What If [BTS Version] Chapter 9

What If [BTS Version] Chapter 9

image

Title: What If
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Romance, Fluff, Angst, Hurt/Comfort, AU
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 9
A Place Just For Us

~~~

Story begin..

Di sepanjang jalan aku meneleponnya. Sembari menggigit bibir berharap pria yang sedang kupikirkan menjawab telepon. Namun lagi-lagi hasilnya nihil. Dua puluh satu panggilan dan tidak ada satu pun yang terjawab. Aku mendesah lelah.

Kaki-kakiku berjalan lebih cepat. Lift berdenting dan aku tidak menyiakan kesempatan untuk bergerak terlebih dahulu. Aku tahu ini konyol karena bahkan nenek-nenek sempat menatapku horror selama lima detik. Aku mendesah lagi.

Kuputar kunci apartment setelah memasukkan sandi. Dan Yoon Gi tidak ada di sana. Dan aku benar-benar frustrasi harus mencari ke mana lagi pria misteriusku itu.

Aku duduk di sofa, mengamati tanaman-tanaman obat Yoon Gi yang terlihat segar sepanjang waktu. Kepalaku berdenyut-denyut menyakitkan. Oh Tuhan, apa benar priaku marah? Lagi dan lagi aku mendesah.

Lelah hanya duduk tanpa melakukan apa-apa sebuah ide menyambangi kepalaku. Segera saja aku berlari ke pantry, membuka kulkas lalu menemukan bahan-bahan membuat gratin. Mungkin saja Yoon Gi sedang menenangkan pikiran. Dan jika aku benar, aku akan membujuknya dengan gratin sebagai permintaan maaf. Oh. Terdengar sempurna.

Tiga puluh menit berlalu dan gratinku sudah benar-benar masak. Aku mendengar tapak-tapak kaki mendekat, sandal bulu yang terkesan diseret, benar-benar seperti Min Yoon Gi. Segera aku mendongak setelah meletakkan sedikit garnish. Yoon Gi ada di pintu pantry, menatap terkejut ke arahku. Dan kerutan di dahinya masih jua belum hilang.

Aku tersenyum kikuk. Entah kenapa bertemu seseorang yang benar-benar kau inginkan untuk bertemu membuat semacam dinding tipis yang tidak terduga. Ini benar-benar konyol karena kami hanya saling tatap tanpa mengucapkan sepatah kata. Haruskah aku mengatakan hai sekarang?

Namun belum sempat pikiran sempitku terealisasi, Yoon Gi sudah lebih dahulu menarikku dalam rengkuhan. Sebuah pelukan erat, cukup erat dan sangat erat untuk membuat jantungku jatuh dari tempat. Tanganku menggantung di udara. Aku belum memutuskan membalas rengkuhannya atau tidak namun semua seperti bergerak lambat sekarang. Lalu tanganku terjulur begitu saja menggapai pinggangnya.

Hangat. Perasaan ini muncul lagi di sela-sela dekapan kami. Aku menyukainya. Rasa ini benar-benar manis, bahkan jauh lebih manis daripada madu.

Lama kami terdiam, hanya saling dekap tanpa mengucapkan apa-apa. Aku tidak tahu sudah berapa lama kami ada di posisi ini tapi kemudian Yoon Gi mendesah dan berkata, “Aku mengkhawatirkanmu.”

Jujur saja aku tersentak, sedikit, namun tidak cukup kuat untuk melepaskan dekap nyaman Yoon Gi. Aku ikut menghela napas. “Aku juga. Kupikir kau benar-benar marah dengan meninggalkan bar begitu saja. Dan tidak menjawab panggilanku.”

Yoon Gi meletakkan kepala di bahuku. Mengusap-usap kemeja biru yang kukenakan. Aku berusaha bertahan untuk tidak mendesah saat ini juga. Memalukan. Kaki-kakiku bahkan bertransformasi menjadi jelly hanya karena dua aktivitas yang ia kerjakan.

“Aku butuh waktu di mana aku bisa berpikir dengan kepala dingin jadi aku pergi. Namun itu semua tidak berguna karena justru aku mengkhawatirkanmu.”

Oh Tuhan. Jika Yoon Gi benar-benar melepaskan rengkuhan kurasa aku akan jatuh. Kalimat itu membuatku hangat dan lemas sekaligus. Ucapanku selanjutnya tertahan di tenggorokan. Kami diam lagi.

