Young mencerna kejadian yang menimpa, bibir Jung Kook sudah terlebih dahulu mengucap kata, “Aku muak denganmu.”

Sekali lagi sebuah tusukan mampir pada ulu hati. Membekas, merebak. Desibel yang mampu ia dengar hanya tentang kata itu. Muak. Muak. Muak.

“Jangan terus berbohong tentang keadaan hubungan kita.” Jung Kook meletakkan botol soju yang isinya tinggal separuh di samping kanan. Menatap sang kekasih berlinang air mata dengan tatapan benci. “Tangismu justru membuatku benar-benar marah, Noona.”

Na Young terperanjat. Sepanjang berhubungan dengan Jung Kook ia tidak pernah lagi dipanggil dengan sebutan itu. Kecuali jika Jung Kook tengah merajuk dan marah. Ia mendekat, mengikis jarak lalu menggenggam tangan besar Jung Kook. “Katakan… katakan apa yang salah denganku, Jung Kook. Aku bisa memperbaikinya untukmu.”

Di luar dugaan, Jung Kook justru menepis tangan Na Young. Menyeringai mencengkeram dagu bertahi lalat sang wanita. “Semua yang ada padamu adalah kesalahan. Salah karena kau sudah menjadi art design di studio animasi. Salah karena kau memiliki teman-teman yang hebat. Salah karena kau mencintaiku.”

Cengkeraman Jung Kook menguat seiring nada suaranya naik. Ia tidak pernah semarah ini. Mungkin benar jika alkohol adalah cara terbaik mengungkap kejujuran.

“Kau selalu iri dengan Ye Rin yang menceritakan kekasihnya seorang musisi berbakat Min Yoon Gi. Kau juga iri pada Naomi yang beruntung bisa berpacaran dengan eksekutif muda Kim Tae Hyung. Bahkan kau juga iri pada Fawn, Han Na dan Jill yang sering membanggakan kekasih-kekasih mereka.”

Na Young tidak kuasa menjawab. Sakit di dagu tidak sebesar rasa sakit di hati. Sedikit ia membenarkan ucapan sang kekasih, namun tidak berarti ia benar-benar iri dengan teman-temannya.

“Hanya kau seorang yang jadi bahan tertawaan karena aku. Si pengangguran, si trainee yang belum juga debut meski sudah berlatih lima tahun,” Jung Kook mengembuskan napas di wajah Na Young. “Kenyataan itu membuatku tertekan. Membuatku sakit hati. Kau tidak pernah berpikir aku akan menjemputmu di tengah perkumpulan konyol itu? Kau salah. Aku selalu ada di sana, hendak menjemput. Namun kemudian mereka tertawa keras menyebut namaku.”

“Jung Kook-ah… ini tidak seperti yang kaukira,” dalam usaha meredam lara Na Young berujar. Entah sudah berapa kali ia mengeluarkan air mata. Dadanya begitu sesak.

Jung Kook tertawa keras, “Apa kau ingin mengatakan aku hanya mendengar separuh percakapan kalian?” Ia melepas cengkeraman. Menegak soju hingga tandas lalu melempar asal botol. Bunyi benturan kaca dengan lantai memekak telinga, membuat Na Young beringsut melindungi tubuh.

“Kau dan aku seperti angka dua belas dan enam penunjuk pukul setengah satu. Kita saling berjauhan.” Air bening kembali jatuh, kini makin menjadi-jadi. Na Young tahu apa arti kalimat itu. Sebuah kalimat yang tidak bisa terelakkan. “Kita harus berpisah.”

Setelah mengucap kata pamungkas Jung Kook bangkit. Meninggalkan sang terkasih bersama ledakan tangis. Mungkin jika besok ia tersadar penyesalan akan merebak. Namun ia tidak lagi peduli.

###

Tiga tahun kemudian

“Aku tidak tahu bos kita akan menjadikan penyanyi papan atas sebagai model. Dan yang lebih parah, kenapa artis 2D seperti kita yang harus menyambut?” Na Young mengeluh pada teman satu direksi di samping. Mereka tengah berjalan di lorong kantor, hendak menemui seorang penyanyi yang akan bekerja sama dengan perusahaan animasi tempatnya bekerja.

Ketika mereka sampai di depan pintu yang dimaksud, segera Na Young membuka. Jantungnya terasa seperti diterkam harimau melihat seorang pria duduk tepat di hadapan.

“Apa bertemu dengan mantan kekasih membuatmu berdebar, Im Na Young?” Jung Kook tersenyum manis. Sepertinya usaha membujuk produser studio animasi berhasil. Oh. Ada yang menyesal memutuskan hubungan rupanya.

-FIN-

A/N: Sekali2 nistain Jungkook di oneshoot gakpapa kan ya? πŸ˜€ *plak

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

3 thoughts on “12:30

  1. TELL ME INI APAAN KAK??? KOK YA KAYAK GINI BANGET, KOK DAKU TERKESIMA BANGET SAMA KARYA KAKAK. IH KAKAKKU HEBAT #terharu #dodolbangetkamu
    Saya kangen sama kakak dan tulisan kakak. Berapa tahun ga ketemu ya? #gagitu
    Fict ini indah banget kak, diksinya bener-bener… bikin nganga terkagum-kagum, rasanya ga asing dan… aku nyaman banget dengan diksi begini. KUKIRA PASANG RATE M ITU ADA ENAENANYA #woi ternyata adegan berdarah ya… #koklukelihatankecewasih. Tapi asli sih kak, tema ginian ini yang sering terjadi dalam kehidupan bermasyarakat sekarang, (maaf) laki-laki yang tidak bekerja sedangkan para wanita yang lebih aktif dan terampil mencari uang. Engga maido (ngelu atau bongkar aib sih) memang dalam suatu hubungan itu perlu banget yah yang namanya saling memahami, percaya dan terbuka satu sama lain. Fict ini contoh realita banget. Dikemas dengan apik dan rapi. Semua jempolku buat kakak deh pokoknya. Ih kak, daku sering nunggu update-an kakak di wp lho tiap crosscek email. Karena satu-satunya lahan kita bertemu ya di sini πŸ˜₯ Tetep berkarya ya kak. Selalu diberi kesehatan buat tetap menghasilkan karya yang hebat. Oiya … SELAMAT TAHUN BARU 2017! KAK NADHEA πŸ™‚ #telatwoi Semoga kebaikan selalu menghampiri kita.

    Salam,

    aniki

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s