Breathe [BTS Version] Chapter 7

Breathe [BTS Version] Chapter 7

Dua wanita berbalut dress beda warna saling tatap. Berdiri di tengah jalan, parkiran lantai bawah pusat perbelanjaan, di depan mobil-mobil berbagai merk berjejer rapi. Cokelat tua bertemu hitam pekat. Satu berkacak pinggang, satu bersidekap.

Mobil berlalu tiada peduli. Pekik tukang parkir tak menyurut nyala berkobar dalam hati. Keduanya memiliki hasrat; saling bunuh pula saling tikam. Tiada yang memedulikan mereka. Tiada yang menjeda segala interaksi mereka.

Was-was, takut, amarah, benci, semua berkumpul di mata keduanya.

Detik berlalu namun urung jua interaksi terjadi. Hanya tatap tanpa tingkah polah. Hanya dua iris beradu serta sebuah seringai terpetak.

“Jangan sembunyikan apa pun dariku, Han Sa Na. Kebusukanmu bahkan sudah tercium dari jarak ratusan kilometer.”

.

.

.

Title: Breathe
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young, Han Sa Na
Genre: Marriage Life, Kekerasan, Angst, Romance, AU
Adorable cover by: Aira Angelina Alfrida
WARNING; Mengandung kekerasan dan bumbu ‘marriage life’ lain jika tidak kuat silahkan klik tombol BACK, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 7

~~~

Story begin..

Hitam pekat membeliak tidak percaya kala wanita di hadapannya mengangkat topi; menunjukkan paras asli dengan make-up tebal juga gincu semerah darah. “K-kau…,” Sa Na terbata. Jantungnya berdentum kencang merasa ultimatum sudah semakin dekat.

“Aku tersanjung dengan reaksi berlebihanmu barusan,” wanita gincu merah menyeringai tajam. “Bukankah kau sangat senang karena kita bisa bertemu lagi, Han Sa Na?”

Beberapa kali gelengan Sa Na layangkan dalam hati. Ia mematung merutuki suara bergetar yang beberapa menit lalu ia keluarkan. Sumpah serapah tertoreh–meski tak cukup terdengar lawan bicaranya–menghalau bongkahan sesak yang tiba-tiba membanjiri hati. Sa Na tahu wanita di hadapannya berbahaya. Sa Na mengerti ia sudah dikepung tanpa bisa lari ke mana pun.

Mendengus, Sa Na bertahan untuk tidak gemetar sekarang. “Apa maumu, Jo Sae Na?”

Tawa membuncah dari bibir wanita yang dipanggil Jo Sae Na. Sudut bibirnya membentuk seringai tajam. “Memintamu pergi dari kehidupan Jung Kook tentu saja.”

***

Tetes infus menemani sepi Na Young malam ini. Ye Rin sudah pergi sejak setengah jam lalu, menyisakan dirinya bergelung dengan peralatan medis sendirian. Tidak ada Jung Kook. Tidak ada adiknya. Sunyi merayap naik memasuki diri.
Tangan mengusap perut yang membuncit, menimang-nimang seraya meminta maaf telah membahayakan sang buah hati. Bibirnya melantun senandung lagu lembut. Berbisik pada angin berharap desauannya terdengar hingga telinga pria terkasih. Bersama gemerincing tirai jendela ia tersenyum pahit. Bahkan di saat dirinya butuh seorang penyemangat pun Jung Kook tidak menampilkan batang hidung.

Na Young mendesah. Lelah. Ia lelah bergantung harap pada ketidakpastian. Lelah pada status istri kedua yang disandang. Lelah pada sikap tidak adil yang ditunjukkan Jung Kook.

Jika ia tidak mencinta, tentu rasanya tidak akan sedalam ini. Jika ia tidak mendamba, tentu pesakitannya tidak akan sejauh ini. Namun sayang, ia adalah pihak pecinta–pihak yang kalah dalam hal apa pun.

Wanita hamil itu mengusap wajah, menyamankan diri mencoba terlelap. Satu tetes air bening tergelincir di pipi kanan. Semakin lama semakin deras. Ia tergugu. Ia menangis pilu.

