Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 6

Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 6

image

Title: Mafia’s Complex
Cast: Min Yoon Gi, Jeon Jung Kook, Ryu Ye Rin
Genre: Action, Crime, Thriller, AU
Rate: M (for safe)
Author: Dian Hanamizuki feat Nadhea Rain
CR Pict: DHMZ Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Chapter 6

~~~

Story begin..

Jung Ho Seok menyeringai saat menyambut segelas Pina Colada di tangan kanannya yang kali ini didapat secara Cuma-Cuma dari seorang Min Yoon Gi. Sementara Min Yoon Gi sendiri tampak tersenyum kecut menyaksikan pria itu tengah berselebrasi atas kemenangannya dalam taruhan siapa-yang-terbanyak-menghabiskan-kaleng-soda-secara-oneshoot yang diselenggarakan lima belas menit lalu oleh keduanya sembari mendaratkan pantat pada salah satu kursi kosong di bar.

“Jangan pernah mengajakku bertaruh konyol seperti ini lagi, demi Tuhan aku akan memenggal kepalamu!” Yoon Gi menekan tiap suku kata yang ia ujarkan, kemudian menenggak campuran remy dan redbull miliknya. Ia memutar kursi agar punggungnya dapat bersandar pada konter bar.

“Astaga… dasar Tuan Min yang menyeramkan,” Ho Seok memicingkan mata lalu memundurkan tubuhnya ke belakang agar sedikit menjauh dari sisi Yoon Gi seolah-olah dirinya begitu takut pada ultimatum yang dilontarkan pria itu. Namun sepuluh detik setelahnya Ho Seok telah mengembalikan posisi tubuh seperti semula dan ia berdeham. “Omong-omong, kau mengosongkan bar ini hanya untuk berbicara denganku tidakkah terlalu berlebihan? Rasanya seperti dua orang yang sedang berkencan.”

Yoon Gi meletakkan sisa campuran remy dan redbull-nya di atas konter, lalu mengeluarkan sebuah kekehan kecil. “Terkadang aku butuh suasana yang privat bersama sahabatku. Apakah tindakanku ini menggelikan dan sedikit romantis?”

Ho Seok berdesis. “Uh… yeah,” ia meletakkan Pina Colada-nya di sebelah minuman milik Yoon Gi lalu menatap pria itu lama sekali sebelum kembali berujar. “Apa kau sedang mentraktirku karena kemarin malam kau berhasil mencuri berlian?”

Yoon Gi tampaknya tidak senang mendengar pertanyaan dari sang rekan. Dua sudut bibirnya yang semula tersungging manis kini meluruh dan tergantikan oleh rautnya yang masam.

“Sepertinya dulu aku sudah mengatakan bahwa kau cukup mengenalku di tempat ini saja. Jangan pernah kenal atau mengungkit Min Yoon Gi di luar bar. Selain di sini, kita bukanlah orang yang saling mengenal, got it?” Ia mengangkat gelas minumnya, menenggak sisa cairan orange tersebut.

Jung Ho Seok tertawa agak dipaksakan saat mendengar ultimatum lain yang dilontarkan sang rekan. “Tapi aku ini sahabatmu, bung. Aku berhak menegur jika sahabatku sudah melenceng ke jalur yang salah. Memangnya tidak cukup menjadi pengusaha sukses saja? Tinggalkan grup mafiamu itu,” ujarnya.

“Holy shit!” Yoon Gi mengumpat, meletakkan minumannya dengan kasar ke atas konter dan beranjak dari duduk untuk kemudian mencengkram kerah kemeja Ho Seok. Mata kecilnya menyorot tajam pada binar cokelat milik pria di depan wajahnya.

“Kau itu tuli atau apa? Dua menit yang lalu aku baru saja memberitahumu untuk tidak mencampuri hidupku,” Yoon Gi berkata pelan. Mendorong sedikit tubuh Ho Seok agar pria itu semakin terintimidasi olehnya. “Sekalipun kau sahabatku, aku tidak akan segan menjadikanmu mayat saat ini juga jika kau sampai membuka mulut tentang berlian itu.”

Namun pemikiran Yoon Gi jika nyali Ho Seok telah menciut salah. Pria pemilik binar cokelat itu berbalik mendorongnya agar menjauh lalu tertawa keras. Untung saja saat ini bar tengah sunyi lantaran hanya ada mereka berdua saja, jadi tawanya tidak mencuri perhatian siapapun.

