Ribbon Chapter 3

Ribbon Chapter 3

image

Title: Ribbon
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

“Ikatan pita mengendur lalu semua tidak sama seperti dulu lagi. Hatimu pecah, hatiku lebur. Jiwamu retak, jiwaku mengabur.”

Chapter 3
Disaster

~~~

Story begin..

Pergi, berlari, menjauh. Pergi, berlari, menjauh. Na Young mengulang tiga kata itu dalam hati. Sambil berlari, tidak memedulikan teriakan di belakang. Yang ia tahu ia harus menjauh. Yang ia tahu ia harus pergi secepatnya.

Tak kenal penat, seolah jika sedetik saja ia berhenti seorang pasti memanfaatkan kesempatan. Napas Na Young memburu. Tidak. Ia menggeleng kuat-kuat masih terus berlari. Membelah jalan bersama pejalan kaki lain.

Jung Kook berhenti mengejar. Netranya mengedar mencari di antara pejalan kaki yang makin lama makin ramai. Ia tahu sudah masuk kawasan perbelanjaan, tentu saja sulit mencari wanita berkuncir kuda yang terlihat sama dengan pejalan kaki lain.

Tepukan ringan di bahu membuat Jung Kook cukup terlonjak. Ia memutar kepala, bersyukur melihat Jung Ho Seok yang melakukan perbuatan itu. “Kau kenal dia?”

Jung Kook membalikkan badan. Mengernyit tidak mengerti atas pertanyaan sang manajer. “Dia?”

“Wanita yang kaukejar?” Ho Seok ikut mengamati sekitar. Melirik ke arah Jung Kook beberapa detik kemudian. Pria di hadapannya menggeleng singkat. Menepuk pundak Ho Seok lalu berjalan mendahuluinya.

Aneh. Baru saja Jung Kook begitu peduli dengan seorang wanita dan sekarang ia terlihat tidak mengenal siapa pun. Ho Seok mengembuskan napas berat. Berlari-lari kecil mengejar Jung Kook yang sudah cukup jauh.

“H-hei. Kau tidak perlu meninggalkanku juga ‘kan,” protes Ho Seok mensejajari langkah Jung Kook. Agak kesulitan karena jangkah sang artis terlalu lebar. “Kau tidak benar-benar serius akan berhenti, ‘kan? Bagaimana dengan kontrakmu?”

Jung Kook mendengus. Sesungguhnya ia senang memiliki manajer cerewet seperti Ho Seok, tapi jika dalam keadaan seperti ini ia lebih baik mendapat manajer pendiam daripada meladeni ocehan yang sudah jelas jawabannya. Ia memilih terus berjalan. Tidak menanggapi Ho Seok.

“Pikirkan. Setelah kau mengungkap bukti-bukti pada publik, semua orang akan kembali percaya padamu, Jung Kook-ah.”

Jung Kook menghela napas lagi. Tidak mengerti mengapa pria yang berjalan di sampingnya tidak juga paham dengan kode yang ia berikan. Langkah mereka berhenti setelah sampai di dekat van. Jung Kook memilih masuk tanpa repot-repot menunggu Ho Seok.

“Aku akan membayar denda pada Nam Joon-hyeong dan benar-benar akan berhenti. Kau tentu merasa senang tidak akan bertemu dengan orang keras kepala seperti diriku lagi, Hyeong.”

Ho Seok yang baru saja naik ke van mengernyitkan dahi. Kepalanya menengok ke belakang, memastikan pendengarannya tidak ada yang salah. “Jangan bercanda. Aku tidak akan memanajeri siapa pun kecuali dirimu!”

“Terserah,” Jung Kook meletakkan kepala di bantalan kursi. “Aku berhenti menjadi penyanyi dan menolak hadir di semua program-program entertainment.”

Ho Seok mendecih. Lihatlah kelakuan artis–atau mantan artis–yang terlihat semena-mena itu. Jika saja ia tidak kenal betul siapa Jung Kook, ia sudah pasti sakit hati dengan ocehan pria lebih muda tiga tahun dari dirinya tersebut.

“Dan satu lagi, Hyeong. Aku menghadiahkan rumahku beserta isinya padamu. Hitung-hitung kado pernikahanmu dengan Ha Na bulan depan.”

***

Na Young menggigit bibir gelisah. Lembar kerja yang seharusnya sudah terisi penuh dengan gambar latar ruang tunggu artis masih kosong. Ia tidak tahu ke mana konsentrasinya hilang. Yang jelas ia tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tak terduga semalam.

