Ribbon Chapter 2

Ribbon Chapter 2

image

Title: Ribbon
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: Angst, Hurt/Comfort, AU
Cover by: NadseHwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

“Ikatan pita mengendur dan semua tidak sama seperti dulu lagi. Hatimu pecah, hatiku lebur. Jiwaku retak, jiwamu mengabur.”

Chapter 2
Once Again

~~~

Story begin..

“Apa yang kaulakukan padanya semalam, Jung Kook?” Kim Nam Joon, sang pemilik agensi, mencecar tanya. Kepalanya sudah cukup pusing dengan laporan-laporan sepihak mengenai artis terbaik agensi tersebut.

Jung Kook menggeleng, menatap nyalang wanita yang melingkari tubuhnya tadi pagi serta pria yang ia yakini sebagai pemilik agensi wanita itu. “Aku bersumpah tidak melakukan apa pun. Aku memang dalam kondisi mabuk tapi aku mampu keluar dari bar dan tidur di dalam mobilku.”

Baik Nam Joon maupun Ho Seok mengernyitkan dahi. Bingung. Nam Joon sungguh bimbang harus mempercayai siapa. Sementara Ho Seok, ia bahkan masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan orang-orang di dalam ruangan ini.

Tiba-tiba saja wanita itu mengisak, menyibak lengan sweater yang ia gunakan demi mempertontonkan bekas merah di kedua pergelangannya. “Kau mencumbuiku di bar dan mengikat tanganku dengan dasimu. Kau membawaku ke hotel dan kau memaksaku menuruti nafsumu. Kau kehilangan kendali. Kau memperkosaku!”

Jung Kook membulatkan mata. Tiga pria yang tersisa menatap tak percaya. Beberapa kali gelengan Jung Kook layangkan. Ia berani bersumpah tidak melakukan hal segila itu semalam. Jung Kook bahkan masih mengingat jelas bagaimana usahanya keluar dari bar dan bersandar pada steer mobil.

Tangan Jung Kook mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Pria itu bangkit, mengitari meja dengan segera menarik kerah sweater sang wanita. “Katakan siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini!”

Wanita yang ada dalam cengkeraman bergetar. Tangisnya kembali pecah. Jung Kook justru merasa geli. Wanita ini pasti adalah seorang aktris yang berbakat menangis. Ia pasrah ketika pria pemilik agensi wanita itu melepaskan cengkeraman.

“Jaga sikapmu, Anak Muda. Dan kau, Nam Joon. Kami meminta Jung Kook segera menikahi Naomi. Demi nama baik kita bersama. Pihak media mungkin sudah mencium kejadian ini.”

Wanita serta pria awal empat puluhan meninggalkan ruangan. Menyisakan Jung Kook, Ho Seok serta Nam Joon yang memilih memejamkan mata. Semua terasa begitu tiba-tiba. Begitu mendadak hingga otak jenius pun tidak dapat memikirkan solusi tepat untuk masalah ini.

“Kau harus mempercayaiku, Hyeong. Ada orang yang sengaja menjebakku,” Jung Kook gusar. “CCTV dalam mobilku bahkan dicuri. Aku yakin ada orang yang sengaja menjebakku.”

***

Im Na Young tidak mengerti mengapa menggambar gudang kosong dengan banyak bercak darah justru membuatnya senang. Ia bahkan melupakan fakta penting bahwa sejujurnya darah ada dalam salah satu daftar hal-hal paling tidak ia suka. Salah satu lagu Jung Kook terdengar dari speaker, lalu beberapa fans fanatik yang menjelma menjadi art designer bersamanya mulai menunjukkan ketidakwarasan. Mengembuskan napas kuat-kuat, ia menyelipkan headset di telinga, menghalau suara-suara menjijikan yang kian lama makin menggema.

Aplikasi chatting khusus kantornya berkedip-kedip menandakan cukup banyak pesan yang ia terima. Ia mengembuskan napas maklum. Sudah dipastikan ada kehebohan baru pada divisinya. Lalu seperti biasa, ia akan melihat dan membaca tanpa meninggalkan komentar apa pun.

