Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 5

Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 5

image

Title: Mafia’s Complex
Cast: Min Yoon Gi, Jeon Jung Kook, Ryu Ye Rin
Genre: Action, Crime, Thriller, AU
Rate: M (for safe)
Author: Dian Hanamizuki feat Nadhea Rain
CR Pict: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Chapter 5

~~~

Story begin..

Alarm ponsel milik Ryu Ye Rin membuat obrolan santainya bersama Jung Kook terpaksa berakhir, ya meskipun lebih tepat dikatakan sesi curhat dadakan Ye Rin daripada obrolan ringan. Menatap layar display pada ponselnya, Ye Rin hampir tersedak oleh air liurnya saat jam digital yang tertera amat besar di layar utama menunjukkan angka empat belas.

“Aku lupa telah memiliki janji untuk menemui seseorang,” ia merapikan tatanan rambutnya, kemudian menatap Jung Kook seolah dirinya tengah meminta izin pada pria itu untuk beranjak pergi. Padahal Ye Rin tidak perlu melakukan hal tersebut karena jabatannya lebih tinggi dari pria itu. Mungkin dia merasa tidak enak lantaran mengakhiri obrolan dan pergi begitu saja.

“Jam berapa Nona harus menemuinya?” Jung Kook menegakkan posisi duduknya, lalu menatap penasaran ke arah sang lawan bicara.

“Sekarang,” Ye Rin menjawab singkat sembari beranjak dari kursi. Jung Kook juga melakukan hal yang sama, ia beranjak kemudian mengeluarkan lima ribu Won dan meletakkannya di bawah cangkir kopi yang telah dihabiskan.

“Aku akan mengantar Nona sampai lobby.”

“Terima kasih.”

Keduanya berjalan keluar dari area kantin dengan Ye Rin yang beberapa kali melihat ponselnya secara gusar. Agaknya seseorang yang hendak ditemui wanita itu ialah seorang pemiliki jabatan penting dan ia akan mati bila terlambat sekian detik saja.

Mereka berpisah saat baru saja tiba di meja resepsionis. Ye Rin segera menghampiri pintu keluar, sementara Jung Kook menuju lift sambil sesekali membalas sapaan dan senyuman dari beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan di sana.

Lift berdenting tepat ketika ia tiba di depan pintu besi tersebut dan ponselnya juga bergetar. Jung Kook mengeluarkan ponselnya dari saku jas dan sebelah alisnya terjinjing naik saat mengetahui ada sebuah pesan masuk dari nomor yang belum terdaftar dalam kontaknya.

‘Video tersebut telah berhasil kudapatkan.’

Dua sudut bibir Jung Kook meninggi usai membaca isi persan tersebut dan akhirnya mengetahui si pemilik nomor tak terdaftar di kontaknya. Cukup beruntung saat itu di dalam lift hanya ada dirinya seorang, sehingga Jung Kook dapat mendongakkan kepala lalu menatap bulatan kecil yang hampir tak terlihat di sudut lift, lantas ia bergumam.

“Terimakasih, Nam Joon.”

***

Min Yoon Gi tiada henti menyunggingkan senyum mendapati secarik kertas tergeletak di bantal samping tempatnya berbaring; bekas Shin Seul Bi. Membaca sekilas, ia kemudian mengambil Camcorder, mencari hasil rekaman barunya masih dengan senyum cerah. Hanya butuh sedikit pelumas hingga otaknya berhenti berdengung menyakitkan. Meski ia tahu pekerjaan menumpuk masih menanti, setidaknya hasrat kelakiannya terpuaskan dengan sangat baik.

Getaran ponsel menginterupsi kegiatan CEO muda itu. Mendecih, ia menatap nyalang layar sebelum menyadari siapa yang menghubunginya; sang sekretaris pribadi. Ia lantas menggeser tanda hijau tidak ingin menebak-nebak lebih jauh.

“Maaf mengganggu kegiatan Anda, Presdir. Nona Han Ji Il dari Han Corporation ingin bertemu dengan Anda.”

