Raining Spell [Twoshoot]

Raining Spell [Twoshoot]

image

Title: Raining Spell
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin, Jeon Jung Kook
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Length: Twoshoot
Cover by: Aira Angelina Alfrida Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Prompt by Fawn

#1
Wedding Tears

~~~

Story begin..

Dekorasi putih berpadu biru muda menghias gereja. Karangan bunga bentuk rasa turut berbahagia terpajang rapi. Tiada awan yang siap menumpah tangis. Hanya surya gagah tersenyum manis ikut menjadi saksi. Semua tampak khidmat, seolah alam menyetujui ikrar cinta dua insan yang dimabuk asmara.

Kilatan blitz tiada henti menyambar, mengiring gadis bergaun putih memasuki altar. Bersama rengkuh kokoh sang ayah di samping, ia tampak begitu cantik, begitu siap melakukan sumpah setia bersama pria bertuxedo hitam di depan sana. Semua mata tertuju padanya, semua senyum terlempar padanya, semua mengagumi betapa sempurna dirinya.

Namun siapa sangka di baris depan seorang gadis lain tiada henti menangis. Riasan tipisnya bahkan telah memudar, terganti dengan aliran sungai kecil yang tercipta. Mungkin semua orang mengira ia menangis bahagia; menyaksikan sang sahabat melangkah ke jenjang serius bersama pria tampan yang telah lama menjalin kasih dengannya. Namun kenyataan tidak seperti itu.

Ryu Ye Rin jelas mengingat bagaimana bibir pria itu bergerak mengucap kata cinta untuknya. Juga ciuman panas yang tanpa ia duga akan berlangsung. Ia juga mengingat manik hitam yang seakan menghisap ke dasar jurang dalam. Begitu menghipnotis hingga ia tak kuasa menolak benda lembut mengeksplorasi miliknya.

Pria itu, Jeon Jung Kook, yang sekarang tengah berdiri menyambut Im Na Young dari tangan sang calon mertua. Ya, dia. Pria sama yang telah membuat Ye Rin jatuh cinta. Air matanya kembali jatuh, menyeruak netra tanpa mampu ia bendung. Semua nampak kabur, bahkan ketika Jung Kook menatapnya lima detik cairan bening sialan itu masih saja menggenang.

Pikiran Ye Rin berkecamuk, tanpa henti mengingat kesalahan fatalnya satu tahun lalu. Hari di mana ia mengunjungi krematorium untuk memperingati kematian kakaknya jadi awal cerita. Semua berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya saat ia meletakkan bunga mawar putih serta memanjatkan doa. Namun hal biasa itu agaknya berbeda, terbukti beberapa menit setelah berbicara dengan kakaknya Ryu Ye Rin mendengar isak tangis. Cukup lirih namun telinganya masih mampu menangkap jelas. Menyudahi perbincangan, dua manik cokelatnya menyisir sekitar.

Dan ia melihatnya. Jung Kook ada di sana. Sekitar tiga petak dari tempat krematorium kakaknya. Menangis menatap foto seorang wanita yang diletakkan di samping abu kremasi. Tanpa pikir panjang Ye Rin berjalan begitu saja, menghampiri Jung Kook dan menepuk pundaknya.

Batin Ye Rin tersayat menatap jelaga berkubang air mata di hadapan. Ia ingin, ingin sekali meredakan gejolak emosi yang tersirat di mata hitam itu. Menit demi menit berlalu hanya terisi sunyi. Derai air mata masih setia membasahi paras tampan Jung Kook. Ye Rin menghela napas, hatinya benar-benar remuk.

Setengah jam kemudian mereka duduk di kursi yang tersedia. Saling bertukar cerita sembari memandang tempat abu kremasi yang sedari tadi mencuri perhatian Jung Kook. Krematorium sang nenek tercinta. Begitulah informasi yang Ye Rin tahu sejauh ini.