Bertemu dengan Jung Kook, kembali disentuh Jung Kook dan tidak merasakan efek apa pun. Tidak ada jeritan, tidak ada ketakutan. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Apa benar terapi-nya sudah menunjukkan hasil signifikan? Namun jauh lebih penting dari pada itu, bagaimana bisa seorang yang menyebabkan trauma justru bisa menyentuhnya?

Gigitan di bibirnya makin menjadi. Tidak. Mungkin saja memang terapinya sudah berhasil. Mungkin saja ia harus mencoba berbicara dengan laki-laki agar membuktikan perkataannya benar.

Na Young menghela napas. Memberi anggukan pasti, berjanji dalam hati untuk segera merealisasikan ide yang muncul di kepala. Akan sangat terlihat konyol jika hanya Jung Kook satu-satunya lelaki yang bisa menyentuhnya, ‘kan?

***

Deru mesin mobil berhenti di sebuah restaurant kecil pinggir jalan. Restaurant yang terlihat sepi meski hari sudah beranjak siang. Seorang pria yang mengenakan masker serta topi kupluk menuruni mobil, berjalan santai lalu terkekeh mendapati tulisan Tidak Menerima Fans Jung Kook yang dicetak besar-besar di salah satu kaca restaurant. Mendorong pintu masuk, ia lantas duduk di salah satu kursi yang tersedia.

Mengamati pelanggan menikmati sup rumput laut membuat perutnya lapar. Namun ia tidak berusaha memanggil pelayan. Pria itu hanya duduk dan mengamati sampai seorang pria bersurai ikal menghampirinya.

“Kau akan mendapat masalah besar jika datang ke sini, Kook-ah,” pria yang memakai appron sedikit mengecilkan volume suara. Berusaha agar kalimatnya tadi tidak didengar siapa pun kecuali mereka berdua.

Jung Kook hanya menggeleng. Membuka masker, ia lantas berujar, “Panggilkan ibuku. Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengannya, Paman.”

Pria yang Jung Kook panggil paman tidak senang dengan jawaban yang terlontar dari mulut putra sang adik. Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah, mengisyarat ibumu-sedang-tidak-ingin-diganggu namun Jung Kook masih tetap berkelit. Pria tampan itu bahkan berjalan masuk ke dapur tanpa mengindahkan teriakan sang paman.

Tidak menemukan ibunya di dapur Jung Kook tidak lantas menyerah. Ia kembali berjalan, membuka pintu ruang penyimpanan bahan-bahan. Ibunya ada di sana. Duduk memangku kepala di atas lutut dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Masuk dan kembali menutup pintu, Jung Kook ikut duduk tak jauh dari tempat sang ibu. “Jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya bentuk iri seseorang.”

Sang ibu menoleh, memperhatikan putra bungsunya yang justru tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa. Perlahan Jung Kook semakin mendekat, membawa ibu tercinta dalam sebuah rengkuhan panjang.

Luka dalam hati Jung Kook kian membengkak merasakan bahu sang ibu bergerak naik turun. Tak hanya itu saja, isakan demi isakan terus lolos. Mau tidak mau membuat luka barunya seperti disiram air garam. Bertambah perih, bertambah sakit.

“Aku baik-baik saja, Bu. Putramu yang nakal ini tidak akan kalah hanya karena orang-orang konyol yang mendasari kehancuranku.” Tiga kali tepukan punggung Jung Kook lakukan. Ia tahu ibunya adalah tipe pemikir ulung. Tak heran jika berat badannya turun drastis hanya karena beberapa hal kecil.

Sang ibu melepas rengkuhan, menatap saksama iris hitam putranya. “Kau bilang ingin berhenti menjadi penyanyi. Kaupikir bangkit dari masalah sebesar ini semudah membalikkan telapak tangan?”

Jung Kook terkekeh. Ia hendak kembali merengkuh tubuh kurus berbalut appron itu namun sang ibu telah lebih dahulu membentengi diri; menekan dada Jung Kook dengan kedua tangan.

“Aku tidak sebodoh itu, Bu. Semua aset yang kumiliki tidak ada yang memakai namaku. Ada tabungan milikmu, rumah milik Ho Seok-hyeong, dan sebagian lagi tabungan untuk wanita itu,” Jung Kook menyentuh bahu ibunya. “Harta satu-satunya milikku hanya mobil yang kukendarai. Ibu tidak perlu khawatir. Aku bisa mencari pekerjaan lain.”