Yoon Gi menghela napas sebelum mengiyakan. Menutup telepon sepihak, ia lantas bangkit mengenakan pakaian. Sedang asyik bergelung dengan kancing kemeja, otaknya baru memproses ucapan sang sekretaris. Han Ji Il? Ingin menemuinya?

“Ah, brengsek,” umpatnya berlari sekencang mungkin. Mengabaikan tatapan beberapa orang yang ia lalui, segera saja pria berkulit porselen itu menelusup ke dalam lift yang hampir tertutup.

Sejujurnya Min Yoon Gi tidak begitu yakin dengan kata-kata yang terngiang dalam otak. Bisa saja telinganya salah, ‘kan? Ia mendesah panjang. Lift berdenting tepat ketika ia selesai menanyakan kebenaran pada sang sekretaris.

Ponselnya bergetar kembali ketika ia tiba di lobby. Lalu jawaban ya seolah mengejeknya terang-terangan. Yoon Gi segera menyambar kunci yang baru saja diberikan petugas valet, mengendarai Veneno-nya secepat yang ia bisa.

***

“Seharusnya dia sudah bangun sekitar setengah jam lalu,” Nam Joon menatap gadget. Memutar ulang rekaman CCTV ruangan hotel yang Seul Bi tempati bersama Yoon Gi. CCTV berbentuk lalat kecil yang dilepas Seul Bi sebelum keluar dari ruangan. Sebuah alat penyadap buatan Nam Joon yang akan hancur dengan sendirinya setelah mentransfer data yang diperlukan.

Han Ji Il tersenyum mengedarkan pandang pada setiap sudut ruangan CEO muda yang akan ia temui. “Dia tidak banyak berubah.”

Kali ini Nam Joon yang mendongak. Mematikan rekaman yang telah usai, ia lantas mengamati Jill berjalan mendekati tumpukan dokumen yang berserakan di meja. Wanita itu terkekeh kecil menengok isi tempat sampah, tidak jauh berbeda dengan satu tahun lalu.
Jill melangkah kembali, mendekati satu-satunya lukisan yang tergantung tepat di belakang meja kerja Yoon Gi. Lukisan beraliran Surealisme. Tangannya terulur ke belakang vigura, ia benar-benar terkekeh mendapati cincin emas putih masih tersimpan rapi di celah kecil yang hanya diketahui keduanya.

Wanita itu tidak tahu mengapa menginjakkan kaki kembali ke sini justru membuat dirinya tidak bisa berhenti sekadar mencari tahu hal-hal kecil yang mungkin masih tersimpan rapi. Mengembalikan cincin putih itu ke tempat semula, Jill memutar, kembali ke tempat duduk setelah Nam Joon memberi isyarat kedatangan Yoon Gi.

Tepat tiga menit terhitung semenjak Jill menghempas tubuhnya pada kursi, pintu ruangan terbuka menampakkan Yoon Gi dengan mata membelalak. Jill beserta Nam Joon benar-benar duduk di sofa. Ia tidak sedang bermimpi, ‘kan? Han Ji Il, benar-benar mengunjunginya?

Mencoba mengontrol emosi dengan deheman ringan, wajah Yoon Gi sudah kembali ke raut semula; datar, dingin dan tidak terbaca. “Maaf membuat kalian menunggu,” ujarnya menduduki single sofa yang tersisa.

“Tidak masalah. Aku pernah menunggumu lebih lama dari ini,” Jill menimpali. Wanita itu menyelipkan rambut bergelombangnya ke belakang telinga. “Sejujurnya aku tidak ingin berbasa-basi, Presdir Min. Aku ingin menawarimu kerja sama.”

Yoon Gi menyeringai. Wanita itu masih to the point seperti dulu. “Putri pemerintah ingin mengajak seorang mafia bekerjasama? Apa di kota ini baru saja terjadi badai?”

Nam Joon yang sedaritadi diam menghela napas. Ia tahu pria itu bukanlah seorang yang sembarangan. Min Yoon Gi adalah seorang jenius yang mungkin saja mampu membaca rencananya.

