Under These Skies Chapter 3

Under These Skies Chapter 3

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Length: Chaptered
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 3

~~~

Story begin..

Ryu Ye Rin POV

Sabtu

Pintuku diketuk oleh orang gila. Ketukannya berirama cepat dan kurasa jika aku tidak segera membuka, aku akan membayar biaya perbaikan pintu. Aku menggeram meletakkan wadah gula di atas meja. Jusku belum selesai.

Teriakan tolong-tunggu-sebentar menggelegar di dinding-dinding ruangan. Melepas celemek, aku segera melesat menuju sumber kekacauan berada. Apa Sa Na repot-repot datang menanyakan perihal keabsenanku? Atau mungkin… bosku? Oh, sial.

Meraih gagang pintu, kubuka kunci dan memutarnya perlahan. Sebelah alisku terangkat melihat pasangan ayah dan anak berdiri di sana. Kukira aku tidak sedang menerima tamu atau mengundang orang lain.

Sung Jin menyembul dari balik tubuhku, “Sang Hyun, ayo masuk.” Dan aku tidak bisa tidak memutar mata. “Kumohon….”

Hembus napas terserah lolos begitu saja. Dua bocah lelaki itu segera melesat bersama gelak tawa. Aku kembali merotasikan mata. Pria–atau kusebut–ayah Sang Hyun masih mematung di depan pintu tanpa berniat beranjak sedikit pun.

“Kukira kau ikut masuk, Tuan. Tapi. Puji Tuhan, gulaku sedang dalam keadaan kritis untuk diberikan pada satu gelas jus tambahan.” Aku bersiap menutup pintu setelah berkomentar. Pria tadi masih bergeming namun ketika aku menyentuh gagang, ia sudah lebih dahulu memegang tanganku.

“Kita butuh sedikit negosiasi,” ujarnya tanpa melepas cengkeraman. Sebelah alisku kembali terangkat dan aku tetap mengangguk. “Pertama, di mana orang tuamu berada?”

Apa orang ini konyol? Kerutan di dahiku semakin menjadi-jadi. “Tidak di kota ini.”

“Baiklah. Kedua, dengarkan baik-baik dan kumohon jangan menyela selagi aku menjelaskan,” ia mendesah. Dahiku masih mengerut tidak mengerti. “Sejak kecil Sang Hyun sangat dimanja, sampai sekarang pun ia tetap dimanja. Dia adalah cucu pertama di keluargaku jadi wajar jika ia tidak pernah mendapatkan kata tidak. Semua kebutuhannya tercukupi dan jika dia ingin A, dia akan mendapatkannya, begitu pula dengan pilihan lain.”

Aku melepas genggamannya, melipat tangan di depan dada. Cucu pertama keluarga terpandang. Pantas saja bocah kecil itu bisa dengan mudah membuat ayahnya setuju membagi meja restoran.

“… kemarin dia merengek padaku untuk membeli sedikit peralatan memperbaiki gazebo,” tubuhnya berbalik, mengisyarat agar aku mampu melihat truk besar beserta isinya yang parkir tidak jauh dari halaman. “Jadi… kumohon kau dan orangtuamu tidak akan keberatan dengan apa yang putraku berikan.”

Aku mendesah. Ini terlalu berlebihan. Dan tatapan pria itu… aku benci mengakuinya tapi tatapan itu membuat harga diriku terluka. “Aku minta maaf. Meski aku adalah seorang penjilat handal tapi aku tidak pernah mengajarkan Sung Jin mengemis pada putramu.”

Pria di hadapanku membeliak, mata sipitnya membulat dan aku sama sekali tidak berniat menarik kata-kataku kembali. Aku benci orang kaya yang hanya bisa memandang sebelah mata kaum kami.

“Oh, sial. Aku tidak bisa berbicara dengan benar,” ia mengusap wajah berulang-ulang. “Aku tidak bermaksud mengatakan adikmu seorang penjilat. Ini tentang putraku dan kerentanan hatinya. Kuharap kau berkenan menerima pemberian kami demi putraku.”

Aku menatap matanya, melihat truk pengangkut, mendengar percakapan bocah-bocah kecil itu, dan melihat matanya. Dan terus melihat. Kesungguhan. Permintaan tulus. Ia meminta bukan untukku atau Sung Jin. Tapi ia meminta untuk putranya.