“Whoah… oke-oke, aku sangat akui kau itu pria kejam tapi aku tidak percaya kau akan setega itu membunuhku,” ia merapikan kerahnya yang kusut akibat ulah sang rekan, “untuk membuktikan kau sungguh dengan perkataanmu barusan, bagaimana kalau aku menghubungi rekanku yang bekerja pada pemerintah sekarang? Well, aku cukup banyak memiliki koneksi dengan mereka.”

“Brengsek!”

Min Yoon Gi memberi satu pukulan keras pada rahang Ho Seok, membuat pria itu seketika tersungkur ke lantai dengan darah yang mulai menghiasi bibirnya. Yoon Gi mengambil topi yang tergeletak di samping minumannya lalu melangkah pergi. Memilih untuk tidak semakin tersulut emosi yang dipercikkan oleh sahabatnya.

“Yoon Gi, kau tidak bisa terus seperti ini!” Ho Seok meneriakinya, namun tidak diindahkan oleh Yoon Gi yang semakin jauh melangkah meninggalkannya.

Ho Seok tidak menyerah untuk menarik perhatian Yoon Gi. Dia berdiri untuk kemudian berlari mengejar sahabatnya. Saat sosok sahabatnya telah berada dalam zona yang dapat Ho Seok jangkau, dia menarik lengan pria itu.

“Kembalikan berlian itu!”

“Enyah kau!” Min Yoon Gi tidak dapat melangkah lagi lantaran Jung Ho Seok benar-benar telah berdiri di hadapannya dan hal tersebut membuatnya semakin ingin mengeluarkan kata kasar.

“Kalau kau sungguh tidak mau mengembalikannya, aku juga sungguh untuk melapor pemerintah agar berlian itu segera dikembalikan.”

Satu pukulan kembali Yoon Gi berikan pada pria berkemeja merah tua itu karena mengganggu jalannya. Jung Ho Seok tersungkur lagi, sudut bibirnya kembali mengeluarkan darah. Belum sempat melakukan perlawanan, Yoon Gi sudah terlebih dahulu memberinya pukulan susulan.

Yoon Gi menarik kerah pria di bawahnya, memaksanya menatap obsidian yang tersembunyi di bawah topi favoritnya. “Aku akan membayarmu lebih asal kau benar-benar tutup mulut tentang berlian itu.”

“Aku tidak tergiur dengan uangmu!” Ho Seok berujar ditengah usahanya untuk membebaskan lehernya yang dicekik oleh Yoon Gi dan juga menahan rasa sakit disekujur wajah. Ia gemetar saat menyaksikan sahabatnya kini berubah menjadi monster yang teramat menakutkan.

Jawabannya Ho Seok membuat Yoon Gi semakin murka. Ia dengan membabi-buta kembali menyerang pria di bawahnya. Tangan kanannya memukuli wajah Ho Seok tanpa ampun, sementara tangan yang lain menekan leher pria itu. Satu kalimat yang sejak tadi menyesaki jagat pikiran Yoon Gi adalah dia harus menghabisi Jung Ho Seok atau dirinyalah yang akan habis.

Amukan Min Yoon Gi baru berakhir ketika Jung Ho Seok telah benar-benar tidak berdaya untuk melawannya lagi. Ia terperangah menatap wajah babak belur di bawahnya dengan diiringin napas tersenggalnya. Mungkin Jung Ho Seok telah menjadi mayat, satu rekan terbaik Min Yoon Gi telah meninggalkannya. Hatinya bergemuruh saat penyesalan perlahan mulai mencambuk perasaannya.

***

Termenung menatap pantulan diri di kaca, Ryu Ye Rin tiada henti menghela napas. Gaun tidur selutut yang ia kenakan berserut-serut akibat digenggam terlalu lama. Rambutnya masih belum disisir; dibiarkan bercepol di atas kepala. Pikirannya tengah berlarian ke sana ke mari. Seolah masih terus saja mencari konklusi masalah yang beberapa jam lalu selesai.

Ia masih tidak mengerti dengan keputusannya sendiri. Menyelesaikan masalah dengan meminta bantuan Min Yoon Gi, dipermalukan–ah tidak–dikira meminta kejelasan, lalu menyerahkan daerah kekuasaannya di Gangnam secara cuma-cuma. Apa ada hal konyol yang akan terjadi selanjutnya? Ia kembali membuang napas, meniup-niup anak poni yang terlalu mengganggu pengelihatan. Ingatkan Ye Rin untuk ke salon setelah ini.

