Breathe Chapter 9 [End]

Breathe Chapter 9 [End]

image

Jarum-jarum jam dinding berdetak nyaring. Tanpa henti menjalankan tugas yang diembannya menunjuk waktu pada siapapun yang menengok. Minim cahaya membuat ruangan minimalis itu nampak gelap gulita. Hanya sedikit sinar pucat bulan masuk melalui jendela tanpa tirai.

Wanita dengan iris seindah jelaga merapatkan kedua lutut, memeluknya dalam sebuah kehangatan. Ia menyandarkan dagu tepat di atas lutut. Menyapukan pandang pada dinding bercat abu-abu juga segala pernik yang tertempel. Memutar lagi ke arah berlawanan. Mengintimidasi tempat yang ia pijak sedemikian rupa. Pukul dua lebih tiga belas menit, sudah kiranya satu jam lebih semenjak mimpi buruk membangunkannya ia enggan kembali menutup mata.

Ia menghela napas. Ketakutan menjalar di setiap inci tubuhnya. Menelusup, menyebar cepat bagai racun mematikan.

“Hahaha. Apa kau senang dengan menghancurkan hidupku Sa Na-ya?” sebuah revolver berujung dingin tertanam di pelipisnya. Detak jantungnya bertambah berkali-kali lipat. “Kau merebut suamiku, suami yang harusnya hanya mencintaiku. Aku sudah tahu semuanya! Kaulah yang bersalah!”

Sa Na susah payah menelan saliva. Tak ada getaran apa pun yang ia rasa dari pelatuk yang kini bertengger manis di pelipisnya. Benar jika wanita yang mengancamnya tak memiliki rasa takut sama sekali.

Derai tawa membuncah dari bibir wanita cantik itu. “Apa sekarang kau yang jadi penakut Sa Na-ya? Kemana sikap aroganmu yang biasa?”

“Dulu kau mengancam akan menggugurkan janinku, lalu sekarang bolehkah aku mengancam kematianmu?” Sa Na bisa merasakan gerak telunjuk menyentuh ujung pelatuk. Derak napasnya tersengal bersama dengan detak jantung abnormal. “Katakan selamat tinggal sebelum aku menembakmu, Nona.”

Jeritan Sa Na menggema memekak telinga. Kedua jelaganya berkilat gelisah, tangannya bergetar hebat. Deru napasnya pendek-pendek.

Lampu ruangan menyala sekian detik kemudian. Menampilkan pria dengan kaus biru gelap serta celana hitam yang masih terlihat mengantuk. “Han Sa Na? Apa yang terjadi?” manik matanya mengintimidasi Sa Na yang kini menjambaki sendiri ujung-ujung rambutnya. Sesekali menggeleng tegas mengusir paksa bayangan yang baru saja jadi latar mimpi buruknya.

Pria itu melangkah menawarkan pelukan hangat untuk Sa Na. Menjadikan tubuhnya sebagai sandaran–lagi–untuk kesekian kalinya. “Sshh. Ada aku di sini.” mengelus punggung kecil Sa Na, ia mendesah. Dapat ia rasa bahu wanita dalam dekapannya bergetar hebat. “Menangislah.”

“Tae Hyung-ah…,” suara yang Sa Na keluarkan hanya berupa nada lirih. Hampir teredam dengan derai air mata yang menguasainya.

“Hmm?”

Jeda panjang tercipta. Masih dengan isakan, Sa Na bergumam, “Maaf telah banyak merepotkanmu.”

.

.

.

.

.