Na Young tidak pernah dekat dengan teman-teman satu divisinya. Kecuali sang leader yang memberinya tugas atau jadwal check approval. Ia memang mengingat nama serta wajah mereka, namun untuk mengenal, wanita itu tidak seberani yang kaukira.

Lelah dengan ikon yang berkedip tiap detik Na Young membuka notifikasi. Ada enam puluh pesan baru yang belum ia baca. Ia menghela napas. Mereka benar-benar penggosip yang luar biasa.

###

Jarum panjang jam menunjuk angka dua belas saat dentang lonceng berbunyi sebanyak lima kali. Pukul lima sore. Na Young menunduk, menyembunyikan wajah pada telapak tangan selama beberapa detik. Ia menengadah, tersenyum pada patung Bunda Maria lalu segera melesat pergi. Sudah satu jam tepatnya ia meluapkan tangis, meminta maaf atas dosa yang ia tanggung semenjak tujuh tahun lalu.

Sesungging senyum terpeta manakala manik matanya melihat mobil Ye Rin terparkir rapi di depan studio tempatnya bekerja. Membuka pintu, ia segera masuk seraya mengulas senyum terbaik. “Kursi gereja terlalu nyaman, asal kau tahu,” candanya yang hanya dihadiahi tawa hambar Ye Rin.

“Aku percaya padamu,” Ye Rin menstarter mobil. Membiarkan Na Young mengutak-atik playlist lagunya. “Kau tahu, kurasa doamu sudah dikabulkan.”

Na Young menoleh setelah memencet tombol play. Lantunan lagu So Far Away milik Yoon Gi feat Su Ran menggema dalam mobil. “Doa yang seperti apa?”

“Terkadang aku merasa iri dengan nona Su Ran,” decakan Ye Rin membuat Na Young terkekeh. “Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa kau akan berdoa untuk kesengsaraan Jung Kook.”

Na Young menengok ke arah Ye Rin seraya menghela napas. Menggeleng singkat, “Aku tahu. Tapi aku tidak sampai hati melakukannya berulang-ulang.”

Ye Rin ikut menoleh sebentar. Bersama iringan lagu ceritanya mengalir begitu saja. Dimulai pagi ini di mana tiba-tiba Yoon Gi mengunjungi apartemennya untuk sarapan bersama. Pria itu bertanya, bahkan mengulangi pertanyaannya acapkali ada kesempatan. Pertanyaan tentang benarkah pria bertalenta seperti Jung Kook rela menghancurkan karir yang ia bangun dengan cara seperti ini.

Ye Rin benar-benar tidak habis pikir. Seingatnya pria itu sudah berhenti melakukan hal-hal gila semenjak insiden yang melibatkan sahabatnya tercinta. Setahunya Jung Kook juga mengalami trauma dan tidak mampu melakukan hal sekeji itu karena ingatannya selalu tertumbuk pada kejadian pahit tujuh tahun lalu. Dan sekarang, mengapa justru ada kabar simpang siur seperti ini?

Tubuh Na Young mendadak kaku. Sebersit ingatan tujuh tahun lalu berdengung-dengung di kepala. Tidak. Ia menggeleng singkat berusaha mengusir kepingan memori yang tanpa sadar masih membekas.

Biarkan saja. Ia sudah terlalu jauh mendengar nama itu diucapkan. Biarkan saja. Ia tidak mau peduli meski nanti publik yang memuja-muja pria itu berbalik membencinya. Ya. Yang perlu ia lakukan hanyalah membiarkan masalah ini pergi begitu saja tanpa perlu ikut campur tangan.