Ponsel di atas meja rias bergetar, membuat beberapa botol parfum berdenting kecil. Mengalihkan atensi sejenak, Ye Rin mengernyitkan dahi mengeja nomor asing yang mengirim pesan singkat.

Selamat tidur. Kau tahu, belakangan ini aku tidak bisa mengenyahkan bayangan tubuh polosmu dari fantasiku. Yoon Gi -Yoon Gi

Sinting. Double sinting. Baru saja Ye Rin memikirkan keputusan sore tadi dan sekarang pria brengsek itu justru menghubunginya. Menaruh kembali ponsel ke tempat semula, ia memejamkan mata berusaha tidak melempar benda di sekitar. Bagaimana bisa pria brengsek itu berujar hal vulgar dengan begitu enteng? Oh, sinting!

***

Entah apa yang dimakan Ye Rin pagi ini. Mood buruknya kemarin sudah sepenuhnya tanggal, berganti semangat meluap yang cukup membuat beberapa karyawan terdekat merasa terkejut. Pasalnya wanita itu tiada henti tersenyum saat membolak-balik dokumen. Bahkan sikap ketusnya terhadap office boy yang mengantarkan kopi pun luntur tak berbekas.

Jeon Jung Kook pun juga memberi reaksi keheranan ketika menyadari perubahan emosi dari sang presdir. Bertanya-tanya gerangan apa yang telah membuat seorang Ryu Ye Rin kemarin begitu galak berubah menjadi seseorang yang penuh aura hangat bersama sunggingan senyum terpatri di bibirnya dalam satu malam.

“Sepertinya Nona baru saja mendapat kabar gembira,” Jung Kook mengerling menatap Ye Rin yang duduk di kursi kebesaran tengah membaca diagram pemasukan saham di perusahannya edisi bulan ini.

“Kabar gembira? Kurasa tidak,” Ye Rin menyahut diiringi kekehan kecil. Ia menutup dokumen diagram di hadapannya kemudian berbalas tatap dengan pria yang duduk di sofa dalam ruangannya.

Satu alis Jung Kook berjingkat naik. “Lalu hal apa yang membuat Nona begitu gembira hari ini?”

Suara ketukan pintu membuat Ye Rin mengurungkan niat untuk menjawab pertanyaan dari sang lawan bicara. Menatap sebentar pintu ruangannya lalu berseru menitah seseorang yang berdiri di balik pintu tersebut untuk segera masuk.

Salah seorang karyawan masuk di ruangan Ye Rin. Membungkuk sesaat untuk memberi hormat sebelum mengutarakan maksud kedatangannya pada atasan. “Ayahanda Nona menunggu Anda di bawah, harap temui Beliau segera.”

***

Harapan Ye Rin untuk mendapatkan senyum hangat serta wajah bangga dari sang ayah saat ia menyapanya meluruh begitu kenyataan yang dilihat justru pria setengah abad itu menatapnya tajam dengan raut marah di wajah. Di samping ayahnya, Ye Rin melihat ada sosok Jill yang telah berdiri di sana sedang menunduk takut.

“Ay-ayah kenapa tidak memberitahu aku kalau akan berkunjung kemari?” Ye Rin tetap menyapa ayahnya dengan senyum agak dipaksakan. Tangan wanita itu gemetar lantaran gugup ditatap sebegitu tajam oleh orang tuanya.

“Kenapa kalau aku datang tiba-tiba? Kau jadi tidak punya waktu untuk menutup mulut semua pekerja di sini tentang perusahaanku yang sakit, kan?” Ryu Se Joon merespon pertanyaan dari putrinya dengan nada dingin. Ia mendekati Ye Rin secara perlahan, membenturkan dengan keras sepatunya pada lantai secara sengaja agar bunyi gemelatuknya terdengar mengintimidasi.

Ye Rin terkejut, kini dia tidak sanggup untuk sekadar mencuri tatap pada ayahnya, hanya telinganya yang masih siaga mendengarkan gemelatuk sepatu Se Joon yang semakin mendekat. Pun juga dengan kepalanya yang semakin sesak oleh pertanyaan apakah ayahnya sudah mengetahui masalah perusahaan akhir-akhir ini? Atau siapa yang telah membocorkan masalah perusahaan pada ayahnya?