Title: Breathe
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young, Han Sa Na
Genre: Marriage Life, Kekerasan, Angst, Romance, AU
Cover by: Aira Angelina Alfrida
WARNING; Mengandung kekerasan dan bumbu ‘Marriage Life’ lain, jika tidak kuat silakan klik tombol BACK, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 9

~~~

Story begin..

Ada senyum terpatri di bibir Jung Kook manakala netranya menangkap langsung pemandangan indah di pagi yang tenang; rambut halus serta wajah damai sang istri yang masih terlelap dalam tidur. Tangan berinfus itu berangsur merapikan anak rambut Na Young, menyisir hati-hati seraya mengecup pelipisnya berulang-ulang. Mereka kembali berbagi ranjang meski baru bangsal rumah sakit. Mereka saling melepas rindu, seolah telah lama tidak memadu kasih syahdu.

Mata cokelat indah itu terbuka, terusik dengan perbuatan sang suami yang tiada jera memberi ratusan kecupan ringan. Agaknya Na Young berbesar hati sekarang. Bayi dalam kandungannya menendang kuat, ikut merasa bahagia kedua orangtuanya mampu bersatu seperti sedia kala.

“Selamat pagi, Sayang,” bisik Jung Kook tepat di telinga Na Young. Sang empunya telinga merona. Entah kapan terakhir kali wanita hamil itu mendengarkan kata sayang terucap dari bibir sang suami namun yang jelas hari ini ia benar-benar bahagia.

Na Young membalas dengan suara serak khas bangun tidur. Perlahan ia melonggarkan pelukan, turun hati-hati dari bangsal menyibak gorden putih tulang. Surai hitamnya dimainkan Tuan Angin. Serta merta menambah nilai cantik yang Jung Kook semat untuk sang wanita terkasih.

Jung Kook menghela napas. Ada satu hal yang masih mengganjal manakala ia menatap Na Young yang telah merapikan letak selimut juga membuang bunga layu dari dalam vas. Hingga tubuh ramping itu menghilang di pintu kamar mandi berpamit membersihkan diri, perasaan sesak masih menggelayut. Sekali lagi pria calon ayah menghela napas.

Inilah waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya. Inilah momentum yang pas untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf pada Na Young. Inilah waktunya.

Semakin dalam ia memikirkan, semua jadi semakin berat. Bagaimana jika Na Young meninggalkannya?

***

Paras ayu itu kembali basah. Tumpah ruah air mata yang sedari tadi ia tahan. Jemari lentiknya tak henti menangkup wajah, seolah krystal-krystal bening yang bercucuran tak jua cukup menangani siksa batin yang terasa amat mendera.

Hembus kasar napas keluar. Kosong pandangan ia layangkan. Menyapu ruang pribadinya dengan seksama. Kedua matanya sembab, bersama leleh bening yang belum juga surut.

Permainan yang dimulainya telah usai. Tak ada guna ia mengiba. Tak kan jua asa yang ia junjung tinggi terealisasi. Harapannya pupus, luruh bersama derai menganak sungai di kedua pipinya.

Derak napas pun terasa sesak, bagai terhimpit jiwa serta raganya. Ia lempar tubuh ke belakang. Menyender kursi kebesaran di rumah sahabatnya masih dengan tangis. Luka. Ia terluka akibat gores yang ia toreh sendiri.

Sembilu terasa menyayat hati. Mengoyak, merobeknya tanpa sisa. Meninggalkan segelayut pedih dan perih, ia merintih. Tiada daya ia menolak, tak cukup kekuatan ia melawan. Cintanya kandas. Menghantam karang kesakitan teramat kencang.

Sebuah ketukan pintu tak jua cukup membangunkannya. Ia masih sama, dengan linang air mata juga surai berantakan bekas tarik tangan. Napasnya memburu, tersengal dalam satu masa. Luluh lantak sudah ego yang ia junjung tinggi.

Decit gesek sepatu ia dengar jelas, namun tak dapat menghentikan anak sungai yang tercipta. Ia makin tergugu, hanyut dalam luap puncak emosi dari segala yang ia alami. Batinnya teriris. Perih menelusup hingga tiap-tiap sel penyusun anggota tubuhnya.

Rengkuh hangat ia dapatkan. Bersama usapan punggung yang terasa bagai melodi kekalahan yang kini berdengung memenuhi sistem kerja otak. Bahunya terguncang naik dan turun, bersama lenguh cekat terkumpul jauh di tenggorokannya.

Ia balas peluk mesra itu dengan ringkih. Amat ringkih hingga sekali saja lepas hancur sudah jiwa raga. Kembali ia mengatup mata. Merasakan sensasi peluru bernama kekalahan yang menyebar cepat melalui aliran darahnya.

