Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 3

Mafia’s Complex [BTS Version] Chapter 3

image

Title: Mafia’s Complex
Cast: Min Yoon Gi, Jeon Jung Kook, Ryu Ye Rin
Genre: Action, Crime, Thriller, Romance, AU
Author: Dian Hanamizuki feat Nadhea Rain
CR Pict: Nadhea Rain Art
WARNING; SOME MATURE CONTENT. CHILDREN DO NOT ENTER! Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai kenyataan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Chapter 3

~~~

Story begin..

“… tahu… tuan… sabaran.”

“Panggil….”

Pria di depan Macbook berteriak frustrasi. Memukul kasar permukaan meja, sekali lagi memutar ulang tayangan yang tersaji di hadapannya. Namun lagi-lagi sama; video yang sudah ia potong tepat di bagian penting itu benar-benar tak bisa diandalkan.

Suara dua orang yang menjadi pemeran utama dalam video singkat tersebut teredam musik bising di sekitar. Ia memukul meja kuat-kuat. Brengsek! Jika seperti ini bagaimana ia bisa menetralkan rasa penasaran? Pria itu menghempas kepalanya di sandaran kursi.

Mengambil ponsel pintar dari saku celana, ia men-dial salah satu nomor yang sudah sangat ia hafal; Kim Nam Joon, begitulah bunyi hangeul yang tertera di layar ponsel canggihnya. Pria itu mendengus pelan menempelkan ponsel di telinga kiri. “Kau tahu hasil rekaman CCTV itu sama sekali tidak memuaskan. Dan hebatnya, aku benar-benar penasaran siapa pria yang bermalam dengan nona bodoh itu.” Tanpa mengucap salam bibirnya langsung menyuara keluh kesah. Menandakan bahwa dirinya menaruh atensi lebih pada kejadian yang baru saja ia saksikan. Ia bisa mendengar pria di seberang mengambil napas.

“Aku tahu. Kau tak usah khawatir. Baru saja aku mengirimkan hasil editanku di emailmu.”

Tanpa menjawab pria dengan ponsel yang masih menempel di telinga kiri kembali menghadap Macbook. Menegakkan tubuh, jemari kanannya yang bebas menari di atas touch pad juga keyboard, mengetikkan email dan password pada salah satu situs pengelola e-mail terkenal–Google setelah muncul perintah sign in. Menyeringai senang, ia segera mengunduh lampiran email yang dimaksud lawan bicaranya.

“Aku sudah membuang suara bising di sekitar Ye Rin dan pria yang kaumaksud. Dan hasilnya…,” Nam Joon menggantungkan kalimat. Menunggu pria yang masih berkutat dengan Macbook membuktikan hasil video editannya.

Pria itu masih mempertontonkan seringaian. Membuka folder download pada My Document, ia lantas meng-klik dua kali pada video hasil unduhannya.

“Sebelum itu, boleh aku tahu namamu, Tuan Tidak Sabaran?”

“Panggil aku Yoon Gi.”

Dan seringai pria itu kembali melebar. Menyuarakan gelegar tawa remeh memenuhi ruang minimalis yang disebut-sebut sebagai ruang kerjanya. Tak disangka seorang yang selama ini bekerja sama dengannya bukan orang sembarangan. “Kau benar-benar jenius, Kim Nam Joon,” komentarnya mengembalikan Macbook pada tampilan awal. “Lalu apa kau sudah mencari data pria bernama Yoon Gi di kota ini?” bangkit dari kursi kebesaran, korneanya menatap tatanan buku di rak khusus koleksi pria itu.

“Aku menemukan dua puluh tiga orang bernama Yoon Gi dari data pemerintah yang kucuri.”

“Sebanyak itu?” pria dengan kemeja biru tua membelalak tak percaya. “Apa kau tak bisa lebih memersempit wilayah pencarianmu? Akan memakan waktu lama meneliti dua puluh tiga orang dengan nama kecil sama.”

Ia bisa mendengar Nam Joon meneguk sesuatu kemudian membuang napas. “Tidak jika kita memilihnya secara acak. Kau mau aku memulainya dari atas, bawah, atau tengah?”