Sang ibu tertawa hambar. Memukul-mukul dada Jung Kook keras, cukup membuat Jung Kook mengaduh kesakitan. “Aku tahu kau berbohong. Katakan kau berbohong Jeon Jung Kook!”

Jung Kook menggeleng. Ekspresi wajahnya terlihat begitu serius. Lama ia memandang ibunya tanpa melakukan apa pun. Ia menghela napas, membelai lengan ibunya sembari tersenyum tulus. “Aku akan baik-baik saja, Bu.”

###

“Tidak.”

Ye Rin memasukkan biji kopi ke alat pembuat kopi miliknya. Malam ini seorang tamu tak diundang masuk apartment dan mengajukan permintaan konyol. Im Na Young dengan segala bakat aegyo yang ia miliki meminta Ye Rin menyuruh Yoon Gi mendatangi apartmentnya hanya untuk menguji sang sahabat.

“Ayolah. Jangan terlalu kolot padaku, Ryu. Aku tahu Min Yoon Gi sudah menginap di apartmentmu.” Skakmat. Na Young tersenyum manis melihat Ye Rin hampir menjatuhkan gelas kopi. “Lagipula katamu aku harus menguji terapiku.”

Ye Rin menghela napas, menatap bosan sang sahabat yang masih saja membentuk wajahnya seimut mungkin. “Terakhir kali kaumencoba, kau berteriak dan tidak bisa berhenti menangis satu jam penuh. Aku tidak mau Yoon Gi merasa bersalah karena eksperimenmu.”

Wajah Na Young berubah masam. Ia ingat betul hari itu. Hari di mana ia baru saja kembali ke Seoul dan tidak sengaja seorang petugas keamanan menyentuh pundaknya. Seluruh stasiun berubah panik karena tidak ada seorang pun yang bisa menenangkan dirinya. Mendengus, Na Young kembali berujar, “Tapi tetap saja. Siapa tahu aku sudah sembuh. Aku… harus membuktikannya. Kumohon.”

Ye Rin bukannya tidak tahu apa yang dialami sang sahabat. Ia bahkan diberitahu secara mendetail bagaimana perasaannya setelah tidak sengaja disentuh kembali oleh Jung Kook. Namun Ye Rin pikir hal itu hanya refleks, terlebih Na Young tidak menghadap Jung Kook langsung. Bisa saja impulsnya lambat memproses ketakutan. Menghela napas lelah, Ye Rin menyerah menyetujui permintaan sang sahabat. Menelepon Yoon Gi dengan hati gelisah, ia benar-benar takut rencana gila ini tidak akan berhasil.

***

Min Yoon Gi mengernyit menghadapi dua wanita di hadapan. Tidak ada yang terjadi selama sepuluh menit ia sudah berada di sini. Tidak ada obrolan, tidak ada basa-basi. Bahkan sang kekasih yang biasanya sering memulai pembicaraan mendadak pasif. Yoon Gi sama sekali tidak mengerti.

Na Young menghela napas. Canggung melanda semenjak Ye Rin membukakan pintu untuk Yoon Gi. Meski sudah beberapa kali pernah bertemu dengan kekasih sang sahabat tetap saja rasa tidak nyaman bercokol dalam dirinya.

Sekali tarikan napas Na Young mencoba menyuarakan isi hati. Begitu lirih namun Yoon Gi langsung terkejut. Mata kecilnya membulat menatap tak percaya ke arah wanita di samping Ye Rin. Ia memberi kode pada sang kekasih yang hanya dibalas dengan anggukan singkat.

Jika boleh jujur ia lebih baik tidak menuruti permohonan sang kekasih dan berkencan dengan bantal guling kesayangan. Pasalnya ia bahkan tidak tahu jika harus jadi kelinci percobaan oleh seorang yang bahkan phobia sentuhan pria. Ditekankan sekali lagi, phobia sentuhan pria, oh sepertinya Yoon Gi harus menambahkan bold dan underline di bawah tiga kata itu.

Kali ini Yoon Gi yang menghela napas. Meletakkan tangan pada meja di depan dengan harap-harap cemas. Wanita ini adalah Im Na Young, seorang yang akan sangat panik hanya karena bersentuhan dengan seorang pria. Dan hal paling menggelikan adalah ia bahkan sudah menekankan informasi ini di kepalanya secara berulang-ulang. Demi Jung Ho Seok dan segala tingkah absurdnya, Yoon Gi merasa benar-benar tidak yakin dengan keputusannya sendiri.

Bagaimana jika Na Young kembali berteriak dan membuat gaduh seisi apartment? Bagaimana jika… ah sudahlah. Mungkin sebaiknya ia tidak usah berpikir terlalu jauh.