“Sshh… ada aku di sini,” satu suara tenang mengagungkannya. Membawanya ke atas awan tanpa pernah ia pinta.

“Menangislah. Aku akan tetap di sini.” Usap lembut di punggungnya tak jua lekang. Memberinya ruang terasing dengan meratapi semilir perih yang menghembus. Ia masih terus menangis, memenuhi tuntutan batin yang selama ini ia tahan-tahan.

Tae Hyung mengusap punggung kecil dalam dekapan. Sungguh tidak tega dengan kondisi wanita terkasih yang kian lama kian memburuk. “Kita harus pergi ke pskiater. Kau tidak bisa menghindar demi kesembuhanmu.”

###

“Aku tahu ini salah karena menyembunyikan semuanya darimu selama bertahun-tahun,” Jung Kook mendesah. Tekadnya sudah bulat untuk menceritakan semuanya dari nol. Tidak peduli istrinya akan pergi atau tidak. Yang jelas pria itu ingin membagi beban berat pada satu-satunya wanita yang ia cinta.

Na Young yang tengah mengupas apel mendongak. Sebelah alisnya terangkat belum mengerti apa yang tengah suaminya bicarakan.

“Aku pernah terlibat kecelakaan selama dipindah tugas ke Ilsan,” jawab Jung Kook mengetahui ketidakpahaman istrinya. “Mobilku berada tepat di depan mobil Sa Na dan suaminya namun saat itu kami sama-sama menghindar. Mobilku menabrak pembatas jalan sementara mobil Sa Na masuk dalam jurang.”

“Situasi berubah sulit ketika Sa Na sadar dan menuduhku sebagai tersangka. Ia terus menyudutkanku meski polisi telah membebaskanku karena terbukti tidak bersalah. Sampai di mana Sa Na memintaku menikahinya.”

Na Young meletakkan apel beserta pisau ke atas piring. Desah napas keluar dari bibirnya. Ia tidak mengerti harus merespon ucapan suaminya dengan kalimat apa. Pikirannya kalut. Takut apa yang diucapkan Jung Kook selanjutnya menoreh luka baru di atas lukanya yang belum mengatup.

“Kami berdiri di gereja tanpa mengucapkan ikrar. Dia tidak pernah menyentuhku begitu pula sebaliknya. Kami jarang berbicara sampai akhirnya aku kembali ke Seoul dan meninggalkan sebagian uangku untuk menghidupinya.”

Kepala Na Young terasa berdenyut-denyut mengetahui fakta sejujurnya. Bibirnya kembali menggumam desah. “Lalu?”

Jung Kook menghela napas. “Dia datang dan kembali mengamuk karena bertemu denganmu. Dia selalu mencoba mencelakakanmu karena dia tahu kau adalah kelemahanku. Dia menekanku, memintaku bersikap kasar bahkan memintaku melukaimu. Jika aku tidak melakukannya, dia bahkan segan membunuhmu beserta calon bayi kita.”

***

Detik jam terus bergerak menemani sunyi ruang rawat Jung Kook. Tidak ada yang berubah meski satu jam telah berlalu semenjak pria calon ayah menceritakan semuanya. Na Young memilih diam. Tidak banyak berkata kecuali menanyakan hal-hal kecil yang Jung Kook butuhkan.

Jung Kook mencoba terlelap mengabaikan rasa sakit yang kini menghantam jantungnya. Ia lebih memilih mendapat amukan daripada dihadapkan pada situasi seperti ini. Istri yang biasanya mampu mencairkan suasana tiba-tiba diam merupakan sebuah mimpi buruk. Setidaknya mampu membuat pria Jeon tak berkutik.

“Apa ini cara kalian menyambut pasangan yang baru saja bertunangan?” suara berat diikuti tapak-tapak langkah berhasil mencuri perhatian keduanya. Baik Jung Kook maupun Na Young mendongak, mendapati Yoon Gi dan Ye Rin saling merangkul bahu.

Ye Rin berjalan mendekat, memamerkan cincin bertahtakan berlian biru di jari manisnya. “Kau tidak berniat mengucapkan selamat?”

Bola mata Na Young membulat. Sepersekian detik kemudian wanita hamil itu langsung menerjang Ye Rin dengan pelukan panjang. Gumaman kata selamat tiada henti terucap. Seolah-olah sahabat dalam kungkungannya tengah memenangkan undian berhadiah perusahaan besar.

“Senang mendengar kau segera menyusulku, Hyeong,” Jung Kook menjabat tangan Yoon Gi. Yang dijabat hanya mengangguk mengeluarkan seringai andalan.

“Kalau begitu,” Na Young melepas rengkuhan. Mengajak sang sulung Ryu duduk manis di sofa. “Ceritakan padaku bagaimana kekasih dinginmu melamar?”