“Ke ruang rapat segera. Ada beberapa hal yang ingin ayah tuntut darimu Ye Rin.”

***

Selama satu jam terakhir, Min Yoon Gi berusaha mati-matian agar fokusnya tidak terpecah antara nominal uang di monitor dan tubuh sintal Shin Seul Bi yang sialan mengusik hasratnya. Sebetulnya bukan salah Seul Bi karena wanita itu hanya duduk manis di sofa sembari membaca majalah bisnis, Yoon Gi lah yang terlampau tidak tahan berlama-lama diam ketika Seul Bi mengisi lingkup pandangannya.

“Bisakah kau pergi sekarang? Aku benar-benar harus fokus pada pekerjaanku,” ujar Yoon Gi ketika mendapati dirinya lagi-lagi memerhatikan Seul Bi.

Wanita itu merespon dengan menjingkat naik satu alisnya. Menutup majalah dalam pangkuan sebelum kemudian berkata. “Aku hanya diam di sini tidak mengganggumu, tapi sepertinya kau tetap terusik,” ia mengulas senyum, “Kalau diingat-ingat ini kali kedua kau menolak kehadiranku. Jujur saja aku sakit hati.”

Yoon Gi menyerah untuk berusaha mengalihkan seluruh fokusnya pada pundi-pundi penghasilan perusahaan yang terangkum dalam dokumen di monitor dan memilih memerhatikan Seul Bi yang sesaat lagi akan berceloteh lantaran tidak terima dirinya menolak didatangi wanita itu untuk kedua kali.

“Sepertinya kerja sama kita sebagai patner seks cukup sampai di sini saja,” lagi lagi Yoon Gi mengeluarkan kalimat yang membuat Seul Bi menukikkan alisnya.

Seul Bi tertawa, lalu jelaga kembarnya menatap sang lawan bicara tidak percaya. “Kau bercanda, ‘kan? Katakan kalau kau hanya sedang bergurau.”

“Tapi sayangnya kali ini aku serius Shin Seul Bi.”

Seul Bi melempar majalah dalam pangkuannya ke atas meja dengan kasar. “Apa-apaan ini? Kenapa? Kau sudah menemukan wanita yang menggantikan posisiku?” ia beranjak dari duduk manisnya untuk kemudian menghampiri Yoon Gi yang masih tenang duduk di kursi kebesaran.

Anggukan kepala Yoon Gi membuat Seul Bi lagi-lagi terkejut dan menatapnya semakin tidak percaya. Seul Bi mendengus keras, berusaha menekan amarahnya. “Kenapa kau menggantiku? Apa aku kurang memuaskanmu? Ayo katakan sekarang, kau tidak puas dengan blowjob dariku. Kalau seperti itu, aku bisa meningkatkan kemampuan serviceku, aku bisa membuatmu mendesah dengan menyerukan namaku seperti yang kau mau, aku bis-”

“Hei manis, tenanglah. Jangan bicara terlalu vulgar di ruang kerjaku. Itu tidak sopan!” Yoon Gi menegur wanita itu agar menyaring ucapannya.

Teguran itu sama sekali tidak diindahkan oleh Seul Bi. Ia justru semakin berbuat nekat dengan mengitari meja mengeliminasi jaraknya dengan Yoon Gi, kemudian serta merta tubuhnya dijatuhkan pada pangkuan CEO muda itu.

Jelaga kembarnya menatap nyalang mata kecil Yoon Gi, namun pria itu justru membalasnya dengan senyum timpang. “Kau tidak terima jika seseorang menggantikan posisimu?”

Seul Bi mengecup bibir pria itu sebagai jawaban dan lima detik setelahnya bibir itu menyapa daun telinga kiri Yoon Gi untuk berbisik. “Katakan padaku siapa wanita itu?”

“Namanya Ryu Ye Rin,” saat Yoon Gi menyebut nama wanita yang telah menggeser pehatiannya dari Seul Bi, ia mengatakannya dengan sangat lancar. Seolah tidak peduli jika wanita di hadapannya mungkin saja terluka atas jawaban tersebut.

“Ryu Ye Rin?” Seul Bi mengulang nama yang disebutkan oleh Yoon Gi dengan garis halus di dahi. Ia menjauhkan wajahnya dari telinga pria itu.

CEO muda itu mengangguk mantap. “Meskipun dia tidak seahli dirimu di atas ranjang, tapi dia membuatku merasa esshh entahlah aku bingung menyebutnya seperti apa yang jelas aku tidak mendapatkannya darimu.”

