Under These Skies Chapter 4

Under These Skies Chapter 4

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadse Hwang
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 4

~~~

Story begin..

Min Yoon Gi POV

Minggu

Suhu tubuhku naik atau mungkin kamarku yang terlalu panas, aku tidak tahu. Rasanya seperti terjebak dalam hal yang tidak kausuka selama bertahun-tahun. Dan ketika aku memaksa bangkit dari kekasihku–ranjang–kepalaku berteriak secara tidak langsung. Denyut nyerinya bahkan merasuki semua sel tubuh. Mengerang, aku kembali menjatuhkan tubuh. Brengsek.

Kombinasi antara lembur satu minggu penuh dengan pasien membludak, ditambah–seharusnya–libur dua hari berujung kerja bakti dadakan, dan guyuran hujan serta baju basah selama satu jam bukan komposisi yang baik. Otot-ototku mati rasa; aku tidak mengerti mengapa tubuhku jadi selemah ini.

Pintuku diketuk kuat-kuat, aku hanya mengerang, berharap siapa pun yang ada di balik kayu cokelat itu mengerti keadaanku sekarang. Dan bukannya membuka, ketukan itu berakhir pada kali ke tujuh. Aku kembali mengumpat.

***

Ada yang menemukanku merintih serta mengumpat empat jam lalu. Dan Sang Hyun benar-benar khawatir; ia bahkan tidak mau turun dari ranjangku sejak pukul delapan malam. Sesuatu yang tabu untuk seorang putra dari Min Yoon Gi yang terkenal dingin pada semua orang.

Aku mendesah.

Tissu berserakan di lantai, nakas, di mana saja. Selimut dan linen belum juga diganti. Tubuhku berkeringat namun aku belum merasakan tanda-tanda akan membaik. Ini konyol. Aku sudah meminta Tuan Goo menebus resep obat yang kubuat–aku menolak diperiksa dokter lain–dan sudah meminumnya sesuai aturan. Aku tidak mengerti. Aku hanya terkena flu biasa. Aku hanya terkena flu biasa. Brengsek.

“Ayah, mana seratus wonku?” Sang Hyun mendengar umpatanku barusan. Pria kecil itu meneleng ke kiri, merangkak naik ke tubuhku, menarik-narik dompet yang menyembul dari saku kemeja. Setelah berhasil mengambil seratus won, ia memberikan kembali dompet padaku. “Berhentilah mengumpat, Ayah. Aku bisa membeli pesawat terbang sungguhan dengan uang denda itu.”

Ada peraturan khusus yang diterapkan dalam keluargaku tentang larangan mengumpat di hadapan anak kecil. Jadi siapa saja yang terang-terangan mengumpat di depan Sang Hyun, bersiap-siaplah kehilangan seratus won dari dompetmu. Ini terdengar konyol namun efektif mencegah seseorang meracuni otak polosnya dengan hal-hal kotor.

Aku mengusap rambut hitam Sang Hyun. Kekehannya terdengar seperti melodi indah pembakar semangat. Kepalaku mengangguk-angguk kecil mengikrar janji. Ya. Meski aku tidak sepenuhnya berjanji berhenti mengumpat.

“Tidurlah, Sang Hyun. Ini sudah larut malam,” tukasku mengganti kompres, berharap Sang Hyun segera terlelap saat aku kembali berbalik ke arahnya. Namun ia adalah putra Min Yoon Gi yang keras kepala seperti ayahnya. Mata sipitnya menggeleng tegas, ia melingkarkan tangan di sekeliling pinggangku.

“Sung Jin berkata ia selalu didekap ibunya jika demam dan itu berhasil membuat demamnya turun esok hari. Bisakah aku mencobanya pada ayah?”

Dan senyuman terbit begitu saja di wajahku.

Senin

“Anda harus bekerja lebih keras hari ini, Dokter Min,” perawat paruh baya di lantai tempatku bekerja menyapa. Tangannya mengepal kuat meninju udara. Aku mengangguk, melanjutkan langkah menuju ruang kerja pribadiku.

Aku sudah lebih baik. Maksudku, tubuhku sudah membaik. Aku juga mengantarkan Sang Hyun pagi ini dan tentu saja bertemu Sung Jin. Tapi ia tidak bersama kakaknya. Tidak. Aku tidak mencari gadis galak itu. Hanya saja rasanya sedikit janggal.

