Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 4

Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 4

image

Title: Mafia’s Complex
Cast: Min Yoon Gi, Jeon Jung Kook, Ryu Ye Rin
Genre: Action, Crime, Thriller, AU
Rate: M (for safe)
Author: Dian Hanamizuki feat Nadhea Rain
CR Pict: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Chapter 4

~~~

Story begin..

Wanita berkaki jenjang dengan balutan stiletto hitam mempercepat langkah. Dress tanpa lengan senada stiletto yang panjangnya hanya mencapai batas pantat menyokong tubuh sintal yang ia miliki. Rambut mengkilap seindah jelaga ia biarkan tergerai, riasan tipis menggoda ditambah gincu merah menyala terpoles di bibir kissable-nya.

Langkah kakinya panjang-panjang, menapaki setiap lantai marmer yang akan membawanya ke lobby gedung pusat YG Corporation berada. Paras cantik itu terpias cahaya matahari, serta merta menambah keelokan rupa Aphrodite yang ia sandang. Ia menghela napas selagi membenarkan letak tas tangan.
“Aku ingin bertemu Presdir Min,” ujarnya tak lama setelah menjajaki ruang resepsionis. Namun tak lantas menjawab, sang resepsionis justru menilik penampilan wanita Aphrodite, membuat yang dipandang membayangkan skenario di mana ia mencongkel dua mata resepsionis dan menjadikannya pengganti bola bekel. Resepsionis… mata… darah. Sial! Ia memutar mata jengah.

Dua manik hitam wanita itu berkilat, melayangkan tatapan mematikan yang jika diartikan menjadi jangan-tatap-aku-dengan-tatapan-konyolmu, hingga detik ke enam sang resepsionis segera tersadar-membasahi tenggorokannya dengan berdehem pelan, “Maaf tapi anda tidak bisa bertemu presdir jika tidak memiliki janji.”

“Katakan saja aku Shin Seul Bi. Dia tidak akan menolak.” Wanita yang mengaku Shin Seul Bi menyidekap tangan di dada, menunggu reaksi resepsionis selanjutnya.

Ia telah menghitung hingga delapan detik namun sang resepsionis hanya mematung meremehkan. Shin Seul Bi tidak semudah itu menyerah! “Oh ayolah. Kau hanya tinggal menghubunginya dan voila, pekerjaanmu selesai,” Seul Bi menaikkan suaranya satu oktaf. Tak peduli lagi jika karyawan yang tengah berlalu lalang menatapnya heran. Resepsionis anggun di hadapannya mendengus sebelum menyambar gagang telepon. See? Sepertinya Seul Bi menang.

***

“Monitor menyala, kertas berserakan, minuman kaleng menggunung di tempat sampah, dan sang tuan tampaknya sangat terlena pada ponselnya. Benar-benar tidak ada aura kepemimpinan di ruangan ini,” Seul Bi menghela kasar usai mendikte ruangan yang katanya milik pemimpin tertinggi gedung YG Corporation. Namun kondisi yang ia lihat sangat berbenturan dengan status yang tersandang pada ruangan ini.

Min Yoon Gi–sang tuan yang dimaksud wanita penyandang rupa Aphrodite itu memamerkan reaksi sangat terkejut akan kehadiran sosok lain di ruangannya. Menurunkan kaki-kaki yang bertenger di atas meja, ia lantas menutup ponsel dengan gerakan tergesa. Dan pertanyaan apakah wanita itu sempat memberi atensi pada aktivitas yang dipertontonkan ponselnya atau tidak seketika menghantam otak. Ia melirik sesaat parasnya yang terefleksi pada meja kerja bersampulkan kaca sebelum mematai wanita yang berdiri dua meter dari kursi kuasa yang tengah ia duduki saat ini. Sempat bersyukur rona merah memalukan belum sempat menyapa paras tampannya.

“Ada perlu apa kau repot-repot mengunjungiku?”

Seul Bi mengekeh geli. Dua manik jelaganya bereaksi tidak menyangka jika pria pemilik kulit bak manequin tersebut mengangsurkan pertanyaan bodoh semacam itu. “Aku tidak akan menjawab pertanyaan retorismu itu sayangnya.”

Yoon Gi memilih bungkam daripada meneruskan celotehan wanita itu. Ia yang tersadar kertas kerjanya berceceran di meja segera menumpuknya dengan asal. “Ah sinting!” ia memaki ketika menemukan kertas perjanjian kerja sama yang amat berharga baginya tercampur dengan kaleng minuman kosong di dalam tempat sampah.

