Under These Skies Chapter 2

Under These Skies Chapter 2

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Length: Chaptered
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 2

~~~

Story begin..

Min Yoon Gi POV

Ada yang salah dengan clipboard di tanganku. Ya. Pasti ada yang salah. Aku tidak bisa menemukan hal kecil seperti I dan O atau catatan tentang obat jenis apa yang kugunakan untuk menangani pasien ini.

Aku bahkan sudah bosan membolak-balik kertas setiap dua detik sekali.

“Sae Na apa kau yakin sudah menulis I dan O untuk nona Seul Gi?” ujarku melirik Sae Na. Perawat yang kebetulan menjaga pasien tetapku. Ia mengangguk memberitahukan padaku di mana letak penulisannya.

Lembar ketiga di pojok kiri atas. Dan tentu saja tulisan itu ada. Aku tidak percaya. Sebelumnya tulisan itu tidak pernah ada di sana. Ini gila.

“Kurasa kau perlu relaksasi, Dokter Min. Kantung matamu punya kantung mata.” Sae Na menerima telepon yang berdering segera setelah memprotesku. Dahiku mengerut. Benarkah? Apa penampilanku seburuk itu?

Aku mendengus, mengembalikan clipboard ke tempat asalnya lalu berjalan ke lift, menekan angka satu. Kotak besi berdenting membuka dengan sendirinya. Aku berjalan sembari mengusap wajah. Berbelok ke kanan menelusuri lorong di mana parkiran berada.

Shiftku baru saja berakhir dan kurasa aku juga sudah diusir oleh perawatku sendiri. Ini sedikit konyol tapi aku ingin segera sampai di rumah.

Aku butuh tidur.

Kamis

Peraturan brengsek rumah sakit adalah musuh terbaruku. Aku hanya mendapat asupan tidur lima jam saja dan seperti yang Sae Na katakan, kantung mataku punya kantung mata itu memang benar. Satu minggu ke depan aku masih harus lembur. Meski tidak sampai pukul sebelas malam tapi shiftku tidak pernah sepanjang ini. Aku berangkat pagi buta, lima tiga puluh menit dan baru diijinkan pulang sekitar pukul dua puluh tiga puluh malam.

Terkutuklah dokter resign yang membuatku harus bekerja ekstra.

Kepala kedokteran melirikku prihatin. Pukul delapan belas dua belas menit. Aku masih berkutat dengan clipboard–sialan brengsek–yang membuatku sakit mata. Bisakah para perawat menulisnya dengan font sedikit lebih besar?

“Kau bisa pulang terlebih dahulu, Dokter Min. Kurasa kau perlu banyak istirahat,” ujar pria tua–kepala kedokteran–masih memperhatikan interaksi tidak bersahabatku dengan clipboard.

Terima kasih, Brengsek. Seharusnya kau mengatakan ini sejak satu minggu lalu. Aku mengangguk berterima kasih, membereskan alat-alat tulis seraya meletakkan kembali clipboard.

Membungkuk singkat, berjalan lelah meninggalkan stasiun perawat.

***

Sang Hyun belum tidur. Ini merupakan kemajuan yang luar biasa. Satu minggu hanya bisa mencium dahi serta mengucapkan selamat tidur saat ia sudah menyambangi alam mimpi sejujurnya membuatku khawatir. Aku tidak pernah mengambil lembur setelah ia lahir sampai sekarang–usianya tujuh tahun–dan ia pasti kesepian tanpaku. Aku melepas jas menyampirkan di bahu, membuka dua kancing teratas kemeja hitamku. Memutar kenop pintu kamar Sang Hyun hati-hati, diam-diam aku menghela napas berat.

“Sung Jin sangat piawai bermain bola. Setiap hari, di jam istirahat ia akan bertanding dengan teman-temanku di lapangan basket. Dia adalah sayap kanan yang hebat,” suara Sang Hyun terdengar lembut. Ibuku ada di sana, berbaring di samping putraku sembari mengusap rambut Sang Hyun. Sejauh ini aku hanya melakukan pergerakan kecil: membuka sedikit pintu tanpa berniat memasuki ruangan.

“Benarkah? Apa dia selalu mencetak gol?” ibuku menanggapi.

Anggukan semangat Sang Hyun menjelaskan betapa menariknya Sung Jin. Aku sudah pernah mendengar ini sebelumnya. Sung Jin yang mahir sepak bola, Sung Jin yang jago karate, Sung Jin yang ini dan Sung Jin yang itu. Hampir semua cerita putraku adalah seorang Sung Jin yang bahkan aku tidak tahu seperti apa wajahnya.

Sejujurnya putraku pandai bermain basket. Keahlian yang menurun langsung dariku. Selain itu prestasi akademiknya juga tidak bisa dikatakan buruk. Meski tidak meraih ranking tiga besar tapi ia selalu masuk dalam jajaran sepuluh besar nilai terbaik di kelas. Aku bangga dengannya.

“Ayah Sung Jin adalah seorang pilot, Nek. Aku berkata padanya bahwa ayahnya sangat keren tapi ia tidak setuju. Menurutnya ayahkulah yang keren karena bisa mengobati anak-anak yang sakit.” Seulas senyum hadir di bibirku. Agaknya aku harus berterima kasih pada Sung Jin karena mengatakanku keren. Dokter memang terlihat keren. Pilot pun juga demikian. Dua-duanya punya skor seimbang kurasa.

Setelah tiga belas menit berlalu aku membuka pintu kamar lebar-lebar. “Aku pulang,” ujarku memamerkan segaris lengkung. Sang Hyun masih mengacungkan miniatur pesawat terbangnya lalu detik berikutnya ia tergesa menuruni ranjang, menghambur ke pelukanku.