Lagi-lagi Seul Bi tertawa, kali ini tidak terdengar seperti dipaksakan, namun ia tertawa karena geli dengan alasan mengapa Yoon Gi berencana menggesernya dengan seseorang yang bernama Ryu Ye Rin. “Biar aku tebak kau baru pertama kali menyentuhnya. Asal kautahu ya, kalau kau sudah menyentuhnya lebih dari tiga kali, rasanya akan sama sepertiku.” Ia membelai wajah porselen Yoon Gi sebelum kemudian membisikkan kalimat intimidasinya. “Jangan pernah tinggalkan aku. Kau sudah terikat denganku, tidak akan semudah itu kau bisa lepas dariku.”

Seul Bi mengakhiri kalimatnya dengan sebuah kecupan di pipi kiri Yoon Gi kemudian menatap lekat wajah pria itu. Hatinya telah berjanji tidak akan pergi dari kehidupan Yoon Gi sebelum tujuannya terpenuhi dan dia tidak akan mengizinkan pria itu untuk meninggalkannya. Karena Seul Bi masih terikat janji pada Nam Joon untuk memindai aktivitas Min Yoon Gi.

***

“Ayah benar-benar kecewa dengan kinerjamu yang sebenarnya. Inflasi membengkak, dan apa-apaan ini saham merosot ke sepuluh besar,” Ryu Se Soon berbicara dari ujung meja rapat, sementara tangannya mengutak-atik dokumen perusahaan pada laptop putih di hadapannya sebelum kemudian memutarkan posisinya seratus delapan puluh derajat untuk mempertontonkan dokumen tersebut pada tiga orang di sisi kanan dan kirinya. “Kau juga kalah pada tender di Bangkok.”

Pria setengah abad itu beralih pada Ye Rin yang menunduk di sisi kanan kursinya, menuntut putri tunggal itu untuk memberi penjelasan tentang kemunduran perusahaan yang signifikan. Namun Ye Rin masih bergeming di tempatnya, tidak sanggup menatap apalagi merespon ucapan sang ayah.

“Kalau kau tidak bisa menjawab, baiklah biar Jung Kook yang menjelaskannya,” Se Joon kini melipat kedua tangannya di atas meja, di hadapan laptopnya. Pandangannya lurus tertuju pada sosok gagah Jung Kook yang duduk bersebrangan dengan Ye Rin.

Jung Kook mengambil napas berat, berusaha bersikap tenang meskipun jantungnya bertalu keras sama seperti Ye Rin. “Nona menghapus sistem lembur untuk seluruh karyawan, juga Nona memiliki kerja sama dengan beberapa client yang bermasalah sehingga pemasukan berkurang dan menurunkan harga saham. Untuk masalah tender, katanya dokumen presentasi tiba-tiba tidak dapat di akses padahal sebelumnya baik-baik saja. Sangat mustahil jika ada seseorang yang merusak dokumen tersebut sedangkan laptop terus berada di tangan Nona Ye Rin.”

Ye Rin tidak percaya bahwa Jung Kook akan mengadu seperti itu, dia pikir pria itu akan mengarang cerita untuk melindunginya namun realita justru berbanding terbalik. Ia semakin kaku saat tatapan Se Joon seolah menghakiminya.

Jill mengambil alih. “Nona juga tidak kunjung memutus kerja sama pada Client yang bemasalah tersebut, kami masih menjadi donatur utama pada perusahaan mereka. Membuat keuangan perusahaan semakin bocor dan produk belum mengalami perbaruan. La-”

“Cukup!” Ye Rin akhirnya menegakkan tubuh. Dia menatap satu persatu wajah Jill dan Jung Kook dengan kecewa lantaran dua orang itu tiba-tiba mengkhianatinya saat ini. Ye Rin tidak dapat berlindung lagi bila Se Joon akan mendampratnya habis-habisan. Dan Jeon Jung Kook hanya membalas tatapan kecewa itu dengan satu alisnya yang berjingkat naik diiringi wajah datar.

“Kenapa kau menghentikan mereka? Biarkan mereka menceritakan tentang kepayahanmu selama ini pada ayah,” Se Joon mengurut dahi. Sepertinya masalah ini menghantam kepalanya terlalu keras, “aku jadi mulai menyesali mengangkatmu di posisi setinggi ini.”