“Anggap saja begitu,” Jill tersenyum timpang, “Bagaimana? Anda ingin bekerjasama denganku?”

Menyetujui ajakan sebuah kerja sama rasanya seperti Yoon Gi mencoba meminum kopi yang dicampur dengan garam atau mencoba berwisata di Kutub Utara dengan mengenakan pakaian musim panas. Sulit? Tentu saja. Sudah dibilang Min Yoon Gi jenius, dia tidak akan menerima ajakan kerja sama kalau tidak menguntungkan untuknya atau minimal oknum yang mengajaknya kerja sama harus memiliki reputasi baik. Dia sama sekali tidak ingin dirugikan dalam hal apapun. Jill tentu saja sudah menghafal di luar kepala untuk kalimat terakhir tersebut.

“Jelaskan padaku keuntungan apa yang akan kudapat?”

Jill tidak lantas menjawab, ia justru terkekeh pelan lalu menatap Yoon Gi dengan sorot tidak percaya. “Kau seperti baru mengenalku kemarin sore saja, Presdir Min. Aku sangat tahu kau tipikal orang yang tidak mau dirugikan dan tentu saja kedatanganku kemari mengajakmu kerja sama membawa keuntungan yang besar untukmu. Oh ya, tenang saja kupastikan pemerintah tidak akan mencium kerja sama kita.”

“Beritahu padaku kerja sama apa yang kautawarkan?”

Kali ini giliran Nam Joon yang tersenyum timpang saat melihat rasa ketertarikan dari sorot yang dipancarkan oleh netra kembar Yoon Gi. Wajahnya memamerkan raut kemenangan lantaran susunan rencananya hampir sukses terpenuhi. Ia hanya menunggu Min Yoon Gi menyatakan persetujuan dan kemudian bersiap menyusun rencana lainnya yang disemogakan berakhir sempurna.

“Keluarkan JH-Ryu dari barisan sepuluh besar di pasar saham lalu mundurkan perusahaan itu dari dalam list kandidat pemenang tender nasional pekan depan di Incheon. Aku mempercayai keahlianmu dalam hal ini, Presdir Min. Sebagai imbalannya dua puluh lima persen saham Han Corporation dan dua puluh lima persen saham JH-Ryu kuberikan untukmu,” Jill berdeham sesaat, “Presdir JH-Ryu juga memiliki kelompok mafia sepertimu, aku usahkan kelompok itu berpindah tangan padamu.”

Yoon Gi terdiam cukup lama. Ia memutar kembali kalimat demi kalimat yang diucapkan Jill beberapa detik lalu di dalam otaknya sebelum keputusannya disuarakan. Sementara Jill beberapa kali mencuri tatap dengan sorot gelisah, takut kalau penawarannya sama sekali tidak menggiurkan bagi Yoon Gi lalu pria itu menolaknya mentah-mentah. Namun gelisahnya meluruh ketika mendengar CEO muda itu berdeham untuk kemudian mengumumkan putusannya.

“Aku terima.”

###

Lamborghini Reventon masih setia menyisir jalan-jalan Seoul meski langit telah beranjak gelap. Sesekali menyalip mobil lain, bus maupun truk yang menghalangi pandangan. Ye Rin, sang pengemudi, beberapa kali mendecih tanpa tahu ke mana ia harus menyetir mobil. Ia cukup kalut setelah bertemu dengan orang kepercayaannya sore tadi.

Malam ini transaksi besar akan digelar lima ratus meter dari pelabuhan Busan. Pukul tujuh malam, sekitar lima belas menit lagi dan kekhawatirannya makin menjadi-jadi. Ia sudah terbiasa menangani transaksi-transaksi besar namun tidak untuk transaksi berlian. Uang serta kemajuan perusahaan ia pertaruhkan di sini.

Reventonnya berhenti di sebuah taman sepi. Ye Rin turun, menggenggam erat ponsel berharap tidak terjadi hal-hal buruk. Ia sudah memercayakan transaksi ini pada orang yang tepat. Ia telah memercayakan transaksi ini pada orang yang benar-benar kompeten. Ye Rin menghela napas.