Ye Rin meremas tangan melihat jari-jari Na Young nampak bergetar sekadar menaikkannya di atas meja. Ia tahu wanita ini sangat keras kepala jadi percuma saja jika ingin menghentikan aksi nekat ini sekarang. Ye Rin terus mengamati, terus merasa cemas melihat keringat muncul di wajah Na Young. Sahabat karibnya tengah menekan terlalu dalam. Sahabat baiknya tengah berusaha terlalu dalam. Sedikit lagi, hanya beberapa senti lagi hingga Na Young bisa menyentuh tangan Yoon Gi.

Getaran di tubuh Na Young makin meningkat. Ia merasa sesak. Terlalu sesak hingga tangannya berhenti bergerak. Dewi batinnya masih mendorong kuat, meminta Na Young bergerak lebih dan menyentuh Yoon Gi.

Gumaman kata tidak apa-apa terus Na Young dengungkan. Sedikit menambah kekuatan yang hampir terkikis habis. Satu gerakan cepat dan tangan mereka bersinggungan. Na Young menahan napas, rasa panik perlahan-lahan muncul menghilangkan dewi batin yang beberapa saat lalu melonjak kegirangan.

Kilasan-kilasan pahit serta merta hadir. Mengisi kosong ingatan lalu tanpa henti terus menguat. Na Young berteriak, melepaskan sentuhan tangan lalu membekap telinga. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mengucur deras. Sekarang Na Young tahu bahwa ia masih kalah. Na Young tahu bahwa ia masih payah.

###

Ranjang sedikit bergoyang manakala Jung Kook merebahkan tubuh. Satu tangan ia taruh di mata, menghalau cahaya lampu yang terasa menyilaukan. Ia mengembuskan napas, cukup lelah dengan petualangannya hari ini. Pemburu berita masih tetap menguntit dan Jung Kook sangat yakin banyak netizen mengomentari tingkahnya seharian. Belum lagi panggilan-panggilan dari agensi juga Jung Ho Seok memenuhi log aktivitas ponsel. Jung Kook menghela napas, berbaring menyamping berharap bisa segera terlelap.

Jika semua orang menginginkan kehancurannya, maka ia sendiri yang akan mewujudkan. Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan. Bukan agensi bukan pula ibu kandungnya sendiri. Tidak. Kesalahannya perlu ditebus dan mungkin Tuhan benar-benar menggariskan jalan seperti ini. Mata Jung Kook makin memberat efek kantuk begitu dominan.

***

Putih, putih, dan putih. Semua terlihat putih di mata Na Young. Namun tidak, tidak semuanya putih. Ada seorang pria dengan kemeja kotak-kotak duduk di bangku. Lalu semua latar berganti, tidak lagi putih, tidak lagi pucat.

Daun-daun sakura berguguran, menambah kesan epik pria yang duduk membelakangi Na Young. Rambut sehitam malam miliknya tertiup sepoi bayu. Ia kenal punggung ini. Ia kenal rambut ini. Perlahan Na Young mendekat, membiarkan kaki-kakinya bergerak menuruti kata hati.

Kurang lima langkah Na Young berhenti mendengar pergerakan kecil pria itu. Tanpa terduga si pria berbalik, memamerkan senyum manis yang ikut menular pada Na Young. Keduanya saling mendekat, saling mengikis jarak lalu peluk mesra tidak lagi terhindar. Tubuh kurus Na Young diangkat, diberi kecupan-kecupan kecil di sekitar area leher.

Tidak ada perasaan takut. Tidak ada rasa ingin berteriak. Semua begitu sempurna dan Na Young baru sadar jika dirinya memakai gaun pendek tanpa lengan yang mempertontonkan belahan dada.

Kecupan ia terima dengan mudah. Rengkuhan ia dapat dengan gampang. Seolah ia benar-benar wanita normal. Seolah tidak pernah ada trauma yang menghantui tidur maupun sadarnya. Lalu sebuah kata meluncur bebas dari mulut sang pria, membuat Na Young lagi-lagi terkejut bukan main.

“Aku sudah menunggumu terlalu lama, Im Na Young.”

Na Young tersentak. Jam wekker-nya berbunyi nyaring, menyadarkan bahwa wanita itu hanya mengalami bunga tidur semata. Ia menghela napas lega. Setidaknya itu hanya mimpi. Setidaknya pertemuan konyol seperti itu tidak akan pernah ia alami. Menggeleng, Na Young bergegas bangkit membersihkan diri.