***

Rerintik hujan membasahi bumi seolah menyambut kabar bahagia yang Tae Hyung terima. Pria itu sama sekali tidak menyangka akan dengan mudah mengajak sang wanita terkasih menemui pskiater. Dimulai setengah jam lalu di mana ia baru saja pulang mengajar, Sa Na yang berpakaian rapi tengah duduk manis menimang-nimang tas tangan. Senyum lembutnya menyapa Tae Hyung. Lalu dengan segera wanita bermarga Han mengucapkan kalimat yang Tae Hyung tunggu sejak kemarin.

Tiada gentar maupun penolakan Tae Hyung dapat ketika mobil melaju konstan membelah jalanan ramai lancar. Semua membuat senyum pria itu semakin lebar. Mereka turun di depan rumah sakit dan saling bergandeng tangan. Tae Hyung memasok kekuatan lebih untuk Sa Na. Untuk wanita yang sejujurnya terluka parah dari garis awal.

“Aku tidak tahu mengapa mengantri justru tidak membosankan,” ujar Sa Na mengembalikan jiwa pria di sampingnya ke tempat asal.

Kepala Tae Hyung menoleh mendapati wajah lugu Sa Na tengah mengulas senyum. Seperti gadis lugu yang tidak pernah melakukan kesalahan fatal. Inilah Sa Na yang ia rindukan. Sa Na yang manis, yang tak pernah mengerti bagaimana cara menyakiti orang lain. Senyum Tae Hyung ikut terbit. Ia mengeratkan tautan tangan mereka.

***

Belajar mengenai Kim Tae Hyung dari waktu ke waktu membuat Sa Na paham bagaimana perangai sang teman kecil. Tae hyung adalah seorang yang bisa ia andalkan dalam situasi apa pun. Tidak, tidak. Ia berkata seperti ini bukan karena ingin memanfaatkan kebaikan Tae Hyung, melainkan ingin membalas budi dengan apa yang telah pria itu berikan padanya.

Masa kecil bersama kenangan manis yang takkan pernah ia lupa, juga masa sulit di mana ia terpuruk dan pria itu masih tetap berada di sisinya.

Han Sa Na sudah memikirkan ini sejak semalam. Setelah penuturan lembut Tae Hyung beralih bagai permintaan tulus yang mengetuk-ngetuk gendang telinga. Memacu syaraf-syaraf tubuhnya memberikan respon baik; menyetujui ajakan sang pria Kim.

Ia paham Tae Hyung tidak mungkin melakukan tindakan jika tidak menyangkut kebaikannya. Ia mengerti Tae Hyung tengah mengusahakan yang terbaik untuk hidupnya sejak lama. Maka dari itu, setelah matahari terbit dan Tae Hyung meminta izin pergi mengajar, ia sudah mantap akan mengikuti therapy. Demi seorang Kim Tae Hyung juga kesembuhannya.

Sekali lagi ia mengembuskan napas. Namanya disebutkan dengan lantang oleh perawat lalu ia merasa genggaman di tangannya semakin mengerat. Tae Hyung memberikan kekuatan lebih padanya. Senyum di bibir Sa Na terbit begitu saja.

“Selamat sore,” wanita anggun berkacamata menyapa manakala mereka tiba dalam ruangan. Mempersilakan dua orang beda gender itu duduk, ia lantas menyambar clipboard yang tergeletak di meja. “Anggap saja aku sebagai sahabatmu, Nona Han. Aku tidak akan memaksa kau bercerita sebanyak mungkin hari ini. Semua tergantung padamu dan seberapa kuat kau ingin sembuh.”

Sa Na mengangguk singkat. Tangannya masih setia digenggam oleh Tae Hyung dan ia tidak berusaha melepaskan. Sekali tarikan napas, ia mencoba tetap tenang. “Aku ingin bisa duduk di kursi depan mobil tanpa merasa panik.”

Dokter anggun itu segera mencatat ucapan Sa Na pada kertas clipboard. Tatapannya kembali jatuh pada sang wanita di hadapan, meminta penjelasan lebih lanjut mengenai latar belakang mengapa Sa Na memilih ingin mencapai tujuan tersebut.

“Banyak kesalahan fatal yang kulakukan karena aku tidak mampu mengontrol emosi. Aku pernah tanpa sengaja membunuh suamiku dan pernah hampir membunuh suami orang lain.”

“Ceritakan padaku detailnya.”

Dada Sa Na bergemuruh. Ia sudah bertekad ingin menjabarkan semuanya dari awal, namun justru dalam prakteknya nampak sedikit kesusahan. Tae Hyung yang melihat raut Sa Na berubah segera membisikkan kata-kata penyemangat. Lima belas menit kemudian tubuh Sa Na sudah tidak setegang tadi.

“Satu orang musuh kekasihku di tingkat menengah atas menyanderaku di gudang pengap. Saat itu kekasihku mengikuti pertandingan basket dan tidak bisa mengantarku pulang. Pria itu hampir memerkosaku sebelum akhirnya beberapa anak buahnya datang membawa kekasihku. Mereka menyiksa kekasihku hingga meregang nyawa.”

Sang dokter menghela napas. Tersenyum lalu kembali menuliskan sesuatu pada kertas clipboard. “Jadi setelah itu kau mulai takut dengan sentuhan pria?”