Ponselnya berbunyi nyaring ketika ia menengok arloji. Nama Ha Young Shik tercetak di layar, segera ia menggeser tanda hijau.

“Terjadi penyerangan dadakan. Pasukan yang berjaga di garis awal dan tengah sudah dilumpuhkan, Nona. Kami sedang mengamankan berli…,” suara pria dari ujung telepon berhenti ketika bunyi tembakan terdengar di telinga Ye Rin. Tangan wanita itu bergetar, beberapa kali ia memanggil Young Shik namun tidak ada jawaban yang ia terima.

Pikirannya yang semula keruh menjadi semakin keruh. Tidak ada jawaban meski berkali-kali ia menyerukan nama. Memandang nanar ponsel, Ye Rin berteriak kuat-kuat. Apa semuanya sudah berakhir sekarang?

***

Pria berbibir penuh itu menyeringai mendapati lawannya jatuh tidak lama setelah ia menembakkan serum pelumpuh. Segera saja ia menghampiri tubuh gempal yang menggenggam kotak cukup besar. Ia mengambil kotak itu masih dengan seringai bangga.

Membuka kotak, pria itu kembali menyunggingkan senyum timpang manakala berlian berwarna merah terlihat di depan mata.

###

“Kau tidak perlu repot-repot mendatanginya. Akan sangat mencurigakan jika kau muncul sebagai pahlawan sementara sebelumnya kau tidak pernah berhubungan apa-apa kecuali one night stand beberapa hari lalu.”

Yoon Gi mengangguk patuh pada layar TV plasma yang menampilkan sosok Nam Joon di ruang kerja. Setelah Yoon Gi menyetujui kerjasama, semua hal yang sekiranya ia butuhkan untuk berkomunikasi dengan mereka dikirimkan esok harinya. Seperti TV Plasma dengan program khusus yang mampu menunjang video call ini misalkan.

“Lalu? Aku harus menunggu sampai dia datang sendiri padaku, begitu?” tanya Yoon Gi memastikan. Otak jeniusnya terlalu sibuk mengingat-ingat wajah Ryu Ye Rin sehingga tidak mampu menangkap jelas maksud orang kepercayaan Jill itu.

“Ya. Nona Jill yang akan mengatur semuanya. Kau hanya perlu menunggu dan berlagak seperti biasa. Aku yakin banyak wanita yang mendatangimu dengan alasan yang sama,” Nam Joon mengeluarkan seringai andalan. Ia hafal betul tabiat Min Yoon Gi. Meski terlihat misterius dan tidak terjamah, nyatanya pria itu justru seperti buku terbuka bagi Nam Joon.

Yoon Gi mengangguk lagi, mendesah berat manakala pintu ruangannya diketuk. “Baiklah. Aku harus menangani itu,” tangannya menunjuk pintu lalu kembali menatap layar plasma. “Kau tidak berniat mempertontonkan dirimu selama aku bekerja, ‘kan?”

Nam Joon tertawa renyah. Mengangguk, ia segera memencet tombol dalam genggaman lalu TV plasma itu berubah gelap. Yoon Gi tersenyum timpang membayangkan beberapa skenario yang akan ia gunakan pada Ryu Ye Rin sembari membuka pintu. Kini otaknya sudah mampu mencerna wajah gadis yang ia ubah jadi wanita beberapa hari lalu. Wanita dengan bagian tubuh yang terasa begitu pas untuknya. Seolah tubuh itu memang tercipta untuk Yoon Gi.

Pria Min memang hampir setiap malam mendengar desahan wanita karena perbuatan tangannya. Namun desahan Ryu Ye Rin-lah yang begitu merdu, begitu tepat membangkitkan gairahnya. Sial. Bahkan celananya sesak hanya dengan memikirkan wanita malang itu.

***

Secangkir cokelat hangat yang semula mengepul kini telah sepenuhnya dingin. Tiada niat disentuh maupun disesap seperti biasanya. Tumpukan dokumen tidak dipedulikan, dibiarkan menggunung entah sampai kapan.