###

Tepat pukul lima lebih dua puluh empat menit sebuah forum diskusi online digemparkan dengan berita mengenai penyanyi pria favorit Korea Selatan yang tengah mencumbui salah satu rekan artis. Beberapa menit kemudian berita itu sudah menjadi headline. Komentar pedas beserta nyinyiran kasar tumpah ruah dalam postingan. Entah sudah berapa kali berita itu dibagikan dengan bumbu-bumbu kritikan cabe. Stasiun televisi tak kalah gempar, pun pula radio yang sahut menyahut menyuarakan berita heboh tersebut.

Jung Kook yang tengah berada di kantor agensi memberi tatapan keras. Ia sama sekali tidak menyangka jika ada seorang yang benar-benar merencanakan kehancuran karirnya dengan sangat baik.

Foto-foto yang diunggah pada media tidak lain hanya foto rekayasa. Satu-satunya yang asli hanya sebuah foto ketika ia tengah menikmati alkohol. Ia bahkan tidak tahu ada seorang yang sengaja membuntutinya, menyamai pakaian juga model rambutnya lalu mencumbui wanita itu. Wanita yang sejujurnya tidak pernah ia ketahui asal usulnya.

Dan unjuk rasa di depan kantor yang memekakkan telinga sungguh membuatnya jengah. Berita itu sudah berkembang menjadi gosip. Bahkan pihak agensi sang wanita telah melakukan klarifikasi tentunya dengan kalimat-kalimat yang dilebih-lebihkan. Publik beralih simpati, nama wanita itu melambung cepat bagai roket, lalu Jung Kook terancam tidak bisa melanjutkan karirnya.

Ia menghela napas lelah. Bukan masalah jika ia harus berhenti dari bidang yang ia suka. Bukan pula masalah jika ia harus dibenci publik dengan cara sekeji ini. Toh, ia sendiri sudah menantikan kapan tepatnya mendapatkan balasan atas dosa yang ia perbuat tujuh tahun lalu. Toh sebenarnya ia sudah lelah dikejar-kejar rasa bersalah karena tak mampu mencari keberadaan orang yang pernah ia sakiti.

Biarlah publik membencinya. Biarlah publik meludahi maupun menggumam sumpah serapah padanya. Biarlah. Ia tidak akan menyetujui ide konyol pemilik agensi wanita itu demi membersihkan namanya.

***

Nam Joon memijat pelipis yang terasa berdenyut menyakitkan. Fawn, sang istri sekaligus orang kepercayaannya di kantor, baru saja memberikan laporan mengenai penurunan saham yang cukup signifikan. Ia tidak bisa menyalahkan Jung Kook begitu saja. Pria Kim bahkan sudah hafal sifat Jung Kook luar dalam. Jika artis terbaik agensinya sudah berkata tidak, maka ia benar-benar jujur dengan pernyataannya.

Hanya masalahnya, siapa dalang dan mengapa ia mengincar Jung Kook-lah yang menjadi beban di otak Nam Joon. Embusan napas kasar terdengar. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi masalah ini.

“Keluarkan saja aku dari agensi, Hyeong. Alihkan perhatian publik dengan boy groupmu yang baru,” Jung Kook masuk begitu saja ke ruang pribadi Nam Joon. Menghempaskan bobot tubuh di kursi yang tersedia, ia kembali berujar, “Aku tidak akan menerima tawaran agensi itu demi nama baikku. Aku sudah mengatakan padamu bahwa ini hanya rekayasa. Aku benar-benar dijebak dan kumohon keluarkan aku dari agensimu. Ini satu-satunya cara agar sahammu tidak mengalami penurunan terus menerus.”

Nam Joon menatap pria di hadapannya saksama. Ia mendesah, menggeleng singkat lalu semua mengalir begitu saja. Ketakutan dan keresahannya bukan semata karena perusahaan, melainkan rekan kerja, teman yang ia kenal sejak lama yaitu Jung Kook sendiri. Nam Joon takut jika karir Jung Kook kandas begitu saja padahal ia tahu betul bagaimana perjuangan Pria Jeon mendapatkan kesuksesan. Belum lagi cemooh juga caci maki yang akan ia terima dari masyarakat luar.