Sa Na mengangguk. Di kepalanya tengah memutar masa-masa di mana ia berteriak panik ketika teman kuliah prianya tidak sengaja menabrak bahunya. Ia tidak bisa memikirkan hal logis apa pun saat itu. Hanya teriakan putus asa juga jeritan pahit menggema.

“Aku akan menjalani apa pun yang kausarankan, Dokter. Aku benar-benar ingin sembuh.”

###

Semilir bayu menyapa, mendendangkan nyanyian suka diiringi pias cahaya jingga yang mulai pudar. Daun-daun berguguran, luluhlantak dari ranting tempatnya memulai kehidupan. Kering, menguning. Menjadikan jalan setapak tertimbun rerontokan.

Taman rumah sakit mulai digemari. Canda tawa, teriak bahagia turut serta hadir. Meramaikan senja yang hendak menjelang. Tak terkecuali dua anak adam yang duduk di sisi-sisi bangku menghadap tepat pohon yang daunnya sudah berguguran total.

Tanpa suara mereka menjalin rindu lewat tatap sendu. Tak bertahan lama tatap mereka bertemu. Hanya sesekali, namun getar asmara yang muncul mampu memporak poranda benteng kasat mata yang mereka bangun. Keduanya menghela napas.

Iris gelap pria tampan itu masih bergerak gelisah. Sesekali ia terlihat meremas tangannya, mengacak maupun dengan sengaja menarik rambutnya. Membuatnya mencuat di beberapa titik. Menandakan bahwa banyak endapan emosi bersarang dalam hati.

Pria dengan pakaian rumah sakit itu serta merta menatap matahari. Menyeringai tipis di balik ejekan raja siang sebelum benar-benar terbenam. Bahkan ia amat gugup hanya dengan memikirkan bagaimana cara yang akan ia pakai jika wanita di sampingnya masih enggan berbicara.

“Kau be…”

“Jam be…”

Jung Kook menatap manik favoritnya lekat. Mereka terkekeh bersama. Lucu rasanya tidak sengaja berucap pada detik yang sama.

Prodigy Jeon mengatur deru napas. “Kau duluan,” ucapnya dengan aksen kaku. Oh demi semua risetku, aku benar-benar merasa bodoh, umpatnya.

Na Young menggigiti bibir bawah. Memainkan tas tangan dengan jemari lentiknya. Menghela napas, Na Young benar-benar merutuki debaran jantung abnormal yang mengganggunya di saat-saat genting. “Aku hanya ingin bertanya, jam berapa kau bisa pulang besok?”

Bungsu Jeon mengangguk singkat. Menengadah langit tempat awan-awan mulai menghitam. Lembayung pun turut menghentikan tebar pesonanya. Juga kelip kecil bintang ikut andil dalam tatapan. Ia menegang.

Baru saja, apa yang dikatakan istrinya tadi?

“A-apa itu artinya kau mau kembali bersamaku?”

###

Sepoi bayu musim gugur mendendang ritme suka. Ranting-ranting ditinggalkan daun mendesau beriringan. Diikuti pias surya hangat yang terasa menenangkan. Siang hari dengan sepasang suami istri tengah bergandeng tangan menuruni mobil merupakan momen yang terlampau indah.

Kunci pintu serta kenop diputar, menampilkan rumah tinggal yang nampak berdebu–lama ditinggalkan. Mereka masih berjalan beriringan, membuka satu per satu gordyn hingga cahaya mentari mampu menerobos. Keduanya saling angguk, berjalan ke ruang peralatan mencari alat kebersihan.

Na Young membawa penyedot debu sementara Jung Kook membawa sapu serta alat pel. Keduanya kembali tertawa sebelum akhirnya memisahkan diri untuk mengerjakan tugas masing-masing.

Senyum di bibir Na Young belum jua luntur. Ia membersihkan perabotan dengan hati riang. Salah satu di antara semua hal yang Na Young rindukan adalah melakukan bersih-bersih rumah bersama seperti ini. Meski sedikit lebih telat–biasanya pada musim panas–dibanding tahun-tahun sebelumnya Na Young tetap lega.

Ia berlama-lama menatap foto pernikahan yang tidak tahu sejak kapan tertelungkup itu. Menaruh penyedot debu yang masih menyala, tangannya menggapai ujung figura, mengembalikannya ke tatanan semula. Gaun putih panjang menjadikannya ratu semalam sangat cocok ia kenakan bersamaan dengan tuxedo hitam Jung Kook. Na Young kembali tersenyum.

Kepalanya memutar mencari keberadaan sang suami yang berlama-lama menyapukan pel-nya pada bercak darah. Rasanya sungguh tidak bisa dijabarkan. Seakan jutaan kupu-kupu meledak memenuhi hatinya saat ini juga.

Mereka berdua berbaikan. Berjanji tidak akan pernah menyimpan sendiri rahasia apa pun. Berjanji memulai semuanya dari awal dan tidak pernah membiarkan orang ketiga masuk di antara keduanya.