Ayah yang mencintai putranya. Ayah yang hangat. Mata hitam itu sangat menggambarkan betapa besar rasa cintanya terhadap sang putra.

“Baiklah. Untuk putramu,” aku mempersilakan pria itu masuk setelah menunjukkan akses cepat menuju gazebo pada petugas warehouse.

Minggu

Sang Hyun dan pria itu kembali datang. Kemarin gazebo belum sepenuhnya selesai karena hujan sudah terlebih dahulu mengguyur.

Tepat pukul tiga sore semua komponen sudah terpasang rapi. Aku bersyukur tidak membayar biaya perbaikan karena tanpa menjadi penjilat dua pria dewasa sudah membantuku meringankan pekerjaan. Dan jangan lupakan kiriman makanan lezat dari nenek Sang Hyun dua hari berturut-turut.

Senin

Deru mobil berhenti terdengar dari halaman. Aku sedang mendadar telur untuk sarapan dan Sung Jin sedang bergelut dengan dasi serta seragam sekolahnya.

“Kau masih mendadar telur untuk sarapan?” itu suara ayah. Aku berbalik setelah meletakkan spatula dan mematikan kompor. Ayah berdiri di dekat pantry dengan dua kantung buah dan sayuran segar di tangannya.

Aku menghambur ke pelukan pria tua yang sangat kucintai. “Aku merindukanmu, Ayah.” Dan tangannya melingkari pinggangku. Aku merasa kembali menjadi gadis tujuh tahun yang dimanja ayah. “Kukira Ayah baru datang nanti siang,” tambahku masih dalam dekapan ayah.

“Ayah pikir tidak ada salahnya mengantar jemput cucu dan meringankan pekerjaanmu,” ayah melepas pelukan, menatap seksama setelan seragam yang melekat di tubuhku. “Kau masih mengantar makanan?”

Aku memutar mata sebelum mengangguk. Inilah yang tidak kusuka. Ayah sangat tidak setuju aku menerima pekerjaan berat dengan gaji pas-pasan yang hanya cukup memenuhi uang makan satu bulan. Mendesah, aku berujar, “Aku hanya perlu tetap sibuk, Ayah. Aku baik-baik saja.”

Dan ayahku menggeleng. Mendecih lalu tertawa kecil dan bercicit, “Kau masih keras kepala.” Aku mengingat kalimat itu. Kalimat yang acap kali beliau lontarkan padaku.

***

Ada pesanan untuk pesta kecil pukul tiga sore. Bukan. Aku tidak bisa mengatakan ini pesta kecil. Atau mungkin pesta semacam ini benar-benar kecil untuk ukuran orang kaya.

Boksku penuh. Aku menerima alamat pemesan lalu segera mengendarai motor dinas. Jalanan lengang, matahari tergelincir ke barat memias gemerlap cahaya-cahaya indah. Poniku yang tidak tertutup helm dimainkan bayu. Aku memakai helm standar dan sudah memastikan surat ijin mengemudiku ada di dompet.

Rumah mewah berdesain menarik menjadi pusat pandangku. Aku menyocokkan sekali lagi alamat rumah dengan informasi yang tertera pada gerbang. Dan benar. Aku memencet tombol interkom.

“Shin Ki’s Restaurant, pesanan atas nama Nyonya Min Ji Won,” aku mengucap nama pemesan lancar setelah suara pria dewasa terdengar dari interkom. Tidak butuh dua menit gerbang sudah membuka dengan sendirinya. Teknologi yang luar biasa.

Aku mendorong motor dinasku memasuki halaman rumah. Salah seorang maid membantuku membawa beberapa kotak yang tersisa–di tanganku terdapat empat kotak besar–mengarahkanku agar mengikuti ke mana langkah kakinya berpijak. Aku mengangguk mengekor di belakangnya.

Kami mengambil jalan memutar yang menghubungkan langsung pada sisi lain rumah. Terdapat jalan setapak berakhir dengan dua anak tangga yang juga terbuat dari keramik. Di sisi kanan terdapat kolam renang dengan air terjun mini buatan, sementara di atas, dua rumah disambung apik oleh sebuah bangunan menyerupai rumah kaca dengan interior mempesona. Maid menaiki tangga kayu dan aku masih membuntutinya.