“Ayah…,” wibawa Ye Rin meluruh ketika dia mulai merengek pada orang tuanya di hadapan Jung Kook dan Jill.

Se Joon tidak mengindahkan rengekan dari Ye Rin justru kembali menghakiminya. “Sia-sia aku mendidikmu sampai ke jenjang tinggi jika pada kenyataannya kau masih sangat payah. Tapi inti masalahnya bukan itu, yang aku kecewakan kenapa kau selama ini tutup mulut dariku Ye Rin?” dia menatap mata berkaca-kaca putrinya lalu beralih menatap Jung Kook. “Wakil Pesdir Jeon, apa kau selama ini tidak membantu putriku?”

Dengan refleks Jung Kook membungkukkan tubuh. “Saya tentu saja membantu Nona, namun kadang saran yang saya berikan tidak terlalu diindahkan oleh Nona. Kerap kali Nona mengambil keputusan tanpa perundingan.”

“Brengsek kau!” kesabaran Ye Rin telah habis. Dia beranjak dari kursinya untuk menghampiri Jung Kook dan menampar wajah tampan pria itu. Namun pergerakannya telah lebih dulu dicegah oleh Se Joon.

“Ryu Ye Rin jaga sikapmu!” Se Joon beseru tegas. Memaksa putrinya untuk duduk tenang kembali di tempat semula.

Ye Rin ingin sekali berteriak di hadapan ayahnya bahwa ucapan terakhir Jung Kook tidaklah benar. Pria itu sama sekali tidak membantu memulihkan perusahaan, dia hanya menjadi pendengar yang baik saat Ye Rin mencurahkan isi pikirannya tanpa melakukan pergerakan untuk kemajuan perusahaannya.

“Perusahaan ini akan kembali maju. Aku telah bekerja sama dengan YG Corporation, Min Yoon Gi bersedia menyuntikkan dana untuk perusahaan kita. Aku bisa melakukannya sendiri, aku tidak payah!” Ye Rin mengatakannya dengan tersendat lantaran tenggorokannya sakit menahan amarah. Dia menatap Se Joon dengan binar semangat serta optimis bahwa dirinya mampu memajukan kembali perusahaan yang sedang dia tanggung.

Dengan decakan pelan, Se Joon mendorong kursinya serta melangkah pergi, mengabaikan panggilan pelan dari Ye Rin yang memohon untuk percaya pada kata-katanya. Lalu Jill menyusul beranjak meninggalkan ruang rapat tersebut dan kini hanya menyisakan pasangan Presdir dan Wakil Presdir di sana.

“Jung Kook-ssi….”

Ye Rin mencegah niat Jung Kook untuk melangkah pergi. Dia mematikan laptop yang tadi digunakan oleh Se Joon, lalu menghampiri pria itu yang berdiri di ambang pintu. Sebelum kembali membuka suara, Ye Rin lebih dulu mengunci pintu tersebut dari dalam agar orang lain tidak dapat mengganggu percakapannya.

“Apakah ini sifat aslimu? Bermuka dua?” dia tidak segan melontarkan kalimat sarkastik di hadapan pria itu, lalu berdecak.

Alih-alih tersinggung oleh pertanyaan yang dilontarkan oleh Ye Rin, Jung Kook justru tertawa mendengarnya. “Apa ada yang salah dengan penuturanku tadi? Aku berusaha jujur, berbicara apa adanya. Kenapa Nona mempermasalahkan itu?”

Ye Rin mendengus kasar. Sekarang wanita itu rasanya muak sekali melihat paras tampan Jung Kook. “Apa adanya? Tapi dari kalimat yang kaukatakan, kau sengaja membuatku terpojok di depan ayah. Kau sengaja melakukan itu, ‘kan?”

Jung Kook tidak menjawab, ia justru melipat tangannya di dada, menanti Ye Rin menuntaskan tuduhan kepadanya. Punggungnya bahkan dengan sengaja dia sandarkan pada daun pintu.

“Kau mengincar posisiku, ‘kan?”

Pria itu menegakkan tubuhnya dengan diiringi senyum timpang. Ye Rin yakin senyuman tersebut mengandung makna bahwa Jung Kook membenarkan semua tuduhannya.

“Iya benar. Aku mengincar posisimu. Aku menginginkan kursi kebesaranmu.”

To Be Continued

A/N: Hai! Kita hadir bawa lanjutan Mafia’s Complex loh >< hihi. Semoga masih inget sama jalan ceritanya 😀

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s