Kurasa, jantungku akan benar-benar jatuh. Detakannya begitu kuat, cukup kuat untuk didengar seseorang atau bahkan pria yang hingga kini masih memelukku posesif. Pipiku menghangat dan mungkin saja sekarang terlihat memerah.

Sedang asyik menikmati rengkuhan, gendang telingaku mendengar suara perut. Itu bukan suara perutku karena aku sudah cukup kenyang setelah mengunyah beberapa Shin Ki’s Original Cookies serta secangkir Melya. Itu adalah suara perut Yoon Gi. Kami memisahkan diri lalu tertawa hambar setelahnya.

“Perut dan kelaparanku yang merepotkan,” ujarnya melirik arah lain. Aku terkikik dan segera teringat dengan gratin yang kubiarkan menganggur.

Aku mengangsurnya pada Yoon Gi. Kami berjalan ke sofa ruang tengah dan duduk saling berhadapan. Aku meminta maaf karena gratinnya sudah tidak hangat lagi, salahkan sikap otoriter Yoon Gi yang mau makan seadanya tanpa menunggu dihangatkan.

Yoon Gi melahap gratin dengan tenang. Dan aku sangat suka memperhatikan ekspresinya. Entahlah, hanya kurasa ia begitu berbeda saat melahap beberapa jenis masakan. Terlihat begitu ekspresif.

“Aku ingin memasak gratin,” tutur Yoon Gi setelah suapan terakhirnya tandas.

Aku tersenyum mengiyakan. “Aku akan mengajarimu, tentu saja.”

Yoon Gi menarik sudut-sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis. Tangannya bergerak menyentuh tanganku. Dan perasaan hangat itu muncul kembali. Dan debaran itu menguat kembali.

“Aku adalah seorang pria kesepian. Yoon Gi kecil yang malang, yang harus belajar ini dan itu. Ayahku adalah seorang raja yang tegas dan disiplin. Aku benar-benar tidak memiliki kesempatan bermain dengan Beliau meski aku menangis meraung-raung.”

Genggaman Yoon Gi pada tanganku menguat. Sebelah tangannya menuntun daguku, meminta menatap jelaga indah yang sedikit tersembunyi di antara anak rambut. Manik itu terasa menghisap, membuatku jatuh ke dasar jurang dalam.

Aku bisa membayangkannya. Seorang Min Yoon Gi kecil yang pasrah melakukan segala perintah sang ayah. Min Yoon Gi kecil yang begitu ingin memeluk ayahnya namun lagi-lagi harus menelan pahit karena tidak ada kata pelukan mesra dalam kamus sang ayah. Min Yoon Gi yang benar-benar rapuh dan menyedihkan.

“Di usiaku yang ke delapan, nenek mulai geram dengan peraturan kerajaan. Beliau mulai menculikku hampir setiap kegiatan dan membawaku ke kebun tanaman obat miliknya. Beliau pula yang mengajariku segala hal tentang tanaman dan meminta ayah mengizinkanku kuliah sesuai jurusan yang kuinginkan,” Yoon Gi tersenyum. Genggaman tangannya makin kuat. Sekarang aku tahu betapa berartinya sang nenek untuk priaku. Lalu sudut-sudut bibirku naik begitu saja memberikan senyuman terbaik. Kubalas genggamannya sama kuat, seolah menjelaskan bahwa aku ikut merasakan kegundahan hati yang ia rasa. Manik kami bertemu, saling menyelam, saling melahap. Oh Tuhan, aku ingin mencium pria di hadapanku sekarang juga.

“Kau harus menjenguknya, Yoon. Aku tidak mau kau menyesal karena tidak sempat menjenguknya,” ujarku lirih. Iris kami masih bersirobok.

Aku menemukan sebuah kilat lain terpancar di matanya. Tidak terlalu yakin namun kilat itu terasa berbahaya. Terasa menelanjangiku.

Yoon Gi mendesah. Kerut di dahinya sudah hampir hilang namun ia masih bermuka masam. Beberapa kali ia bahkan mendecih, membuang muka lalu menatapku lagi. Dan kilatan aneh itu masih ada.

