What If [BTS Version] Chapter 8

What If [BTS Version] Chapter 8

image

Title: What If
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Romance, Fluff, Angst, Hurt/Comfort, AU
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 8
His Secret

~~~

Story begin..

Uap masih mengepul saat aku keluar dari kamar mandi. Tubuhku terasa jauh lebih segar sekarang. Oh astaga. Berapa lama aku tidak menyentuh air?

Melangkah menuju pantry, aku melihat Yoon Gi tengah membaca koran paginya seperti biasa. Kacamata baca membingkai wajah dan ia masih terlihat menggemaskan, aku tersenyum. Aku mengeluarkan beberapa bahan untuk memasak sup ayam. Kupikir aku harus berterima kasih pada pria yang sudah merawatku beberapa hari ini.

Hampir tiga puluh menit dan supku sudah masak. Menuang pada dua mangkuk, aku melepas celemek motif bunga-bunga yang kukenakan. Yoon Gi masih di sana membenarkan letak kacamata. Senyumku mengembang. Aku mengangsur salah satu mangkuk di depannya, duduk berhadapan dengan priaku.

“Makanlah. Kau butuh energi cukup untuk bekerja keras hari ini,” cicitku mengulas senyum. Ia meletakkan koran di meja, mengangguk lalu melepas kacamata dari wajahnya.

Dahinya mengernyit. Aku bertanya-tanya dalam hati mengapa ia tidak lantas menyendok sup. Apakah priaku tidak menyukai sup? “Umm… apa kau tidak suka sup?”

Yoon Gi menggeleng namun kerutan di dahinya masih ada. “Kukira kau akan memasak gratin seperti biasa,” ia berujar sembari meniup-niup sup yang baru saja disendok. Dan aku menjelaskan ingin memasak sesuatu yang istimewa untuknya pagi ini.

“Terima kasih telah merawatku. Terima kasih telah membuatkanku bubur. Kau tidak seharusnya melakukan itu, Yoon.” Tangan kananku berada di atas tangannya. Aku memasang senyum terbaik. Mengatakan dengan mimik wajah bahwa aku benar-benar berterima kasih. Priaku hanya membalas dengan seulas senyum tipis. Setidaknya, ia benar-benar tersenyum.

***

Saat selesai mencuci peralatan perangku pagi ini, aku menemukan Yoon Gi tengah menonton acara televisi luar. Aku tidak tahu pasti namun pria yang kukira seorang pemandu menggunakan bahasa aneh untuk bercakap-cakap. Bukan Bahasa Inggris, tapi ini bahasa yang benar-benar tidak kumengerti.

Tanpa sadar aku ikut memerhatikan, larut dengan pemandangan menarik yang tersaji di televisi. “Kota yang indah,” gumamku mengulas senyum. Yoon Gi menoleh sekilas lalu kembali memerhatikan layar datar. Kerutan di dahinya belum juga hilang dan aku sama sekali tidak mengerti.

“Aku ingin ke sana. Kota itu benar-benar indah.” Aku tidak berbohong. Tatanan kerajaan modern bercampur dengan kemajuan zaman benar-benar menyatu dengan baik. Mataku mungkin saja sudah berbinar sekarang. “Kau tahu, saat berusia tujuh tahun aku sangat ingin menjadi seorang putri kerajaan.”

Tidak ada jawaban seperti biasa. Aku menggumam maklum masih dalam posisi memerhatikan televisi. Sampai sebuah suara menginterupsi kegiatanku, aku masih terpaku di sini. Aku tidak bermimpi, ‘kan?

“Kota itu adalah kota kelahiranku.”

###

Suasana berubah kikuk semenjak Yoon Gi mengatakan kalimat terakhirnya lalu berangsur mematikan televisi. Kami berjalan dalam diam, meski ia tetap mengantarku sampai bar paman, kurasa memang ada yang salah dari priaku. Aku mendesah dan mendengus sepanjang jalan. Aku tidak begitu menyukai situasi canggung seperti ini.

Aku memerhatikan priaku. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantung celana. Mata hitam itu memandang lurus ke depan. Tanpa senyum, tanpa binar ceria, dan yang terlalu kuperhatikan adalah dahi priaku. Dahi itu masih saja berkerut seolah ia tengah menghadapi beban berat. Aku benar-benar tidak mengerti.

Papan reklame di depan bar paman menjadi objek tatapku saat ini. Bukan apa-apa, setelah tanpa sengaja bibirku menggumam desah beberapa detik lalu, mata hitam Yoon Gi bersirobok dengan irisku. Membuatku tersenyum canggung melayangkan cengiran tidak biasa. Aku melangkah memasuki bar paman diikuti priaku.

“Ah, Ye Rin,” Jung Kook melambaikan tangan diikuti empat pria di dekatnya. Mengisyarat agar kami bergabung bersama mereka. Aku mengangguk.