“Kau tampaknya sibuk dan kacau sekali akhir-akhir ini, Min. Tidak ada niat untuk melepas penat bersamaku, hm?” Seul Bi merangsek maju, jemarinya terjulur memainkan kerah kemeja polos biru sewarna laut yang dikenakan pria itu nakal. Dan hal itu sukses membekukan kegiatan Yoon Gi yang tengah mencari data tagihan pajak perusahaannya.

Yoon Gi menyunggingkan senyum asimetris sebelum menggeleng pelan. “Lain kali saja, Seul.”

Sial. Seul Bi paling tidak suka ditolak, oleh siapapun apalagi oleh orang yang benar-benar ia inginkan saat ini. Dan ia sangat benci jika ajakannya ditanggapi dengan terlalu dingin padahal pria itu tahu benar jika dirinya adalah pembenci orang-orang munafik yang awalnya menolak tetapi berakhir pasrah juga.

“Aku tidak ingin kedatanganku kemari berakhir sia-sia, Min.” Bibirnya membentuk seberkas senyum manis. Berusaha mengontrol emosi yang sejujurnya sudah hampir mengisi penuh sistem otak.

“Oh Shin Seul Bi, My Dear, kau tidak lihat pekerjaanku sangat banyak?” Yoon Gi melirik tumpukan map yang hampir menggunung di sisi kanan meja. Membiarkan ekor mata Seul Bi juga melirik hal yang sama

“Tapi… ayolah, aku sangat merindukanmu.”

Yoon Gi mendesah. Ia sangat tahu menolak Shin Seul Bi sama saja dengan memangkas waktunya yang berharga hanya untuk beradu mulut. “Aku tahu kau tidak merindukanku. Lebih tepatnya kau merindukan tubuhku di atas ranjangmu. Benar begitu?”

“Oh Shit!”

Oh Shit! Yoon Gi juga mengumpat dalam hati. Hadirnya wanita itu di tengah-tengah aktivitas memeriksa video ‘panas’ hasil rekamannya disertai pekerjaan yang nyaris saja membuat otaknya melarikan diri dari tempurung kepala benar-benar komposisi yang teramat buruk. Pria itu membisu sembari mempertimbangkan dua opsi reaksi yang harus ia lakukan; mengabaikan kertas-kertas brengsek itu atau mengabaikan Shin Seul Bi yang notabene adalah seorang perayu ulung.

“Kau terlalu lama berpikir, Sayang. Sebotol Margarita, itu tawaranku. Kau menerimaku atau tidak?” sepasang jelaganya memperhatikan dengan gemas paras tampan pria itu yang tengah bereaksi bingung. Agaknya Min Yoon Gi kesulitan untuk meraih beberapa opsi yang berhamburan di dalam pikirannya, “Padahal aku sedang berbaik hati meringankan bebanmu, Min. Aku tahu, selepas tubuhku menghilang di balik pintu, kau akan kerepotan mengurus masalah baru yang timbul dari sesuatumu itu.”

Yoon Gi benar, ‘kan? Sejatinya, berhadapan dengan seorang perayu ulung seperti Shin Seul Bi sungguh melelahkan. Selain berakhir dengan terkurasnya kata-kata penolakan karena wanita itu teramat mahir mematikan segala jenis dalihan, alasan lainnya ialah fakta menyakitkan bahwa tubuh Min Yoon Gi tidak akan pernah bisa berkompromi dengan hati apalagi otaknya apabila disuguhkan tubuh sintal wanita itu. Menjengkelkan.

Yoon Gi membuka salah satu laci meja kerja, mengeluarkan camcorder kesayangannya kemudian beranjak dari kursi. Ia membalas tatap sepasang jelaga yang selalu terlihat menggoda dan menautkan tangannya di pinggul wanita itu, “Aku kalah. Apa kau puas, Nona Perayu Ulung?”

Seringaian di bibir kissable-nya yang terpoles gincu merah menyala itu semakin meninggi, lalu menyambut rengkuhan mesra di pinggulnya. “Sangat puas tentu saja.”

“Sebotol Margareta kuterima.”

Seul Bi mengerling nakal. Lebih menekan tubuh Yoon Gi dengan payudaranya yang menggoda. “Kutambahkan sebuah kamar VVIP beraroma vanilla jika kau mengizinkanku lebih dominan di permainan kita nanti. Setuju?”