***

“Kau tidak berhak mengatur kehidupanku!” Sa Na berteriak, cukup membuat beberapa pengunjung lain menoleh.
Sae Na makin memperlebar area seringai. Meneleng kepala ke kiri, wanita gincu merah mengarahkan telunjuk tepat di bahu Sa Na. “Kau tidak lebih dari orang lain yang sengaja masuk di kehidupan mereka. Apa kau tidak pernah membuka mata dengan fakta yang sudah sangat jelas di depanmu?”

“Jung Kook hanya mencintai Na Young. Jung Kook hanya melihat Na Young. Bukan kau, Orang Asing.”

Sae Na meniti langkah, berjalan mengelilingi Sa Na yang berdiri kaku tanpa berniat menjawab lontaran pernyataan yang ia ucap. “Han Sa Na, memiliki trauma dengan pria karena menyaksikan sendiri bagaimana kekasihnya disiksa secara berkala di usia enam belas tahun, phobia duduk di kursi penumpang samping pengemudi karena dengan tidak sengaja membunuh suaminya sendiri di usia dua puluh lima tahun, ada yang ingin kausanggah, Nona?” tangan terangkat meraih dagu Sa Na. “Bertemu sosok Jung Kook yang hangat di saat kau terpuruk tentu merupakan makanan lezat bagimu. Dia bisa menyentuhmu tanpa kau merasa takut. Dan yang terpenting, dia membuatmu sedikit demi sedikit menaruh hati.”

“Aku tidak menduga sahabat kecilku yang manis tumbuh jadi wanita binal perusak rumah tangga.”

“Diam!” Sa Na kembali berteriak. Mata hitamnya menatap penuh amarah. “Jung Kook-lah yang bersalah karena sudah menabrak mobil kami. Dia membunuh suami dan juga bayiku. Sudah sewajarnya dia membayar semuanya dengan menikahiku!”

Cengkeraman di dagu Sa Na semakin kuat. Sae Na jelas mendengar desisan kecil menguar dari bibir teman masa lalunya itu. “Kepolisian Ilsan menyatakan Jung Kook sama sekali tidak bersalah. Itu semua murni karena Nam Joon tidak fokus mengemudi dan akhirnya menabrak mobil Jung Kook. Dan aku sudah tahu bahwa kaulah penyebabnya. Kau dengan sengaja membuat konsentrasi Nam Joon pecah karena aksi nekatmu melepas sabuk pengaman. Apa kau membutakan diri pada kenyataan ini?”

Sae Na menatap lurus-lurus jelaga berkilat amarah Sa Na. “Kau menuntut Jung Kook atas hal yang tidak pernah ia lakukan. Kau membuatnya menjadi pria jahat yang kerap main tangan pada Na Young. Kau membuatnya menderita. Kau membuatnya hancur, Han Sa Na. Sadarlah. Kau tidak sepantasnya melakukan hal ini sejak awal!”

###

Entah sudah ke berapa kali Jung Kook menghela napas. Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar. Bukan kamar utama yang biasa ia tempati, namun justru pria calon ayah itu terpaku di kamar lain. Kamar Na Young tepatnya. Kamar yang menyimpan wewangian lembut khas sang istri tercinta.

Hidungnya terbenam dalam bantal, menghirup rakus aroma lily dan kayu manis yang masih tertinggal. Rambut yang biasanya tertata rapi kini kusut bekas tarikan kuat yang ia lakukan. Kemeja putih yang ia kenakan bagai telah dimakan sapi, kumal dan kucal sama seperti si pemilik.
Jung Kook merasa bersalah. Curi dengar yang ia lakukan beberapa hari lalu membuatnya sadar; ia sepenuhnya menjadi tersangka telah menyakiti sang wanita terkasih. Bersamaan dengan itu ribuan bongkah sesak dan menyesal menghantuinya. Mengisi tiap-tiap sel yang ia punya hingga membengkak dalam otak.

Ia sengaja menulikan telinga terhadap apa pun. Tidak terhitung berapa panggilan juga pesan masuk dalam ponsel namun urung Jung Kook menjawab. Ponselnya hanya dibiarkan berbunyi lalu diam dengan sendirinya.