Unjuk rasa di depan kantor jadi bukti. Pemberitaan silih berganti jadi saksi. Tuduhan berat tetap ada pada Jung Kook dan tidak dapat terelakkan lagi. Namun sekali lagi Jung Kook hanya tersenyum, memberikan senyuman hangat seribu arti untuk sang pemilik agensi.

Ia tidak tahu lagi bagaimana selanjutnya hal ini akan berlangsung. Ia tidak tahu lagi sudah sejelek apa namanya di depan publik. Yang ia tahu, ia tidak bisa terus saja diam di tempat. Ia seharusnya lebih berani mengakui semuanya meski ia tahu tidak akan ada orang yang percaya. Menghela napas berat, Jung Kook kembali tersenyum meyakinkan diri.

***

“Aku tidak pernah meminta pada-Mu untuk menghukum orang yang sudah menghancurkan hidupku. Tapi, apakah ini bentuk ganjaran yang Engkau berikan, Tuhan?” Na Young menggumam di tengah kebaktian. Jiwanya terombang-ambing mendengar berita mengejutkan mengenai Jung Kook. Di satu sisi ia membenarkan bahwa sudah sepantasnya pria sebrengsek itu mendapatkan balasan setimpal, sementara di sisi lain, dirinya sangat menentang hal ini terjadi.

Tidak masuk akal. Kalimat itu acap kali terngiang di otaknya. Tidak mungkin jika Jung Kook melakukan hal sekeji itu mengingat sahabatnya juga menyaksikan betapa terpuruknya Jung Kook setelah peristiwa tujuh tahun lalu. Tidak mungkin seseorang melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Dan bagian terpenting dari itu semua, Jung Kook belum juga memunculkan diri pada publik sekadar mengklarifikasi segala tuduhan yang berlaku.

Na Young tidak berempati pada Jung Kook, namun entah kenapa emosinya begitu stabil melihat sekelilingnya membicarakan pria itu. Di kantor bahkan ia tidak memakai headset ketika penggemar-penggemar fanatik pria itu menangis tersedu-sedu membicarakan Jung Kook. Tidak ada letupan manakala nama Jung Kook diteriakkan begitu kuat. Bahkan reaksinya tetap saja datar dan semakin ingin tahu.

Wanita Im selalu saja menggeleng, menepis sisi baru yang tiba-tiba saja bangkit di saat seperti ini. Namun sekeras apa pun usahanya mengelak, nyatanya ia tetap mendengarkan. Ia tetap mengamati meski hanya diam.

“Akankah dia mengalami guncangan hebat seperti yang kualami dulu?”

***

Sinar perak bulan menelusup dari celah-celah gordyn setengah terbuka. Sepoi bayu malam membelai paras Na Young yang tengah mengamati dunia luar melalui jendela apartemennya. Berteman kucing dalam pangkuan, pikirannya melalang buana tanpa mampu ia hentikan. Bahkan hingga pukul satu dini hari matanya tetap tidak bisa terlelap meski hanya beberapa menit.

Berbagai pikiran abstrak berkecamuk di kepala. Ingatan yang ini, fakta yang itu, dan semuanya bergelung menjadi satu. Dadanya sesak namun tangis tak jua turun padahal hanya itu satu-satunya penawar terbaik yang ia punya.

Na Young membelai kucing kesayangannya. Bersenandung lirih sebuah lagu yang entah sejak kapan ia hafal. Lagu yang dinyanyikan Jung Kook yang terasa menguliti dirinya. Sebuah lagu permintaan maaf yang Ye Rin sebut-sebut lagu yang ia nyanyikan untuk Na Young.

Awalnya ia memang tidak peduli, namun ketika tanpa sengaja ia mendengar keseluruhan lagu yang dimaksud, jantungnya terasa terbakar. Bolehkah ia berbesar hati Jung Kook akan meminta maaf padanya?

###

“Kau tidak perlu melakukannya, Jung Kook-ah. Pikirkan dirimu. Kau lupa jika talk show itu mengundang audiens?” Ho Seok menatap Jung Kook beberapa detik sebelum kembali fokus ke jalan. Ia sungguh terkejut mendapati Jung Kook menyanggupi jadwal tampil di salah satu talk show.