“Bawah.” Pria itu kembali mendudukkan diri di kursi. Kaki kanan ia lipat di atas kaki kiri. Mengambil cangkir, menyesap kopi hitam yang sudah mulai mendingin. Menunggu Nam Joon menyuarakan data yang ia peroleh.

“Yoo Yoon Gi. Seorang valet di Han Corporation’s Hotel–tunggu sebentar,” Nam Joon menghentikan ucapan. Teringat sebuah hal penting yang harus ia tanyakan sebelum melanjutkan tugas. “… apa kau sudah menghafal wajah pria itu?”

***

Lantai putih berpadu dinding bercorak retro membiaskan kesan klasik kental dalam ruangan ini. Ditambah bau relaksan dari bunga lavenda yang menguar di seluruh penjuru menjadikan dominasi pas sebagai tempat untuk seseorang yang membutuhkan ketenangan jiwa, atau membutuhkan suasana dan waktu berkualitas bersama orang terkasih. Dan Yoon Gi termasuk orang yang beruntung mendapatkan kesempatan menikmati ruangan khusus dari Han’s Hotel tersebut secara cuma-cuma.

Suara berisik dari stereo dengan ringkingan lagu Jenifer Lopez kini tidak lagi mengganggu gendang telinga Yoon Gi, tergantikan oleh suasana yang senyap di dalam ruangan. Benar-benar senyap, bahkan suara tikus yang sedang bergulat di balik langit-langit pun tak dapat tertangkap oleh indera pedengarannya.

Dari sofa panjang tempat ia saat ini duduk bersandar, ujung netranya melirik wanita yang ia bawa serta dari bar. Wanita itu sedang meringkuk di atas tempat tidur dengan dahi mengernyit dan bibir manis yang sedari tadi menggumamkan kata kata aneh. Sebuah seringaian kecil menghias di bibirnya.

Yoon Gi belum berniat menghampiri wanita itu. Ia masih menaruh atensi besar pada camcorder di genggaman tangan kanannya. Membuka layar LCD camcorder, ia lantas menekan tombol power. Dengan sabar Yoon Gi mengikuti langkah-langkah pengaturan yang tertera dalam layar LCD, kemudian ia membuka penutup lensa camcorder tersebut.

Yoon Gi menjunjung camcorder hingga batas mata, mengatur shutter speed serta jarak fokus yang ia tujukan ke arah tempat tidur. Setelah camcorder dirasa cukup pas untuk merekam dengan kualitas gambar yang bagus, Yoon Gi meletakkan teman kesayangannya itu pada sisi tanaman bonsai yang tergeletak di atas nakas dekat sofa panjang.

Pria itu kemudian beranjak dari duduknya, berjalan perlahan mendekati tempat tidur dengan kedua tangan yang masing-masing terbenam ke dalam saku celana. Seringai seduktif segera terpetak di bibirnya.

Ia mengempaskan bobot tubuh di sisi tempat tidur, mengamati lekat lekat setiap inchi wanita bersurai cokelat dari dekat. Wanita itu masih mengenakan coat-nya yang Yoon Gi tahu di baliknya ia pasti mengenakan pakaian-pakaian tak senonoh. Coat biru tua hampir seperti hitam cukup kontras dengan kulit putih cenderung pucat. Yoon Gi perlahan melepaskan coat hitam tersebut. Ia menyeringai ketika hipotesisnya ternyata benar. Wanita itu mengenakan kemeja dalam polos berwarna cream yang dipadu hotpants dengan warna senada. Yoon Gi kemudian melepaskan satu per satu stiletto yang terpasang di kaki wanita itu.

Wanita itu membuka mata. “Apa yang kaulakukan?” tanyanya dengan suara cukup serak.

Yoon Gi mendongak. Menatap wanita itu dengan alis terjinjing naik. “Menurutmu apa yang akan kita lakukan jika sudah berada dalam satu kamar hotel?” Alih-alih menjawab justru ia berbalik melayangkan tanya.