“Nenek adalah satu-satunya orang yang mendukung cita-citaku. Kehilangan beliau seperti kehilangan separuh jiwaku. Setiap kali aku datang dan menatap abu kremasi itu, aku tidak bisa berhenti menangis,” tutup Jung Kook tersenyum getir. Belum pernah ia merasa selega ini berbicara tentang mendiang neneknya. Bahkan dengan sang kekasih pun ia tidak bisa terbuka.

Mereka saling pandang, saling memuja manik mata masing-masing. Entah siapa yang mengawali jarak di antara keduanya semakin menyempit. Tangan Ye Rin menelusuri aliran air mata Jung Kook, meminta izin mengecup mata pria di hadapan. Jarak mereka semakin dekat, mendekat, dan bibir Ye Rin benar-benar mencium mata lebar itu.

Ia tahu dari awal memang salah. Kesalahan dimulai dari dirinya yang terbawa suasana. Salah karena ia telah jatuh dalam pesona mematikan seorang Jeon Jung Kook. Ye Rin masih menangis bahkan setelah keduanya menghadap pendeta.

Bodoh. Ye Rin terus meneriaki dirinya bodoh sejak seminggu yang lalu. Seharusnya ia menyadari posisi. Seharusnya ia sadar Jeon Jung Kook tidak akan mungkin berpaling dari Na Young. Ia menghela napas.

Ingatannya masih berlanjut, merajut membentuk pola panjang bagai kaset film. Jung Kook bahkan tak ingin melepas tautan tangan setelah kecupan mata selesai. Saat jelaga itu kembali terbuka dan bertemu cokelat tua Ye Rin, saat itu pula bibirnya bekerja. Mengecup dan melumat tanpa membiarkan Ye Rin menolak. Tangan bebas Jung Kook ikut andil menekan tengkuk sang gadis dalam rengkuhan. Bagai mendapat rasa candu yang benar-benar baru, Jung Kook bahkan terus tersenyum dan menempelkan dahi keduanya.

Tepukan riuh membuyarkan ingatan Ye Rin. Ia menengadah, menatap Jung Kook yang bersiap mendaratkan kecupan pada Na Young. Ye Rin bahkan melupakan bagian ikrar mereka hanya karena ingatan yang terus terproduksi. Semua orang menyoraki mereka, semua orang tertawa bahagia karena mereka. Setetes air bening kembali menuruni pipi kirinya. Refleksi pesakitan yang terasa masuk hingga sel tulang terdalam.

Tercekat dalam tangis, terkurung dalam rundung duka. Tiada daya kaki melangkah meski semua tamu tengah berhamburan keluar. Tiada guna tangan menengadah, semua bahkan tidak peduli dengan dirinya.

Ye Rin kalah. Seisi kepala hanya mampu membuatnya jatuh lebih dalam. Sejengkal maupun setitik kilasan terlalu memberikan makna. Menyentak pada kenyataan bahwa sejatinya ia sudah jatuh dari awal.

Ia memaksa bangkit. Menyeret-nyeret gaun peach dengan langkah tipis. Efek tangis yang ia rasa masih jua mendera. Menyelubung hati dengan luka abadi menyala.

Sebisa mungkin Ye Rin menjajakan senyum. Memeluk Na Young mengucap selamat sebanyak-banyaknya. Berlama-lama menangis di bahu tanpa helai benang itu. Pun tak lupa mengucap selamat pada Jung Kook. Memeluk singkat dan kembali memasang senyum getir.

Ye Rin tersentak mengamati pergerakan kecil Jung Kook. Tanpa disadari tangan pria itu mengepal, menambah pesakitan Ye Rin semakin meluap. Gadis yang masih tersenyum dalam tangis berpamit. Membiarkan sang pasangan bahagia merajut hari baru mereka.

“Aku akan jadi orang pertama yang menghapus air matamu,” suara familiar mampir dalam ingatan. Rengkuh hangat ia dapat. Dada bidang yang menghimpit terasa begitu memabukkan. Cuilan kecil di kala hari senja musim dingin. Entah bagaimana ia menghapus memori yang terlanjur membekas. Menekuk, membungkus, melekuk jiwa tanpa henti.