Ia sengaja membutakan diri terhadap apa pun. Jung Kook dengan sengaja mengabaikan Sa Na. Tidak memedulikan teriakan juga ketukan keras di pintu. Masa bodoh dengan umpatan pula ancaman yang wanita itu ujar.

Pikirannya hanya bermuara pada satu nama. Seluruh sistem tubuhnya hanya menyenandung satu nama. Na Young, Na Young, Na Young dan Na Young. Cairan tak berwarna kembali membendung netra, mengalir memenuhi pipi-pipinya.

***

Sa Na berdiri mematung di depan pintu kamar Na Young. Tangannya perlahan bergerak memasukkan kunci, memutar lalu membiarkan pintunya sedikit terbuka. Pemandangan kamar mengenaskan mengintip dari balik celah kecil yang ia cipta. Wanita dengan jaket putih mendesah, mendorong sedikit demi sedikit pintu berusaha tidak menimbulkan suara apa pun.

Ia terperangah, jantungnya seperti ditikam puluhan pisau. Jung Kook menangis menyebut nama Na Young berulang-ulang. Penampilannya begitu kacau, begitu berantakan dan… raut wajahnya menegaskan bahwa ia tengah menyesal.

Sakit melingkup memenuhsesaki dinding-dinding hati. Jantungnya diremas paksa, dikuliti, dicincang tanpa ampun. Ucapan Sae Na terngiang di telinga, mengisi celah kosong rasa bersalah yang sudah lama mati.
“Tidak. Aku tidak akan pernah melepasmu, Jeon Jung Kook,” gelengan tegas ia paksakan. Tergesa, Sa Na menutup pintu cukup keras, melenggang pergi menumpah segala beban pikulan dengan tangis.

Sa Na kembali menangis.

###

“Selamat pagi, Nyonya Jeon,” perawat tersenyum manis menyapa Na Young yang tengah membaca buku. Wanita hamil itu mendongak, mengucap sapaan balasan lalu menutup buku dalam genggaman, membiarkan sang perawat melakukan tugas.

“Kapan aku bisa pulang?” cicit Na Young di sela-sela pemeriksaan. Jika ia diberi pertanyaan, tentu ia akan menjawab sudah tidak betah berada di ruangan setenang ini. Meski tidak ada yang membuat hatinya sesak–ingatan tentang kesendiriannya tidak termasuk–namun ia lebih memilih beristirahat di kamar yang berisik dan nyaman, bukan di rumah pesakitan seperti ini.

Sang perawat mengangguk, menggumam angka-angka pengecekan yang Na Young tidak ketahui lalu menggurat senyum. “Kurasa besok, Nyonya. Tergantung keadaan Anda akan jauh lebih stabil atau kembali melemah. Tapi… akan saya usahakan.” Perawat kembali tersenyum memberikan beberapa butir obat. Na Young meraihnya, mengambil gelas air di tangan kanan lalu segera menelan butiran pahit itu.

Perawat ber-nametag Jung Eun Ha pamit tepat setelah Na Young kembali berbaring. Sekarang hanya tinggal dirinya seorang. Juga buku-buku yang tiga hari lalu diantarkan Tae Hyung, buah-buahan segar hasil panenan Yoon Gi yang eksklusif diberikan Ye Rin untuknya, dan selang infus tentu saja.

“Dia butuh banyak waktu memikirkan segala yang terjadi. Kurasa ia bukan tidak mau menjengukmu. Hanya saja, masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Meminta maaf dan menjelaskan padamu misalnya.” Tanpa diperintah perkataan Tae Hyung mengisi otak. Membuat pemikirannya terpecah belah menjadi bagian-bagian kecil. Mungkin ia bisa memercayai Tae Hyung dengan argumen bijaknya itu, namun ia juga tidak memungkiri adanya spekulasi negatif yang mendasari keengganan suaminya bertandang.

Padahal Na Young pikir Jung Kook sudah jauh lebih peduli.