Dengan perlahan wanita itu beranjak sembari memegangi kepalanya yang berputar, bersandar di headboard ranjang. Yoon Gi masih di sana, melihat setiap pergerakan wanita cantik yang membuat sesuatu dalam dirinya bergetar.

Wanita yang terlihat sejuta kali lebih memesona malam ini. Berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia nikmati sebelumnya.

Yoon Gi dapat melihat jelas raut sayu yang tergambar serta rambut berantakan miliknya. Tangan wanita beriris cokelat terjulur meminta Yoon Gi mendekat. Aroma manis segera melingkupi penciuman pria itu–membuatnya terbakar. Mereka sama-sama terdiam, sebelum kemudian gerakan perlahan dari wanita cantik itu semakin membuatnya menempel pada tubuh Yoon Gi.

Dan seakan mendapatkan umpan, Yoon Gi kembali menyeringai menatap mangsa yang menyerahkan diri penuh sukarela padanya. Setidaknya Yoon Gi tidak perlu memikirkan bagaimana cara mengajak wanita ini menjalin hubungan, menculik maupun memerkosanya; ia hanya perlu mengikuti naluri lelaki dan hatinya.

Tanpa tadang aling-aling Yoon Gi segera menyambar bibir kecil yang memerah. Awalnya Yoon Gi memberi kecupan ringan yang kemudian berubah menjadi kecupan-kecupan di seluruh wajah pualam wanita dalam rengkuhan. Wanita itu sama sekali tak menolak; terlihat pasrah. Tubuhnya memang menginginkan hal itu, bahkan alam sadarnya tengah porak poranda.

Saat Yoon Gi membenamkan bibir untuk memagut dan melumat, wanita itu membalas dengan sama banyak. Logika mereka terlempar entah ke mana, yang ada di antara mereka berdua hanyalah desakan untuk saling memiliki. Setidaknya untuk malam ini.

***

Dua Macbook putih di atas meja masing-masing masih menyala. Satu memperlihatkan website pemerintah dengan sejumlah data penduduk yang sudah melalui tahap sortir, satu lainnya menampilkan pria berjaket hitam tengah menyangga dagu pada salah satu penyedia layanan video call ternama–Skype.

Sudah kiranya seperempat jam Nam Joon menyebutkan satu per satu data yang ia comot asal, namun sampai saat ini belum menemukan hasil. Yoon Gi. Nama pria yang bersama Ye Rkn malam ini belum juga berhasil mereka–atau setidaknya ia–identifikasi. Dan tentunya pria di ujung lain Skype sudah menggerutu tak sabar sejak tadi.

Pukul dua belas lebih dua puluh tiga menit dan Nam Joon masih tak menghentikan tarian jemarinya.

“Min Yoon Gi?” gumamnya pelan tertelan air conditioner ruangan kerja. Jemari itu kembali menari lincah mentransfer sejumlah data, menunggu pria di ujung Skype bereaksi atas foto yang baru saja ia tampilkan. Meregangkan otot-otot kepala, Nam Joon kembali menyeruput kopi gelas keempatnya.

“Tidak salah lagi!” suara pria itu menggema dari speaker Macbook. “Ini dia yang kita cari Nam Joon. Bacakan keterangan mengenai Min Yoon Gi.”

Nam Joon bersumpah bahwa suara pria itu terdengar jauh lebih dingin dibanding biasanya. Ia mengangguk singkat, menyentuh satu kali pada tulisan yang tercetak biru–hangeul nama Min Yoon Gi. Matanya membelalak untuk beberapa saat.

“Dia…,” sekali lagi Nam Joon bersuara lirih. Mengambil napas dalam satu tarikan, ia segera membacakan informasi penting yang tertera pada layar Macbook. “Min Yoon Gi, 9 Maret 1993, Presiden Direktur YG Corporation yang juga merupakan rival Han Corporation, memiliki sejumlah saham di Hyundai.inc dan kabar menariknya dia juga mempunyai mafia dagang.”

“Wow!” satu kata terlontar dari bibir pria itu. Selanjutnya Nam Joon bisa mendengar tepuk tangan menggema. Seringai tipis tercetak di bibir Nam Joon. Ia menyisir rambut pelan.