Langkah kakinya seringan kapas. Menjajaki trotoar tanpa peduli terlihat orang. Ye Rin cukup malu menumpang keluarga mempelai wanita. Cukup tahu diri telah menghianati sang sahabat karib.

Ia tahu akhirnya akan kalah. Ia tahu akhirnya akan menanggung luka. Ibarat bermain api, Ye Rin kini merasa terbakar dan berakhir menjadi abu.

“Aku mencintaimu,” bisikan itu masih terasa baru. Kulit dengan kulit beradu, mentransfer hangat dalam rengkuhan panjang kala daun-daun maple berguguran. Bahu Ye Rin bergetar, tak bisa memungkiri letupan bahagia yang tengah beranak pinak di perut.

Di satu sisi tentu ia bersorak bahagia. Mendapati cinta berbalas menumbuhkan euforia yang tiada ternilai harganya. Sementara di sisi lain lenguh cekat makin lama makin membesar. Tahu bahwa semua yang ia alami salah. Tahu bahwa Jung Kook tidak mungkin menekan tombol cinta sementara Na Young telah lama bersama dengannya.

Kala itu mereka menghabiskan waktu bersama di bawah pohon maple. Mengamati rerontokan daun yang dimainkan bayu. Jemari saling bertaut, kepala saling menyandar. Dingin yang hampir membuat tubuh beku tiada dihiraukan, seolah hanya kehadiran orang di samping sudah cukup memberikan kehangatan lebih.

Ryu Ye Rin masih menangis menepuk-nepuk dada. Rasa sakit menusuk-nusuk. Berusaha melubangi seluruh bagian hati gadis yang kini berhenti di halte terdekat. Mengapa… mengapa begitu sulit mengusir segala ingatan sejenak saja? Mengapa begitu sulit menjauhkan bayangan manis dari otak sedetik saja?

Bahunya lelah bergetar namun liquid bening justru enggan menghindar. Bibirnya lelah meredam suara namun air mata terus saja merangsek keluar.

Cumulonimbus menutup surya. Menyelubung, mengisi petak-petak kanvas langit secara tiba-tiba. Tetes demi tetes hujan jatuh, membasahi daun-daun, atap, dan berakhir di selokan. Ye Rin menengadah, cukup terhenyak dengan perubahan cuaca sedemikian cepat. Seolah kini alam tengah berpihak pada kesedihannya.

Ia berdiri, berjalan mendekati ujung halte menengadah tangan. Meraup air yang jatuh sebanyak-banyaknya. Berharap jika ia menoleh ke kiri, Jeon Jung Kook juga berdiri di sana melakukan hal sama. Berharap kecupan ringan mendarat di pipi lalu usapan tangan besar menjalar di setiap jejak sungai kecil yang tercipta.

Terlalu banyak kenangan yang terlewati. Terlalu banyak rasa manis yang ia cecap diam-diam di belakang Na Young. Terlalu banyak hingga sulit menghapus satu demi satu.

Sekarang mereka telah bahagia, menyisakan dirinya yang jatuh dalam kubangan duka. Sekarang Jeon Jung Kook telah kembali pada cinta sejatinya. Menyisakan Ye Rin dengan rasa mekar mengakar kuat.

“Hujan tidak pernah salah menjatuhkan diri. Sama seperti diriku yang juga tidak bersalah telah jatuh cinta padamu.”

Ye Rin menghela napas. Tangis masih luruh seiring hujan kian deras. Bibirnya mengulum senyum, menggumam kalimat yang biasa Jung Kook ucap ketika mereka bertemu.

“Dalam hujan aku menemuimu. Kita bercanda dan saling menggenggam rindu di bawah tangisan langit. Dalam hujan pula kita harus berpisah. Kau dengan kehidupan baru dan aku dengan segala kenanganku.”

Air mata masih menetes, bahu masih bergetar namun Ye Rin tiada henti bermonolog. “Dalam hujan tak berujung ini, izinkan aku mencintaimu. Mencintai dengan sama besar ketika kau masih di sisiku.”

To Be Continued..

A/N: Haloo >

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s