“Ah sialan! Baiklah, Seul, Baiklah.”

***

Jeon Jung Kook menyeruput kopi siangnya yang masih terasa hangat. Ia melempar pandangan ke sekitar kantin kantor yang semakin lengang. Hanya ada beberapa karyawan terlihat tengah menghabiskan makan siangnya dengan terburu-buru, lalu berlari kecil ke meja kasir untuk menebus harga makanan yang telah dihabiskan. Sebagian lagi masih bercengkrama dengan teman satu divisinya, seolah tidak peduli dengan deadline yang telah menanti mereka di meja kerja masing-masing.

Iris kelamnya kini tertuju pada jam dinding besar yang tertempel di salah satu pilar. Waktu telah menunjukkan pukul satu lebih dua belas menit, dan Jung Kook belum mau mengabulkan keinginan untuk beranjak dari kantin ini. Ia masih menikmati suasana kesendiriannya yang damai tanpa beban kantor sialan untuk beberapa saat. Pria itu kembali tertunduk, menyeruput sekali lagi kopi siangnya yang terasa sangat memanjakan lidah pria itu.

“Sampai kapan kau terus berdiam di sini, Tuan Jeon?”

Jung Kook hampir tersedak oleh kopinya saat suara lembut seorang wanita disertai bunyi gemelatuk heels mengusik indera pendengaran. Alisnya menukik tajam saat ia mendongak dan mendapati sosok wanita yang kerap disebut ‘Nona Muda’ itu berdiri seperempat meter dari tempat duduknya. Ada gerangan apa sang pemimpin JH-Ryu Corporation mau menyambangi kantin seperti ini?

Sejujurnya Ye Rin–sang Nona Muda–agak kesal melihat reaksi Jung Kook yang amat tidak pantas ditunjukkan pada seseorang yang notabene penguasan gedung ini. Tapi Jeon Jung Kook tidak peduli pada raut tidak suka wanita itu atas reaksinya. Karena ia berpendapat bahwa dirinya jauh lebih dulu mengabdikan diri di perusahaan ini sebelum hadirnya nona muda tersebut.

Ia membiarkan Ye Rin mengambil tempat duduk di depan meja bundar. Wanita itu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kantin, sementara Jung Kook masih terlena pada sesapan kopinya yang dalam hitungan tiga teguk lagi akan tandas.

“Sepertinya Nona sedang memiliki waktu cukup luang,” Jung Kook berujar diikuti suara benturan cangkir kopinya dengan meja. Mengajak Ye Rin berbincang sepertinya hal yang menyenangkan karena keinginan untuk kembali ke meja kerjanya kembali terulur.

“Sepertinya aku mulai membenci ruanganku, Jeon,” Ye Rin mendesah panjang. Matanya mengamati cangkir putih yang masih menyisakan tiga tegukan kopi hitam milik Jung Kook. “Kopimu terlihat enak.”

“Nona mau?” Jung Kook menawarkan. “Akan kupesankan secangkir kopi sepertiku.”

Ye Rin tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Sayangnya aku tidak meminum kopi.”

Jung Kook mengangguk mengerti. Ia mengangkat cangkir putih tersebut, berniat menandaskan kopi hitamnya selagi Ye Rin mengamati pegawai kantin yang berkumpul di meja kasir. Mata kelam Jung Kook memperhatikan wanita muda itu. Yang pertama kali ia perhatikan ialah rambut legam panjangnya, terlihat lepek dan agak berantakan kuncirannya. Perhatian Jung Kook turun menuju mata wanita itu, sisi-sisinya tampak menghitam dan oh, Jung Kook baru menyadari jika sang Nona Muda itu terlihat lebih pucat dari biasanya.

“Apa masalah perusahan membuat Nona lupa bagaimana caranya merias diri?” Jung Kook akui kalau pertanyaannya ini terlalu eksplisit dan to the point. Dan ia menyesal karena tidak sempat menyusun kalimat basa-basi sebelumnya.

“Kenapa memangnya?” Ye Rin menoleh pada Jung Kook kemudian menunduk untuk mengamati pakaiannya. “Apakah pakaianku terlihat aneh? Atau wajahku terlihat menyedihkan, ya?”