Tanpa sadar tangan Na Young sudah melingkari perut sang suami. Mengabaikan layangan protes yang pria itu teriakkan, ia tak mengubah posisi sampai dirinya merasa puas.

***

Tae Hyung mengangkat tangan tinggi-tinggi. Senyumnya merekah mendapati Sa Na keluar dari tempat latihan dengan peluh yang masih tersisa. Satu bulan berlalu semenjak wanita itu menjalankan therapy, kini Sa Na disibukkan dengan berbagai kegiatan yang dianjurkan sang dokter. Kelas tinju di hari senin, therapy hari selasa, kelas basket dan taekwondo masing-masing di hari rabu kamis, jum’at diisi dengan therapy lalu sabtu dengan kelas yoga.

Dua iris kelam bertemu pandang dengan mata cokelat Tae Hyung. Pria itu tanpa segan menarik Sa Na dalam rengkuhan. Mengusap bahu telanjang sang wanita yang sangat tidak peduli dengan cuaca sedingin ini.

“Aku baru mencetak tiga poin saat lawanku sudah mencapai angka sembilan belas,” adu Sa Na memasuki mobil. Tangannya menghidupkan air conditioner segera setelah Tae Hyung menghidupkan mesin mobil. “Aku kepanasan, Tae. Jangan protes.”

Tae Hyung terkekeh. Sikap tidak bisa dibantah Sa Na masih tetap sama meski ia sudah cukup mampu mengontrol emosi. “Tiga poin sudah lebih baik dari pada nol,” hiburnya. Tae Hyung kembali terkekeh manakala decihan sebal tergumam dari bibir Sa Na.

“Kau dan aku sama-sama tahu aku sangat payah pada olahraga bola pantul itu,” Sa Na memajukan tubuh menikmati sendiri embusan air conditioner. “Aku seharusnya menolak ketika Dokter Shin menyarankanku masuk ke kelas basket.”

Tae Hyung melirik sekilas ekspresi yang ditunjukkan wanita terkasih. Hanya beberapa detik kemudian ia kembali fokus pada jalan. “Kurasa Dokter Shin tidak akan keberatan jika kau mengajukan kelas lain. Ini baru pertemuan keempat, ‘kan?”

“Ya. Tapi jangan memintaku mengikuti kelas masak. Aku tidak mau menghabiskan uang untuk mengganti peralatan setiap hari.”

###

“Mereka adalah simbol musim dingin dan matahari hangat. Dua kepribadian berbeda yang mengikat janji setia hingga akhir masa.”

Tepukan menggema mengiringi ciuman hangat Yoon Gi pada Ye Rin. Na Young di bangku depan menitikkan air mata bahagia. Impian sang sahabat kini terwujud. Harapan mampu bersanding di pelaminan bersama sang kekasih hati kini terealisasi.

Meski usia kandungan Na Young sudah menginjak trimester tiga akhir namun ia tetap memaksa menjadi brides maid untuk sang sahabat tercinta. Awalnya Jung Kook serta Ye Rin dengan amat terang-terangan menolak namun bukan Na Young namanya jika ia tidak mampu meraih keinginannya. Wanita hamil tua itu terkekeh mengingat cara-cara yang ia gunakan membujuk dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.

***

“Terkadang aku merindukan Sa Na,” Na Young melirik sang suami yang tengah berkonsentrasi pada laptop. Ia menduduki sofa setelah sebelumnya meletakkan secangkir kopi di atas meja.

Menoleh, dahi Jung Kook mengerut tidak mengerti. Bukankah seharusnya sang istri merasa gembira mendapati Sa Na tidak kembali ke rumah? Tapi mengapa ia justru merindukannya? “Merindukan?” ulang Jung Kook memastikan pendengarannya masih normal. Na Young mengangguk pasti. Membuat pria itu makin mengerutkan dahi.

“Aku tidak pernah melihatnya lagi semenjak pertemuan singkat kami di rumah sakit. Dia bahkan tidak ikut bersama Tae Hyung menghadiri pesta pernikahan Ye Rin minggu lalu,” Na Young menghela napas. Jung Kook hanya mampu menggeleng lemah tidak mengerti keberadaan Sa Na. Wanita itu seperti disembunyikan, atau mungkin dibawa ke tempat terasing tanpa pernah bisa ditemukan. Mereka menghela napas.

###

Peluh membasah tiada lagi Sa Na pedulikan. Meski nyata salju sudah menumpuk sejak berminggu-minggu lalu, ia tetap berkeringat mengingat kelas taekwondo baru saja selesai beberapa menit lalu. Wanita itu meminum air mineral, bergabung dengan pejalan kaki lain seraya membenarkan letak topi.

Sudah lama Sa Na tidak berjalan-jalan seperti ini. Semenjak therapynya dimulai lima bulan lalu ia tidak pernah menampakkan diri. Berangkat latihan diantar lalu pulang dijemput lagi agaknya membuat Sa Na bosan. Beruntunglah hari ini Tae Hyung sedang mengajar ketika kelas taekwondonya berakhir.

