Breathe [BTS Version] Chapter 8

Breathe [BTS Version] Chapter 8

image

Tubuh jangkung itu ambruk. Bersimbah darah akibat luka tembak yang beberapa detik lalu baru saja bersarang. Dua manik hitam memejam, sudah tidak sanggup melawan nyeri yang menjalar. Lalu, waktu seakan berhenti saat itu juga.

Wanita yang berada di ruangan sama menjatuhkan pistol. Tangannya bergetar hebat. Kilasan demi kilasan masa lalu memenuh sesaki otak. Serempak meminta diingat saat itu juga. Kerongkongannya tercekat. Ingin berteriak namun justru yang keluar hanya air mata dan ketakutan.

Ia takut.

Bagaimana… bagaimana jika Jung Kook benar-benar telah pergi? Bagaimana ia akan menjalani kehidupan jika pria itu benar-benar tiada?

Wanita itu ikut ambruk, menjadikan lutut sebagai tumpuan tubuh. Gemetar di tangan belum juga hilang. Perpotongan memori kelam belum jua surut. Ia berteriak kuat-kuat.

Dengan sisa kekuatan si wanita merogoh saku, mengambil ponsel lalu menekan angka satu.

“Tae Hyung….”

.
.
.
.

Title: Breathe
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young, Han Sa Na
Genre: Marriage Life, Kerasan, Angst, Romance, AU
Cover by: Aira Angelina Alfrida
WARNING; Mengandung kekerasan dan bumbu ‘Marriage Life’ lain. Jika tidak kuat silakan klik tombol BACK, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 8

~~~

Story begin..

“Bagaimana?” Ye Rin duduk di kursi dekat bangsal Na Young. Memerhatikan sahabat karibnya yang tengah melakukan check up terakhir.

Na Young menggeleng, membiarkan perawat melepas infus yang menancap di tangan kanannya. Hari ini ia sudah boleh keluar dari rumah sakit. Seharusnya wanita hamil ini merasa senang karena bisa terbebas dari kesepian yang menyergap, namun yang terjadi justru sebaliknya.

Jung Kook tidak menjawab panggilan. Terhitung sudah sepuluh kali ia menelepon namun tiada pernah jawab ia dapat. Padahal tadi malam pria itu berjanji untuk kembali menemuinya. Padahal tadi malam Na Young mampu menangkap kesungguhan di mata hitam yang selalu ia puja.

Ia mendesah, menggumam terima kasih seraya tersenyum kecil pada perawat. “Dia tidak menjawab teleponku,” ujarnya setelah memastikan perawat benar-benar keluar ruangan.

Tak jauh berbeda, Ye Rin pun mengembuskan napas kasar. “Aku tidak mengerti. Bukankah dia seharusnya senang mendengar kau bisa sembuh secepat ini?” gadis bersurai hitam menyambar tas. “Kita pulang. Aku akan mengantarmu.”

***

Tubuh Han Sa Na masih bergetar di pelukan Tae Hyung. Rambut yang biasanya tertata rapi kini berantakan; kusut bekas tarikan tangan yang dilakukan berulang-ulang. Tangis masih berderai, menganak-pinak memenuhi pipi-pipinya. Ia hancur. Ia sudah hancur sekarang.

Semua terjadi begitu cepat. Kesenangan karena mampu menembak Jung Kook berubah jadi ketakutan tak berujung. Rasionalitas yang awalnya menguap mulai kembali terpupuk sedikit demi sedikit. Hingga ia mampu memutuskan menelepon Tae Hyung meminta bantuan.

Sa Na kembali menyeruak tangis, merengkuh erat Tae Hyung tanpa segan. Operasi berjalan lancar namun kondisi Jung Kook belum bisa dikatakan baik-baik saja. Pria itu kehilangan banyak darah dan rasa bersalah yang bersarang di dadanya timbul semakin banyak.

Ia tidak pernah berpikir sikap nekatnya akan berbuah demikian. Ia tidak pernah berpikir semua jadi lebih kacau sekarang. Yang ia pikirkan hanya sakit hati, patah hati karena diceraikan. Yang ia tahu hanya sebuah penyelesaian sepelik apa pun caranya.