Jung Kook terkekeh. Sudah ia duga penampilan merupakan masalah sensitif bagi seluruh wanita. “Uh… Nona hanya terlihat tidak seperti biasanya,” ia berdeham sesaat sebelum kembali melanjutkan kalimat. “Jangan terlalu memusingkan masalah perusahaan, Nona. Aku tidak rela kau mengalami penuaan dini.”

“Aku bersumpah sudah mendeportasi masalah keparat itu dari otakku, Jeon,” Ye Rin mendengus keras. “Hanya saja… ada sesuatu yang telah kuperbuat dan akan menjadi masalah jika aku terus saja diam.” Memang benar, dari sekian banyak hal yang mengganggu pikiran Ye Rin, masalah itulah yang paling menyita perhatiannya.

Ye Rin tak begitu ingat dengan segala hal yang terjadi saat ia mabuk semalam, tetapi saat menyadari dirinya berakhir di dalam kamar hotel dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik bersama seorang pria asing, hal tersebut sudah cukup baginya untuk mengindikasi sesuatu yang buruk telah terjadi.

Sebenarnya beberapa spekulasi seperti pria asing itu telah memperkosanya telah berputar secara konstan di dalam kepala sejak Ye Rin keluar dari hotel. Tapi sungguh bukan itu yang Ye rin khawatirkan–alahkan serentetan masalah perusahaan yang datang secara serentak sehingga wanita itu menciptakan pemikiran bodoh tersebut–justru harga diri dan nama baiknya yang ia cemaskan.

Bisa saja pria asing itu nanti menyebarkan rangkaian kejadiannya bersama Ye Rin di internet, lalu kolega serta client-nya tanpa sengaja melihat postingan tersebut dan berakhir wanita itu diintrogasi atau mungkin diejek habis-habisan atas skandal one night stand-nya bersama pria asing. Oh gila!

“Memangnya ada masalah apa lagi?” Jung Kook akhirnya melontarkan pertanyaan yang tadi sempat ia sumbat di tenggorokan demi memperhatikan raut tak terbaca nona mudanya. Kemudian ia menyamankan posisi sandarannya di punggung kursi.

Ye Rin menoleh, menatapnya cukup lama. “Ah tidak. Ini hanya masalah pribadi. Aku tidak perlu menceritakannya padamu,” katanya sambil mengalihkan pandangan pada dua karyawan yang tersisa di kantin. Namun sekarang tampaknya mereka tengah bergegas kembali ke meja kerja.

Tentu saja jawaban itu tidak memuaskan rasa ingin tahu Jung Kook, sehingga ia memilih untuk diam tak berkata sepatah pun setelahnya. Pria itu menunduk, berdalih menyibukkan diri dengan memeriksa ponselnya, padahal kenyataannya ia tengah menguras otak mencari topik pembicaraan yang agak santai. Jung Kook sedikit tidak menyukai situasi canggung cenderung tegang seperti ini.

“Nona tahu kejadian besar dibalik film The Dark Knight?” tanya Jung Kook memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.

“Heath Ledger, si pemeran Joker mati sebelum filmnya dirilis, benar ‘kan?”

“Alasan dia mati?”

“Aku tidak peduli, Jeon.”

Jung Kook memamerkan senyum timpang melihat reaksi acuh tak acuh sang nona muda. “Dia mati karena terlalu mendalami karakter Joker yang begitu kesepian, yah bisa dibilang terlalu profesional.”

“Lalu?” ekspresi Ye Rin terlihat mengeras. Guratan garis-garis tipis bahkan sudah mengisi dahinya.

“Apa?”

“Kau menyetarakan aku seperti Heath Ledger yang terlalu profesional menjaga gelar big boss perusahaan yang tersandang di namaku, kemudian aku akan mati karena tidak sanggup mengatasi masalah perusahaan, begitukah? Jangan konyol Jeon Jung Kook!” tukas Ye Rin berapi-api. Sungguh ia tidak mengerti mengapa bawahan kepercayaannya bisa menyetarakan dirinya dengan pria itu.

“Bukan begitu maksudku, Nona,” kata Jung Kook, “Akhir-akhir ini kau begitu sensitif,” godanya.