Puas meregangkan kaki, Sa Na berhenti di sebuah halte. Ia memakai kembali mantel yang beberapa hari lalu diberikan Tae Hyung sebagai hadiah ulangtahunnya. Wanita itu tersenyum manakala aroma maskulin parfum Tae Hyung memenuhi indera penciumannya. Entah mengapa Sa Na sering menuang parfum pria itu pada pakaiannya.

Bus berhenti tepat di hadapan, ia segera naik menempati bangku yang bersisian langsung dengan jendela. Tidak terlalu ramai, pikirnya. Tidak terlalu banyak resiko dirinya akan berhadapan dengan pria asing.

Seorang wanita hamil meminta ijin menduduki kursi di samping Sa Na. Ia tersenyum, mempersilakan wanita kisaran usia awal tiga puluhan itu tanpa ragu. Tiba-tiba saja ia teringat pada Na Young. Wanita yang dulu pernah jadi bulan-bulanan rasa frustrasinya.

Bagaimana kabar wanita itu? Bagaimana kabar Jung Kook? Ia bahkan menutup diri dengan fakta apa pun. Ia tidak pernah diberi tahu, atau pun mencari tahu.

Sesak menggelayut dinding-dinding hati. Tangannya mengepal kuat menahan buncah emosi yang mungkin meletup kapan saja. Sa Na menghela napas, mengusap tangan seraya menggumam kalimat yang Tae Hyung ajarkan.

Tujuh menit berlalu, Sa Na sudah benar-benar membaik. Ia tersenyum pada wanita di sampingnya lalu berdiri. Gerbang sekolah tempat Tae Hyung mengajar sudah tampak.

***

“Aku sudah berkata padamu untuk menungguku, Han Sa Na,” Tae Hyung memprotes kehadiran tiba-tiba Sa Na di lobby. Pantas jika beberapa kali ia menelepon terlewat begitu saja.

Sa Na terkekeh mengangkat bahu acuh. Ia berjalan bersisian dengan Tae Hyung yang masih terus bicara banyak hal. Therapynya, kelasnya, apa saja seolah pria itu tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.

Hingga mereka masuk mobil lalu melaju membelah jalan pun Tae Hyung masih tetap mengajaknya berbicara. Kali ini mengenai siswa-siswi yang membuat pria itu bernostalgia. Sesekali Sa Na tertawa, menanggapi dengan kalimat utuh maupun hanya gumaman biasa. Ia terlalu menyukai gejolak aneh yang timbul jika Tae Hyung ada di dekatnya.

Sa Na tahu Tae Hyung memiliki perasaan padanya. Terbukti dengan beberapa kali ciuman lembut, ciuman manis tanpa menuntut yang pria itu berikan. Pula kekhawatiran tak mendasar pria itu meski pada hal-hal kecil. Ia juga ingat satu malam ketika ia belum bisa menghapus bayangan Jung Kook dari memori otaknya, bahu Tae Hyung merosot begitu saja. Lalu kata-kata yang sama sekali tidak ia pikir akan terucap, hari itu Tae Hyung mengucapkannya. Sebuah perumpamaan yang dulu sering pria itu gunakan.

“Bulan terlalu terobsesi dengan matahari hingga melupakan bintang lain yang selalu menemaninya tiap malam.”

Dulu mungkin ia akan mengira Tae Hyung hanya menyontek kalimat-kalimat kutipan drama favorit mereka namun sekarang tidak. Sa Na sudah mengerti makna dibalik kalimat itu.

Sekali lagi Sa Na menengok Tae Hyung menghidupkan musik. Dadanya bergemuruh memabukkan. Bukan rasa sakit yang mendominasi. Hanya perasaan hangat menjalar menimbulkan ritme jantung tak beraturan.

Sa Na tidak tahu sejak kapan merasakan perasaan baru ini. Yang jelas ia hanya perlu tahu bahwa Tae Hyung sudah membuatnya jatuh cinta. Yang ia tahu semua yang dimiliki Tae Hyung terasa sempurna untuknya. Untuk rasa yang tengah bersemayam dalam jiwa.

###

January 19, 2016

Bersama desau angin Jung Kook memanjat doa. Disaksikan salju menggunung Jung Kook meminta. Batinnya meronta, raganya lelah mengiba. Hampir satu jam berlalu namun ia belum jua mendengar tangis jagoan kecilnya.

Tepukan bahu ia dapat dari sang ayah mertua. Menyuruhnya berhenti mondar-mandir dan memasrahkan segalanya. Ia melihat ayah dan ibunya juga sama; menyuruhnya duduk agar tidak menambah kepanikan orang-orang.

Jung Kook mengalah. Duduk di salah satu kursi tunggu dekat adik iparnya. Pria itu mengusap wajah, berusaha menetralkan emosi menggebrak pintu hingga hancur berkeping-keping.

Sejenak ia khusyu melantunkan doa, tangis bayi menggema memenuhi indera pendengaran. Tanpa bisa dicegah ia membuka pintu, berjalan lamat-lamat mendekati perawat yang tengah menggendong bayi merahnya. Air mata menetes manakala senyum Na Young tertangkap retina. Ia bahagia. Benar-benar bahagia.