Wanita penyandang marga Jeon sekali lagi mendesah. Mengontrol emosi yang coba membakar habis sistem kesabarannya.

***

Di luar pintu Jung Kook mendesah. Mengisi oksigen lalu kembali mengeluarkannya berulang-ulang. Tadi ia berpapasan dengan perawat yang baru saja kembali dari ruangan Na Young dan itu sudah sejak lima belas menit lalu. Yang berarti pria ini hanya berdiri tanpa beranjak satu senti pun sejak lebih dari lima belas menit lalu.

Tangannya terangkat meraih engsel pintu, memutar perlahan membiarkan matanya mampu menangkap ubin-ubin ruangan. Jung Kook tidak tahu perasaan apa yang sedang bergelayut dalam hati, rasanya seperti ingin muntah, mual, dan sedikit perih. Sekali lagi bibir merah itu menggumam desah. Ia beranjak dan bersumpah melihat mata istrinya bersirobok langsung. Hitam pekat bertemu cokelat tua.

Kikuk, Jung Kook meredam detak jantung dengan berjalan, mendaratkan ciuman manis di pucuk kepala serta menggenggam tangan istrinya. Tangannya sendiri terasa dingin–efek ketakutan juga remasan kuat–sangat berbeda dengan Na Young yang tetap hangat. Jung Kook mengulas segaris lengkung.

“Apa keadaanmu sudah membaik?” Jung Kook mengawali pembicaraan. Istrinya mengangguk disertai senyuman hangat yang ia terjemahkan sebagai kata ya.

Tangan Na Young berjalan di tangan kekar Jung Kook lalu berhenti tepat di dekat gulungan kemeja, mengisyarat suaminya untuk duduk di bangsal. Jung Kook menurut, menghempas beban tubuh tanpa melepas kungkungan jemari lembut pada lengannya. Dasi yang menggantung longgar Na Young tarik, berusaha mendapat jarak seintim mungkin, lalu tangannya kembali menelusuri gurat wajah sang pria terkasih.

Dagu, bibir, hidung, pipi, alis, dahi, dan berlama-lama menangkup wajah. Na Young memerhatikan kantung mata tebal yang entah sejak kapan dimiliki suaminya, juga warna merah melingkupi iris sepekat malam itu. Na Young mendesah sedih, “Pekerjaanmu benar-benar menumpuk hingga kau tidak beristirahat.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan berdasarkan pengamatan yang Na Young tangkap.

Jung Kook memberi anggukan kecil, membiarkan sang istri tercinta berlama-lama menjelajahi wajahnya. Satu kecupan hadir di mata kanan, berulang di mata kiri beberapa detik kemudian. Ciuman lembut, ciuman sayang yang sudah lama tidak Jung Kook rasa. Ciuman manis yang mampu membawa buncah letupan di hati Jeon Jung Kook.

***

Pria itu tidak tahu dari mana harus memulai. Ia kehilangan arah setelah mendapat berbagai sentuhan sang istri. Merasa tubuhnya kaku, lidahnya kelu sekadar mengungkap penjelasan juga permintaan maaf.

Ia menerima begitu saja kecupan demi kecupan yang Na Young angsur. Sesekali mengangguk mengiyakan bisik kata maupun lontar pertanyaan. Jeon Jung Kook dilanda takut. Takut jika sedetik saja ia mencoba melepaskan diri wanitanya akan kembali terluka. Takut jika sejengkal saja ia bergeser wanitanya tidak akan kembali menerimanya.

Jung Kook mendesah samar mengamati istrinya sudah terlelap. Ia menyisir lembut surai Na Young, menyingkirkan anak rambut yang mengganggu area pandangnya, mendaratkan kecupan kecil di dahi.

Dengan hati-hati Jung Kook menuruni bangsal, menggenggam sekali lagi tangan putih sang istri, kembali mendaratkan kecupan singkat. “Aku akan segera kembali,” bisiknya melanjutkan langkah. Menutup pintu, menyusuri koridor-koridor panjang rumah sakit.