Kami duduk di bangku yang sengaja dikosongkan. Itu adalah bangku khusus kami–kurasa. Aku terkekeh dalam hati. Yoon Gi masih bungkam dan sejujurnya aku benar-benar khawatir.

Mereka menyambutku dengan baik. Bahkan paman jadi sangat sensitif menanyai perihal kesehatanku. Terlihat konyol namun aku menyukai semua perhatian yang kudapat. Tuan manajer melihatku dari balik counter, mengacungkan jempol disusul lengkungan senyum manis. Aku menyadari satu hal; aku memiliki keluarga baru di tempat ini.

“Aku tidak pernah tahu Yoon Gi memiliki sisi berbeda saat kau pingsan. Wajahnya benar-benar panik, dan ah. Sayang sekali kau tidak melihatnya.” Ji Min memulai cerita dengan berapi-api. Yoon Gi memutar mata jengah, menenggelamkan tubuhnya pada sofa. “Dia menggendongmu dan memaki kami karena tidak tanggap menghadapi situasi tiba-tiba seperti itu. Saat kami hendak membantunya menyetop taksi, dia sudah lebih dahulu beranjak membawamu. Ah. Dia seperti pangeran-pangeran negeri dongeng.”

Aku mencerna ucapan Ji Min. Tidak memedulikan lagi kata-kata yang keluar dari bibir kissable itu selanjutnya. Benarkah priaku sekhawatir itu? Benarkah ia adalah Min Yoon Gi yang sama dengan Min Yoon Gi yang tinggal bersamaku?

Pandanganku kembali jatuh ke arahnya. Di mana Yoon Gi memejamkan mata terlihat tidak terusik dengan suara gemuruh teman-teman berisiknya. Benar-benar tenang. Lama aku memerhatikan, senyum ikut andil memeta di bibirku.

“Kau benar. Dia bahkan membuatkanku bubur.” Aku menggenggam tangan Yoon Gi, mengisyarat padanya bahwa aku benar-benar berterimakasih. Priaku membalas genggaman sama kuat. Aku tidak mengerti perasaan apa yang meluap namun dadaku menghangat. Aku menyukai perasaan ini.

Paman Shin Ki-lah yang pertama kali menyadari posisi kami. Ia berdeham namun kami tidak melepaskan tautan tangan. “Ye Rin-ah. Sebenarnya paman ingin meminta bantuanmu.”

Aku mengangguk memperbaiki posisi duduk masih menggenggam tangan Yoon Gi. “Apa yang bisa kubantu, Paman?”

“Aku ingin kau merangkai bunga untuk bar. Tambahan dekorasi. Aku tahu kau sangat pandai dalam seni merangkai bunga.”

***

Jarum jam menunjukkan pukul sebelas lebih enam menit saat aku meletakkan tangkai-tangkai bunga yang sebelumnya telah kupangkas dalam sebuah vas. Menyusun bunga warna merah di pinggir disambung warna pink lalu satu bunga warna putih di tengah-tengah. Aku tidak mengerti apa pria-pria itu tidak memiliki kegiatan lain selain duduk dan menonton pertandingan bola. Padahal di antara mereka banyak yang memiliki pekerjaan penting seperti CEO perusahaan ternama maupun staf pengajar.

Tuan manajer meletakkan secangkir Melya di meja, menatapku seraya tersenyum. “Kau tidak boleh melepaskannya apa pun yang terjadi,” ujarnya begitu saja lalu pergi ke balik counter. Dahiku mengernyit tidak mengerti namun aku hanya mengangguk.

Melanjutkan kegiatan pada vas-vas berikutnya, aku mendengar derap kaki seperti tengah berlari. Aku mendongak. Mataku langsung menumbuk pada Randa yang tergopoh-gopoh mendekati Yoon Gi.

“Master Yoon Gi,” ujarnya mengatur napas. Ekspresi Randa terlihat khawatir dan menyesal. Aku berdiri, berjalan mendekat bergabung bersama mereka. “Saya baru mendapat kabar bahwa nenek Anda jatuh sakit. Saya minta maaf.”

Kami terkejut tidak terkecuali Yoon Gi. Air mukanya berubah khawatir, namun aku juga bisa melihat kilatan api dalam matanya. Dahi priaku belum juga berhenti berkerut, justru kini semakin berkerut. Lalu ingatanku kembali pada beberapa jam lalu di mana mata hitam itu menatap rindu kota kelahirannya. Aku mendesah.

“Yang Mulia menginginkan Anda bisa pulang secepatnya, Master Yoon Gi.” Randa mengedarkan pandangan, berlama-lama menatapku dengan ekspresi tak terbaca. Aku mengalihkan pandang. Yoon Gi menggeleng tegas tanpa berniat menjawab sepatah kata pun. “Saya mohon, Yang Mulia. Nenek Anda sedang sakit keras.”