***

Tidak ada yang salah ketika Sa Na memutuskan ikut bersama Tae Hyung menjenguk Na Young. Ia pun sudah membelikan hadiah dan membawanya serta. Ketika kaki-kakinya tiba di depan ruang rawat tujuan, Tae Hyung menggenggam tangannya erat.

“Kau tidak harus melakukannya sekarang jika belum siap,” ujarnya meyakinkan. Sa Na menggeleng. Jika menunggu waktu yang tepat, ia rasa ini lah waktunya menunjukkan diri. Inilah saatnya meminta maaf atas apa yang pernah ia perbuat.

Sa Na yang terlebih dahulu memegang kenop, memutar lalu memasukinya tanpa ragu. “Selamat sore.” Senyumnya mengembang melihat pasangan suami istri yang masih diselimuti kebahagiaan. Tae Hyung mengekor di belakangnya. Ikut tersenyum mengucapkan salam yang sama.

Baik Jung Kook maupun Na Young tidak bisa menyembunyikan raut keterkejutan. Sangat tidak menyangka mendapat kunjungan tak terduga dari Sa Na. Terlebih wanita itu datang bersama Tae Hyung.

“Aku berharap kedatanganku tidak mengganggu,” Sa Na masih memertahankan senyum. Sebisa mungkin ia tetap bersikap baik meski tahu mungkin akan mendapat penolakan. “Selamat atas kelahiran putra kalian. Senang mendengarnya.”

Na Young mengangguk, berkali-kali mengucapkan terimakasih. Ia bahagia melihat Sa Na baik-baik saja. Wanita itu bahkan jauh lebih baik dari lima bulan lalu saat puncak kekacauan terjadi.

Jung Kook mempersilakan Sa Na menduduki kursinya. Tersenyum, ia mengajak Tae Hyung duduk di sofa tak jauh dari bangsal. Membiarkan dua wanita dalam ruangan terlibat obrolan panjang.

“Aku ingin meminta maaf atas semua yang pernah kuperbuat padamu,” Sa Na menggenggam tangan bebas Na Young. “Aku tahu tidak seharusnya melampiaskan rasa frustrasiku terhadap seorang yang tidak bersalah. Hidupku sudah kacau sejak hari di mana aku hampir diperkosa.”

“Aku benar-benar meminta maaf, Jeon Na Young.”

Aliran sungai bening tercetak di pipi-pipi Na Young. Tanpa terduga wanita itu menarik tubuh Sa Na dalam pelukan. Bahunya bergetar seiring tangis yang pecah begitu saja. “Aku sudah memaafkanmu, Han Sa Na.”

Tangan kurus Na Young membelai punggung Sa Na lembut. Tangisnya makin menjadi saat wanita dalam rengkuhan ikut sesenggukan. Hatinya teriris. Ia terenyuh dengan permintaan maaf tulus yang Sa Na utarakan. Dua pria di dalam ruangan hanya mampu mematung. Saling pandang membiarkan haru memenuhi ruang rawat itu.

Tiga puluh menit kemudian keduanya baru tenang. Sa Na melepas rengkuh Na Young enggan. Wanita itu tersenyum kembali. Lega dengan pengabulan maaf Na Young.

“Terima kasih,” ucap Sa Na tulus. Ia kembali menggenggam tangan Na Young. “Aku janji tidak akan menampakkan diri pada kehidupan kalian lagi.”

Na Young mengernyitkan dahi. “Jangan konyol, Sa Na. Kita bisa berteman. Aku tidak mau kau pergi.”

Jantung Sa Na berdetak kencang. Sekali lagi ia menitikkan air mata bahagia. Belum ada yang benar-benar tulus mengucapkan permintaan berteman seperti apa yang Na Young lakukan. Mereka kembali berpelukan. Tae Hyung mengacungkan jempol bangga diikuti Jung Kook.

Satu sore di musim dingin dengan salju yang kian memupuk, benar-benar hari yang tepat untuk menebar serbuk-serbuk kebahagiaan.

-END-

I put my heart into your hands
Here’s my soul to keep
I let you in with all that I can
You’re not hard to reach
And you bless me with the best gift
That I’ve ever known
You give me purpose
Yeah, you’ve given me purpose – Jungkook – Purpose

A/N: HAPPY BIRTHDAY MY SWEETY BUNNY JEON JUNGKOOK :* Alhamdulillah pas bgt selesai tepat di ulangtahun dedek Kkuki ^^ hehe. Gimana endingnya? Puas gak? Kalo gak puas jangan nagih lg ya :p wkwk. Aku udah siapin FF lain gantinya Breathe kok. Judulnya Ribbon. Dibaca juga ya! 😉

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

2 thoughts on “Breathe Chapter 9 [End]

  1. Ternyata udah ada chap terakhir nya 😱 aku ketelatan 😩
    Suka banget sama ff ini 😍 keren keren keren
    Dan akhirnya menjadi keluarga bahagia 🎉🎉🎉
    #jujur, aku gak tau mau komen apa lagi

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s