Tidak masalah jika saja yang dibicarakan proyek album baru yang beberapa bulan lagi akan diluncurkan, tapi jika undangan talk show mendadak saat masalah Jung Kook tengah diekspos besar-besaran tentu saja Ho Seok tidak akan pernah mengizinkan. Pasti ada oknum haters yang mendasari diundangnya Jung Kook. Atau ada orang yang sengaja ingin menjatuhkan pria Jeon melalui acara yang kurang dua jam lagi akan tayang tersebut.

Jung Kook mendesah, mengantongi kembali ponsel. “Aku tahu yang terbaik untukku sendiri, Hyeong. Aku tidak bisa terus bersembunyi seperti ini. Mereka ingin aku keluar, mereka ingin aku menanggung malu. Jadi, kita ikuti saja permainan ini.”

Ho Seok menghela napas berat. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran artis yang telah ia manajeri selama tiga tahun ini. Memutuskan untuk tidak mendebat pria kepala batu di kursi belakang, dengan berat hati ia berujar, “Baiklah. Aku percaya padamu.”

***

“Setelah ini giliran Anda, Jung Kook-ssi,” salah satu crew menjemput Jung Kook di ruang ganti. Mengangguk, ia lantas mengekori sang wanita yang pipinya bersemu merah entah karena apa. Ia menghela napas.

Jantungnya bahkan tidak berdetak menyakitkan meski tahu akhirnya ia akan diperolok. Bahkan sikapnya tenang, terlalu tenang untuk ukuran artis yang terkena skandal. Setelah namanya diseru, Jung Kook berjalan sembari memamerkan senyum seperti biasa. Menduduki kursi setelah salah satu pembawa acara mempersilakan.

Basa-basi, menjaga image, berusaha tertarik dengan topik pembahasan meski sejatinya bintang tamu lain tak ubahnya para netizen berotak dangkal. Jung Kook hanya menanggapi sekenanya. Membiarkan pembahasan mengalir hingga titik yang Jung Kook inginkan. Jika seorang yang ingin menjatuhkannya memiliki rencana, ia juga memiliki kejutan spesial untuk mereka. Seringai Jung Kook disamarkan dengan seulas senyum manis.

“Lalu, apa tanggapanmu mengenai berita yang sejak kemarin pagi heboh dibicarakan?” sang pembawa acara akhirnya mengeluarkan kalimat pamungkas. Senyum Jung Kook masih terpeta, seolah pembicaraan tersebut tak ubahnya gosip tak berujung netizen yang dalam hitungan detik hilang.

“Berita itu lucu dan sangat konyol. Mengapa netizen yang biasanya jeli terlihat begitu mudah dikelabuhi?” Jung Kook menyangkal dengan sangat tenang. Beberapa audiens berteriak, memberikan sumpah serapah pada Jung Kook.

Saat sang pembawa acara hendak memberi pertanyaan kembali berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba memanas, Jung Kook sudah terlebih dahulu menjeda, “Aku sengaja meminta pihak agensiku untuk tidak mengonfirmasi apa pun karena memang aku tidak bersalah. Seseorang bisa saja meniru gaya rambut juga pakaianku lalu mencumbui wanita itu di saat aku berusaha keluar dari bar di sisi lain. CCTV bar tidak sebanyak yang kukira dan bahkan tempat yang kulalui agar bisa sampai di mobilku tidak ada CCTV sama sekali.”

“Kau pembohong ulung!

“Kau berbakat akting sehingga mengarang cerita!”

Banyak cacian terlontar namun Jung Kook tetap memberikan senyuman. Sejujurnya ia ingin berbicara lebih banyak namun diurungkan. Bukan waktunya ia meminta belas kasihan orang-orang bermuka dua. Bukan saatnya ia terus berlindung meski sejatinya ia tidak pernah bersalah.