“Jika kau tidak mau pergi sendiri, aku akan ikut denganmu,” suaraku terdengar mantap. Aku sudah memutuskan hal ini semenjak Yoon Gi meninggalkan bar. Tidak tahu mengapa hatiku ingin sekali menemani Yoon Gi. Tidak tahu mengapa rasanya aku sudah benar-benar menjadi bagian dari diri Min Yoon Gi.

Priaku tentu saja terkejut. Mata kecilnya membelalak seolah bisa menelanku hidup-hidup. Aku tersenyum, berharap bisa melunturkan keraguan yang tercipta di mata.

Yoon Gi mendesah, genggaman tangannya kembali menguat. “Kau tidak perlu melakukan hal ini, jika kau ingin tahu.”

Aku tersenyum dan menggeleng bersamaan. Ia bahkan tidak tahu bahwa aku justru lebih keras kepala dari yang bisa ia bayangkan. “Aku tidak mau kau jadi cucu durhaka karena aku, Pangeran Min.”

Yoon Gi mendecih, memasang senyum timpang beberapa detik lalu kembali menggenggamku erat. Ragu-ragu ia mengangguk, memasang senyum tipis dan sebuah kata ‘ya’ terucap dari bibir Yoon Gi. Aku gembira. Benar-benar gembira. Terlalu gembira hingga tanpa sadar sudah menubruk Yoon Gi dan memberinya rengkuhan hangat. Ketidaksiapan Yoon Gi menerima sikapku membuat kami jatuh di posisi yang membuat pipi-pipiku memanas; aku berada di atas Yoon Gi.

Kami kembali memisahkan diri dan tertawa hambar beberapa detik kemudian. Jantungku masih berolahraga, bahkan kurasa detakannya jauh lebih menguat. Dengan canggung aku mengangsur bekas wadah gratin Yoon Gi, berpamit ke wastafel tanpa mau melihat mata hitam yang terasa begitu mengintimidasi. Aku menghela napas.

Berlama-lama menggosok bagian wadah, sejujurnya aku hanya ingin memperlambat waktu untuk bertatap muka dengan Min Yoon Gi kembali. Aku belum siap terlebih buncahan di dadaku belum juga hilang. Dan seolah mengerti trik yang kugunakan, Yoon Gi diam-diam telah memelukku dari belakang. Bahkan aku tidak tahu kapan tepatnya priaku sampai di pantry.

Deru napas hangat menerpa kulit leherku yang terekspos. Lalu tanpa permisi ia sudah menghadiahi kecupan-kecupan ringan. Tubuhku kaku namun aku menikmati sentuhannya. Namun aku tidak bisa menghentikannya.

Dengan mudah Yoon Gi membalikkan tubuhku, meraup bibir lalu menciumku dalam-dalam. Ciuman menuntut, tergesa-gesa dan anehnya aku menyukainya. Kakiku sudah benar-benar lemas; terima kasih karena Yoon Gi melingkarkan kakiku di sekitar area pinggangnya.

Aku tidak mengerti perasaan seperti apa yang menguasai diriku saat ini. Yang jelas ada sesuatu membara yang membuncah, membakar dewi batin baru yang hadir dalam diriku. Lalu waktu seperti dihentikan. Hanya ada aku, Yoon Gi dan semua hal indah baru yang kami cecap bersama.

***

Wajahku terlihat lebih berseri. Meski sempat menangis beberapa menit, Yoon Gi langsung menguburku dalam rengkuhan panjang pagi tadi. Astaga. Aku bahkan tidak bisa berhenti memerah sejak semalam. Oh. Dan jangan memintaku menjelaskan detailnya.

Ia masih mengantarku ke bar dengan tangan yang lagi-lagi dimasukkan dalam saku celana. Tapi Yoon Gi tidak bisa berhenti tersenyum saat mata kami kembali bertemu. Sejujurnya ini terlihat sedikit menggelikan.

Kami masuk ke bar pukul sepuluh lebih sepuluh menit. Di sana hanya ada Tuan Manajer dan pamanku. Teman-teman Yoon Gi mungkin sedang sibuk dengan agenda masing-masing.

Kami bergabung bersama paman, dan aku baru tahu ada seorang wanita cantik memakai blazer bunga-bunga kuning tengah mengamati rangkaian bunga yang kukerjakan kemarin. Paman menyungging senyum menatap bergantian aku dan Yoon Gi. Dan wanita itu juga ikut tersenyum.