Pria kisaran usia sama dengan ayahkulah yang mengantarkan Sung Jin. Beliau juga sempat menatapku. Dan aku membungkuk sopan memberi peringatan. Dan beliau memakai Bentley, bukan truk besar yang selalu menuai protes tukang sampah.

Berbelok kiri di ujung lorong, pasien-pasien kecilku sudah mengantri bersama pendamping mereka masing-masing. Dan aku baru tahu mengapa perawat yang kujumpai tadi memberikan kepalan tangan. Rupanya hariku benar-benar sedikit lebih berat.

###

Hari ini adalah hari senin minggu ketiga di bulan juni. Aku menghela napas memerhatikan dekorasi berlebih di rumah kaca. Perayaan ulang tahun pernikahan ayah dan ibu. Dengan semua hal aneh yang orang katakan sebagai aksen romantis menempel di tiap-tiap sudut. Aku tidak mengerti mengapa buncahan sesak naik hingga tenggorokan.

Ibuku ada di sana. Mengatur setiap detail hiasan yang harus terpasang di dinding ini dan di dinding itu. Lalu tiba-tiba saja sosoknya muncul. Berdiri di antara maid, memegang balon berbentuk hati yang sudah ditiup sebelumnya. Rambut cokelat berkilaunya terombang-ambing manakala ia membantu salah satu maid memasang pita. Senyumannya begitu cerah. Terlalu cerah.

Ia menyadari keberadaanku. Kakinya ringan melangkah, menghadiahi sebuah kecupan manis di pipi kananku. Aku mengerang marah. Ia tidak seharusnya di sini. Vivian seharusnya tidak di tempat ini.

“Kau baik-baik saja, Nak?” tangan ibu menyentuh pundakku. Aku mendengus kasar. Kemarahanku semakin menjadi kala salah seorang maid menjajarkan kotak berisi makanan cepat saji tepat di hadapanku. Dan aku membentak ibu. Dan aku meluapkan kemarahanku pada ibu.

Jari telunjukku mengarah tepat ke pintu ruangan. Aku masih terus mengoceh; aku tidak bisa menghentikan diriku saat ini. Seseorang berdeham keras dan ketika aku berbalik, aku mampu mengingat ekspresi itu dalam-dalam. Tepat di arah yang kutunjuk, kakak Sung Jin berdiri dengan ekspresi terluka. Gadis cerewet itu terluka. Sial.

Selasa

Aku sedang berada di ruang dikte kala ponselku meraung kencang meminta perhatian. Aku membiarkannya; membiarkan nada dering ponselku berhenti lalu memekak kembali beberapa detik kemudian. Konsentrasiku pecah. Sial. Aku menyudahi panggilan pager setelah menyelesaikan catatan. Memelotot garang ponselku yang tidak juga berhenti mengerang sejak tadi.

Desah napasku terdengar berat menatap nomor kontak yang tertera pada layar. “Aku sedang bekerja, Vivian. Jangan mengganggu.”

“Tidak. Maksudku, maaf. Aku hanya ingin memberitahu jika Sang Hyun akan bersamaku hari ini. Aku akan menjemputnya.”

Jemariku mengepal kuat. Dan gigiku bergemelatuk menahan amarah. Aku mengusap wajah. Mendesah lelah, memejam kedua netra.

“Aku ibunya, Yoon. Aku tidak mungkin menculik putraku sendiri.”

Bayangan itu kembali muncul. Memutar acak di otak tanpa bisa kucegah. Senyuman manis, tawa renyah, semuanya. Kepalaku berdenyut menyakitkan. Terdengar isakan dari ujung telepon dan dadaku ingin meledak saat itu juga. Aku mengiyakan permintaannya.

***

“Sang Hyun bersama ibunya, Nak.” Ibu menyambut kedatanganku dengan senyum cerah. Beliau meraih tas yang kujinjing, memintaku melepas jas dan menaruhnya di sofa. “Dia hanya meminta waktu satu hari setiap bulan. Sementara kau, kau punya dua puluh sembilan hari utuh bersama Sang Hyun. Tidak perlu secemas itu, Nak.”

Ibuku tersenyum. Dan aku ikut mencoba namun yang bisa kulakukan hanya memasang lengkung aneh. Ibu tidak mengerti. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan hak atas Sang Hyun.