Ye Rin menggigit bawahnya sebelum mengarahkan pandangan pada pegawai kantin yang tengah membereskan kursi-kursi. Memang hanya penurunan posisi saham dan kegagalan merebut tender yang menjadi masalah untuk Ye Rin. Tapi coba gabungkan hal-hal seperti dua masalah perusahaan yang datang secara serentak, ayah yang selalu menyambut kepulangannya di malam hari dengan sorot netra penuh kebanggaan seolah putrinya paling hebat telah menaklukan perusahaan terkemuka di Korea, dan sebuah kecelakaan di hotel akibat kebodohannya yang nekat bermain di pub dengan alasan meringankan pikiran sejenak.

“Aku juga tidak tahu. Yang jelas saat ini selera bergurauku sedang berada di level paling parah,” jawabnya dengan kedua sudut bibir yang berjingkat enggan.

Jung Kook menjauhkan punggung dari sandaran kursi dan mencondongkan tubuhnya sedikit. “Jika suatu hari Nona merasa tidak sanggup berdiri untuk mengatasi semua masalah ini sendirian, jangan lupa bersandar padaku.”

Ye Rin belum bereaksi. Hanya pandangannya yang belum teralih dari manik kelam Jung Kook yang entah mengapa tampak berbeda. Pria itu seolah tidak sekadar merapalkan kalimat semangat dari mulutnya, melainkan meyakinkannya dari hati. “Terimakasih banyak, Jeon Jung Kook,” jawabnya sambil tersenyum.

***

Sekalipun ia di kelilingi pria gangster bertubuh lebih dengan senapan api di tangan yang siap menghancurkan apapun, Shin Seul Bi tidak akan pernah takut. Katakanlah ia tengah membanggakan rupa Aphroditenya untuk melindungi diri. Karena parasnya dapat menurunkan setiap senjata yang tertodong ke arahnya, mungkin jika ditambah dengan rayuan bermain satu malam di motel dapat membuat pria gangster tersebut bertekuk lutut. Oh, abaikan opsi terakhir karena wanita itu begitu pemilih untuk urusan teman-tempat-tidur.

Seperti saat ini, Seul Bi dengan tenang menggapai camcorder yang tergeletak di atas nakas sisi kanan Min Yoon Gi. Melupakan fakta bahwa pria itu masih menyimpan beretta di bawah bantal yang ditidurinya. Iya, Min Yoon Gi masih pulas efek kelelahan dari pertempuran mereka berdua di atas ranjang dan Seul Bi bersyukur mendapati dirinya yang terbangun lebih dulu.

Seul Bi menyamankan sandaran pada dashboard tempat tidur sebelum memulai menggeledah camcorder di tangannya. Ia memutar-mutar alat rekam video tersebut, mencari-cari bagian yang ditempati memory card karena benda kecil pipih itulah tujuan mengapa Seul Bi bisa berani menyentuh barang milik pria di sebelahnya.

Kedua sudut bibir wanita itu berjingkat ringan saat matanya menemukan letak memory card tersebut berada. Ia segera menarik keluar benda hitam pipih itu. Camcorder di tangannya untuk sementara berpindah di atas pangkuan. Kemudian Shin Seul Bi mengambil ponsel miliknya sendiri yang berada di sisi bantal.

Memory card tersebut Seul Bi masukkan ke dalam ponselnya secepat yang ia bisa. Selagi menunggu ponselnya memproses data memory card, jelaganya memperhatikan Min Yoon Gi yang sepertinya belum menunjukkan tanda bahwa ia akan segera terjaga. Atensinya kembali terpusat pada layar ponsel yang menunjukkan pemberitahuan bahwa memory card tersebut telah sukses terbaca.

Jemari lentik Seul Bi segera mengetuk kotak File Manager pada ponselnya, kemudian mengetuk folder Memory Card dan ia sangat terkejut saat ponselnya menunjukkan seluruh isi dari memory card milik camcorder Yoon Gi yang sebagian besar berformat video tersebut.

“For God’s sake! Dia benar-benar psikopat!” Seul Bi memaki ketika matanya membaca jumlah seluruh isi memory card Yoon Gi. Seratus-dua-puluh-delapan-video.

Meskipun Min Yoon Gi sama sekali tidak terusik oleh makian agak keras yang meluncur dari bibir Seul Bi, tetap saja wanita itu harus bergegas menyelesaikan tujuannya. Ia menandai seluruh isi memory card tersebut, lalu segera memilih opsi copy. Jemarinya yang lincah secepat mungkin untuk membuka memory internal pada ponselnya, kemudian mengetuk opsi paste.