“Kami baru saja membicarakanmu, Ye Rin,” paman menatapku beberapa detik lalu beralih menatap wanita cantik itu sekali lagi.

Wanita bersurai ikal mengangguk. “Ya. Kau benar Shin Ki. Rangkaian bungamu sangat indah.”

Aku mengangguk, malu-malu mengucap terima kasih. Sejujurnya aku tidak terlalu mengerti dengan seni merangkai bunga, hanya mengandalkan insting.

“Oh, ya. Namaku Lily Jung dan ini kartu namaku. Pastikan kau memiliki cukup waktu membantuku di gallery,” Lily memberikan sebuah kerlingan. Wanita yang benar-benar anggun. Aku menerima kartu nama itu dengan senyum mengembang. “Dan Shin Ki, sepertinya aku benar-benar harus pergi sekarang. Sampai jumpa, Pasangan Manis.”

Lily menguit daguku dan Yoon Gi dan mengerling lagi. Ia melewati Tuan Manajer dan mungkin saja kembali mengerling. Kurasa Lily adalah wanita anggun yang terlalu banyak tersenyum.

Saat atensiku kembali teralih, paman dan Yoon Gi sudah terlebih dahulu menyaksikan acara televisi. Aku tidak terlalu menggubris, memilih membantu Tuan Manajer membersihkan gelas-gelas. Sepuluh menit kemudian aku kembali ke meja keduanya dengan nampan berisi tiga minuman berbeda; espresso untuk paman, kopi hitam untuk Yoon Gi dan tentu saja melya untukku sendiri.

“Omong-omong, Paman,” aku melirik sekilas ke arah televisi yang tengah menayangkan berita olahraga. Paman mengalihkan atensinya padaku. “Aku ingin meminta izin. Um… aku akan pergi bersama Yoon Gi ke Jerman. Ke kota kelahiran Yoon Gi.”

Dahi paman Shin Ki sempat mengerut namun ia segera melirik Yoon Gi meminta kepastian. “Ah, aku mengerti. Baiklah, kalian boleh pergi. Lagipula aku cukup tahu bahwa keponakanku yang manis ini tidak bisa menerima segala bentuk penolakan.”

Dan aku benar-benar tidak bisa menghentikan senyuman.

***

Sore hari yang cerah. Matahari tidak terlalu menyengat sejak siang nampak cantik dengan gumpalan mega menutup seperempat cakrawala. Kami menelusuri lorong-lorong kampus tempat Yoon Gi bekerja, sesekali melontarkan canda meski hanya dibalas dengan kekehan kecil khas Min Yoon Gi.

Ia bilang ingin menunjukkan tempat rahasia padaku. Namun sampai sekarang tidak jua ada clue spesifik mengenai tempat seperti apa yang akan kami kunjungi. Tiba di salah satu gedung bagian belakang universitas, Yoon Gi menggenggam tanganku, mengajakku melalui lorong cukup sempit. Tidak terlalu jauh kami melangkah dan aku tidak bisa berhenti menyatakan rasa kagum.

Di hadapanku, tanah sebesar sembilan kali sembilan meter disulap menjadi sebuah kebun cantik. Banyak tanaman hijau tumbuh dan berkembang biak di sini. Pencahayaan matahari yang apik mampu menambah kesan menarik. Dan lagi-lagi aku tidak bisa berhenti menatap takjub.

“Tanaman ini adalah tanaman-tanaman obat yang sama dengan yang kutanam di balkon,” tutur Yoon Gi memulai pembicaraan. “Setelah mereka berkembang, aku memindahkannya ke sini. Dan seharusnya mereka sudah berbunga. Mungkin beberapa waktu lagi.”

“Berbunga?” aku menoleh ke arah Yoon Gi. Benar-benar tidak tahu bahwa tanaman obat juga bisa berbunga.

Yoon Gi mengangguk, mulai bercerita tentang seluk beluk tanaman obat yang ia tanam. Aku tidak bisa berhenti takjub. Priaku selalu memiliki sisi manis di balik sikapnya yang dingin.

“Aku akan membawamu kembali ke sini jika bunganya sudah mekar.”

To Be Continued..

A/N: Chapter 9 is UP! ^^ sudah menantikan FF ini? >< semoga memuaskan ya. Hehe.

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

2 thoughts on “What If [BTS Version] Chapter 9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s