###

“Kita bercerai.” Ruang keluarga kediaman Jeon jadi saksi. Jung Kook bernada serius, tiada gentar menatap lawan bicara yang cukup berbahaya di depannya. Ia pikir sudah saatnya menghilangkan semua beban di kepala. Ia kira sudah saatnya menjemput kebahagiaannya sendiri bersama sang istri juga calon buah hati.

Tidak ada lagi yang mampu menggoyahkan niatnya. Tidak ada alasan yang mampu menahannya tidak bertindak. Jung Kook tahu keputusan yang ia ambil beresiko besar, namun pria itu benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

“Tidak! Kita tidak akan pernah bercerai sampai kapan pun!” suara Sa Na meninggi, memantul gema di sudut-sudut ruangan.

Jung Kook menggeleng, melempar dokumen yang sudah ia siapkan di meja ke arah Sa Na. “Toko bunga dan rumah ini adalah milikmu. Tolong biarkan aku bahagia dengan kehidupanku.”

“Tidak! Apa kau lupa telah menghancurkan hidupku? Kau membunuh Nam Joon. Membunuh bayiku. Membuatku tidak bisa kembali mengandung. Kau melupakan itu?” Sa Na bergulir menatap manik hitam yang jauh lebih pekat dibanding miliknya. “Kau menghancurkan hidupku dan sekarang kau mencoba pergi dariku begitu saja?”

Kilat kekesalan hadir melingkupi Jung Kook. Wanita di hadapannya jauh lebih keras kepala dibanding apa yang ia pikirkan. “Hentikan omongan sampahmu sekarang juga. Semua orang tahu kau yang bersalah, bukan aku.” Kaki-kakinya melangkah pergi, membiarkan Sa Na yang masih berteriak di belakang.

Dengan gemetar, Sa Na mengambil benda kecil mengkilap yang sudah lama tersimpan di saku jaket. Ia berlari, mengejar Jung Kook yang hendak membuka pintu utama. Bersamaan dengan panggilan keras yang ia layangkan Jung Kook menoleh. Lalu secepat kilat Sa Na menarik pelatuk seraya menyeringai tajam.

“Kau tidak akan pernah bisa lari dariku, Jeon Jung Kook.”

Dor. Dor.

Dua kali tembakan Sa Na bidik. Jung Kook tersungkur bersama dengan darah bersimbah dari perutnya.

To Be Continued..

A/N: Jungkook stan jangan rajam saya >< gimana2? Udah tuntas rasa penasaran kenapa Jung Kook nikahin Sa Na? Ada yang mau jadi hatersnya/? Sa Na lagi? *plak maaf telat update ya >< setelah ngurus FF THR Event disibukin sama Operasi Pasar di tempat kerja dan hari raya. Ehm. Ini update buat THR kalian deh 😀

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

9 thoughts on “Breathe [BTS Version] Chapter 7

  1. Akhirnya update yeyeye *lompat2 bareng abg jehop* 🙌
    Itu si sana bisa di lenyapkan saja gak? udah dia yg salah masih ngelak pula 😤 btw, jadi si jungkook emg duluan nikah sama sana ya, eon?

    Liked by 1 person

    1. Hahaa *ikutan lompat *plak wkwk

      Haha umm bisa gak ya? Masalahnya dia tokoh utama juga ._.
      Iya mereka nikah duluan, tp cuma lewat pendeta aja gak dicatat di negara gitu hehe

      Like

  2. Sudah kuduga yg kecelakaan itu sana dan namjoon trus jungkook terlibat jadi dia nikahin sana, ahh seperti biasa ini ff keren thor^^. Dan sepertinya udh deket part part akhir TT

    Liked by 1 person

  3. Benar kan? Jungkook menikahi Sa Na karna terpaksa….
    Ternyata jungkook lebih memderita dari yang diperkirakan 😭😭😭

    Akhirnya langsung slse sampe part.7 juga….euuhhh efek penasaran yg terlalu tinggi jd menunda waktu tidur..hehehe

    Ditunggu part.9 nya yah…gak sabar siapa ‘anatha’ itu….hehe

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s