Ryu Ye Rin mendesah panjang. Pandangannya kosong menyapa jendela yang menampakkan pemandangan kota. Mobil-mobil berlalu lalang, para pejalan kaki, rumah-rumah serta berbagai fasilitas umum semua terlihat begitu kecil.

Ingin rasanya ia berlari, memecah kaca ruangannya sendiri lalu melompat dan berakhir mengenaskan. Semua beban yang beberapa hari ini membelenggu justru nampak bersenang-senang. Memenuhi otak tanpa pernah berhenti barang sekejap.

Saham mengalami penurunan, insiden hotel, kerjasama dengan perusahaan pailit, dan sekarang, kehilangan uang milyaran karena berlian pesanan rekan mafianya dicuri. Wanita bermarga Ryu itu kembali mendesah panjang. Ia telah mengiyakan tawaran rekan mafianya membarter berlian dengan biaya kerugian yang timbul. Namun kini harapan hanya tinggal angan. Biaya kerugian tidak didapat, berlian pun hilang tak berbekas.

Ha Young Shik yang beberapa jam lalu baru sadar dari pengaruh obat pelumpuh tidak dapat menjelaskan seperti apa rupa orang yang telah menjatuhkannya. Semua terjadi terlalu cepat, pria kepercayaan Ye Rin itu bahkan tidak mendengar gerakan apa pun di belakangnya. Alibinya diperkuat dengan suntikan pelumpuh yang segera bereaksi setelah ditembakkan. Benar-benar orang cerdik yang memperhitungkan kemungkinan baik dan buruk dengan sangat mumpuni.

Siapa sebenarnya lawan yang tengah ia hadapi? Dan kenapa pula harus dirinya yang mendapat perlakuan demikian? Ye Rin terus memikirkan alasan-alasan yang mungkin saja menjadi pemicu sampai pintu ruangannya terbuka menampilkan sosok sekretarisnya dengan senyuman manis.

“Selamat siang, Nona,” Jill, sang sekretaris, menyapa dengan paper bag di tangan. Ye Rin menoleh, mengangguk singkat tanpa berniat mengeluarkan suara.

“Saya dengar dari tuan Jeon Anda tidak menyentuh sarapan pagi dan membiarkan cokelat panas menggiurkan itu dingin begitu saja.”

Ye Rin kembali mengangguk, berkonsentrasi kembali terhadap gedung-gedung pencakar langit yang lebih tinggi dari gedung yang ia pijak. Ia membiarkan Jill terus berbicara, mengoceh tentang kesehatan dan kecantikan wanita yang harus terus dijaga.

“… karena itu saya membawakan makanan untuk Anda,” Jill mengakhiri pidato setelah Ye Rin menoleh minat. Tanpa permisi wanita itu menduduki salah satu sofa, mengeluarkan sup rumput laut, daging asap, serta semangkuk nasi dari dalam paper bag.

Tanpa sadar Ye Rin berjalan, menduduki sofa di seberang Jill, menyambar mangkuk nasi. Cacing-cacing dalam perutnya kalah dengan hidangan favorit yang tersaji di atas meja. Mengabaikan beban sejenak, wanita itu melahap makanan tanpa sungkan.

“Aku bisa mempercayaimu, ‘kan?” ujarnya mengunyah daging asap. Menatap lurus ke arah Jill yang tengah mengecek beberapa dokumen di atas meja kerjanya. Jill mendongak, memberikan tatapan miring seolah mengartikan ketidaktahuan.

“Semenjak diangkat menjadi CEO, aku tidak pernah bertemu dengan temanku lagi. Terkadang aku ingin sekali menemuinya, tapi aku pasti terlihat sangat bodoh karena hanya membutuhkannya di saat aku kesusahan,” Ye Rin tertawa hambar mengaduk-aduk sup rumput laut. “Aku butuh teman.”

###

Jung Kook menatap bangga kotak kaca yang menampilkan bongkahan berlian. Di sisi kanannya, Nam Joon bersidekap, menyeringai pada salah satu anak buah terbaik yang ia punya. Tepuk tangan menggema, memenuhi ruang kecil tempat rahasia mereka.