“Apa lagi yang kauketahui tentang pria itu?” setelah menghentikan aksi tepuk tangannya, si pria di ujung Skype kembali berseloroh.

Nam Joon menekan tombol enter, menunggu data-data yang sudah ia kumpulkan ter-print out rapi pada lembar dokumen. “Dari informasi yang kuperoleh pria ini memiliki banyak kasus dengan wanita. Bergonta-ganti pasangan ranjang setiap hari bukan sebuah rahasia umum. Lebih buruk dari itu, ia tak pernah menggunakan wanita yang sama untuk dua kali–ia bahkan tak segan meninggalkan wanita-wanitanya sepagi mungkin dan tak pernah menghubungi mereka lagi. Yang paling mengesankan, ia memiliki koleksi video panasnya sendiri.”

Nam Joon melirik pria itu yang nampak terkejut dari seberang sambungan Skype. Berdehem pelan, kembali ia menyeruput cangkir kopi.

“Benar-benar menarik.” Sekali lagi tepuk tangan menggema dari speaker Macbook. Tidak lupa seringai tajam juga terpampang jelas di sana. Membuat Nam Joon mau tak mau ikut menyeringai. “Tak kusangka ada satu lagi kelinci yang bahkan bersedia melemparkan dirinya sendiri sebagai umpan. Bukankah permainan ini akan terasa lebih menarik?”

Nam Joon mengangguk. Jemarinya kembali menari pada Macbook yang ia gunakan mengumpulkan data-data Yoon Gi tadi, mengecek satu notifikasi email baru yang muncul beberapa saat lalu. “Meski sekarang kau dilindungi penuh olehku dan Han Corporation, kau tetap harus waspada. Min Yoon Gi bukanlah lawan yang sembarangan.”

“Aku sudah paham.” Setelah kata-kata terakhir yang pria itu layangkan, jaringan Skype terputus dengan sendirinya

… pria itu telah mematikannya terlebih dahulu. Nam Joon hanya menggeleng pelan. Kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda dengan seringai bangga.

“Kita bertemu lagi, Min Yoon Gi.”

###

Cahaya dari bundar kuning di cakrawala merembas menusuk-nusuk wajah seorang wanita yang masih bergelung di balik selimut. Merecoki mimpi indah sang wanita dan mengusiknya agar dua iris caramel tersebut terbuka lebar. Wanita itu sedikit melenguh ketika desau bayu menampar kulit telanjangnya dengan cara kurang ajar.

“Ternyata kau tersadar lebih cepat dari dugaanku.” Sebuah suara berat mengejutkannya. Jantung wanita itu seketika bergolak ketika suara asing menyentuh kokleanya. Meski kesadarannya belum mencapai angka seratus, tapi telinganya selalu memasang profil siaga.

Impulsnya seketika bekerja keras mengenali suara berat sekaligus memaki siapa gerangan yang dengan lancang berada di kamarnya sepagi ini. Sepuluh detik berlalu, merasa otaknya belum bisa diajak bekerja sama untuk mengungkap si pemilik suara berat, akhirnya dengan terpaksa ia membuka lebar kedua mata.

Tepat tiga meter di depannya, ia menemukan sosok pria yang bercermin di meja rias, tengah merapikan letak dasi lalu menggulung sedikit ujung lengan kemeja biru tua milik pria itu. Garis halus segera terpetak di dahi sang wanita, mencoba mengenali sosok lain yang berada satu ruangan dengannya.

“Siapa kau?” ia mencoba bersuara, meskipun esophagusnya masih terasa tandus belum terjamah setetes air pun. “Di mana aku?”

Pria itu memutar tubuh, sedikit menyeringai mengayunkan langkah mendekati wanita yang masih berada di peraduan. Derit tempat tidur perlahan menggema kala ia mengempaskan bobot tubuhnya di sisi tempat tidur. Pria itu mengeringai semakin lebar. “Apa kau mengalami amnesia?”

“Amnesia?” sang wanita mengulangi perkataan pria di hadapan. Dahinya mengerut mencoba mengurai hipotesis-hipotesis terkait keberadaannya di tempat asing ini.