Jum’at

Tidak ada yang lebih baik selain pulang lebih awal dan jatah libur keesokan harinya. Aku tidak tahu apa yang baru saja menimpa kepala tuan kepala kedokteran sampai meneleponku pagi buta hanya mengatakan aku mendapat jatah libur dua hari. Tapi aku tidak peduli. Setidaknya aku bisa melanjutkan tidur lebih lama. Aku sudah memberitahu ibu dan ayah agar tidak ada satu pun maid yang membangunkanku.

Tepukan keras berulang-ulang bersarang di bahu kananku. Aku mengerjap, menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke retina. Sang Hyun membangunkanku. Pakaiannya sudah berganti sweater biru dan celana jeans selutut. Bukan lagi piyama tidur atau seragam. Jam berapa sekarang?

“Ayah, apa kau bisa memaku kayu?” tanyanya setelah mataku sudah cukup membiasakan diri. Aku mengangguk. Bahkan aku bisa memasang kloset tanpa bantuan ahli, banggaku.

Sang Hyun tersenyum senang. “Ayah besok libur, ‘kan?” Aku mengangguk lagi. Mendudukkan diri, membawa Sang Hyun dalam rengkuhanku.

“Kalau begitu kita ke warehouse sekarang, Ayah.” Dahiku sukses berkerut bingung. Sang Hyun masih berekspresi ceria seperti biasa.

Otakku sedang memproses hubungan antara bisa memaku, libur, dan pergi ke warehouse. Aku menjawab, “Warehouse?”

“Ya, Ayah. Kita akan membeli peralatan untuk memperbaiki gazebo,” mata Sang Hyun berbinar ceria. Aku semakin tidak mengerti sekarang.

“Gazebo kita masih bagus, Sayang. Tidak ada yang perlu diperbaiki,” aku berkilah memutar mata jengah.

Jauh dari perkiraanku justru kini ia terkikik geli. Dahiku semakin mengerut dan aku semakin tidak mengerti. “Aku tidak berkata ingin memperbaiki gazebo kita, Ayah. Sung Jin akan memperbaiki gazebonya besok. Ha Ru juga di sana. Ayah ingat Ha Ru, ‘kan? Dia adalah putra Paman Dong Hae. Aku berkata pada mereka besok aku akan datang dan ikut membantu. Ayah tidak keberatan, ‘kan?”

***

Sang Hyun hampir menguras isi dompetku dengan membeli berbagai peralatan gazebo. Aku berpikir ini terlalu berlebihan tapi ekspresi Sang Hyun yang tiba-tiba sendu mengurungkan niatku mengurangi belanjaan. Semua kebutuhan untuk besok sudah ada dalam truk dan tinggal mengirim ke alamat rumah Sung Jin.

Putraku sedang melahap steak khidmat. Kami berada di restoran tidak jauh dari warehouse karena Sang Hyun sudah terlalu lapar untuk makan di rumah. Tidak berselang lama sampai anak kecil seumuran Sang Hyun beserta kakak wanitanya berdiri di dekat meja kami, memanggil putraku dengan sangat akrab.

Ia adalah Sung Jin. Oh. Jadi inilah pria hebat yang membuat putraku kagum. Aku mengangguk-angguk dalam hati seraya terus mengamati keduanya. Mereka ingin bergabung di meja kami karena restoran sudah sangat penuh.

Aku tidak mau menukar kebaikan jika putraku merasa tidak nyaman. Sang Hyun sedikit tidak nyaman jika harus makan bukan dengan anggota keluarganya namun tatapan penjilat itu meruntuhkan pertahananku. Aku mengiyakan permintaan Sang Hyun. Bukan karena merasa iba pada keduanya.

Sabtu

Sang Hyun sedang bersiap-siap bersama ibuku. Ekspresi yang ia tunjukkan jauh lebih bahagia dibanding kemarin. Aku masih mondar-mandir di tempat tidur belum berniat mengganti pakaian. Pintu kamarku terbuka dan ibuku sedang tersenyum lembut di sana.

“Jangan kecewakan Sang Hyun,” ujarnya menepuk pundakku. “Dia terlihat bahagia mendapat teman baru. Lekas bergegas, putramu sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”

Aku terkekeh. Kadang aku bertanya dari mana Sang Hyun mendapat hati sebesar itu. Mendapat sifat ramah yang sangat berbanding terbalik denganku.

Aku menyambar kaos hitam dan celana trening senada dan topi putih, segera memakainya. Sang Hyun sudah menungguku di samping mobil. Tidak sabaran. Aku terkekeh mengacak surai hitamnya.

Perjalanan tidak pernah sunyi karena Sang Hyun terus mengoceh tentang Sung Jin, Ha Ru dan hubungan pertemanan mereka yang sudah terjalin sejak enam bulan lalu. Aku merasa bernostalgia menghayati cerita. Merasa ada di tengah dua sahabat karibku yang kini memimpin perusahaan besar.

Truk pengangkut bahan-bahan mengikuti kami dari belakang. Sang Hyun sudah menyetel GPS sampai rumah Ha Ru, rumah Sung Jin ada di samping rumah cucu pertama keluarga Lee itu. Semakin dekat rasanya kepalaku ingin meledak dengan berbagai spekulasi yang muncul. Sang Hyun tidak pernah mendapat penolakan tapi aku sangat takut keluarga Sung Jin menolak.

Sang Hyun membuka pintu mobil tergesa. Truk berhenti tidak jauh dari mobilku. Aku keluar mengisyarat sang supir dan beberapa pegawai yang ikut untuk menunggu sebentar.

Aku menghela napas membiarkan Sang Hyun menarik lenganku. Segera ia memencet bel dan ketakutanku semakin memuncak.

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s