Gelengan di kepala Yoon Gi semakin mantap, “Pulanglah, Randa. Aku tidak akan pergi ke mana pun.”

Aku mendesah, memberikan isyarat pada Randa untuk tidak memperkeruh keadaan. Iris gelap Yoon Gi semakin berapi-api, aku tidak mengerti mengapa ia bisa semarah ini namun aku tidak berani memikirkan lebih lanjut. Aku memilih kembali duduk di dekatnya, memberikan usapan di lengan sama seperti apa yang sering ia lakukan.

Tepat pada usapan ke empat puluh tiga, tubuhnya sudah tidak sekaku beberapa menit lalu. Aku kembali menghela napas.

“Kau tidak perlu semarah ini, Yoon Gi,” bisikku masih mengusap-usap lengannya. Ada beberapa waktu di mana priaku seperti buku yang terbuka, yang mudah kubaca tanpa perlu alat penerjemah. Ada pula waktu di mana ia seperti buku terlarang yang tertutup. Tidak ada sisi yang bisa kulihat dengan sikap seperti ini. Min Yoon Gi yang ini sebelumnya belum pernah muncul.

Alih-alih menjawab, ia justru bangkit lalu melenggang pergi tanpa mengucap selamat tinggal. Tanganku mengepal kuat. Randa ikut menyusul setelahnya dan aku benar-benar tidak bisa tinggal diam. Aku ingin melangkah namun paman sudah lebih dahulu menarikku agar kembali duduk.

“Biarkan saja. Yoon Gi butuh waktu untuk berpikir jernih,” ujar paman mengetahui kekhawatiran yang tercipta di mataku. Aku mengangguk seraya mendesah lelah. Berpamit mencuci wajah lalu kembali ke meja lima menit kemudian.

Pertandingan bola baru saja usai, Tae Hyung menggapai remote mematikan televisi plasma yang kini menampilkan acara musik. Aku memilih diam mengamati cangkir Melya yang sepenuhnya sudah tandas. Tidak ingin mencari topik pembicaraan. Tidak ingin memikirkan hal-hal lain selain priaku dan juga ketakutannya.

Bagaimana jika Yoon Gi tetap bersikeras tinggal? Bagaimana jika pria itu tetap bersikukuh tidak mau pulang menjenguk neneknya?

“Yoon Gi mengalami masa-masa yang sulit di sana. Aku tidak heran jika dia tidak mau kembali,” Tae Hyung menyesap kopi hitamnya. Aku menegakkan tubuh, mendengarkan apa yang mereka ketahui tentang priaku. Jujur saja aku belum pernah membicarakan hal-hal pribadi dengan Yoon Gi. Priaku benar-benar seorang yang tertutup.

“Yoon Gi kecil sangat kesepian. Karena dia adalah seorang pangeran, kedua orangtuanya menerapkan kedisiplinan tinggi. Ayah Yoon Gi adalah orang yang kaku dan tegas. Beliau dengan terang-terangan melarang Yoon Gi bermain bersama teman seusianya. Yang ia tahu ia harus belajar dan belajar. Etika kerajaan, sejarah kerajaan, ekonomi, apa saja yang berhubungan dengan kerajaan.”

“Satu-satunya teman yang ia punya hanya kakaknya. Itu pun jika sang kakak tidak belajar menunggang kuda maupun bela diri. Dia benar-benar tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua,” tambah Jung Kook menatap lurus ke arahku. Aku mengerti sekarang. Sikap dingin yang priaku miliki terbangun karena orangtuanya. Ia menutupi rapuh diri dengan sifat itu. Sifat yang perlahan bisa kusentuh meski tidak seutuhnya.

Aku mengangguk paham. Dadaku sesak mengetahui fakta tentang pria yang perlahan mulai kuterima kehadirannya. “Lalu?”

“Neneknya adalah figur yang selalu mendukung apa pun keputusan yang akan ia ambil. Beliaulah yang mengajarkan Yoon Gi tentang tanaman obat. Beliau juga mendukung keinginan Yoon Gi masuk universitas dan memilih jurusan yang ia inginkan. Sampai ketika ia lulus, orangtuanya telah mengatur perjodohannya dengan seorang putri kerajaan demi memperkuat aliansi. Lalu, Yoon Gi memilih kabur ke sini dan tidak pernah pulang.”

Aku menghela napas. Perkataan paman barusan semakin membuatku mengerti betapa berartinya sang nenek bagi Yoon Gi. Aku tahu posisi Yoon Gi pasti sangat sulit sekarang.

“Pulanglah, Ye Rin-ah. Kurasa hanya ucapanmulah yang akan didengar Yoon Gi saat ini.”

To Be Continued..

A/N: Haloo ^^ masih inget ff ini gak? Aduh udah lama bgt aku gak update >< trus yg minta dibanyakin words, maaf gak bisa. Porsinya emang segini hehe ^^

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s