Sa Na mengambil napas dalam, berharap bisa sedikit lebih tenang. Namun apa yang ia lakukan sama saja. Frustrasi yang terasa justru makin meningkat, mencekik leher hingga tercekat. Ini bahkan jauh lebih parah dibanding kecelakaan beberapa tahun silam.

Takut. Han Sa Na benar-benar takut jika semua yang ia lakukan dapat dicium aparat kepolisian. Takut jika pistol yang tertinggal di tempat kejadian berhasil diidentifikasi di mana banyak tercecar sidik jarinya. Takut jika Jung Kook siuman dan menuntutnya seperti apa yang ia lakukan dulu.

Segenap ketakutan yang muncul di otak refleks membuat Sa Na berteriak kuat. Perawat, dokter maupun orang biasa yang tidak sengaja lewat di koridor itu menoleh, mencari sumber teriakan frustrasi yang terdengar barusan. Tae Hyung mendesah lelah, kembali mengusap punggung wanita dalam kungkungan sayang.

“Kau harus menenangkan diri, Sa Na. Pulang ke rumahku?” Tae Hyung melepas rengkuhan, mengamati jejak air mata juga pias wajah Sa Na yang kian meredup. Tanpa persetujuan si empunya, ia sudah lebih dahulu membopong tubuh ringkih itu. Membiarkan tangan Sa Na melingkari lehernya.

###

Pagar bercat broken white itu sekali lagi masih nampak sama. Dibumbui noktah-noktah cahaya, hal itu justru membuatnya jauh lebih terang–dan menarik–bagi siapa saja yang memandang. Jeon Na Young melepas sabuk pengaman, mengamati rumah di sampingnya seksama sebelum akhirnya membuka pintu mobil.

Dalam kebisuan, sesekali bibirnya melantunkan doa. Entah dari mana setelah kakinya memijak aspal degup jantungnya tak jua berhenti berdesir hebat. Seluruh konklusi yang tercipta di otaknya satu per satu berputar, seketika membuat bibirnya melengkungkan senyuman miris. Sekali lagi ia menghela napas. Berharap pemikiran negatifnya sama sekali tidak terjadi.

Ye Rin yang mengekor di belakangnya memilih diam. Membawa tas berisi pakaian ganti, ia melenggang tepat di samping kanan Na Young. Gadis ini tahu benar jika Na Young memiliki trauma tersendiri memasuki rumah. Takut jika saja sahabatnya menemukan Jung Kook tengah bercinta dengan Sa Na, pun pula takut jika Sa Na akan menyakitinya lagi.

Sepuluh menit berlalu dan dua sahabat itu baru mencapai beranda rumah. Sungguh, jika Ye Rin bukanlah seorang penyabar tentu ia sudah mendorong kuat Na Young agar ia bisa segera pulang. Ye Rin menghela napas memerhatikan Na Young mencari-cari kunci cadangan di bawah pot bunga.

Kegugupan Na Young makin menjadi manakala kunci sudah berada dalam genggaman. Ia tidak mengerti bagian mana yang mampu membuatnya gugup, namun otaknya tak jua berhenti memproduksi hal-hal negatif. Mencoba sedikit tidak peduli, wanita hamil itu memasukkan kunci, memutar lalu membuka gagang pintu. Sunyi adalah satu hal yang sedari tadi terus dicari otaknya. Benar. Biasanya ada jam-jam tertentu di mana Sa Na meluangkan waktu pulang dari toko bunga untuk sekadar ‘bermain’ dengan Jung Kook. Lalu… mengapa sekarang kondisi rumah justru kosong seperti ini?

Netra cokelatnya menumbuk tubuh sahabat sejak memakai popok yang berdiri mematung tak jauh darinya. Ia tersenyum, berusaha meyakinkan Ye Rin bahwa tidak terjadi apa-apa. Kaki-kakinya melangkah, memijak marmer-marmer cokelat muda perlahan.

Lalu, seakan meminta paksa oksigen tercabut dari dirinya, Na Young melihat ceceran darah tercetak jelas di lantai. Bermuara pada satu titik di mana cairan merah anyir membentuk sebuah kubangan kecil. Pandangan wanita itu mengedar, menemukan sebuah revolver berjarak lima puluh meter dari genangan darah. Tubuhnya ambruk. Keringat dingin juga pemikiran pelik menguasai otaknya saat ini.