“Aku tidak pernah berakting. Menerima tawaran bermain drama pun aku tidak pernah. Dan satu lagi, seorang yang bersalah tidak bisa berdiri dan berbicara setenang ini pada kalian.”

Satu gelas air minum dilempar tepat di baju Jung Kook. Disusul beberapa benda lain melayang mengenai tubuhnya. Jung Kook tetap tersenyum, tidak ada gentar tercipta. Ia tetap tenang, setenang saat pertama kali memasuki ruangan.

“Aku tidak meminta simpati publik dengan pengakuanku tadi. Terserah kalian percaya atau tidak aku tidak peduli,” Jung Kook mengedarkan pandang. “Mungkin seseorang di luar sana menginginkan karirku hancur dan membuatku malu karena sudah tidak laku di pasaran. Karena itu aku mengajukan pengunduran diri pada agensiku. Dan sekarang, aku mengumumkan bahwa Jeon Jung Kook berhenti menjadi penyanyi.”

***

“… Jeon Jung Kook berhenti menjadi penyanyi.”

Na Young berhenti menatap layar datar yang terpampang pada gedung televisi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tangannya mengepal menatap Jung Kook tidak melakukan perlawanan saat audiens membrutal melempari tubuhnya dengan gelas plastik. Netranya bahkan tidak mampu berhenti, terus saja menatap hingga Jung Kook memberi penghormatan lalu keluar begitu saja. Apa yang sebenarnya dipikirkan Jung Kook? Pertanyaan itu menyentil hati Na Young setelah kaki-kakinya memilih beranjak.

Ia sedang melakukan perjalanan malam hari menikmati gemerlap kota. Didasari rindu sekaligus rasa tertampar, ia merasa tercubit mengingat fakta bahwa dirinya tidak pernah keluar mengamati sekitar kecuali bekerja.

Salah satu stand penjual bakso ikan menggoda perutnya. Ia lantas menghampiri, membeli beberapa tusuk lalu kembali melanjutkan perjalanan. Sejauh kaki melangkah ia terus mengulas senyum bahkan tak jarang mengamati beberapa stand penjual yang ia lewati. Hingga tanpa sadar ia telah berjalan terlalu jauh dan bakso ikan serta beberapa camilan yang tadi ia beli telah tandas.

“Sudah kubilang kau tidak perlu melakukannya, Jung Kook-ah.”

Dua manik matanya membulat mendengar suara tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tepat lima belas meter di depan, Jung Kook bersama sang manajer hendak menaiki van. Belum sempat keterkejutannya pulih, mata Jung Kook bergulir ke arahnya. Membuat tubuh Na Young mendadak kaku saat pria itu berjalan mendekat.

Dengan sedikit paksaan, Na Young mengajak tubuhnya berlari sekencang mungkin. Tidak menghiraukan Jung Kook yang ikut berlari di belakangnya. Tidak. Ia tidak mau tertangkap dan berakhir seperti orang gila yang berteriak-teriak di jalan.

“Berpikir, berpikir,” gumamnya dalam hati. Mengingat di ujung jalan terdapat lorong sempit, segera saja Na Young masuk tanpa melihat ke belakang. Ia berlindung di samping drum bekas dengan napas tak beraturan.

Tepukan ringan di bahu memberi respon cepat, menjalar hingga tubuhnya kembali kaku. Dengan hati-hati ia menoleh, berusaha mensugesti pikiran dengan hal-hal positif. Saat mata hitamnya bertemu dengan sepasang mata berwarna senada, ia tahu ucapan Ye Rin akhirnya terwujud. Sekali lagi, Jung Kook benar-benar bertemu dengannya.

To Be Continued..

A/N: Hai ^^ Ch. 2 is up! ^^ gimana? Udah tahu belum sebenarnya kenapa Nayoung ngebenci Jungkook? 😀 maaf telat bgt updatenya ya >< (kayaknya hampir sebulan), banyak deadline menanti sih. Hehe.

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

6 thoughts on “Ribbon Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s