Ada sebersit ingatan pahit terulang manakala kucuran air shower menyambangi tubuh polosnya. Na Young memukul-mukul dada, sesak lagi-lagi muncul tanpa mampu ia bendung. Sudah berapa lama… sudah berapa lama sejak terakhir kali ia bisa bersenandung ceria di kamar mandi. Sudah berapa lama ia terkurung oleh perasaan bersalah seperti ini?

Na Young tidak pernah lagi menghitung waktu, tidak pernah lagi merangkai detik. Yang ia tahu hanya satu; ia adalah wanita tidak normal yang tak pantas berhubungan dengan siapa pun. Yang ia tahu ia akan ditertawakan setiap kali orang sekitar mengetahui keanehannya. Air bening luruh bersama kucuran shower. Na Young kini bahkan tidak mengenali air matanya sendiri.

***

Mengangsur isi keranjang ke atas meja kasir Im Na Young bergeser cukup jauh manakala seorang pria lewat di dekatnya. Genggaman pada hoodie semakin mengerat. Hampir saja. Hampir saja Na Young membuat kesalahan fatal dengan mempermalukan dirinya sendiri. Memberi uang sesuai nominal yang disebutkan, Na Young tersenyum mengangkat barang-barang belanja bulanannya.

Wanita Im mendesis, mulai meniti langkah sambil menatap waspada. Lalu seseorang melaluinya, cukup kencang, disusul banyak teriakan-teriakan menggema tidak jauh dari tempatnya berdiri. Selebritis yang dikejar fans, terka Na Young dalam hati. Ia masih berjalan tenang tanpa menaruh atensi lebih.

Gadis-gadis muda melalui Na Young, menatap ke mana saja mencari keberadaan sang idola. Nama Jung Kook tidak sengaja disebut-sebut lalu mereka kembali berlari begitu saja. Menyisakan Na Young dengan segudang tanya muncul di kepala. Ia menghela napas kasar. Tidak. Ia tidak boleh merasa khawatir dengan Jung Kook atau siapa saja yang tengah dikejar gadis kurang kerjaan seperti mereka. Na Young kembali meniti langkah.

Belum ada sepuluh pijakan dari tempatnya berhenti Na Young sudah dikejutkan dengan tepukan ringan serta deru napas keras di belakang tubuhnya. “Bisakah aku meminjam hoodie-mu?” ujar si penepuk masih terengah. Na Young bergeming, tidak bergerak maupun berusaha membalik badan.

“Kumohon. Setidaknya aku butuh penyamaran.” Lagi, seorang di belakang Na Young bersuara. Na Young menggenggam hoodie-nya erat, memilih bersikap defensif daripada harus menyerahkan satu-satunya perlindungan yang ia punya.

Sayup-sayup Na Young masih mendengar teriakan gadis-gadis fanatik. Lalu tanpa terduga, ia menarik lengan seorang yang masih menepuk pundaknya, mengajak berlari-lari kecil menelusuri gang sempit. Ia tidak mengerti seorang anti sosial seperti dirinya justru mau melibatkan diri dengan hal-hal konyol seperti ini. Dan yang paling penting, Na Young jelas tahu siapa yang ia ajak berlari meski tidak saling berhadapan.

Mereka berhenti di depan rumah berpagar putih. Cukup jauh dari belokan yang tadi mereka lalui. Na Young menetralkan pernapasan. Berlari dengan fakta baru yang ia dapat membuat kinerja jantungnya cukup menggila. Ia baru saja menyelamatkan Jeon Jung Kook. Ia baru saja memegang lengan berbalut kemeja tanpa harus merasa takut.

“Aku tidak bisa meminjamkan hoodie-ku. Sebagai gantinya aku mengajakmu bersembunyi di sini,” Na Young masih belum menoleh. Berbicara menatap isi kantung yang terasa lebih menarik dari objek di belakangnya. “Kau bisa bersembunyi di sini sampai gadis-gadis gila itu pergi.”

Jung Kook tersentak. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mendapati gadis yang menolongnya bahkan tidak mau menoleh. Jung Kook bahkan masih mematung melihat gadis itu berlalu tanpa mendengar ungkapan terima kasih. Senyum manis tersungging di bibir, seolah menyirat luapan kata yang hendak ia ucap.

“Terima kasih.”

To Be Continued..

A/N: Haloo >< maaf yah sebulan gak update. Yg mau baca part2 sebelumnya bisa langsung kunjungi wordpress pribadiku haeseoland.wordpress.com 😉

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s