Agaknya proses menyalin data membutuhkan waktu sedikit lama dan Seul Bi memanfaatkan waktu tunggu tersebut untuk memakai kembali pakaian serta merapikan penampilannya. Wanita itu harus mengaburkan diri dari Min Yoon Gi setelah tujuannya terpenuhi.

Lima belas menit berlalu dan penampilan Shin Seul Bi telah kembali seperti saat ia mendatangi Min Yoon Gi tadi pagi. Hanya warna gincunya yang berubah menjadi warna orange tidak lagi merah menyala.

Seul Bi langsung memeriksa ponsel, memastikan kalau proses copy paste itu berakhir sukses. Segera ia mengeluarkan memory card tersebut dari ponselnya dan mengembalikan seperti semula pada camcorder Yoon Gi. Oh, jangan tanyakan Min Yoon Gi lagi karena keadaan pria itu masih sama seperti beberapa menit lalu. Masih pulas.

Sebelum benar-benar beranjak pergi, Shin Seul Bi menyempatkan diri terlebih dulu untuk meninggalkan sebuah kalimat ‘Aku harus ke Busan secepatnya. Terima kasih, Min dan jangan lupa gendutkan ATM-ku’ di atas kertas post it, kemudian ia menempelkannya pada bantal yang beberapa menit lalu ia tiduri.

Ponselnya tiba-tiba bergetar dalam genggaman beberapa detik setelah Seul Bi menegakkan kembali tubuh sintal tersebut. Sebuah panggilan dari salah satu nama dalam daftar kontaknya masuk. Ia tersenyum timpang sebelum jemarinya menyentuh bulatan hijau di layar kemudian mendekatkan ponsel pada telinga kanannya.

“Done.”

***

Lamborghini Aventador hitam berhenti pada sebuah bangunan bertuliskan Han’s Pub. Beberapa detik kemudian dua manusia berbeda gender turun, melenggangkan kakinya memasuki pintu. Sebuah penghormatan dari petugas yang berjaga sempat dilayangkan pada keduanya yang hanya ditanggapi dengan anggukan singkat.

Tiba di ujung ruangan, sang wanita mendahului menaiki anak tangga yang dibuat dengan kayu berwarna cokelat itu. Mengabaikan kebisingan yang terjadi di bawah akibat hentakan musik juga dentingan bunyi gelas. Tujuan mereka hanya satu, masuk ke dalam ruangan VVIP sesegera mungkin.

Wanita anggun itu membuka pintu, lalu netra kelamnya menemukan Shin Seul Bi dengan gaun malam warna biru membungkus apik tubuh menariknya. Ia menghela napas sebelum membawa tubuhnya ke dalam ruangan.

“Ah, Nona Muda,” Seul Bi membungkuk hormat. Tiga detik setelah sang nona muda mengangguk ia bisa melihat Kim Nam Joon ikut memasuki ruangan.

“Maaf merepotkanmu lagi, Seul Bi.” Alih-alih melontarkan pertanyaan justru sang nona muda meminta maaf. “Aku ingin data dari camcorder Yoon Gi sekarang.”

Seul Bi mengangguk paham. Ia mengerti wanita di hadapannya tidak suka basa-basi. Entah mengenai hal penting atau tidak penting sekali pun, jika wanita ini sudah meminta, maka tentu saja ia harus mendapatkan hasil. Seul Bi mengangguk, mengambil flashdisk yang sudah ia persiapkan sejak tadi. Mengangsurnya ke tangan sang nona muda yang sepertinya sudah kepalang sabar itu. “Nona Jill tidak perlu khawatir, aku sudah menghapus sidik jariku pada camcorder itu dan tentu saja menggantinya dengan sidik jari Yoon Gi.”

Wanita yang dipanggil Jill mengangguk menang. Ia tahu mengandalkan seorang white hacker seperti Seul Bi untuk urusan ini memang benar-benar tepat. “Nam Joon. Setelah ini aku butuh bantuanmu untuk mengupload video-video ini ke email Yoon Gi segera setelah aku menemuinya.”

Kim Nam Joon yang sedari tadi memilih bungkam kini mengangguk. Setelah menyanggupi perintah sang nona muda, ia tersenyum memberikan kode singkat pada Seul Bi sebelum mengikuti Jill yang sudah terlebih dahulu meninggalkan ruangan.

“Aku tidak mengerti mengapa Nona Jill terlihat sangat setuju dengan ide kekasihnya yang sebenarnya tidak menguntungkan sama sekali itu.”

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s