“Kerja bagus, Park Ji Min,” Jung Kook masih memuja berlian cantik di genggaman. Ji Min mengangguk, ikut menyeringai bersama sang atasan.

“Lalu selanjutnya bagaimana?” Jung Kook mengembalikan kotak kaca ke atas meja. Menatap lurus Nam Joon dan Ji Min bergantian.

Nam Joon mengeluarkan ponsel, mengutak-atik sebentar lalu menunjukkan pesan chat pada dua orang di depannya. “Anggap saja ini keberuntungan.”

Mata Jung Kook membulat menatap angka fantastis yang ditawarkan salah satu mafia berkebangsaan Rusia. Sungguh, ia benar-benar terkejut mendapati fakta bahwa Nam Joon juga memiliki akses dengan mafia-mafia dunia.

***

Beberapa kali Ye Rin menghela napas. Ia tidak tahu apakah otaknya bergeser atau kepalanya terbentur sesuatu sehingga mau-mau saja terdampar di tempat ini. Menunggu selama hampir dua jam di lobby YG Corporation tanpa ada kejelasan. Sekali lagi Ye Rin mendesah. Jika bukan terdesak seperti ini, ia tidak akan mau berurusan dengan pria yang telah menjatuhkan harga dirinya.

Bukan kemauannya sendiri bertandang di perusahaan properti sekelas YG Corporation. Salahkan mulutnya yang tiada henti bercerita pada Jill setelah sekretaris cantiknya itu berkata ingin menjadi temannya. Mau tidak mau ia benar-benar menuruti saran sang teman baru, meminta bantuan pada Min Yoon Gi yang luar biasa brengsek itu.

Kepalanya bahkan sempat berdenyut menyakitkan manakala Jill memperlihatkan biodata disertai potret Min Yoon Gi pada salah satu situs terkemuka. Ia ingat betul wajah datar dengan senyum timpang itu. Ia sungguh ingat pria itulah yang berada di ruangan hotel sama dengan dirinya beberapa hari lalu. Dan kenyataan bahwa dirinya harus memohon bantuan pada pria brengsek itu terasa menamparnya berkali-kali.

Bayangan-bayangan ditolak tiada henti bergelung di otaknya. Belum lagi cacian maupun ludahan yang akan ia terima mengingat wanita itu pernah mengancam Min Yoon Gi. Astaga. Memikirkannya saja membuat kepala Ye Rin kembali sesak.

“Apa seharusnya aku pulang saja?” gumam Ye Rin menyandarkan kepala ke bantalan kursi. Prosentase dirinya akan diterima bekerja sama hanya nol koma sekian persen atau bahkan mungkin nol. Sial.

“Permisi, Nona. Tuan Presdir sudah berada di ruangannya sekarang.”

Perkataan resepsionis membuat Ye Rin menegakkan posisi duduk. Ia mengangguk menggumam terima kasih kemudian berjalan mengikuti petunjuk yang resepsionis itu berikan. Lantai dua puluh enam, hanya ada satu ruangan di sana, bertemu dengan sekretaris dan masuk. Ia merapal mantra sembari menunggu lift.

***

“Sudah kubilang tuan Presdir tidak mau bertemu dengan siapa pun, Nona,” sekretaris berdada besar menghalau Ye Rin mengetuk pintu ruang Yoon Gi. Maniknya menelisik, meneliti setiap inchi tubuh sang wanita yang sudah pasti salah satu di antara deretan panjang wanita semalam tuannya.

Ye Rin mendesah. Bukan sekadar rasa kesal karena prosedur kantor yang bertele-tele, namun kekesalannya terus memuncak karena wanita yang memiliki jabatan sekretaris itu terus menatapnya lekat. Ia benci ditatap seperti itu. Tatapan di mana seluruh anggota tubuhnya seolah tengah di-scan.

“Aku akan menunggu,” putus Ye Rin menghempas bokongnya pada kursi yang tersedia. Ia sempat melihat sekretaris berbadan cukup sintal itu memutar mata sebelum melanjutkan aktivitas.