###

Kim Tae Hyung tidak habis pikir dengan rentetan kejadian yang menimpanya pagi ini. Mulai dari telepon tak terduga dari Sa Na hingga berujung menginapnya wanita cantik itu di kamar apartmentnya dengan kondisi mengenaskan. Sudah sejak dua jam lalu ia membawa serta wanita itu namun kondisinya masih sama; menangis menelungkupkan kepala di atas dua lutut yang tertekuk. Pria itu mendesah lelah.

Makanan yang sedari tadi ia sodorkan belum juga disentuh, bahkan sup yang tadinya mengepul kini sudah mendingin. Ia tahu jika sudah seperti ini, Sa Na akan sulit dibujuk melakukan hal apa pun. Termasuk urusan mengisi perut atau hal sesederhana mengganti pakaian.

Ia mengenal Sa Na lebih dari mengenali kakaknya sendiri. Sejak kecil mereka memiliki waktu temu tersendiri layaknya sahabat-sahabat lain. Tae Hyung kecil sangat memanjakan Sa Na, apa pun yang ia inginkan sebisa mungkin Tae Hyung mewujudkannya. Hingga pernah suatu ketika mereka terjebak hujan karena keasyikan bermain, Tae Hyung kecil memeluk tubuh ringkih Sa Na yang ketakutan dengan bunyi petir.

Tae Hyung tahu menginjak remaja ada yang salah dengan cara pandangnya terhadap Sa Na. Menurutnya, gadis kecil yang selalu butuh perlindungannya tumbuh menjadi sosok yang sangat menawan. Cantik dengan rambut hitam sebahu membingkai wajahnya. Tidak sampai di situ, Tae Hyung bahkan kerap salah tingkah jika sedang bersama Sa Na. Hal itulah yang mampu membuatnya menarik kesimpulan bahwa ia tengah jatuh cinta.

Semua terjadi begitu cepat namun Tae Hyung tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Ia memendam rapat dan akan menanggapi keluh kesah Sa Na mengenai pria yang tengah menjalin kasih dengannya. Hingga suatu ketika ia menemukan Sa Na mengguyur tubuh berbalut seragam sekolah menengah atasnya di bawah shower. Isakan yang tercipta dari bibir Sa Na begitu pilu, meski tidak tahu alasan gadis itu menangis, Tae Hyung tetap merengkuh tubuh penuh sang gadis tulus.

Dua hari setelah insiden itu berlangsung, Tae Hyung baru mengetahui fakta bahwa kekasih baru Sa Na terbunuh dan gadis itu juga hampir diperkosa jika saja ia tidak melarikan diri. Dan sejak saat itu pula Tae Hyung bersumpah tidak akan meninggalkan Sa Na dalam keadaan apa pun.

Lulus dari universitas, Tae Hyung diterima bekerja di salah satu sekolah academy Seoul yang mengharuskan dirinya pindah dari Busan. Dua tahun kemudian, pria tampan itu harus menelan pil pahit manakala Sa Na mengantarkan undangan pernikahan bersama sang calon suami. Harapannya untuk mempersunting Sa Na setelah sukses pupus. Lagi-lagi ia harus menerima takdir yang tergaris.

Satu tahun mencoba melupakan wanita itu dan kenangan mereka, Tae Hyung kembali dikejutkan dengan kabar Nam Joon meninggal dalam kecelakaan. Saat itu juga ia pergi ke Ilsan dan menemukan Sa Na dengan kondisi jauh lebih mengenaskan. Wanita bermarga Han selalu menyebut dirinya pembunuh, bahkan tidak segan-segan mengusir paksa Tae Hyung.

Dan setelah hari itu Tae Hyung tidak pernah bertemu sang wanita. Hanya komunikasi singkat bahkan itu pun bisa dikategorikan jarang. Hingga pagi ini tiba-tiba saja Sa Na kembali meneleponnya.

Tae Hyung baru mengetahui fakta bahwa wanita jahat yang disebut-sebut Ye Rin adalah orang yang sangat ia kenal. Orang yang sangat ia rindukan. Orang yang sama yang masih menempati peringkat pertama di hatinya.

“Makanlah. Kau tidak boleh menyiksa dirimu seperti ini,” Tae Hyung sekali lagi membujuk Sa Na yang masih bertahan pada posisi sama.