Ini tentang… kesiapanku bertemu kembali dengannya.

Rabu

Truk besar aneh itu lagi-lagi tidak ada. Aku tidak membawa Sang Hyun ke sekolah hari ini; ia bermalam di tempat Vivian. Dan aku hanya memastikan jagoan kecilku berangkat tepat waktu. Dan aku hanya memastikan… sial. Aku tidak tahu pasti apa yang tengah kupastikan.

Volvo merah yang kuhafal berhenti tidak jauh dari tempatku memarkirkan mobil. Sang Hyun keluar dan ia melihatku. Tangan kecilnya melambai-lambai namun ia tidak menghampiriku. Aku mengangguk mengacungkan kepalan tangan. Sung Jin berlari mengejarnya. Mereka berdua bercanda, mungkin berbagi kisah tentang hari masing-masing.

“Aku tahu restoran yang menyediakan sarapan lezat.” Aku menoleh. Senyum manis sama seperti dulu kini kembali terbit, menghias paras cantik berbingkai surai cokelat bergelombang. “Sarapan bersama?”

Dadaku bergemuruh. Aku menatap kesungguhan pada iris hitam itu dan dadaku belum juga berhenti berdetak kencang. Tenggorokanku tercekat. Aku hanya mengangguk. Brengsek. Aku terlihat begitu bodoh sekarang.

###

Aku melipat tangan di depan dada, kurasa sebuah senyum tipis tengah menguasai bibirku saat ini. Seorang maid mengatakan Sang Hyun ada di taman belakang dan pria kecilku benar-benar di sana. Membaca buku ditemani Jiangyou–anjing cokelatnya–yang berbaring di dekat kakinya. Aku melangkah, mengusap rambut hitam Sang Hyun lalu ikut duduk di sisa bentangan karpet.

Pria kecilku mendongak, tersenyum lalu kembali larut dalam buku yang ia baca. Jiangyou memerhatikanku. Matanya membesar seolah memberitahu bahwa aku harus mengusap bulunya. Dan karena aku konyol, aku melakukannya.

“Kau sudah mandi, Kecap?” ujarku menggelitiki dagu anjing cokelat ini. Jiangyou menggonggong keras. “Apa Sang Hyun sudah makan?” aku kembali mencecar tanya dan lagi-lagi Jiangyou membalasnya dengan gonggongan keras. Anjing pintar.

Sang Hyun menutup buku, ikut menggelitiki anjing berbulu lebat ini. Kami tertawa bersama. “Ayah, apa ayah juga berpikir nama kecap terlalu aneh untuknya?”

Dahiku mengeryit sesaat, menaruh tangan di dagu membentuk pose berpikir. “Bulunya cokelat, cenderung hitam dan sangat mirip dengan kecap. Ibumu membuatnya lebih keren dengan memakai bahasa Mandarin. Kurasa, dia juga tidak keberatan dengan nama kecap.”

“Ya, Ayah. Tapi teman-temanku tidak dapat melafalkan Jiangyou dengan benar. Kata ibu, jika salah pengucapan, artinya berbeda,” Sang Hyun menatap Jiangyou nanar. Aku ikut menatap anjing besar itu dengan tatapan prihatin. Dan seolah mengerti, Jiangyou juga memasang ekspresi sama.

“Tidak semua orang menguasai bahasa Mandarin, Sayang,” bisikku menggenggam erat tangan Sang Hyun. “Omong-omong, kau tidak membuat origami burung hari ini?”

Sang Hyun menggeleng. Helaan napas berat lolos dari bibir kecilnya. “Satu-satunya harapan yang kupunya tidak bisa terkabul, Ayah. Jadi aku tidak perlu repot-repot membuat burung kertas itu lagi.”

Raut wajahnya berubah murung. Usapan pada bulu Jiangyou semakin lama semakin pelan. Dahiku mengerut membentuk tiga garis lurus. Aku tidak mengerti.

“Ibu mengatakan padaku untuk membantu ayah mendekati seorang wanita. Padahal aku berharap ibu bisa kembali pada ayah.” Dan dia menatapku. Dan linangan airmata membanjiri pipi gembilnya. Membuat sayatan luka lamaku membuka semakin dalam.

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s