Tenang. Sabar. Dua kata itu terus Ye Rin rapalkan dalam hati. Ia tidak akan beranjak sebelum mendapatkan tujuan. Tidak masalah jika ia harus mengorbankan waktunya beberapa jam lagi asalkan pria brengsek itu mau bekerjasama dengannya. Menengok arloji yang melingkari lengan kirinya, Ye Rin sedikit terlonjak. Pukul setengah lima sore. Ini pasti gila.

“Jam berapa Presdir Min pulang?” ia kembali bertanya pada sekretaris yang sibuk dengan ponselnya. Wanita berdada besar itu menoleh, menengok sebentar sudut komputer di hadapannya.

“Biasanya sebentar lagi. Atau jika berniat lembur, dia akan pulang pukul delapan malam.”

Decihan sebal keluar dari mulut Ye Rin. Benarkah ia harus menunggu selarut itu? Sebenarnya pria jenis apa yang akan ia temui? Presiden atau raja saja bukan. Tangannya mengepal kuat. Ia sangat geram sekarang.

“Kumohon beritahukan Presdir Min, Ryu Ye Rin dari JH-Ryu Corporation ingin menemuinya sekarang juga.” Tangan Ye Rin masih mengepal kuat. Suaranya naik beberapa oktaf, tak peduli adat istiadat sopan yang diajarkan ayahnya sejak kecil. Terima kasih pada masalah yang menumpuk di otak yang membuatnya jadi sangat sensitif.

Sang sekretaris mengembuskan napas jengah. “Saya minta maaf, Nona. Tapi Presdir Min meminta saya tidak membukakan pintu pada siapa pun.”

Ye Rin menyeringai. Sungguh ia tidak menyangka akan menghadapi sekretaris keras kepala seperti wanita di depannya. “Oh. Kau bahkan rela perusahaan tempatmu bekerja ini kehilangan mitra bisnis yang menjanjikan uang milyaran? Baiklah. Kurasa kau juga akan dipecat setelah tubuhku menghilang.”

Ye Rin melempar tatapan merendahkan sebelum memungut tas serta jas yang tadi ia lepas. Wanita itu melangkah sembari menghitung dalam hati. Setelah hitungannya sampai pada angka lima, telepon di meja sekretaris berdengung nyaring.

“Tunggu sebentar, Nona. Presdir Min bersedia menemui Anda.”

Seringai Ye Rin semakin luas. Lihat, hanya perlu memancing sedikit keributan untuk mendapatkan izin masuk.

***

Kim Nam Joon memandang layar datar di hadapannya dengan senyum menang. Rekaman CCTV yang menampilkan Ryu Ye Rin tengah memasuki ruangan Yoon Gi sungguh membuat senyum tidak pernah luntur dari bibirnya. Ryu Ye Rin adalah wanita bodoh yang terlalu cepat senang. Wanita bodoh yang tidak tahu bahwa ia telah masuk dalam perangkap dan tidak akan bisa kembali lagi.

“Awal kehancuranmu sudah datang, nona licik.”

***

Ye Rin menghela napas. Ia mengedarkan pandangan pada setiap jengkal ruang Min Yoon Gi. Terhitung sebelas menit semenjak ia dipersilakan duduk di depan meja kerja pria ini, Yoon Gi belum juga mengajaknya berbicara. Ye Rin hanya diminta menunggu selagi pria brengsek itu selesai menandatangani dokumen-dokumen penting.

Bosan. Ye Rin sudah terlalu bosan menunggu. Di lobby, di depan pintu, dan terakhir di ruangan ini. Astaga. Jika bukan karena kepentingan, ia pasti sudah melempar apa saja ke kepala light blonde Yoon Gi.

Tanpa sadar Ye Rin terkekeh. Kekehannya bahkan terdengar hingga telinga Yoon Gi. “Ada sesuatu yang lucu?” ujar Yoon Gi tanpa mengalihkan atensi.

Ye Rin menoleh, dahinya mengerut berusaha mencerna kalimat yang diucapkan sang lawan bicara.