“Kuharap setelah ini kau tidak menuntut apa pun dariku. Kita melakukannya karena suka sama suka, bukan? Camkan itu,” jari telunjuknya terjulur, mengguit dagu sang wanita, hanya sekadar terlihat menggoda saja. Tetapi dengan gerakan cepat pergelangan tangannya di cengkram erat oleh sang wanita, sembari merapal kalimat tuntutan penjelasan peristiwa hingga mereka terdampar di ruangan ini.

“Cepat katakan, siapa kau? Di mana aku? Apa yang telah kaulakukan padaku?” Sang pria tak lantas menjawab. Hanya seringaian memuakkan saja yang dipamerkan. Satu tangannya yang bebas ia gunakan menaikkan letak selimut yang melekat di tubuh wanita itu hingga batas bahu–sok berbuat baik.

Iris caramel wanita itu seketika melebar saat menyadari fakta bahwa seluruh pakaiannya tanggal di lantai dan kini sedang diinjak oleh pria itu. Napasnya semakin memburu dan cengkraman di tangan pria itu semakin ia eratkan. Binar di kedua netranya menunjukkan kalau ia benar-benar marah.

“APA YANG KAULAKUKAN PADAKU, BRENGSEK?” ia berteriak. Kesabarannya habis tergerus tatapan memuakkan dari pria di hadapannya.

Pria itu terkekeh sesaat sebelum irisnya membalas tatap tajam dengan sepasang obsidian di depannya. “Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kita melakukan semua ini karena suka sama suka.” Nada bicaranya terdengar santai, berbanding terbalik dengan sosok lawan jenis di hadapannya.

“Dan satu lagi, cepat ucapkan nominal yang kauinginkan,” lanjutnya.

Cengkraman di pergelangan tangannya mendadak terlepas, digantikan dengan dasinya yang kini ditarik paksa, membuatnya merasa tercekik sekaligus hampir terhipnotis oleh feromon sang wanita yang kembali mengoyak indera penciumannya. “Dengarkan aku baik-baik, Tuan. Nominal yang kau miliki sekarang tidak sebanding dengan nominal yang kupunya. Bersiaplah mendapat ganjaran setimpal dengan apa yang kaulakukan padaku!”

Ia hanya memperlebar area seringaiannya mendengar ancaman dari wanita itu. Melepas paksa dasi yang diremas wanita itu lalu menegakkan posisi tubuhnya. Ia berdiri, namun sebelum melenggang pergi ia menyempatkan untuk membalas ancaman dari wanita itu. “Aku terima ancamanmu, nona Ryu Ye Rin.”

***

Sorot lampu Lamborghini Aventador hitam berpendar hebat beberapa saat sebelum menghilang tak berbekas. Disusul deru mesin yang juga terdengar samar kemudian hilang terbawa dinginnya udara. Di ujung jalan dekat dermaga kecil mobil sport itu terparkir rapi.

Semilir angin menerpa surai hitam gadis yang baru saja membuka pintu mobil. Menyeka rambut ke belakang telinga, gadis cantik itu melenggang–menapak langkah menjajaki jalan kecil ditemani bunyi gulungan ombak. Malam tenang, bahkan jika kau tak benar-benar memperhatikan, kau hanya akan melihat gadis itu sendirian–tanpa ada manusia lain di sana.

Di ujung lampu jalan nomor tiga terhitung dari tempat parkir gadis itu, seorang dengan jaket hitam menumpu pandangan pada laut gelap. Mengisi indera pendengarannya hanya dengan suara hewan malam, ombak, serta tapak-tapak high heels yang mulai jelas mendekat. Ia menoleh, membungkuk singkat setelah gadis surai hitam tertangkap retina.

“Sebuah kehormatan mendapat kunjungan nona muda kembali,” pria itu berbasa-basi. Tangannya kembali bergerak menyentuh pagar pembatas jalan, disusul gadis cantik di belakangnya yang juga melakukan kegiatan sama. Pria itu menghela napas.

“Katakan padaku apa yang kekasihku perintahkan padamu, Kim Nam Joon.”

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s