Dan seperti apa yang sudah Tae Hyung perkirakan, wanita itu tidak menjawab maupun merespon tindakannya. Ia mendekat, mengambil duduk di sebelah Sa Na lalu dengan lancang mengangkat wajah penuh derai air mata itu. Tanpa aba-aba Tae Hyung memangkas jarak, mengecup bibir merah itu lembut. Membiarkan rasionalitasnya pergi hanya untuk saat ini.

***

“Jangan memaksakan diri berpikir terlalu keras. Kau baru sembuh.” Na Young hanya mengangguk mendengar nasehat Yoon Gi. Ia mempererat genggaman pada tangan sang suami yang masih tidak sadarkan diri. Menangis dalam hati mencoba tidak mengutuk orang yang membuat Jung Kook berbaring tak berdaya.

Ponsel Na Young berbunyi nyaring tepat ketika ia menangisi bercak-bercak darah satu jam lalu. Ia tidak mengerti mengapa dari sekian banyak orang harus Tae Hyung yang menelepon. Memutuskan untuk tidak berpikiran lebih jauh, wanita hamil itu segera menggeser tanda hijau.

“Aku minta maaf. Aku tidak bisa mencegah semuanya.” Ia bisa mendengar Tae Hyung mengatur napas. “Suamimu ada di Asan Medical Centre sekarang. Dia… terkena tembakan. Aku minta maaf.”

Dan isakan Na Young makin menjadi. Pantas saja sesuatu dalam dirinya mengatakan ada yang salah. Pantas saja sejak kemarin pria itu meminta ijin ia memiliki firasat buruk. Na Young tidak menjawab, membiarkan Tae Hyung mendengar isakan pilu yang ia keluarkan.

“Tolong jangan lapor polisi. Kumohon. Tolong jangan hukum Sa Na.” Tangis Na Young semakin pecah. Ia berteriak kencang tidak peduli Ye Rin yang semenjak tadi mencoba menenangkannya.

Tangan Ye Rin terulur menggapai ponsel pintar yang masih menyala. Menanyakan pada Tae Hyung di mana kamar tempat Jung Kook dirawat inap.

Air bening kembali tergelincir dari sudut mata Na Young. Meski belum mengerti teka-teki seperti apa yang disimpan sang suami, ia merasa perlu memaafkan Jung Kook. Merasa perlu memaafkan Sa Na setelah apa yang telah terjadi.

“Pulanglah. Aku akan menjaganya di sini,” Na Young menoleh menerbitkan senyum simpul. Serta merta membuat Ye Rin dan Yoon Gi saling beradu pandang. “Aku baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja.”

###

Entah sudah berapa jam Na Young terjaga. Tangannya pun masih setia menggenggam tangan berinfus Jung Kook. Meski ia pergi sebentar mencari makan, namun setelahnya ia tetap kembali pada posisi semula. Seolah tidak rela suaminya melihat wajah lain selain dirinya jika tersadar nanti.

Ia tahu matahari sudah memulai kembali tugas. Ia tahu sudah menemui perawat yang memeriksa keadaan Jung Kook. Ia tahu, namun sedetik pun indera pengelihatannya enggan terpejam. Na Young kembali mengusap tangan Jung Kook sayang.

“Bangun, Anata. Kau akan terlambat ke lab,” gumam Na Young disertai leleh tangis. Bibir kecilnya menciumi tangan besar sang suami. Persis seperti apa yang biasa ia lakukan setiap pagi sebelum Sa Na datang.

Ia merasakan gerakan tangan samar membelai rambutnya. Perlahan tapi pasti belaian yang awalnya tersendat-sendat kini mulai terasa beritme. Na Young mendongak, berusaha mencari tahu siapa yang tengah memainkan surai hitamnya. Namun gerakannya terhenti manakala iris hitam yang ia puja telah membuka. Juga sebelah tangan yang masih setia memberikan sentuhan pada rambut berkilau miliknya.

“A… anata.”

To Be Continued..

A/N: Halo >

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

4 thoughts on “Breathe [BTS Version] Chapter 8

  1. Siapa itu anata? Jungkook kah?
    Udah sana sama taehyung aja gak usah ganggu rumah tangga orang lagi, masih untung kan gak di laporin ke polisi #kebawa emosi wkwk 😹
    Ditunggu kelanjutannya, fighting!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s