“Kau terdengar seperti menertawakan sesuatu,” Yoon Gi meletakkan bolpoin, menyidekap tangan di atas meja seraya tersenyum tipis. “Jika kau ingin meminta pertanggungjawaban karena aku telah merebut keperawananmu sebaiknya urungkan saja. Aku tidak memiliki niat bertanggungjawab karena kau bahkan meminta lebih saat kusentuh.”

Sial. Wajah Ye Rin memerah begitu saja. Bagaimana bisa seorang CEO perusahaan besar berbicara begitu frontal padanya? “Lu-lupakan. Aku menganggapnya kecelakaan karena ya, kau tahu, aku benar-benar mabuk saat itu.”

Kepala Yoon Gi mengangguk-angguk. Ia kembali meraih bolpoin, membalik dokumen lalu membubuhkan tanda tangan. “Jadi, apa maksud kedatangan petinggi JH-Ryu di ruanganku?”

“Aku ingin mengajakmu bekerjasama,” ujar Ye Rin cepat. Bahkan terlalu cepat hingga Min Yoon Gi kembali menoleh ke arahnya.

Senyum timpang terbit pada wajah datar pria Min. Menutup dokumen, ia lantas menumpuknya di sisi lain meja, berkumpul dengan tumpukan dokumen lain yang sudah selesai ia bubuhi tanda tangan. “Bekerjasama dengan perusahaan yang mungkin segera gulung tikar? Tidak.”

“Aku tahu ini tidak begitu menguntungkan. Atau bahkan sangat tidak menguntungkan. Tapi, kumohon. Aku benar-benar membutuhkan pinjaman uang darimu.”

Yoon Gi berdiri, mengitari meja lalu berjalan tepat di belakang Ye Rin. Kedua tangannya mendarat di bahu wanita itu. Ia mencondongkan tubuh seraya berbisik, “Apa yang kautawarkan padaku sehingga aku berani mengambil resiko meminjamkan uang pada perusahaanmu?”

Ye Rin bergidik. Tubuhnya kaku mendengar suara husky tepat di depan telinga kanannya. Tiba-tiba saja bayangan ketika pria itu melenguh akibat orgasme datang menghampiri masuk begitu saja. Pipinya mendidih. Jadi benar ia sudah menjadi seorang wanita?

“K-kudengar kau juga memiliki kelompok mafia,” Ye Rin menghela napas. Ia tidak bisa berpikir jernih karena ingatan-ingatan malam panasnya bersama pria ini sedikit demi sedikit tersusun di otaknya. Terlebih Yoon Gi belum juga hendak membebaskan tangannya dari bahu Ye Rin. “Aku akan memberikan daerah kekuasaanku di Gangnam padamu. ”

Yoon Gi terkekeh. Ia melepaskan cengkeraman pada bahu Ye Rin. “Hanya itu saja?”

Ye Rin menoleh. Tidak percaya bahwa pria di hadapannya ternyata jauh lebih licik dari yang ia perkirakan. Wanita itu bangkit, berani menatap langsung manik kelam yang terasa mengintimidasinya sedemikian rupa. Mata hitam itu berkabut nafsu. Sama seperti mata hitam yang beberapa hari lalu mencumbuinya.

“Aku ingin sebuah perjanjian tertulis. Kau tidak berniat menipuku dengan tawaran menggiurkan ini, ‘kan?”

###

Satu pukulan kembali Yoon Gi berikan pada pemuda berkemeja rapi yang mengganggu jalannya. Pemuda itu tersungkur, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Belum sempat melakukan perlawanan, Yoon Gi sudah terlebih dahulu memberinya pukulan susulan.

Yoon Gi menarik kerah pemuda itu, memaksanya menatap obsidian yang tersembunyi di bawah topi favoritnya. “Aku akan membayarmu lebih asal jangan sampai orang lain tahu hal ini.”

To Be Continued..

A/N: Haloo > https://haeseoland.wordpress.com/chaptered-list cari yg Mafia’s Complex [BTS Version] ^^

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s