Aku melihat nyonya rumah sedang berurusan dengan pria berjas dokter. Dahiku mengernyit meletakkan kotak-kotak yang kubawa. “Ibu bahkan tidak tahu jumlah penyedap rasa yang mereka gunakan. Atau saus mereka, atau daging mereka, apa mereka mencucinya dengan bersih?” pria itu terus berbicara mengenai kesehatan. Pria membosankan. “Dan apa Ibu tahu makanan yang Ibu pesan bisa menjadi racun bagi kesehatan?” Dan tangannya menunjuk wajahku. Pria itu berbalik dan aku terkena serangan jantung dadakan.

Pria itu… adalah pria menyebalkan yang sama. Ayah Sang Hyun. “Maaf mengganggu acara debat kalian, Tuan dan Nyonya. Tapi aku harus pergi dan aku butuh bill segera dibayar. Aku tidak dipekerjakan untuk menerima ocehan dokter dan urusan kesehatan.”

###

Sung Jin dan Ayah sedang berada di gazebo saat aku memarkirkan sepeda. Senyumku terbit menggantikan amarah yang sejak tadi bersemayam dalam hati. Pria penuh omong kosong masih menatapku sengit saat nyonya rumah memberiku uang. Aku bertahan untuk tidak mengumpat atau sekadar menaikkan jari tengah.

Kaki-kakiku sudah berjalan ke gazebo dan aku tahu apa yang ayah pikirkan saat ini. Meski Sung Jin berceloteh tapi aku bisa melihat beliau memendam sesuatu. Aku meletakkan bungkusan makanan di meja baru dan aku bersumpah tatapan meremehkan pria aneh itu tercetak jelas pada meja, pada pilar dan semua yang mereka berikan.

“Ada seorang pria kaya aneh yang mendonasikan satu kali gajinya untuk memperbaiki gazebo. Pria yang menganggap Sung Jin adalah adikku serta pria arogan yang sama yang telah menginjak-injak harga diriku hari ini, Ayah.” Ini bukan bentuk pengaduan. Aku hanya mencoba menjawab pertanyaan yang tersirat jelas di dahi ayah.

Ayahku tertawa keras begitu pula Sung Jin. Dan aku memutar mata. Dan aku menjatuhkan tubuh ke kursi terdekat. “Ini tidak lucu, jika kalian mengerti. Penghinaan. Dia selalu berpikir tentang kesehatan dan menunjuk wajahku seolah akulah juru masak yang mengolah makanan cepat saji yang mereka pesan.”

“Sepertinya kau salah, Nak. Dia menganggapmu masih muda,” ayah menjelaskan. Aku mendengus. “Sung Jin baru saja memujanya beberapa menit sebelum kau datang. Ya. Dokter memang orang-orang yang membosankan tapi percayalah, suatu saat omong kosong yang ia ucapkan memang benar adanya.”

Dan aku masih tidak mengerti mengapa ayah justru membela pria penuh omong kosong itu setelah harga diri putrinya diinjak-injak.

Selasa

Ayah masih menginap sampai satu minggu ke depan.

Rabu

Ada diskon gaun di lantai dua. Posternya membentang hingga nyaris menyentuh pintu toko kue. Poster dengan artis bertubuh S line menjadi modelnya. Aku tidak bisa berhenti menatap gaun yang model itu kenakan.

Ayah dan Sung Jin masih berdebat tentang sardine dan mackerel dan aku tidak lagi mendengarnya. Pikirkan bensin truk, makanan untuk satu bulan, persediaan telur dan mi instan, buah-buahan, dan semua yang kubutuhkan. Aku tidak bisa membelinya. Ya. Poster bodoh, berhentilah menggodaku karena aku benar-benar tidak bisa membeli gaun itu.

Pandanganku beralih kembali pada keduanya. Jarak mereka cukup jauh dan aku mendorong troli secepat yang kubisa.

***

“Seharusnya Kakek membiarkanku memilih satu jam tangan keren. Aku membawa seluruh uang dalam celengan dan aku yakin bisa membelinya,” Sung Jin menyidekap tangan di depan dada. Bibirnya mengerucut sebal. Tanganku mengusap-usap rambutnya.

Pukul tujuh lebih lima dan bel rumahku berbunyi. Aku melambaikan tangan pada ayah dan Sung Jin dan berkata akan membukanya. Mereka sedang menonton pertandingan bola. Aku tentu cukup tahu diri untuk tidak mengganggu keduanya.

“Bunga untuk Anda, Nona Ryu.”

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s